Kayaknya saya belum sempat menulis lagi tentang Fantasy Fiesta di sini ya? Juga beberapa kegiatan saya lainnya yang menyangkut dunia tulis menulis. Hahaha. Ya, belakangan saya memang lebih banyak sibuk di Kastil Fantasi, mulai dari bikin lomba FF, Konsultasi Naskah, dan proyek-proyek lainnya, jadinya blog ini agak terbengkalai (moodnya naik lalu turun seperti biasanya siklus hidup blog pribadi.
). Tetapi, mudah-mudahan mulai sekarang blognya bisa kembali hidup (sekali lagi, mudah-mudahan). Hehe.
Tentang Fantasy Fiesta, itu sudah selesai di bulan September 2012. Setelah empat tahun penyelenggaraan, dengan segala gegap gempita, suka duka, puji cela, atau warna-warninya, lomba itu berakhir. Buat saya yang dulu memulainya benar-benar dari nol sampai kini menjadi suatu event yang cukup besar, sebenarnya agak berat mengakhirinya. Itu sudah kayak anak sendiri, sangat berharga. Namun ada awal, ada akhir. Ada banyak alasan kenapa itu harus berakhir, dan semuanya sudah dipikirkan masak-masak. Pada akhirnya, saya rasa, karena ada banyak hal lain yang bisa dan harus saya kerjakan juga, hal itu kemudian jadi terasa biasa saja. Itu hanya sepenggal masa atau jalan yang telah terlewatkan, dan kita semua tetap akan jelas terus, that’s all.
Kegiatan pertama saya dan teman-teman dari Kastil Fantasi setelah FF berakhir adalah menjadi pembicara atau narasumber pada Lokakarya Penulisan Cerita Fantasi yang diselenggarakan di SMP/SMA Smart Ekselensia Indonesia, di Parung, Bogor tanggal 6 Oktober 2012. Selain saya, ada Dian, Om Pur dan Adham yang beruntung bisa hadir. Di sini kami bisa membagi ilmu dan pengalaman tentang bagaimana menulis cerita kepada sekitar 50 orang siswa yang memiliki minat dalam menulis kisah-kisah fantasi. Ilmu dan pengalaman kami tentu saja masih sedikit, tetapi saya rasa niat berbagi dan memberi perhatian kepada mereka adalah yang paling penting.
Sebaliknya, kami juga bisa belajar banyak hal selama kami di sana. Tentang bagaimana mereka hidup mandiri di asrama, dan gigih belajar walau memiliki banyak keterbatasan. Untuk mengetik, misalnya, mereka harus bergiliran menggunakan komputer di Lab. Komputer. Membuat saya jadi merenung, saya punya komputer, laptop dan tablet di rumah, tapi berapa banyak waktu yang saya pergunakan untuk produktif menulis? Sangat sedikit, kebanyakan hanya dipakai buat main game dan browsing internet. Hahaha. Ya, dengan semangat mereka sekarang, seandainya itu bisa terus terjaga, saya percaya suatu hari nanti mereka bisa menjadi penulis yang lebih baik daripada saya.
Kegiatan saya berikutnya adalah menerbitkan buku-buku saya secara indie melalui Kastil Fantasi. Indie atau self-publishing sejak dulu selalu dipandang sebelah mata oleh berbagai komunitas pembaca, bahkan termasuk para penulis sendiri. Ada yang bilang kualitas bukunya pasti buruk karena tidak melalui tahap seleksi dan editing sesuai standard penerbit besar, bahwa yang menerbitkan secara indie hanya penulis-penulis yang naskahnya selalu ditolak penerbit, dan lain-lain. Saya sudah bertahun-tahun mendengar pendapat seperti itu, dan dalam beberapa hal sebenarnya saya setuju.
Tetapi mungkin itu jugalah yang lalu membuat saya penasaran. Karena saya pikir justru di situlah tantangannya. Bagaimana menerbitkan buku sendiri dengan kualitas yang cukup baik, tetap menguntungkan, dan yang lebih penting bisa mendorong karir lebih maju dengan usaha sendiri tanpa harus bergantung pada pihak lain. Saya suka spiritnya, dan itulah yang membuat saya ingin mencoba, mencari tahu sana-sini dan akhirnya memutuskan. Membuat jalan sendiri, lalu nanti memperindahnya, melebarkannya sedikit demi sedikit, sehingga suatu hari nanti saya tidak perlu lagi melewati jalan orang lain yang sudah macet dan pengap. Dan siapa tahu jalan ini juga bisa dipakai dengan nyaman oleh teman-teman yang lain, sebelum nantinya mereka membuat jalan mereka sendiri.
Buku pertama yang saya terbitkan melalui Kastil Fantasi adalah Di Tepi Sungai Ordelahr, pada bulan Juli 2012. Tebalnya 170 halaman, harganya Rp 27.500. Berkisah tentang Vilnar, seorang kepala suku yang kembali ke negerinya setelah empat tahun diasingkan, dan harus terlibat dalam konflik mematikan. Ini adalah buku pertama dari seri Hikayat Orang Utara, salah satu kisah dari Dunia Estarath, dunia fantasi yang sudah saya bangun di benak saya sejak mungkin dua puluh tahun yang lampau.
Selang sebulan saya menerbitkan buku berikutnya, Anak-Anak Dunia Mangkuk. Tebalnya 390 halaman, harganya Rp 40.000. Ini kisah yang saya tulis gara-gara dulu saya selalu diminta beberapa orang seperti ini, “Kok bikin ceritanya yang berdarah-darah terus sih? Ada yang rada romantis gak? Atau ada yang buat anak-anak gak?” Yeah, akhirnya, untuk yang rada romantis, saya akomodir di draft novel kolaborasi saya bersama Klaudiani yang berjudul Somniterra, sementara yang untuk anak-anak, atau pembaca segala umur, ya di kisah AADM ini. Hehe.
Buku yang terbit di bulan berikutnya adalah Penakluk Dari Selatan, buku pertama dari seri Quazar dan Ksatria. Tebalnya 200 halaman, harganya Rp 30.000. Seperti halnya Di Tepi Sungai Ordelahr, ceritanya juga mengambil latar di Dunia Estarath. Hanya saja letak kejadiannya sangat berjauhan, yang satu di belahan dunia utara, yang lainnya di benua lain di selatan. Secara kronologis, kejadian di buku ini lebih dulu terjadi dibanding kejadian di buku DTSO, dan pada satu titik nanti akan bersinggungan.
Pada bulan Oktober, terbitlah Bocah dan Penyihir, buku kedua dari seri Quazar dan Ksatria. Tebalnya 290 halaman, harganya Rp 35.000. Dalam buku ini perang yang dipicu orang-orang Elniri di selatan akhirnya sampai di utara. Para penyihir dari Lembah Heiszl harus memilih apakah mereka harus mendukung mereka, atau justru melawan, dengan cara mereka sendiri. Seperti buku-buku sebelumnya, buku ini sudah bisa diperoleh melalui Kedai Buku Kastil Fantasi, atau hubungi saya langsung melalui e-mail di rdvillam@yahoo.com.
Berikutnya, saya akan bersiap-siap menghadapi NaNoWriMo 2012. Buat yang belum kenal, NaNoWriMo adalah kegiatan tahunan yang telah berlangsung lama di seluruh dunia, di mana puluhan ribu penulis bersama-sama berusaha menulis sebanyak minimal 50.000 kata selama satu bulan, yaitu di bulan November. Saya mengikutinya sejak tahun 2010, dan sudah merasakan sendiri bahwa ini adalah metode yang paling motivatif (buat saya) untuk membuat saya mau MULAI menulis dan TERUS menulis.
Tahun 2010 saya berhasil menulis sebanyak 75.000 kata, dan tahun 2011 sebanyak 112.500 kata. Tahun ini saya tidak yakin bisa lagi menulis sebanyak tahun lalu, tapi mestinya sih kalau untuk menyamai pencapaian tahun 2010 masih bisa. Kuncinya, minimal saya sudah mempersiapkan plot cerita yang akan saya tulis nanti, lebih detil lebih baik. Dan sisanya, menentukan waktu yang tepat untuk menulis setiap hari (kalau bisa temukan golden time di pagi hari), menjaga irama, fokus, konsentrasi, dan menjauhkan diri dari game dan internet (sebisa mungkin). Hehe.
Jika proses menulisnya beres di bulan November, maka di bulan Desember saya tinggal beres-beres saja. Edit, revisi sana-sini. Oh ya, dan membereskan satu hajatan penting lainnya. Seperti tahun sebelumnya Kastil Fantasi kembali hadir di Festival Pembaca Indonesia tanggal 9 Desember 2012 (lokasinya di Pasar Festival, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan). Acaranya sekaligus juga sebagai Gathering, kumpul-kumpul dengan para penulis maupun pembaca fantasi lainnya. Lebih jauh tentang Gathering Kastil Fantasi 2012 bisa dilihat di tautan ini.
Ada banyak kesibukan, tapi sudah jelas, Oktober kali ini bulan yang menyenangkan, dan bulan depan akan lebih menyenangkan lagi. Karena saya bisa kembali menulis gila-gilaan. Setelah itu nanti saya bisa kembali lega, karena ternyata saya masih bisa menulis, dan saya masih seorang penulis.
Salam.
Villam