Elegance of language may not be in the power of all of us; but simplicity and straight forwardness are. Write much as you would speak; speak as you think. If with your inferior, speak no coarser than usual; if with your superiors, no finer. Be what you say; and, within the rules of prudence, say what you are. — Anonymous
Satu bulan sudah Akkadia: Gerbang Sungai Tigris muncul di toko buku. Alhamdulillah bukunya kini sudah bisa diperoleh di kota-kota lain seperti Surabaya dan Medan, terjual dengan hasil yang cukup baik, dan sudah terbaca pula bahkan sampai ke Kopenhagen, Denmark (teman saya di sana sudah bersedia buat mengirimkan foto Akkadia dengan latar kota yang paling menarik, mungkin patung Putri Duyung yang terkenal itu. hehehe…).
Sebagai info tambahan, bagi yang sudah membaca bukunya dan gemar membuat ulasan, jangan lupa untuk mengikuti Lomba Ulas Novel Akkadia yang akan ditutup pada tanggal 14 Februari 2010. Pemenangnya nanti akan diumumkan pada tanggal 21 Februari, dan mendapat hadiah senilai Rp 500.000. Info lebih lanjut dapat dilihat di situs Adhika Pustaka.
Lalu, jadwal keramaian berikutnya adalah acara Bedah Buku (saya pribadi lebih suka menyebutnya acara temu sapa dengan seluruh Teman-teman pembaca), yang rencananya akan diadakan pada tanggal 14 Maret 2010 di TM Bookstore, Depok Townsquare, Depok. Acara ini diadakan oleh komunitas Goodreads Indonesia, di mana Akkadia telah dipilih menjadi Book of the Month February 2010. Sila datang, Teman-teman, untuk meramaikan acara tersebut.
Terakhir, bagi Teman-teman yang masih kesulitan mendapatkan buku Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, silakan hubungi saya via e-mail di rdvillam@yahoo.com.
“Mimpi indahmu?! Itu mimpi indah manusia lain, bukan mimpimu! Mimpi siapa yang kaumasuki sekarang?”
”Tidak tahu. … Kalau aku bisa masuk dan keluar semauku, betapa senangnya. Ah, tetapi tidak juga. Kalau aku ikut masuk ke dalam mimpi buruk, malah jadinya menyebalkan. Seperti tadi, kurasa.”
”Jadi mimpi tadi indah atau buruk?”
”Tadi itu … aku lupa. Kurasa tadi ada seorang gadis, berbaju putih, sayangnya aku lupa wajahnya. Padahal sepertinya aku pernah melihatnya.”
”Di mana?”
”Di mimpi juga, kurasa. Di malam ini juga!”
“Kau mimpi dua kali malam ini?!”
”Ya. Aku ingat sekarang. Saat tengah malam, kurasa, aku sempat terbangun karena mimpi buruk. Ya, rasanya mimpi buruk yang sama. Ada api, sesuatu terbakar, dan gadis yang sama. Setelah itu aku tertidur lagi, aku tak tahu berapa lama, dan lalu bermimpi kembali, mimpi yang kubilang tadi.”
”Ah, tak usah terlalu dipikirkan. Itu mimpi buruk manusia lain, bukan mimpi burukmu.”
Dulu saya pernah berniat untuk menyusun daftar novel fantasi yang ditulis oleh para penulis lokal, untuk memberi apresiasi sekaligus membantu saya jika hendak menemukan buku-buku tersebut. Baru sekarang saya (sedikit) berhasil, terbantu dengan keberadaan mereka di laci-laci Goodreads.
Daftar ini masih jauh dari sempurna, bahkan mungkin baru separuh jalan. Jadi jika Teman-teman punya informasi tentang buku-buku fantasi lokal lainnya, dengan senang hati saya akan menerima, kemudian mencari keberadaan mereka. Sayang jika karya-karya tersebut (terutama yang sudah terbit lebih dari dua tahun silam) kemudian seperti hilang ditelan bumi atau dilupakan…
Jadi, selain Lomba Ulas Novel yang telah saya sampaikan sebelumnya, Akkadia juga akan menjadi buku yang direkomendasikan untuk dibaca bersama oleh member GRI bulan depan, dan selanjutnya, pada bulan Maret 2010, Bedah Bukunya (insya Allah) akan diadakan di TM Bookstore, Depok Townsquare–tanggal pastinya akan diberitahukan kemudian.
‘Gajah’ bernama Akkadia: Gerbang Sungai Tigris itu kini sudah memasuki minggu kedua kehidupannya di toko buku (buat Teman-teman yang belum tahu: ‘gajah’ adalah istilah saya untuk menyebut ide-ide mengerikan yang muncul di kepala, yang kemudian ditarik keluar dengan sepenuh jiwa dan raga–halah… sedikit lebay ya…–dan akhirnya lahir menjadi sebuah naskah novel).
Tentu saja saya berharap novel ini bisa segera muncul di kota-kota lain selain Jakarta, tapi apa boleh buat saya memang harus lebih bersabar, dan semoga Teman-teman yang ingin membeli di sana juga. Untungnya, ada kabar baik yang saya dapat, yaitu penjualan Akkadia di Jabodetabek sejauh ini ternyata cukup memuaskan, dan semoga ini menjadi awal yang baik.
Btw, Teman-teman, kalau ternyata Akkadia sudah muncul di kota-kota lain, kabarin yak. Hehe…
Kabar-kabar baik lainnya akan segera menyusul (seperti bahwa Akkadia telah dipilih menjadi Book of … hehe … nanti aja deh), tapi di sini, saya cuma hendak menyampaikan (bagi yang belum tahu), bahwa penerbit Adhika Pustaka telah mengadakan Lomba Ulas Novel Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, sebagai berikut:
Radnar sang kepala suku tua diberkati kemampuan untuk menilai potensi atau bakat tersembunyi yang dimiliki seorang anak. Kemampuan itu sudah dipahami oleh setiap orang di Hualeg. Vilnar tak tahu apa yang dirasakan oleh ayahnya saat ia memegang putranya. Pastilah sesuatu yang sangat berbeda, karena selama hidupnya Radnar tak pernah menyebutkan kata ’istimewa’ jika ia sedang menilai seorang bocah.
Vilnar justru menjadi takut dan berharap orang lain tidak ada yang tahu, atau hal itu hanya akan mengundang bencana. Begitu semua orang tahu bahwa anaknya akan menjadi seorang yang istimewa, musuh-musuhnya pasti akan berusaha melenyapkannya. Vilnar sudah lama meninggalkan Hualeg, dan kini ia harus mempelajari dulu, siapa saja orang-orang yang masih bisa dipercayai dan siapa saja yang berpotensi untuk mencelakainya.
Akkadia di Gramedia PIM - foto hasil jepretan Bonmedo Tambunan tanggal 1 Januari 2010
Oke, Teman-teman, hari Senin besok, 4 Januari 2010, Akkadia: Gerbang Sungai Tigris (mestinya) sudah mulai bisa diperoleh di toko-toko buku lain selain Gramedia Pondok Indah Mall, paling tidak di wilayah Jabodetabek. Saya berharap juga bisa segera muncul juga di kota-kota besar lainnya di Jawa, Bali dan Sumatera segera dalam beberapa hari ini.
Sebagai informasi, Akkadia: Gerbang Sungai Tigris dijual dengan harga Rp 49.500,- dengan tebal 400 halaman dan diterbitkan oleh penerbit Adhika Pustaka. Novel ini bergenre fantasi, yang mengambil latar di negeri Mesopotamia pada abad ke-24 SM.
Bagi Teman-teman (terutama di daerah non-Jabodetabek) yang nantinya ternyata kesulitan mendapatkan novel ini di toko-toko buku terdekat, silakan kontak saya via e-mail di rdvillam@yahoo.com. Saya akan mengusahakan agar buku-buku tersebut bisa didapat oleh Teman-teman. Terima kasih.
Sebuah jawaban atas pertanyaan seorang teman di sini. Semoga bermanfaat.
—
yg namanya inspirasi alias ide itu gak dateng langsung gede-gedean dalam waktu sesaat. ide Akkadia: GST ini pertama kali muncul di akhir 2007, dan itu hanya sepotong ide kecil. dan langkah pertama yang gue lakuin saat itu adalah langsung menuliskannya, bukan memikirkannya, atau mematangkannya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Tahun baru menjelang, saatnya kembali membuat resolusi alias tujuan-tujuan apa yang ingin saya capai di tahun 2010 (tidak perlu merasa bosan, yak… hehe…). Tapi tentu, ada baiknya saya melihat apakah saya sudah berhasil mencapai target-target yang saya buat di akhir tahun 2008, di sini:
Gadis itu berlutut dengan kedua tangan mencengkeram tanah. Cahaya yang jauh lebih terang dan menyilaukan daripada cahaya merah Gada Geledek keluar dari dalam tubuhnya, menembus lapisan-lapisan tebal baju putihnya yang berlumuran darah.
Kepalanya mendongak. Tak sampai sedetik kemudian sinar merah menyambar dari sepasang matanya. Ratusan prajurit yang berada pada lintasan garis lurus dari puncak bukit hingga ke ujung lembah terbelah seketika. Potongan-potongan tubuh mereka hangus dalam jilatan api. Ada kegelapan di dalam diri gadis itu. Sesuatu yang sangat jahat.
Mesopotamia, abad ke-24 Sebelum Masehi.
Pada masa itu Kerajaan Akkadia berhasil menaklukkan negeri-negeri di sekitarnya, dan untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris. Naia, putri dari Kazalla yang negerinya telah dihancurkan Akkadia, bermaksud menyeberangi sungai dan meminta perlindungan pada bangsa Elam, namun di tengah perjalanan ia diserang dan harus terpisah dari para prajuritnya. Dalam keadaan terdesak Naia terpaksa mengambil keputusan tersulit: memanggil makhluk-makhluk terkutuk dari dunia kegelapan.