Archive for September, 2008
[tab:Apa Ini?]Tempat Villam bermain-main di komunitas Kemudian.com dan Pulau Penulis.
[tab:Kemudian][pageview http://www.kemudian.com/users/villam "Villam di Kemudian" Tempat menulis, membaca, mengapresiasi]
[tab:Pulau Penulis][pageview http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?board=147.0 "Villam di Pulau Penulis" Tempat berbincang bersama teman-teman penulis]
No Comments »

Bab 1
Sudah seratus tahun patungku berdiri tegak di depan gerbang Utopia, saat seorang bocah menunjuk pedangku. “Ibu, kenapa tak seorangpun boleh menyentuhnya?”
“Hanya dia yang pantas.”
“Tapi dia sudah mati.”
—
lihat catatan saya mengenai penulisan Cerpen 100 Kata di sini
—–
“Tidak, anakku. Dia tidak bisa mati. Dia akan selalu melindungi kita.”
Bodoh!
Malam itu ketika semuanya terlelap, musuh kami yang telah berhasil menaklukkan rasa takutnya dengan kebencian, akhirnya datang.
Aku hanya bisa menjerit melalui mimpi mereka, “Bangun! Ambil pedangku! Hanya itu yang bisa menolong kalian!”
Jawab mereka, “Tenanglah, pelindung kami akan datang.”
Mereka tak mengenaliku.
Setelah beratus tahun aku diterima dewa untuk pertama kalinya, membawa kepedihan, menyaksikan rakyatku dimusnahkan oleh kebodohan.
*
Bab 2
Entah apa maksud Dewa Langit kala menyuruhku kembali ke Utopia. Menghukumku lebih jauh dengan membuatku menyaksikan kembali kegagalanku?
Di lembah kematian ini, aku meruntuhkan bukit untuk mengubur rakyatku.
Ketika aku selesai, seorang lelaki tua menghampiri. “Kau kembali. Memang, sebanyak apapun putaran kehidupanmu nanti, selamanya kau tetaplah Pelindung Utopia.”
“Tak satupun nyawa tersisa, apalagi yang harus kulindungi?”
“Semangatnya.”
“Utopia hanyalah angan-angan. Keberhasilanku telah membuat mereka terlena, dan itulah awal dari kehancuran semuanya.”
“Lalu apa yang akan kaulakukan?”
“Mencari pedangku,” jawabku penuh dendam. “Akan kubinasakan semua musuhku tanpa ampun.”
Lelaki tua itu menangis.
Dewa Langit pun mungkin kini menyesal telah mengirimku kembali.
*
Bab 3
Gunung dan lembah kulompati, demi mencapai negeri musuhku. Kubayangkan wajah kejam mereka, demi memupuk dendamku.
Akan kubunuh SEMUANYA!
Tapi di kota pertama, hanya kutemui wajah tanpa dosa. Di kedai mereka berbincang, ”Syukurlah, pasukan kita telah berhasil membinasakan musuh.”
Aku meradang. ”Mana pasukan kalian?!”
Meringkuklah mereka. ”Ke ibukota! Jangan bunuh kami!”
”Kuampuni kalian.”
Kulanjutkan perjalanan ke kota kedua, tempat aku mengancam lagi, ”Mana jalan ke ibukota?!”
”Ke selatan! Jangan bunuh kami!”
”Kuampuni kalian.”
Sampailah aku di kota ketiga. ”Mana ibukota kalian?!”
”Di sini!” Mereka menangis. ”Kau masih ingin membunuh kami?”
Ah.
Aku tidak bisa.
Aku terlalu pengampun untuk kembali menjadi pembunuh.
*
Bab 4
Di tepi sungai aku termenung, memperhatikan sebarisan prajurit yang keluar dari gerbang ibukota dan akhirnya bersenda-gurau di sebuah rumah.
Mereka musuhku. Tapi haruskah kubunuh mereka?
Pemimpin mereka berseru, ”Shyla! Mana minuman kami?”
”Sebentar, Ayah!” Seruan seorang gadis terdengar.
Di kebun belakang berlarilah ia. Mungil, berambut panjang, berkulit putih.
Cantik.
Ia meraih sebuah kendi, hendak membawanya masuk ke rumah, dan… tiba-tiba semuanya terjadi. Kakinya tergelincir, kendinya melayang di udara, dan seketika aku telah terbang ke sisinya. Tubuhnya di tangan kiriku, kendi di tangan kananku.
Ia memandangiku, tersenyum.
Tahulah aku, dengan cara sesederhana itu aku telah jatuh cinta.
Pada manusia biasa.
*
Bab 5
”Siapakah kau?” Shyla—yang dalam hatiku dengan bodohnya telah kupanggil sebagai ’Kekasih’—bertanya justru ketika aku telah pergi menjauh dari rumahnya menuju hutan.
”Aku teman ayahmu, datang dari jauh.”
Ia tersenyum begitu manisnya seolah tak pernah mendengar sebuah kebohongan. ”Kenapa tidak menemuinya tadi?”
Karena aku takut akan membunuhnya di hadapanmu.
Tentu saja tak mungkin kukatakan itu, jadi kujawab, ”Nanti saja.”
”Kubawakan roti.” Ia menyodorkan bungkusannya. ”Jika kau lapar.”
Putih hatinya.
Oh, Dewa Langit, sebenarnya apa rencanamu untukku?
”Shyla!”
Seruan itu mengagetkan kami. Dari balik pohon ayahnya muncul. Dan pedang itu—PEDANGKU!—tergenggam di tangan kanannya.
Darahku menggelegak.
Kekasih, maafkan aku.
*
Bab 6
”Mau apa kau?” Musuhku mengacungkan pedang ke arahku sambil menarik Shyla.
Gadis itu berkata, “Ayah, bukankah dia temanmu?”
“Bukan! Dia iblis dari Utopia yang hendak membinasakan kita!”
“Berikan pedangku,” ancamku.
Ia malah menantang, “Serbu!”
Ratusan panah mendekatiku, tapi kurontokkan semuanya dengan sekali kibasan. Sepasukan prajurit mengepungku, tapi kulontarkan mereka dengan sekali hentakan di bumi.
Aku melompat, mengelak dari sabetan pedang musuhku, dan meninju wajahnya hingga ia terkapar. Kudapatkan kembali PEDANGKU, yang kini kuarahkan ke lehernya.
Shyla meratap di kakiku, “Jangan bunuh ayahku!”
Lihat, betapa memalukan, ternyata aku bisa lemah karena cinta.
Mataku terpejam, dan sebuah pukulan pun datang menghantam kepalaku.
*
Bab 7
Pukulan macam apa yang mampu membuatku pingsan?
Gelap di sekelilingku. Rantai di kedua tangan dan kakiku.
Sel.
Suara jernih terdengar di balik kegelapan. “Dewa Langit memintamu menyerah.”
Diakah Sang Pembawa Pesan?
“Untuk apa?” tanyaku.
“Demi membangun Utopia yang baru di sini.”
Aku menggeram. “Lalu, kenapa aku harus MENYERAH?!”
“Pencapaian tertinggi didapat melalui pengorbanan terbesar.”
“Aku bukan martir!” Tubuhku memberontak. Kucoba menyalurkan energi ke empat penjuru, untuk menghancurkan seluruh rantai besiku.
Tapi percuma.
Aku mendelik. “Apa yang terjadi? Mana kekuatanku?!”
“Dewa Langit telah mengambilnya. Mengertilah, tubuhmu bukan milikmu.” Ia menghilang dalam gelap.
“Tidaaakkk!” jeritku ketakutan. “Dewa Langit! Kenapa kau meninggalkan aku?!”
*
Bab 8
Pemakan nasi basi. Peminum air comberan.
Makanan empuk cambuk dan rantai besi. Sasaran tunggal tomat dan telur busuk. Terlupakan. Terhina.
Sederajat anjing.
Makhluk terendah pengutuk diri sendiri.
Tapi mengapa, aku masih mendapatkan senyum gadis itu?
Di tiang alun-alun kota aku diikat, tersungkur disirami cahaya rembulan. Dalam hening ia datang mengendap-endap, untuk kesekian kali.
“Rotimu.” Jemarinya lembut mengangkat wajahku.
“Ini yang terakhir, Shyla. Kau membahayakan dirimu.”
Ia tersenyum. “Baru kudengar tadi, kisah seorang pahlawan dari Utopia.”
“Negeri musuhmu? Akan kuceritakan bagaimana ia menjadi terkutuk!”
“Ia bisa kembali menjadi yang termulia.”
“Mengapa kau mempercayai itu?”
“Kami membutuhkannya!”
Maaf. Sudah terlambat.
*
Bab 9
Setelah siksaan fisik di sel berbau bangkai demi memuaskan dendam musuhku, kini, anehnya, aku dibawa ke kamar emas kerajaan.
Harum tubuhku kini, untuk menandingi aroma ratu jelita di hadapanku.
“Apa maumu?” tanyaku.
“Kau.”
“Aku bukan siapa-siapa.”
“Kau adalah Pelindung Utopia.” Ia membelai pedangnya. Pedangku.
“Dulu,” jawabku.
“Memang. Kau pecundang sekarang. Tapi…” Ia beranjak dari kursinya, lalu menjilati wajahku. “Kau masih bisa menjadi budakku. Dan nanti, kau bisa memberiku keturunan, yang lebih hebat dibanding sang Pelindung Utopia.”
“Apa?! Aku tidak akan tunduk padamu!”
“Nikmatilah saja nanti, Sayang, surga terakhirmu, sebelum kau mati.” Ia tertawa seperti sundal.
Dewa Langit, inikah rencanamu UNTUKKU?!
*
Bab 10
“Dewa Langit telah mencampakkanmu. Sadarlah.”
Di dalam sel baruku, yang lebih manusiawi namun tetap gelap, aku mendongak mencari sang pemilik suara. Ada, hitam di ujung ruangan.
“Siapa kau?” tanyaku. “Sang Pembawa Pesan?”
“Dari langit sucimu itu?” Ia tertawa. “Tidak. Aku dari tempat lainnya.”
“Dewa Kematian?”
“Terserah kau menyebutku apa. Yang jelas, aku bisa memberimu kekuatan untuk membunuh musuhmu.”
“Musuhku?”
“Ratu jahanam itu.”
“Aku tak butuh janji!”
Ia tertawa lagi. “Buka saja mulutmu.”
Entah iblis apa yang membuatku menuruti keinginannya. Mulutku terbuka, dan hawa panas menyelimuti bibirku, memasuki rongga mulutku.
Pahit. Hangat. Manis.
“Apa ini?” tanyaku.
“Kekuatanku, sekarang milikmu.”
Kematian?
Milikku.
*
Bab 11
Pelayan bertudung putih memasuki sangkar emasku, mengantarkan makanan dan minuman. “Makanlah,” Ia berkata.
Aku tetap meringkuk, hingga ia menyapa lagi, “Tuan.”
Aku tertegun. “Shyla?”
Wajahnya kini tampak di balik tudungnya. “Ya.”
“Kenapa kau kemari?! Penjaga bisa melihatmu!”
“Bagi mereka aku hanya pelayan biasa.”
“Ayahmu?”
“Dia jauh.”
“Shyla.” Bibirku bergetar. “Kenapa?”
Ia tersenyum, begitu dekat denganku. “Tak mengertikah kau? Kau yang selalu mengunjungi mimpiku, memelukku, membisikkan kata cinta di telingaku.”
“Aku?”
“Kau tak ingat? Dalam mimpi terakhir kau berkata, ‘Dalam kehidupanku selanjutnya, aku akan mendatangimu.’.”
Benarkah?
“Kau salah orang,” jawabku.
“Tapi—”
“Pergilah! Dan jangan kembali!”
Menangis, ia terhuyung meninggalkan aku.
*
Bab 12
“Kau mengusir kekasihmu? Bagus.” Tawa keji itu terdengar lagi di balik kegelapan. Aku pasti menghajarnya, jika saja tangan dan kakiku tak terantai di dinding, tak peduli dia Dewa Kegelapan.
“Dia bukan kekasihku!”
“Entah kau memang bodoh, atau sedang membohongi dirimu.”
Aku mengelak. “Dia membahayakan dirinya dengan datang menemuiku.”
“Kau tak percaya, bahwa kau telah mengunjunginya dalam mimpi?”
“Aku pasti ingat setiap detik kehidupanku di bumi, tapi tidak untuk waktu yang kuhabiskan selama aku di langit. Lagipula, aku punya tujuan lain sekarang.”
Ia menyeringai. “Aku senang kau tidak lupa. Walau aku tetap sedih, kau telah mengabaikan cintamu.”
Cintaku?
Omong kosong! “Pergi!”
*
kisah Pelindung Utopia belum berakhir di sini
4 Comments »

[tab:Hal 1]Arsenal bermain dengan 11 pemain starter berusia rata-rata 19 tahun kala menjamu tim divisi satu Sheffield United di ajang FA Carling Cup, dan tak kesulitan buat menghajar musuhnya itu dengan skor 6-0. Arsene Wenger sudah diakui sebagai pelatih yang mampu menghasilkan banyak pemain muda hebat, tapi tetap saja kemenangan besar ini–dan juga penampilan berteknik tinggi para bocah tersebut–membuat banyak orang, termasuk para suporternya, tercengang.
[tab:Hal 2]Arsenal memulai laga dengan nervous, namun kemudian berhasil bangkit dan unggul melalui penampilan cemerlang Carlos Vela, Fran Mérida, Aaron Ramsey, dan Jack Wilshere, yang baru berusia 16 tahun tapi sanggup mencetak gol indah dari pinggir kotak penalti. Wilshere jelas mempermalukan lawannya, gelandang veteran Gary Speed, yang membawa Leeds United juara liga Inggris tahun 1992–saat itu Wilshere baru berusia 4 bulan!
Vela adalah bintang lapangan malam ini. Penyerang Mexico berusia 19 tahun ini mencetak assist untuk dua gol pertama Nicklas Bendtner, sebelum dia sendiri membuat hat-trick, yang mungkin bisa membuat Wenger tertarik untuk memainkannya saat menghadapi Hull hari Sabtu besok.
Wenger bilang, “This is the best group I’ve ever had. There’s not one who is not real Premier League quality in any position. I would not be scared to play any individual player from this team in the Premier League. I’m not as surprised as you, as I see them every day, but you never know how they respond. We can go all the way and win it. These players don’t play like kids. They play like people with intelligence and great spirit. This team we played tonight can beat many teams.”
[tab: Hal 3]Om Wenger melanjutkan, “We played the football we want to play and showed a good mix of individual and collective spirit. Everyone in their position played very well, from the goalkeeper to Bendtner and Vela. He’s a natural finisher. I think Vela’s a player who has everything in his locker to be a first-class striker.”
Sementara Kevin Blackwell, manajer Sheffiled United berkomentar, “Life has a funny way of bringing you back to earth. We knew they were a good set of lads, but no one knew quite how good they were. That side could play in the Premier League. It was like trying to swat a fly and we couldn’t catch them. I asked Arsène at the end if I could borrow 11 for Saturday.”
—
silakan melihat catatan saya mengenai pemain muda Arsenal di sini
No Comments »

Sudah seratus tahun patungku berdiri tegak di depan gerbang Utopia, saat seorang bocah menunjuk pedangku. “Ibu, kenapa tak seorangpun boleh menyentuhnya?”
“Hanya dia yang pantas.”
“Tapi dia sudah mati.”
—
baca kisah Pelindung Utopia selengkapnya di sini
lihat catatan saya mengenai penulisan Cerpen 100 Kata di sini
No Comments »
[tab:1-3]
- It is a truth universally acknowledged that a single man in possession of a good fortune must be in want of a wife. Pride and Prejudice – Jane Austen, 1813
- Lolita, light of my life, fire of my loins. My sin, my soul. Lo-lee-ta: the tip of the tongue taking a trip of three steps down the palate to tap, at three, on the teeth. Lo. Lee. Ta. Lolita – Vladimir Nabokov, 1955
[tab:3-9]
- It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way–in short, the period was so far like the present period, that some of its noisiest authorities insisted on its being received, for good or for evil, in the superlative degree of comparison only. A Tale of Two Cities – Charles Dickens, 1859
- Call me Ishmael. Moby Dick – Herman Melville, 1850
- If you really want to hear about it, the first thing you’ll probably want to know is where I was born, and what my lousy childhood was like, and how my parents were occupied and all before they had me, and all that David Copperfield kind of crap, but I don’t feel like going into it, if you want to know the truth. The Catcher in the Rye – JD Salinger, 1951
- In my younger and more vulnerable years my father gave me some advice that I’ve been turning over in my mind ever since. The Great Gatsby – F Sott Fitzgerald, 1925
- Last night I dreamt I went to Manderley again. Rebecca – Daphne De Maurier, 1938
- What can you say about a twenty-five-year-old girl who died? That she was beautiful. And brilliant. That she loved Mozart and Bach. And the Beatles. And me. Love Story – Erich Segal, 1970
- As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect. The Metamorphosis – Franz Kafka, 1916
[tab:10-17]
- Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way. Anna Karenina – Leo Tolstoy, 1873-7
- The capacity for friendship is God’s way of apologising for our families. The Last of the Savages – Jay McInerney, 1996
- The past is a foreign country: they do things differently there. The Go-Between – LP Hartley, 1953
- Whether I shall turn out to be the hero of my own life, or whether that station will be held by anybody else, these pages must show. David Copperfield – Charles Dickens, 1850
- Many years later, as he faced the firing squad, Colonel Aureliano Buendía was to remember that distant afternoon when his father took him to discover ice. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez, 1967
- It was a dark and stormy night; the rain fell in torrents–except at occasional intervals, when it was checked by a violent gust of wind which swept up the streets (for it is in London that our scene lies), rattling along the housetops, and fiercely agitating the scanty flame of the lamps that struggled against the darkness. Paul Clifford – Edward George Bulwer-Lytton, 1830
- When I finally caught up with Abraham Trahearne, he was drinking beer with an alcoholic bulldog named Fireball Roberts in a ramshackle joint just outside of Sonoma, California, drinking the heart right out of a fine spring afternoon. The Last Good Kiss – James Crumley, 1978
- For my 90th birthday I wanted to give myself the gift of a night of mad love with an adolescent virgin. A Memoir of My Sad Whores – Gabriel Garcia Marques, 2004
[tab:18-25]
- Something a little strange, that’s what you notice, that she’s not a woman like all the others. Kiss of the Spider Woman – Manuel Puig, 1976
- I had a farm in Africa, at the foot of the Ngong Hills. Out of Africa – Isak Dinesen (Karin Blixen), 1937
- In our family, there was no clear line between religion and fly fishing. A River Runs Through it – Norman Maclean, 1989
- All children, except one, grow up. Peter Pan – JM Barrie, 1911
- I have just returned from a visit to my landlord – the solitary neighbour that I shall be troubled with. Wuthering Heights – Emily Bronte, 1847
- In a hole in the ground there lived a hobbit. Not a nasty, dirty, wet hole, filled with the ends of worms and an oozy smell, nor yet a dry, bare, sandy hole with nothing in it to sit down on or to eat; it was a hobbit hole, and that means comfort. The Hobbit – JRR Tolkien, 1937
- The day the men disappeared started as a typical Sunday morning in Mariquita: the roosters forgot to announce dawn, the sexton overslept, the church bell didn’t summon the faithful to attend the early service, and (as on every Sunday for the past ten years) only one person showed up for six o’clock mass: Doña Victoria viuda de Morales, the Morales widow. Tales From the Town of Widows & Chronicles From the Land of Men – James Cañón, 2007
- “Take my camel, dear,” said my aunt Dot, as she climbed down from this animal on her return from High Mass. The Towers of Trebizond – Rose MacAulay, 1956
[tab:26-35]
- It was inevitable: the scent of bitter almonds always reminded him of the fate of unrequited love. Love in the Time of Cholera – Gabriel Garcia Marques, 1985
- To the red country and part of the gray country of Oklahoma, the last rains came gently, and they did not cut the scarred earth. The Grapes of Wrath – John Steinbeck, 1939
- Ours is essentially a tragic age, so we refuse to take it tragically. Lady Chatterley’s Lover – DH Lawrence, 1928
- We were about to give up and call it a night when somebody dropped the girl off the bridge. Darker Than Amber – John D MacDonald, 1966
- My brother Ward was once a famous man. The Paperboy – Pete Dexter, 1995
- Let me say this: bein a idiot is no box of chocolates. Forrest Gump – Winston Groom, 1986
- It was the afternoon of my eighty-first birthday, and I was in bed with my catamite when Ali announced that the archbishop had come to see me. Earthly Powers – Anthony Burgess, 1980
- They came like a caravan of carnival folk up through the swales of broomstraw and across the hills in the morning sun, the truck rocking and pitching in the ruts and the musicians on chairs in the truckbed teetering and tuning their instruments, the fat man with guitar grinning and gesturing to others in a car behind and bending to give a note to the fiddler who turned a fiddlepeg and listened with a wrinkled face. Child of God – Cormac McCarthy, 1973
- The man in black fled across the desert, and the gunslinger followed. The Gunslinger – Stephen King, 1982
- The sky above the port was the color of television, tuned to a dead channel. Neuromancer -William Gibson, 1984
[tab:36-41]
- If I could tell you one thing about my life it would be this: when I was seven years old the mailman ran over my head. The Miracle Life of Edgar Mint – Brady Udall, 2001
- You are about to begin reading Italo Calvino’s new novel, If on a winter’s night a traveler. Relax. If on a winter’s night a traveller – ItaloCalvino, 1979
- I wish either my father or my mother, or indeed both of them, as they were in duty both equally bound to it, had minded what they were about when they begot me; had they duly considered how much depended upon what they were then doing;—that not only the production of a rational Being was concerned in it, but that possibly the happy formation and temperature of his body, perhaps his genius and the very cast of his mind;—and, for aught they knew to the contrary, even the fortunes of his whole house might take their turn from the humours and dispositions which were uppermost:—Had they duly weighed and considered all this, and proceeded accordingly,—I am verily persuaded I should have made a quite different figure in the world, from that, in which the reader is likely to see me. Tristram Shandy – Laurence Sterne, 1759–1767
- There is a lovely road that runs from Ixopo into the hills. These hills are grass-covered and rolling, and they are lovely beyond any singing of it. Cry the Beloved Country – Alan Paton, 1948
- You better not never tell nobody but God. The Color Purple – Alice Walker, 1982
- Cannery Row in Monterey in California is a poem, a stink, a grating noise, a quality of light, a tone, a habit, a nostalgia, a dream. Cannery Row – John Steinbeck, 1939
[tab:42-50]
- For some time I debated over whether I should start these memoirs at the beginning or at the end, that is, whether I should put my birth or my death in the first place. The Posthumous Memoirs of Bras Cubas – Joaquim Maria Machado de Assis, 1881 (Tr. Gregory Rabassa, 1997)
- I will tell you in a few words who I am: lover of the hummingbird that darts to the flower beyond the rotted sill where my feet are propped; lover of bright needlepoint and the bright stitching fingers of humorless old ladies bent to their sweet and infamous designs; lover of parasols made from the same puffy stuff as a young girl’s underdrawers; still lover of that small naval boat which somehow survived the distressing years of my life between her decks or in her pilothouse; and also lover of poor dear black Sonny, my mess boy, fellow victim and confidant, and of my wife and child. But most of all, lover of my harmless and sanguine self. Second Skin – John Hawkes, 1964
- We are each the love of someone’s life. The Confessions of Max Tivoli – Andrew Sean Greer, 2004
- “Conquer taste, and you will have conquered the self,” said Jagan to his listener, who asked, “Why conquer the self?” Jagan said, “I do not know, but all our sages advise us so.” The Vendor of Sweets – RK Narajan, 1967
- They shoot the white girl first. Paradise – Toni Morrison, 1997
- You don’t know about me, without you have read a book by the name of The Adventures of Tom Sawyer, but that ain’t no matter. The Adventures of Huckleberry Finn – Mark Twain, 1884
- Ages ago, Alex, Allen and Alva arrived at Antibes, and Alva allowing all, allowing anyone, against Alex’s admonition, against Allen’s angry assertion: another African amusement . . . anyhow, as all argued, an awesome African army assembled and arduously advanced against an African anthill, assiduously annihilating ant after ant, and afterward, Alex astonishingly accuses Albert as also accepting Africa’s antipodal ant annexation. Alphabetical Africa – Walter Abish, 1974
- My name was Salmon, like the fish; first name, Susie. I was fourteen when I was murdered on December 6, 1973. The Lovely Bones – Alice Sebold, 2002
- The two men appeared out of nowhere, a few yards apart in the narrow, moonlit lane. Harry Potter and the Deadly Hallows – JK Rowling, 2007
33 Comments »
 The Slave Market karya Gustave Boulanger
[tab:Hal 1]Baru-baru ini saya menulis cerita baru berjudul Belenir; cerita tentang seorang budak. Entah kenapa saya menulis itu, mungkin karena tertarik bahwa sistem perbudakan (kepemilikan atas diri manusia oleh manusia lain, institusi, ataupun negara) sudah ada sejak jaman pra-sejarah dan tetap eksis di masa modern sekarang.
[tab:Hal 2]Di sini saya tak hendak membahas soal perbudakan, dan contoh yang mungkin ada di negeri kita tercinta, tapi hanya ingin menunjukkan satu lukisan indah yang menjadi salah satu dasar saya menulis. Judulnya The Slave Market, karya Gustave Boulanger, dibuat sekitar tahun 1882. Lukisan ini menggambarkan pasar budak di jaman Romawi, dan tampaknya dibuat untuk menunjukkan sisi horor sekaligus eksotis (haha!) tentang jual beli manusia. Bisa dilihat, anak kecil pun sudah dijadikan budak, mungkin dijual sendiri oleh orang tuanya yang kekurangan duit. Lalu, ada yang berdiri dengan gagah buat menarik pembeli, tapi ada juga yang menutup wajah, mungkin karena malu jika dilihat pacar, teman atau tetangganya. Sementara gaya yang lebih ‘asyik’, santai, ditunjukkan oleh sang penjual yang berbaju kuning.
No Comments »

[tab:Hal 1]Berikut tulisan lain yang pernah saya kirim juga di Multiply. Kali ini tidak mengenai tulis-menulis, tetapi tentang sesuatu yang dulu biasa saya gembar-gemborkan saat masih berkutat di bidang pengembangan sumber daya manusia. Silakan dinikmati, jangan bete seperti kucing di samping ini.
Satu-satunya cara terbaik untuk merusak bisnis alias hubungan dengan orang lain (entah itu di rumah, di kantor, atau di lingkungan yang lain) adalah dengan MENGHANCURKAN KEPERCAYAAN.
[tab:Hal 2]Dengan menghancurkan kepercayaan kita bisa membuat orang lain tidak mau lagi mengorbankan diri mereka untuk kita, ataupun memberikan 100% kemampuan mereka pada kita. Sayangnya belum banyak orang yang tahu dengan baik cara-cara untuk menghancurkan kepercayaan ini.
Berikut ini adalah beberapa cara mudah untuk melakukannya :
1. Selalu melewatkan komitmen sederhana
- Anda menunda menelpon balik seseorang? Anda tidak meneruskan informasi atau barang yang dititipkan pada Anda? Anda tidak mengerjakan tugas yang telah Anda janjikan pada seseorang? Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Melakukan hal-hal kecil seperti di atas menghancurkan hubungan Anda. Jika Anda punya kebiasaan pelupa, catatlah. Jika tidak punya waktu mencatat, tentukan waktu spesifik setiap harinya untuk melaksanakan komitmen-komitmen kecil tersebut. Jika Anda harus membatalkan janji, beritahu rekan Anda tersebut secepatnya dan berikan waktu dimana Anda pasti bisa memenuhinya.[tab:Hal 3]
2. Selalu menghambur-hamburkan komitmen
- Terlalu banyak memberikan komitmen atau janji sehingga mendatangkan masalah. Biasanya terjadi karena Anda ingin menyenangkan semua orang atau tidak ingin menghadapi konflik jika Anda berkata tidak, padahal kemampuan Anda hanya terbatas. Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Kenalilah kemampuan Anda. Berikan komitmen Anda pada hal-hal yang memang Anda bisa lakukan. Janjikan pada waktu yang spesifik, dan catatlah. Belajarlah untuk berkata “tidak” secara menyenangkan. Belajarlah untuk menyerahkan tugas pada rekan lainnya yang memiliki waktu lebih luang. Belajarlah untuk berkata “Ya, tapi butuh waktu lebih lama untuk mengerjakannya daripada yang Anda minta,” atau bahkan pilihan untuk membatalkannya. Belajarlah untuk berkata “Ya, tapi pekerjaan lain yang mana yang harus saya tunda untuk ini?”
3. Selalu memaksa diri dalam menjual / memaksa diri mencoba membuat orang lain tertarik
- Apakah antusiasme Anda di dalam menjual atau memberikan usulan membuat Anda mengobral terlalu banyak janji atau komitmen? Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Para pelanggan atau rekan yang terbuai dengan janji atau komitmen Anda andalah pelanggan atau rekan pertama yang akan pergi selamanya begitu tahu Anda tidak mampu melaksanakannya. Adalah biasa seseorang berjanji untuk membuat orang lain terkesan. Tapi adalah biasa pula hubungan tersebut tidak bertahan lama, karena pada akhirnya hasil lebih penting daripada janji-janji.[tab:Hal 4]
4. Selalu menghindari konflik
- Apakah Anda mengatakan setuju dalam rapat tapi tidak berniat untuk melaksanakannya? Apakah Anda mengatakannya hanya untuk menghindarkan diri dari konflik, ketidaksetujuan dan argumentasi? Takut terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa Anda jawab? Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Semua tingkah laku ini akan menyulitkan Anda selanjutnya begitu orang-orang sadar bahwa Anda mengatakan sesuatu yang berbeda pada waktu dan orang yang berbeda, Atau begitu mereka tahu Anda tidak melaksanakan apa yang Anda katakan, Anda akan dicap “mencla-mencle”, tidak konsisten, lain kata lain perbuatan.
5. Selalu secara sengaja berkata tidak jujur untuk mendapatkan keuntungan
- Apakah Anda sengaja berkata tidak jujur atau Anda memang benar-benar tidak terpikir tentang hal itu? Apakah untuk mendapatkan keuntungan pribadi? Apakah Anda mengedepankan agenda pribadi Anda atau agenda tim atau organisasi? Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Yang manapun dari hal tersebut akan terbuka suatu saat dan menjatuhkan karir Anda.[tab:Hal 5]
6. Selalu memiliki hari baik dan hari jelek (moody)
- Apakah Anda tidak konsisten pada beberapa hal yang Anda lakukan? Anda melakukan hal yang baik di hari ini tapi tidak di hari lainnya? Anda melakukan hal yang baik di satu kelompok tapi tidak di kelompok lainnya? Anda melakukan hal yang baik kepada orang yang Anda suka tapi tidak kepada orang yang tidak Anda suka dalam organisasi? Anda membiarkan mood Anda mempengaruhi penilaian dan tindakan Anda? Ataukah Anda memang memiliki standar ganda dalam bertingkahlaku? Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Walaupun hal ini manusiawi, ini adalah strategi yang buruk. Pada dasarnya jika Anda mampu melakukan hal yang baik pada satu saat atau satu orang, seharusnya Anda bisa melakukannya lebih banyak.
7. Selalu meninggalkan pekerjaan tidak terselesaikan
- Sangat action-oriented? Tidak sabar? Senang mengerjakan banyak pekerjaan? Tertarik meninggalkannya jika ternyata berlarut-larut? Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan: Semuanya berakibat tidak terpenuhinya komitmen. Cobalah berdisiplin untuk menyelesaikan apa saja yang telah Anda mulai. Jangan pindah sampai semuanya selesai. Delegasikan penyelesaiannya pada orang yang dapat Anda percayai. Cek kembali apakah sudah dilaksanakan. Jika Anda tidak akan menyelesaikannya, informasikan pada pihak-pihak yang terkait bahwa Anda tidak berniat untuk menyelesaikan dengan alasan-alasan yang mendasari keputusan Anda.[tab:Hal 6]
8. Selalu kehabisan waktu
- Apakah Anda bermaksud mengerjakan sesuatu tapi tidak pernah punya waktu? Apakah Anda selalu memperkirakan pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dibandingkan kenyataan yang terjadi? Terlalu optimis dan mengobral janji? Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Ada pengetahuan dan contoh-contoh praktek mengenai hal tersebut dalam manajemen waktu yang dapat Anda pelajari. Pendelegasian juga dapat membantu Anda menggunakan waktu Anda secara lebih efektif.
9. Membuat diri memang benar-benar tidak bisa dipercaya!
- Anda suka menghindar dari tanggungjawab, mensabotase pekerjaan orang lain, berpolitik demi keuntungan pribadi, menjebak orang lain. Anda membuat pembenaran bahwa dunia memang keras, dan bahwa Anda cuma menjalankan tugas. Anda memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan keinginan Anda. Berarti anda siap menghancurkan kepercayaan!
- Renungan supaya anda gagal menghancurkan kepercayaan : Pertama, coba lihat lagi cara pandang Anda terhadap dunia, apakah memang seperti ini yang Anda inginkan. Kedua, jika bukan itu yang Anda inginkan cobalah mencari tahu apakah karir Anda di perusahaan ini masih bisa diselamatkan. Apakah Anda sudah menghancurkan cukup banyak orang atau tidak. Cara paling mudah memulainya adalah mengakui kesalahan Anda. Bicaralah pada orang-orang yang Anda sakiti apakah Anda bisa dimaafkan, dan mulailah hidup baru.
8 Comments »

[tab:Hal 1]Setahun yang lalu saya membuat beberapa tulisan mengenai tulis-menulis di Multiply, dan rasanya tak ada salahnya sekarang saya muat lagi di sini, buat mengingatkan betapa ternyata saya masih sering membuat kesalahan-kesalahan yang sama.
[tab:Hal 2]10 kesalahan saya yang pertama (masih banyak yang lain sih) adalah :
- Tidak mulai menulis. Ya ini masalah niat sih. Sebenarnya kita mau jadi penulis atau tidak? Padahal sudah banyak ide-ide yang muncul di kepala, yang lalu saya sia-siakan semua dan akhirnya hilang begitu saja.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari lima tahun saya tidak mencoba menulis apa yang saya pikirkan, baru tahun inilah saya mencoba meluruskan niat saya lagi. Untungnya dulu saya sudah sempat membuat konsepnya, jadi memulainya lagi juga tidak susah. Tapi coba bayangkan, berapa banyak waktu yang sudah terbuang?
- Tidak menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Nah! ini lebih buruk lagi dari yang pertama. Saya sudah membuat cukup banyak, tapi berhenti di tengah jalan. Terus apa artinya waktu yang sudah saya habiskan jika tidak diteruskan sampai selesai. Hmm, balik lagi, niatnya belum lurus sih.
- Tidak membuat karakter dan plot yang menarik. Sekarang masuk ke isi cerita nih. Terkadang karena bernafsunya kita membuat novel, kita menulis saja apa yang kita mau. Setelah setengah jalan, baru kelihatan bahwa karakter yang saya buat ternyata tidak menarik karena terlalu lurus, demikian juga plotnya, akhir ceritanya tidak jelas dan mengambang, dan konfliknya kurang greget. Mubazir deh kalau diteruskan. Jadi lebih baik memang kita membuat konsep tokoh dan cerita yang bagus sejak awal. Minimal 70% kita harus sudah tahu akan seperti apa keseluruhan novel kita. Satu hal yang pasti adalah karakter dan plot itu hal yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak perlu pusing-pusing menambahkan karakter yang tidak sesuai dengan plot. Dan juga konflik sebenarnya hanyalah akhir dari sebuah proses, akan muncul dengan sendirinya seiring dengan berjalannya karakter yang kita buat.
[tab:Hal 3]
- Tidak memberikan yang terbaik sejak awal. Banyak yang bilang ‘save the best for last’. Sama, awalnya saya juga berpendapat demikian. Saya terlalu terfokus pada membuat plot akhir cerita yang bagus, tidak memikirkan konflik atau adegan kecil yang menarik untuk diceritakan di awal cerita. Jadinya pembaca keburu bosan di awal, dan malas untuk terus membaca. Jadi yang lebih baik adalah ‘give the best since the beginning’. Sejak awal cerita, setiap kalimat, setiap paragraf, setiap dialog, harus dibuat sebaik-baiknya. Ada prinsip yang bagus nih : Beri api sejak awal, masukkan kayu bakar sedikit demi sedikit selama cerita berjalan, sehingga api makin membesar dan menjadi ledakan di akhir cerita.
- Tidak fokus pada hal yang menarik buat pembaca. Dalam bercerita di setiap adegannya kadang saya telalu kronologis, maksudnya bercerita secara runtut dari awal sampai akhir, tapi karena saya tidak tahu apa yang sebenarnya menarik dari adegan tersebut, akhirnya jadi kelihatan monoton. Misalnya: si A datang, si A melakukan sesuatu, terjadilah kejadiannya. Memang alurnya sudah benar sih, walaupun bisa juga dibalik supaya lebih menarik, tapi kadang kita tidak fokus pada hal yang paling menarik buat pembaca. Mana yang menarik, apakah kedatangannya, kelakuannya, atau kejadiannya? Nah yang paling menarik itulah yang harus jadi fokus kita, untuk dibuatkan detil, deskripsi atau emosi.
- Tidak membuat detil atau deskripsi. Berhubung dulu wawasan saya masih terbatas, maka detil atau deskripsi yang saya buat memang tidak menggigit. Padahal cerita bisa menjadi lebih menarik jika bisa kita tambahkan detil tentang tempat, waktu, tokoh, alat, atau latar belakang sejarah. Hanya saja, terkait juga dengan poin no.5, kadang kita terlalu berlebihan dalam membuat deskripsi tentang hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Selain itu biasanya kita juga terburu-buru memberikan banyak informasi atau deskripsi sejak awal, sedetil-detilnya. Padahal kalau memang informasi itu penting, biarkanlah muncul secara perlahan-lahan dalam cerita atau melalui dialog antar tokoh yang wajar.
[tab:Hal 4]
- Tidak membangun emosi. Pertama kali membuat novel, karakter-karakter saya yang ada sedemikian hambarnya, tidak ada emosi, tidak ada visualisasi gerak tubuh yang dinamis, tidak ada penggunaan panca indra tokoh-tokohnya. Tidak menarik deh. Sebenarnya emosi bukan hanya bisa dibangun melalui penggambaran tokohnya sih, melalui konflik juga bisa. Tapi konflik yang bagus biasanya adalah yang dapat menggambarkan konflik di dalam diri tokoh-tokohnya (inner conflict). Tapi bukan berarti outer conflict tidak bagus lho.
- Tidak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Awalnya saya juga menulis dengan gaya bahasa gaul atau slang. Mungkin para penulis teenlit bisa tidak sependapat dengan saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, kalau saya tidak bisa membuat karya yang bisa dinikmati oleh generasi berikutnya (genre apapun), lima tahun atau lebih dari sekarang, hanya gara-gara bahasa yang saya pakai sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman, buat apa? Ini prinsip nih. Hanya bahasa Indonesia yang baik dan benarlah yang akan tahan sampai kapanpun, bukan bahasa gaul atau slang.
- Tidak mau mengoreksi. Biasa nih. Karena terlalu pede-nya berhasil membuat novel pertama, dengan semangatnya saya langsung kirim ke penerbit. Hasilnya pasti dong, ditolak. Setelah saya baca-baca lagi, ya pasti dong ditolak, soalnya banyak sekali kesalahan-kesalahan yang saya buat di naskah tersebut. Sejak itu saya tidak pernah bosan untuk meng-edit sendiri. Mungkin tips ini bisa membantu : setelah novel kita selesai, print dan simpan dulu di kulkas selama satu bulan jangan disentuh-sentuh. Setelah itu barulah kita coba buka lagi dan kita baca. Ikatan batin kita dengan novel itu sudah berkurang, dan kita akan bisa menjadi editor yang obyektif.
- Tidak mau meminta pendapat orang lain. Hampir sama dengan poin no.9. Sebagai penulis pemula, saya selalu menganggap karya pertama saya adalah masterpiece. Alhasil, saya menjadi tidak obyektif, dan sulit menerima pendapat orang lain. Kuncinya cuma satu kok, banyak membaca dan menimba ilmu, maka kita akan tahu ternyata masih banyak kekurangan yang kita miliki.
26 Comments »

[tab:Hal 1]Penulis : Steven Saylor; Penerbit : Onread Books; Tahun Terbit : 2008; Tebal : 735 Halaman; Genre : Fiksi Sejarah.
Setelah membaca beberapa buku fantasi karya penulis dalam negeri, dan lebih banyak lagi membaca komik Detektif Conan, akhirnya saya membaca buku tebal berjudul Roma, karya Steven Saylor.
[tab:Hal 2]Sebagai penggemar kisah-kisah epik dan sejarah, tentu saja inilah jenis buku yang memang ingin saya baca. Dan setelah membaca, saya memang puas. Pertama, karena Steven Saylor memang tukang cerita (jangan salah, ini adalah novel, dan Saylor sungguh pandai bercerita) dan ahli sejarah Roma yang mumpuni. Kedua, karena saya banyak belajar hal baru tentang mitologi Roma yang unik, dan intrik-intrik sosial politik yang mewarnai sejarah negeri tersebut sejak 1000 tahun Sebelum Masehi, hingga masa Julius Caesar dan Octavianus di abad pertama Masehi.
Sangat beruntung saya bisa membaca ini (terima kasih sebesar-besarnya buat seseorang yang bisa membuat saya membaca ini). Banyak yang bisa saya pelajari. Baik mengenai sejarah, maupun dalam hal ‘cara yang baik dan benar untuk menulis kisah epik fantasi’. Hah!
8 Comments »

[tab:Hal 1]Untuk pertama kalinya musim ini Arsenal berhasil menduduki posisi teratas Premier League setelah mengalahkan tuan rumah Bolton Wanderers 3-1, Sabtu 20 September 2008.
Tiga gol yang dicetak oleh Emmanuel Eboue, Nicklas Bendtner dan Denilson berhasil membalikkan keunggulan Bolton. Mengumpulkan 12 poin dari 5 pertandingan, The Gunners melewati Chelsea yang bermain imbang dengan juara bertahan Manchester United dan Liverpool yang gagal mengalahkan tim promosi Stoke.
[tab:Hal 2]Tentu saja perjalanan masih sangat panjang, tapi hasil ini memberi harapan bahwa di musim 2008/09 pun Arsenal masih bisa menjadi kandidat juara, walau telah ditinggalkan oleh Mathieu Flamini yang hijrah ke AC Milan dan Aleksandr Hleb yang hengkang ke Barcelona.
Satu hal yang paling menggembirakan adalah penampilan para pemain muda The Gunners yang semakin matang. Pada pertandingan melawan Bolton, empat gelandang dan dua penyerang starter Arsenal–Denilson, Fabregas, Song, Eboue, Bendtner dan Adebayor–jika dirata-ratakan usianya adalah kurang dari 22 tahun. Kita tinggal berharap bahwa nafsu mencetak gol para darah muda ini tidak akan kendor di pertandingan-pertandingan berikutnya. Hahah!
Maju terus The Gunners!
No Comments »
|