Sudah seratus tahun patungku berdiri tegak di depan gerbang Utopia, saat seorang bocah menunjuk pedangku. “Ibu, kenapa tak seorangpun boleh menyentuhnya?”

“Hanya dia yang pantas.”

“Tapi dia sudah mati.”

baca kisah Pelindung Utopia selengkapnya di sini

lihat catatan saya mengenai penulisan Cerpen 100 Kata di sini

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled