Tolkien & 2 Steps of Storytelling
Posted by: Villam in Tips Menulis, tags: lord of the rings, point of view, storytelling, tolkien's story
[tab:Hal 1]Salah satu tulisan lama saya. Tidak ada salahnya saya buka lagi. Enjoy. —
Apa jadinya ya jika Lord of The Rings tidak diceritakan melalui perspektif/point of view Frodo, melainkan melalui perspektif Gandalf misalnya, atau Strider/Aragorn?
Katakanlah misalnya cerita dimulai ketika Aragorn menemukan Frodo di Bree yang tiba-tiba bisa menghilang, sementara dari awal juga sudah diceritakan bahwa Aragorn sebenarnya adalah keturunan dari Isildur, dan sudah diceritakan pula kenapa ia menyamar jadi Strider.
[tab:Hal 2]Atau dari perspektif Gandalf yang punya background cukup panjang, sebagai reinkarnasi Olorin, salah seorang ‘malaikat kecil’ dari jaman sebelum ada manusia.
Mungkin masih bisa menarik juga, tapi nuansa ceritanya pasti akan sangat berbeda.
Yang jelas jalan ceritanya mungkin tidak akan terlalu mengejutkan, karena baik Gandalf atau Aragorn sudah punya terlalu banyak informasi di depan, berbeda dengan Frodo yang polos.
Lalu apa jadinya juga ya jika Tolkien sama sekali tidak mempedulikan perspektif?
Jadi sebagai pencerita ‘orang ketiga’ ia tidak membuat filter sama sekali, dan ia ceritakan semua tokoh-tokohnya secara jelas dan telanjang, mulai dari semua tindakan mereka, perkataan mereka, sampai pikiran mereka.
Jadi ia biarkan saja pembaca mengetahui semua jalan pikiran tokoh-tokohnya, mulai dari Frodo, Gandalf, Aragorn, Boromir, Elrond, Galadriel, semuanya.
Kalau memang Tolkien maunya begitu, kita sebagai pembaca mau protes apa?
Dia kan ‘Tuhan’ di Middleearth. Tahu segalanya. Kita sebagai pembaca ya terima aja apa yang diceritakan. Kita cukup menjadi pembaca aja deh! Tidak usah repot-repot merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya.
Kita sebagai Frodo misalnya udah tahu kok apa yang ada di dalam pikiran Aragorn atau Gandalf, jadi buat apa pusing-pusing menebak-nebak? Kita juga udah tahu semua, kan kita bisa baca langsung yang ditulis.
Tolkien ‘Tuhan’nya, kita ‘wakil Tuhan’nya. Kita bukan manusia! Hahaha!
[tab:Hal 3]Huh! Untung ceritanya tidak seperti itu.
Karena sebagai pembaca saya tidak hanya ingin menjadi ‘pembaca’ yang dibacakan dongeng begitu saja. Saya juga ingin berlagak menjadi ‘pelaku’, benar-benar merasakan apa yang sedang terjadi di dalam dongeng tersebut.
Filter! Filter! Filter! Itu yang dilakukan oleh Tolkien dan semua penulis novel hebat lainnya.
Itu yang tidak saya lakukan saat menceritakan kisah dalam novel saya.
Maklum pemula. Hehehe.
Payah nih, saya baru tahu kalau dalam Storytelling (terutama di novel-novel modern, beda dengan cerita-cerita tradisional yang benar2 hikayat) harus selalu ada dua tahap, yaitu :
1. Anggap saja cerita kita benar-benar nyata, dan tokoh-tokoh kita adalah nyata. Mereka kemudian menceritakan semua tindakan, perkataan, dan pikirannya kepada kita sebagai penulis. Pada tahap pertama ini kita punya semua informasi tentang mereka.
2. Lalu apa mesti kita ceritakan semuanya pada orang lain alias para pembaca? Ya enggak kan. Kita punya tujuan sendiri, kita pilih plot yang paling seru, kita pilih tokoh utamanya, kita pilih tokoh mana yang akan bercerita melalui perspektifnya. Saring. Saring. Saring. Lalu dengan cerdik buka jalan pikiran para pembaca, biarkan pembaca merasakan sendiri apa yang dirasakan tokohnya, biarkan pembaca berpikir dan berkata seperti mereka, biarkan pembaca berkelahi melawan musuh-musuh tokohnya. Dan selesailah! Para pembaca tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sedang diceritakan oleh sang penulis.
Wah! Luar biasa kalau bisa begitu ya…
Selama ini karena gak tahu soal beginian, jadinya ya selalu satu tahap doang. Apa saja yang diceritakan oleh si tokoh kepada saya, ya itulah yang diceritakan kepada pembaca. Habis biasanya sayang sih, perkataan dan pikiran mereka yang bagus-bagus kok mesti disembunyikan. Kan sayang tuh.
Huh! Padahal…itu kan sama aja bigos. Biang Gosip. Hahaha!
Memang dasar pemula…
kembali ke