Anak-anak Dunia Mangkok
Posted by: Villam in Cerita, tags: Anak-anak Dunia Mangkok, cerita fantasi, Piri, villam's story
Dunia itu seperti mangkok kayu yang biasa kita pakai untuk makan dan minum. Mereka yang tinggal di lembah seperti hidup di dasarnya, dan deretan pegunungan batu yang mengelilingi lembah adalah dindingnya.”
Itulah pelajaran pertama dari Kakek hari ini, dan anak-anak langsung terpana, sebelum kemudian berebutan bertanya, berteriak-teriak seperti biasa. Tapi bukannya menjawab, Kakek malah tertawa. Ia memang selalu lebih suka melihat mereka bertingkah penuh semangat daripada hanya berdiam diri tanpa kata.
Jadi ia membiarkan mereka, sebelum berkata, “Akan Kakek jelaskan sedikit, Anak-anak, dan setelah itu kalian boleh bertanya.”
Maka keseluruh penghuni lembah—tiga puluh tiga anak—duduk rapi di tanah, di rerumputan ataupun di atas batu, memandangi wajah sang Kakek tanpa berkedip. Ia adalah sosok yang biasa muncul tak lama setelah langit gelap berganti terang. Kapan tepatnya pertama kali ia datang dulu anak-anak sudah lupa, tapi kebanyakan dari mereka percaya bahwa ia memang sudah ada di tempat ini jauh sebelum mereka ada.
Ia selalu muncul di tepi sungai. Di sana ada sebuah pohon karamunt be-sar dan rindang yang di kakinya terdapat batu bulat berpermukaan datar. Setiap pagi menjelang siulan lembut mengalun. Sebenarnya itu hanyalah suara ranting dan dedaunan karamunt yang saling bergesek, tapi bagi anak-anak itu adalah panggilan dari Kakek. Mereka semua bangun, meraih sulur-sulur yang menggantung dan bergegas turun dari rumah pohon masing-masing. Mereka berlarian ke tepi sungai, kemudian menunggu.
Tak lama, permukaan batu datar itu mengeluarkan cahaya putih. Ser-buk-serbuk halus beterbangan, berputar-putar di atasnya. Setelah putaran terhenti, Kakek muncul di tengah-tengah serbuk tersebut. Hanya wajahnya, tanpa tubuh, tangan maupun kaki. Bagi anak-anak, sebenarnya ia sama seperti mereka—ada sepasang mata untuk melihat, hidung untuk bernapas dan mulut untuk berbicara—tapi sekaligus juga berbeda. Rambut putih tebal melintang di atas mata dan bibirnya. Rambut serupa juga menempel di dagunya, panjang dan lebat hingga menutupi leher.
Dulu sekali anak-anak tak pernah bertanya kenapa ia berwajah seperti itu. Tapi suatu hari, ketika mereka semakin besar, mereka akhirnya bertanya. Kakek malah tertawa, dan berkata, “Itulah kenapa aku dipanggil ‘Kakek’.”
Anak-anak bingung; ia dipanggil ‘Kakek’ karena wajahnya seperti itu?
Kakek lalu melanjutkan, “Suatu hari nanti anak laki-laki akan berwajah seperti ini juga.”
Sebagian anak langsung tertawa sekeras-kerasnya—terutama yang pe-rempuan—sementara sebagian yang lain menjerit ketakutan. Seorang anak berseru, “Aku lebih suka warna rambutku yang hitam, bukan putih!”
Mereka yang tertawa berkata, “Tapi dagu berambut itu lucu juga!”
Yang lain langsung membalas, “Tidak mauuu!”
Begitulah, bagaimanapun mereka masih tetap lebih suka wajah mereka sekarang, yang bersih tanpa rambut. Walaupun mereka senang juga memandangi Kakek saat ia membelai-belai rambut panjangnya itu. Seperti saat ini.
Ia kini bertanya, “Siapa di antara kalian yang membawa mangkok?”
Anak-anak senang makan buah-buahan yang dicampur dengan madu dan juga senang minum, maka hampir semuanya selalu membawa-bawa mangkok kemanapun mereka pergi. Tanpa ragu mereka mengacung-acungkan benda favorit yang terbuat dari kulit keras buah muarrant itu, sambil berteriak-teriak, “Aku! Aku! Aku!”
Kakek mengangguk-angguk dan memandang berkeliling. Kemudian, ia melihat ke satu arah. Ia berkata, “Piri, majulah kemari.”
Tubuh Piri kecil dan sebagian tertutup oleh teman-temannya yang lebih besar di depan, tapi tetap saja Kakek bisa melihatnya. Piri tak tahu sebabnya. Apa karena mangkoknya? Piri percaya ia harus makan lebih banyak supaya tubuhnya bisa menjadi lebih besar, karena itulah mangkoknya juga lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Mungkin gara-gara mangkok itulah Kakek bisa mengenalinya dengan mudah!
Piri berdiri, lari ke depan, lalu duduk di samping batu besar. Kakek memintanya berbalik menghadap ke anak-anak yang lain, dan ia menurut.
“Ambillah biji-biji ini, dan letakkan di mangkokmu,” Kakek berkata sambil melirik ke bawah. Piri mengambil sejumput butiran biji karamunt seukuran ujung kuku yang terserak di tanah, dan meletakkannya di mangkok.
Seorang temannya, Tero, yang bertubuh besar dan jika sedang berse-mangat suara lantangnya bisa terdengar sampai ke seberang sungai, tertawa. “Itu rasanya pahit, Kakek. Apa Piri harus memakannya?”
Anak-anak tertawa, dan Piri pun ikut tertawa.
“Mungkin saja Piri akan menyukainya nanti.” Kakek tersenyum. “Tapi sebenarnya Kakek hanya ingin menunjukkan, bahwa seperti halnya biji kecil di tengah mangkok besar itu, kalian juga berada di tengah dunia yang luas, yang kebetulan bentuknya mirip dengan mangkok.”
“Tapi, Kakek, kami sudah pernah berjalan sampai ke kaki pegunungan yang ini, dan jaraknya tidak terlalu jauh,” seorang anak perempuan bernama Yara berkata sambil menunjuk tebing batu di seberang sungai. Sorot matanya cemerlang dan dia tak pernah ragu berbicara. Ia lalu menunjuk ke arah berlawanan. “Dan rasanya jarak ke kaki pegunungan di seberang sana itu juga tidak jauh. Artinya, Kakek, dunia kita tidak luas. Seperti halnya mangkok, dunia kita kecil.”
Yara memang paling pandai meniru kata-kata Kakek, atau membolak-balikkannya sehingga membuat semua anak bingung.
“Menurutmu, berapa jauh jarak pegunungan di seberang itu, Yara?” tanya Kakek.
“Lima hari. Bisa lebih cepat jika kita terus berjalan tanpa tidur.”
“Oh, ya? Aku tidak mau terus berjalan tanpa tidur,” tukas Tero.
“Ya!” Anak-anak lain berseru. “Siapa yang mau?”
“Tapi bukan itu maksudku!” seru Yara kesal.
“Bagaimana menurutmu, Piri?” Kakek bertanya.
Walaupun tidak sebesar dan sekuat Tero, Piri terkenal cekatan memanjat pohon, sehingga ia sering dimintai pertolongan untuk mengambil buah-buahan yang tak terjangkau oleh anak lain. Tapi tentunya bukan itu yang membuat Kakek bertanya. Piri jarang berbicara, tapi jika berkata seringkali ia benar, dan yang benar itu seringkali berbeda dengan pendapat Yara.
Mendapat pertanyaan, Piri malah balik bertanya, “Apakah aku mau berjalan tanpa tidur? Tidak, aku tidak mau.”
“Bukan soal itu!” seru Yara lagi sambil mendelik. “Tapi soal jarak pegunungan itu dari sini!”
Piri menyengir lebar. “Jarak dari sini ke Menara Hitam sekitar dua hari.” Cengirannya padam begitu ia menatap menara hitam di kejauhan yang tinggi menjulang seolah mencakar awan. Seketika semua anak ikut merinding. Kakek selalu berkata tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari menara itu, namun mereka tahu ada sesuatu di sana yang membuat mereka takut.
Piri kembali menatap wajah Kakek. “Kita tahu menara itu ada di tengah-tengah lembah. Jadi Yara mungkin benar. Lima hari lebih, jika kita mau pergi ke pegunung seberang.” Jawaban yang menyenangkan Yara, dan membuat anak perempuan itu kini tersenyum manis.
Tero menukas, “Siapa yang mau pergi? Memangnya ada apa di sana?”
“Tapi, Tero, aku dengar kamu mau mencari kupu-kupu bintang? Aku rasa mereka ada banyak di sana.” Senyuman Yara terkembang, yang bagi Piri lebih seperti gabungan antara senyuman manis dan licik.
“Ah, ya, benar.” Tero menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum lebar. “Mereka memang selalu terbang ke arah sana. Ya, ya.” Ia berpandangan dengan beberapa anak laki-laki di sekelilingnya, kemudian tertawa.
Sudah pasti mereka merencanakan sesuatu. Dan sepertinya bukan hanya mereka; hampir semua anak kini saling berbisik.
“Anak-anak!”
Semua menoleh, dan langsung terdiam.
“Anak-anak.” Suara Kakek melembut. “Kalian semua anak yang pandai. Hari ini Kakek hanya memberitahu soal biji karamunt di dalam mangkok, tapi ternyata kalian bisa berpikir lebih jauh daripada itu.”
Ia mengangguk-angguk. “Ya, pada akhirnya Kakek tahu tak bisa menahan kalian untuk berpikir macam-macam, tapi Kakek masih bisa memberi pesan. Menjadi pandai bukan berarti kalian bisa bertindak sesuka hati. Justru, setelah kalian tahu, kalian harus bisa memilih, mana yang baik buat kalian, dan mana yang tidak.”
Anak-anak terpaku.
Kadang kata-kata Kakek terlalu sulit untuk dimengerti. Tapi mungkin juga tidak, mungkin maksudnya memang hanya sesederhana itu.
Kakek memandangi semua anak satu per satu, lalu mengangguk lagi. “Itu saja, Anak-anak, pelajaran dari Kakek hari ini. Tadinya Kakek mau mengajari bagaimana caranya menanam dan merawat pohon allumint. Kalian paling suka buahnya, kan? Tapi mungkin besok saja. Sampai jumpa.”
Pelajaran hari ini berakhir terlalu cepat, tidak seperti biasanya.
Perlahan wajah di atas batu itu memudar, lalu menghilang sepenuhnya. Serbuk-serbuk halus berputar bersama titik-titik cahaya yang dibawanya, ke-mudian dengan satu kejutan, mereka tertarik ke satu titik dengan kilau yang membuat semua anak menutup mata.
Selesai. Saat mata anak-anak terbuka, tinggal tersisa batu di kaki pohon itu. Suara gesekan indah ranting dan dedaunan kembali terdengar, kemudian lenyap tergantikan gemericik air yang mengalir di sungai.
bersambung
lihat bab selanjutnya di sini.
Related posts:
- Anak-anak Dunia Mangkok 2 Hari masih jauh dari selesai. Malam masih lama dan Piri...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
January 16th, 2010 at 1:38 pm
Udah lama sering berkunjung. Baru kali ini aja menyempatkan membaca.
Cerita yang ringan. Terlihat jelas sasarannya adalah anak-anak. Pesan moral jelas. Tapi bahasanya mungkin agak terlalu ‘tinggi’ dan kurang jenaka.
Ehm, saat membayangkan sosok kakeknya kok serem ya? Tanpa tangan dan kaki hanya wajah. Ataukah janggut putih yang menutup seluruh tubuh begitukah?
Apalagi kehadirannya ditandai nuansa mistis begitu….
Yah toh nanti juga direvisi. Tapi apa ndak kuatir, ceritanya dipajang-pajang begini? Hehe, apalagi kalo dibaca copycat seperti aku….
January 16th, 2010 at 9:53 pm
hmm… so you’re a copycat?
January 16th, 2010 at 10:52 pm
Yeah, beware!
Hehehe.
January 17th, 2010 at 7:08 am
January 17th, 2010 at 10:03 am
Ini salah satu portofolio copycatnya di k.com:
http://id.kemudian.com/node/239054
Jika berkenan dan sempat, bisa ditengok.
Hihi, copycat kok malah show off?
January 17th, 2010 at 1:27 pm
yup, sudah dilihat ceritanya. cukup menarik.
itu versi baru ataw emang cerita tambahan?
January 17th, 2010 at 4:51 pm
Versi Remake alias alurnya masih sama namun dirombak total dengan seijin penulisnya. Penulisnya ada di k.com juga.
January 17th, 2010 at 8:37 pm
alur? plot kali?
ataw karakter dan latarnya sama, tapi style yg berbeda.
January 17th, 2010 at 9:55 pm
Yap betul. Karakter, latar, plot, semuanya sama. Kecuali style.
Btw, plot n alur tuh beda ya?
January 17th, 2010 at 11:34 pm
kalo buat gue itu beda.
alur itu pola bergeraknya cerita. maju, mundur, atau campuran.
kalo plot itu rentetan atau rangkaian kejadian dalam cerita yg memiliki hubungan sebab-akibat. kayak yg dibahas di sini:
http://www.rdvillam.com/2009/05/apa-itu-plot/
January 18th, 2010 at 7:46 am
Hoho begitu ya?
Thx atas pencerahannya.
January 18th, 2010 at 8:29 am
heheheheh… oke…