Diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi – Sesi 1
Posted by: Villam in Dokumentasi, tags: fiksi fantasi, Pulau Penulis, Tips Menulis, zauri
[tab: Hal 1]Sesi I (8 Nov 2007 – 20 Nov 2007)
- Tentang forum ini
- Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award
- Perbedaan Fans Fiction dan Fantasy Fiction
- Character-Mix Technique: let the characters lead the story, oleh rd_Villam
- Tentang Cardan, terbitan Gagasmedia
- Zauri menjadi juara II Adikarya IKAPI 2007
- Writer’s Obstacle: The Beast Inside My Head, oleh rd_Villam
- Soal perbedaan novel dan film
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: BloodSin on November 08, 2007, 07:10:09 pm
________________________________________
hmmm.. admin.. jangan dipindah ke sub-topik fanfic (fan-fiction–yang berarti istilah yg ditujukan untuk fans fiksi-fiksi tertentu) lagi yah.. soalnya thread ini sudah berada pada tempat yg benar. ![]()
Salam hangat
Rey L,
penguasa thread fantasi Indosiar yang baru naik tahta.. :-* :-* :-*
________________________________________
Post by: clickdian! on November 09, 2007, 08:30:17 am
________________________________________
Yo Guys! Glad to be back!
Mumpung udah bisa masuk, aq mo minta doa nih..
Zauri masuk nominasi Adikarya IKAPI dan Khatulistiwa Literary Award..
Wish me luck, Guys!
Link:
http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/2007/11/05/pengumuman-hasil-seleksi-tahap-1-longlist-khatulistiwa-literary-award-2007/
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 12, 2007, 02:05:39 pm
________________________________________
fanfic berasal dari kata fans fiction, yaitu cerita yang dibuat oleh para penggemar fanatik kisah-kisah yang sudah ada (entah macam harry potter, cerita anime, ataw drama2 asia), dengan alternatif cerita yang dibuat berbeda walaupun menggunakan tokoh2 yang sama.
fantasy fiction, seperti dalam thread ini, adalah cerita fiksi bergenre fantasi (dunia imajinatif dimana hal2 yang tidak mungkin jadi biasa, walau ada banyak sih alirannya) yang tokoh2 dan latarnya diciptakan oleh para penulis (dalam hal ini ya kita-kita ini) sendiri… tidak berdasarkan tokoh-tokoh dalam cerita lain.
kalo soal karya asli atau enggak, terus terang sebenarnya rada bingung juga sih gua… cerita2 fanfic tersebut kadang2 sangat berbeda juga dengan cerita aslinya, sehingga layak juga mestinya disebut karya ‘asli’ si pengarang baru tersebut (cukup asli deh…).
oleh karenanya, tentang asli atau tidak asli mungkin perlu lebih dicermati lagi maksudnya. (halah… basa belibet… bikin pusing…)
ini adalah thread tentang para penulis yang nekat menceburkan diri masuk ke dunia fantasi, mungkin itu udah cukup.
kalo ada yang tambah pusing, ya begitulah…
ini tempatnya para pemimpi… heheheh…
[tab: Hal 3]
________________________________________
Post by: mocca_chi on November 13, 2007, 07:42:53 am
________________________________________
wah jadi kepengen juga buat fiksi fantasi. tapi apa ya temanya…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 13, 2007, 10:00:06 am
________________________________________
usul nih, daripada pusing nyari tema buat cerita, usulku coba bikin empat karakter2 yang aneh dan unik terlebih dulu. nanti tema cerita bakal muncul dengan sendirinya…
let the characters lead the story…
ini… barangkali tertarik menggunakan teknik character-mix…
(kukopi corat-coret gak jelas dari blogku ini)
—————————–
Yakin mau bikin tema cerita dulu baru bikin karakternya?
A : Mau bikin cerita baru nih!
B : Boleh. Mau mulai dari mana: bikin tema dulu atau karakter dulu?
A : Ya dari tema dulu dong! Gimana sih? Biasanya kan begitu.
B : Yakin? Ya udah, mau bikin tema apa?
A : Biasa, fantasi. Perang melawan penyihir jahat. Jagoannya cowok, punya emak di desa tukang bikin kue, dan punya temen cewek pencopet cilik.
B : Jadi inget sama…. Ya udah, jadi ada empat karakter nih: Panglima, Penyihir, Tukang Kue, sama Pencopet. Sok atuh… dibikin gambaran karakternya.
A : Lihat nih…
Panglima Cowok 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cowok 50 tahun Licik
Tukang kue Cewek 40 tahun Pemarah
Pencopet Cewek 10 tahun Periang
B : Terlalu biasa nih! Boleh gua utak-atik, gak?
A: Mmm, boleh deh.
B Begini nih…
Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 50 tahun Licik
Tukang kue Cowok 40 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 10 tahun Periang
A : He he, boleh juga sih. Jadi sekarang tokoh utamanya cewek nih, trus lawan cewek juga? Terus si tukang kue jadi bokapnya? Pencopet cowok kecil, itu sih udah biasa juga.
B : Eh, emang gua bilang tokoh utamanya si panglima cewek ini? Bisa aja kan si tukang roti yang jadi tokoh utama, atau si pencopet kecil itu.
A : Si tukang roti? Ya bisa juga.
B : Atau mau diutak-atik lagi?
A : Ntar dulu! Gua suka juga tuh sama tokoh panglima cewek. Yang itu jangan diubah.
B : Boleh. Jadi tinggal tiga terakhir nih…
Panglima Cewek 20 tahun Bijaksana
Penyihir Cewek 10 tahun Licik
Tukang kue Cowok 50 tahun Pemarah
Pencopet Cowok 40 tahun Periang
A : Heheh, jadi penjahatnya sekarang anak kecil 10 tahun nih? Menarik juga. Tapi tukang kue sama pencopet tua, apa menariknya?
B : Ya si tukang kue jadi babe yang pemarah. Trus si pencopet cowok itu, dijadiin pacarnya si panglima cewek aja…
A : Ketuaan ah…
B : Soal umur mah gampang atuh… Tinggal dikurangin. Mau jadi umur berapa? 25 tahun? Boleh. Tapi udah puas belon nih?
A : Sifatnya belon diutak-atik kan?
B : Yoi. Nih coba liat…
Panglima Cewek 20 tahun Periang
Penyihir Cewek 10 tahun Pemarah
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Bijaksana
A : Wah! Tambah aneh nih! Penjahatnya tukang kue?
B : Iya! Si bokap yang tukang kue ini ternyata jahat, dan berhasil merebut kekuasaan. Si panglima cewek terpaksa kabur dari negerinya, dibantu kabur sama si pencopet bijaksana.
A : Terus si penyihir kecil jadi apaan?
B : Boleh juga kalo mau dijadiin partner in crime-nya si tukang roti.
A : Heheh. Boleh juga.
B : Atau bisa juga begini…
Panglima Cewek 20 tahun Pemarah
Penyihir Cewek 10 tahun Bijaksana
Tukang kue Cowok 50 tahun Licik
Pencopet Cowok 25 tahun Periang
A : Artinya?
B : Si panglima cewek sering ngamuk. Si pencopet cowok jahil. Nah sih penyihir cilik nih jadi orang bijaksana, mesti dicari dulu di tengah hutan, karena ternyata dia yang menyimpan kunci untuk melawan senjata rahasia milik si tukang kue.
A : Wah bagus nih ! Yang ini aja deh.
B : Jangan puas dulu. Coba elu utak-atik sendiri deh. Gua cuma pengen kasih tau nih, ada 4 kali 4 alias 16 kemungkinan cerita di sini. Bisa nambah lagi kalo elu masukin juga variabel-variabel lainnya.
A : Eh, iya yah… kok temanya berubah dari tema awal gua?
B : Hehe, emang itu tujuan gua. Daripada bikin tema dulu baru karakter, yang hasilnya terlalu stereotip, mendingan elu bikin dulu karakternya, baru masuk ke tema.
A : Ah, belagu lu. Tapi boleh juga sih cara ini.
catetan :
Hitungan si B salah tuh. Mestinya ada 9216 kemungkinan cerita.
Angka dari mana? Nanti aja deh dibahas di kelas matematika. heheh…
———————-
[tab: Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 09:48:24 am
________________________________________
eh…
ada fantasi lokal baru terbit agustus kemaren ya?
judulnya Cardan, terbitan gagas (haha… ternyata mereka nerbitin fantasi juga…)
pengen baca, tapi belon nemu di toko buku…
ada yang udah baca?
________________________________________
Post by: BloodSin on November 14, 2007, 03:31:00 pm
________________________________________
hmmm.. ente ktinggalan info ne.. ;D
gagas udah nerbitin 2 fantasi sebelomnya: nightfall (yg ini gw udah baca) ma satu lg.. lupa judulnya pokonya nyinggung2 time machine gitu deh.. hmm.. yg unik, kayanya gagas udah ngebagi divisi genre untuk novel2na: ada fantasy-lit, teenlit, dan lain sebagainya.. ![]()
kalo yg novel cardan itu, malah kayanya gw yg ketinggalan info.. baru denger ne.. ente denger dr mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 14, 2007, 04:59:35 pm
________________________________________
rey, gua tau cardan pas buka site tokobuku online.
maksud gua tuh… gua pikir gagas cuma tertarik sama fantasi dengan tema yang ringan dan tipis,
sementara cardan ini kayaknya bertipe epik dengan tebal sampe 330 halaman.
jadi… apa kita harus mengarahkan senjata ke sana? hehehe…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:36:24 am
________________________________________
Guys,
Alhamdulillah Zauri dapet juara 2 Adikarya IKAPI, makasih untuk doa dan dukungannya yaaa.. ![]()
To all:
Fiksi fantasi lokal sudah diterima di negeri sendiri nih, jadi jangan ragu berkarya ya!
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 15, 2007, 08:52:17 am
________________________________________
hoho…
selamat, dian!
wah… hebat bener ya…
ayo deh, mari kita tetap bersemangat menulis fantasi!
ah… gua bermimpi suatu hari nanti fantasi-fantasi buatan anak negerilah yang merajai toko-toko buku,
dan ada penghargaan semacam hugo award setiap tahunnya (dian award mungkin, heheheh…, khusus untuk buku-buku fantasi tersebut (mulai dari novel, novelet, hingga short stories).
jalan yang panjang, tapi bukannya gak mungkin…
________________________________________
Post by: clickdian on November 15, 2007, 08:58:12 am
________________________________________
Tq, Villam ![]()
Aq juga surprise banget, satu2nya fiksi fantasi yg masuk nominasi. Sempet jiper juga, ga pede soalnya yg lain dari genre yg lebih banyak penggemarnya. Tapi kyknya juri2 juga suka berimajinasi, jadinya zauri kepilih deh.
Tinggal Khatulistiwa nih T_T
Ini mah kayaknya ga mungkin abisss… saingannya super ketat.
Tapi yah, harapan walopun cuma 1% tetep harapan kan? ![]()
Minta doanya ya, guys..
________________________________________
Post by: BloodSin on November 15, 2007, 10:01:40 am
________________________________________
@ sis,
whwhwwh.. juara 2.. keren banged.. congrats ya.. ;D jadi makan2 duank.. ;D ;D
@villam,
gagas bukannya udah ngasi limit halaman naskah.. pokonya setau gw limit halamannya tipis banged deh.. cuman 125/150 halaman spasi 1.5.. ato berapalah.. kok tuh novel lumayan tebel bs terbit ya? ??? ???
@aree,
tertarik nulis fantasy?
[tab: Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 16, 2007, 10:53:37 am
________________________________________
mmm…
buat iphrite alias kokonoka yang meminta gua membagi tips lagi.
hahaha… kayaknya yang di bawah ini mungkin bukan tips, cuma corat-coret gak jelas dari penulis yang baru bisa bermimpi…
kukopi juga dari blogku.
yah, walau gak jelas, semoga bermanfaat dan bisa membangkitkan semangat…
ciao.
—————————-
Writer’s Obstacle : The Beast Inside My Head
Ouch! You killed my brother!
It’s time for revenge,
but what is the main obstacle to become a real writer?
Dari sekian banyak tahapan yang dilalui penulis, mana yang paling menantang?
A. Aktivitas menulis
(proses ngebikin novel impian itu maksudnya)
A1. Persiapan (atau perencanaan)
Macem-macemlah, mulai dari ngimpi, corat-coret tokoh, plot, dunia impian, action outline (sebelon jadi scene outline), dll.
Sampe minimal kita tau 70% dari keseluruhan cerita yang kita buat. Pokoknya jangan sampe blank, kita gak tau cerita yang kita tulis ujungnya ada di mana.
Oy! Jangan lupa risetnya. Mau bikin cerita detektif/pembunuhan coba dateng ke kantor polisi ataw ke rumah sakit (/jiwa?). Mau bikin cerita luar angkasa, coba ke bulan. Mau tau kayak apa Eiffel di bulan Februari, ya coba dateng ke Paris, biar gak bingung ini musim dingin apa musim panas.
Gak punya duit, surfing internet ajah di wikipedia.
Oke? Udah siap semua pedang dan armor kita?
Siap, boss!
It’s time to go to the dungeon and kill the beast!
A2. Menulis
Kerjaan utama yang paling berat nih, ngeluarin the beast dari dalem kepala.
Gaya dan kecepatan para penulis beda-beda. Ada yang bisa ngebut ngetik selesai dalam seminggu (mereka-mereka yang ngetop sebagai prolific authors nih), ada juga yang bisa berbulan-bulan.
Barangkali ada yang berminat kayak Tolkien, bikin LOTR dalam 13 tahun?
Biar gak keliatan menakutkan, maju aja sedikit-sedikit. Ya sebulan satu bab deh…
Kan kita mesti sekolah, ke kantor, jalan-jalan ke mal, chatting, surfing, ngurus anak, dll dsb. Ya gitu deeh…
A3. Rehat
Udah selesai semua 30 babnya? Weh, jadi hampir tiga tahun nih nulisnya?
Luar biasa, dan selamat! Iya. Pokoknya selamat!
Kita udah lolos tahap kualifikasi yang paling berat buat jadi penulis!
Konon katanya, dari 100 orang yang bermimpi jadi penulis, cuma 50 orang yang berani mencoba menulis. Dari 50, cuma 25 yang menulis sampe selesai novelnya. Dari 25, cuma 12 yang berani ngirim ke penerbit. Dari 12, cuma 6 yang mau memperbaiki setelah ditolak. Dari 6, cuma 3 yang berani mengirim ulang. Dari 3, cuma 1 yang akhirnya berhasil diterbitin.
Kalo gak salah sih.
Eh, tapi ngapain dibahas sekarang? Udah deeh…
Saran para penulis top: print draft pertama tersebut, masukin ke kulkas selama sebulan, jangan pernah disentuh-sentuh. Biar semuanya hilang dari otak kita buat sementara.
Simpan dulu pedang kita. Waktunya pergi ke tavern.
Sementara nganggur, kita bisa mulai ngelayap kemana-mana (lihat bagian B. Aktivitas lain-lain), atau coba bikin konsep buat novel berikutnya.
A4. Kritik sendiri
Asumsinya udah belajar banyak dong dari proses belajar kita.
Sekarang ambil lagi tuh naskah dari dalem kulkas. Senjata yang mesti disiapkan: pulpen/pinsil dan notes (ya pedang yang itu maksudnya).
Hiaat! Dengan ganasnya kita bantai tulisan kita sendiri dari awal.
Kill the goblin! Kill the goblin!
Hoaahh! Apaan nih?
Kenapa kok plotnya jadi keliatan gak masuk akal sekarang?
Lho, ini tokoh ngapain muncul di cerita ini? Gak ada gunanya!
Ini apaan nih narasi panjang lebar gak jelas?
Waduh, kok lambat banget sih ceritanya? Bikin ngantuk!
Catet dulu di notes, jangan buang sekarang, jalan terus dulu.
Yang ini, deskripsinya kok ngambang? Ya catet juga, nanti ditambahin.
Nyantai, man… nyantai…
A5. Kritik dari orang lain
Puas dengan kritikan sendiri?
Jangan.
Beranikan diri, kasih tuh draft naskah ke orang laen.
Semakin expert orang tsb tentu semakin bagus. Tapi kalo gak ada, ya papi, mami, kakak, adek, pacar, temen juga bisa. Minimal mereka bisa ngasih tau di halaman berapa mereka tertidur karena bosennya.
Pembaca/kritikus yang expert bisa ngasih tau poin-poin lemah mana ajah yang sebelumnya gak kita pikirkan.
Tentang ini ntar kita bahas khusus deh.
A6. Rewrite (tulis ulang)
Udah dapet semua kritiknya?
Bagus? Jelek? Perlu diterima? Atau ditolak ajah?
Ya terserah kita.
Yang jelas kalo kita berani rewrite alias tulis ulang (bukan sekedar potong kiri potong kanan, tambah atas tambah bawah), berarti kita udah selangkah lebih maju.
Gak usah takut, rewrite dan edit selalu membuat tulisan kita menjadi lebih bagus, gak pernah jadi lebih jelek.
A7. Ulang lagi dari A3
Hah? Muter lagi?
Hehe, terserah sih. Ini saran ajah.
Ok deee…
Balik lagi ke gua, bang! Ada harta karun yang belon sempet diambil di sana!
A8. Ulang lagi dari A3
Maksud loh?!
Ya itu maksud saya. Pokoknya periksa ulang dan periksa terus!
Hmm, editing is a never ending process. Setiap kita tengok lagi tuh naskah, pasti selalu ada aja yang cacat.
Gak percaya, coba liat lagi sekarang. Pasti masih ada yang salah. Berani taruhan? (hus, haram!)
A9. Kirim ke penerbit dan tunggu
Udah deh, capek nih ngedit. Udah gak sabar nih…
Sip! Selamat karena kita udah berani nekat naik ke Arena.
Face the minotaur and its great axe!
Itu lebih bagus daripada gak pernah berani mencoba.
Tentu saja ada syaratnya: naskah yang kita kirim sudah kita edit sedemikian rupa, sehingga kita yakin itu adalah yang terbaik bisa kita buat, setidaknya sampai saat ini.
Jangan lupa perhatikan tatacara pengiriman naskah. Editor dan penerbit banyak maunya lho…
Setelah itu, tunggu dengan sabar ya.
Bisa seminggu, tiga bulan, atau setaon. Seumur hidup?
Sementara nunggu, coba deh ngelayap lagi, atau bikin novel lainnya.
A10. Ditolak
Hore! Ditolak buat yang pertama kali!
Toast! With the minotaur.
Sambutlah dengan senyum, simpan baik-baik surat penolakannya.
Itu bakalan jadi kenangan indah buat kita nanti, suatu saat.
Inilah saatnya naik level.
Ketemu naga, bukan lagi minotaur, apalagi goblin kroco.
A11. Ditolak lagi dan ditolak lagi
Ouch! You killed my brother!
Hooo. Keep smiling, man…
Baca baik-baik surat-surat penolakan tersebut, dan kita akan menemukan apa yang membuat naskah kita ditolak.
Kita akan belajar menerima kenyataan pahit ini: tidak penting sebagus apa naskah kita, kalau tidak sesuai dengan selera atau standar editor dan penerbit, ya tetep aja ditolak.
Tapi minimal ada yang bisa kita pelajarin.
Sesuatu yang bisa menjadi senjata pamungkas kita.
A12. Moment of Truth
Saatnya penentuan, apakah kita bener-bener seorang penulis atau bukan.
It’s the main obstacle.
Face the dragon in the final battle.
Mereka pikir kita akan menyerah setelah ditolak sepuluh kali?
Duapuluh? Limapuluh?
No, Master! Wait for my revenge!
Ada 3 jalan di depan kita:
1. Perbaiki lagi tuh novel yang ditolak, dan coba kirim lagi. Teruus dan teruuuss…
2. Bikin cerita yang laen. Kita penulis kok, kita bisa bikin satu, kenapa gak bisa bikin yang kedua, ketiga, dst? Ditolak juga? So what? It’s my life.
3. Simply Quit. Goodbye, brother. Don’t worry, you’re still my friend. Maybe we’ll meet again, someday, etc, etc.
The dragon is in our mind.
Make your decision.
A13. Revenge
The sweetest time.
The evil dragon is dead.
Saat ketika semua pengorbanan terbayar lunas. Duh duh duh…
Perlu dibahas?
No, just dream it.
B. Aktivitas lain-lain
(nangkring & nongkrong)
B1. Belajar
Ya macem-macem juga deh yang dipelajari.
Paling penting adalah belajar tatacara penulisan yang baik. Mesti rajin-rajin dong buka buku EYD, tatacara Editing, Pelajari Tips n Trick dari internet.
Apa aja sih yang biasanya jadi topik pembunuhan naskah, favoritnya para kritikus?
Jangan malu nanya para penulis top yang pinter-pinter itu. Cari tau seperti apa novel yang bagus, dan yang gak bagus. Ya mesti banyak baca-baca novel laen buat benchmarking (ceile…), impor maupun ekspor (hah?).
Tapi jangan nangkring di depan komputer doang (kayak saya).
Nongkrong juga dimana kek. Liatin juga tuh kelakuan orang-orang di pasar, di stasiun, di stadion, di bank, di ruang tunggu dokter.
Lumayan buat database tingkah laku orang.
B2. Survey pasar dan penerbit
Jalan-jalan yuk, ke toko buku.
Liat majalah Trubus, hmm… bisa gak ya kirim cerita fantasi ke sini?
Dimana alamatnya? Lihat di cover belakang, atau ada di halaman dalam?
Oke deee… beli.
Huh? Isinya kok pohon semua? Mau bikin cerita Wood Elves? Walah…
Cari lagi deh yang laen…
Oke, nih ada novel fantasi yang keren, terbitan penerbit ABC (bukan kecap itu tapinya). Laris juga kabarnya.
Dimana alamat penerbitnya? Catet. Coba cari info tentang penerbit ini di internet. Cukup bonafid dan bisa dipercaya? Mana alamat emailnya?
Oke, kenalan dulu via email.
Mau terima fantasi gak? Gimana cara ngirimnya? Begini begitu.
Mereka mungkin bilang: sori belon minat. Tapi mungkin ada juga yang jawab: coba kirim sinopsis dan 10 halaman pertama.
Voila! Jalan sudah terbuka.
Mungkin ada juga yang jawab: kirim hardcopy langsung aja semuanya. Syaratnya ini dan itu. Oke. Meluncur.
Tapi kalo ada yang minta diemail semuanya pake ms word, mending tahan dulu deh.
B3. Gaul di forum penulis.
Ya, namanya juga pemula, tau dirilah.
Belajar dari penulis-penulis lain yang lebih paham. Kenalan juga dengan sesama penulis pemula yang senasib sepenanggungan.
Banyak kok forum semacam ini di internet.
Dengan mereka-mereka ini kita nanti bisa minta masukan mengenai draft naskah kita. Banyaklah informasi yang berguna dari mereka.
B4. Kegiatan lain
Hmm, banyak sih.
Ketemu penggemar di mal dan universitas, bedah buku, tanda tangan.
Heheh…
Woy, bangun! Udah siang!
Kerja, kerja!
Just face that beast, okay?
B5. Belajar lagi, sampe akhir hayat
At last, everything we do is about learning.
[tab: Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 19, 2007, 02:46:25 pm
________________________________________
rey,
cardan belon selesai juga nih bacanya. ada satu hal penting yang kurang di novel ini, seperti halnya numeric uno, yaitu kurang ‘pressure’ awalnya. tapi sampe separo jalan, gua rasa masih lebih bagus daripada numeric uno kok. gua saranin elu tetap beli deh. heheh…
soal reviewnya, ntar deh, mudah2an bisa dibedah secepatnya. ada kesulitan tersendiri. gua gak bisa konsen bacanya, soalnya kemudian malah mikirin cerita gua yang gak selesai-selesai. payah dah…
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 11:37:15 am
________________________________________
soal perbedaan antara novel dan film,
dalam beberapa kasus memang jadi lebih berkualitas filmnya.
seperti LOTR dulu, peter jackson juga bisa bikin interpretasi yang lebih mantap, seperti karakter yang lebih ‘believable’, walaupun tentu saja banyak cerita yang hilang.
tapi banyak dalam kasus lainnya, biasanya timbul kekecewaan karena filmnya ‘dirasakan’ menjadi lebih buruk.
________________________________________
Post by: BloodSin on November 20, 2007, 11:48:33 am
________________________________________
@villam,
bah, tapi kalo udah dari bukunya jelek mah kayana udah gak mungkin bisa bagus ya kalo dipelemin.. ![]()
________________________________________
Post by: rd_Villam on November 20, 2007, 02:50:57 pm
________________________________________
u know what? bagi gua, seringkali nonton film selalu mendatangkan lebih banyak ide daripada membaca bukunya.
kita bisa belajar tentang gaya atau teknis penulisan dari membaca buku, tapi cara penyusunan plot dalam film (pembukaan, konflik, klimaks, penutup), dan cara visualisasinya, yang justru sebenarnya sangat berguna buat para penulis yang hendak membuat novel.
sepertinya para sutradara itu tau betul bagaimana harus membuat penonton tertarik dari awal, dan meringkas dalam film yang padat dalam 2 atau 3 jam.
yah, tentu saja cuma film-film yang bagus ajah…
heheh…
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)