[tab:Hal 1]Sesi XV (15 Jun 2008 – 18 Jun 2008)

  • Apa yang terjadi jika karya kita tak pernah terbit
  • Fantasi dan anime

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on June 15, 2008, 10:53:34 pm
________________________________________
guess what, gw lg terheran2 sama ‘daya tahan’ penulis fantasi sini, villam dengan TFH-nya yg udah lewat 10 thn, om pur dengan PG-nya yg udah 17 tahun ((http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), fred dengan naskah rahasianya yg udah 7 tahun, dan junior baru kita((http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)) dengan Gefallene Masse-nya yg udah 9 tahun.

Oh my, kalo ginih caranya sih lemures gw (3thn) bisa diitung masih balita. so inocent.. :P
Sialnya, selama ini gw selalu memandang ke atas: penulis ledgard nyelesain buku pertamanya dalam 2 tahun–kalo ga salah, penulis pinissi nyelesain pinissi 6 bulan, si hege nyelesain hozzo 2 tahun, penulis enthirea nyelesaian enthirea 1 tahun, andrea hirata nulis Laspeng cuma 3 minggu, belom lg ada penulis teenlit yg beresin bukunya dalam 2 hari saja (dan terbit, tentu)
dammit kenapa ada orang yg begitu gampang nerbitin naskahnya dan menjadi bestseller, kenapa ada juga yg udah bertahun2 berkutat dan berjuang thd suatu naskah tapi gak terbit2.
selama ini gw gregetan sama naskah gw sendiri yg udah mandek 3 tahun, tapi setelah mengetahui ada begitu banyak penulis fantasi di luar sana yg udah berkutat selama hampir/bahkan lewat satu dekade, gw jadi agak sedikit terhibur dan lega.. hehehehe, mungkin ini yg namanya senang di atas penderitaan orang lain..

kepada penulis2 fantasi yg sabar lahir batin itu, gw cuma punya satu pertanyaan, tak harus dijawab, tapi kalo mau dijawab boleh asal harus jujur: gimana kalo seandainya karya abadi itu kagak pernah terbit? apakah lu bakal menyesal karena telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu (yg tadinya lu pikir bakal bisa dinikmati oleh banyak orang) yang gak bakal pernah dinikmati oleh siapapun selain diri lu sendiri?
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 16, 2008, 08:18:13 am
________________________________________
Kalo gue yang pertama menjawab, bukan karena rekor gue paling lama ;) hehehe. Soalnya pas udah online aja :)
Pertama-tama soal menyesal. Soal lama (ngerjain) itu, gue gak pernah menyesal. Gue pikir waktu adalah proses, dan sepanjang visi kita adalah menyempurnakan karya tersebut, buat gue waktu yang lama pasti akan membawa sesuatu balik ke karya itu lagi. Dan kalo visi kita menyempurnakan, berarti karya kita menjadi lebih baik.
Tapi mesti distate juga di awal, supaya pengertiannya pas. Sebelumnya kita harus bener-bener punya belief bahwa karya yang sedang kita tulis adalah sesuatu yang bagi kita (pribadi) bener-bener spesial. Tanpa itu, kita pasti tidak mau spend waktu lama, atau tetap bersetia kepadanya.
Pengarang2 yang elo lihat, Rey, terutama yang mengarang instan dua hari kelar :o mungkin memang sudah sangat terlatih, atau mereka memang menyesuaikan diri dengan tuntutan profesi. Jaman sekarang menerbitkan buku sudah seperti balapan, takut kehilangan momen.

Sekarang mengenai karya abadi yang gak pernah terbit.
Jujur aja, kalo gue, bikin karya pastilah ingin agar dibaca orang lain. Setiap pengarang pasti ingin bukunya diterbitkan, dan sukur-sukur disukai. Tapi kesuksesan, terutama kesuksesan komersil, buat gue adalah nomor dua. Mungkin karena secara ekonomi gue udah cukup mapan, kali ye? Artinya udah punya job sehingga ngga berpikir untuk berkarir sebagai penulis full-time. Jadi soal apakah buku gue akan sukses komersil ato nggak, gak jadi begitu penting.
Buat gue yg penting adalah pesan/missi karangan dapat dishare ke banyak orang, siapa tahu ikut membantu orang-orang melaluinya. Pahala, bo.
Tapi tentu saja ada sisi sukses komersil yang diharapkan. Sukses komersil (balik modal, ada profit) sangat diperlukan demi eksistensi karya-karya selanjutnya. Kalo mo bikin buku kedua, ketiga dst, pasti akan butuh modal. Buat riset dsb, pasti butuh dana untuk ngebayar orang, karena gue gak akan punya waktu seleluasa ketika mengarang buku pertama, kan?
Nah, ini dia kalo udah masuk ke industri, kalo mo nerbitin buku kedua dst, kagak boleh kehilangan momen. Ini ngeselin, susah, tapi realita [tickedoff]

Makanya, sekalipun tujuan penerbitan itu sekarang bisa dipenuhi lewat penerbitan internet swadaya, tetap aja gue lihat perlunya diterbitkan secara komersil. Makanya itu pula yang membuat gue tetap termotivasi untuk terus memperbaiki karya gue.
BTW, masih terkait penyempurnaan. Malam ini gue tiba-tiba aja ‘ticked-off’, ada ide baru mengenai salah satu plot di PG. Ini berkat masukan-masukan temen-temen juga, dalam rangka memperbaiki bab-bab awal PG. Gue lagi garap, dan kayaknya jadi exciting banget!
Tuh, kata siapa proses panjang itu melelahkan? [biggrin]
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 09:01:57 am
________________________________________
haha bener banget kata Loki, banyak banget penulis yang menghabiskan waktu bertahun2 demi menyempurnakan karyanya dan gw yakin mayoritas diantaranya adalah penulis novel fantasy. Genre lain, drama atau cinta misalnya, ceritanya tidak perlu konsep yang benar2 mendetil, cinta juga tidak butuh logika, yang penting lo pernah ngerasain cinta itu dan warna2 warni rasanya dan sisanya let your heart do the rest. Toh kita ga perlu memikirkan ‘apa asal usul cinta, terbentuk dari apa, legendanya apa, etc2 ky fantasy XD

Gw sendiri sebagai penulis jauh lebih muda dari kalian. emm… kl ga salah baru mulai menulis sejak A.Hirata keluarin Lasper, yang menurut gw merupakan momentum yang bagus utk menyusul. Tp konsep dasar cerita, sampai bangun konsep dunia etc udah gw mulai sejak 9 tahun yang lalu, ketika gw masi menulis cerita utk komik gw. Perjalanan yang panjang banget memang, masalahnya, kenapa kita bisa smpai memakan waktu bertahun2 itu, karena kita engga pernah fokus punya waktu 100% menulis sejak kecil, ditambah lagi kemampuan menulis kita selalu berkembang seiring waktu.

Coba ingat2 lagi. dr waktu dulu SD, gw bahkan ga berpikir plot cerita,wong masi bocah yang nontonnya pokoke kartun berantem action aja (contoh saint saiya). Kemudian naik SMP, kita makin dituntut untuk belajar, belajar, dan belajar. Mana ada waktu utk mikir yang lain? (kecuali mikir main PS itu selalu ada waktu XD). Saat itu kemampuan gambar gw berkembang lagi, gw mulai belajar plot dasar yang basic sekali disegala genre battle yaitu ‘balas dendam’. (kira2 kelas 2, dimana gw anggap sebagai starting point gw as a writer)

Lanjut lagi naik ke SMA, nilai gw semakin lama semakin parah lantaran gw hanya pintar logika dan sangat lemot dalam menghapal teori. (terakhir penah merah 5 dan semuannya dari sub pelajaran IPA-IPS) Sukur dulu standar nilai ga kaya skarang, kl engga gw dah jd murid sekolah abadi >.<. Nah, tuntutan sekolah macem gini ditambah tekanan orang tua ga memungkinkan kita serius ke hobi kita yang mereka angap ga berguna. Disini gbr gw dah one of the best di kelas, dan satu2nya yang ngembangkan komik dengan serius. (jadi beberapa jilid walau ceritanya masi kacau balau) Disini gw masi terpengaruh berbagai game terutama xenogear (gr2 xeno gw gatel banget pengen ngisi char utama gw dengan berbagai multiple personality, karakter Arlond yang dulunya bernama Naoru pun mulai terlahir)

Akhirnya lanjut ke kuliah, jurusan design. Pribadi semakin matang, gw melupakan gambar untuk sementara waktu dan belajar desain yang ternyata banyak membantu dari segi grafis apapun termasuk kemampuan gw membuat komik. Dr sini gw bergabung di deviantart, sadar ternyata dewa gambar ada bejibun di dunia ini, kemudian saat itu gw baru nonton yang namanya Lotr, matrix etc, segala movie yang memilik konsep cerita dahsyat sekali, dan akhirnya gw kembali ke dunia menulis dan merancang dunia bagi cerita lama gw. (karakter yg sama, plot dasar sama, cuma dikasi konsep dunia)

Akhir masa kuliah, jujur gw baru mulai menyentuh yang namanya novel. Gw dulunya pecinta gambar dan sangat takut dengan textbook. Kakak gw beli 5 jilid Harpot sekadar ikut2an, tp ampe setahun ngangur masi tersegel, ga dibuka sama sekali. Akhirnya gw iseng2 baca, dan ternyata gw berubah jadi maniak nulis novel [rolleyes]

Setelah itu, ya gw join berbagai forum, ke k.com, ampe akhirnya kesini, dan sadar perjalanan gw masi panjang sekali dan jauh dari selesai. Tapi coba liat lagi ke belakang, tengok karya kita beberapa tahun lalu, sama seperti gambar, kemampuan menulis gw berkembang jauh dibanding beberapa bulan lalu dimana ceritanya masi bener2 berantakan. Darisitu kita bisa tahu, kl perjalanan panjang kita itu ga pernah sia2. The only thing that never betray us is hard training and careful planning. That is what I believe. Kemampuan kita akan terus menerus berkembang tanpa batasan, it is ourself that decide when it is the time to stop and start putting our training into real result (terbitkan). Dan disini lah yang namanya momentum berperan. Terlalu lama skill kita akan terus menerus outdated dan keduluan oleh orang lain (yg akhirnya kita hanya menghabiskan waktu mengejar orang lain dan tak pernah terbitin apapun), tp terlalu cepet juga kita bisa merusak segalanya dan kehilangan chance utk menjadi penulis terkenal dan sukses. Inget kl br di ms word, ada yang salah dan disesali masi bisa diedit. Tp kl udah sampai terbit, artinya itulah kemampuanmu yang sudah kau perlihatkan ke dunia, tak bisa diundo ataupun diedit. Lo harus membuat karya baru yang bisa mengubah penilaian sebelumnya dan hal itu akan 2x lipat lebih susah dari karyamu yang pertama. Segalanya harus PAS dalam rasa, komposisi, dan juga waktu.

Satu kesimpulan lagi dr penjelasan ruwet diatas, yaitu dari waktu bertahun2 yang kita habiskan, waktu sebenarnya kita hanya menghabiskan ga sampai setahun ‘jam kerja’ yang bener2 dimana kita fokus mengembangkan cerita kita. Om Pur yang ampe 17 tahun juga begitukan? Ga mungkin 17 tahun itu anda habiskan bener2 fokus pada yang namanya menulis kan? :) So sebenernya kita yang menulis bertahun2 ini sebenernya baru menulis dengan jam kerja yang tak sampai 10 % waktu tersebut, 90 % sisanya we go with other things in our life.

Hmm sebenernya masih banyak yang pengen dibicarakan, :P tp gw akan berhenti disini dulu hehe.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 16, 2008, 12:45:07 pm
________________________________________
Well, sejarah singkat PG,… :)
Finish pertamakali bulan november tahun 1991, untuk satu proses yang sudah kumulai dari 89-90-an. Penulisannya on-off tapi cukup intens deh, di sela kegiatan sebagai mahasiswa.
Setelah itu cukup lama ga pernah disentuh lagi, ada beberapa editing minor tapi hilang akibat kompie bergati-ganti :( masih nyimpen di disket segala kan jaman-jaman itu,… hehehe,…
Hanya ada satu hardcopy, yg gue pinjamkan ke beberapa sodara, terutama yg tinggal (ngikut) di rumah gue. Lumayan dapet banyak komentar. Jujur, pada saat itu gue pernah memikirkan untuk submit naskah ke penerbit. Tapi selain belum kenal jalurnya, hardcopy yg setebel alaihim itu (3 jilid pulak) membuat gue ragu-ragu, jangan-jangan udah ditolak editor sejak pandangan pertama!

Tahun 2005, setelah sekian tahun gak pernah menyentuh lagi (tapi masih dibaca-baca juga, kadang-kadang), plus kehidupan berjalan, married, pindah ke rumah mertua, intens di musik, dll, aku menatap kembali naskah PG di lemari file, kebetulan saat pindahan ke rumah baru, rumah sendiri, hehehe,…
Mulai terpikir untuk mengabadikan dalam bentuk softcopy, sekaligus merevisi beberapa bagian yang udah terasa jadul. Saat itu gue berkenalan dengan beberapa anak SMK yg lagi PKL di kantor gue. Dengan iming2 honor mengetik, alhasil hard copy bersalinlah kembali menjadi soft copy. YES!
Itu titik balik perbaikan-perbaikan besar yang dialami PG. Cukup banyak yg gue lakukan, yang merupakan akumulasi ide-ide perbaikan sekian tahun, plus usaha untuk melicinkan kembali logika cerita dibagian-bagian yg masih terasa aneh, serta merelevankan setting dengan situasi terkini (adanya kultur HP, SMS-ing dll), plus nanya-nanya sama anak-anak SMA itu! (target market, bo,… hihihi).
So, true, ngerjainnya gak straight 17 tahun tiap ‘ari ;D

Tapi menurut gue, saat-saat idle time itu juga merupakan sebuah proses pematangan. Karena saat itulah gue berinteraksi dengan berbagai fakta yang membuat penilaian artistik maupun logika gue terhadap novel itu terbentuk. Misalnya percakapan dengan somebody, membaca suatu karya, dll. Day-by-day, sebenernya Novel itu terforming kembali dalam kepala gue dan pada saatnya kemudian mengalami pengeditan.
Dan nyatanya, proses itu sampai sekarang masih berlangsung. Dan gue sendiri belum merasa bentuk yg sekarang sudah ‘final’.
Jadi kalo gue bilang sih waktu yang ter-spent sepanjang itu adalah memang waktu yang diperlukan bagi karya gue untuk menjadi dewasa in it’s own right. Kalau memang sudah waktunya diterbitkan nanti, itu Insya Allah memang merupakan waktu yang sudah ditetapkan oleh alam semesta bahwa memang sudah saatnya PG lahir ke dunia,… hehehehe,….
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: rd_Villam on June 16, 2008, 01:33:41 pm
________________________________________
gue dah pernah bilang soal ini sejak dulu berkali-kali. jika seandainya naskah bertahun2 itu akhirnya tetap tidak bisa terbit, no problemo buat gue.
karena jujur, dulu TFH memang tidak dirancang buat dipublikasikan, tapi karena memang gue senang menulis itu, sepenuh hati, dan memang itu untuk hanya konsumsi pribadi gue dan keluarga gue. jadi isinya memang rada berat dan dulu sangat tidak marketable.
silakan kalo gak percaya: ngapain juga menulis kalo bukan buat jadi penulis? tapi memang begitulah adanya. gue tuh baru kepikiran jadi penulis itu setahun yang lalu (2007), dan barulah naskah lama TFH akhirnya dipermak sana-sini. gue sih tetap percaya bahwa naskah ini nantinya akan berhasil, tapi gue tau bahwa hasilnya memang tidak akan cepat. gue sadar lebih baik gue menulis cerita2 lain lebih dulu, yang lebih marketable, baru gue nanti coba masuk lagi dengan TFH.

tapi, seandainya nanti tetap saja TFH tidak bakal tembus, lalu apakah gue harus menyesal karena sudah buang waktu dan tenaga? lebih jauh lagi, seandainya nanti gue gagal jadi penulis profesional, apakah gue bakal menyesal melakukan ini semua?
jawabnya tidak, gue gak bakal menyesal sedikit pun. ngapain juga nyesel-nyesel? repot-repot…
proses menulis selama bertahun-tahun gue adalah proses yang gue lewatin buat jadi manusia seperti gue sekarang. di dalamnya ada proses bermimpi, merenungi nilai-nilai kehidupan, berefleksi, dan juga bekerja keras. dan karena gue bersyukur gue udah bisa jadi manusia seperti sekarang, dan gue bangga, maka tak perlu ada yang disesali.

gue gak peduli orang lain bisa menulis 2 hari selesai, seminggu selesai, sebulan selesai, setahun selesai. so what? emang gue pikirin?
yang paling ngerti kemampuan gue adalah gue sendiri. kalo emang gue dengan segala keterbatasan gue cuma bisa bikin dua novel dalam satu tahun, ya sudah. kalo emang semuanya belum bisa diterbitkan, ya gampang saja, tinggal menulis lagi yang lain.
yang penting gue udah melakukan itu penuh hati, dengan niat yang tulus untuk membuat sesuatu yang mungkin nanti bisa bermanfaat buat orang2 di sekitar gue (bukan karya-karya yang selesai dua hari yang mudah dilupakan orang), syukur-syukur bisa dibaca banyak orang. gue menulis karena gue cinta, dan gue tahu cinta gue itu nanti pada akhirnya bisa dirasakan oleh orang lain, orang-orang terdekat gue terutama. itulah warisan yang bisa gue tinggalkan sebagai manusia.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 10:03:23 pm
________________________________________
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup. Mungkin gw yang terlalu ambisius yah? Gw sih terus terang ngincer target tinggi, baik ketika menggambar komik, atau pun menulis, gw ga pernah puas sebelum jadi yang terbaik. Karena itu rasanya kalau belum yakin jadi penulis terbaik gw ga akan terbitin… soalnya semuanya terasa ga ada artinya kalau waktu bertahun2 yang gw habiskan ternyata hanya untuk menjadi nomor dua apalagi hanya tergeletak begitu saja di toko buku tanpa ada yang membeli.
Memang rasanya mimpi yang susah dicapai, tp gw yakin seperti kt pak mario teguh (weks) orang yang berpikir besar akan menjadi besar pula. :P
________________________________________
Post by: clickdian on June 17, 2008, 08:40:33 am
________________________________________
Hmm.. rada bingung juga mau komen apa. Soalnya aq kebetulan pertama kali nulis novel langsung terbit, dan ini rada beda sama yang laen. Novel kedua terbit juga, walopun genrenya beda *terdengar tawa Rey di kejauhan*
Tapi dulu waktu nulis Zauri, jujur gak kepikiran mau nerbitin. Bener2 buat diri sendiri aja, dan malah gak kepikiran buat ngewarisin itu untuk anak cucu heheh.. Yang kepikiran waktu itu, aq bakal mati penasaran kalo cerita yg ngehantuin terus itu gak dibikin dalam bentuk tulisan. Itu aja.
Kalo gak dikomporin temen gak bakal deh kayaknya nyamperin penerbit, soalnya asli gak pede. Sampe sekarang pun, kalo ngedenger orang baca Zauri, malah sampe bela-belain beli segala, masih nggak percaya. Kok mau-maunya sih? hehehe..
Yah.. jalannya Zauri sedikit lebih lancar dari teman-temannya yang lain di sini, tapi nggak berarti dia pasti lebih bagus. It’s only a matter of time. Yang lain nanti menyusul. Semua akan indah pada waktunya *hayyah* ;D ;D
PS: kok jadi pada mellow begini yah?? :D
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: fr3d on June 17, 2008, 01:13:46 pm
________________________________________
Duh, pusing… :D :D :D
Gw pengen posting reply, tapi masih berkutat membaca reply2 laen yang panjang-panjang banget… malah omongannya serius banget lagi…
Beginilah akibatnya kalau cuti 1 hari… ketinggalan berita! ;D
Sebagai permulaan, gw mau share kalau revisi novel gw bagian 1-nya akhirnya udah slesai! Yay!
(tapi masih ada 2 bagian lagi: 500 hlm, [hammer])
Ayo semuanya smangat menulis! [thumbsup]
Oya, rey, gw baru 6 taon. Jangan ditambah ah umurnya… :-[
________________________________________
Post by: fr3d on June 17, 2008, 01:44:10 pm
________________________________________
Gw gak akan ngejawab panjang lebar deh... seperti kata mba dian, udah mellow banget tret ini jadinya...
Seolah-olah, kita semua adalah kumpulan pemimpi yang menyedihkan... hiks... :'(
Jadi, jawaban gw atas pertanyaan rey cuma 1:
Yang jelas, dunia akan MENYESAL dan RUGI BESAR kalau karya gw gak terbit!!!
[bomb] [bomb] [bomb] BWAHAHAHAHAHA! (*tawa bos penjahat*)
^
^
^
Maksudnya spesial efek gitu… ada ledakan2 di belakangnya… ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on June 17, 2008, 04:59:18 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 16, 2008, 10:03:23 pm
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup.

haha…
gak usah terlalu dipikirin deh.
setiap orang yang paling tahu soal mimpi dan ambisinya masing-masing.
sekarang sederhana aja,
selama kita masih ngobrol bareng di sini,
berarti kita masih punya mimpi dan ambisi tersebut.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 17, 2008, 09:06:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on June 17, 2008, 04:59:18 pm
selama kita masih ngobrol bareng di sini,
berarti kita masih punya mimpi dan ambisi tersebut.

Well said, bro, well said! [thumbsup] [thumbsup] [thumbsup]
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on June 17, 2008, 10:35:34 pm
________________________________________
@Om Pur, Serpent, Villam,
TQ buat long explaination-nya dudes, realy appreciate it!
Quote
Buat gue yg penting adalah pesan/missi karangan dapat dishare ke banyak orang, siapa tahu ikut membantu orang-orang melaluinya. Pahala, bo.

Tapi tentu saja ada sisi sukses komersil yang diharapkan. Sukses komersil (balik modal, ada profit) sangat diperlukan demi eksistensi karya-karya selanjutnya.

Quote
proses menulis selama bertahun-tahun gue adalah proses yang gue lewatin buat jadi manusia seperti gue sekarang. di dalamnya ada proses bermimpi, merenungi nilai-nilai kehidupan, berefleksi, dan juga bekerja keras. dan karena gue bersyukur gue udah bisa jadi manusia seperti sekarang, dan gue bangga, maka tak perlu ada yang disesali.

Quote
hmmm ternyata ada juga orang benar-benar menulis sebagai hobi dan tidak menjadikannya ambisi dalam hidup. Mungkin gw yang terlalu ambisius yah? Gw sih terus terang ngincer target tinggi, baik ketika menggambar komik, atau pun menulis, gw ga pernah puas sebelum jadi yang terbaik. Karena itu rasanya kalau belum yakin jadi penulis terbaik gw ga akan terbitin… soalnya semuanya terasa ga ada artinya kalau waktu bertahun2 yang gw habiskan ternyata hanya untuk menjadi nomor dua apalagi hanya tergeletak begitu saja di toko buku tanpa ada yang membeli.

bagi gue pribadi, sebetulnya ini bukan masalah kesuksesan komersil, bukan juga buat urusan pahala, bukan juga gara2 gw gak pernah mensyukuri idup gw, dan bukan juga ttg ambisi menjadi yg terbaik..
kenapa gw berambisi naskah gw harus terbit (ato kalo kagak gw bakal resign), itu lebih ke arah tentang misi pencapaian gw di suatu bidang. sekali lagi, pencapaian, man.
gw gak akan pernah bisa bangga pada diri gw sendiri kalo pencapaian tulis menulis gw masih stagnan kayak yg sekarang: bangun pagi bikin kopi terus nyalain kompie buat ngetik novel, ngepost di k.com hasil ketikan tadi pagi, dapet pujian, dapet kritik, dapet poin, nyengir seneng, tidur. besoknya lagi bangun pagi lagi bikin kopi, nyalain kompi, lanjutin ngetik novel, post di k.com, dapet pujian, dapet kritik, dapet poin, nyengir seneng, dan seterusnya…. sampe kiamat. tanpa adanya komitmen untuk suatu pencapaian. berartikah itu semua?
menulis buat iseng, silakan. menulis buat hobi, jamak. menulis dijadiin profesi, susah.
di indonesia, orang gak bisa idup dari menulis novel (kalopun bisa, itu minoritas banged). paling banter dijadiin buat hobi. dan karena cuma sebatas ‘hobi’, gw percaya pada akhirnya setiap ‘penulis’ cepat-lambat bakal meninggalkan hobi menulis itu, beralih ke profesi dirinya yg sebenarnya, karena gimanapun juga orang itu perlu makan, perlu duid buat kehidupannya, perlu pencapaian2 karir yg gak ada hubungannya dengan menulis novel. belom lagi kalo nantinya dia berkeluarga.

trust me, akan ada suatu titik di mana pada akhirnya elu2 semua jenuh dan bahkan melupakan sama sekali novel elu yg udah digeluti bertahun2.. dan jangankan melirik kembali novel abadi lu itu, menulis buat judul lain pun lu bakal keilangan gairah, karena lu tersiksa dengan fakta bahwa sesungguhnya selama ini lu gak pernah mencapai apa2.
tiba-tiba lu menyangkal dengan tegas: siapa bilang gw gak pernah mencapai apa-apa? om pur dan bang villam pernah bilang, ‘proses’-lah yang terpenting, yg paling berharga. yeah, sure. tapi berartikah proses itu tanpa adanya output konkrit?
be realistic lha, titik jenuh itu bakal datang, cepat-lambat.. entah itu dateng pada esok hari, ato di hari tua lu.
dan gw percaya in the future, gw bakal ngalami ini juga. maka dari itu kenapa gw berkomiten naskah gw harus terbit, karena gw menginginkan pencapaian. setidaknya, kalopun nanti gw udah gak menulis lagi, ada ‘bukti fisik’ akan pencapaian itu, yaitu cetakan hardkopi novel gw.
yg terjadi pada gw, itu bukan ‘repot-repot’ menyesali waktu dan tenaga yang terbuang, tapi gw mau menempatkan diri gw cuma berada di dua pilihan ekstrem: mencapai sesuatu, atau tidak sama sekali untuk selamanya.

note: td pagi gw dapet telpon dari jogjakarta, bilang mau balikin naskah gw, ahahahah cepet banged keputusannya (kurang dari 2 minggu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), dan gw ‘optimis’ kalo udah sampe tahap balikin naskah begitu, hasilnya tidak lain tidak bukan: ditolak. parah.. segitu bututnyakah naskah gw sampe penerbit cepet banged nolaknya (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)
eniwei, satu dari sekian banyak ‘judges’ itu sudah menjatuhkan vonis bagiku… :’(
hmmm.. masih ada judges yg lain, luckily.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 17, 2008, 10:42:27 pm
________________________________________
hmm… sekalian mengubah topik dikit. Menurut kalian apa yang membedakan antara cerita fantasy kelas berat seperti Lotr dan sejenis dengan sebuah anime berimajinasi tinggi pada umumnya? Soalnya selama ini gw baca fanficnya anak k.com mayoritas lebih kebayang nya just another anime’ish story.
So? apa yang harus dilakukan agar sebuah fantasy story yang kita buat bisa terlepas dari kesan anime?
- apakah semua cerita nya harus darkish dan serius?
- apakah tidak boleh ada jurus2?
- apakah karakternya harus bersikap dewasa dan tidak ada konyol2an?
- apakah semuanya harus pakai logika?
- atau sebuah fanfic berbeda dari anime krn ‘kesempurnaannya’ ?
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 17, 2008, 11:19:31 pm
________________________________________
Quote
di indonesia, orang gak bisa idup dari menulis novel (kalopun bisa, itu minoritas banged). paling banter dijadiin buat hobi. dan karena cuma sebatas ‘hobi’, gw percaya pada akhirnya setiap ‘penulis’ cepat-lambat bakal meninggalkan hobi menulis itu, beralih ke profesi dirinya yg sebenarnya, karena gimanapun juga orang itu perlu makan, perlu duid buat kehidupannya, perlu pencapaian2 karir yg gak ada hubungannya dengan menulis novel. belom lagi kalo nantinya dia berkeluarga.
trust me, akan ada suatu titik di mana pada akhirnya elu2 semua jenuh dan bahkan melupakan sama sekali novel elu yg udah digeluti bertahun2.. dan jangankan melirik kembali novel abadi lu itu, menulis buat judul lain pun lu bakal keilangan gairah, karena lu tersiksa dengan fakta bahwa sesungguhnya selama ini lu gak pernah mencapai apa2.

Bro,.. bro,…
Situasi yang elo sebutin di atas itu apply sepenuhnya ke gue. Dan gue gak sedikitpun ngerasain kejenuhan seperti yg elo perkirakan.
Gairah bikin novelpun gak pernah pudar. Selain PG, ada beberapa project lain. Memang belum diintens kan, tapi bukan karena gak bergairah. Simply ga ada waktu dan belum bisa riset aja :) Dan hobby dgn profesi itu tidak harus sama,.. koq.
Gue rasa sih, pendapat elo gak tepat dalam hal ini. Tapi,… it’s your opinion. It’s your choice.
Perhaps kalo helicopter view elo udah lebih tinggi lagi, elo akan bisa memahami point of view gue :)
Happy voyage!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 09:15:43 am
________________________________________
Rey, kalau belum pernah ngalamin, emang susah deh, pikirannya pasti macem2…
Jadi, kita dengerin aja kata om pur yang udah pernah ngalaminnya sendiri (meski blom pernah ngirim ke penerbit, paling gak udah melalang buana sampe belasan tahun).
Gw sendiri lebih setuju sama om pur.
Lupa karena terdorong ke pojokan yang gelap mungkin iya, tapi yang namanya “gairah” gak akan pernah hilang.
Dan gw pun setuju, proses juga bisa dihitung hasil/pencapaian, apalagi seperti pengalaman pribadi gw, selama proses penulisan novel justru mengubah cara pandang gw ke banyak hal. Gak cuma tokoh2 di novel gw aja yang karakterisasi-nya berkembang, tapi penulisnya pun juga. ;D Dan itu adalah suatu pencapaian besar buat gw.
Kalau memang terbit, tentunya diitung sebagai pencapaian yang lebih tinggi lagi, sekaligus satu hal: pembuktian.
:)
________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 11:05:24 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 17, 2008, 10:42:27 pm
hmm… sekalian mengubah topik dikit. Menurut kalian apa yang membedakan antara cerita fantasy kelas berat seperti Lotr dan sejenis dengan sebuah anime berimajinasi tinggi pada umumnya? Soalnya selama ini gw baca fanficnya anak k.com mayoritas lebih kebayang nya just another anime’ish story.
So? apa yang harus dilakukan agar sebuah fantasy story yang kita buat bisa terlepas dari kesan anime?
- apakah semua cerita nya harus darkish dan serius?
- apakah tidak boleh ada jurus2?
- apakah karakternya harus bersikap dewasa dan tidak ada konyol2an?
- apakah semuanya harus pakai logika?
- atau sebuah fanfic berbeda dari anime krn ‘kesempurnaannya’ ?

Gw jawab pertama kali neh… ;D ;D ;D
Jeff, kalau menurut gw, sebenernya kedua hal itu emang dua style fantasi yang beda: gaya west dan gaya east.
Jadi gak ada pakem yang menyatakan salah satunya benar atau salah satunya salah.
Ya semua tergantung sama kesukaan si penulisnya aja atau selera pembacanya.
Apakah gak ada cerita fantasy gaya anime/manga yang pernah terbit sebagai buku/novel (selain hanya sebagai background game)? Jawabannya: ada.
Paling gak gw tau satu judul: Arcanum de Selum (kalo gak salah nulisnya gitu). Novel fantasi bahasa mandarin ini termasuk novel fantasi laris di negerinya (ngalahin sejumlah novel terjemahan).

Trus komentar lain dari gw:
1. Gak ada korelasi positif antara cerita serius/dark atau karakter dewasa/tidak konyol dan novel fantasi bagus. Yang penting semuanya tergantung penempatan aja, cocok atau gak dengan niat si penulis terhadap cerita atau tokohnya dengan yang akhirnya tersampaikan ke pembaca. Tidak ada masalah anime atau bukan anime. Semua sama aja kewajibannya. Bahkan anime pun banyak yang serius dan dark, dan tetep bagus, contohnya: Noir, Grave of Fireflies, dll.
2. Novel fan fic pada umumnya juga banyak yang ada jurus2-nya, cuma gayanya lain aja, misalnya ngucapin mantra sihir, etc. Semata-mata karena kalau ngucapin “Mutiara Beraksi!!!” atau “Meteor Pegasus!!!” gak cocok aja sama budaya yang mereka ciptakan di novel mereka.
3. Logika?
Maksudnya gini, meskipun kita ciptain kapal interstellar yang canggih banget di dalam novel kita (misalnya kapal yang bisa pindah antardimensi), kita harus punya alasan kenapa kapal itu bisa begitu (pindah dimensi), dan alasan itu sendiri harus logis di dunia fantasi yang kita ciptakan.
Contohnya: Tolkien menulis frodo dan sam sepanjang jalan ke mount doom cuma makan roti elf doang. Kenapa dua hobbit itu gak mati karena kekurangan gizi?! Padahal kalau di buku mereka jalannya sampe berbulan-bulan! So? Apakah itu masuk akal/logis seperti kata loe? Jawabannya: iya.
Kenapa? Karena Tolkien menceritakan apa itu roti elf. Betapa roti itu gak cuma enak banget ([biggrin]), tapi bener2 bergizi tinggi. [thumbsup]
Hal yang sama terjadi pula dengan mithril. Apaan pula zat itu sampe bisa2nya lebih kuat daripada baja?! Orang2 pasti bilang itu gak masuk akal! Tapi, itu masuk akal karena Tolkien menciptakan alasannya.
Itulah maksudnya logis atau enggak.
Suatu karya fantasi yang bagus adalah suatu karya yang menceritakan dunia yang believeable dalam cakupan fantasi yang diceritakan itu sendiri.
Ingat, bukan berarti logis untuk di dunia nyata! (Yang notabene gak mungkin, berhubung genre-nya aja udah fantasi!)
4. Tentang kesempurnaan, karena gw gak pernah kotak-kotakin jenis2 fantasi, maka gw menilai kesempurnaan dari nilai suatu karya (apa pun) secara keseluruhan. Secara keseluruhan ini berarti gabungan plot, penokohon, alur, tema, setting, gaya bahasa, orisinalitas, eksekusi penulis, ya semuanya lah…
Kalau semuanya itu pas, berimbang, tepat guna, serta sampai ke pembaca, maka karya itu bisa dikategorikan sempurna.
Even anime-like story can be perfect. :)
Gitu dulu ah…
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 18, 2008, 11:29:34 am
________________________________________
@Fred
Hmm.. thx… pikiran gw jadi lebih terbuka. Gw selama ini cuma terpaku gmn caranya supaya tidak terbaca seperti sebuah anime/game tanpa liat garis besar masalah sebenarnya. Terutama soal logika. Artinya kita harus menciptakan sebuah pakem logika yang baru, dan buat pembaca berpikir ‘logis’ menurut logika yang kita buat.

Quote
tapi yang namanya “gairah” gak akan pernah hilang.

Kl berdasarkan pengalaman pribadi gw sih, gw ga setuju. Dulu gw hobi dan cinta mati ama yang namanya gambar, apalagi komik. Dulu gw pernah bertekad seumur hidup gw paling tidak harus bisa terbitin satu buku komik yang gw kerjakan (gefallene masse terdahulu). Dan dulu waktu gw utk menggambar sangat sedikit krn sekolah dan lain2. Sekarang akhirnya gw lulus dan bisa ‘beruntung’ mendapat project komik Amrik yang gw sukai. tapi apa nyatanya sekarang? Gw sampai muak mengambar, gairah gw hilang, dan gw menganggap gambar sebagai hal yang menggangu hidup gw skrg ini, mengganggu waktu gw untuk menulis novel.
Mungkin ada yang bilang, itu karena cerita komik itu bukan cerita gw, bukan idealisme gw, dan gw bekerja demi orang lain. Tadinya gw juga berpikir begitu pada awalnya. Tapi gw pikir lagi ternyata kasusnya bukan begitu. Hal ini terjadi semata2 karena gw hanya ‘menginginkan’ yang aku ingin kerjakan, dan ketika gw mendapat yang gw inginkan, ternyata manisnya hilang…
Sperti juga ketika dulu masih sekolah rasanya mau main game sepuasnyaa…. setelah liburan datang dan akhirnya gw main seharian, ternyata cuma butuh 3-4 hari untuk membuat gw bosan dgn itu. Jujur gw takut kl nanti gw dah lepas kerjaan komik gw utk fulltime menulis, hasrat menulis gw pun akan menghilang seperti itu…. :’(
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: fr3d on June 18, 2008, 11:46:16 am
________________________________________
Ya… gak bisa dibandingin juga kali antara “gairah” nulis sama maen game.
Kalau mah udah tamatin suatu game, gw juga selalu gak bergairah lagi maen game. ;D
Tapi, seperti yang gw bilang tadi, sebenernya “gairah” itu cuma tertimbun aja sama gairah yang lain.
Kita jadi bosen ya, tapi itu cuma sementara, semata-mata karena kepuasannya berkurang aja dan kita menemukan sumber kepuasan lain. Masih ingetkan hukum ekonomi yang diajarin di sma dulu: kalau kita laper berat, trus makan sesuatu, lama-lama pasti kenyang, tapi lama-lama nilai kepuasannya makanan itu juga berkurang (kurang lebih gitu lah maksudnya, [biggrin]) Tapi karena kita akhirnya muak sama makanan itu, bukan berarti kita gak akan pernah laper lagi kan?
;)
Gw percaya, kalau momennya tepat, loe pasti bakal bikin komik lagi. Kita tunggu aja. Mungkin setelah GM terbit? Hehehe…
________________________________________
Post by: BloodSin on June 18, 2008, 01:48:22 pm
________________________________________
sebetulnya dulu gw pernah mengklasifikasi stereotipe2 yg mungkin muncul dari suatu karya fantasi, gaya RPN(Role Playing Novel–stereotipe yg dipengaruhi berat oleh RPG/manga/anime) ini lha salah satu stereotipe yg paling sering di indo ini. sebetulnya streotipe ini gak jelek kok. malah, RPN-nya clickdian–Zauri, dapet penghargaan juara dua kategori remaja di ajang IKAPI award..
tapi emang, alangkah baiknya kalo kita gak terseret tendesi penulis fantasi lokal kebanyakan, ya genre RPN itu lha.. ini bukan berarti semua RPN gak bakal terhitung spesial di mata gw (halah udah kek orang penting aja gw ;D), setidaknya seumur2 gw baca novel fantasi, ada satu judul RPN dahsyat di mata gw, bikinan ex-member sini juga, tapi judulnya masi di-r.a.h.a.s.i.a-kan bagiku hueheheh.. :P

bagi gue, yg ngebuat suatu karya fantasi itu terhitung RPN ato bukan, itu penilaiannya gak satupun dateng dari pertanyaan2 rinci lu di atas, melainkan harus yg berciri2 berikut:
1. alur ngebut, ciri ini yg paling mungkin muncul dalam suatu RPN.
2. gaya cerita yg kerasa game RPG banged: masuknya karakter satu per satu buat jadi anggota party, bekerja sama ngelawan monster, pake magic, summon guardian, ada spesial moves segala ;D, dan… seterusnya.
3. setting & peraturan dalam dunia rekaan yg ala RPG, alih2 menuruti rules dalam dunia konkrit. misal orang bunuh monster bakal dapet duid ato item berharga, tokoh2 yg udah terbiasa banged ama monster dan keanehan2 yg gak lazim di dunia nyata, dan bangunan setting yg seutuhnya imajinasi pengarang tanpa dukungan riset/fakta dari dunia nyata.
4. minimnya refleksi/konflik batin dalam cerita, dan penceritaan terfokus pada pendeskripsian rentetan peristiwa antar peristiwa–mungkin ini yg ngebikin jadi berkesan ngebut. tak jarang bbrp aspek lainnya jadi kedodoran pula karena faktor ngebut itu, seperti karakterisasi, pembangunan setting, dll..
5. naming! umumnya naming buat tokoh2nya beraroma barat, tapi ajaib punya bunyinya. somehow nama2 itu berasa familiar dalam ingatan (tentu ini cuma berlaku buat pembaca ex-RPGer), tapi anehnya sebetulnya lu baru pertama kali denger nama itu.
beberapa RPN mungkin gak menuruti satu-dua pakem di atas, kayak ledgard yg cenderung bertempo lambat alih2 ngebut, atau Zauri yg teknik karakterisasinya masi terjaga.. tapi umumnya yg gw dapet setelah baca Ledgard, Zauri, Nightfall, Cardan, Holy Knight (RPN majalah ultima) dan satu judul RPN r.a.h.a.s.i.a itu, yak pakem2 di atas itu lha yg muncul.
note:
eh eniwei, gw mau tanya ke elo, gimana kesan lo baca prolog lemuria gw? kerasa gak RPN-nya? soalnya harus gw akui, gw pun awal2 nulis lemuria itu kepengaruh banged ama gaya game rpg… :P

Leave a Reply