[tab:Hal 1]Sesi XVI (19 Jun 2008 – 21 Jun 2008)

  • Tentang draft Lemures karya BloodSin

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 08:40:37 am
________________________________________
lemurianya sama kan ky yg di k.com?
yah komen gw masi sama, opening yang menggunakan kata ‘sang perawan’ trus ada ‘bibir kapak bertemu lidah pedang’ yang bikin gw ngakak bayangin aneh2 XD
Soal kesan RPN, engga terasa sama sekali, gw cuma minta lo ganti istilah bak supernova yang mengganggu itu. Btw jangan2 ceritanya ada semacam makhluk kegelapan terlepas dari segel trus hanya lima pendekar roh dalam legenda yang bisa segel dia kembali ? (kesan awal pas baca kebayangnya hal klise semacam ini yang akan membuat ceritanya berubah total ke arah RPN yang tipikal, correct me if I’m wrong)
Trus bahasanya puitis penuh metafora… btw musafir itu apa yah? Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 10:20:20 am
________________________________________
Rey, comment-nya gw kirim aja ke e-mail ya, soalnya agak2 jahat… [biggrin]
Tapi, jujur, bukan karena dendam, lho! ;D
Btw, jadi sebenernya “Lemures” itu maksudnya apaan? Koq prolog-nya beda banget sama cuplikan yang waktu itu? Beneran, kayak 2 cerita yang beda sama sekali…
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
________________________________________
@jeff,
yap, prolognya masih sama, overall. :P
‘Lima Pendekar Roh’-nya udah gw ganti jadi ‘Lima Pendekar Arwah’ semalem. Kedenger lebih keren, somehow. *tiba2 jadi kepikiran Lima Pendekar Garuda-nya om Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)*
dan sialnya gw belom nemuin metafora lain yg pas buat bunyi benturan dahsyat selain ledakan nova itu.. :’( ada yg bisa membantu? tapi kenapa sih lu bisa berpikiran ledakan supernova gak nyambung ama setting cerita? bagi gw nyambung2 aja ah.. :D
mahkluk kegelapan? ahahahah, lu tauk lha secara gw ini ‘berpakem realistis’, hal2 picis macam setan kegelapan, magic, konsep ‘titisan’, penyihir, monster yang bisa ngomong, gak bakalan ada di kamus gw. (kecuali di Tangerine (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
alih2 menyajikan imajinasi fantasi liar yg ‘wah’, gw lebih mengandalkan dukungan riset, kekuatan plot, gaya bahasa, dan karakterisasi buat ngebikin pembaca takjub. yah.. setidaknya itulah yg kuusahakan sejauh ini, entah berhasil ato tidak pada kenyataannya.
eniwei serius jeff, lu gak tauk ‘musafir’ itu apaan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif) Subhanallah, Gusti Allah-ku…

Quote
Trus pada bilang ini cerita legenda Atlantis? Jadi ini cerita original atau mau remake legenda lama yg udah ada? Soalnya gw ga tau sama sekali tentang legenda atlantis.

gw pake setting benua Lemuria (yg belakangan gw samarkan dengan ‘Lemures’–biar gak terlalu ‘picis’ :D ), dan ini sama sekali bukan remake legenda yg udah ada. gw cuma ngadop setting Lemuria itu, karena gw mau bikin cerita fantasi yg setting-nya daratan tropis. eniwei, ketik aja ‘Lemuria’ di google, dan liat brp banyak halaman yg muncul. :)

@fred,
ahahah beda yak? maksud lu gaya bahasanya kali yg beda? gw sih nyesuain gaya bahasa-nya tergantung lg kayak gimana adegannya.. kalo adegan biasa yg gak bakal gw bikin terlalu berbunga2 kayak di prolog..
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 02:15:30 pm
________________________________________
ah maaf kang Musafir Loki. Aku tidak mendalami ajaranmu… jadinya tidak tahu… kl gw tebak2 sih artinya sejenis crusader? hehe…
Btw, bak supernova, apakah dunia dalam Lumures mu itu org2nya familiar dgn kata itu? Peradaban dunia ini sudah sampai ke level mana? Jadi bahasa narasi juga harus disesuaikan dgn dunianya, atau paling tidak bayangkan salah satu karakter dalam dunia seperti itu berkata supernova. apakah terasa aneh? kl engga ya udah lanjutkan aja. Tp tiap gw baca pasti kesandung di supernova itu mulu huahua.
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:29:19 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:04:54 pm
komen begitu mah biasa aja bagi gw, gw pernah (cukup sering, malah ;D) ngalamin ‘neraka’ yang jauh lebih panas dari itu. [biggrin]

Yaelah, rupanya udah sering terima komen “neraka”…
Pertanyaan besarnya adalah: Dikau mendengarkan gak komen2 itu? [hammer]
Komen2 itu sih memang bukan keharusan untuk diturutin, tapi, rey, komen2 itu sebenernya datangnya dari calon2 pembaca (bukan penulis, lho! ;) ).
Minimal, jadikan komen2 itu sebagai bahan analisis, bahan telaah, bahan riset.
Kalau ada orang yang protes, itu ya pendapat jujur (berhubung gw orang yang suka protes ;D).
Kalau gak ada masalah, buat apa protes kan?
Lain halnya kalau muji, karena kalau muji tanpa alasan, berarti ada maunya. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
________________________________________
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]
gw bosen ama pujian (halah dah kek sering dipuji aja.. ;D) tidak menggairahkan lagi semenjak gw berubah jadi orang yg ‘realisitis’. ^-^
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:37:40 pm
kan gw lagian juga kagak minta compliment elu fred, lu baca dah di pengantar email kiriman gw itu, malah gw mohon2 makian ama kritik kejam disitu.. [hammer]

True. Dan dikau mendapatkannya, bukan? ;D
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]
Oya, gw juga kirim reply ke e-mail.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
________________________________________
iye, gw dah buka word-nya TQ dah udah memaki secara mendetail gitu. gw seneng. [biggrin]
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:08:45 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 19, 2008, 02:46:02 pm
tapi somehow ada yg berkesan lu buat2 makiannya, payah ah -_-”
yg objektif nape, biar gw juga ngerasanya kena telak :P

Yang mana? ???
Sekali lagi, setiap kali gw komen suatu karya tulis (yang udah terbit atau pun belum), itu adalah komen sebagai seorang pembaca, bukan penulis.
Itulah kerangka penilaian yang gw pake dalam memberikan komentar.
Kenapa begitu?
Pertama, karena gw belum resmi menjadi penulis kalau karya gw sendiri belum terbit. ;)
Kedua, karena seorang penulis harusnya justru merasa lebih senang menerima komen dari seorang pembaca daripada seorang penulis. Ya seperti kata dirimu: obyektifitas. Seburuk2nya cara penilaian pembaca (berhubung gak paham masalah teknis penulisan ini dan itu), mereka selalu memberikan komentar yang jujur terhadap suatu karya. Kalau suka ya suka, enggak ya enggak. [thumbsup]
Nah, sekarang gw dituduh memberikan komentar yang subyektif… :’(
Andaikata memang iya, apa tujuannya coba? Supaya lemures jadi jelek dan gak pernah terbit?
Man, apa gunanya buat gw kalau lemures gak terbit2? [cluebat]
(*merasa terkhianati… aaargh… [refuse]*)

________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on June 19, 2008, 02:41:30 pm
Rey, koq malah jadi bangga sih nerima kritikan? Bad habit! [hammer]

Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.
Tapi beda ya, sama penilaian positif, dalam arti serupa pujian tetapi berasal dari evaluasi. Baik kritikan maupun penilaian positif ini sangat berguna buat gue, untuk melihat di mana sih gue udah bener dan dimana gue masih perlu dibenerin,….

@Rey,
Makian sedang disusun. Gue mau konsen dulu,….. wussss,… wussss,…. (cari ilham kiri-kanan). [biggrin]
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 19, 2008, 03:28:00 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on June 19, 2008, 03:19:15 pm
Memangnya kenapah? Gue juga lebih seneng dapet kritikan dibanding pujian. Kritikan cenderung jujur menyuarakan apa-apa yang masih terasa gak enak, sementara pujian cenderung dicari-cari.

Ya sama seperti yang gw katakan di atas.
Lagian, om pur, “bangga” sama “seneng” mah beda kali.
Kalau “bangga” itu kesannya udah pasrah (baca: naskah milik gw emang jelek dan gak bisa diselamatin lagi, kalau suka ya bagus, kalau gak ya udah :( ). Itu kesan yang gw tangkep dari kalimat2nya rey…
Gak seru ah, si rey ternyata orangnya sensi-an. [hammer]
Makiannya cabenya jangan banyak2 deh, om pur…

@rey,
gw udah baca entry “lemuria” di wikipedia. Dan ngeliat potensi besar yang bisa diolah dari topik “lemuria” itu sebagai suatu cerita fantasi, gw justru semakin kekeh dengan komen2 gw. Cerita tentang “surga yang hilang” seharusnya pasti menarik, bukan? ???
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 19, 2008, 09:38:21 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 19, 2008, 06:23:13 pm

Soal menerima kritik gw juga setuju ama Fred. Kesannya cuma mau sekadar kritikan (baca: cari perhatian) tapi kritikannya ga ada yang didengerin. Sekalipun didengerin, ga ada yang lagsg diterapin.
Peace,
J.K Serpentwitch (ikut2an om Pur, btw initial nya mirip Rowling, JK juga hehe)

Well, chill up, dude 8)
kadang hal itu terjadi karena sang penerima kritik masih belum begitu ngeh maksud konkrit dari pengkritik. Atau, masih mencari-cari cara untuk mengunyah kritik tersebut. Atau ada alasan lain yang sifatnya pribadi.
Setiap orang punya daya sensitivitas yang gak sama, bro. Kadang boro-boro menyimak, menekan tombol scroll down aja udah penuh perjuangan, itu kalo faktor emosi masih kuat melekat. Jangan lupa, dalam seluruh karya kita, kita juga mencurahkan roh emosional kita ke dalamnya. Dan orang butuh kemampuan mengambil jarak terhadap emosi, saat mengunyah kritikan.
Karya itu bagaikan anak. Dan tidak ada orang yang bisa gampang legawa menilai rendah anaknya sendiri, pasti anak gue paling cakep/ cantik/ pandai etc.
Untuk itu, please jangan cepet-cepet menjudge sensitivitas temen-temen lainnya. Kita mesti kembali ke missi. Kita berbaik mengkritik adalah dengan tujuan supportive, jadi mesti bisa juga bantu temen agar mengerti dan menemukan jalannya sendiri untuk meningkatkan performansinya. Ya gak? :)
Ayo kembali improving ourselves!
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 08:41:29 am
________________________________________
Penjelasannya sebenernya begini:
1. Gw kalau nulis sesuatu memang suka mendramatisir (bad habit! [hammer]). Sensi-sensian itu kan becandaan aja, iya kan, rey? ;) Jadi, gw sebenernya ga segitu marah/kecewanya sama rey koq. Karena gimanapun lemuria ya karya milik rey seorang, terserah mau diapain sama dia.
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe [biggrin]. Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu! [annoyed]
3. Buat jeff, gw juga gak ngarap orang dikritik langsung berubah. Beneran!
Karena jujur, meskipun diutarakan dengan jujur, suatu kritikan juga sebenernya bisa salah dan berpotensi menyesatkan. Yang gw maksud ke rey adalah supaya dia menelaah/mengkaji lagi kritikan itu. Istilahnya, cari tahulah apakah kritikan gw itu emang bener atau kagak, dan jangan langsung dibuang ke tong sampah. Be critical, that’s the point.
Biar semuanya jelas, gw sebenernya telah mengkritik rey 2 kali: Pertama, tentang prolognya. Kedua, mengkritik karena dia kesannya (sekali lagi, cuma kesan!) bangga menerima kritik, tapi tidak kritis.
Gitu deh…
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 20, 2008, 10:28:40 am
________________________________________
OK Rey, semaleman lebih gue meditasi untuk membahas parkamen yang sudah elo tulis, sekarang Tujuh Dewa Guntur Valenör sudah berbicara, kurasa waktunya sudah tepat untuk menyampaikan makian mereka kepadamu.
Pertama-tama, para Dewa Guntur mohon maap, kompie-nya lagi rusak sehingga tidak bisa kirim email langsung padamu. Pesan mereka padaku, disuruh langsung aja komen di Pulpen, di thread FFDN III yang tersohor itu. BTW, mereka excited banget, lho, bisa ikut menampilkan komen mereka di sini,… 8)
So, apa yang akan dikatakan oleh sang raja biawak?

Gini, ya, temanku yang baik. Raja biawak akan mengevaluasi skrip elo ini dalam dua posisi, satu sebagai karya penulisan, dua sebagai proposal jualan. Untuk yang kedua ini kupikir karena dalam paket yang elo sertakan terlihat bahwa elo memang sudah mempersiapkannya sebagai materi submisi ke penerbit. Antara lain dari pencantuman kontak dan abstrak di dalam daftar isi. Sayangnya gue nggak bisa ikut membaca Sinopsis dan Ringkasan Cerita (BTW dua ini bedanya apa sih?), sekedar siapa tahu ada yg gue bisa bantu dari 2 marketing tools ini.
Tapi mohon dicatat, penilaian gue murni hanya bersandar dari materi prolog yg elo kirim, jadi resiko salahnya cukup besar. Kalo gak tepat mohon dimaapin aja.

Pertama-tama, yang kedua dulu (nah, ribet, kan lo?)
Dalam paket ini gue mendapatkan sebuah halaman judul yang sudah ditata dengan font khusus, sebuah halaman quote, sebuah halaman daftar isi, dan selanjutnya bagian prolog yang entah memang cuman segitu, atau masih ada terusannya.
Penilaian: Membingungkan. :o

Yang bikin bingung apanya? Settingannya, terutama buat body ceritanya. Kenapa elo bikin pakai font Calibri, Rey? Itu jenis font sans seriff, seharusnya kagak dipakai untuk body text yang panjang/ paragraf, hanya bagus untuk dipakai sebagai font judul dan sejenisnya. Kalo elo kirim materi ke penerbit dengan font tersebut, guaranteed, naskah elo udah gak enak dibaca sejak hurup pertama. (cat: Font calibri gak ada di kompie gue, perhaps dia digantikan oleh font lain yang tipenya sans seriff juga.)
Jangan remehkan hal ini, karena impactnya secara psikologik, maupun praktik, akan besar. Naskah elo lebih mudah mendapat penilaian negatif, karena evaluator merasa membacanya capek di mata. Dan itu yg gue alami juga, sehingga akhirnya gue putuskan untuk replace font calibri dengan times new roman dulu, baru gue lalap naskah lo. Untung gue dapet word file.Gimana editor yang cuma terima hardcopy?
Jadi gue bingung, untuk apa elo lakukan itu. Artistik? Kurasa no need for that. Honestly.

Kemudian halaman quote. Frankly, Quote elo ngga enak dibaca (ngga nge-flow), dan ga punya meaning yang jelas. Gue langsung ngebatin, “Apaaaa siiiih?”, (salah satu dewa guntur juga komen, “KAMSUD LOE???”, pake kapital dongs,.. namanya juga dewa!) :P
Kalo menurut gue sih, quote harus bisa menggrip pembaca sejak awal. Gue tahu salah satu seni quoting adalah menampilkan sesuatu yg awalnya ga make sense, tapi kelak akan bertransformasi menjadi make sense setelah pembaca menyelesaikan cerita. Tapi seyogyanya, paling tidak pemilihan kalimatnya megikuti flow yang enak. Kalimat elo gue rasa,… gimana ya? Kayak ngeganjel, gitu.
Kalo menurut gue, sih, mendingan yg di quote itu salah satu frasa prasasti atau apa-lah, yang gue yakin ada di cerita elu, yang akan menghubungkan dunia Lemures lama dengan dunianya Guillarde. Itu akan lebih memikat pembaca dan akan punya fungsi dalam bangunan plot.

Untuk daftar isi, OK banget. Langsung bisa kebayang plotnya dan seru-serunya. Tapi judul “Kelinci dan Golok” kayaknya kurang greget, dan “Rombongan Berjalan” mungkin bisa lebih mantap dibahasakan lain seperti “Ekspedisi anu” atau semacamnya (if it was meant as that).
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman? Ga tau deh. You give me all the stuff, baru gue bisa komen lagi.

Nah itu tadi aspek teknis aja yha,…. Gue harap kalo bagian itu diperbaiki, chance elo untuk mengolkan naskah menjadi lebih baik. At least, elo aman dari hal-hal yang menganggu dan editor bisa lebih fokus pada apa yang harus dia lakukan: mengevaluasi materi cerita.

Sekarang (hold your breath), MATERI CERITA

Well, materi Prolog, anyway.
Dibuka dengan adegan pertarungan (oh, straight to actions, aren’t we?) dengan pemilihan gaya kalimat yang menurut gue,…
Pre-ten-si-us
Sorry.
Menurut gue, gak salah kalo elo mau menggunakan gaya sastraik, atau tepatnya prosa liris (?) dalam paragraf pembuka. Tapi elo harus mahir dulu sebelum menggunakannya, Rey. Dan menurut gue, elo masih harus mengasah keterampilan untuk beberapa waktu dulu (let’s say, 17 tahun? Wakakakakak!!!) [hammer]
Kekurang mahiranmu pun tampak dalam pemilihan kata-kata yang digunakan, baik sebagai perangkai, penjelas maupun sebagai metafora. Ada lho, yang namanya seni pemilihan kata. Jago-jagonya seni ini mampu merasakan kekuatan atau kelemahan suatu kata dalam konteks sastra, dan menempatkannya secara cermat dan tepat. It’s not just about rhyme or sensations, but also about deeper meaning, and the ‘right’ context.
(‘right’ di sini relatif banget, hanya ‘rasa’ dan pengalaman lah yang kelak akan mengatakan mana yang benar dan mana yang salah).

Contoh gaya sastraik elo, “Dentingan pedang menjilat karang, tebasan kapak menempa hentak, dan terjangan lincah menapak tanah,” gue tahu maksudnya, tapi gue merasa pengungkapannya ‘salah’. Rasanya kau menggunakan kata-kata tidak secara tepat, Rey. Yang ‘menempa’ itu bukan kapak, melainkan palu.
Kurasa kalau kau mau menyastra, alternatifnya bisa seperti ini:
Denting pedang menjilat dan menoreh karang,
Kapak menebas keras, mengentak. Bukannya mencari celah, tapi menerobos untuk memecah. Mendobrak segala pertahanan.
Lincah langkah kaki menerjang, menapaki tanah yang licin oleh keringat dan siasat.
Well, gue bukannya mau ngacak adul atau maksain gaya, ya? Ini sekedar pembandingan untuk aspek pemilihan kata, kalo elo emang pengen bergaya sastra-ish di situ.
Terus apa pula bagian ‘Duhai’, itu? Gue tahu, itu nantinya berhubungan dengan ‘Elok namun liar’. Tapi pemilihan angle itu pun gue rasa ngga terlalu tepat konteks. Maksud lo tentu menggambarkan suatu sisi keindahan dari adegan pertempuran. Ide dasarnya boleh juga. Tapi keseluruhan orkestrasinya, bagi gue kurang menghasilkan musik yang koheren. Ibaratnya elo niat bikin Mars, tapi masukin frasa mendayu-dayu ditengah. Missi utama elo jadinya gak tercapai.

Well, sekali lagi, ini udah aspek art. Seorang master art memang akan memiliki kemampuan ‘dewa’ untuk menggabungkan berbagai elemen, yang di tangan orang awam biasa-biasa aja, namun di tangan dia jadinya indah sumindah. Tapi ya itu, harus berkualifikasi MASTER dulu,… he he he. Dan bagi gue, kalo elo belum peka atau mahir betul dalam hal art, lebih baik elo mengambil jalur yang lebih aman yaitu menggunakan gaya penceritaan biasa aja, yang menurut gue udah elo kuasai secara baik.
Apalagi ini bagian depan, bro. Bagian pintu masuk elo. Elo gak akan mau gantungin lukisan norak di ruang tamu, karena elo gak pengen orang-orang jadi menilai seluruh isi rumah elo bakal sama noraknya, khan? Well, not that your writing is norak,… pokoke you get the message, lah.
Lidah pedang dan bibir kapak, menurut gue sih oke-oke aja. Cuma kembali pilih kata sesuai konteks. Bibir kapak menyalak? Kata menyalak itu memiliki kandungan sense berupa daya menyembur / mendorong. Maka yang lebih tepat ialah ‘senapan menyalak’, bukan kapak (ketahuan, elo cuma mikirin rhyme-nya, yach? Hehehe).

Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..? :D
Akhir dari petarungan stastra-ish ini adalah berupa ledakan nova yang membangunkan sepuluh ribu penduduk Lemures. Well, nice. Penggambaran aftermathnya juga bagus. Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…
“Ohh,.. bang Seth pasti lagi ngamuk abis semalem kalah maen gaple. Udah, tidur lagi aja,…” ^-^
Ketiadaan efek sebab-akibat ini menyebabkan konteks kota/ kampung Lemures menjadi lepas dari cerita, seolah hanya menjadi figuran yang baru datang saat dipanggil sutradara.

Setelah masuk ke gaya bertutur ‘biasa’, mulai terasa aliran yang cukup enak dinikmati. Penamaan Kain dan Seth juga enak, ga ada kesan dipaksain. Penggambaran karakternya juga cukup hidup, walau menurut gue agak tipikal tokoh game. Hiperbola mengenai keperkasaan dua orang itu agak terasa sedikit menganggu, tapi ga terlalu fatal.
Yang kurasa masih belum baik adalah pilihan-pilihan kata yang elo gunakan. Beberapa kata memiliki muatan yang sebetulnya sudah ‘pakem’, tapi elo gunakan secara ngga tepat. Kata ‘keji’, itu ga mungkin digunakan sama sekali dalam konteks persahabatan. Jadi biarpun gue bertarung, istilahnya jajal ilmu, sama sahabat sendiri yang sama-sama pendekar kelas tinggi, gue nggak mungkin memandanginya secara keji. Licik, bersiasat, boleh aja demi kemenangan strategi. Tapi keji?

Penggunaan kata musafir juga perlu sedikit dipoles. Setidaknya ada dua tempat yang menurut gue ga tepat. Pertama, saat kata itu pertama kali muncul. Koq begitu tiba-tiba. Mungkin sebelumnya elo perlu introdusir gaya busananya atau apanya dulu, yg kemudian disimpulkan sebagai seorang pengelana atau musafir. Yang kedua adalah saat si Seth menanyakan, “Apa saja yang kau lakukan, wahai musafir?”
Koq kayak orang baru ketemu atau belum kenal? Mungkin lebih pas, “Apa yang kamu bawa dari pojok dunia kemari, hey musafir tua?”, akan terkesan lebih akrab.
Contoh ini: “Tahan dulu langkahmu, Pengelana. Bukankah Välendhur punya jajaran Ksatria Penunggang Lumyr? Dan bagaimana dengan Kelima Pendekar Arwah dari Tanah Pedang yang pernah bersumpah? Seharusnya orang-orang Valor tak akan berani macam-macam dengan Välendhur!”
Bagus, gue suka. [thumbsup]

Tapi dalam beberapa dialog, gue masih merasakan kurangnya keluwesan. Ada kesan terlampau kaku. Mungkin pilihan kata atau cara mengungkapkan bisa elo olah lagi supaya kesan dialog dua orang sahabat yang udah sama-sama makan asam garam bertempur bahu-membahu dapat lebih terasa.
Pasangan tempur itu tingkatannya udah lebih tinggi dari pada pasangan pemain bulutangkis ganda, satu menyandarkan nyawanya pada yang lain! Tentunya gaya bicara di antara keduanya bisa lebih intimate lagi. Obrolan mereka tentang ‘perempuan’, nah itu contoh bagus.

Masukan terakhir, mengenai penamaan senjata mereka.
Dua nama yang bagus, Leviathan dan Salamander, tapi elo salah makenya, kayaknya!
Secara umum, pengertian Leviathan adalah semacam naga air, yang punya sifat sedingin es (at least menurut gambaran serial Final Fantasy, hehehe), sementara Salamander masuk ke golongan lizard/ kadal.
Menurut gue, malah lebih konsisten bila pedang elo namain Leviathan, putih licin berkilau dan sambarannya bisa menimbulkan luka yang terasa perih mengigit tembus ke inti tubuh. See? Ular naga, lurus panjang? Pedang, lurus panjang? Kilat putih Leviathan yang gesit meliuk-liuk mencari sasaran? Bukankah demikian gaya jurus pedang? (Pedang, BTW, tapi kenapa elo sebut belati, ya? Pan ukurannya beda jauh?)
Sementara Salamander, kadal yang punya kepala berbentuk pipih melebar, cocok banget untuk sebuah kapak, disamping warna kulitnya yang kecoklatan tembaga, menyiratkan usia panjangnya dan bayangan percik darah korban entah berapa banyaknya telah meresap dalam setiap pori bilahnya. Dan bila kepala salamander menyambar, gigitannya bisa membelah daging dan meremukkan tulang.
Well, kalau masih sempat, ga ada salahnya, kan, dua nama itu dituker? [biggrin]

OK Rey, kira-kira segitu dulu maki-makian dari tujuh dewa guntur. Satu hal yang bisa aku simpulkan, elo justru beruntung ditolak oleh penerbit, karena kalo sampe materi elo yang ini diterima, maka elo akan ended up very, very, screwed in my blog! ;D Berkahnya, sekarang elo dapat memikirkan alternatif-alternatif perbaikan sebagaimana kusebutkan di atas sesuai dengan cara yang pas buat elo.
Satu hal utama yang menurut gue harus elo improve bener-bener, adalah keterampilan dalam menerapkan kata yang tepat untuk maksud yang tepat. Jika berkaca pada hal-hal yang udah elo kerjakan di prolog ini, I’m afraid ‘plague’ yang sama telah mengisi sekujur novel elo sampai dengan halaman terujung.
Untuk memperbaikinya (satu-per-satu), I think satu atau dua tahun lagi cukup, lah. He he he.
So, don’t even think to quit too early! ;)
Oh, ya. Salam ya, buat sedokur gue, Salamander,…
FA Purawan
a.k.a Raja Biawak
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
________________________________________
@fred,
Quote
2. Tapi soal kecewa dituduh subyektif sih iya, hehehe . Soalnya rey minta dikritik, trus setelah diberi, gw malah dituduh tidak obyektif… Kan gw merasa telah ditipu!

yang model gini maksud gw ‘beberapa_kritik_elu’ (gw gak pernah nyebut semua_kritik_elu) yang dibuat2, mengada-ada, subjektif:

Quote
3.Penyebutan “gravitasi bumi”. Bumi? Pembaca mau tak mau langsung mendapat kesan seluruh kejadian itu (perkelahian fantasi) sedang terjadi di bumi. Di tempat mereka tinggal ini. Apakah benar memang dunia lemures adalah bumi? Tapi koq ada tempat2 bernama aneh dan jurus-jurus dengan senjata2 ajaib itu?

terlepas dari fakta bahwa setting lemures itu emang diperkirakan pernah eksis di bumi yang kita pijakin ini, suatu tempat yang disebut ‘bumi’ itu cakupan maknanya luas. gak cuma merujuk bumi yang kita pijakin ini aja. ambil contoh dunia LOtR-nya tolkien (yang murni rekaan), bagi gue wajar2 aja kalo Gandalf ngomong, “Di bumi yang kupijaki ini, blablabla…”
lagian udah gw cek di kamus kalo ‘bumi’ itu bisa juga berarti ‘jagad’, atau ‘dunia’

Quote
7.Tentang catatan kaki. Catatan kaki itu hanya sekedar keterangan untuk editor/penerbit atau juga untuk pas penerbitan nanti? Karena jujur, untuk penerbitan nanti sebaiknya jangan menggunakan catatan kaki. Sesusah apa pun memasukkan penjelasan ke dalam cerita novel fantasi, tetap harus dilakukan oleh penulisnya. Apalagi keterangan itu keterangan penting buat cerita yang gak cocok kalau diletakkan di Appendix.

gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
________________________________________
Post by: BloodSin on June 20, 2008, 01:31:40 pm
________________________________________
om pur,
TQ dah buat makiannya yang membangun, gw juga emang agak2 gamang ama gaya sok sastranya (orang di k.com banyak yang kasi pujian menyesatkan dan berujung gw jadi gak tau betapa noraknya ternyata gaya bahasa kek begitu T_T)
biar kubaca dulu pelan2 di rumah komen ente… heheh bisa jebol kantong gw kalo baca diwarnet.. [biggrin]

@jeff & sis dian,
secara overall sama aja ama yg dulu2 (yg di k.com), kalo ada yg berubah itu palingan cuma beberapa frase/istilah

@yg kemaren2 nuduh gw gak mau denger kritik
gw gak bakal concern ama kritik yang dibuat-buat, diada-adain seolah gak wajar padahal udah wajar.
sejauh ini ada dua orang kompeten yang kritiknya terbukti udah gw terapin di lemures. Villam, untuk konflik batin dalam cerita yang kurang tergarap, dan clickdian, untuk karakterisasi yang masi absurd. dua orang itu ngasi kritik yang emang betul2 jadi kelemahan cerita gw, maka gw tanggepi dengan merevisi lemures sesuai dengan kritik mereka di versi terbaru.
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 20, 2008, 02:25:42 pm
________________________________________
soal gaya bahasa puitis gw pribadi sih menganggap itu antik. Yang jadi masalah, bahasa level tinggi itu sudah sesuai belum dengan level pasar/pembaca? Karena bukan cuma menulis aja yang butuh skill, membaca pun perlu skill.
Ketika lo tulis suatu karya dgn level 99 sementara pembacanya masi chupu2 level 50 an, mereka ga bisa menikmati ceritanya. Switching adegan yang unik, pembukaan cerita yang lain dari yang lain… etc2.. semua emang bagus. Tp jujur, kalau kemampuan membaca dan berimajinasi si pembaca engga tinggi, sangat sulit bacanya. Karena itulah novel fantasy aga dikit peminat. Contoh ya LOTR, bahasanya sama sekali engga merakyat, ga reader friendly, bener2 bacaan level 99. Bagi orang yang selevel atau mendekati levelnya, ini bacaan masterpiece sepanjang masa, tp bagi yang level rendah, bisa dianggap sampah. Kemudian ada Harry potter yang berkonsep dgn level yang cukup tinggi, namun bercerita dengan level yang sedang, atau kl istilah gw merakyat. Bahasa Harpot itu sangat ringan, karena itulah bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat, tua muda, kaya miskin.
Jadi gw sih punya pemikiran, gw harus melihat dulu sampai dimana level pembaca di Indonesia sekarang ini, dan tulis lah menurut level mereka. Gaya bercerita terlalu canggih pun ada poin minusnya.
________________________________________
Post by: fr3d on June 20, 2008, 05:55:00 pm
________________________________________
Rey, gw mempertanyakan hal tentang bumi ini karena gw sama sekali blank tentang legenda lemuria.
Jadi, setelah gw tau, dan gw udah punya bayangan loe nulis apa di 200-an halaman berikutnya itu, pertanyaan gw kan udah jadi gak valid lagi. Pinter2 lah dikau menempatkan diri sebagai si penerima kritikan.
Kan seperti gw bilang, kritikan bisa menyesatkan (apalagi kalau si pengkritik mengkritik sesuatu yang memang belum dia pahami). Makanya selama ini, gw selalu menghindari mengomentari plot atau tema berhubung setiap kali ada posting-an cerita, selalu cuma sebagian/belum selesai, dan jelas gw tak mungkin paham maksud si penulis sebelum membaca ceritanya sampe final.
Trus, Tolkien sebenernya mencoba menceritakan bumi di masa lalu versi bayangannya dia sendiri (ya middle-earth itu). Itulah sebabnya dia tetap menggunakan kata bumi, karena memang tidak salah dengan tujuannya.
Kalau lemures mencoba melakukan hal yang sama, yaitu membuat sejarah bumi alternatif, ya sah2 aja. ;)
Lalu, terlepas dari seluruh masalah di atas yang udah gw coba jelaskan, gw pengen nambahin kalau frase “gravitasi bumi” itu sebenernya bisa dipotong menjadi “gravitasi”.
Beneran deh, maknanya bakalan sama, karena penekanannya adalah di “gravitasi”, bukan di “bumi”.

Quote
gw akui footnotenya emang agak overdosis, tapi sejak kapan sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali? LasPeng lu udah baca kan? footnote/apendiks (dilabelin sebagai glosarium) dia malah jauh lebih parah lagi.

Hei, rey, gw gak pernah bilang kalau sebuah novel gak boleh pake footnote sama sekali. Gw bilang kalau novel fantasi sebaiknya gak pake footnote. Kenapa? Karena di dalam cerita fantasi, penulis membangun sebuah dunia/kondisi dunia yang baru (entah di bumi atau bukan).
Indahnya fantasi adalah kalau kalimat2 yang dipakai si penulis bisa membawa para pembaca ke dunia baru itu.
Inilah tantangannya, bagaimana meng-grip pembaca sekaligus tetap mempertahankan faktor believability dari cerita kita.
Nah, dengan membuat footnote:
1. Kita membuat jarak dengan pembaca; footnote seolah-olah adalah “dunia lain” yang sulit dipahami oleh pembaca. Bacalah lagi laspeng dan loe akan paham maksud gw tentang jarak ini.
2. Keberadaan footnote (bahkan appendix) sangatlah mengganggu bila kita menggunakannya untuk sesuatu yang sebenernya penting dan harus dipahami pembaca supaya mereka nantinya bisa paham novel kita secara keseluruhan.
Mengganggu bagaimana? Karena pembaca harus lepas dari irama membaca mereka, terus melirik ke bawah, apalagi yang parah, harus bolak-balik di halaman terakhir.
Itulah sebabnya, footnote atau appendix biasanya jarang disentuh pembaca.
Nah, di sinilah saatnya penulis menggunakan footnote dan appendix dengan efektif, yaitu dengan hanya memasukkan ke kedua bagian itu hal2 yang kurang penting aja atau hal2 yang kalau gak dibaca pembaca pun, gak akan mempengaruhi pemahaman mereka tentang ceritanya.
Contoh lagi, liat laspeng. Kalau pun kita gak paham nama2 latin hewan/tanaman yang disebut si penulis, kita gak akan kekurangan greget-nya cerita itu, bukan?
Tolkien pun menggunakan teknik ini untuk appendix-nya. Semua pembaca yang membaca LOTR dan tidak membaca appendix-nya tidak kehilangan satu arti penting pun dari maksud cerita yang ingin disampaikan Tolkien. Appendix Tolkien justru akhirnya jadi harta yang sangat berharga buat para fans dan orang2 yang ingin mengkaji dunia rekaan Tolkien, misalnya untuk bikin film, etc.

3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca. [hammer]
Mungkin ada tambahan/argumen tentang masalah footnote ini dari yang lain?

Terakhir, jangan ngebandingin laspeng dengan novel fantasi lah, secara laspeng itu sebagian besar berdasarkan kisah nyata dan dulunya merupakan jurnal/diari yang dibuat andrea hirata. Trus OOT, laspeng boleh jadi memang laris, tapi menurut gw dia gak sesempurna itu koq, apalagi sampai ada yang meng-endorse penulisnya sebagai penggantinya Pramoedya Ananta Toer. OMG! :o Masih jauh banget kualitasnya!
Terus kalau mau tau penggunaan footnote yang sangat membuat kesal gw, bacalah Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (kalau belum baca). Mungkin ada yang memuji karya itu bagus karena banyak footnote-nya, tapi jujur, dengan menempatkan footnote yang bejibun itu, Dee (si penulis) telah memaksa pembaca menjadi bodoh dan meninggikan dirinya sendiri (penulis) menjadi jenius. Untungnya, Dee akhirnya gak lagi mengulangi hal yang sama di buku kedua dan ketiganya (Akar dan Petir). [thumbsup]
Quote from: BloodSin on June 20, 2008, 01:22:52 pm
Untuk kritik2 lain lu yang emang tepat guna, as I said before, gw bener2 nge-welcome dan berterima kasih.
Well, thx juga karena telah mengizinkan gw mengkritik lemures. Sebuah keberanian tersendiri [thumbsup], mengingat lemures sudah sering ditolak penerbit dan dikau mungkin juga udah jenuh sama penolakan dan kritikan itu sendiri.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 12:42:20 am
________________________________________
Quote
Trus kalo liat daftar isi dan alokasi halaman, kayaknya pendek Novel mu, ya Rey? Cuma 245 halaman? Apa ga kurang, Rey? Maksud gue apa cerita bisa berkembang cukup bergizi dengan segitu halaman?

naskah 250 halaman itu emang udah dipertimbangkan demi sisi komersil dan kemudahan terbit (naskah tebel jauh lebih susah terbit), karena sebegitu inginnya daku menerbitkan naskahku. tentang pertanyaan apakah bergizi ato tidak, ane tetep berpakem novel tebel pun belum tentu bergizi.
(tapi tentu, karena ketipisan ini, ceritanya belom tamat di endingnya, heheheh.. karena emang tujuannya naskah itu buat jadi buku satu lemures kok :P )

Quote
Kemudian bicara jurus-jurus. Kembali, harus believable kan ya? Bagaimana dengan jurus kapak berputar dengan dampak yang dihasilkannya? Gerakan kapak berputar koq hasilnya menebas? Ya gak bisa lah booook,…. kapak kalo diputer gitu ya bisanya ngebooor, Inul, kallee,..?

yang ini kayaknya ada salah tangkep, maksud ane untuk frase ‘kapak putar’ itu bukan diputer ala ngebor, tapi diputer ala baling-baling..makanya bisa menebas :D
(ah btw fred, yg lu tangkep sama juga ama om pur? ngebor gitu? >__<)

Quote
Cuma buat gue ketika sepuluh ribu penduduk itu bangun, lalu apa dampaknya? Apakah mereka jadi panik dan kota/ kampung jadi kacau? Apakah suara semacam itu sudah dianggap ‘biasa’ mengingat toh Seth Cavaross adalah penduduk Lemures yang udah pasti ‘pendekar’ selebritis donks,…

itu bukan sepuluh ribu penduduk, tapi sepuluh pasang mata dari jangkrik, belalang, musang, dan lemur…secara mereka gak lagi berantem di tengah kampung/kota, tapi di ‘belantara perawan surga’ itu >_<
dan tentu gada dampak apa2 dan tidak perlu diperpanjang lagi apa yang terjadi setelah mahkluk2 itu terbangun ^-^
tapi wajar juga sih kalo ente nangkepnya suara ‘ledakan nova’ itu sedemikian gandengnya ampe2 merambat ribuan mil dan sampe ke pemukiman penduduk :P
ah jatuh satu orang lagi korban yang termakan bahasa hiperbolisku :-[

komen ente panjang banged om, gurih pun rasanya, nikmat (komen lo kalah nikmat, fred :P ), Thanks alot dah..realy appreciate that. :)
note: dan ada 'reward' bagi sang pemenang, tentu [biggrin]
________________________________________
Post by: BloodSin on June 21, 2008, 02:54:27 pm
________________________________________
@fred,
hari ini gw baca ulang komen ‘jahat’mu yang di word itu, dan akhirnya gw mau minta maap karena gw sempet berkesan gak tauk terima kasih dengan nuduh lu komen subjektif, this is my bad habit, terlalu terburu2 dalam menjudge segala sesuatunya T___T
sekarang pas gw liat2 lagi, ternyata dikau pun sama perhatiannya dengan om pur (yang baru belakangan berkomentar), rela ngetik panjang2 dua halaman word untuk cuplikan yang ‘sependek’ itu, menyorot setiap poin yang ada, berkomentar dengan jujur dan cermat, sampe pada kesediaan lu memberi masukan-masukan buat prolognya.
jujur ajah, waktu pertama kali gw buka file word lu itu, timingnya bener2 kagak tepat, (mungkin elunya yg lagi sial kecepetan ngirim komennya :D ), mata gw lagi kalap waktu itu, gara-gara terlibat ngadu bacot ama junior nyolot ;D, sampe2 gw kagak bisa ngeliat itikad baik elu di komen itu.
oke deh semoga dengan ini, elu bisa memaklumi gw, bahkan seorang TS yang arif bijaksana dan rupawan ini pun bisa aja berbuat salah, kalo lagi kalap(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

Quote
3. Tantangan sebagai seorang penulis fantasi.
Apa? Ya menceritakan dunia fantasinya di dalam novel, bukan di dalam footnote.
Rey, kita, para penulis fantasi, beneran kagak bakalan mau deh kalau karya kita dianggap seperti buku teks (yang banyak footnote-nya). Kita bercerita, bukan memaparkan teori dan definisi ke pembaca.

yang tentang footnote itu (khususnya poin yg gw quote), gw masi kagak sepakat sama elu :P , itu harus diliat juga dari jenis fantasinya. Kalo fantasi semacam narnia yang pure fantasy, bakalan konyol banged pake footnote kurasa, masalahnya fantasi yg kubikin ini bukan bener2 pure fantasi, dia jenis fantasi yang condong banged ke fiksi ilmiah (dari segi tema, gaya penulisan, dialog), kayak hozzo-nya si hege (yg malah kebanjiran footnote–footnote hozzo ada seratusan kurasa, ‘untungnya’, footnote lemures gw ga nembus ampe 30).
di lemures itu banyak paparan tentang hipotesis-hipotesis dan teorema-teorema ekologis (bacotnya si Guillarde :D ), mau gak mau gw harus mengandalkan footnote yang ironisnya justru demi kelancaran irama cerita.

misal, ada dialog Guillarde kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
*)Cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang
kalo gak pake footnote, masa mau gw bikin kayak begini:
“Cairan ini adalah konsentrat termurni dari proses distilasi bertekanan ekstrem selama dua puluh satu malam, dan merupakan proporsi ideal dari darah tikus, liur tupai, jeroan ubur-ubur, air kemih katak, feromon* kuda jantan, dan berbagai saripati rempah-rempah—untuk menetralkan bau amisnya.”
Feromon adalah cairan pemikat lawan jenis yang dikeluarkan secara alamiah dari tubuh binatang. (ujug2 masuk paragraf baru cuma semata2 demi penjelasan satu baris ini, gak banged dah >_<)

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled