Diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi – Sesi 17
Posted by: Villam in Dokumentasi, tags: cerita fantasi, fiksi ilmiah, karakterisasi, plot cerita, story ending
[tab:Hal 1]Sesi XVII (25 Jun 2008 – 26 Jun 2008)
- Plot dan karakterisasi di novel fantasi barat
- Bagaimana seharusnya fiksi ilmiah
- Seperti apa ending yang bagus dan bikin greget
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 08:59:22 am
________________________________________
Nih topik gw pindahin ke tempat yang seharusnya deh:
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
terus terang, sekarang ini gw lagi penasaran banged ama judul2 fantasi barat kayak: septimus heap (ini seri Flyte yak?–clikdian pernah ngerepiu kalo gak salah), artemis fowl, stardust, bartimeus trilogy, balthasar oddisey, golden compass. seru2 gak, fred? minimal, apakah punya greget dan kekuatan plot yg sama kayak Da vinci Code? kalo liat kovernya yg memikat daku cukup ngiler.. tapi rada2 kapok gara2 pengalaman baca novel2 barat sebelumnya itu.
Kalau nebak2 dari selera loe, rey, loe gak akan suka sama golden compass dan stardust. Judul sisanya, gw blom baca (udah berbulan-bulan gak baca buku fantasi… :-[).
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang... OH! TERNYATA GITU!!! ;D
Da vinci code juga menang di riset. Tapi kalau soal plot, menurut gw da vinci code pun masih mudah ditebak. Angels and demons plotnya lebih rapi.
Nah, kalau bicara tentang aspek kejutan di akhir itu, contohnya di novel fantasi yang paling gampang ya harpot. Setiap buku punya kejutan sendiri (kecuali buku 5 dan 7 yang gagal). Khususnya plot di buku 3, 4, dan 6 bener2 rapi dan greget.
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo yg gw dapet dari baca novel2 itu, menurut gw pengarang2 barat itu ciamik banged dalam menciptakan setting, naming, ama detil2 buat dunia rekaannya, tapi agak payah di karakterisasi ama kekuatan plot.
Kalau novel fantasi luar untuk dewasa yang karakterisasi-nya top dan plotnya juga bagus adalah serial Sword of Truth-nya Terry Goodkind (#1 New York Times Best Seller). Entah kenapa gak diterjemahin ke bahasa indonesia, padahal udah diterjemahin ke banyak bahasa lain. Mungkin karena terlalu dewasa (ada sejumlah adegan berbau pornografinya) atau memang karena terlalu tebel, jadi gak ada penerbit lokal yang berani nerbitin? Meski nanti bakalan ada film seri-nya di Hollywood pun (diambil dari buku 1), gw tetep gak yakin bakal diterjemahin juga ke bahasa indo.
Kalau mau liat, nih official site-nya: www.terrygoodkind.com (http://www.terrygoodkind.com)
Kalau fantasi lokal yang karakterisasi dan plot-nya bagus ya udah pasti novel gw dong! ;D
(*narsis mode: on!*)
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:22:23 am
kalo bagi gw pribadi sih, prolog lemures udah keren pun [biggrin]
mungkin masalah selera kali yak? si hege juga antipati banged ama lemures(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
tapi kalo lu mau coba menilai tulisan gw dari sudut pandang lain, mungkin bisa coba jajal “Tangerine’ gw (biasanya orang yg gak demen lemures malah suka ama tangerine gw–padahal sama2 sok nyastra dan bermetafora ria
):
http://kemudian.com/user/loki
(cari aja link ceritanya di page itu)
Gw gak bisa buka k.com! [hammer]
Gak bisa pula install browser opera atau firefox karena harus ada password admin-nya…
________________________________________
Post by: fr3d on June 25, 2008, 11:05:47 am
________________________________________
Aneh, tadi gw berhasil buka 2 halaman tangerine-nya rey di k.com (prolog dan quest 1) sebelum akhirnya bug-nya situs itu mulai bekerja dan mengacaukan seluruh tampilan browser iexplorer gw… ???
Dari hasil baca 2 halaman itu, kalau dibandingin sama prolog lemures, jelas lebih bagus tangerine lah! ^-^
Soalnya di tangerine, bahasa kiasannya pas a.k.a. kena pada tempatnya. Tapi, sama kayak lemures, dari sedikit halaman itu, blom ada bayangan juga ceritanya tentang apaan.
Btw, rey, gw mau nambahin saran tentang lemures.
Menurut gw bagusan judulnya balik jadi lemuria aja, jadi bisa langsung dikaitin sama legenda lemuria (menurut gw, ini malah bagus, langsung straight to the point).
Terus, kalau loe belum melakukan ini, pas kirim ke penerbit, kirim juga hasil riset loe tentang legenda lemuria di dunia kita (2 atau 3 halaman cukup). Jangan lupa kasih narasumber, pendapat si A atau B, dsbnya. Dengan begini, mungkin penerbit bisa tertarik sama kisah di balik kisah karya ciptaan loe sehingga mereka berani berinvestasi pada seorang bernama Rey L. Tentunya lemures/lemuria masih tetep harus lewat proses editing dulu yang mateng oleh seorang editor.
![]()
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Gini aja deh,…. apa yang akan elo katakan mengenai ‘ilmuwan’ yang mengatakan dapat mengubah besi menjadi emas, tapi ngga bisa menjelaskan prosesnya? Lalu saat dikonfrontir, ilmuwan itu ngotot mengatakan bahwa ini adalah sebuah temuan ilmiah!
Orang yg ngerti apa yg disebut ilmiah, kan langsung menghela napas. Gimana ya ngasih tahunya?
oow, ilmu yg mempelajari bagaimana cara mengubah besi (lebih tepatnya timah) jadi emas itu istilahnya alkimia, daripada ‘ilmuwan’ tuh orang lebih tepat disebut ‘alkemis’, kali yak?
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience ![]()
idealnya, yang disebut ‘fiksi ilmiah’ itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar ‘imajinasi liar’ kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???
@fred,
Quote
Loe suka da vinci code dan prison break mungkin salah satunya dari faktor tema konspirasi kali ya?
Di situ emang bagian serunya da vinci code, dan kenyataan bahwa robert langdon mencoba menguak rahasia penting yang akan mengubah dunia (sambil pake acara dikejar-kejar segala) adalah faktor gregetnya; sesuatu yang… OH! TERNYATA GITU!!!
yep. pada prinsipnya gw suka plot yang cerdas, dan sarat greget.. dan gw juga suka ide2 kreatif yg orisinil. konspirasi? mungkin juga sih. tapi bukan itu poin utamanya. buktinya, gw pun bisa terpikat sama jalinan plot spiderman (yg movie yak).
ah ya, ironi. itu dia. gw suka cerita2 yg mengandung ironi: kayak ironi bagaimana kawan menjadi musuh dan musuh menjadi kawan di prison break pas tiap pergantian season, kayak ironi gimana peter parker harus menyembunyikan jati dirinya dari sahabatnya sendiri–harry osborne–karena si harry salah paham ngira spiderman bunuh bokapnya, kayak ironi gimana Teabing ngirimin hadiah patung antik ke Jacques Sauniere yang ternyata digunakan buat mengintai (eniwei gw lebih suka plot DVC daripada angels and demons
).
ya itu lha, betapapun suatu plot ditulis dengan rapi dan sarat intrik, kalo cuma dipaparkan begitu saja ke pembaca tanpa adanya ‘pesan terselubung’ supaya kita bisa menebak2 jalan ceritanya ke depan bakal kayak gimana, bagi gw plot itu standar aja.
dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon
). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.
ah susah jelasinnya, konflik final lemures gw beginipun buat buku pertamanya :-[, biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya ![]()
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 25, 2008, 01:51:17 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on June 25, 2008, 12:57:54 pm
@om pur,
wah rekayasa genetika, daku dulu pernah jajal coba bikin thriller temanya gini juga, tapi gagal di tengah jalan karena kurang modal riset, kurang modal wawasan dan referensi pulak. (tapi bakalan seru tuh kalo jadi, idenya sih ttg orang2 yg punya skill telekinetik, skill pyrokinesis, anak2 indigo)
Kalo ngomongin rekayasa genetika, memang ga boleh assal, sebabnya biarpun riset mengenai pengaruh gen terhadap manusia belum terkupas habis (masih banyak misteri), tapi tetep aja ada batasan-batasan yang harus diperhatikan dalam membuat spekulasi mengenai fiksi-fiksi genetikaiyah
. Contohnya, berkat rekayasa genetik, seseorang bisa terbang kayak gatotkaca, atau bisa nembus tembok, atau telekinesis (kayak-kayak pelem heroes).
Well, apakah mungkin sistem genetik mempengaruhi sesuatu yg ngga ada kaitannya sama fisiologi tubuh? Sebab cara kerja gen adalah memberi informasi (blueprint) kepada sistem sel, untuk kemudian sistem sel membelah diri (berkembang) memenuhi fungsi tertentu (membentuk jantung, membentuk otot, dll). Artinya kemampuan ekstra apapun yang dimiliki manusia tersebut harus bisa dijelaskan pertama-tama dari kemampuan level cellularnya dulu.
Misalnya mo pake plot rekayasa genetik yang menyebabkan seseorang menjadi ekstra genius, itu mungkin, sebab genius adalah fungsi dari sel-sel otak. Tapi kalo rekayasa genetik supaya bisa terbang kayak gatot kaca atau Nathan Petrelli (Heroes), ya harus jelas dulu aspek apa dalam sel manusia yang bisa bikin manusia (mampu) terbang? Kalo menurut gue, paling banter orang tumbuh sayap dulu, baru bisa terbang berkat rekayasa genetika.
Quote
bikin novel sci fi jauh lebih menguras tenaga daripada bikin novel fantasi, in my experience
he he he,.. it's a matter of akses. Kalo lo punya akses ke data-data ilmiah yang tepat, maka sesungguhnya bikin sci-fi itu relatif lebih ringan dibanding fantasy. Soalnya lo punya basis logika yang jauh lebih terbackup oleh dunia ilmiah yg ada, yang di setiap sudut udah saling mengcover. Beda dengan dunia fantasy dimana elo hrs bisa cover all the bases sendiri.
Quote
idealnya, yang disebut 'fiksi ilmiah' itu yg kek gimana sih bos? apakah yg cuma bertaburan istilah2 ilmiah di seisi novel, atau yg mengandung hipotesis2 rumit/kreatif ttg bidang ilmiah yg digarapnya? atau yg cuma sekedar 'imajinasi liar' kayak tentang orang kawin silang ama kuda mentek jadi centaur, gitu? ???
fiksi ilmiah itu kan awalnya muncul dari literacy di kalangan akademisi, yg memasukkan unsur-unsur science dalam plot novel. Perbedaannya dengan sebuah karya ilmiah, adalah dalam fiksi ilmiah tidak diperlukan suatu sistematika untuk terjadinya pembuktian hipotesis. Dengan demikian fiksi ilmiah biasanya menerapkan sebuah teori atau spekulasi yang sudah diakui secara akademik dalam sebuah plot cerita. Sementara kalo skripsi/ thesis kan penuh pertanggung-jawaban ilmiah untuk mengatakan bahwa hipotesa nol tidak terbukti (hehehe, inget skripsi jaman dulu, bo!)
Kalo mo bicara fiksi ilmiah yg murni, gue rasa adalah karya-karya yang hanya 'kena' di pikiran para profesor2 itu
Lha sekarang kan ada fiksi ilmiah populer, untuk orang kebanyakan
Di sini sebetulnya pengarang menceritakan sebuah cerita biasa, namun dibumbui oleh teori-teori ilmiah.
Tapi yang jelas, walaupun niatnya bikin fiksi ilmiah populer, tetep aja pengarang jangan sampai terlalu ngawur membuat spekulasi. Seperti kawin silang manusia sama kuda jadi centaur [hammer]. Kalau menurut gue, setidaknya pengarang harus bisa membuat penjelasan yang masuk akal secara ilmiah untuk fenomena-fenomena yang ditulisnya itu.
(BTW, gue udah kelar baca Lemures, dan kalau angle ilmiah yang dikeluarin oleh tokoh Guillarde itu bener-bener sesuai text book, gue rasa novel elo juga cukup pantas di sebut fiksi ilmiah, terutama untuk sisi ilmu biologi-nya
Quote
biar om Pur yang menilai segimana level ancurnya
ancur??? sebenernya sih, sebuah cerita yg mengasyikkan. tapi memang perlu diulik-ulik lagi. masukannya menyusul, deh.
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on June 25, 2008, 02:07:16 pm
________________________________________
@om pur,
bused cepet banged, udah kek penerbit jogya yg nolak naskah gw dalam 10 hari, keren :-X
yg paling bikin ane miris buat style plot lemures itu terlalu stereotip fellowship of the ring–mungkin ini yg paling bikin lemures dipandang tak layak terbit.. (walaupun di cerita sama sekali gak pake sihir, gak pake orc, gak pake elf, gak pake dwarf), kira2 ada ide gak om gimana caranya biar gak terlalu LOtR?
terus terang waktu pertama kali nulis (3thn lalu) ane lg tergila2 ama epik LOtR, maka berujung kerangka lemures lotr banged gitu.. duh jadi frustasi.
oke ditunggu bayaran dari ente bos, gak terima ‘duid recehan’ pokoknya ane! [biggrin]
@fred,
gw udah pernah nyoba pake formula yg lu sebutin itu, tapi kayaknya jadi berkesan agak bertele2 padahal maunya penerbit kan cuma tauk isi cerita dan jalinan plot dalam buku itu kek gimana..
terus ada juga formula yg nyuruh nyebutin keunggulan kompetitif isi novel kita itu apa aja, kalo gini kan gw bingung: apa yg gw anggap unggul belum tentu unggul bagi org laen.. gaya bahasa yg ribed itu contohnya. di k.com menuai compliment, disini menuai makian :-\
mana tauk gw selera orang ![]()
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
________________________________________
@Bloodsin
Quote
dan gw juga mengharapkan suatu penyelesaian konflik yang memuaskan (atau setidaknya kreatif/tak disangka2). Kalo konflik finalnya ttg suatu perang akbar atau ‘final fight’, kumohon jangan bikin klimaks pertempuran ala RPG di mana antagonis/si biang konflik bakal ditaklukkan dengan kekuatan bulannya si protagonis(udah kek sailormoon ). kalopun terpaksa pake formula gitu, sajikanlah dengan gaya yang ‘gak biasa’. maksud gw, ciptakanlah suatu kondisi/result yang sama sekali gak bakalan diperkirakan oleh pembaca. daripada bikin ending vulgar di mana si antagonis tewas mengenaskah dengan kondisi berdarah2 setelah kalah bertarung, gw lebih prefer kondisi2 laennya yg mengandung ironi kayak si antagonis jadi ‘kecele’, atau ‘malu’, atau something yg lebih worthed untuk kejahatannya daripada ‘cuma’ kena vonis mati.
Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?
Apa yang difinish secara tuntas setuntas2nya ampe ceritain masa depan tokohnya udah hidup dengan dmai dan happy ending?
Apa ky film horor yang pada akhirnya hantu/masalahnya ga pernah mati, dan tetap merajalela?
Atau lo demen tuh ama ending2 yang memancing teriakan kesel penonton? Contoh versi acceptablenya ky Hunterxhunter greed Island final dimana pada akhirnya Gon-nya ga jelas ketemu bapaknya atau org lain. (yg belakangan gw baca komiknya ternyata bukan bapaknya). Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*
So? exactly what kind of ending did you wish for?
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:28:29 am
________________________________________
@om pur,
Quote
Yg bilang kayak Fellowship LOTR siapa, tuh?
Menurut gue sih, malah lebih ke arah adventure ala Indiana Jones. What do you think?
frame ceritanya yg terlalu LOtR: perjalanan serombongan orang untuk membuang/mendapatkan benda tertentu dalam rangka menyelamatkan dunia…. (see? sekarang baru nyadar kan LOtR banged(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
kalo spirit sih emang indiana jones, heheheh ![]()
‘fisik’ dari ceritanyalah yg ane pusingin, sama kayak si Jeff yg lagi berjuang ngapus style RPN dalam novelnya.
dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ‘spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak. ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?
Quote
OK, mumpung elo mention, gue pengen informasi dari elo, lemures ini kira-kira mau diposisikan sebagai cerita dewasa atau remaja? Menurut gue dalam ramuan plotnya yang sekarang lemures lebih cocok novel remaja. Tapi kalo elo berambisi untuk membuat kompleksitas konfliknya lebih ‘dalem’, maka segmennya jadi agak naik menjadi dewasa/ muda.
Yg elo tuju yang utama yg mana? Nanti terkait sama masukan gue, sih. more or less.
segmen pembacanya sih niatnya remaja ke atas (>14 tahun), mencakup dewasa muda (25-30an), kira2 anak smp bakal ‘dapet’ gak yah baca Lemures (apalagi selewat bab 1-2 :-X)? maksudnya, bukan ‘dapet’ isi ceritanya, tapi pesan2 dalam ceritanya. apakah gak terlalu berat buat mereka part tentang ‘petunjuk semesta’ itu?
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? ![]()
sebaliknya kalo buat dewasa muda, apakah 2 karakter protagonis utamanya (Larke–16thn & Fly–19thn) terlalu ‘kemudaan’? padahal tema2 dalam dialog mereka udah ane pikirin sedemikian rupa supaya gak terlalu berkesan remajaish, tapi emang cenderung lebih enteng daripada dialog Levantine, Kain, & Guillarde.
atau semestinya, background cerita kudu dibikin lebih suram & darkish kayak Pans Labiryn yak? Pans Labirin itu kayaknya nempel di dewasa muda cuma gara2 unsur kesadisannya doank, padahal kalo mau diliat dari segi cerita mah, kagak rumit2 amat. tokoh utamanya pun perempuan cilik.
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.
kalo ente pernah nonton naruto, pasti paham deh kalimat ane di atas (btw ane prihatin banged hari minggu kemaren ngeliat bocah balita pake kaos Naruto T_____T–padahal kompleksitas plot naruto bahkan 3x lipet rumitnya dari lemures
)
yah… ane tunggu tanggepan ente dah, sekalian jawab 2 pertanyaan kontradiktif ini (huahahah ;D) buat masukan nanti:
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?
bikin review-nya nyantei aja bos, dipersilakan buat bersemedi dulu kayak waktu bahas prolog kemaren, biar mantap punya hasilnya [thumbsup]
note:
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:11:00 am
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Sampai ke yang bikin orang maki2 karena sudah ngalemin segitu banyak petualangan, ngumpulin puluhan artifak, sampai akhirnya karakter kuncinya dengan entengnya bilang ” ini semua tak pernah terjadi, hanya mimpi” *anjriitt ngeselin banget*
Grrrrr,… kalo sampe berani-beraninya elo bikin yg kayak gini, gue tuemmbbaak! [ranting]
;D ;D ;D
Quote
So? exactly what kind of ending did you wish for?
Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.
Salam,
FA PUrawan
________________________________________
Post by: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 11:30:04 am
________________________________________
hehe… banyak tuh penulis anime yang bisa om tembak ![]()
Code geass aja rasanya pengen gw tembak waktu dia mengakhiri season 1 nya ditengah2 action 2 org sahabat sekaligus rival saling tembak. Anjriittt.. ga sopan banget motong ceritanya >.<
Quote
Ending yang membuat gue merasa waktu yg sudah gue luangkan untuk membaca is worth it.
Dan itu biasanya gue dapatkan dari bangunan universe yang kukuh solid, plot yang tertata masuk akal serta mampu membawa emosi gue dalam sebuah joy ride, dan ‘manfaat intrinsink’ yg mungkin terinspirasikan oleh cerita tersebut.
kl gw pribadi sih lebih seneng ending yang bener2 settle down, biar ga ada perasaan ngeganjel. Tapi happy ending sampe ke anak cucu udah ga jaman. Ending ngegantung juga ngeselin. Gw sendiri mungkin bakal bikin ending2 ala gundam seed. (feeling yang mirip). settle pada point dimana mereka sadar perang yang mereka lakukan bertahun2 ga ada artinya. Ending samurai 7 juga aga miris nontonnya dan gw cukup suka ending seperti itu. Dimana si katsushiro yg awalnya anak baik2 maksa pengen ikut perang dan pada akhirnya jadi samurai hebat cuman udah ga ada tampang bahagiannya lagi. dia ngucapin “can you smell the scent of war from me now?” dgn tatapan kosong gt, keren gw suka walau ga special2 amat.
________________________________________
Post by: cheppy70 on June 26, 2008, 11:58:30 am
________________________________________
Quote
dan itu, aroma ‘fiksi ilmiah’ dan gaya ‘spiritual’ dalam Lemures, ane bikin bukan buat sok pamer ilmu biologi dan berfilosopi ria, tapi semata2 cuma buat meng-kover frame fellowship LOtR-nya, mengalihkan pikiran pembaca biar gak memvonis lemures terjebak sterotip penulis indo kebanyakan (yg entah bergaya harpot, narnia, atau LOtR), entah siasat ini berhasil apa kagak.
Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.
Untuk nuansa ‘spiritual’, hehehe, jujur aja gue sendiri baru-baru ini memasukkan hal yang sama ke dalam PG! Pas gue baca insightnya si Larke tentang bunga2 Hypnolia dama Cemara Tua itu, gue jadi ngakak! Ternyata vibrasi kita sama, tuh Rey
Gak heran kalau alam semesta mempertemukan kita (busyet, spiritual banget dah!).
Quote
ah eniwei, ane mau nanya, apa ada cerita laen yg punya format LOtR gini selain LOtR sendiri dan game2 RPG?
kalo Eragon, journey-nya dilatarbelakangi dendam.
kalo Narnia, journey-nya gara2 kejebak dalam dunia paralel.
kalo Ledgard, journey-nya buat menghimpun kekuatan pasukan perang.
nah… kalo Skinheald-nya Ataka, kaya gimana tuh?
Skinheald ya tentang perburuan pedang Skinheald di bukit apa gitu. Sama aja dengan setting elo, sebenernya.
Sebenernya sih, seni journey novel itu kan terletak pada komposisi party yang berangkat di awal, dan bagaimana komposisi itu berinteraksi selama perjalanan. Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.
Kalo di LOTR, setiap karakter nyaris berubah total. Kalo gak salah inget, Frodo menjadi lebih memahami tujuan hidup dan perilaku Bilbo (sehingga relasinya dengan Bilbo menjadi lebih baik), Sam memahami arti pengabdian seutuhnya, Merry berubah menjadi lebih wise dan mendalami kepemimpinan, kalo ga salah kan kelak dia menjadi pemimpin Shire, dan Pippin menjadi salah satu ksatria Gondor (kayaknya ada peran lebih, tapi gue lupa).
Tapi perubahan klasik yang paling sering diberlakukan terhadap karakter-karakter utama, adalah ‘mengalahkan own demon’, alias mengatasi kelemahan diri sendiri. Contohnya si Aragorn yang berhasil mengalahkan keraguan dirinya dan tampil sebagai Raja Gondor sejati.
Jadi plotting dalam journey novel ini seyogyanya berpedoman pada proses pembentukan karakter para tokoh tersebut. Makanya kalau lihat sebuah novel journey yang cuma ada berangkatnya kemudian ada sampai di tujuan lalu selesai, akan terasa ga ada gregetnya.
Quote
karena tema utama dalam lemures bukan lagi sihir dan pertarungan antara good vs evil, dan remaja biasanya lebih terpikat ke cerita2 yg lebih imajinatif semacam harpot, yg jelas2 menekankan tema good vs evil. tema kayak biologi dan ekologi itu misalnya, nyambungkah ke pemahaman pembaca remaja yang bahkan baru diajarin begituan di sekolah? ![]()
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh
Quote
menurut ane kompleksitas cerita pun masih bukan tolak ukur buat menentukan segmen pembaca. selama ini ane malah lebih berpegang ke tema cerita dan gaya dialog.
Maksud gue dengan kompleksitas adalah jalin menjalin plot yang berseliweran untuk membangun cerita. Semakin kompleks, semakin dalem motifnya, tentunya menjadi menu pembaca yang lebih dewasa. Kalo di lemures, plottingnya belum terlampau kompleks juga, walau gue merasakan bahwa elo akan membawanya menjadi lebih kompleks dalam sekuel-sekuelnya.
Quote
1. mana bagian dalam lemures yg ngebikin dia lebih cocok buat remaja? (selain kompleksitas ceritanya yg cenderung ‘enteng’ itu)
Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ‘singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,
Quote
2. mana bagian dalam lemures yg udah pas kalo emang niatnya ditujukan buat dewasa muda?
Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale
Quote
thank u for reading anyway [biggrin], tak menyangka lemures bisa dilumat secepet itu, padahal sudah teruji tak layak baca (4x) di mata penerbit :-X
menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.
More on this, later deh.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 02:35:41 pm
________________________________________
Quote from: Alpha_Serpentwitch on June 26, 2008, 09:01:00 am
Ending yang bagus dan bikin greget itu seperti apa yah?
ending yg bagus itu relatif bagi tiap pembaca. kebanyakan pembaca lebih suka ama good ending: tokoh utamanya jadi raja atau kawin sama puteri jelita atau hidup bahagia selamanya. wajar sih, gw juga lumayan suka, asal eksekusinya gak klise.
tapi berhubung lu nanya ke gw, maka akan gw jawab berdasarkan selera pribadi gw
bagi gw, ending yg bagus itu adalah ending yang bisa ngebikin pembaca merasakan suatu sensasi bunyi “Klop” di benaknya waktu ngebaca kalimat terakhir cerita. Ibaratnya, bunyi dari sebuah kunci yang dipake buat ngebuka peti harta karun. Cerita itu tepat diakhiri ketika peti hartanya hendak dibuka. Jadi nantinya, bukan pengarang yg cape2 mendeskripsikan kayak gimana wujud harta karun itu, tapi imajinasi sang pembaca sendiri.
Atau kalo kagak, ending yg bisa membawa pembawa pada suatu level pemahaman tertinggi atas jalinan plot di sekujur tubuh buku. (Jenis ending ini biasanya ngebikin pembaca berkomentar semacam: “Oh, ternyata selama ini begitu toh! Pantesan aja selama ini dia demen ngupil, blablabla…”) Nah, Da Vinci Code boleh jadi contoh.
Atau kalo kagak, ending yg bisa memancing spekulasi, kayak Life of Pi.
Atau kalo kagak, ending yg bisa ngebikin pembaca nyengir lebar, kayak Laskar Pelangi.
Atau mungkin, ending yg bisa ngebikin hati pembacanya getir kayak Sang Penandai?
Sekali lagi, ini relatif. ^-^
________________________________________
Post by: BloodSin on June 26, 2008, 10:49:05 pm
________________________________________
@om pur,
Quote
Maksud elo dari fisik cerita itu apa bisa diperjelas? Maksudnya gaya berceritanya, penggunaan bahasanya kah, etc?
fisik ceritanya ya stereotip tema journey-nya itu. ah tapi semenjak ente bilang frame kayak begini emang udah bentuk umum, ane jadi cukup lega, walaupun ane juga cuman bisa pasrah kalo ada penerbit yg pake alesan ‘frame klise’ kayak begitu buat nolak lemures..
Quote
Sebenernya penyisipan biologi adalah satu langkah yang baik untuk memberikan warna dan keunikan dalam cerita elo. Tapi buat gue tetap ada ganjalan ketika istilah yg elo gunakan adalah istilah-istilah nama latin standar, sementara gue belum bisa menemukan kaitan universe elo dengan universe standar bumi.
;D ;D ;D
berani taroan, apalagi kalo si fred yg baca beginian, pasti dia udah ngamuk protes jaman ancient lemures gitu mana udah ada istilah2 latinnya, secara penemu istilahnya aja belum lahir..
(era lemuria itu sekitar 20 juta tahun yg lalu di bumi)
terus ada juga bagian Guillarde nyebut ‘sekolah’, jaman batu gitu mana ada sekolahan ;D
begini, untuk kasus ‘logical mess’ yg satu ini, gw lebih menekankan pengetahuan bawah sadar pembaca buat hal-hal umum/spesifik yg udah lama terpatri di otaknya, misalnya ya istilah2 latin itu (setidaknya mereka pernah denger istilah2 latin itu waktu smp/sma, dan bisa segera tahu kalau di situ gw lebih merujuk ke pembahasan ilmiahnya, daripada ke dunia imajinasi lemures gw). masak gw harus satu-satu mengkonvert istilah latin itu ke istilah ciptaan gw sendiri sih? kan gak mungkin, lagian gw pikir pembaca juga seharusnya udah bisa ‘memaklumi’ sewajar-wajarnya dengan sendirinya.
kalo gak salah Tolkien bahkan ada nyebut kata ‘Natal’(dari Christmas) di buku pertama LOtR, padahal kalo mau dipikir2 istilah itu gak mungkin banged bisa ada di dunia LOtR.. tapi ya itu lha, kata ‘Natal’ udah terlanjur terpatri kuat di masyarakat Barat sebagai suatu tradisi keluarga yang mendarah daging, jadi Tolkien berani ngambil istilah itu buat dimasukkin ke LOtR. di bukunya, gw kira Tolkien lebih memposisikan ‘Natal’ sebagai suatu ‘istilah’ tradisi, bukan merujuk ke kelahiran Isa Almasih.
dan contoh lain, bisa liat film AAC, di mana ada dialog Maria dan ibunya (dalam keadaan privasi) pake bahasa indo, padahal mereka diceritakan sebagai orang Mesir.
disinilah yg namanya ‘pemakluman’ dari pembaca/penonton diminta oleh sang author, demi kemudahan memahami cerita seutuhnya.
Well, prinsip yang sama gw coba terapkan untuk pembahasan fenomena-fenomena ilmiah di Lemures; gw menempatkan istilah latin itu ya cuma sebagai ‘istilah’ aja, tanpa perlu memusingkan bagaimana latar belakang istilah itu di dunia kita.
nah, prinsip pemanfaatan bawah sadar pembaca (di mana akan memicu terbentuknya suatu pemakluman) ini juga gw terapkan buat culture dan naming French, West, dan Hebrew di Lemures.
Quote
Drama antar karakter yang terjadi apa, dan perkembangan karakternya bagaimana sebagai akibat dari interaksi dan petualangan itu. Nah aspek pengembangan karakter ini, nih, kayaknya masih banyak yg belum mengolah. Kulihat kebanyakan tokoh, antara awal dan akhir cerita karakternya masih sama aja, paling cuma ada sedikit pengembangan. Di lemures kecenderungannya juga masih begitu.
justru hal di atas itu kulakukan demi menjaga konsistensi sifat tokoh2nya, setidaknya hingga akhir buku satu. well, ane ngerti sih apa poin ente, makanya ane juga ada sengaja nulis beberapa paragraf ttg perenungan batin ‘si bocah’ mengenai petunjuk semesta itu, walau singkat. di bagian itu, ane emang bikin seolah2 dia baru ‘ngebuka’ matanya, dan kujanjikan sedikit-banyak perkembangan dirinya bakal mulai terlihat di sekuelnya.
Quote
Jadi tema utamanya apa? Gue jg belum nangkep loh
Tema utamanya yak apa yang menjadi quote utama buku:
There’s a hope in a journey, there I would place my struggle.(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
Quote
Well, motivasi grup berangkat hanya untuk sebilah busur, faktor-faktor alami yang menghalangi perjalanan, ‘singkatnya’ perjalanan, problem solving, komposisi tokoh yang ‘a-seksual’,
Konflik politik, setting peperangan, plotting penculikan dll serta misteri dibelakangnya, siapa aja yang bermain, tokoh Esther sebagai femme-fatale
walah, kayaknya faktor2 penentu sasaran baca di atas cenderung berimbang, so i’ll simply let the public decide by theirselve (kalo terbit dan beredar di masyarakat nantinya–sekali lagi, kalo terbit
)..
Quote
menurut gue sih (perkiraan), ketidak layakan terbit nya lemures bukan karena gak layak baca, melainkan opening yang kurang menjual, serta gaya bahasa yang juga kurang menjual, serta kurang tegasnya tema yang mau dipropose oleh pengarang.
gaya bahasa udah rapi jali, dan singkat jelas padat begitu masih kurang menjual(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
ah pusing……
tema utama ceritanya emang rada2 absurd
, kuakui itu, gak kayak LOtR yg simple2 aja: perjalanan buat memusnahkan cincin.
bah! tapi bukannya novel fantasi indo kebanyakan yg udah terbit pun punya tema cerita yg cenderung absurd?
(tapi eniwei mungkin inilah konsekuensi untuk novel yg terlalu banyak pake tema–epik petualangan, sci-fi, spiritual, dan sedikit romance(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif))
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)