[tab:Hal 1]Sesi XVIII (30 Jun 2008 – 3 Jul 2008)

  • Tentang Dream of Utopia
  • Review draft Lemures karya BloodSin oleh FA Purawan
  • Image dunia vampire

[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on June 30, 2008, 08:47:56 am
________________________________________
Oya, hari sabtu kemaren sempet ke gramed dan ada novel fantasi lokal baru, judulnya “Dream of Utopia”.
Ternyata karangan penduduk pulpen juga, si blue_amaranthine (kalau gak salah nama penanya sammy something… :) ).
Penerbitnya lupa, tapi harganya 50ribu-an (inget banget, soalnya mau beli tapi gak jadi –> kali aja nemu yang diskon di istora, ;D).
Terus udah ada tret-nya juga di info bubar.
Om pur, silakan dilahap tuh, berhubung penulisnya maen ke sini juga, jadi bisa lempar2an cabe (meminjam istilah jeff), hehehe…
________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:55:59 am
________________________________________
okeh, berhubung skrg nih FFDN lg seret bahasan, gak da salahnya gw posting beginian :P
(review ‘singkat’ LEMURES gw dari om pur [thumbsup])

Quote
Pertama banget, adalah overall impresi gue terhadap naskah lemures. Bagian ini boleh aja elo posting di FFDN III kalau elo berkenan, tapi kurasa catatan-catatan khusus terhadap part-part yg gue tandain gak usah di share ke thread, takutnya terlalu spesifik sehingga ga menarik minat belajar rekan-rekan lain.

Secara keseluruhan Lemures adalah cerita yang cukup menarik untuk dibaca, dengan kisah petualangan perburuan artefak berbumbu humor dan ketegangan. Plotting lemures sudah kuanggap tepat dan cukup, walau aku masih menyimpan catatan mengenai strategi positioning elo terkait niat elo untuk me’laku’kan naskah ini di penerbit. Itu akan menjadi bahasan tersediri. Sebelumnya gue masih ingin ngomongin general aspect dulu.

Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri. Namingnya juga udah ga ada masalah.. Ada catatan mengenai personalisasi karakter, gue bahas nanti.

Alur cerita sebagaimana urut-urutan yang sudah kamu sajikan dalam bab-bab itu juga sudah runtut dan cukup logis. Gue ga ada masalah dengan penempatan urutan alurnya.
Sistem logika cerita menurut gue juga sudah cukup untuk segmen remaja. Tapi kalo elo mengincar segmen lebih dewasa lagi, elo harus bisa mengembangkan logika yang lebih dalem. Journey untuk sepotong busur masuk akal untuk remaja, tapi kurang nendang buat dewasa. Logika ‘putri kembar’ cucok buat remaja, tapi mengada-ada buat dewasa. Kalau ada putri kembar, raja manapun akan langsung menganggapnya sebagai ‘threat’ alih-alih opportunity. Apalagi ini putri mahkota!

Settings yang elo ciptakan buat lemures juga cukup realistik dan masuk akal. Paling-paling seperti pernah gue tanyain, bagaimana relasi budaya french di lemures dengan yang sesungguhnya, termasuk budaya ilmiah latin di sini? Kalo menurut elo memang harus hadir tanpa perlu dipaksa diperjelas konteksnya, ya sudah. Ada sedikit kekekurangan logis di area Sierra Kuno, nanti gue coba bahas di tempatnya. Tapi menurut gue ada baiknya elo menggambar peta besar lemures untuk memudahkan bayangan editor, soalnya gue juga merasa belum dapat gambarannya secara utuh.

Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’. Setelah gue genapkan membaca sampai akhir, memang gue rasakan masalah itu berkurang (karena gue mungkin jadi terbiasa), tapi gue mendapatkan view yang lebih jelas mengenai kritik yang harus gue sampaikan pada gaya penulisan elo.

Dulu gue sempat komentar: Pretensius.

Saat elo sok nyastra di prolog, gue ngerasa itu pretensius. Ke belakang-belakangnya lagi, gue ngerasa elo tetap ada sok nyastranya dan tetap pretensius, tapi gue mulai terbiasa (walau tetep dengan wajah berjengit-jengit). Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.

Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.

Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

Dan part-part ‘sok smart’, antara lain yang membuat novel elo somehow agak ‘menyebalkan’ buat dibaca, terutama oleh pembaca yang gak punya missi nyelesaikan novel, gak kayak gue. Tapi elo bisa bayangin bila para evaluator novel elo di penerbitan adalah termasuk golongan itu.

(sebenernya cukup beresiko buat gue untuk mengungkap evaluasi seperti ini, sebab probabilitasnya cukup besar bahwa elo gak terima penilaian gue. Secara mungkin aja elo gak berniat untuk over the top sama sekali, atau gak merasakan apa-apa yg gue nilai itu ada dalam hasil karya elo. Tapi gue harus jujur, anyway, demi kemajuan elo. Ciaaah)

Gue sebenernya juga ada kritik mengenai flow pengklimaksan seri buku pertama ini, yang gue rasakan masih kurang nendang. Gue merasakan bahwa perjalanan para rombongan serta hasil yang sudah didapatkan, ternyata tidak bermakna cukup penting bagi pembaca, sehingga keseluruhan buku elo jadi terasa agak ‘waste’. Tapi untuk ngebahas ini, gue harus mundur dulu ke langkah-langkah yang justru sangat-sangat awal dalam penulisan karangan. Sekarang akan kita bicarakan langkah-langkah itu, yang kelak juga akan mempertemukan elo dengan masalah-masalah pemasaran yang udah elo alami belakangan ini.

TEMA LEMURES

Apa sih, Rey, tema INTI Lemures sesungguhnya? Gue sempet nanya di thread, ya? Dan jawaban elo adalah ini:
(where ever) there’s a hope in a journey, there I would place my struggle.
Kenapa gue ngotot nanyain tema. Because gue rasa itu juga yang dicari-cari oleh para evaluator buku lo, dan yang tidak mereka temukan. Dan gue rasa, kalo memang bener elo gunakan kalimat itu sebagai tema, gue juga gak bisa nemuin “What the Hell” yg lo maksud itu, dan “Where the Hell” is tema-nya.

Di ‘hope’nya, di ‘journey’nya, atau di ‘struggle’nya?

Kenapa gue angkat masalah ini, sebab kalau ditilik dari apa yang semata sudah tersaji di naskah, dari depan sampai belakang, elo belum menghadirkan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai penjawab atau definitor atas tema yang elo tetapkan di embrio cerita. Tidak ada (atau mungkin kurang terolah) suatu konklusi atas tindakan atau peristiwa, yang menegaskan kepada pembaca mengenai tema yang dipilih oleh pengarang.
Misalnya kalau temanya ‘Hope’, peristiwa konlusif di akhir buku mestinya juga menonjolkan the power of hope, bagaimana sepotong asa bernama harapan mampu menegasikan hambatan segawat dewa kematian. Kalau temanya struggle, mustinya proses struggling itu menjadi kuat betul, halangannya berat betul, ada korban dll, dll, sehingga di ujung novel, struggle itu sangat terasa, dan menumbuhkan nilai-nilai tertentu di hati dan pikiran pembaca.

Yg simpel buat contoh aja deh. Tema utama PG adalah penyerahan diri seutuhnya pada YME (akar segala agama, tuh!), yang dikonklusikan dalam adegan klimaks Jaka memasrahkan segalanya dan datanglah keajaiban (tentu saja dengan segala bumbunya untuk mensignifikansi peristiwa itu, sejak halaman pertama buku).

Nah untuk Lemures gue belum bisa mendapatkan konklusi seperti itu. Adegan finale Sepasang Taring Harimau vs Pisau Penjuru juga nggak bisa dilihat sebagai konklusi struggle atau hope, just showdown aja, udah.

Ketiadaan relasi konklusi vs tema inilah, yg kurasa membuat kisah elo menjadi kurang bernilai di mata penerbit. Tema yang nggak jelas ini pula yang membuat climaxing novel ini juga menjadi nggak jelas, jadinya kurang nendang. Tanpa tema yang kuat, seluruh perjalanan itu menjadi sekedar perpindahan dari titik A ke titik B. Lantas dimana juice-nya?

Berita baiknya, semua unsur tema itu sesungguhnya sudah ada dalam naskah yang elo bikin. Dan gue percaya dah, sekaliber elo tentu urusan tema juga udah nggak usah dikasih tau lagi. Tinggal sekarang lebih di highlight aja tema apa yang ingin elo tonjolkan untuk buku pertama, dan lakukan penggarapan khusus di situ. Simpel koq, elo hanya perlu menumbuhkan ‘makna’ atau pengertian khusus di dalam batin pembaca mengenai signifikansi peran/ tindakan sang tokoh yang elo anggap mewakili tema yang elo pilih. Ada banyak kesempatan kan?
Larke – hope, ingenuity
Fly – trusting others, ketulusan
Kain – leadership
Levantine – pembuktian diri/ courage?
Elo yang tentukan, lah

Pointnya, jadikan sesuatu di dalam buku elo yang bisa dijual, yang menguatkan alasan penerbit untuk menerbitkannya. Dan menurut gue, sesuai dengan pakem filosofi buku, ya tema yang ‘megang’, itulah. Dan for the sake of focus, elo cukup menghighlight 1 tema utama aja, walaupun elo bisa juga menambahkan sub tema, tapi jangan sampai overshadowing tema yang utama.

Kira-kira begitu deh gambaran overall nya. Kalo masih ada yg kurang mantep, let’s discuss. Meanwhile, mari kita bahas per –bab satu persatu!

(btw sori ada satu kalimat yg kuhapus karena spoiler banged buat kejutan adegan klimaksnya, huehehehe :P )
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on July 01, 2008, 08:57:18 am
________________________________________
dan inilah tanggepan aye buat review-nya om pur [biggrin]
pertama, dan yang terutama: Arigatouuu gozaimazu, Tararengkyu, Matur Nuhun, Kamsia, Todah Rabbah, Merci, Terima Kasih (banged) buat om Pur, realy appreciate all of the compliments, critics, & input-nya, you’re the best dah, wahai Boss Biawak [thumbsup] ;D ;D

Quote
Penokohan: menurut gue, elo sudah cukup berhasil meramu sebagian besar karakter secara tepat dan menunjang cerita. Setiap karakter utama sudah tergambar cukup realistik, dan gaya masing-masing pun sudah cukup teridentifikasi dan memiliki ciri.

untuk poin ini, clickdian-lah yg jaman dahulu kala memberi masukan, & thanks god sudah teratasi dengan ‘cukup berhasil’, heheheh. kalo gini ane ‘cukup lega’ juga dah, dan gak sia2 hokus fokus yg kulakukan selama menggarap versi revisi lemures ini (yg ternyata masih banyak yg perlu direvisi lg(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif))..

tapi sebetulnya ada satu lagi saran seorang reader lemures lain (villam) yg sudah kuintegrasikan ke dalam naskah: konflik & perenungan batin. nah gimana om pur, menurut ente apakah unsur ini masih kurang tergarap, atau sudah lumayan tergarap? ???

Quote
Nah, kritik secara general impression kurasa masih konsisten dengan yg udah pernah gue sebutkan sewaktu ngebahas prolog elo dulu, yaitu pemilihan kata yang kurang tepat serta susastra yang belum ‘megang’.

ini ironis: kritik utama ente malah kontradiksi dengan compliment villam (dan banyak member k.com) yg bilang kelebihan utama LEMURES malah ada di gaya bahasanya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/bolakbalik.gif)
sejujurnya lemures emang merupakan novel pertama ane yg jadi objek percobaan gaya bahasa ‘maut’ kaya begitu, dan ternyata hasilnya ‘antara’ mengenaskan dan sukses, kurasa. :D
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)).
ah ini bener2 PR berat buatku :(

Quote
Namun ada temuan yang kurasa harus cepet-cepet disampaikan supaya elo bisa cepet-cepet benerin.
Ini mengenai dialog. Ada bagian dialog yang udah bagus dan shining, dan pada part-part itu gue merasa itu udah you as yourself (THE Writer) banget. Tapi ada bagian dialog lain yang gue rasakan masih pretensius, sepertinya elo berusaha over the top, jadinya elo malah jauh dari gaya elo sendiri.
Pada part-part tersebut, gue merasakan bahwa pengarang lagi sok ‘keminter’, seperti berusaha menempatkan diri lebih pinter atau lebih tinggi dari pembaca. Dan gue harus cepat-cepat mengingatkan dan mencegah elo melakukan ini. Ada sebuah kredo yang harus dipegang oleh pengarang, bahwa pembaca adalah it’s own master, pembaca tidak suka dikuliahi, dan pembaca tidak nyaman menyimak uraian yang melebih-lebihkan smartness ini dari yang secukupnya.

ah sudah sangat kuduga sebelumnya [biggrin], pasti cepat lambat bakal ada pembaca yg protes beginian :)
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho :-[, and i'm afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya :'(), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.

Quote
Ada beberapa part yang elo begitu, yang kalo elo robah gayanya lebih mencirikan gaya lo sendiri, gue rasa akan menjadi jauh lebih humble dan kena ke pembaca.

yeah i know, part2 kayak waktu Levantine bikin filosopi ttg 'wajah gurun' buat end suatu scene, atau waktu encounter rombongan dengan Gaeus, ya kan? atau mungkin waktu percakapan Larke-Levantine pas giliran jaga malam, atau Larke-Fly di depan api unggun pas di Negeri Angin itu yak?
sebetulnya ane masih gambling untuk dialog2 yg bergaya menguliahi semacam itu, sejauh ini ada satu orang yg gak protes dan (akhirnya) ada satu orang protes. oke, i'll do something to fix it.
btw maksud ente gaya 'keminter' dialognya diubah pake gaya ane sendiri, itu maksudnya gimana sih? soalnya dari yg ane duga, itu masalah 'keminter'nya bukan di gaya bahasanya, tapi emang udah masuk ke inti dialognya (isi percakapan yg terlalu menggurui). maksudnya inti percakapannya diubah atau gimana?
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg 'keminter' itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus ;D), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. :)

eniwei, sebetulnya di pm kemaren ane udah nyebut apa2 aja yg memungkinkan LEMURES ditolak penerbit:

1. terlalu sterotip fellowship LOtR
2. terlalu banyak unsur kebetulan; selalu adanya tokoh-tokoh, benda, dan peristiwa di tempat dan waktu yang 'tepat' :-[
3. terasa menggurui
gimana dengan unsur kebetulannya? apakah masih wajar? ah, poin ini bisa ente sorot buat masukan di bab2 selanjutnya, dan amat kunantikan hal itu. :)
sebelum dinilai ente, ane malah sama sekali gak ngelirik kekurangtegasan tema & gaya bahasanya--dan sejujurnya malah tadinya kuanggap dua hal itu jadi kelebihan naskah.
tapi eniwei, masukan bagus itu untuk memperkuat tema dalam LEMURES, i'll fix it for sure :)
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 01, 2008, 07:21:37 pm
________________________________________
aduh, sebel,…. pas ngeposting tanggapan ini pertama kalinya, web site masuk ke mode maintenance, selama berjam-jam, tak tahunya begitu on-line tanggapan gue nggak ke broadcast! Ngulangin lagi? Arrrrgh [ranting]

Quote
yang sulit bagiku, bagaimana cara mengaplikasikan gaya bahasa cantik yang kira2 aproveable buat semua kalangan pembaca? terus, bagaimana pula cara mengetahui apakah suatu kiasan/metafora sudah pas di mata pembaca, atau belum? kalo ngeliat penyisiran om Pur thd gaya bahasa LEMURES di prolog & bab 1-nya (dan komen si fred juga thd prolognya tempo hari), tampaknya ada beberapa kiasan yang tepat sasaran, dan ada juga yang gak tepat (yg sialnya jauh lebih banyak ).

Namanya ‘art’, parameternya adalag ‘rasa’, dan nggak ada yang bisa menjelaskan perihal rasa secara gamblang. Yang penting adalah latihan dan latihan terus, rasakan efeknya seperti kita mencicipi makanan. Satu saat, kita akan ngerasa juga, koq apa yg ‘pas’ dan apa yg masih ‘ngga pas’.
Tapi aku pikir parameter yang paling gampang adalah, apapun yg elo tulis itu harus dengan mudah dipahami oleh orang berkat kesederhanaannya dalam mengungkap, tidak berlebih-lebih dalam hal yang tak perlu.
Penggunaan kiasan juga harus memperhatikan pemahaman umum pembaca, konsep pengias tidak boleh terlalu jauh maknanya dari yg dikiaskan, sesuai dengan konteks dimana kiasan tersebut biasa dipakai. Ini bukan perkara anti kreativitas atau menjauhi originalitas (suatu prestise bagi pengarang apabila dapat ‘menciptakan’ suatu istilah baru yg kemudian populer), tapi merupakan penerapan dari prinsip dasar komunikasi: antara penulis dan pembaca harus berada dalam frame yang sama.

Quote
kalo boleh jujur, gw dapet influence kayak gini dari Paulo Coelho Embarrassed, and i’m afraid i can do nothing about it (selain mendelete-nya Cry), soalnya itu udah masuk ke dialog sih. kalo masih di narasi/deskripsi, masih ada harapan untuk kuotak-atik lagi. tapi kita liat dulu yg mana2 aja sebetulnya dialog pretensius yg ente maksud.
coba deh kalo ente gak keberatan, bisa di-quote contoh gaya dialog yg ‘keminter’ itu (yg paling pendek aja lha, jangan yang Gaeus Grin), terus ente ubah dengan gaya bahasa yang gak lagi berkesan keminter, emang bisa yak? sekalian buat pembelajaran di tret ini neh: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan suatu gaya dialog. Smiley

Rey, elo udah paham belum dengan konsep: KONTEKS? Setiap istilah, atau pengertian, akan memiliki makna apabila memiliki sebuah relasi dengan konteksnya. Dan bicara novel, sering kali konteks itu harus dibangun dengan susah payah, disulam hati-hati kata per-kata, sehingga di saat kata-kata/ konsep yang bersangkutan timbul, dia tidak muncul begitu aja dari kekosongan. Dia sudah didukung oleh sejumlah besar situasi yang menyebabkan keberadaan konsep baru tersebut menjadi ‘pada tempatnya’, atau, ‘kontekstual’.
Lantas pada saat sebuah istilah muncul secara ‘inkontekstual’, pembaca akan bertanya-tanya. Dan kalo kemudian kesannya pengarang membubuhkan kata-kata itu sekedar supaya kelihatan ‘berkelas’ (baca: pinter, cerdas, hebat dll), :P yep, disitulah kemudian pembaca menilai sebagai: ‘keminter’.

Mari bicara contoh :)

salah satu dialog di Prolog:
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Sebuah prosedur atas dasar inisiatif,” jawab Kain mantap.

Menurut gue dalam banyak hal kata-kata ini inkontekstual. Kata-kata ini tidak disupport oleh latar belakang Kain sebagai pendekar, tidak disupport oleh setting Lemures yang konon berjuta tahun lampau (dua kata: prosedur & inisiatif, menjadi way out of place), Malah kalau kita cuma melihat baris-baris dialog di atas, kita dengan mudah bisa menyangka bahwa percakapan ini terjadi di dalam lift perkantoran :)
Terus elo minta gue bikin alternate-nya? Lah gimana seh? Kan elo yg pengarangnya, bukan gue. Kalo gue yang bikin, bisa-bisa gue salah menjabarkan intensi Kain :o

Tapi let’s try,….
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke negeri ini adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth masih tertawa. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Mungkin akan kedengaran bukan seperti Kain yang kau kenal,” sang musafir terkekeh. Tetapi senyum tipis di wajahnya itu perlahan memudar, dan ia menatap Seth dengan pandangan lurus yang tegas, pandangan yang mengingatkan Seth akan kemantapan hati seorang Kain Ellohym bertahun-tahun lampau, “Aku datang atas kehendakku, mungkin juga kehendak para Dewa, mungkin juga kehendak negeri-negeri di Selatan,”
…. dan seterusnya,… ;)

Sekarang mohon dirasakan (sebagai latihan), baca dua versi di atas berkali-kali, dan rasakan di part mana terasa ada ‘paksaan’ untuk men-swallow (menelan) kata-kata itu, dan di part mana kata-kata terasa meluncur nyaman?
Untuk versi gue, apakah gue menggunakan kata-kata ‘eksotik’, apakah dengan kata-kata yang cukup umum seperti itu, sastranya dapat dirasakan?
Mungkin itu aja kali dulu ya? For starters, coba elo refrase kalimat-kalimat di atas buat latihan, cari berbagai alternatif pengungkapan yg lebih enak, menggunakan kata-kata yang sederhana.
Practice makes perfect!
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 02, 2008, 12:37:28 pm
________________________________________
Oke TQ for the example, bos, i’ll try my best at home!
yang paling penting itu konteks yak [biggrin]
________________________________________
Post by: MakMak on July 02, 2008, 01:37:21 pm
________________________________________
@all of you….
ini saya sedang buat image dunia vampire sendiri, lepas dari image vampire dalam Dracula. masalahnya, aku tidak tahu apakah image dunia baru vampire buatanku ini bagus atau tidak.
nah saya ingin mendengar pendapat anda semua mengenai hal tersebut.
dunia vampire buatan saya itu seperti ini:
vampire saya bagi menjadi 4 jenis

yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.
3. yang menonjol dari jenis ini adalah kekuatan fisiknya.
4. bagi mereka, makan dan memperoleh nutrisi adalah dua hal yang berbeda. mereka bisa makan makanan biasa seperti manusia hanya untuk sekedar mengenyangkan perut, tapi mereka harus meminum darah untuk memperoleh nutrisi (sumber nutrisinya adalah darah)
5. berumur panjang dan awet muda, tapi tidak abadi.

yang kedua, saya beri nama Slave
1. adalah manusia yang menjadi vampire karena meminum darah vampire. (disini, kalau ada manusia yang darahnya dihisap oleh vampire, dia akan mati, tapi tidak akan menjadi vampire. manusia menjadi vampire kalau meminum darah original vampire)
2. tidak memiliki kebebasan. Slave hanya bisa mematuhi perintah Origin vampire yang memberikan darahnya.
3. kekuatan fisik meningkat, meskipun tidak bisa menyamai origin vampire.
4. tdk bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. makan dan memperoleh nutrisi merupakan 2 hal yang berbeda.
6. tidak berumur panjang dan tidak awet muda.

yang ketiga, Alter
1. Slave yang kehilangan tuannya (Origin yang membuatnya jadi vampire mati terbunuh atau sakit) kemudian secara berangsur, memperoleh kembali ingatannya ketika dia masih menjadi manusia.
2. memiliki kebebasan untuk bertindak sendiri.
3. yang lainnya sama dengan Slave.

yang terakhir, Outcast.
1. Manusia yang menjadi vampire tanpa campur tangan Origin Vampire. (dengan sihir, kutukan, ritual khusus, dll)
2. kekuatan fisiknya sama dengan ketika dia masih menjadi manusia.
3. darah merupakan makanan dan sumber nutrisinya.
4. tidak bisa hidup dibawah sinar matahari.
5. berumur panjang dan awet muda selama dia terus mendapat pasokan darah.

nah, bagaimana pendapat kalian? bagus? lumayan? jelek? jelek sekali?
(Btw, klo tanya seperti ini OOT ga ya?)
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 02, 2008, 04:25:31 pm
________________________________________
Mak, semua udah bagus, tapi baru separuh bagus. [thumbsup]
Untuk menjadi bagus, harus disempurnakan dengan setting yang memuat karakter-karakter tersebut, yang mendukung interaksi masyarakat vampir ini sehingga cerita yang kamu karang bisa berlangsung lancar dan believable. Kalo menurut saya, tanpa dukungan setting yang pas, karakter-karakter ini kurang bisa berkembang secara maksimal.
Segitu aja dulu, kita tunggu konsep lanjutannya :)
FA Purawan
________________________________________
Post by: fr3d on July 03, 2008, 08:26:14 am
________________________________________
Mak, ide apa pun pasti bagus. Yang penting adalah pewujudannya. Kalau bisa menjalin semuanya dalam cerita dengan pas dan sampai ke pembaca secara tepat pula, pastilah bakalan oke! [thumbsup]
Udah baca the historian-nya elizabeth kostova belum? Itu buku juga tentang vampir. Katanya sih salah satu buku tentang vampir terbaik yang pernah ada.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: BloodSin on July 03, 2008, 03:46:55 pm
________________________________________
@makmak
yap, idenya sih udah asik mak, ada sistem pengkastaan vampir gitu, tapi kayaknya masi ada celah di sini:
Quote
yang pertama, saya beri nama Origin Vampire (Native)
ciri-ciri:
1. merupakan keturunan dari origin vampire yang lain (kalau ayahnya origin vampire, ibunya origin vampire, maka anaknya juga origin vampire)
2. bisa hidup dibawah sinar matahari meskipun kekuatannya akan menurun drastis.

nah, kalo kasusnya ayahnya origin vampire, ibunya non-origin vampire, anaknya masuk klasifikasi vampire yang mana donk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)
terus gw juga mengharapkan ada penjelasan logis kenapa tipe Origin Vampire ini bisa tahan sama sinar matahari–karena konsep ini bener2 menyalahi aturan terdasar dunia per-vampir-an (halah ;D), di mana seharusnya semakin ‘pure’ kadar ke-vampir-an seorang vampir, maka semakin gak tahan pula dia sama sinar matahari.
(gw pikir konsep vampir takut matahari ini murni berasal dari pengetahuan tentang kebiasaan kelelawar yang selalu ngumpet di tempat tertutup pas siang hari)
kalo di film Blade (yang jagoannya mirip tukul(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)), ada penjelasan logisnya kenapa si Blade yang notabene juga termasuk vampir ini bisa tahan sama matahari: sewaktu ibunya lagi mengandung, ibunya digigit vampir, maka lahirlah si Blade–dengan perpaduan DNA manusia dan vampir. nah DNA manusia dalam diri Blade menyebabkan dia terlahir sebagai day-walker (tahan sama sinar ultraviolet), juga kebal sama material perak dan bawang putih, sementara DNA vampir menyebabkan Blade memiliki kekuatan super seorang vampir–dan malah melebihi vampir kebanyakan. singkatnya, Blade dapet semua keuntungan manusia dan vampir.

maksud gw, kalo ente mau bikin cerita vampir, idealnya sih sebisa mungkin menuruti semua referensi dunia per-vampir-an umumnya. Kalopun terpaksa melanggar satu-dua pakem yang ada, ente harus menyertakan alasan dan logika yang relevan dengan rules yang berlaku dalam dunia vampir ente. :)
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 03, 2008, 05:21:26 pm
________________________________________
di Blade Trinity (sekuel ketiga ya?) ada tokoh musuh yang menyebut dirinya sebagai the first vampire, king of gnome (dia yang pertama… halah…), dan seperti daywalker dia juga gak masalah kena sinar matahari, tapi gua gak ngerti kenapa bisa begitu. gua nontonnya gak konsen sih…
lebih baik emang seperti kata rey, lebih diperkuat lagi alasan-alasannya, mak, supaya ceritamu juga bisa lebih kuat.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled