Diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi – Sesi 21
Posted by: Villam in Dokumentasi, tags: cerita fantasi, fantasi lokal, The Forgotten Heroes, villam's writing
[tab:Hal 1]Sesi XXI (10 Jul 2008 – 11 Jul 2008)
- Cerita fantasi layak untuk diterbitkan!
- Tentang draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam
- Tentang para penerbit fantasi lokal
- Kejujuran dalam sebuah tulisan
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
________________________________________
Quote from: Elyasa on July 09, 2008, 08:36:15 pm
Jadi gini, awalnya sih, ENTHIREA itu buat semua kalangan…nah pas masuk kepenerbit, mereka bilang ini segmen buat remaja ya…dari sd sampe sma gitu…nah jadi nya mereka mulai meng-edit buku saya untuk segmen itu.
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Buat para penerbit di indonesia: Semua orang berfantasi!
Jadi, cerita fantasi layak dan bisa dikonsumsi oleh semua kalangan! [tickedoff]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
________________________________________
ah bener tuh pendapat si fred, tentang penerbit-penerbit novel fantasi kita.
menyebalkan, sekaligus menyedihkan.
kenapa para editornya malah gak bisa bikin naskahnya jadi lebih baik, dan malah jadi lebih jelek sih?
ah capek juga tapi dari dulu gue bisanya cuma ngedumel. hehehe…
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 12:36:20 pm
kita, para penulis dan pembaca fantasi, harus benar-benar bisa bikin suatu langkah besar sekarang, supaya suara kita didengar! (halah… hehe…)
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
gue udah pernah ngirim versi lamanya ke sepuluh penerbit, dan gak ada yang lolos! dan sekarang gue gak akan terburu-buru ngirim lagi. kalo emang bolongnya banyak ya mending gue perbaikin dulu. sambil gue menyelesaikan novel2 yang lain, yang mungkin lebih ‘marketable’ di mata penerbit.
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 01:45:24 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
Villam, kalau gw yang ngebaca boleh gak? [rolleyes]
Tapi yang mau dikasih buat repiu itu versi apa ya? Soft copy atau hard copy?
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 01:52:01 pm
________________________________________
boleh, bos.
softcopy pdf.
emang enakan baca hardcopy pasti, tapi belon sempet ngeprint lagi soalnya.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:14:32 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 09:02:10 am
Kenapa sih penerbit lokal yang nerbitin fantasi masih aja pada dodol2 semua? [annoyed]
Apa mereka gak mikir kalau yang baca genre fantasi bukan anak2 & remaja doang?
Pembaca fantasi di indonesia kan meningkat pesat gara-gara ada fenomena harpot, lalu menyusul film LOTR.
Nah coba dipikir deh, harpot pertama kali terbit 10 tahun lalu, itu berarti fans-nya sekarang semua udah berusia plus 10 tahun dong (kalau dulu umurnya 14, sekarang 24, dstnya.).
Kenapa gak dibidik juga orang2 ini? Padahal mereka kan pasar yang bagus pula?
Dasar DODOL! [cluebat]
Well,… gimana ngomentarinnya, yach?
Penerbit ga bisa terlalu disalahkan.
Bagaimana pun juga, di pundak mereka ada resiko yang harus ditanggung. Modal itu kan ada yang punya, dan yang punya pasti minta uangnya kembali berikut profit. Sementara menerbitkan buku adalah usaha yang sangat beresiko. Udah biaya cetak dan sebagainya harus dibayar di depan, uang hasil penjualan baru masuk setelah beberapa bulan. itupun kalo laku. Kalopun laris manis, harus kebat-kebit digerus pembajak.
Dengan resiko demikian tinggi, wajar jika penerbit masih ragu-ragu dengan genre Fantasy, pilih play safe, antara lain menyasar segmen remaja.
Tapi di sisi lain, memang ada masalah, bahwa penerbit Fantasy kita belum begitu mengenal produk; sehingga ngga punya keyakinan atas keberhasilan pemasarannya. Sayang memang, bahwa belum ada penerbit yang ‘dedicated’ dengan genre Fantasy, berani berkonsentrasi dengan genre ini, sehingga menjadi mahir baik dalam visi produk maupun visi pemasaran. Yg gue liat sekarang, kebanyakan pemain Fantasy adalah juga main di genre lain, atau sekedar unit bisnis di bawah suatu kelompok penerbit. Apa pengaruhnya? Kekuatan dia untuk konsentrasi menjadi lemah, sebab juga ikut asyik mikirin genre-genre lain (apalagi yg lebih laku), juga support finansialnya menjadi terbatas karena pemodal juga ingin uangnya diputer di genre lain yang (dipikirnya) lebih gampang dijual.
So kalo gue bilang sih, sementara belum ada penerbit Fantasy yang bener-bener ‘kuat’, ya para penulis aja dulu yang bikin klik yang kuat sehingga kelak bisa membentuk suatu komunitas. Dalam bisnis, komunitas adalah suatu modal yang cukup diperhitungkan sebagai salah satu pendorong pemasaran. Kalau sudah ada komunitas semacam itu, penerbit pun akan merasa lebih aman, dan lebih punya kepastian untuk urusan hitung-hitungan bisnisnya.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 02:20:14 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 01:18:09 pm
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 12:41:01 pm
Tentunya dimulai dengan kembali mengirimkan TFH ke penerbit, hihihi… [biggrin]
tentang TFH, berhubung selama ini paling cuma direview prolognya doang, ada yang berminat untuk mereviewnya secara total? biar gue tertampar dengan penemuan bolong2nya. wakwakwakwak…
Gue gak dilupakan, dong,….
8) ![]()
liat PM ya,… ![]()
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
________________________________________
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 03:28:13 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
Yakin? Apakah benar mereka merupakan penerbit independen yang khusus Fantasy, atau bagian dari suatu group yang juga menerbitkan buku-buku genre lainnya?
(Gue sih gak yakin ada yg berani bener-bener hanya main di Fantasy,… hehehe). Dari outputnya aja udah keliatan, koq.
Intinya, sih, terutama dalam hal resources, atau modal. Sekarang pikirin aja skenario berikut. Ada satu usaha penerbitan yang punya Unit Fantasy dan Unit Chiklit, yang sedang sama-sama punya program menerbitkan 1 buku di bulan Agustus.
Masing-masing editor udah dapat masukan-masukan naskah, katakanlah masing-masing udah dapat satu naskah jagoannya. Terus dalam momen yang menentukan: Rapat Redaksi (atau sejenis), dibahaslah naskah2 itu, dan kemudian diputuskan naskah mana yang akan diterbitkan. Rapat dan debatlah tuh, berjam-jam.
Berhubung modal yang ada hanya ‘cukup’ untuk commit 1 buku, akhirnya,…. Naskah Fantasy dan Naskah Chiklit ga jadi diterbitkan, pemenangnya adalah naskah Blog Konyol tentang kisah ironi seorang guru SD eksentrik di pedalaman Papua: Buaya Makan Buku IPA, sebuah komedi realitas pendidikan Indonesia di Papua.
Why? Katanya itu yang lagi laku,…. heheheh,…
Bedanya dengan penerbit yang bener-bener khusus Fantasy, program penerbitannya tentu akan konsisten. Kalo rapat, tentunya yang dirapatkan dan diperbandingkan adalah sama-sama naskah fantasy, dan naskah yang ‘terbaik’ (berdasarkan pemahaman penerbit yang semakin baik) lah yang akan terpilih.
lihatlah betapa besar perbedaan akan terjadi dalam dunia penulisan Fantasy, bila kita punya penerbit yang demikian?
Salam,
FA Purawan
NB: Coppernicus, rupanya salah spelling, harusnya Copernican
________________________________________
Post by: fr3d on July 10, 2008, 04:00:14 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 02:39:01 pm
liliput, coppernicus, rumah pinus, bukannya penerbit2 yg mengkhususkan diri di lini penerbitan fantasi? ???
penerbit jogja semuah tuh [biggrin]
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Tapi, emang bener seperti yang dibilang om pur.
Kalau memang ada penerbit yang khusus fantasi, kan jadinya dia sendiri bisa bikin divisi2 khususnya, misalnya ada yang khusus ngurusin naskah fantasi segmentasi anak2-remaja, lalu ada yang segmentasi dewasa dan semua umur, dll. Komplit dan spesifik deh manajemennya.
Aaargh, mimpi di siang bolong!
Eh… sore bolong! ![]()
________________________________________
Post by: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
________________________________________
okay…
fred, mas pur dan rey,
besok kukirim…
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati.
dulu pernah nelpon, katanya nyari satu fantasi lokal, tapi sejauh ini yang impor-impor melulu yang keluar. payah dah… atau… ya mungkin emang mereka belon dapet naskah fantasi lokal yang bisa bersaing dengan kesemua impor itu.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:26:34 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on July 10, 2008, 05:14:47 pm
liliput, coppernican dan rumah pinus, kayaknya udah gak pernah denger lagi terbitan barunya. mungkin dah pada tenggelam.
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
________________________________________
@om pur
liliput itu aseli penerbit fantasi kok. gw punya 3 novel liliput, tiga2nya fantasi, dan sewaktu liat ‘iklan’ buku2 fantasi lain terbitan dia di halaman2 belakangnya (untuk ketiga buku itu), dan juga official website-nya, emang buku fantasi semua. tapi emang masih payah sih, dia fokusnya ke fantasi anak & remaja doank.
holy shit, kenapa banyak penerbit yg memposisikan genre fantasi dengan target pasar utama anak2? cuma karena terhanyut euforia harpotkah? kuper banged sih penerbit2 yg nganggep fantasi itu cuma buat konsumsi bocah! [annoyed]
(eh kayaknya udah ada orang yg protes beginian duluan sebelom gw yak?
)
kalo rumah pinus, gw liat di dua contoh novelnya, ada statement dia as ‘penerbit khusus buku2 fantasi yg ditulis penulis lokal muda (baca: bocah)’ emang dua penulis untuk dua bukunya itu gw liat anak2 smp sih, novelnya tipis2 pun
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?
tapi emang kayaknya, editor di penerbit2 itu, pada gak mumpuni semua di bidang fantasi. bukan cuma penguasaan bahasa dan keahlian menganalisisis logika aja yg harus dikuasain editor fantasi menurutku, tapi juga wawasan tentang berbagai mitologi dan literasi fantasi yg ada di dunia. itulah kayaknya yg terjadi pada editor2 fantasi di indo ini, sampe2 gak peduli lagi kalo ada penulis yg mendeskripsikan orc ketuker ama goblin.
(ah alasan karena tidak mau 'mengintervensi kreativitas pengarang' itu cuma bullshit, menurut gw emang dianya aja yg buta sama sekali ttg mitologi dunia [hammer])
syukur2 kalo dulunya dia ex-RPGer, biar lebih berwawasan lagi deh
@fred,
iya kayaknya liliput udah bubar, terakhir gw dapet info sih dia orang ganti manajemen, tp entah kenapa setelah itu gada buku2 terbitannya lagi.
coba itung aja produk fantasi lokal terbitan dia:
-catatan harian alien
-cincin oleodeo
-hozzo
-pinissi
-narend
(dan kayaknya masi ada lagi, tp gw lupa judulnya apa2 aja)
terbukti, liliput cukup konsisten nerbitin fantasi!
tapi rada keji juga cetakan pertamanya cuma 1000 eks(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
ah mungkin juga cetakan 1000 eks itu udah jadi konsekuensi dia karena komitmennya berani nerbitin naskah2 tebel & sekaligus menyertakan gambar2 ilustrasi di setiap bukunya.
yg gak adil itu, kalo ada buku tipis yg kena jatah rata 1000 eks juga, mau brp tuh royalti penulisnya kalo bukunya cuma dibandrol 30rban? cincin oledeo kayaknya tipis tuh
dan sekarang, kita ngintip ke fantasi-lit-nya gagasmedia ![]()
kita liat fantasi terbitan dia:
-nightfall
-transpondex
-cardan
-gemala dan rumah kayu oak
hore! udah nembus 4 bijik, angka yg sama sekali tidak menyedihkan buat penerbit gede yg punya banyak klasifikasi genre ini.
kalo c|publishing, setauk gw baru ledgard ama penunggang petir doank. sama kayak serambi yg baru dua bijik: sang penandai ama goran. eh btw gimana tuh nasib sang penandai di tangan lu? gaya bahasanya ajaib punya, entah bakal dimaki atau disanjung ama lu, mengingat sang penandai itu satu2nya fantasi lokal bergaya bahasa nyastra yg udah terbit.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 10, 2008, 05:58:56 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 05:43:23 pm
@om pur
nah kalo copernican (TQ koreksinya :-[), itu bukannya ente sendiri yg nyebut di blog ente waktu ngerepiu nopel ataka?
Gue mengutip dari deskripsi mengenai penerbit di buku Ataka.
Yang gue gak tahu pasti, apakah Copernican murni penerbit yang semata hanya menerbitkan Fantasy, atau merupakan brand-name atau unit bisnis dari sebuah grup penerbit. Apa duit modalnya hanya dipakai untuk nerbitin fantasy, atau sharing juga dengan unit bisnis lainnya yang nerbitin Chiklit, misalnya.
Untuk tau hal-hal ini, ya elo mesti orang dalem di industri penerbitan.
________________________________________
Post by: blue_amaranthine on July 10, 2008, 06:23:15 pm
________________________________________
Quote from: fr3d on July 10, 2008, 10:44:38 am
Samy, bukunya yang lagi in publishing itu apaan? Fantasi juga? Di penerbit Diwan juga? ???
Lagi libur lulus SMA, asik nih bebas... ;D
(*yang kepengen banget libur!*)
Bukan fantasi banget sih, ceritanya princess and kingdom gitu. Tapi, penerbitnya masih mikir-mikir juga, soalnya endingnya rada garing, n kalo endingnya bagus baru maw diterbitin. Palingan yang next adalah Margana, genrenya Puzzle Misteri gitu, lebih mirip Da Vinci. Lagi coba ngegarap berbagai genre biar bisa ngerasain yang mana yang paling ngena n bisa terus di kembangin lagi (betul Gak?)
________________________________________
Post by: Elyasa on July 10, 2008, 08:38:31 pm
________________________________________
OYYY.....
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
Gue jelasin nih...Copernican itu...anak penerbit dari jagad media, nah copernican itu bergerak di bidang fantasi aja....
Quote
Bukannya katanya liliput udah bubar pula?
Nah kalo ini gue nggak tau deh...tapi sih setau gue dia cuman ganti jurusan aje ama ganti pemiliki....
Quote
ada satu penerbit khusus fantasi. matahati
Nah kalo matahati jangan deh...mereka agak gimana gitu (pengalaman pribadi :p)
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
________________________________________
Quote
Pretensius jugak, kali yee, tapi in a different sense than your’s. Baca gaya bahasanya, gue jadi inget novel-novel Abdullah Harahap taun 80-an, itu novel seribu perakan yang biasanya bertema misteri lokal. Idenya Abdullah harahap itu cukup dahsyat lo jaman taon segitu,… modelnya kera jadi-jadian etc, romance plus actions. Dan adegan bumbunya juga cukup hot,… hehehe.
Nah, Lanang ini sepertinya mengikuti pakem itu, dengan setting agak modern. Tapi bener deh, gaya bahasa jadulnya buat gue terasa banget. Dan nggak enak dibaca. Makanya, biarpun udah ada sebulanan gue beli, gue berhenti belum habis bab 1. (Lebih parah dari ledgard! Hahahaha)
FA Purawan
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
gini aja deh. langganan kompas gak om? tiap minggu selalu ada cerpennya. dan terus terang aja selain dipengaruhi oleh gaya bahasa paulho coelho & dan brown, gaya bahasa ‘pretensius’ lemures sedikit banyak dipengaruhi juga ama cerpen2 kompas minggu itu. kalo ente kebetulan langganan, gimana penilaian ente untuk cerpen2 kompas minggu itu, secara overall? (emang sih tiap minggu penulisnya beda2, tapi kayaknya cerpen sastra di kompas minggu itu udah ada pakem2 spesifiknya deh)
kalo ente gak langganan kompas, anggap aja paragraf di atas batal kusebutkan
Quote
Copernican itu yang nerbitin Enthirea. Kurasa cukup aktif, sebenernya.
FA Purawan
kalo gitu, sungguh-sungguh malang banged nasib enthirea! dianaktirikan :’(
masak tega mangkas jumlah halamannya sih? sementara novel ataka yg tebelnya bujubuneng dengan nekad dia berani terbitin dan dibandrol cepekceng. [hammer]
tapi mungkin juga, menurut dugaan gw, skinheald II gak laku di pasaran. lagian harganya konyol sih, kayak gak pake pertimbangan market aja. dan karena udah rugi gede di skinheald II, dia jadi paranoid nerbitin novel tebel lagi…. dan berujung dipangkaslah enthirea! ah ini hanya skenario liar yg berkelebatan di otakku saja, belum tentu bener
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya. makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
yah, sekedar input aja.
@blue
gila produktif banged, baru nerbitin novel udah mau nerbitin lagi, keren [thumbsup]
itu yg princess di diwan jugak? hmmm… kalo boleh tauk, cetakan pertama diwan brp eks? ah pertanyaan terakhir ini gak usah dijawab juga gapapa
@villam,
oke deh kutunggu kirimanmu, TQ dah. ![]()
kalo matahati mah emang gak pernah nerbitin fantasi lokal, gak bisa masuk itungan tuh.
oh ya, nanti kan bakalan ada 3 org yg komenin TFH ente, sistemnya mau gimana? kayak grup kritik kemaren? jadi nanti kalo gw mau kirim komen, bakal gw kirim juga ke si om pur ama si fred, gitu?
________________________________________
Post by: eniyorda on July 10, 2008, 10:25:32 pm
________________________________________
:-\
mampir mau ngasih kabar (bagi yang masih ingat, hehe) serta hai untuk yang belum pernah ketemu. Ijin OT sejenak boleh yaaaa…
Lulus maret tadi, terus setelah bingung sana bingung sini mau ngapain, akhirnya saya terdampar –pulang kampung, tepatnya– di pulau kalimantan sebagai tenaga pengajar sementara di PT lokal. Berhubung kurangnya SDM, saya lgsg ditugasi ngajar bahan 1 semester selama 2 bulan saja (dah bulan april gitu lho tapi rupanya ada matakuliah yang belum mulai sama sekali ???). Sibuk, ya, tapi ada asyiknya juga. Aktivitas nulis sangat berkurang. Sedangkan mencari buku bacaan agak sulit. Harganya 10-20% lebih mahal lagi. Di toko Gramedia, ketersediaan yang memadai hanya buku-buku Gramedia Group. Kalau nyari buku penerbit lain, lebih banyak nggak adanya [thumbsdown]. Internet juga susah. Semua komunitas maya yang sering diikuti terputus total, alias nggak sempat bahkan untuk ditengok-tengok, (termasuk di sini) jadi ketinggalan berbagai kabar. Di thread ini aja udah 2 ribu lebih reply-an pula… wah
Yah gitu deh… silakan lanjutkan.
________________________________________
Post by: cheppy70 on July 11, 2008, 08:30:53 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on July 10, 2008, 09:04:05 pm
jangan2 tiap novel yg ‘sok nyastra’ bakal selalu kena label ‘pretensius’ ama ente nih [hammer]
Gimana ya Rey, buat gue di dalam tulisan itu selalu ada ‘kejujuran’. Dan ketika seorang penulis terasa ‘ngga jujur’ (misalnya bikin sesuatu yang nyastra, tapi terasa banget jiwanya ngga kena), gue akan langsung mengatakannya sebagai pretensius. Sebab menurut gue, seharusnya tulisan tersebut dapat lebih bersinar kalau pengarang rela menggunakan ‘dirinya sendiri’ sebagai standar penulisannya.
Emang, gue subyektif,… hehehe,….
Quote
note:
sedikit masukan bos, buat review2 menyusul ente ke depan (atau bisa juga sekalian diupdate semuanya), gimana kalo mulai dilengkapin dengan data2 buku (include penerbit, tebel halaman, harga, ama nama editornya) & rating sebelum masuk ke uraian detilnya? biar review ente semakin lengkap, jelas, dan memuaskan!
Untuk data-data keras, gue usahain masuk deh. Biasanya gue lebih seneng masukin sebagai bagian dari artikel, makanya kadang info itu gak keluar karena gak gue anggep penting, hehehe.
Quote
emang sih seringkali pemberian rating cenderung ditentukan oleh selera pribadi yg subjektif banged, tapi setidaknya jutaan pembaca blog ente bakal bisa dapet pegangan kan. bisa pake sistem bintang lima, bisa juga pake label: sampah, kurang, lumayan, bagus, dan bagus sekali. soalnya jujur aja, seringkali gw sendiri juga masi ngerasa ‘burem’ setelah baca bbrp repiu ente, kayak penunggang petir dan goran contohnya.
Tapi untuk rating,… filosofi review gue adalah untuk pembelajaran. Gue kritik bagian yang gue pikir harus diimprove oleh pengarang. Rasanya style rating bukan tujuan gue, karena gue tetap berharap pembaca (terutama para pembelajar) juga mau membaca bukunya, alih-alih cuma membaca review gue. Proses belajar kan datengnya dari mengalami, dan mengevaluasi.
Kayaknya untuk rating, gue nggak akan terapin dulu, deh.
Quote
makanya dulu gw sempet nanya: jadi kesimpulannya nih buku bagus apa jelek?
That, we have to leave to the real judges: The Readers!
(Lagian, biar kritik gue sepedes apapun, kalo pembaca udah suka sama bukunya, ya suka-suka pembaca, lah! Wong dia yang udah keluarin duit buat beli,… hehehe) ![]()
Salam,
FA Purawan
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)