Diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi – Sesi 29
Posted by: Villam in Dokumentasi, tags: definisi fantasi, fantasi lokal, The Forgotten Heroes, toko buku, villam's writing
[tab:Hal 1]Sesi XXIX (10 Ags 2008 – 20 Ags 2008)
• Tentang koleksi novel-novel fantasi lokal
• Review draft The Forgotten Heroes karya rd_Villam oleh BloodSin
• Definisi kisah Fantasi
• Tentang waktu tampil novel fantasi lokal di toko-toko buku
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on August 10, 2008, 11:05:06 pm
________________________________________
Quote
Rey, member2 lama (yg gw gak kenal) koq gak muncul2 lagi ya?
Diajak maen2 lagi ke sini dong biar bisa kenalan juga sama member2 baru yang keren2 ini!
Kebanyakan keknya udah pada ‘mokad’ deh as writer.
Kayak Midnight Sun (di vgi nicknya Nataku Yue), ini member cewek yang luar biasa jago dan wise, loe bayangin deh sosok om pur, tapi buang atribut: ‘batangan’, jadul, dan sotoynya heuheuheu ;D, replace dengan atribut: cewek umur 20an, open-minded, berpikiran luas, tapi rada cold-blooded juga sih -_-”
Postingan-postingannya enak dibaca, subjektif, mencerahkan kalbu (halah! ;D), dan berbobot [thumbsup]
Beliau kayaknya telah disibukkan dengan pekerjaan, soalnya ngilang pas dia baru aja lulus kuliah dan masuk kerja
Kalo Excel, La Mer, Whiteheaven, ngilang pas peralihan FFDN II ke FFDN III, kayaknya pada males register ulang bikin id baru deh
Kalo si Lich, pernah nongol kan di sini? Dia jugak termasuk yg posting di halaman pertama thread FFDN I, wuah udah lama sekali ituh
oke, gw ada:
1. Janos–Legend of Arctic Empire, tipe ‘sci-fi’–tanda kutip di sini merepresentasikan banyak hal ;D (Hadiyanto, kalo belum dicopot sekarang beliau ini masih kepala asslab binus lho [thumbsup])
2. Nightfall–The Element Location, tipe RPN (Rizky YS, jebolan Trisakti)
3. Numeric Uno–Legenda Sang Cahaya Zeta, tipe petualangan luar angkasa, mirip hozzoh (DewiS)
4. Ledgard–Musuh dari Balik Kabut, tipe RPN-kolosal (WD Yoga)
5. Negara Kelima, novel sejarah (Es Ito)
Pinissi (Mama Piyo) sebenernya termasuk buku yang mau gw ‘buang’ jugak, tapi gw cinta mati ama gambar-gambar ilustrasinya. Jadi I’ll keep it.
Kalo Cardan, walau jumlah halamannya masih utuh, dan bisa dibilang gw benci mati karena gak ada satupun aspek yg positif dari buku ini (selain kovernya
), kayaknya gw gak cukup ati buat ngebarter, secara bukunya udah compang-camping, halamannya pada copot (kualitas jilidnya jelek banged!)
gw berminat dengan:
1. Phoenix–Mahkota dalam Negeri Azura
2. Corruption
3. Reinhart
4. Cincin Oleodeo
6. Para Penunggang Petir
7. dan fantasi-fantasi lokal lain dengan setting non-lokal, dan bukan semi teenlit >_<
sebenernya ada dua judul lagi yg gw penasaran & ngebet banget pengen baca, tapi gak enak hati ama pengarang-pengarangnya yang suka nongol disini heuhueheuheu ;D
well, kalo ada yang minat.. ^-^
________________________________________
Post by: fr3d on August 11, 2008, 09:30:44 am
________________________________________
Sang Penandai dibarter (baca: jual murah) aja tuh ke om pur atau si piet! [rolleyes]
Btw, phoenix dan corruption yang gw pernah baca itu punya co-author gw, rey.
Dia sih gak mungkin ngebarter corruption (buku ini kayaknya masih dijual loh di beberapa toko buku gramedia, tapi kudu rajin nyarinya, soalnya ditaruhnya ngasal, kadang di fiksi lokal, kadang di fiksi asing, atau malah di buku impor
).
Nah, kalo phoenix, ntar gw coba tanyain deh. Dia kayaknya rela2 aja tuh ngebuang jauh2 buku itu… Wkwkwk! ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on August 11, 2008, 09:55:12 am
________________________________________
Yang jelas, buku-buku lokal yg mau gw simpen ampe akhir hayat itu:
goran, sang penandai, hozzo, narend ama zauri [biggrin]
yodah kapan-kapan kalo ada gathering, tinggal dibarter lha tuh phoenix-nya [biggrin]
[tab::Hal 3]________________________________________
Post by: clickdian on August 15, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Guys, ada buku baru nih, Magician Guild. Harganya skitar 70-an, naga2nya sih bagus ![]()
Ada yg udah pernah denger? Kyknya isinya pure fantasy.
________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 03:48:09 pm
________________________________________
Magician Guild itu novel lokal atau terjemahan, mba dian?
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 15, 2008, 05:10:45 pm
________________________________________
kayaknya terjemahan tuh.
gue belon liat sih, udah lama gak ke gramedia.
belakangan rada depresi kalo ke toko buku soalnya. sebegitu banyak buku, gak ada satupun tulisan gue. ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 15, 2008, 05:15:28 pm
________________________________________
Rasanya kepengen banget nyalain korek, trus dilempar deh ke salah satu tumpukan! ![]()
Apalagi kalau ngerasa buku2 lain lebih jelek daripada buku kita, ya nggak, villam? ^-^
;D ;D ;D
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 10:42:15 am
________________________________________
Hmm… kalau Supernova dan komik Tony Wong ada yang menganggap fantasi, jadi sekarang definisi karya fantasi sebenernya apa dong? ???
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
________________________________________
Villam, semalam gw baru beres baca TFH loe, itu terhitung dari tiga hari terakhir ini gw fokus ngabisin TFH heuheu [biggrin]
Dan inilah komen resmi gw (gw akan menyamarkan bbrp poin supaya gak jadi spoiler tapi masih bisa ditangkep lu
):
Pertama-tama, lemme nyembah-nyembah you dulu (haduh, kok browser gw gak bisa buka page icon yak, sialllll [hammer])
Thanks a lot karena lu udah mengijinkan gw baca masterpiece lu, heheh.
Secara keseluruhan, tulisan lu, walaupun gak secanggih si Ewing, gak secakep sang Penandai, dan gak sememikat tulisan si Hege, tetap masih punya pesona tersendiri di mata gw, mungkin karena kesahajaannya. Lu gak terlalu berpusing-pusing mikiran metafora keren buat ditarok dalam tulisan, lu cuma fokus ingin menyampaikan cerita ke pembaca sebaik mungkin dengan bahasa yang jelas dan enak, dan itu bisa dibilang berhasil. Dan dari karya lu gw bisa belajar, kalo ternyata karya fantasi pun bisa dibuat elegan dengan gaya bahasa ‘biasa’. Salud.
Kedua, This is it! Kayak beginilah sebuah karya baru layak disebut kolosal! Kavaleri Elniri, konsep ‘pasukan perintis’, yel-yel perang yang keren, buah tuluk, dan lain-lainnya, buat gw elu udah berhasil menunjukkan wawasan kolosal yang mumpuni, terutama tentang aspek-aspek perang (ada seni diplomasi, penaklukan, strategi pemenuhan pangan, ect). Keren. Lu juga udah berhasil mendeskripsikan keperkasaan Antharavai dengan wajar, gak berlebihan. Setiap adegan kemenangan, penyergapan, perang, sudah tergambarkan dengan wajar. Masalah belasan bisa mengalahkan ratusan seperti yg dibilang om pur, itu gak terlalu fatal, masih bisa dimaklumi mengingat yg terjadi disitu adalah penyergapan, dan oleh pendekar-pendekar terkuat pula.
Gw suka tiap kali ada orang mati, elu menyebutkan umurnya. Itu kolosal banged heuheu, tapi ada satu karakter penting yg gak lu sebut umur koidnya tuh.. ???
Gw menemukan ada dua tema dominan di TFH: kolosal & romance.
Kalo menurut gw kekuatan utama TFH itu ada di romance alih-alih kolosal, secara elu belum menyajikan sesuatu yang benar-benar ‘brilian’ buat tema kolosalnya. Namun begitu, TFH menjadi buku pertama yang berhasil ngebikin mata gw berkaca-kaca merasa terharu, getir, & sedih, sebelumnya belum pernah ada buku yg ampe segitunya. Banyak orang nangis baca LasPeng & AAC, gw sih masih biasa-biasa aja, karena buat gw tema struggle/romance di kedua karya itu masih terhitung standar, atau malah picis (khusus romance AAc huehue). Tapi untuk TFH, gw takluk seutuhnya :-[ gila keren banged!
Ini di luar kebiasaan gw, biasanya sebanter-banternya buku maenin emosi gw itu gw cuma sampe sebatas ngakak gila aja, gak pernah sampe bikin terharu/mata berkaca-kaca. Ini luar biasa.
TFH gw masukin ke jajaran novel fantasi terbaik yg pernah gw baca, entah itu novel lokal atau luar. Ketebelan bukunya dan penggarapan selama bertahun-tahun sama sekali gak sia-sia. Oh yap, buku ini pun menjadi yang terbaik dari segi plotting, untuk ukuran fantasi lokal yg pernah kubaca, well-done
Sekarang, kita masuk ke pertanyaan dan pernyataan gw untuk bbrp hal:
1. Haston, ini kan nama orang (seorang jenderal). Gw agak bingung dengan 'negeri' ini, kok lu gak ngasih nama buat wilayahnya? Di bukunya lu Cuma nyebut wilayah/negeri Haston, well ini gak gitu jadi masalah sih..
2. Tentang adegan final protagonis utama ngelawan antagonis utama, gw rada kurang puas dengan cara elu mengeksekusi adegan itu buat muncul. Terlalu biasa, padahal bisa dibuat lebih dramatis lagi. Kalo gw yg bikin
TFH, gw akan menceritakan si protagonis membangun Tirevr dan menempatinya sedemikian lama, sampe akhirnya keberadaannya diendus oleh si antagonis yg (ceritanya) sedang mengadakan suatu ekspedisi perjalanan menuju suatu tempat yg gak jauh dari Tirevr. Nah di situ si antagonis seperti biasa, menantang seseorang dari desa untuk duel one by one, dan keluarlah si protagonis dengan gagah berani dalam rangka membela desanya heuheu. Jadi effort si protagonis buat melawan si antagonis akan kerasa lebih mengesankan, karena disitu ia melindungi orang-orang yg
dicintainya, terutama Amelia. Well, itu versi imajinasi gw sih
3. Naming! Fabian is way too pretty for a warrior name. Serge dan Helmut, itu dua nama super-keren buat ukuran pendekar, bahkan mengalahkan image Kain dan Seth gw heuheu. Gw langsung bisa membayangkan keperkasaan mereka sekali denger namanya. Tapi Fabian? Agak-agak gimanaaa gitu, apalagi dalam bukunya lu bikin dia sebagai penerus Serge dan Helmut, dan sekaligus sebagai si 'penantang' antagonis utama. Tak bisakah mencari nama lain yg berkesan lebih jantan dan perkasa? ^-^
4. Peta, ini mutlak kudu ada kalo bukunya terbit. Lu udah bikin kan? Gw pusing nyimak strategi Anthravai & Thorsti di bab 24, tapi untung strategi itu pada akhirnya mubazir, heuheu ![]()
(eniwei, daripada Serge dan Helmut, gw lebih suka Anthravai & Thorsti)
5. Ada beberapa kalimat yang salah/kurang kata tuh... tapi ini kayaknya udah dikoreksi si Fred kan?
6. Kritik utama: masalah pendeksripsian adegan perang yg berulang-ulang sama, yg dulu gw nyatakan terlalu standar karena cuma ngomongin jumlah pasukan dan emosi sang pemimpin pasukan, ternyata ke belakangnya masih
tetap begitu heuheu. Waktu awal-awal baca gw liat daftar isi ada judul bab kayak 'Perangkap Helmut', gw udah ngebayangin bakal seru banged tuh disitu, pasti ada strategi perang keren khas villam, eh tauknya itu pun masih strategi standar-_-"
Tapi oke lha, setelah baca keseluruhan buku, adegan-adegan standar ini tertolong dengan plottingnya yang terencana sangat matang, sehingga naskah ini menjadi sama sekali tidak membosankan. Ada banyak adegan mengharukan dan mengesankan dalam naskah ini, kayak 'Bunga di Atas Perahu', 'Kenangan Terakhir', 'Quazar dan Ksatria', dan subplot-subplot menarik kayak Kuil Ksatria, pembangunan desa Tirevr. Gw nyembah-nyembah salut dah, sekali lagi.
Adegan Fabian pertama kali yang jaman dulu gw bilang membosankan, sekarang udah lu modif jadi menarik, salut itu ide Bunga di Atas Perahu-nya, bener-bener mengesankan heuheu.
Beres baca TFH, gw percaya naskah ini akan (harus!) terbit suatu saat nanti, bagaimanapun dan apapun caranya [biggrin]
Gw malah jadi gregetan dengan selera penerbit sini, mereka terus berkoar-koar belum ada dan gak bakalan pernah ada naskah sini yang setara LOTR, atau tentang keburukan/kepayahan penulis lokal yang cenderung mengadopsi setting luar bukannya milih setting lokal, namun ketika ada naskah anak bangsa yang kualitasnya sedikit-banyak mengimbangi panutan mereka–LOTR (TFH, dengan segala kelebihannya, gw berani bilang setara dengan buku pertama LOTR), dengan tololnya mereka menolak naskah itu dengan penilaian dangkal mereka, dan malah
menerbitkan naskah-naskah sampah yang gak layak baca. Gw udah baca 2 naskah kolosal ‘pilihan’ para penerbit sini yang ‘konon’ mirip LOTR, tapi apa yang gw dapat? Membosankan dan bikin ilpil. Sial, apakah standar dan selera gw sedemikian spesifiknya di sini sampe-sampe cuma gw sebagai pembaca yg ngerasa gregetan ginih TFH gak diapprove penerbit, sementara Ledgard yang ke-kolosal-annya konyol begitu bisa terbit dan sampe diagungkan oleh banyak pembacanya? ???
Ini bener-bener suatu kesalahan, sangat salah dan sangat bodoh. Menyedihkan [ranting]
Dari sini gw jadi sepakat dengan omongan si Jeff dulu, Tolkien, kalo idup di indonesia dan mengirimkan LOTR-nya hari gini ke penerbit sini, bisa jadi gak bakalan pernah terbit, boro-boro meledak. ;D
Masih pantas lha kalo mereka menolak naskah gw yg emang punya segudang cacat, tapi TFH? Ini ketololan yg tak bisa dimaafkan, dan kayaknya Cuma elu sendiri yang bisa menghadapinya, bro. Kalau memang udah gak ada
jalan buat TFH, self publishing patut dicoba, setidaknya lu udah punya nama di k.com & pulpen, tinggal merambah ke komunitas-komunitas penulis lainnya aja buat promosi. Tapi ketebelan naskah juga bakal jadi kendala utama, sih.
Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed), silakan gunakan thread ini untuk promosi kalau nanti diterbitkan, dan jangan ragu buat minta bantuan dari gw ke depannya nanti, selama gw bisa membantu, i’ll be here to support you always, villam my good friend ^-^
Salam Pedang!
Note: TFH kalo di word, dengan patokan jenis huruf news roman spasi 1,5 ukuran 12, itu brp halaman sih? Jangan jawab pake jumlah kata pliss, itu sama sekali tidak menunjukkan jawaban jelas >_<
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 12:02:30 pm
________________________________________
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 11:41:06 am
Gw terkesan dengan effort lu dalam menggarap TFH ini selama bertahun-tahun (yg hasilnya–yaitu versi yg gw baca–bener-bener worthed)
Kalau gw, terkesan dengan effort rey dalam menggarap review-nya TFH selama berjam-jam (yg hasilnya–yaitu versi yg dikirim ke tret–bener-bener rapi & jelas kalimat maupun idenya).
Wkwkwk! Peace ya, bro! ;D
Salam pedang juga, ah!
[tab::Hal 4]________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 12:48:28 pm
________________________________________
Gw bikin repiu itu cepet kok fred, secara gw nulisnya dalam keadaan bersemangat abis baca novelnya heuheu..
Kalo menurut lu, Ledgard ama TFH bagusan mana?
Kalo kudu dikasi nilai dari skala 1-10, ledgard brp TFH brp? [biggrin]
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:08:28 pm
________________________________________
Susaaah… :-\
Ledgard, meski banyak kelemahannya, buat gw ada keunggulannya pula. TFH juga gitu.
Kalau secara overall (seluruh aspek novel), kayaknya emang TFH nilainya lebih baik.
Tapi, secara aspek komersil (“menjual”), Ledgard yang menang.
Harus minta pendapat orang ketiga (om pur) nih. ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 01:15:12 pm
________________________________________
iyahhh setuju, kemasan Ledgard memang jauh lebih komersil daripada TFH, dan ini yg bikin gw sebel.
Kualitas harus selalu dikorbankan dan kalah dengan komersialitas (eh emang ada kata ini
).
Itulah kenapa hari gini sinetron indo kian menjamur, dan serial barat jadi makin sedikit tayang di indo :-\
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 01:21:47 pm
________________________________________
Kalau gw boleh menduga-duga (ya boleh lah!), TFH belum dapat penerbit karena sisi komersialitasnya itu.
Buat para penerbit, ada sesuatu di TFH yang membuat novel itu gak bakalan laku kalau dilempar ke pasar.
Apaan tuh?
Kalau komen gw ke villam sih, itu dari segi plotnya. Plot TFH terlalu lurus dan kurang intrik.
Kalau villam berani ngasih twist sedikit aja (khususnya di bagian2 ending), pasti nilainya langsung berubah. [bigwink]
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 01:47:29 pm
________________________________________
heheheh…
akhirnya lengkap juga tiga orang dah ngasih repiew TFH. (sebenarnya ada satu orang lagi nih yang udah dikasih draftnya: si serpentwitch. Sayang dia dah gak pernah nongol lagi
.
dan ada juga satu orang lagi sebenarnya…
but eniwei, om pur, fred, dan rey, thank you very much!
gue udah catet semua masukan-masukannya. ide-ide baru udah menari-nari di kepala, dan dalam waktu dekat bakal gue mulai proses revisi berikutnya. bakal ada penambahan dan perubahan muatan sebanyak kira2 20%.
seperti usulan fred contohnya, gue emang mau kasih beberapa twist tambahan di tengah dan terutama akhir cerita. ada subplot yang rencananya baru kebuka di buku selanjutnya, tapi memang lebih baik dibuka lebih cepat di buku pertama. ini emang bener2 kesalahan gue, yang kurang memberikan teaser yang sebenarnya sudah ada tapi belon digali.
masih belon yakin sih apakah itu berarti ceritanya bisa jadi lebih ‘menjual’ sesuai dengan selera penerbit atau kebanyakan pembaca (ini bener-bener ukuran yang sangat sangat sangat sulit bagi gue, secara selera gue emang banyak bedanya dibanding mereka), tapi paling gak gue berusaha agar ceritanya jadi kelihatan lebih baik.
sebenernya selain beberapa kelemahan itu, ada satu hal sih, yang terutama bikin penerbit ketakutan. yaitu panjang cerita, dan karena ceritanya adalah bagian dari cerita panjang yang belon selesai. Coba bayangin aja, jika penerbit harus memilih dua cerita: satu pendek dan satu panjang, tentunya dia merasa lebih aman buat nerbitin cerita yang
pendek. apalgi kalo penulisnya masih pemula dan belon dikenal.
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
ntar di cover depan ditulis: Go Green. biar kesannya kita lagi ngehemat kertas (halah…).
tapi emang gitu kok kenyataannya: lebih hemat kertas, cuma 100 lembar dibanding 400 lembar. hahaha… buat ngetes…
yeah, intinya… buat terus ngebakar semangat agar tidak padam.
yuk terus menulis.
salam pedang!
(buset. gue mesti siapin bahasa elniri buat istilah ini!)
________________________________________
Post by: fr3d on August 19, 2008, 02:10:22 pm
________________________________________
Tentang tebel naskah, kalau villam emang yakin TFH punya “sesuatu yang lain”, rasanya 400 hlm masih bisa dimaklumi deh sama penerbit. (*sotoy mode: on*)
“Sesuatu yang lain” inilah yang harus digali dan ditonjolkan jelas2, biar para penerbit itu bisa langsung ngeliat.
Eniwei, selamat merevisi ria! [thumbsup]
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
________________________________________
Plot TFH yg berkesan lurus tanpa intrik buat gw gak ada masalah, dan bukan kekurangan. Waktu tauk gaya kolosal TFH, terus terang aja gw jadi inget The Hobbit, salah satu buku fantasi yg berplot lurus dan mirip-mirip plot TFH. Tapi tunggu… kita liat juga plot buku pertama LOTR, bisa dibilang gak ada intrik juga kan? Plot twist-nya ada dimana
coba? Pengkhianatan Boromir? Penyergapan Orc? Gak ada kali ye, tapi cukup enjoyable plotnya buat gw tuh [biggrin]
Ledgard emang sarat intrik, tapi buat gw intrik-intriknya gak napsuin, somehow
Gw lebih suka model plot ‘ngalir’ kayak TFH ginih buat fantasi mah. Well kalo mau bikin intrik, idealnya jangan setengah-setengah memang, ini yg susah gw penuhin di novel fantasi gw sendiri pun. TFH membuka mata gw kalo novel tanpa intrik pun bisa jadi
memikat.
Kalo menurut gw kenapa penerbit takut buku ini gak laku, itu yg pertama dan terutama karena ketebalannya. Ledgard bisa terbit karena dia beruntung dikirim beberapa tahun lalu, waktu naskah fantasi belum terlalu familir di mata penerbit lokal, jadi bisa dianggap cukup langka, dan udah gitu isinya gak jelek-jelek amat pulak. Kalo sekarang mah,
nanti dulu deh [biggrin]
Kedua, setting & naming yg gak user friendly/kurang ‘universal’. Buat gw sih, Anthravai, Elniri, Hadjuk, Hotas, itu nama-nama keren yang amat orisinil. Tapi buat orang laen? Bisa jadi aneh, terlalu ajaib dan gak enak dibaca.
Ketiga, penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak.
Quote
dan rey, ente nanyain kalo di word pake times new roman 12 spasi 1,5. karena total ada 100 rebu kata, dan biasanya satu halaman ada 250 kata, ya berarti total ada 400 halaman.
ga bisa diukur gitu juga ah, kata ‘di’ dan kata ‘dipertanggung-jawabkannya’ sama-sama terhitung 1 kata, tapi bobotnya
beda bangedd
Quote
terus terang dengan tampilan tebal dan gahar macam gini, para penimbang naskah juga pasti takut buat mulai baca. makanya kepikir juga, ntar gue mau kirim keluar dari format pakem, misalnya kirim dengan format A5 (separo A4) dengan huruf yang lebih enak dibaca, dengan spasi lebih rapat, dan bolak-balik. jadinya tebelnya 400 halaman juga, tapi bolak balik.
jangan dah, kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish.
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: clickdian on August 19, 2008, 03:50:47 pm
________________________________________
#Mas Pur,
Thank you so much buat review Zaurinya!! m-_-m
Udah kubaca bbrp hari yg lalu, tapi belum kukomen, gak sempet.. kerjaan kantor lagi numpuk, maaf ya.. [biggrin]
sekalian ntar sama pertanyaan fred dulu deh.
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 19, 2008, 05:22:41 pm
________________________________________
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
penempatan dunia pihak antagonis di awal-awal buku yg dijabarkan terlalu ‘biadab’ dan prolog yang kurang menjual. Nah buat penulisnya, supaya lebih aman, kayaknya ada baiknya adegan Fabian dimajukan di bab 1, dan bagian Anthravai baru digeser ke belakangnya. Bah tapi kayaknya timeline-nya tak memungkinkan yak.
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
tapi betul, pertimbangan utama gue tetep bertahan dengan alur begitu adalah timelinenya. gue gak mau banyak-banyak bikin adegan flashback. lebih menyenangkan alur maju. konsekuensinya harus ada trik supaya bab
awal sekarang bisa lebih menarik. hmm…
Quote from: BloodSin on August 19, 2008, 03:19:22 pm
kalo lu emang niat menerbitkan TFH via penerbit, mending lu cari nama dulu via Gerbang Sungai Tigris/Batu Delima Terakhir, gw liat dua naskah itu cenderung lebih ‘aman’ dan gampang buat masuk ke penerbit. Nah nanti kalo misal dua judul itu laku, naskah mau setebel apapun macam TFH, penerbit udah gak bakal ragu lagi buat nge-publish.
betul. cobain nembus lewat cerita laen dulu. tapi revisi TFH juga tetep jalan, sebelum ide-idenya menghilang.
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…
________________________________________
Post by: Amru_Yozar on August 19, 2008, 07:08:31 pm
________________________________________
@ juunishi master, piethitam & Fr3d
Hm.. mungkin kita harus menyepakati dulu apa yang dimaksud dengan cerita *fantasy*. Memang dalam wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Fantasy) disebutkan bahwa:
/Fantasy is a genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element of plot, theme, and/or setting. Fantasy is generally distinguished from science fiction and horror by the expectation that it steers clear of technological and macabre themes, respectively, though there is a great deal of overlap between the three (collectively known as speculative fiction).
/yang artinya:
/Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
/
Berdasarkan pengertian di atas, gwe rasa, cerita fantasi nggak harus secara penuh mengandung unsur sihir, tapi bisa bentuk kekuatan supernatural lain. Selain itu unsur fantasi nggak harus ada di plot, tema, serta setting secara kesuluruhan, tapi pada elemen tertentu saja.
Kalo Juunishi nganggep kemampuan Elektra nyetrum orang agak mirip ama fenomena manusia magnet yg bisa bkn sendok dll nempel di badannya sih boleh-boleh aja. Tapi apa semua orang bisa ngelakuin hal itu? Enggak kan? Jadi baik kemampuan/abilty nyetrum orang atau nempelin logam ke badan, menurut gwe adalah salah satu bentuk kekutan supernatural, gak harus sihir doang.
Kemudian, apabila apa yang kita rencanakan, tulis, atau impikan terjadi di dunia nyata, gw rasa itu bukan “kebetulan” tapi “takdir”. Dan “takdir” atau seolah-olah “kebetulan” itu seringkali menjadi elemen penting dalam cerita fantasy. Di HEROES, satu karakter dengan karakter lainnya bertemu dan saling terkait karena mereka di-”takdir”-kan oleh
sang penulis, sebagai Tuhan dalam cerita, untuk begitu.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: bjvadis on August 19, 2008, 08:36:22 pm
________________________________________
review untuk the forgotten heroes (tfh): jangan sampai ini menjadi ‘the forgotten novel’ seperti nasib novel2 fantasi indonesia di rak2 toko buku gramedia… sebel juga waktu nggak dapat zauri pas mau beli. Sang penandaipun sudah menghilang (untung sudah beli pas setelah launching). kebagian cardan tapi kehabisan enthirea.
soal naskah:
contoh: naskah fireheart buku 1 yang diketik pakai times new roman uk.12, 1 1/2 spasi dan kertas a4 jadinya 303 halaman (bhs indonesia).
soal naming:
dalam beberapa hal justru g pernah dikritik oleh para kritikus maniak fantasi dari amrik karena pakai nama-nama yang terlalu ‘umum’ macam robert, carolyn, christopher dsb. tapi perlu diinget juga walaupun bikin nama2 yang unik, harus konsisten sesuai dengan wilayah negara yang dimaksud, jadi berikan ‘karakter’ bagi negara2 tersebut lewat nama-nama
orang di sana. kalau fireheart saya memang jiplakan dari benua eropa di dimensi berbeda, jadi nggak heran kalau yang dari escudia (spanyol) nama2nya hernan y parvaez, arcadia (perancis) carolyn deveraux atau talbot dubois, valanis (italia) pakai andreas marvellini, parthenia (yunani) pakai eidos crydias atau nikanomikos paliades etc.
soal jalan cerita:
dari prolognya nggak jauh beda dengan cerita-cerita fantasi yang diposting di kemudian.com lainnya. mungkin kalau mau saya review lebih detail bisa kirimkan sinopsis (rancangan cerita) dari awal sampai akhir supaya saya dapat gambaran lebih jelas. biasa, di andrychang-at-gmail-dot-com
kesimpulan:
just go on, rd! pe-de aja, kirimkan segera naskah kamu ke penerbit kalau memang sudah selesai 1 buku. gak usah terlalu tanya kiri-kanan, toh nantinya juga pada akhirnya editorlah yang akan menilai (dari sudut komersialnya). nanti kan kalau sudah terbit yang saya baca tinggal yang matengnya aja. membanggakan juga kalau ada 1-2 orang lagi ‘alumni’ dari kemudian.com dan pulau penulis yang karyanya diterbitkan. just go on and – seperti kata naruto – never give up, that’s my way of the ninja!
________________________________________
Post by: BloodSin on August 19, 2008, 11:28:13 pm
________________________________________
Quote
betul, fred. dan ‘sesuatu yang lain’ itu kudu dimunculin di bab-bab awal, dipelihara di tengah, dan diselesaikan di akhir. oke deh!
hmmmm ‘sesuatu yang lain’ di lemures gw apa yah? Palingan gaya bahasa mautnya ;D
Quote
huh. gue pikir yang versi sekarang ini udah berkurang ‘barbarik’nya dibanding yang gue kirim setahun yang lalu. ternyata masih tetep terasa biadab yak? hahahah…
Yang sekarang sih emang udah rada mendingan daripada yg dulu. Tapi tetap aja bagian awal-awalnya itu bakal jadi ‘anti-tema’ buat psikologi orang indo kebanyakan, apalagi di mata penerbit. Penerbit itu biasanya gak sabaran, baru baca beberapa bab awal, udah langsung mengecap keseluruhan novel itu kayak gimana. Gw kira penerbit yg dulu nerima kiriman TFH Cuma baca beberapa bab awal TFH aja (taroan deh, pasti gak bakalan ada yg baca ampe tamat), dan langsung ngecap isinya murni tentang gerakan invasi bangsa barbar dengan penggambaran yg barbar pulak, begitu terus sampe tamat.
Padahal TFH kan gak gitu, dan ternyata kehidupan biadab itu cuma terjadi di pihak antagonis. Terkait materi novel, gw kira setiap penerbit punya alarm warning yang jauh lebih sensitif daripada alarm para penulis: dan warning ini biasanya mencakup tema-tema tabu semacam SARA, politik, kekerasan, sampe seks. Di TFH, alarmnya berbunyi nyaring pas Anthravai sebagai tokoh sentral (sejauh cerita bergulir) ngebelah kepala Yergai ;D
Quote
hmm… begitu banyak ide, begitu sedikit waktu buat menulis. hehe…
Gw bener-bener sirik dengan orang-orang yg kepalanya selalu dipenuhi berbagai ide, secara gw ini penulis yg miskin ide! Payah dah, padahal gw rajin baca novel, baca artikel wikipedia, nyimak berita di TV/koran, knp masih mentok ide?
Itulah kenapa revisi gw gak kelar-kelar, sekalipun udah dibantu om pur, sejauh ini baru 10% yang tergarap, ini menyedihkan sekali dan benar-benar nohope
Quote
Cerita fantasi adalah genre yang menggunakan sihir dan bentuk supernatural lain sebagai elemen utama plot, tema, dan/atau setting. Fantasi secara umum dibedakan dengan sains fiksi, dan horor yang secara jelas mengetengahkan tema teknologi, dan menakutkan. Meskipun begitu terdapat tumpang tindih diantara ketiganya (secara seluruhnya disebut sebagai fiksi spekulatif)
Astaga, kalo gitu berarti Lemures gw sama sekali bukan fantasi ![]()
Soalnya gw gak ada sedikitpun pake magic, dan elemen supernatural lainnya dalam plot/tema/settingnya. Lha kalo gitu kenapa gw ada di sini? Kenapa gw bisa jadi TS untuk thread penulis fantasi?
________________________________________
Post by: clickdian on August 20, 2008, 09:35:44 am
________________________________________
To: Villam
Kalo kasusnya kayak begini, tiap kirim ke penerbit, lampirkan rangkuman cerita keseluruhan dari sudut pandang penulis. Kasih tau kalo tokoh utamanya bukan si A, tapi si B. Review juga aspek2 lain selain battle, misalnya romans, ato (kalo ada) filosofinya. Everything, lah! Tapi bukan sinopsis singkat ya, bener2 rangkuman kayak dulu jaman kita
sekolah dulu disuruh guru Bahasa Indonesia baca novel dan bikin rangkumannya. Ini sebagai tindakan jaga2 kalo editor keburu males baca bab2 awal dan berniat ngelempar ke tong sampah, ada sisipan yg menceritakan isi keseluruhan novel. Siapa tau aja dia jadi berubah pikiran. ;D
________________________________________
Post by: cheppy70 on August 20, 2008, 10:26:08 am
________________________________________
Definisi yg lebih workable untuk fantasy adalah: penggunaan setting alternatif (alias bukan setting yang kita hidupi sehari-hari ini) untuk mendeliver cerita. Istilah kerennya, alternate reality.
Kenapa alternate reality ini menjadi suatu daya tarik? Karena kita selalu punya keinginan untuk ‘hidup’ dalam kehidupan yang berbeda dengan yg kita jalani sekarang ini. Dan setting Fantasy membuat keberbedaan itu
menjadi lebih kuat/ nyata/ kontras.
Pada alternate reality, menjadi sebuah spekulasi yang ‘menggairahkan’ untuk tahu bagaimana manusia bertindak, bagaimana bereaksi terhadap situasi-situasi unik. Misalnya aku bayangin diri menjadi Bima (nya Mak-mak), apa reaksiku jika tiba-tiba saja Malioboro menjadi ‘senyap’? Woow, gile banget konsepnya etc-etc. ![]()
Jadi bukan sihir atau teknologinya yang ‘matters’, melainkan bagaimana
‘alternate reality’ itu kemudian mendrive cerita.
So, dalam setiap novel fantasy, setting alternate reality itulah yang menjadi panggung utama. Dan tentunya yg namanya panggung ya harus kuat dan kokoh. Kalo ringkih, baru buat goyang ngebor sekali aja langsung roboh.
Kita sering banget kejebak pemahaman yg salah kaprah tentang Fantasy (atau Sci-Fi), bahwa sebuah karya sudah dikatakan Fantasy kalau mengandung elemen yg ‘khayal’i.
Jadi kalo masih memakai setting kehidupan yang here and now, sebuah novel hardly dikatakan sebagai Fantasy sekalipun mengandung seorang tokoh yg mampu ‘menyihir’, misalnya. Karena belum tentu kemampuan sihir
itu menjadi setting, bisa-bisa aja cuma tempelan sebab sang penyihir ternyata (masih) bereaksi sebagaimana orang-orang kebanyakan, dan cerita mengalir dengan interaksi antar tokoh sebagaimana kehidupan sehari-hari kita aja.
Juga kalo alternate realitynya masih ngga terlalu jauh dengan kehidupan nyata (masih memungkinkan terjadi di dunia nyata), maka nilai fantasy-nya menjadi turun. Sebagai contoh novel lanang, (bukan mo ngajak berantem orang
tapi mumpung bagus dijadikan contoh aja
). Adanya burung babi hutan, menghadirkan elemen fantasy (soalnya gak mungkin ada binatang kayak gitu). Tapi setting rekayasa genetik yang menimbulkan penyakit sapi, atau setting karakter para tokoh yang ga hitam putih bahkan psikopat, pengembangan konflik dalam cerita, semuanya masih bisa
terjadi di dunia nyata, sehingga dalam hal itu novel ini tidak tergolong cerita fantasy. Nah, kita bisa lihat bahwa dalam kondisi ini, keberadaan satu elemen fantasy tidak membuat novel tersebut menjadi Fantasy.
Nah menurut gue sih, Lemures termasuk dalam Fantasy karena mengandung setting alternatif yg bukan di setting kita sekarang ini. Kenapa PG gak gue anggap fantasy, sebab PG berlangsung dalam setting kita sekarang, walaupun ada sedikit-sedikit bagian yang menyentuh alternate reality, tapi gak dominan.
Salam,
FA Purawan
[tab:Hal 7]________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 11:30:05 am
________________________________________
sedikit komen tentang yang ini.
mungkin dengan adanya burung babi hutan, Lanang bisa dimasukkan kedalam
genre fantasy, tapi fantasi ngawur, asal-asalan n tidak logis.
kenapa? karena untuk dapat terbang, selain membutuhkan sayap yang lebar,
bentuk fisiologi mahluk itu harus segitiga dengan bagian runcing didepan
(entah sudut yang mana terserah, pokoknya bukan bagian sisi). fungsinya
adalah untuk membelah udara. pada burung yang berfugsi demikian adalah
paruhnya, sedangkan pada pesawat, adalah hidungnya. memangnya moncong
babi hutan bisa membelah udara? lha wong bentuk tubuhnya bundar bukan
segitiga.
trus ekor, ekor disini harus lebar karena digunakan untuk mengatur
tekanan udara diatas tubuh dan dibawah tubuh, sehingga bisa membuat
burung atau pesawat menambah atau menurunkan ketinggian. ekor ikal babi
hutan bisa begitu?
anehkan? jelas aneh! mungkin si pengarang tidak tahu teori-teori yang
berhubungan dengan terbang.
________________________________________
Post by: fr3d on August 20, 2008, 11:59:38 am
________________________________________
Tambahan lagi, secara biologis burung juga punya kantong udara.
Rupanya makmak juga udah keseret dalam arus lanang-melanang… ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:06:25 pm
________________________________________
@amru,
ane kirim draftnya via email, bos…
@vadis,
tentang novel2 fantasi indonesia yang menghilang, itu bukan karena habis, tapi sudah lewat masa tayangnya di toko buku. gue yakin masih ada tuh stoknya di penerbit (yang memang menganaktirikan buku2 fantasi lokal dan malas mempromosikannya lagi).
tentang TFH, setelah melewati masa perenungan (halah), penting bagi gue untuk tanya kiri kanan dan gak sekedar maen kirim doang. Alhamdulillah kalo ternyata bisa langsung terbit memang, tetapi hanya sekedar ‘diterbitkan’ bukanlah tujuan utama gue. gue pengen itu bisa jadi karya yang baik dengan tetap berciri gue (ini penting buat gue), dihargai banyak orang walau mungkin tidak semuanya suka, juga tidak sekedar memenuhi selera ‘layak jual’ dari sang
editor/penerbit sesaat. terlalu idealis? untuk TFH, iya. tapi kalo untuk cerita2 gue yang lain, gue bakal lebih fleksibel.
@rey n dian,
gue dulu udah bikinin juga kok sinopsis buku dan sinopsis per bab. Tapi memang, kudu belajar lagi buat bikin itu supaya jadi lebih menarik. mesti ditambahin gambar-gambar juga kayaknya. hahahah…
@all,
kalo boleh ada kuda terbang semacam pegasus (yang gendut dan gak punya kantong terbang pulak), kenapa tidak boleh ada babi terbang?
jawabannya mungkin ada di setting cerita. apakah sang penulis bisa membuat percaya pembaca atau tidak, terserah apakah melalui setting negeri dongeng, setting teknis-teknis science fiction, atau setting dunia alternatif yang surealis.
(aku gak ikutan lanang-melanang karena aku gak nyebut-nyebut la–ups!)
________________________________________
Post by: MakMak on August 20, 2008, 01:24:26 pm
________________________________________
pegasus, Sphinx, naga versi asia timur sebenarnya adalah mahluk yang secara fisiologi tidak mungkin bisa terbang. masalahnya, mahluk-mahluk itu sudah terlanjur melegenda, jadi apa mau dikata? mau protes juga kepada siapa?
sedangkan burung babi hutan itu sepertinya kreasi original. dengan ilmu kedokteran hewan dan ilmu penerbangan yang sudah semaju ini, masak ga bisa bikin mahluk fantasi yang lebih logis? ingat setting Lanang adalah di Bumi, bukan alternate universe jadi paling enggak harus sedikit mengikuti rules dan hukum-hukum alam yang ada di bumi (kalau mau dibuat melenceng, harus disertai penjelasan khusus). kalo setting-nya di alternate universe, mau bikin mahluk yang seperti apa saja silahkan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on August 20, 2008, 01:44:59 pm
________________________________________
lha justru itu kita gak akan protes (walaupun gak dilarang juga buat protes) karena di belakang makhluk2 ajaib itu ada setting legenda yang telah dibangun dengan sedemikian rupa, dan bukan hanya mereka makhluk2 aneh di dalam legenda tersebut. yang bikin pembaca atau masyarakat jadi percaya betapapun anehnya itu.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
November 17th, 2008 at 10:24 pm
villam, dokumentasi ffdn kok cuma sampe sesi 29 sih? Agustus 2008 lagi… Waktu itu aku kan belum gabung di lautan (aku gabungnya per september), jadi postingan2ku gak kemuat donk????
Piye ki jal?? Diposting donk keburu lautan eror lagi!
November 18th, 2008 at 7:37 am
hahahah… iya, dejong. ini memang salah satu utangku.
utang lainnya misalnya yang bikin katalog novel fantasi itu. dan juga banyak rencanaku yang lain, yang semuanya belum terealisasikan.
waktu yang kupunya buat ngerjain itu semua masih sangat sedikit, jadi sekarang baru bisa prioritas menyelesaikan draft-draft novel yang masih telantar.
tapi jangan khawatir, aku udah simpen semua tulisan di tret FFDN dari dulu sampe sekarang kok. buat jaga-jaga seandainya kapalnya karam, aku dah punya backupnya.
December 15th, 2008 at 11:03 am
Bapak yang baik.wuakakakkaka
mocca_chi’s last blog post..Semangat Hidup Dari Tunas Daun Hijau
December 15th, 2008 at 11:06 am
aku cuman tukang sapu kok… hehe…
December 15th, 2008 at 2:09 pm
tukang sapuin para sampah yang OOT? hah kurasa tidak :p
mocca_chi’s last blog post..No Mood For Today
December 15th, 2008 at 2:49 pm
tukang sapu yang malas… heheh…
yang selalu bermimpi bisa terbang,
tapi sejauh ini baru bisa lari-lari di landasan…