[tab:Hal 1]Sesi V (8 Feb 2008 – 3 Mar 2008)

  • Review Goran oleh BloodSin
  • Frogs karya hege
  • Fantasi tetap harus logis
  • Tentang science fiction
  • Cahaya Bulan karya clickdian
  • Konferensi Hantu Sedunia karya alk
  • Tanggapan atas review Goran

[tab:Hal 2]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:43:50 pm
________________________________________
Gw udah beres baca GORAN, dalam hitungan 4-5 hari.

Dan inilah repiu yg udah gw janjikan (Karena buku ini ‘berkesan’ banged buat gw, gw bikin repiu-nya rada beda ama yg kemaren2 ;) ):

Judul buku: GORAN-Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Genre: Fiksi Fantasi
Tebal: 335 halaman

Secara general, GORAN adalah sebuah novel dengan plot kompleks yang dieksekusi dengan gaya bahasa sederhana namun cerdas (paragraf antar paragraf gampang dimengerti, plus disisipi lelucon2 ringan yang menghibur). Mengambil setting 3 dunia, dengan 3 tokoh utama, Goran rasanya punya 3 anak plot, yang baru dipertengahan buku melebur jadi 1 plot raksasa.

Nah, sekarang kita masuk ke elemen2 detailnya:

Opening, dibuka dengan plot Aniki Kodama, tokoh utama pertama dengan sifat-sifat ajaibnya. Opening ini lumayan manis, walau di sini pengarang belum terlalu kelihatan gilanya.

Plot. Ide utamanya adalah tentang perpindahan portal waktu dan dimensi ala Chrono Trigger dan Chrono Cross, dengan medium orang sakti. Makin masuk ke dalam cerita, makin gila si pengarang bercerita. Beberapa scene terasa kacau nian, tapi tetap saja kreatif dan masih masuk jalur logika. Pokoknya seru dah.

Setting. Inilah kelebihan utama novel ini: settingnya ada 3 dunia. Setting dunia hari ini, dunia ‘futuristik’, dan dunia masa lalu. Gw terutama salut sama pengetahuan dan kreatifitas pengarang yang notabene cewek tentang dunia persilatan Cina Kuno, yang digambarkan cukup detail dan realistik.
Satu2nya setting karangan dia mungkin adalah setting ‘futuristik’ planet Vida. Kehidupan barbar para Theft Ryder digambarkan dengan baik sekali, ide advanced technology-nya keren dan unik, plus penggambaran yang matang untuk kesenjangan sosial antara Theft Ryder dan kaum borguic yang jadi ide utama settingnya.

Karakterisasi. Ada 3 tokoh utama (dan beberapa tokoh pendukung favorit gw):
-Aniki Kodama, si tukang tidur yang cuek abis, disini gw rasa pengarangnya kepengaruh berat dari manga2 jepang. Dia mewakili setting dunia hari ini, dieksekusi dalam kehidupan remaja jepang. (mirip cerita2 si kokonoka)
-Orphann, theft ryder barbar yang punya pemikiran-pemikiran aneh. Dia mewakili setting dunia ‘futuristik’, planet vida.
-Xin Ai, cewek gendut manja yang jago silat dan strategi. Dia mewakili setting masa lampau di Cina, yang masih terkondisi sebagai dunia persilatan dan perjodohan :D .
-Panglima Sam, ini karakter favorit gw! Karakter antagonis yang selalu bernasib malang.. gw selalu ngakak kalo baca scene2 dia..
-Guru Besar, yang ini kebagian porsi kecil di plot, tapi emang berkesan banged bagi gw. Salut berat buat pengarang yang udah ngebikin tokoh seantik begini. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
-Soil, cewek botak (yang semula gw kira cowok) temennya Orphann yang cerdas.
-Onatsu, emaknya Aniki yang punya karakter keibuan banged…
-dan sebetulnya masih banyak lagi karakter pendukung, yang emang diperlukan dalam cerita..(maksudnya keberadaannya bukan asal tempel)

P.O.V (kalau gak tau ini apaan, belajar dulu sana sama bang Villam!)
Tereksekusi dengan sempurna! Villam, i think u’ll love this book, karena emang ‘ente banged’. ;)

Endingnya, parah. Tega nian, padahal di sepanjang jalan cerita, sama sekali gak ketebak endingnya bakal begitu..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Apakah Serambi mensyaratkan ending model begitu untuk naskah2 yang masuk ke meja redaksi? (Endingnya sama persis sama ending Sang Penandai(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif) )
Tapi gw salut banged, emang mendingan ending kaya begitu daripada ‘ending bagus’ tapi tidak berkesan sama sekali. Makna endingnya lumayan dalam, dan ngebikin gw berpikir ngejelimet di akhir kalimat ending. :D

Kekurangan novel ini mungkin terletak pada masalah editing; ada banyak struktur kalimat rancu n ‘semau gue’ si pengarang. Tapi gaya bahasanya emang kreatif, gokil, dan simple. Ada beberapa ‘kalimat berbahasa gaul’ yang tau2 muncul di tengah2 kalimat formal, mungkin pengarangnya lagi mabok pas ngetik di situ. Tapi berhubung plotnya sendiri udah gila dan mengalir banged, rasanya kerancuan-kerancuan yang ada bisa ditolerir..

Menuruti standar gw, GORAN dapet poin 5 dari 5, dan menjadi yang terbagus dari lebih dari 10 judul fantasi lokal yang pernah gw baca. Highly recomended buat semua anak sini, yang mau belajar bahwa sebetulnya genre fantasi bisa dieksekusi segokil mungkin tanpa harus keluar dari kekuatan fantasi itu sendiri. Salut berat buat pengarangnya*!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)

*)Setelah baca Goran gw jadi naksir berat sama pengarangnya** nihh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif) (serius, pengarangnya gokil mampus (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)), tapi apa daya yang bersangkutan tidak meninggalkan jejak apapun di buku selain namanya..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif) Mau donk kenalan..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)

**)Pengarangnya cewek***, entah udah tante2 ato masih ABG.. yang jelas gaya bahasa novelnya mengingatkan gw sama gaya bahasa satu member sini (dulu)..

***)Namanya Imelda A. Sanjaya…. dari namanya kayanya cewek cakep nihh****(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)

*****) Oke deh, kayaknya gw kudu berhenti sampe sini, sebelom ngelantur terlalu jauh..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)

[tab:Hal 3]

________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:45:19 pm
________________________________________
Guys n Gals, selain GORAN, kemaren gw ngebaca satu judul fantasi lokal laennya di kemudian.. yg kayaknya masih ditulis oleh penulis pemula sama kaya kita. Judulnya The Rohriant (id penulisnya: codenameKEY), yg ngebikin gw kecele mampus karena skill menulis gw gak ada apa2nya dibanding skill dia.. The same case terjadi waktu gw baca CO** (M.S), Sang Penandai(Tere Liye) n Goran (Imelda Sanjaya).. gw merasa begitu kerdil, tulisan gw cupu nian, dangkal, gak berbobot.. kalo dibandingkan sama karya2 mereka. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)

Sial, ada banyak penulis fantasi lokal berbakat di luar sana, yg bahkan mungkin sekaliber Rowling/Tolkien. Personally, gw frustasi berat karena gw nyadar seorang diri gw ibarat kecebong di tengah2 samudera yang berisi ikan2 predator gede (gw selalu demen pake metafora ini, walaupun pada faktanya gak ada kecebong yang idup di laut(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))

But secara nasionalis (dalam dunia fantasi lokal maksudnya :P ), gw seneng karena genre fantasi mulai berkembang di sini.. Hmmm.. gw percaya genre fantasi punya masa depan cerah di indonesia berkat penulis2 berbakat kayak mereka.. Apa daya kalaupun gw gak bisa berdiri sejajar di antara mereka, at least naskah gw bisa terbit buat berpartisipasi aja di dalam wadah yang sama… itulah tekad gw sebagai penulis fantasi lokal nan cupu.. how about u, friends? ;)
________________________________________
Post by: hege on February 27, 2008, 10:39:01 am
________________________________________
F.R.O.G.S.

Tiga ekor kodok sehat dengan pipi merona merah sedang bersantai selonjoran di pinggir kolam. Mereka adalah kodok-kodok yang luar biasa beruntung, kalian pasti tahu kenapa—ada banyak sekali saudara-saudara, kawan, bekas tetangga, buyut, kerabat atau sepupu jauh mereka sedang dibedah dan dikuliti di luar sana.

Mereka adalah sahabat karib, masing-masing bernama Rodi, Joni dan Sam. Rodi dan Joni bersaudara beda ayah (ibu mereka punya banyak sekali suami sehingga tak ada yang tahu persis yang mana ayah untuk anak-anaknya). Sementara Sam dulunya tinggal di rawa-rawa di selatan Inggris sebelum angin topan atlantik mengangkatnya tinggi-tinggi ke atmosfir dan melontarkannya ke Asia.

“Kalian lihatlah ke langit!” seru Rodi, dialah kodok yang paling gemuk dan paling berotot di antara ketiganya, di depan mereka tersedia seloyang besar lalat dan nyamuk goreng balado. Joni menjulurkan lidahnya dan menyambar seekor lalat yang kaki-kakinya mencuat kaku ke udara.

“What in the world I must look at the sky!” protes Sam, meski dia sudah belajar bahasa Indonesia selama dua tahun dari para sahabatnya, dia masih sangat bangga menjadi warga negara Inggris dan sedang mencari-cari cara untuk kembali ke negerinya.

“Ada awan berbentuk donat!” seru Rodi berbinar-binar. “Kalian pasti terpesona.”

“Itu tidak mungkin!” koak Joni, lalu ia mendongak ke langit, matanya melebar. “Tidak pernah ada awan berbentuk donat sebelumnya. Awan itu bentuknya selalu tidak karuan. Tapi yang satu ini merupakan keajaiban alam.”

“Menakjubkan!” kata Rodi.

“Fantastic! Terrifically marvelous,” gumam Sam, yang akhirnya mendongak.

“Bentuknya mulai berubah, wahai saudaraku!” jerit Joni beberapa saat kemudian. “Menurutmu kenapa awan donat sempurna tadi berubah bentuk? Sekarang mulai tak begitu seperti donat.”

“Itu karena ada raksasa yang memakannya,” ujar Rodi yakin. “Kita tak bisa melihat raksasa yang kumaksud, kata ibu, raksasa yang tak nampak ini memakan awan-awan dan memuntahkannya kembali menjadi hujan dan petir.”

“Oh that’s full of nonsense!” kata Sam menggeleng. “Itu karena angin yang membuatnya berubah bentuk, it always be that way. Angin di langit sangat kencang, lebih kencang dari apa yang kalian bayangkan. You knew exactly what the hell happened with me, didn’t you? Angin serupa membuatku melayang-layang di stratosfer!”

“Aku heran kenapa kau tidak mati saja saat itu,” kata Rodi, “kau mulai meracau lagi!”

“Otaknya tidak beres,” sahut Joni, mendukung saudaranya.

“Whatever!” gumam Sam kalem.

Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/94838

[tab:Hal 4]

________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 28, 2008, 09:11:18 am
________________________________________
Kalo di fantasy, makin ga logis makin bagus. Tapi yang susah tuh daya khayalnya kudu kemana-mana.
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 28, 2008, 09:18:56 am
________________________________________
hehe…
biarpun fantasi tetap harus logis dunk…
maksudnya, harus ada alasan atas setiap kejadian, juga harus ada alasan untuk setiap tingkah laku karakternya, betapapun anehnya itu.
alasan2 itulah yang dimaksud logis, yang kudu dibedakan dengan imajinatif/tidak imajinatif.
setiap cerita, apakah itu teenlit ataupun fantasi, tetap harus logis dan sekaligus juga imajinatif (membuat pembaca terbayang-bayang… halah).
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 29, 2008, 11:31:52 am
________________________________________
Ngomong2, aku masi agak bingung ama definisi scie-fi ama fiksi fantasy.
Aku udah baca reply yang di depan tapi aku butuh contoh konkritnya.
Kebetulan crita baruku ini agak mirip city of angel gitu dech (udah pada nonton kan? ;) )
Jadi ntar ada sosok tokoh yang bukan manusia tapi diturunkan di dunia untuk nolong dua orang tokoh utamaku. Ntar mereka bakal mengarungi alam pikiran manusia and cari tahu problem psikis apa yang diderita ama dua tokoh utamaku ini.
Btw, ni termasuk apa ya?
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 29, 2008, 02:02:41 pm
________________________________________
thalia,
ceritamu itu bisa dimasukkan ke dalam genre fantasi. fantasi tentang dunia alternatif yang kita diami sekarang.
sementara kalo science fiction, menurutku adalah merupakan bagian juga dari genre fantasi, yang menitikberatkan pada spekulasi penulisnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi di masa kini atau masa datang.

Nah untuk membuat ceritanya dapat dipercaya maka penulis itu melakukan riset mendalam terhadap ilmu pengetahuan / teknologi tersebut (misal : genetika, komputer, kendaraan, persenjataan, ruang angkasa, bawah laut, dsb), dan hasil spekulasinya dipamerkan pada pembaca, entah berupa science fiction murni, atau bisa juga digabungkan dengan jenis fantasi lainnya, seperti fantasi dunia alternatif ceritamu, atau fantasi dunia lain yang penuh dengan makhluk-makhluk menakjubkan dan lain-lain.

kalo buatku, penulis science fiction yang paling kusuka tetaplah Jules Verne (1828-1905), yang menulis : Journey to the Center of the Earth, From the Earth to the Moon, 20000 Leagues Under the Sea, Around the World in 80 Days, Mysterious Island.
dan film science fiction yang paling kusuka adalah trilogi Back to the Future.
hehehe…

[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: clickdian on March 01, 2008, 03:47:31 pm
________________________________________
Guys…
Aq post sebagian dari cerpenku ya.. tolong komennya, kalau berkenan, dan mohon dimaklum kekurangannya karena penulisnya masih belajar. :)
Buat yang udah baca Zauri, pasti familiar dengan scene ini, walau dari point of view yang berbeda. Dan oh, maaf cuma sebagian. Kalo terlalu banyak kasian yang nggak minat baca, liat postingan yg kepanjangan ;D

Cahaya Bulan

Rasanya baru saja kurebahkan tubuhku ketika tiba-tiba saja aku terbangun lagi. Langit-langit kamar hampir tidak terlihat karena kristal cahaya dimatikan, tetapi sinar bulan masuk lewat jendela sehingga di sekitar lantai—terutama di tempat tidur Regia—masih terlihat walaupun remang. Aku sendiri bercahaya, tetapi tidak seberapa.

Aku memutar tubuhku di atas bantal yang kugunakan sebagai alas tidur. Dari tempatku sekarang—di atas bupet kayu di tepi ruangan. Kulihat Regia tertidur menghadap ke jendela, dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya di sana, tertimpa temaram sinar rembulan.

Setelah sekian lama menjadi temannya, sejak dari kami masih di istana sampai sekarang kami berkelana, baru kusadari kalau Regia benar-benar cantik. Di luar dugaan, kristal mungil yang menempel di keningnya membuatnya bertambah cantik, terutama sekarang. Kristal berwarna ungu muda transparan itu berkilauan. Aku bangkit dengan susah payah dan duduk. Debu-debu cahayaku bertaburan di atas bantal seiring gerakanku, lalu jatuh dan menghilang.

Tubuhku masih sakit sekali rasanya, sejak pertempuran kami dengan Mario. Awalnya seluruh tubuhku terasa sakit karena hangus terkena api Mario, dan tak bisa digerakkan untuk waktu yang sangat lama. Setelah beberapa minggu, pada malam hari, aku bisa duduk seperti ini, walaupun masih terasa nyeri dan kaku. Entah mengapa aku lebih nyaman bergerak setelah matahari terbenam. Apakah itu karena aku peri, aku tidak tahu. Aku belum lama jadi peri, jadi tak punya jawaban untuk ini.

Hmm.. sayapku agak terlipat di tepinya. Aku memutar badanku untuk membetulkan ujung sayapku. Tidak terlalu sulit, ini sering terjadi dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. Tiba-tiba aku mendengar suara lirih dari arah tempat tidur.

“Dios…”

Aku menoleh ke arah Regia. Lagi-lagi ia mengigau. Sudah berapa lama sejak kepergian pemuda itu, ya? Satu bulan? Atau lebih? Aku sering sekali melihat Regia melamun sejak Dios pergi—yah, kami semua seperti itu, tapi ialah yang paling sering melamun. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu ke mana ia pergi.

Sebutir air mata meluncur di pipi Regia.

next…. on http://www.kemudian.com/node/96104

[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: alk on March 02, 2008, 02:42:24 pm
________________________________________
8) ehem… satu tambahan post lagi dari cerita Ghost vs Aliensku…
buat yang ga ada kerjaan, silakan menebak hantu-hantu apa sih yang deskrispinya aku kasih ‘italic’…
;D ;D ;D
KONFERENSI HANTU SEDUNIA

Zephyr melayang, menembus dinding, memasuki bangunan tua itu tanpa semangat. Ia hantu, itu jelas terlihat dari ektoplasma keperakan yang merupakan wujud tubuhnya. Sosoknya yang berwujud anak-anak membuat banyak hantu lain melecehkan atau tak mempedulikannya. Namun, satu dua hantu yang mengenalnya tampak mengangguk hormat kepadanya. Ia membalas anggukan hormat itu dengan lambaian tangan acuh.

Zephyr hidup jauh lebih lama dari kebanyakan hantu di bangunan itu. Ia sudah hidup lebih dari delapan ratus tahun, hampir sembilan ratus tahun malah.

Betapapun, ada beberapa hal yang tak pernah berubah tentang Zephyr. Ia masih tetap berwujud roh bocah kecil, sama seperti delapan ratus tahun yang lalu. Ia juga masih tak bisa mengingat bagaimana ia menjadi hantu, atau bagaimana ia hidup sebelum menjadi hantu.

Nama Zephyr sendiri adalah pemberian dari seorang hantu kuno yang ditemuinya di Athena. Nama itu berarti angin dari barat. Tapi Zephyr sendiri tidak tahu apakah ia sebenarnya berasal dari barat, atau dari timur, atau malah dari selatan. Ia tak pernah bisa mengingatnya.

Zephyr terus melayang perlahan, melewati beberapa kelompok hantu, menembus dinding, menjelajahi bangunan itu tanpa arah.

Bangunan itu adalah sebuah bangunan kuno di Transylvania, tempat yang memunculkan kisah Count Dracula, sang vampir penghisap darah. Malam ini, bangunan itu adalah bangunan paling berhantu di seluruh penjuru dunia. Ribuan hantu berada di sekitar bangunan itu, sebagian kecil di dalam, sebagian besar di luar.

Malam ini adalah sebuah peristiwa luar biasa bagi para hantu. Selama sebulan lebih, energi aneh menarik mereka dari segenap penjuru dunia untuk datang ke tempat itu. Para hantu yang sudah berusia lebih dari limaratus tahun, termasuk Zephyr, tahu apa artinya itu, undangan untuk Konferensi Hantu. Hantu-hantu yang berusia di bawah itu kebanyakan datang mengikuti nalurinya saja. Tentu saja ada juga banyak hantu yang tegas-tegas tidak mengindahkan hal itu, entah karena ragu, terlalu angkuh, atau karena takut akan jebakan.

Zephyr sendiri datang, jauh-jauh dari pedalaman hutan di Zaire, meninggalkan penelitiannya tentang suku Afrika disana, karena tertarik pada aura yang dikeluarkan untuk memanggil mereka. Jelas sekali baginya bahwa yang mengeluarkan undangan itu memiliki energi hantu yang sangat kuat, jauh lebih kuat darinya, dan juga mungkin jauh lebih tua darinya. Ia melayang-layang mencari sumber energi ini tapi belum juga berhasil menemukannya.

Menjelang tengah malam…

“Saudara-saudariku, para hantu dari seluruh pelosok dunia.” Tiba-tiba terdengar suara bergetar aneh. Bahasa hantu. Bahasa yang secara alami langsung dipahami oleh semua hantu di dunia.

“Selamat datang di Konferensi Hantu Dunia yang ke tujuh. Akulah, Asmodeus, yang mengundang kalian semua kemari.” Suara itu kembali terdengar. Kali ini para hantu yang berada di luar bisa dengan mudah menemukan sumbernya. Asmodeus, sang pembicara, berada di puncak kastil kuno itu, menjulang tinggi, tegap dan berpendar keemasan.

Nama Asmodeus yang disebutkan sosok itu menimbulkan bisik-bisik riuh dari para hantu yang berada di situ. Ratusan hantu yang berada di dalam bangunan segera melesat keluar dan bergabung dengan mereka yang sudah di luar.

“Asmodeus, harusnya aku sudah menduganya,” Zephyr menggumam. Ia mengenal nama itu. Nama sesosok hantu yang berusia sudah lebih dari dua ribu tahun. Hantu yang lebih sering dikenal dengan sebutan Lord. Hantu terkuat yang posisinya disejajarkan dengan Mephisto, sang Raja Iblis.

“Malam ini, ditempat ini akan diadakan Konferensi Ketujuh Hantu Sedunia. Adapun hal yang akan dibicarakan disini adalah situasi kita yang semakin memburuk akibat ulah manusia,” Asmodeus berseru lantang.

Zephyr langsung mendengus sinis. Tak punya kreatifitas para hantu ini, begitu pikirnya. Hal yang dibicarakan dalam Rapat Besar malam ini dan Rapat Besar limaratus tahun yang lalu sama saja. Limaratus tahun tanpa perkembangan sama sekali.

“Benar. Ulah manusia membuat situasi hidup kita jadi semakin sulit!” Sesosok hantu berucap. Ia sangat jelek. Bulu panjang tebal menutupi sekujur tubuhnya dan mulutnya tebal dipenuhi gigi-gigi besar.

“Sekarang ini sulit sekali bagi kita untuk menunjukkan kebanggaan diri kita sebagai hantu. Kita harus terus menerus menyembunyikan diri. Kalau tidak, segerombolan pendeta sialan pasti akan datang dan langsung mengeksorsis kita,” ucap hantu itu.

Zephyr menyeringai. Sejak dulu, eksorsisme atau pemusnahan hantu adalah hal yang paling menjadi momok bagi para hantu. Bangsa manusia dalam hal satu ini sama tidak kreatifnya dengan para hantu ini. Sejak dulu cara eksorsisme yang mereka lakukan ya itu-itu saja, tak ada perkembangannya.

“Juga pabrik-pabrik sialan bangsa manusia itu,” sambung sesosok hantu cantik berjubah kelabu yang suaranya melengking, menyayat menyeramkan. “Asap dan limbah pabrik sialan itu mengacaukan fungsi rohku ini. Polusi yang mereka ciptakan tak baik bagi kesehatan kita, bangsa hantu.”

Zephyr mendengus meremehkan. Kesehatan? Hantu mengeluhkan kesehatan? Mereka itu sudah mati, apanya yang punya kesehatan.

“Sejak dulu sudah ditentukan kalau terangnya siang adalah bagian manusia sementara kegelapan malam adalah bagian kita. Tapi sekarang, cahaya memenuhi segenap penjuru kota sekalipun sudah tengah malam. Bangsa manusia yang kemaruk itu telah menjajah hak kita,” tambah sesosok hantu kuno Mesir yang entah kenapa sepertinya terjebak dalam balutan panjang kain kafan.

Kembali Zephyr mendengus meremehkan. Siang buat manusia, malam buat hantu? Sejak kapan hal itu diputuskan. Ia tahu bahwa banyak hantu yang karena begitu tololnya telah mengikuti jejak para iblis, sangat takut dengan cahaya matahari dan selalu menyembunyikan diri waktu siang. Hal yang sangat bodoh. Sinar matahari sama tidak berbahayanya dengan sinar bintang bagi para hantu.

“Kita harus bertindak untuk mengatasi hal ini saudara-saudara!” Sesosok hantu kecil berkepala botak plontos dan cuma memakai cawat berkata. “Kita lawan bangsa manusia! Kita rebut hak kita!” serunya bersemangat.

“Dan bagaimana caramu untuk melawan manusia?” Suara tenang sesosok hantu dari Jepang yang berjubah pendeta dan berhidung sangat panjang menanggapi, mendinginkan semangat mereka yang mendengarnya.

“Manusia sudah berkembang biak terlalu banyak. Mungkin berjuta-juta kali lebih banyak dari jumlah kita semua dikumpulkan. Tidak sedikit dari mereka yang mengenal cara-cara eksorsisme. Melawan mereka adalah bunuh diri yang sia-sia belaka,” ucap hantu itu dengan lagak bijak.

Zephyr menyeringai setengah setuju. Ia menyetujui seluruh perkataan pria tua itu kecuali bagian ‘bunuh diri’nya. Hantu sudah mati, mana bisa bunuh diri. Melenyapkan diri mungkin lebih tepat.

“Kita bisa mulai dengan bersatu lalu menyerang, merasuki dan menghantui satu kota. Merubah kota itu menjadi milik kita.” Si hantu botak tak mau menyerah begitu saja. “Kita bisa merebut satu kota dalam satu malam.”

“Ya. Dan malam berikutnya kita semua musnah karena bangsa manusia pasti akan langsung mengirim pasukan pendeta pemburu hantunya untuk menghancurkan kita,” cemooh sesosok hantu penunggang kuda yang menjinjing kepalanya sendiri.

Dan satu jam berikutnya dipenuhi debat yang tak beraturan dan tak berkesudahan tentang hal itu. Tempat itu dipenuhi riuh suara para hantu, semuanya berbicara bersamaan. Zephyr merengut sebal. Ia sudah berniat untuk beranjak pergi saja dari tempat itu. Sama saja dengan limaratus tahun lalu, pikirnya kesal. Pasti akan berakhir mengambang lagi.

Tapi tebakan Zephyr itu ternyata salah besar. Tepat sebelum ia beranjak pergi, Asmodeus yang dari tadi diam saja mendadak membuka suara…

“Perhatian saudara-saudariku kaum hantu…!!” Suara menggelegar ini langsung membungkam suara semua hantu di situ.

“Aku mengusulkan suatu pemecahan masalah bagi kita,” Asmodeus berkata lagi, tegas dan angkuh. “Ada sebuah dunia lain yang tidak dihuni satu hantupun. Dunia itu jauh lebih nyaman dari dunia kita sekarang ini. Usulku, kita semua berpindah masuk ke dunia itu.”

Sesaat suasana hening…

“Anda tidak sedang membicarakan dunia akhirat kan?” Sesosok hantu wanita dari pulau Jawa memberanikan diri bertanya. Ia berambut riap-riap, perutnya berlubang dan baju putihnya dipenuhi bercak darah.

“Bukan, bukan akhirat,” Asmodeus langsung menjawab tegas. “Dunia yang kusebut itu nyata dan benar ada. Aku sudah melihatnya sendiri. Ada yang tidak mempercayaiku?”

Semua hantu terdiam. Meragukan Asmodeus tak pernah terlintas di pikiran sebagian besar dari mereka. Bagi sebagian kecil yang ragu, mereka tahu bahwa tidak bijaksana mengemukakan hal itu terang-terangan pada hantu sekaliber dia.

“Di dunia itu ada manusia?” Sesosok hantu bertanya, memecah kesunyian. Sosoknya yang mengenakan topeng ice-hockey dan memegang gergaji mesin, tampak sangat menyeramkan.

“Tidak ada manusia dan tidak ada hantu,” Asmodeus menjawab tegas.

“Tapi ada makhluk lain?” Zephyr akhirnya membuka suara, menyimpulkan.

Asmodeus menatap Zephyr dengan tajam selama beberapa saat. “Ya,” akhirnya ia menjawab. “Ada makhluk-makhluk aneh yang di dunia ini dianggap dongeng di dunia itu. Tapi mereka sama sekali bukan masalah bagi kita.”

“Jadi kau berpikir kita bisa kesana, menginvasi dunia itu dan merebutnya untuk kita kaum hantu?” Zephyr berkata lagi.

“Itu memang tujuanku,” Asmodeus menjawab tegas. Kharisma yang dipancarkan hantu ini bisa membuat ciut nyali semua hantu lain, tapi tampak tak berpengaruh sedikitpun pada Zephyr.

“Kaubilang disana tak ada hantu kan? Apakah kau yakin bahwa itu tidak disebabkan karena semua hantu disana telah dieksorsis?” Zephyr dengan kalem bertanya lagi.

“Aku yakin,” Asmodeus berkata. “Sudah dua bulan aku meneliti disana. Aku sudah memperlihatkan wujud di depan banyak makhluk. Tak ada satupun yang mengenaliku sebagai hantu. Aku sudah menangkap, menyiksa dan memaksa seorang peri untuk menceritakan sejarah dunia itu. Tak ada satupun legenda yang menyebutkan tentang eksorsisme hantu.”

Zephyr mengerutkan kening. Ia tahu bahwa hantu itu tak berbohong. Beberapa hantu yang sudah cukup tua, termasuk dia sendiri, bisa memadatkan ektoplasmanya dan memegang benda benda. Tentu saja itu juga berarti mereka bisa memukul dan menyakiti makhluk lain. Walaupun begitu, Zephyr tak menyukai kekerasan. Siksaan jelas-jelas bertentangan dengan sifatnya. Namun ia menahan diri dari keinginan untuk berkomentar sinis. Ia malah terus bertanya, “Kalau begitu, apa rencanamu dengan makhluk-makhluk yang tinggal disana?”

“Sudah jelas kan? Kita akan mengusir mereka,” Asmodeus menjawab sinis. “Kalau perlu kita akan memusnahkan mereka. Kita tak bisa mengambil resiko mereka berkembak biak seperti manusia dan menghancurkan kita dengan eksorsisme.”

Terdengar suara riuh menyambut ucapan itu. Sebagian setuju, sebagian lagi menentang.

“Diam semua…!!” Asmodeus membentak. Wajahnya berubah jadi beringas dan menakutkan.

“Aku mengajak kalian ke sana demi kepentingan kita juga. Yang setuju denganku dan bersedia mengikuti keinginanku silahkan tetap disini. Yang tidak setuju, silahkan menyingkir dari sini dan membusuk di dunia ini.” Asmodeus berkata dengan ketegasan tak terbantahkan.

Zephyr mendesah sedih. Ia sangat ingin melihat dunia yang disebutkan Asmodeus itu. Tapi, ia benar-benar anti kekerasan. Merampas dunia lain dan mengusir atau memusnahkan penghuninya sama sekali tidak sesuai dengan gayanya.

Dengan muram Zephyr melayang meninggalkan tempat itu diikuti sejumlah hantu lainnya. Tapi mereka yang masih tinggal ada banyak, sangat sangat banyak.

[tab:Hal 7]

________________________________________
Post by: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
________________________________________
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 03:51:38 pm
________________________________________
@didie sy, teman baruku…
kok malah mempertanyakan apakah om blood membaca buku GORAN ataw tidak? hehehe…
aku sendiri belum baca, tapi menurutku wajar jika ada pembaca yang pendapatnya berseberangan, satu positif, satu negatif.
gak mungkin semua suka, atau sebaliknya semua gak suka. harry potter aja ada yang gak suka dan yang gak suka, apalagi buku yang lain.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 04:09:02 pm
________________________________________
Quote from: yuzuriha on March 03, 2008, 02:58:02 pm
lia……………
gak tau kanapa tiba2 aku jadi capek banget nulis dan berpikir………
padahal semua masih terangkum rapi di otakku padahal deadline novellet nyata tgl 29 maret……. :’(
aku gak bakat kali yah?????
hehe…
yuzu, jika masalahmu adalah capek, ya beristirahatlah.
jika masalahmu karena tiba2 gak bisa nulis padahal semua udah ada di otak, mungkin coba dengan lebih fokus, jangan mikirin hal lainnya.
tapi jangan sampai menyalahkan si ‘bakat’ ya… hehehe…
Tuhan sudah menganugerahkan ‘bakat’, pasti ada tujuannya. tapi sebenernya ada yang lebih penting daripada bakat, yaitu ‘usaha’.
barangkali ‘usaha’ kita buat belajar dan menulis belum terlalu kuat. masalah yang sama selalu dihadapi setiap penulis kok, tapi sebenarnya kita udah tau jawabannya. cuma melakukannya yang sulit.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled