Namaku Satryo, seorang polisi—sementara ini sebut saja begitu—dan aku harus menginterogasi seorang bocah pagi ini. Seorang gadis berusia tiga belas tahun bernama Tiara. Penyebabnya: ia tiba-tiba meracau di kelasnya kemarin sore. Gadis itu berteriak, “Pak Presiden akan mati ditembak besok malam!”

Terkejut, sudah pasti itulah reaksi pertama guru dan teman-temannya, karena saat itu suasana kelas tengah hening; seluruh siswa sedang sibuk mengerjakan tugas mereka: esai sepanjang satu halaman dengan topik ‘Indonesia 2045: 100 Tahun Setelah Kemerdekaan’. Rencananya, esai yang terbagus nantinya akan dikirim ke Istana Kepresidenan, dan bakal dibacakan langsung oleh Pak Presiden, pada acara khusus malam hari tanggal 16 Agustus 2045.

Malam nanti.

Kalau bocah itu benar, Pak Presiden akan mati malam nanti.

Jadi, tentunya para guru dan siswa tidak hanya terkejut. Mereka ketakutan.
Penyebab pertama, tentu saja karena kata-kata gadis itu tak pantas diucapkan oleh para siswa di sekolah tersebut, sekolah unggulan paling unggul di Indonesia. Mereka adalah generasi terbaru pemilik otak paling cerdas di negeri ini, dan cerdas berarti tak hanya pandai berpikir, tapi juga pandai bertindak dan berbicara. Dalam interpretasi resmi pemerintah, itu berarti mereka harus bisa bertindak dan berbicara ‘pada tempatnya’. Setiap pelanggar peraturan akan ditindak tegas.

Penyebab kedua, ini bukan pertama kalinya Tiara berlaku ‘gila’ seperti ini. Pada beberapa kejadian sebelumnya, di tengah-tengah pelajaran ia pernah tiba-tiba tertawa-tawa sendiri dan berceloteh seolah-olah kerasukan makhluk halus. Untungnya, serangan tersebut tak pernah berlangsung lama; lima menit adalah waktu terlama Tiara kehilangan pribadi normalnya. Walaupun demikian, ada yang percaya, bahwa perilaku menyimpang gadis itu memang memiliki arti. Bahwa ia adalah cenayang, orang yang memiliki indera keenam untuk meramal masa depan.

Maka bisa jadi, Pak Presiden memang akan mati malam nanti.

Dan untuk meyakinkan hal itu—meyakinkan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi—dengan mengabaikan sejumlah rekan yang jauh lebih senior di Paskhat (Pasukan Khusus Anti-Teroris), Komandan menugaskan aku untuk menjemput dan menangani Tiara.

“Bapak seorang cenayang?” kepadaku gadis itu bertanya, setelah ia membisu selama hampir satu jam, sejak kuciduk dari sekolah sampai sekarang berada di ruang interogasi.

Aku menegakkan tubuh lepas dari sandaranku, dan mendekat, begitu mendengar suaranya pertama kali, yang terdengar begitu merdu di telingaku. Benar kata orang, selain cerdas melebihi teman-temannya, Tiara seorang gadis yang manis sebenarnya, baik paras maupun perilaku, jika ia sedang normal, saat ia benar-benar seperti bidadari kecil yang sempurna. Aku melihatnya sekarang. Aku mendengarnya.

Gadis berambut hitam panjang itu duduk di hadapanku, terpisah oleh sebuah meja kayu persegi berukuran dua kali dua meter. Hanya ada kami berdua di dalam ruangan. Rekanku yang cerewet dan tidak sabaran baru saja kusuruh keluar, dan mungkin itulah yang akhirnya membuat Tiara mau berbicara.

Ia hanya mau berbicara padaku.

“Bukan, Tiara.” Aku menggeleng sambil tersenyum, berusaha berkata selembut mungkin. “Tetapi aku banyak berteman dengan mereka. Aku bisa mengenali mereka. Aku paham, dan percaya pada apa yang mereka lihat; tidak seperti orang lain. Karenanya, kau bisa percaya kepadaku. Kau tidak usah takut.”

Gadis itu menatapku sesaat, tajam menusuk, lalu menunduk. Bibirnya yang bergetar tampak saat ia mengangkat wajahnya lagi. Ia menggeleng. “Tidak.”

“Kenapa? Kukira, hanya denganku kau ingin bicara.”

“Betul. Tetapi, itu karena…” Tiara melirik ke kiri dan ke kanan; sudah pasti ia paham ada polisi lain yang mengamatinya dari balik dinding-dinding ruangan.

Dia ketakutan?

Tentu saja dia ketakutan. Bodohnya aku.

Maka aku pun berdiri, menarik kursiku dan mendekat. Kini aku duduk di sebelahnya. Kataku perlahan, “Sekarang, kau bisa mengatakannya. Hanya kita berdua yang bisa mendengar. Katakan padaku, Tiara, apa yang kaulihat kemarin sore.”

Tiara mendekatkan wajahnya, dan aku mengikutinya. Tubuhnya begitu kecil, sehingga aku harus membungkuk sedemikian rupa agar dapat mendengar bisikannya.

“Pak Presiden bukan orang yang baik.” Itu katanya.

Aku tak kuasa tersenyum tipis. Ya, tentu saja, Tiara, kataku dalam hati. Hampir semua orang berpendapat sama. Tetapi tentu saja pula, tak satu pun yang berani mengucapkannya secara terbuka.

“Ya, aku tahu.” Aku mengangguk.

“Pak Presiden banyak memenjarakan orang baik,” lanjut Tiara.

Kali ini, jantungku bagaikan berhenti berdetak. Ucapan gadis itu begitu lembut, tetapi terasa dingin dan tajam bagaikan pisau es.

Bukan, Tiara, batinku lagi. Memenjarakan orang itu salah satu tugasku. Begitu mereka melanggar hukum, aku bertindak. Orang baik atau tidak baik, aku berusaha tidak memikirkannya selama ini.

Tetapi, sepertinya aku memang tak mungkin menyembunyikan hatiku dari bidadari kecil di dekatku ini. Entah mengapa, sepertinya aku pun akhirnya menemukan tempat yang tepat untuk mengeluarkan pendapatku yang tidak ‘pada tempatnya’.

Sekali lagi aku mengangguk. “Itu betul, Tiara. Kami banyak memenjarakan orang. Beberapa dari mereka orang baik, dan perintah penangkapannya bahkan langsung dari Pak Presiden. Itu tugas kami. Tetapi tetap saja, kami seharusnya tak melakukan itu.”

Ah, ternyata aku merasa ada sedikit lega setelah mengatakannya. Aku tersenyum pada Tiara, dan gadis itu berusaha membalas, seperti tahu perasaanku.

Ia kini bertanya, “Kalau begitu, apakah aku nanti akan dipenjara?”

“Kau?” Alisku terangkat. “Tentu saja tidak. Aku kan cuma menanyaimu sekarang, cuma ingin tahu apakah kau melihat sesuatu atau tidak.”

“Kalau memang aku melihat itu?”

Jadi kau memang benar melihatnya, Tiara?

Aku tak menanyakan itu padanya. Aku memandangi mata bundarnya yang indah, dan berkata, “Tidak akan terjadi apa-apa denganmu.”

“Kalau benar Pak Presiden nanti mati?”

“Tidak akan terjadi apa-apa denganmu,” jawabku sama. Aku tak bisa menemukan kalimat lainnya.

“Aku takut.” Tiara menunduk.

Aku terdiam.

Lama.

Jawabku kemudian, “Aku akan melindungimu.”

Kupikir bidadari kecil ini akan tersenyum lega mendengarnya, tapi ternyata ia malah menggeleng kecil. “Tidak perlu. Aku nanti pergi saja.”

Pergi? Kemana kau akan pergi?

Tapi aku pun tidak menanyakan itu. Aku bertanya hal lainnya, yang menurut logikaku—dan bukan perasaanku—lebih penting, “Apa yang kaulihat, Tiara?”

Tiara memalingkan wajah saat menjawab, “Pak Presiden mati ditembak, di kamarnya. Aku melihat darahnya.”

“Siapa … yang melakukannya?”

“Aku.”

“Kau?!” Tak sadar aku menarik diri.

Tiara coba menatapku lagi, dan berusaha tersenyum. “Maksudku, aku seperti melihat semuanya, dari … mata sang pembunuh.”

Dari mata sang pembunuh.

Hati-hati aku bertanya lagi, “Siapa saja … yang ada di kamarnya?”

“Hanya mereka berdua.”

Pak Presiden dan si pembunuh.

Aku dan Tiara saling bertatapan beberapa lama.

Benarkah yang dikatakan gadis itu?

Aku berkata, “Jadi, kita tak tahu siapa pembunuhnya. Tetapi paling tidak, kita tahu tempatnya. Aku akan meminta pasukan pengawal menjaga kamarnya lebih ketat nanti.”

“Bapak bisa?”

“Ya, aku bisa. Aku punya akses khusus dengan Pak Presiden, dan pasukan pengawalnya.”

“Oh.”

Aku menatap wajahnya, matanya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan di sana. “Ada yang kaupikirkan, Tiara?”

“Aku … Tidak…” Tiara menggeleng. “Cuma … semoga Bapak baik-baik saja.”

“Terima kasih.” Senyumku melebar. “Aku akan baik-baik saja, Tiara.”

“Bapak benar-benar percaya padaku?”

“Tentu saja, aku percaya. Walau mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

“Ya. Mudah-mudahan …”

Kurasa, masih ada yang ingin dikatakan oleh gadis ini sebenarnya, tapi urung dilakukannya karena tiba-tiba pintu ruang interogasi terbuka, memunculkan kembali sosok Heru, rekanku yang tadi dihindari oleh Tiara.

“Ryo,” panggilnya.

Aku berdiri dan berjalan mendekatinya.

Heru berbisik, “Paman dan bibi gadis itu sudah datang. Mereka akan membawanya pulang, jika kau sudah selesai.”

Aku menoleh ke tengah ruangan. Tatapanku beradu dengan Tiara beberapa saat. Dengan matanya yang indah, dan wajahnya yang polos.

“Dia mengingatkanmu pada … adikmu?” Heru bertanya.

Apa? Adikku?

Aku kembali menoleh, kini menatap tajam ke arah Heru.

“Tidak,” jawabku dingin.

Heru hanya mengangkat bahu, seolah tak merasa bersalah.

Lalu aku mengangguk. “Ya, aku sudah selesai.”

“Jadi dia boleh pulang?”

“Ya, dia boleh pulang. Dan mungkin…” Aku berpikir sebentar. “Kau atur juga penjagaan di rumahnya. Tempatkan dua orang kita untuk berjaga selama dua hari penuh, hari ini dan besok. Kuharap tidak terjadi apa-apa, tapi akan lebih baik jika kita siap. Akan kuceritakan beberapa hal nanti, tapi aku harus menghubungi beberapa orang terlebih dulu.”

“Oke.” Heru mengangguk.

“Tiara,” panggilku.

Gadis itu berdiri, lalu berjalan takut-takut ke arahku. Kupegang lembut bahunya, mencoba meredam getaran tubuhnya.

“Tiara, paman dan bibimu sudah datang. Kau boleh pulang sekarang.”

Gadis itu hanya mengangguk kecil. Aku tak melihat ekspresi kelegaan atau kegembiraan yang kuharapkan begitu aku selesai mengucapkan kalimatku tadi. Wajahnya masih tegang.

“Pak Heru akan mengantarmu keluar,” lanjutku. “Dan kalau kau nanti membutuhkan aku, jangan sungkan-sungkan menghubungiku.”

“Bapak …” Suara lirih terdengar dari mulut gadis itu.

Aku menatapnya.

Ada apa? Kenapa masih ada kegelisahan di wajahnya?

Aku pun sadar, masih ada satu hal lagi yang ingin dikatakan oleh Tiara.

Aku menoleh ke arah Heru, memberinya anggukan kecil. Rekanku itu mengerti dan segera keluar dari ruangan.

Setelah menutup pintu, aku bertanya lagi, “Tiara, tolong, jika kau percaya padaku, katakanlah semuanya. Jangan sembunyikan sesuatu dariku.”

“Aku …”

Aku menunggu beberapa lama, tapi Tiara tak kunjung meneruskan kalimatnya, sehingga aku pun bertanya, “Apa yang kau rasakan?”

“Pembunuh itu …”

“… Ya?”

“Pembunuh itu ada di dekat Bapak.”

Keningku berkerut. “Di dekatku?”

“Pembunuh itu …” Tiara mengatur napas. “…orang yang dekat dengan Bapak.”

Dalam waktu singkat otakku bekerja cepat. Orang yang dekat denganku? Siapa? Aku cukup dekat dengan keluarga Pak Presiden, mulai dari putrinya, pelayannya sampai pengawalnya, jadi … bisa jadi ramalan gadis ini benar. Salah satu dari mereka akan menjadi pembunuh Pak Presiden. Tetapi siapa?

Namun satu hal lain lalu menggangguku. Semua ini terasa sangat kebetulan.

Aku yang ditugaskan menginterogasi Tiara, dan aku pula—orang dekatku, maksudku—yang menurut gadis itu akan terlibat dengan pembunuhan Pak Presiden. Terlalu kebetulan. Jangan-jangan gadis ini cuma mengada-ada.

“Kau tahu siapa orang itu, Tiara?”

“Aku tak tahu …” Tiara menggeleng-geleng. “Aku … tak tahu!”

“Hei, hei, tenanglah.” Aku memegangi kedua bahu gadis itu.

Apa yang terjadi dengan gadis ini? Ia gemetar.

“Tenanglah,” kataku lagi, lebih lembut. “Begini… Tiara, menurutku kau tidak usah memikirkan ini lagi. Sudah cukup untukmu, oke? Biar aku yang membereskannya semua. Dan aku juga telah meminta orang untuk menjagamu dan keluargamu. Jadi kau tidak usah khawatir.”

Gadis itu mendongak, menatapku dengan matanya yang basah.

“Sekarang kau pulanglah, dan beristirahatlah.”

Aku berharap ada kata-kataku yang akhirnya bisa menenangkan Tiara. Aku tidak yakin, bagaimanapun. Saat gadis itu pergi, ia justru kelihatan lebih rapuh daripada saat ia datang.

Gadis istimewa. Gadis malang.

Haruskah aku mempercayainya?

Tetapi setelah selama ini aku mempercayai kata-kata setiap cenayang, kenapa sekarang aku harus tidak percaya padanya? Apa gara-gara gadis itu telah melibatkan aku dalam ramalannya?

Orang dekatku yang akan membunuh Pak Presiden.

Aku menolak. Tetapi aku tahu, aku percaya.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

7 Responses to “Indonesia 2045”

  1. 1
    panah hujan Says:

    =D>

    hehehehehe.. pernah dikomentari dulu ahh..

    malu kalo komentar lagi.. hahahahaha .. ~~

  2. 2
    Villam Says:

    oh aku selalu ingat dengan diskusi kita dulu tentang anak indigo.
    terima kasih lagi lho…

  3. 3
    Bebek Says:

    Kelanjutannya yang mana?

  4. 4
    Restya Says:

    ini maksudnya apa ya? O.o?
    Restya´s last blog ..Breath My ComLuv Profile

  5. 5
    Villam Says:

    uh… iya… udah dibenerin…
    hehe…

  6. 6
    Bebek Says:

    Buat saya penasaran terus. DX

  7. 7
    Villam Says:

    yeah, sejauh ini emang baru itu yang bisa gue lakukan.
    bikin penasaran. hehe…

Leave a Reply

CommentLuv Enabled