Jonathan Strange & Mr Norrell
Posted by: Villam in Review Buku, tags: cerita fantasi, jonathan strange, novel fantasi, susanna clarke
[tab: Hal 1]Oleh-oleh Lebaran saya dari Bandung adalah novel Jonathan Strange & Mr Norrell karya Susanna Clarke, terbitan Bloomsbury 2004 dan pemenang Hugo Award 2005. Dengan tebal 1000 halaman serta berhuruf kecil hingga saya perkirakan novel ini berisi 350.000 kata alias sepuluh kali novel teenlit (hehe…), saya pikir wajar jika sampai sekarang saya baru membaca 200 halaman, betapapun bagus isinya.
[tab: Hal 2]Novel ini mengambil setting mulai tahun 1807 di Inggris, pada masa Perang Napoleon, dan dibuka dengan pertanyaan ‘masih adakah sihir di Inggris?’. Pada masa itu sihir hanya dipelajari oleh para penyihir teoritis, yang sama sekali tidak bisa menyihir. Dan kemudian muncullah Mr Norrell, yang mengklaim bahwa dia adalah praktisi sihir. Di kota York dia meminta para penyihir teoritis itu berkumpul di katedral, dan jika dia berhasil membuktikan sihirnya, maka orang lain tidak boleh lagi menyebut diri mereka penyihir. Di katedral itulah, batu-batu kemudian berbicara.
[tab: Hal 3]Jonathan Strange & Mr Norrell adalah novel pertama Susanna Clarke. Sulit dipercaya memang bahwa ini adalah yang pertama, melihat begitu elegannya kisah ini ditulis, dengan gaya bahasa yang berbeda dengan Harry Potter yang ringan, dan justru mendekati gaya penulis klasik macam Charles Dickens dan Jane Austen. Neil Gaiman bahkan menyebutnya sebagai novel fantasi dengan Bahasa Inggris terbaik dalam kurun waktu tujuh puluh tahun terakhir.
[tab: Hal 4]Mengenai plot atau cerita, saya belum bisa berkomentar berhubung saya belum selesai membacanya. Yang menjadi kelebihannya–selain gaya bahasanya–saya rasa adalah detil backstory yang dibuat Clarke melalui catatan-catatan kaki yang lumayan banyak. Sebagian pembaca mungkin membenci catatan kaki, tapi saya rasa dengan cara ini Clarke berhasil menciptakan sebuah dunia, di mana pembaca menjadi percaya, bahwa dulu memang ada sihir dan komunitas sihir yang nyata di Inggris.
Oke. Sementara, sekian dulu komentar saya. Saatnya saya melanjutkan membacanya dulu sampai selesai.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
February 18th, 2009 at 3:31 pm
OMG! Kamu baca Jonathan Strange juga? Kirain cuma gue yang pernah dengar soal dia. ^_^
Gue juga belum tamat, somehow di bagian belakang, gue agak lost dan males meneruskan. Tapi beneran, emang dia seperti Jane Austennya dunia fantasi. Bahkan kalimat pertama aja udah bikin gue hook untuk meneruskan ceritanya. Penggambaran tentang dunia magicnya juga keren habis. Belum lagi gimana dia bikin cerita tambahan di footnotenya.
Mungkin Susanna Clarke adalah alasan gue menyukai dunia fiksi fantasi dan gue pengen banget nulis kaya’ dia (dan Neil Gaiman, tentunya).
February 18th, 2009 at 3:46 pm
hehe… kamu baca juga rupanya?
aku belon nerusin bacanya lagi tuh, soalnya masih fokus dulu mau menyelesaikan proyek2ku. yang jelas kelebihan clarke memang dalam gaya bahasanya. begitu klasik. kayak baca novel-novel klasik jaman dulu. walaupun memang temponya tidak sekencang novel-novel modern pada umumnya. tapi jadinya memang pas dengan setting waktu dan tempatnya.
btw, neil gaiman udah ngeluarin best-seller baru tuh. the graveyard. tapi gak tau kapan diterjemahin ke basa indonesia.
February 18th, 2009 at 4:26 pm
Iya, temen gue dah beli dan dengan sengaja mamerin depan gue >_<
kayaknya emang gak banyak (atau gak ada) kali ye yang kaya’ Clarke..
February 18th, 2009 at 4:33 pm
udah beli neil gaiman yang baru?!
beli di mana sih? q-books? kinokuniya?
atau pesen lewat amazon?
kalo ada atau enggak yang kayak clarke, gue gak tau.
tapi yang jelas ada sangat banyak penulis fantasi handal di luar sana, para pemenang Hugo Award atau penulis fantasi best-seller lainnya, yang buku-bukunya gak diterjemahkan ke indonesia. seperti gramedia, contohnya, lebih memilih menerjemahkan Twilight daripada karya mereka itu…
February 19th, 2009 at 8:43 am
temen gue titip ma temen yang ke London. ^_^
Tapi setahu gue ada kok di Kino atau Periplus. Pernah lihat soalnya. Gue sendiri belum beli, masih banyak hutangan buku belum dibaca.
Ha ha ha….
Twilight itu kan atas nama bisnis, Villam, bukan atas nama dunia literatur. Hate to say this, tapi zaman susah begini, penerbit manapun bakal menerbitkan apapun yang bakal jadi duit. Including yang kaya’ Twilight gitu….
Gue pernah dengar rencana Jonathan Strange diterjemahkan, tapi gak tahu beneran iya atau gak. Soalnya tebel banget, kan? Emang ada edisi dipecah jadi tiga, tapi gue gak yakin bakal banyak penggemarnya.
February 19th, 2009 at 9:02 am
masih banyak hutangmu yak?
hahah… betul, itu juga pertimbangan kenapa gue jarang beli buku sekarang. soalnya pasti susah nemuin waktu buat ngebaca. begitu ada waktu kosong, gue pasti lebih memilih untuk menulis aja, daripada baca. kalo dulu sih sering, karena gue emang belum memutuskan untuk fokus pada menulis.
pertimbangan bisnis, betul. apalagi gramedia, udah banyak dibicarakan bahwa yang paling dipentingkan oleh mereka adalah segi komersial. itulah kenapa misalnya mereka lebih berani nerbitin teenlit daripada novel fantasi karya penulis lokal. dan kalaupun novel fantasi lokal itu terbit, baunya pun tetap saja teenlit. tentu saja, mereka juga punya alasan. tapi yeah, ini udah pernah dibahas juga di forum, dan juga di sini:
http://www.rdvillam.com/2008/12/menghidupkan-fiksi-fantasi-lokal-2/
dan iya, rasanya kalau jonathan strange diterjemahin, di sini yang beli gak bakalan banyak. penggemar fantasi di sini lebih suka yang tipe ceritanya petualangan dan penuh hal-hal seru. kecuali jika mencoba membuka jalan ke segmen pasar yang lebih luas.
February 19th, 2009 at 10:35 am
Huaduh… liat reviewnya jd pengen liat ky apa Inggris terbaik dalam kurun waktu 70 tahun terakhir ini >.<
Tapi belajar menulis bahasa Indo dgn membaca masterpiece bhs Inggris bisa ga sih? Kalau baca novel terjemahan juga kurang dapat feelingnya. Sementara baca novel lokal rasanya males sekali -__- Bingung harus belajar drmana.
February 19th, 2009 at 11:04 am
kalo menurut gue, buat belajar menulis basa indo, daripada baca masterpiece english mendingan baca novel dg bahasa direct english seperti karya-karya hemingway. itu contohnya. intinya, belajar dari bahasa yang lebih mudah dimengerti maknanya. singkat dan langsung pada intinya. kecuali jika kita memang ingin belajar bahasa.
March 28th, 2009 at 9:37 am
Salam kenal dari Jatim. Aku baru aja selesai baca Jonathan Strange & Mr Norrell, dan menurutku novel ini betul-betul top dari segi imajinasi maupun kebahasaan. Pokoknya seperti ditulis orang-orang di era Austen atau Dickens…memang sih kalo nggak biasa baca buku-buku dengan penceritaan yang panjang dan gaya bahasa yang berpanjang kalam kayak karya mereka, agak pusing juga baca buku yang satu ini.
Tokoh favoritku di Strange adalah Strange sendiri yang seenaknya dan super nekat (sampai membuat dirinya sendiri gila demi eksperimennya…dan kegilaan itu digambarkan dengan sangat noir dan bikin merinding), trus aku juga suka Childermass yang antara baik dan jahat (tokoh abu-abu…tapi justru yang paling ‘lurus’ di antara pembantu-pembantu Norrell yang bejat), dan John Uskglass, yang menurutku nggak baik juga nggak jahat…satu poin yang pasti, Uskglass itu seperti teka-teki yang nggak ada penyelesaiannya.
Simbolisasi yang aku suka di sini…mawar merah-putih di mulut Lady Pole, nama-nama bangunan (Hurtfew, Lost-hope…heheh, bikin merinding lagi), dan gagak hitam yang super fantastis…apalagi waktu adegan lima ribuan buku yang jadi koleksi Norrell berubah jadi gagak Uskglass semua.
Imagery-nya kuat banget (waktu adegan perang-perang Napoleonik, waktu Childermass dapat firasat tentang Faerie, dan waktu Strange mulai gila, misalnya…).
Yang jelas aku masih kepingin baca Ladies of Grace Adieu, karya lain Clarke.
Kalo pengen ngobrolin Strange sama aku, email aja di astridafn@gmail.com
Thanks udah nyebutin buku ini…. ^^
March 29th, 2009 at 3:02 pm
salam kenal, astrida.
kamu salah satu yang berhasil selesai membaca novel ini? hebat. heheheh… karena sampe sekarang aku belum juga selesai… huhuhu… semata-mata karena emang aku belom sempet.
ah, tapi berkat ceritamu ini aku jadi pengen lanjutin lagi sampe selesai…
April 3rd, 2009 at 12:25 pm
Awalnya aku baca buku ini semata-mata karena ingin mengalahkan anggapan umum bahwa orang Indonesia cuma bisa baca buku-buku ringan, semacam teenlit (sampah paling merusak di dunia perbukuan dan pendidikan negeri ini), atau fantasi action dengan ketebalan maksimum 600-700 halaman atau komik-komik tipis Asia Timur yang akhir-akhir ini aku perhatikan di pasaran keragaman dan orisinalitasnya juga semakin tipis…atau mungkin ini cuma di fenomenaku di kotaku yang notabene masyarakatnya belum mampu membaca buku berkualitas.
Waktu akhirnya selesai bulan ini (tiga bulan total untuk menyelesaikannya) ternyata selain kebanggaan bahwa aku bisa mengalahkan persepsi di atas (ketidakmampuan membaca, maksudku), juga ada kepuasan dalam membaca Strange& Norrell.
Selama ini setelah menonton film-film adaptasi karya-karya Jane Austen (Pride & Prejudice, Sense & Sensibility, dsb)
ditambah Charles Dickens (favoritku adalah 8 volume Bleak House produksi Masterpiece Theater yang dibintangi Gillian Anderson-nya The X Files…kamu baiknya nonton nih, jadi kamu bisa ada bayangan tentang ketidakadilan kelas sosial yang diceritakan Clarke di Strange & Norrell),
aku belum pernah betul-betul merasakan ada di medan pertempuran melawan Napoleon Buonaparte bareng Lord Wellington dan pasukan Inggris-nya. Tapi berkat riset mendalam Clarke, aku jadi merasa betul-betul terjun di situ dan melihat rumitnya strategi perang a la awal abad 19.
Yang lebih menarik lagi dari Strange & Norrell adalah tidak ada tokoh yang betul-betul baik dari tokoh-tokoh utamanya. Kalau boleh aku bilang dari sudut pandangku, dua penyihir ini berkembang lebih negatif daripada awalnya. Jadi tidak ada unsur “pertobatan” (redemption) dari keduanya, kecuali mungkin bahwa Strange berusaha menyelamatkan istrinya (Arabella) dan orang-orang lain yang diculik oleh seorang Fairy.
Norrell, yang awalnya sekedar antisosial dan serba rahasia berkembang menjadi penjahat intelektual yang penuh rencana.
Strange, yang awalnya pemuda yang penuh impian dan rencana-rencana, berubah jadi penyihir yang memikirkan ambisi intelektual dan menukar prinsip moralnya.
Sebaliknya Childermass yang dikenal sebagai kaki tangan Norrell justru menunjukkan “inisiatif kebaikan” ketika dia berusaha menolong Emma Wintertowne dan si gelandangan Vinculus. Tetapi lepas dari itu pun, dia masih tetap memanfaatkan Vinculus untuk mendapat “nama” di dunia sihir Inggris.
Jadi, sempatkanlah membaca buku yang satu ini. Detail bahasa dan catatan kakinya sepadan dengan keindahan dunia yang diciptakan Norrell.
Ayo kita berjuang. Kita kalahkan anggapan dunia bahwa Indonesia penuh dengan orang-orang yang “gagap sastra” dan cuma memahami fantasi-fantasi instan.
Emailku di astridafn@gmail.com
April 3rd, 2009 at 1:08 pm
ah… oke… aku coba lanjutin baca nanti.
membaca penjelasanmu mengenai pengembangan karakter tokoh-tokohnya, aku jadi mengerti apa yang membuat novel ini menjadi salah satu novel fantasi terbaik yang pernah ada. betul-betul menarik.
btw, soal suasana perang napoleonik, kayaknya emang udah cukup banyak diangkat di novel-novel ya, baik klasik, modern, maupun fantasi. juga di film-film. kalo novel favoritku dulu sih ‘Count of Monte Christo’-nya Dumas, yang settingnya post-war (cukup mendekatilah…). paling asik baca itu. sementara kalo soal strategi perangnya dan juga kenal jendral-jendralnya (yang bukan fantasi, tentu saja), justru malah gue ngerti dari game komputer lawas L’Empereur. heheh…
September 6th, 2009 at 9:19 pm
wah komentarnya benar2 bikin saya tertohok (hehhe, maklum kadang novel romance ringan dan fantasy instant lumayan buat relaksasi otak) tapi GPU ternyata terbitin juga bukunya, awal2 saya kita trilogy macam TBT, plus pengemasannya mirip TBT dengan memakai box ternyata setelah liat review aslinya, ini buku tebal banget, mungkin langkah GPU supaya ngga terkesan tebal makanya dibagi 3 (kan orang Indonesia umumnya ogah sama buku tebal).
September 7th, 2009 at 1:12 pm
lha? aku malah belon tau kalo GPU nerbitin. belum mampir ke toko buku lagi sih. heheh…
September 14th, 2009 at 8:33 am
Vil, udah kuboyong pulang.
Edisi terjemahan GPU, tiga buku dalam satu paket. Belum sempet kubaca, sih, dan kayaknya bakalan lama baru bisa selesai, tapi udah sneak preview dikit dan kayaknya bakalan bagus
September 14th, 2009 at 12:28 pm
ntar bikin resensinya yak kalo udah baca.
heheh…
September 23rd, 2009 at 9:54 am
sip, vil.
ntar kukasih reviewnya. sekarang sama sekali belum disentuh lagi
September 24th, 2009 at 1:30 pm
okay. ditunggu.
March 16th, 2010 at 8:24 am
Vil, sori berat, setelah enam bulan beli buku itu belum kusentuh lagi. gak tau deh, kayaknya bakalan jadi proyek seumur hidup >.<
March 16th, 2010 at 11:11 am
he… bagus tuh, punya proyek seumur hidup.
June 8th, 2010 at 12:13 am