Karakteristik Kritik Yang Baik
Posted by: Villam in About Critics, tags: kritik cerita, Tips Menuliskembali ke Mengkritik Naskah Fiksi
Jujur. Pendapat jujur adalah yang paling dibutuhkan penulis untuk memperbaiki karyanya. Sebaliknya pendapat bohong dan basa-basi—apakah itu pujian ataupun hujatan semata—hanya akan menyesatkan penulis. Dia tidak menyadari apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan karyanya, dan kalau dia tetap meneruskan kesalahannya itu ujung-ujungnya akan berakhir pada penolakan dan kekecewaan di ajang kompetisi yang sesungguhnya.
Memberi semangat. Terutama jika naskah yang kita kritik adalah hasil karya seorang penulis pemula—duh… kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya juga masih masuk golongan ini—yang pastinya masih banyak kekurangan, dan sebagai penulis dia masih sangat membutuhkan dorongan motivasi. Jika kita memang berniat membantu, buatlah agar dia terus bersemangat menulis dan memperbaiki tulisannya.
Menghormati. Seringkali kita memperlakukan penulis pemula tidak sama dengan cara kita memperlakukan para senior yang kita sudah kenal kemampuannya. Tanpa melihat level dari penulis yang karyanya kita kritik, kita tetap harus menghormati mereka tanpa kecuali, sama rata. Menganggap diri kita lebih hebat dan merendahkan mereka, dengan gaya menggurui atau bahkan membodoh-bodohi, hanya akan membuat perselisihan dan perdebatan yang tidak produktif.
Seimbang. Selain jujur, kita juga harus bisa memberikan kritik yang seimbang. Semakin banyak aspek yang dinilai akan semakin bagus. Apa kelebihannya dan apa kekurangannya, serta apa saja yang bisa diperbaiki, semua juga harus disampaikan. Kadang memang, kita begitu terpesona, tapi bahkan karya yang sedemikian bagusnya juga tetap masih ada celahnya, karena memang tidak ada sebuah karya manusia yang sempurna.
Mudah dimengerti. Sama saja dengan saat kita membuat cerita, yang harus bisa dimengerti oleh pembaca, demikian pula kritik, yang harus bisa dipahami pula oleh sang penulis. Tulis kritik kita dengan rapi, dengan kalimat dan paragraf jelas yang enak dibaca, dan gunakan bahasa yang lugas tidak berbelit-belit sehingga penulis tidak salah mengerti dengan apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
February 17th, 2009 at 2:26 pm
jadi ingat waktu itu pernah mengkritik sebuah cerita (lupa cerpen pa novel). Eh yang nulis malah langsung ngamuk-ngamuk, ngomong dia pernah salah apa sama dia en ngejabarin dia ikut workshop di bla bla bla..
saat membaca lagi kritikan gue, gue baru sadar mungkin kritikan gue agak kasar di mata dia. mungkin gue begitu karena dulu tulisan gue dihajar ma guru gue (dan gue bersyukur karena itu bikin tulisan gue lebih bagus). cuma mungkin emang gak semua orang bisa nerima kritikan pedas.
jadi lebih hati-hati kalau ngasih kritik ke orang sekarang. ^_^
nice article, willam ^_^
February 17th, 2009 at 2:38 pm
iya, dyah, memang kudu hati-hati.
yang penting sebenarnya bisa jadi bukan isi kritikannya, tapi bagaimana cara mengkritiknya. tetap saja, kalo menurut gue, kita mesti jujur. tapi bagaimana mengungkapkan kejujuran itu dg cara yang bisa diterima, itulah yang penting.
selain itu juga mesti dilihat, sebelum kita memberi kritik, apakah memang si penulis meminta kritik kita. untuk amannya, di awal sebaiknya kita bertanya, jenis kritik apa yang sebenarnya dia inginkan? apakah dia mau jika nanti diberi kritik pedas? lalu di bagian mana-mana saja dia membutuhkan kritik? dengan adanya komunikasi semacam ini diharapkan hasil kritikannya pun sesuai dengan apa yang memang ia butuhkan.
March 1st, 2009 at 10:54 pm
Setuju, Villam. Kayanya itu emang cara ngasi kritik yang paling baik. Masalahnya mungkin cuman kalo kita ga bisa ketemu sama penulisnya aja.
Misalnya di blog resensiku sama Om Pur. Kan ga mungkin kita minta ijin penulis satu2 kalo mau bikin resensi. bisa jadi, mau kasi kritik pedes pun, biar kita udah berusaha ngomong halus, bisa ditanggapi berbeda sama penulisnya.
Danny’s last blog post..The Girl Who Loved Tom Gordon
March 2nd, 2009 at 7:48 am
bahasa tulisan emang bisa salah tangkap sih. Gw kadang ngetik komen dgn nada becanda dan santai2 tapi ditanggapinya seakan gw lagi bicara serius dan kasar.
Penyakit lainnya tangan sudah mulai mengetik sebelum otak mulai memikirkan akibat dari hasil ketikanku itu. Akhirnya kadang setelah ngeh tulisan gw bisa mengundang konflik br belakangan gw delet lg postingannya
March 2nd, 2009 at 1:25 pm
heheheh…
tangan gak kompak sama otak? hahah…
btw, danny, sebenarnya kudu dibedain antara mengritik novel yang sudah jadi dan terjual, dengan mengritik draft naskah.
tujuannya berbeda–gue mengritik draft naskah karena gue ingin membantu membuat naskahnya jadi lebih baik, sementara kalo novel jadi ya gak bisa diapa-apain lagi.
lalu isinya berbeda–gue mengritik draft naskah dengan detil dan lengkap, sementara kalo naskah jadi ya tidak perlu detil, karena buat apa lagi.
lalu caranya berbeda–gue mengritik draft naskah kadang sangat pedas dan apa adanya, sementara kalo novel jadi, gue sering punya beban moral. lha nanti kalo banyak yang gak beli karena kritikan gue, gue jadi ikut sedih juga.
maka, itulah salah satu alasan kenapa gue jarang mereview novel karya anak bangsa di blog. bukannya gak bisa. tapi karena, sejauh ini, kayaknya gue emang bisanya, dan cocoknya, mengritik draft naskah, bukan novel jadi.
March 5th, 2009 at 12:40 pm
Ah, gitu ya?
Tenqiu Villam. Jadi jelas deh habis denger pendapatmu.
Danny’s last blog post..The Girl Who Loved Tom Gordon
March 5th, 2009 at 1:00 pm
yakin kalo pendapat gue nggak ngawur?
hahahah…
March 6th, 2009 at 9:33 am
hohohohoho
koq aq baru baca yang ini ya…
ternyata belum banyak yang aq ubek2 nih
hehehheheheh
March 6th, 2009 at 1:23 pm
hehe…
silakan diubek-ubek semua isinya.
semoga bermanfaat.
March 19th, 2009 at 8:21 am
Gw juga lebih rela novel gw dihujat sebelum terbit.. That’s why sebelum gw setor ke penerbit gw berencana untuk test market dulu.. Silahkan deh kalo ada yang mo kasih kritik pake sambel, bawang, merica, paprika, cabe rawit.. Selama itu bikin kenyang alias membangun serta menyempurnakan novel gw, gak masalah..
zetamari’s last blog post..SHOPAHOLIC Hobi Yang Jadi Bencana
March 19th, 2009 at 12:54 pm
setuju.
menerbitkan novel itu ibarat melemparkan sebuah batu. tidak bisa ditarik lagi. tidak bisa diperbaiki lagi. dan tak ada gunanya penulis membela diri lagi, lewat forum-forum misalnya, jika ternyata kemudian pembaca salah mengerti atau menilai jelek isinya.
ya perbaikan paling bisa dilakukan di karya selanjutnya. tapi dengan berharap pembaca yang dulu kecewa masih mau membeli atau membacanya.
March 22nd, 2009 at 12:23 pm
kalo gw jadi pembacanya seh dah ilfil n gak bakal beli lagi.. hehe.. makanya menurut gw novel pertama n perdana itu harus bener-bener serius ngerjainnya.. kalo perlu sampe mengerahkan segenap jiwa raga.. gak boleh setengah-setengah berjuangnya.. ibarat kalo suka sama orang kita harus bisa menunjukkan kalo kita pantas untuk dia..
novel perdana itu memang paling menguras tenaga, karena kita bukan sekedar menciptakan karya, tapi juga membentuk karakteristik kita sendiri sebagai penulis. kalo kita bikinnya asal jadi, berarti ya seperti itulah pembaca akan menilai kita.
zetamari’s last blog post..Merancang Novel yang Best Sellers
March 22nd, 2009 at 10:36 pm
tapi ada banyak kasus, novel pertama seorang penulis yang diterbitkan bukan novel pertama yang dia tulis kok. maksudku, adalah betul kita harus menulis sebaik-baiknya, tapi tidak hanya di novel pertama seperti itu, melainkan di semua novel berikutnya. pada saat kita menulis novel pertama, seringkali kita berpikir bahwa ini adalah masterpiece kita, dan kita tidak bisa membuat lagi yang lebih bagus. kenyataannya, di kemudian hari ternyata kita bisa yang membuat lebih bagus, dan karya kita yang kedua atau ketiga inilah yang lalu terbukti sukses, bukan novel yang kita tulis pertama.
March 23rd, 2009 at 4:56 am
Jadi ingat kisah penulis mapan yang mereview karya pemula dalam suatu sesi tatap muka. Sang penulis ingin menyampaikan unek2nya blak2an tapi ia tidak tega ketika melihat ekspresi para pemula yang jelas2 mengungkapkan ‘ini adalah pecahan jiwa saya’. Dilema, dilema…
March 23rd, 2009 at 1:16 pm
hahahahah… jadi kebayang acara kontes-kontesan di tivi. ada juri jahat, ada juri baik…
kalo menurutku sih, kalo mau blak-blakan, lebih baik disampaikan langsung secara pribadi ke penulis pemula tersebut. soalnya kalo buka-bukaan di forum publik, keadaan bisa jadi tidak terkontrol.