[tab:Hal 1]Sekali lagi ada pembahasan mengenai prolog di forum Pulau Penulis Fiksi Fantasi. Saya kutip jawaban-jawaban saya di sana mengenai soal yang satu ini. Mau gimana lagi? ‘Pembukaan’ memang bagian paling penting dalam penulisan novel. Setiap penulis harus meluangkan waktu paling banyak di sini, untuk membuat kalimat pertama, paragraf pertama, adegan pertama, yang terbaik, yang mampu membuat pembaca mau membaca terus dan terus.

[tab:Hal 2]Adakah batasan-batasan dalam membuat prolog?

pelajaran terbaru yang gue dapet: fleksibel dan inovatif-lah. writing is an art, and there are no certain rules.
‘prolog’ itu hanya sekedar nama; tidak ada bedanya dengan ‘bab 1′. penulis menggunakan ‘prolog’ untuk meyakinkan pembaca bahwa cerita dimulai dari dua arah.

Apakah prolog harus selalu berpace cepat?

tidak harus. bukan ‘pace cepat’ yang penting dalam prolog, tapi seberapa cepat pembaca bisa tertarik untuk membaca terus dan terus.

Apakah prolog tidak boleh lebih dari dua halaman?

tidak harus. jawaban ini terkait dengan dua jawaban sebelumnya. yang penting adalah penulis bisa menyampaikan pesannya dengan jelas, dan bisa membuat pembaca penasaran. jangan membatasi diri dengan jumlah halaman.

[tab:Hal 3]Apakah isi prolog harus mudah dipahami seutuhnya?

harus mudah dipahami iya. tapi gue gak ngerti maksud ‘seutuhnya’. justru prolog harus meninggalkan pertanyaan buat pembaca, yang bikin dia penasaran.

Apakah prolog harus mewakilkan gambaran keseluruhan isi buku?

prolog harus bisa memberi petunjuk pada pembaca bahwa cerita ini adalah mengenai sesuatu (entah melalui sebuah peristiwa atau sebuah pesan), tapi bukan gambaran keseluruhan isi buku. emangnya sinopsis atau daftar isi?

Ayoo Villam, Om Pur, gw tauk kalian juga belum begitu yakin dengan definisi prolog yg sesungguhnya, gw bisa liat sendiri kayak gimana prolog dalam karya ente orang (ada yg mabok nyampur ke isi bab2 awal segala, malah Cheesy) Pertanyaan gw, apa alasan kalian bikin prolog kayak begitu? Cheesy

tentu saja setiap penulis punya alasan. gue gak terlalu mikirin definisi. yang gue pikirin adalah bagaimana bisa membuat pembaca tertarik (dengan sesuatu yang berbeda), penasaran (dengan membuat pertanyaan2 yang menggantung), dan mengerti (tentang cerita apa yang akan dia baca, dan tidak akan merasa tertipu nanti). jika tujuan tersebut belum berhasil, ya sederhana saja, format prolognya kudu diubah. dan gue juga gak masalah jika harus melakukan itu. tapi seperti yang gue bilang di awal, jangan terlalu terpaku pada yg standar2. beranilah mencoba hal yang baru. buatlah cerita kita menjadi berbeda.Thumbs Up

14 Responses to “Lagi-lagi Tentang Prolog”

  1. 1
    yanti Says:

    gWa skarang lagi sibuk dalam meniti karir gWa dalam menulis suatu novel
    gWa dah banyak nulis novel, tapi sayangnya selalu ditolak kalo gWa ngirim ke bagian percetakan
    dan alasan ditolaknya novel gWa pasti selalu karna bagian prolog nya yang kurang nyambung ke dalam ending cerita yang gWa tulis
    Nahh sekarang gWa lagi binggung banget
    dan pengen tahu, sebenarnya bagaimana sih cara membuat prolog yang nyambung ke ending cerita
    atau bagaimana sih cara membuat prolog yang menarik sehingga para pembaca tidak merasa binggung atau sulit untuk mengert tentang cerita yang gWa tulis
    Aduhhhh pleaseee dong kasih tau gwa karna jujur ada aja gWa kadang kadang putus asa
    bayangin saja dari pertama gue tulis novel, satupun belum ada yang lolos
    kasihaaaannnn banget sih Gwa
    hub gwa di alamat email yanti.lina16@yahoo.co.id
    makasiihhhhhhhhhhhhhhhh

  2. 2
    Villam Says:

    kamu udah banyak nulis novel?
    itu bagus. paling tidak kamu udah punya modal/barang buat dijual. tinggal langkah berikutnya adalah meminta pendapat dari orang-orang yang kritis tentang tulisan kamu, memperbaikinya, dan coba menjualnya lagi. tidak perlu putus asa. emang gak gampang kok, tapi bukan berarti gak bisa.

    kalo liat dari penjelasanmu tentang prolog, dan bagaimana hubungannya dengan ending, aku belon bisa menilai dari sini. apakah benar ditolaknya semata-mata gara-gara prolog, atau justru gara-gara endingnya, atau justru mungkin hal lain di luar keduanya. karena bisa saja terjadi, masalahnya mungkin bukan dalam isi prolognya, melainkan bagaimana cara menuliskan ceritamu.

    saranku, coba mintalah pendapat ke pembaca yang kritis dan paham mengenai teknik penulisan. misal, coba liat ke link di Blogroll-ku tentang Pulau Penulis. coba masuk ke sana, tunjukkan prolog2 yang ‘bermasalah’ itu, dan minta masukan lebih banyak. kritik yang kamu dapat mungkin akan terasa keras dan agak menyakitkan, tapi paling tidak jujur.

    atau, coba liat contoh2 di sini, untuk membuat kalimat pembuka prolog yang tajam dan tidak klise:
    http://www.rdvillam.com/2008/09/50-best-opening-sentences/

    lihat juga di sini tentang hal2 apa saja yang bisa diperbaiki dari ceritamu. termasuk di dalamnya prolog.
    http://www.rdvillam.com/2008/10/hal-hal-apa-saja-yang-bisa-dikritik/

    selamat berjuang! :-)

  3. 3
    Serpentwitch Says:

    Hmm prolog ku menggambarkan tentang dunianya, tp sepanjang cerita menceritakan emosi tokoh utamanya… apa itu kali yg disebut prolog ga nyambung dengan cerita/endingnya huahua

  4. 4
    Villam Says:

    coba baca the alchemistnya paulo coelho. apa prolognya nyambung dengan cerita? unik, tapi gak nyambung. dan toh baik-baik saja. hahahahah…

    artinya, oke, adalah lebih baik membuat prolog / opening yang bisa membuat pembaca tergelitik untuk membaca lebih jauh ceritanya, dengan cara langsung membuat twist atau kejutan di awal. itu adalah cara yang diyakini banyak orang sebagai cara terbaik. tapi writing is an art, menulis adalah seni dan karya tulis kita adalah seni pula. dan ada banyak cara untuk membuat pembaca tertarik dengan karya seni kita.

    yang paling utama, atau yang pertama kali membuat pembaca tertarik, adalah bagaimana cara kita menyajikannya. barulah di bab-bab berikutnya, isi/plot/contentnya yang berpengaruh, yang bakal membuat pembaca mau baca terus atau tidak sampai akhir/ending. storytelling dulu, baru story.

    artinya pula, sebenarnya kita bisa bikin prolog seperti apapun, dan bakal tetap terasa enak dibaca, asal kita terampil membuat kalimat2 yang tajam, tidak membuat adegan yang biasa-biasa saja, dan menghadirkan sesuatu yang unik.

    masalahnya, keterampilan semacam itu emang gak mudah didapat. butuh latihan terus menerus supaya kita semakin ahli.

  5. 5
    ndyw Says:

    duh
    aq memang ga ngerti soal prolog(meskipun dah membaca artikel atas)
    apa itu prolog?
    definisi prolog?
    fungsi prolog?
    tujuan prolog?
    apa perlu adanya prolog?
    ———————————————-
    soalnya selama ini aq memakai kata ‘prolog’ itu untuk menjelaskan secara umum dunia ceritaku dan diselipi sedikit(sangat sedikit) clue cerita

  6. 6
    Villam Says:

    heheheh…
    oke, lain waktu gue mungkin bikin artikel khusus tentang prolog.
    secara sederhana, begini:

    prolog adalah bagian awal / pembukaan dari sebuah cerita. tapi jangan disamakan dengan kata pengantar dari sang penulis, tentu saja.

    fungsinya adalah untuk membuka cerita dengan sesuatu yang menarik buat pembaca. ketertarikan itu bisa dibangun melalui pembangunan ketegangan sejak dari kalimat pertama, pengenalan karakter dan masalah yang sedang dihadapinya, atau sedikit latar belakang tentang dunia ceritanya.

    ada banyak sekali tipe-tipe prolog. tapi, apa perlu ada prolog?
    sudah dijelaskan di awal, bahwa menurut gue ‘prolog’ itu hanya sekedar nama. prolog gak ada bedanya dengan bab pertama. sebuah prolog bisa dijadikan bab pertama, sebuah bab pertama bisa dijadikan prolog.

    yang penting bukan apakah perlu ada prolog atau tidak, tapi bagaimana membuat pembukaan cerita kita–apakah berupa prolog ataupun bab satu–menjadi sesuatu yang menarik, yang membuat pembaca mau mulai membaca. maka atas tujuan ini, hindarkan segala pembukaan cerita yang berpotensi membuat pembaca bosan.

    di dalam kasusmu, jika pembukaannya berisi deskripsi dunia yang disampaikan secara bertele-tele, itu beresiko membosankan. tapi jika kamu pintar menyampaikan hal-hal yang unik dan tidak klise, itu bakal terasa menarik. bukan soal memperkenal dunia yang penting, tapi bagaimana memberikan hal-hal yang unik di dalamnya, dan yang lebih bagus lagi, jika terkait langsung dengan sang protagonis utama dan masalahnya.

  7. 7
    ndyw Says:

    hoooooo
    paham – paham
    tapi lebih d tunggu lagi artikelnya tentang prolog
    ;)

  8. 8
    Villam Says:

    kekekekek…
    okay, one day… :-)

  9. 9
    zetamari Says:

    wah kebetulan lagi jadi pemikiran gw neh.. masalah prolog.. sedang gw pertimbangkan apa mo dijadiin halaman prolog sendiri apa di masukin ke bab 1..
    prolog gw bercerita tentang suatu kejadian atau peristiwa di masa lampau yang mempengaruhi hadirnya tokoh utama di masa sekarang.. gimana itu??
    tapi kalo ada pertanyaan nyambung gak ama endingnya?? ini juga yang jadi pemikiran gw.. hmm,, apa sebaiknya gw masukin ke bab 1 aja y…

    zetamari’s last blog post..Zeta’s 10 Fav Female Character

  10. 10
    Villam Says:

    cukup banyak kok cerita yang memakai sebuah adegan masa lalu sebagai prolog. tapi soal apakah bagus atau tidak, apakah nyambung atau tidak, apakah lebih pas ditaro di bab 1 atau tidak, gue gak bisa kasih penilaian. kudu liat dulu barangnya… heheh…

  11. 11
    Cute Says:

    Hm,,thx bgt y bwt infony. Tp aq mau tny, klo prolog tu isinya kayak pengenalan tokoh, latar belakang ceritanya, n disebutin kalo tokoh utama lg ada masalah, kira2 lebih menarik klo masalah itu lgsg dijelasin atau tunggu di bab 2 atau bab 3 gt? Thx b4

  12. 12
    Villam Says:

    cute, kalo buat gue pribadi, gue lebih suka prolog yang isinya langsung kenceng. ada masalah, ada emosi, ada rasa sakit, marah (atau mungkin rasa yang lain), langsung masuk ke plot, ada protagonis (dan mungkin ada antagonis juga). seringnya begitu.

    tapi kadang ada juga cerita yang dimulai dengan tempo lambat, dan berisi refleksi tentang sesuatu, yang juga gue sukai dan tidak jadi masalah, asalkan sang penulis pintar membuat pembacanya tertarik dan tidak bosan.

  13. 13
    Tifani Says:

    yaampun kucingnya mirip kucing saya! *dijitak*

    prolog itu emang senjata khusus ya…
    soalnya yg pasti dibaca kan yang awal-awal
    tapi susah ngebuat prolog yang tidak berakhir klise *keseluruhan novel saya penuh klise dan plothole XD*

    ohya kalo ada prolog ngga selalu harus ada epilog kan? o_O

  14. 14
    Villam Says:

    kucingnya emang mirip dengan kucing banyak orang. :-P

    coba dites aja. kalo prolognya dicabut, apakah bakal berpengaruh pada cerita? apakah membuat cerita jadi lebih enak dibaca?

    ada prolog gak harus ada epilog. itu cuman nama.
    yg pasti ada itu pembukaan dan penutup cerita. heheh…

Leave a Reply