[tab:Hal 1]Rekan saya dian k baru saja menulis review Magician’s Guild, novel fantasi karya Trudi Canavan, penulis asal Australia, terbitan Mizan Fantasi, 2008, di blog Kastil Fantasi. Silakan dinikmati.

Komentar saya singkat saja: baguslah kalau semakin banyak penerbit lokal yang menerbitkan novel-novel fantasi. Tapi saya akan lebih senang lagi jika yang diterbitkan adalah karya-karya penulis fantasi lokal juga.

[tab:Hal 2]Tentu saja penerbit beralasan, tidak ada karya lokal yang benar-benar bagus buat diterbitkan. Dan pangsa pasarnya pun masih sangat kecil. Topik semacam ini sudah sering dibahas di forum, dan para penulis sebenarnya punya argumen untuk melawan pendapat tersebut, bahwa karya yang bagus itu bukannya tidak ada, tapi memang tidak diberikan kesempatan untuk muncul dan berkembang.

Yeah, jalan memang masih panjang buat membuktikan kalau penulis fantasi lokal pun bisa eksis di Indonesia. Kita tidak akan menjadi peminta-minta; kita akan berusaha keras untuk bisa tampil, jangan khawatir.

42 Responses to “Magician’s Guild & Fantasi Karya Penulis Lokal”

  1. 1
    baw Says:

    Sebenarnya penerbit udah pernah kasih kesempatan juga sih, pas jamannya Ledgard cs muncul (gw lebih suka nyebutnya ‘Momentum I’).
    Saat itu demam Harry Potter and Lord of The Ring lagi kenceng2nya.
    Dan penerbit kita mencoba memanfaatkan euforia itu.

    Cuma gw pribadi merasa para penulis kita belum begitu matang atau belum siap(maaf ya kawan2 penulis..peace).
    Penerbit pun bukan tanpa cacat, mereka ‘terlupa’ memilih secara ketat cerita yang baik dan bermutu. Asal main jadi aja..

    Akhirnya fiksi fantasi indo yang sempet terbit jadi terkesan dipaksakan..
    Gw ngerasa itu saat baca ‘Sang Penandai’ dan ‘Phoenix’.
    Sang Penandai yang muncul belakangan terasa lebih bagus & dalam beberapa hal terasa dikerjakan serius daripada Phoenix yang muncul pas ‘Momentum I’.

    Gimana menurut villam..?

  2. 2
    Villam Says:

    betul kok, memang seperti itu kondisinya.
    harus diakui kalo dalam soal kualitas, banyak karya2 fantasi lokal yang udah terbit memang belum matang, walaupun ada juga sebagian kecil yang sudah cukup bagus. penerbitnya maen asal terbit. dan udah sering dibahas juga di forum, bagaimana fungsi editor? yang seharusnya bisa menuntun para penulis baru itu agar menjadi lebih bagus, dengan pisau bedah yang lebih tajam.

    kita sih berharap nantinya bakal ada momentum lagi, seandainya momentum tsb susah untuk dibikin sendiri (walau bukannya gak bisa).

    kalo gue pribadi, dulu pernah bilang, jangan memaksakan diri untuk terbit jika kita tau hasilnya belon matang. perbaiki sejauh yang kita bisa, baru cobalah peruntungan ke penerbit. soalnya percuma juga kalo terbit tapi kemudian ditanggapi negatif oleh pasar. hasilnya cuma nama buruk.

  3. 3
    baw Says:

    setuju villam.
    kita, sesama penulis, sebenarnya sama aja dengan pengusaha.
    ‘pengusaha kata-kata’. dan sebagai pengusaha ‘wajib’ hukumnya jaga nama baik dan kualitas produk kita.
    dunia perbukuan kita memang masih belum ideal. apalagi fiksi fantasi di sini baru mulai berjalan.
    belum lagi masalah editor, yg gw tahu dari di blognya mas pur, ada yg dapat jatah edit cardan cuma 3 hari.. gila cing!
    jadi alangkah baiknya kalo dimulai dari para penulis untuk mengirim karya yg ‘bener2 rampung’

    soal penerbit yg lebih suka menerbitkan fantasi impor, gw pikir, sebenarnya kita sebagai penulis juga ikut terbantu. karena penerbit2 itu juga ikut mematangkan ‘segmen pembaca fantasi’ di indonesia.

    fans Harry Potter yang mencapai angka 200 ribuan harus di pelihara dan dikembangkan. kalo masa segitu besar sampai ‘kehausan akan fantasi’ bakal terjadi kekacauan. hehehe..
    dan merekalah calon pembeli potensial dari fantasi dalam negeri..

    btw,
    soal forum, sbenarnya gw udah mulai ‘ngintip’ sedari akhir 2007.
    cuma gw ga tau gimana cara gabungnya dan lama kelamaan gw malah jadi betah sebagai ‘pendatang haram’. haha..
    jangan bilang2 mbah blood ya..
    dan kayanya gw juga mulai betah disini villam..

  4. 4
    Villam Says:

    yeah, jalan memang masih panjang untuk membuat para penulis fantasi lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. dimana penulisnya udah makin matang dan kompetitif, pasarnya besar dan haus, dan penerbit serta editornya juga lebih fokus, lebih peduli, dan lebih mahir menelorkan novel2 fantasi lokal yang berkualitas.

    gue punya semua mimpi itu, tapi untuk awalnya, biarlah gue terus belajar membangun diri dulu menjadi penulis yang lebih baik. gak akan terburu2 mengirimkan naskah yang baru selesai gue tulis ke penerbit. selalu menerima kritik, dan terus berusaha merevisi, jangan sampai bosan.

    dan di waktu senggang gue mungkin bakal coba juga untuk masuk ke banyak komunitas. siapa tau pasar bisa kebuka dengan cara yang tidak diduga sebelumnya. :-)

  5. 5
    elbintang Says:

    pasar buku Indonesia itu anomali :-)

    Dulu bareng teman-teman penyuka komik, kita bikin indie komik dan menjual di gerbong kereta jabodetabek. dan ternyata mendapatkan pembaca lebih dari 200-an. Sebelum akhirnya si jagoan gambar di tim kami di rekrut tim profesional :-)

    aku pikir, jika 2 tahun ke depan fantasi lokal masih belum mendapatkan momentumnya. keknya Perlu ada jaringan fantasi lokal yang memasarkan dari pintu ke pintu. benar-benar dari pintu ke pintu, bukan lagi lewat toko atau web.

    ————————————–
    el
    pemandu sorak fantasi dalam negeri

  6. 6
    Villam Says:

    bisa jadi.
    bisa jadi kita memang harus merangkap, gak hanya jadi penulis, editor, kritikus, tapi juga sekaligus pencetak, penerbit, pemasar, sekaligus pembeli. hahaha…
    yang akan terasa berat jika dilakukan sendiri, tapi mungkin jadi lebih ringan jika dilakukan secara bersama-sama dalam suatu jaringan.

    btw, terus terang aku agak sedih dengan nasib novel2 fantasi lokal yang udah terbit. begitu masa displaynya di toko buku habis, buku2 tersebut seperti hilang entah kemana. terjadi karena pihak penerbit, dan sayangnya juga penulisnya sendiri, tidak punya napas yang panjang buat mempromosikan karyanya. kebanyakan penulis itu hanya kuat berpromosi di bulan2 pertama doang, setelah itu hilang. sayang ya?

  7. 7
    baw Says:

    @ el
    gw pernah baca di pembelajar.com ,ada juga yang nekat jualan buku di KRL jabotabek, dan laku sekitar 1500 eksmplar.
    mungkin memang benar pasar buku sini anomali..
    pemandu sorak? cheerleaders? hehe..

    @villam
    soal promosi, apa yang villam sudah lakukan dgn membuat web pribadi & banyak blog gw pikir layak ditiru..
    dan sepertinya hampir semua penulis luar punya web serupa dan mereka aktif banget mengenalkan diri ke khayalak ramai..

  8. 8
    Villam Says:

    jualan 1500 buku di KRL??! hahahah… keren jugak tuh…
    semangat dan nyalinya bener2 patut diacungin jempol!
    tapi mungkin bisa laku karena yang dijual buku dg harga yang gak terlalu mahal ya? let’s say sepuluh ribu rupiah? kalo buku dengan harga tiga puluh ribu, mungkin mereka bakal mikir-mikir juga kali.

    dan iya, setiap penulis gue bilang memang HARUS punya website sendiri buat sarana promosi, memperkenalkan diri dan juga tulisannya. gak bisa cuman ngandalin promosi lewat penerbit doang. kudu aktif! bahkan kalau perlu membuat jalur pemasaran sendiri secara online, tidak mesti lewat toko buku, yang menghisap darah dengan rata-rata memakan profit sebesar 30% dari harga buku.

    well, eniwei, sejauh ini memang lebih logis sih penulis membiarkan dirinya dihisap darah seperti itu. heheheh… apalagi para penulis pemula yang punya bargaining power lebih rendah.

  9. 9
    elbintang Says:

    wow 1500-an eksemplar?bidew…

    kalau yang dilakukan timku dulu mencetak ‘seadanya’ 500 eks/dua minggu. yang 200-an sudah ada pelanggannya di KRL bogor-jakarta yang selainnya di edar di sekolah-sekolah. komik bersambung. Harganya 1500. Waktu itu harga komik baru elex 3500-6000. Tahun berapakah? :D

    ya. harus dengan jaringan, Villam. Menurut aku tidak cukup dengan web. Sekarang sih aku mencoba buka lini anak untuk proyek fantasi.
    masih awalan banget. masih benih. kegiatannya masih berkisar bercerita-menggambar dan membaca. Sayangnya, lini anak fantasi dalam negeri, pun kurang. Arggh…

    Niatnya sih, sambil jalan, kalau ada fantasi lokal remaja-dewasa yang “bagus” bisa dibuat lininya sendiri

    sampai saat ini untuk remaja-dewasa masih dalam proyek membaca :-)
    ———————————–
    kok ya ini serasa Forum? :p

  10. 10
    elbintang Says:

    bukan lini anak fantasi yang kurang tapi buku anak fantasi.
    ————
    ouh atau aku juga kurang memantau ? :p

  11. 11
    Villam Says:

    harganya seribu lima ratus? hahah… sepuluh tahun yang lalu kali yak?
    eh elbintang, yang kamu maksud ‘buka lini anak untuk proyek fantasi’ itu apa sih? kamu sekarang emang nerbitin indie, atau yang lain? seperti membuat forum baca buku fantasi?
    jelasin dunk… kayaknya menarik neh… heheheh… (soalnya kalo emang udah punya komunitas semacam itu, pasti jadi pasar yang menarik kan?)

    btw, kalo buku fantasi anak kayaknya masih tetap banyak yang terbit kok. kayak dari gramedia. walaupun ya itu, impor, bukan lokal. gak tau juga kalo dari mizan, secara penerbit ini cukup concern dalam menerbitkan karya penulis anak negeri.

    dan iya. ini jadi kayak forum ya… hahahah…

  12. 12
    baw Says:

    iya berasa kaya forum..
    apa pindah ke forum aja vill..?

  13. 13
    baw Says:

    duh mesti lembur lagi..
    aarghhh… kapan nulisnya..

  14. 14
    Villam Says:

    iya udah coba gue pindahin ke forum, di sini:
    http://www.rdvillam.com/?page_id=68&forumaction=showposts&forum=1&thread=4&start=0

    tapi setelah dilihat-lihat, ternyata tampilannya tetap lebih enak dilihat melalui comment seperti ini. gue belon menemukan cara untuk bisa bikin forum itu lebih enak dilihat. heheheh…

  15. 15
    dejongstebroer Says:

    Yang paling miris menurutku, novel fantasi lokal gak diakui oleh toko2 buku. Aku liat di Gramedia Semarang beberapa novel : Enthirea, Para Penunggang Petir, Skinheald diletakkan di rak dgn label ‘NOVEL TERJEMAHAN’.. Apa gak salah kaprah tuh?

  16. 16
    Villam Says:

    yeah… jangan2 manajer tokonya emang gak paham apa yang dimaksud dengan ‘terjemahan’. tapi jangan2 juga itu adalah strategi mereka supaya banyak yang mau beli. kan tipikal pembaca kita kebanyakan begitu, mereka lebih tertarik (dan lebih percaya kalo isinya pasti bagus) kalo novelnya ditulis oleh pengarang luar negeri. nah lho? berarti yang paling bermasalah sebenarnya siapa? hahahah…

  17. 17
    baw Says:

    yeah.. gw pikir juga begitu. dari judul aja udah bau2 english..
    kita juga sih kurang cinta produk dalam negeri
    hehehe..

  18. 18
    Villam Says:

    gue akuin gue juga begitu sih. The Forgotten Heroes, misalnya. walaupun di dalemnya gue gak pake satu pun kata dalam basa inggris, dan dengan cintanya gue pergunakan EYD sebaik-baiknya di sana, tapi judulnya–dengan keras kepalanya–kayaknya gak bakal gue ganti jadi basa indonesia, sampai kapan pun. heheheh… semata-mata karena itu terasa lebih enak didengar dan lebih eye-catching. <– nah, kalo di sini gak masalah kan gue pake istilah inggris? hahaha…

    tapi cuma TFH itu doang kok. untuk judul novel yang lain, gue dengan senang hati pake basa indonesia, seperti Gerbang Sungai Tigris, atau Batu Delima Terakhir.

  19. 19
    baw Says:

    hahaha.. TFH mang paling pas, kalo diterjemahin malah aneh, panjang pula..

    maksud gw,
    karena buku2 fantasi indo rata2 pake judul english, makanya toko buku pake trik, menaruh mereka di rak buku terjemahan. dengan maksud menarik minat pembeli buku kita yg rata2 masih ‘import minded’ itu..
    gitu kali ya..

    ngoceh soal market fantasi..
    jika 1 buku Harry Potter terbit setiap 1 tahun, dan kalo seorang remaja mulai baca mulai umur 15 tahun, berarti selesai buku ke-7 udah umur 22 tahun..
    kayanya pasar fantasi usia dewasa muda bakal boom tuh..

  20. 20
    Villam Says:

    nah iya. itu memang salah satu trik menarik pembeli. apa boleh buat, mungkin lumayan berhasil.

    kalo soal pasar, mudah-mudahan memang begitu sih kondisinya. semakin banyak dibandingkan dulu. walau banyak juga faktor penentu lainnya, seperti kondisi ekonomi yang membuat para calon pembeli menjadi lebih selektif, membeli buku yang benar-benar menurut mereka pantas dibeli.

    artinya memang harus ada reputasi yang dibangun, melalui jaringan, kabari-kabari, dan liputan media, misalnya. dan dengan bukti, bahwa buku2 fantasi karya anak negeri memang punya kualitas yang cukup buat bersaing dengan fantasi impor, sehingga orang-orang mau membeli.

  21. 21
    elbintang Says:

    Aku punya forum fantasi anak
    6 – 9 thn dan diatas 9 sampe 15 tahun

    kegiatannya :
    1. mendengarkan cerita. Salah seorang anggota memilih buku fantasi yang paling disukainya dan membaca untuk anak-anak yang lain. Dia boleh menambahkan macam-macam yang tidak ada dalam buku. Ini kegiatan yang paling aku sukai :D (buku fantasinya lokal dan luar)

    2. pilih dan baca (mandiri). ini kegiatan sehari-hari di forum. tukar2an buku dan membacanya ditempat. kalau mau pinjam ke rumah ada prosedurnya *biar tidak hilang*. Buku yang tersedia hasil karya aku dan teman-teman.

    3. Menggambar sambil bercerita. Ini kegiatan paling disukai untuk anak 6-9thn. dan paling membuat pusing kelompok diatasnya :p

    4. Membuat cerita. Mereka diajak untuk menulis cerita tentang apasaja. Cerita yang paling banyak diangkat sampai saat ini, anak yang bisa terbang ha.ha
    —————————————
    untuk buku fantasi lokal alhamdulillah aku masih punya buku-buku “kepala tomat”, “mata gula-gula” dan lainnya yang dicetak seperti buku tulis tipis ituw

    ah ya. ada juga penangkap hantu terbitan Mizan dan NSJJ (walo ini fantasi remaja-dewasa)

    Di rak buku forum sampai saat ini buku-buku HC Andersen, Moldie, dll import yang mendominasi.

  22. 22
    Villam Says:

    elbintang, benar-benar kegiatan yang menarik tuh. apalagi kalo bisa fokus di satu genre seperti fantasi. tapi emang genre fantasi mestinya sih paling menarik buat anak-anak dan remaja.

    btw, sekarang anggotanya udah berapa banyak? aku yakin kalo bisa bertahan lama, pasti ada di antara mereka yang nantinya juga bisa berkembang jadi penulis handal, tidak hanya sebagai pembaca.
    salut. aku bener-bener salut.

  23. 23
    elbintang Says:

    lini punya aku emang fokus di fantasi (beberapa teman ada di lini yang lain)

    sampe saat ini yang terdaftar ada 60 anak. Tapi yang rajin datang ke forum 15 anak, paling banyak 30-an. kalu liburan bisa lebih dari 60-an kerna ada sesi mengundang teman :D

    pengennya sih jadi semacam trend dan akhirnya membuat penerbit “terpaksa” menyediakan buku fantasi lokal lebih banyak. ha.ha. eh. amien… :-)

    lagi ngelobi untuk masuk sebagai sesi baca fantasi di radio dan masuk dalam program baca buku di sd dan smp.

    eh. argh. enaknya emang di forum ini nulisnya, biar bisa quote. tapi keknya semakin memanjang disini heuheuheu.

    Villam, tulisanmu yang “Batu Delima” itu menarik lho buat anak sd-smp :D

  24. 24
    Villam Says:

    nah iya itu juga yang kepikir oleh aku tadi, kalu umpama forum semacam ini bisa jadi trend, penerbit bakalan kepancing juga buat nerbitin lebih banyak buku fantasi lokal. it is a really good step. amin juga…

    ngomong2 soal radio, dulu aku pernah ditawarin mengisi acara rutin soal tulis menulis di salah radio, tapi akunya gak pede, jadi gak jadi. hahahah…

    heheh iya ya… gak bisa quote di sini. aku lagi coba cari caranya sih supaya bisa bikin quote.

    soal ‘batu delima’, memang dibuat dalam rangka membuat kisah fantasi yg kira2 lebih marketable, berhubung yg epik2 relatif lebih susah dijual. tapi belon sempet lagi dilanjutin setelah 50 halaman nih.

  25. 25
    elbintang Says:

    waaa… padahal radio masih media massa nomer satu lho. Kebayang bagaimana lambatnya lagu-lagu bergeser setiap bulannya kalu gak terbantu dengan radio yang tiap hari mengudara min. sejak jam 06-00. :D dan kupikir harus ada lini baca fantasi di radio untuk ‘menjebak’ minat baca orang indonesia :D

    tadi malam aku ngobrol-ngobrol dengan teman tentang program radio ini, aku malah bilang pengennya dalam sesi itu aku menghadirkan Dian K, Villam, Andri Chang via telphone untuk berinteraksi dengan pendengar. Hehe…

    Ku kira ada baiknya setiap penulis fantasi selain mempersiapkan proyek idealisnya juga menyiapkan proyek sesuai selera pasar. Kalu kata Ari moccha chi, untuk menebarkan nama. Tentu tulisan yang juga serius di garap…

    jadi kapan TFH masuk dalam jadwal baca Lini Fantasi Anak EEC? (EEC = elbintang EduCenter) :D *jangan bosan ditanya seperti ini Villam, anggap sebagai do’a* :D

  26. 26
    Villam Says:

    hahaha… kayaknya ide-idemu keren-keren nih…
    iya nih, mesti ditembus tuh radio kali yak. semua liputan media, baik tivi, radio, koran, majalah, selalu lebih powerful dan berdaya jangkau luas dibanding melalui media internet, untuk kondisi indonesia saat ini.

    dan iya betul. selain proyek idealis, setiap penulis ada baiknya coba berdamai dulu dengan pasar. beberapa orang emang udah banyak bilang begini. tapi seringkali aku masih kena penyakit malas, dan keras kepala. hahahah…

    hmm… TFH ya? kalu ternyata ntar tetep gak tembus lewat penerbit, mungkin bakal aku cetak dan perbanyak sendiri kali. tertarik? hehehe…
    tapi TFH masak cocok sih dibaca anak-anak? hahaha… 13 tahun ke atas mungkin baru cocok.

  27. 27
    elbintang Says:

    13 tahun keatas? LFA sampe usia 15 tahun yang sekarang ini …

    gak tembus? ck! mari kita serang penerbit kalu TFH mu gak tembus Villam. sigh!

    pake juga cara memberikan wawasan ke penerbit berapa banyak saat ini penggemar TFH kan, Villam? itu lho tips menjual karya pemula

    Mencetak sendiri boleh juga. Kenapa tidak? Tinggal solidkan siapa yang mau jadi apa. As pengalaman, lumayan memberikan kepuasan yang tak ternilai :) Let me know. I’m in.

  28. 28
    elbintang Says:

    TFH gak tembus? mari kita serang penerbitnyah bersama. :p

    Sudah pake tips memberikan wawasan pada penerbit tentang “kemungkinan” pasar yang sudah terbangun dengan nama ‘Villam’ kan? itu lho tips ke penerbit oleh penulis pemula.

    kalu mau indie, kenapa tidak? mari solidkan siapa yang mau jaga bagian mana saja. as my pengalaman, indie memberikan kepuasan yang tidak ternilai. Susah payahnya itu lho :) ) let me know. i’m in.

  29. 29
    elbintang Says:

    TFH gak tembus? mari kita serang penerbitnyah bersama. :p

    Sudah pake tips memberikan wawasan pada penerbit tentang “kemungkinan” pasar yang sudah terbangun dengan nama ‘Villam’ kan? itu lho tips ke penerbit oleh penulis pemula.

    kalu mau indie, kenapa tidak? mari solidkan siapa yang mau jaga bagian mana saja. as my pengalaman, indie memberikan kepuasan yang tidak ternilai. Susah payahnya itu lho :) ) let me know. i’m in.

    eh LFA anggotanya sampai saat ini hingga usia 15 tahun.

  30. 30
    Villam Says:

    gyahahahah… jadi aku sandera mereka dengan pedang dan tombak yah? heheh… uh, kalo nama ‘villam’ sih masih sangat sedikit yang kenal. secara jaringan yang kubikin juga masih sangat sedikit. hmm… masih butuh waktu.

    oya soal nerbitin indie emang selalu jadi pemikiranku sejak dulu. awalnya dulu sih aku enggak berminat. dulu aku selalu bilang, “ngapain indie? lebih baik coba ke penerbit sekuat mungkin. kalo seandainya belon bisa tembus, berarti secara kualitas karya kita emang belon bagus. lebih baik lakukan saja tugas kita sebagai seorang penulis, berusaha menulis dengan lebih baik.”

    tapi kemudian aku mikir, walaupun itu ada benarnya, mungkin pendapat tersebut terlalu naif. pada kenyataannya sebuah buku bisa terbit atau tidak itu tidak semata2 soal kualitas, tapi juga karena persepsi bahwa sebuah karya marketable atau tidak. dan persepsi penerbit itu bisa benar bisa juga salah, dan sayangnya seorang penulis tidak bakal punya kesempatan buat membuktikan kalo itu salah, selama penerbit tidak mau menerimanya.

    pada akhirnya yang menentukan adalah adanya kesempatan, usaha, promosi dan distribusi. beruntunglah mereka yang mendapat kesempatan diterbitkan oleh penerbit besar, yang punya napas panjang buat promosi dan distribusi. tapi masih lebih banyak lagi, aku yakin, penulis lain, yang secara kualitas lebih baik karyanya, namun diterbitkan penerbit kecil, atau malahan tidak diterbitkan sama sekali, yang tidak mendapat kesempatan tersebut.

    jadi ya, jujur aku nanti tampaknya akan mencoba cara indie. walau tetap, aku juga gak mau buru-buru, dan tetap tahu diri. sesuai prinsip awal, aku belon mau terbit kalo memang menurutku karyaku masih punya banyak kekurangan. kesempurnaan jelas gak mungkin, tapi tetap harus diminimalisir dulu celahnya. baru setelah aku yakin, dan memang benar tetap gak bisa menembus penerbit, bahkan untuk karya-karyaku yang kelihatannya marketable sekalipun, sepertinya indie memang alternatif yang paling baik.

    dan kalo memang itu jadi, kamu ikut jualin jugak yah… heheheheh…

  31. 31
    elbintang Says:

    bweh…
    aku posting 3 x dengan isi yg senada…
    gimme the trophy :) )

  32. 32
    Villam Says:

    heheheh…
    oke deh ntar kubikin trophynya…

  33. 33
    Serpentwitch Says:

    haha ok de lanjut obrolan di guestbooknya disini aja.

    Soal harga percetakan, itu sih susah dikasi detilnya. Kalau percetakan2 kecil, pada seenak jidat ngasi harganya. Tempet gw dulu magang juga ky gt soale. Kalau sama pelanggan atau temen, dimurahin… kalau ama org ga kenal, buka harganya mahal2. Yang penting kita mesti bener2 tau ‘harga pabrik’nya sebelum dinaikin ma dia. Sisanya tinggel kemampuan kita nawar harga.

    Tapi warning dari gw, kl percetakan, jgn cari murah de… resikonya gede euy. Percetakan tempet gw magang dulu udah ngerusak berbagai project orang. Dari halaman ada yg terbalik, margin yg geser2, warna yg berubah jauh dr aslinya, dsb. Pokoke banyak kacaunya deh kl percetakan ga dikenal. Kl gw sih mending cari aman. Kl mau jaminan pasti bagus ya Indonesia Printing. Tapi harga disono bisa 2x lipat harga di percetakan kecil.

    Gw blom ngecek lagi sih harga2 nya brp. Seberapa besar naik harganya ditengah krismon gini, gw jg serem bayanginnya. Kalau nurut itungan lama sih kasarnya kita bisa cetak 1000 novel @ 300 an halaman, item putih + cover dgn harga 20an jt. Berdasarkan percetakannya, kualitas kertas yg kita pilih, banyaknya illustrasi B/W atau fullcolor, bisa beda harga jauh. Pastinya range harganya ada di kisaran 10 jt – 30 jt.

  34. 34
    Villam Says:

    hehe… oke deh gue coba-coba cari tau soal indonesia printing dan harga-harga di percetakan lain. kayaknya untuk langkah pertama, mendingan gue ngeprint sendiri kali ya, pengen tau harga dasar sebenernya kalo diprint sendiri sebenernya berapa. :-D

  35. 35
    dian k Says:

    Lagi baca The Novice, buku kedua The Magician’s Guild.
    Sekarang aq tahu kenapa serial itu bisa tebel: ada 4 POV.
    pffiiuhhh..

  36. 36
    Villam Says:

    maksud kamu, di buku pertamanya belum keliatan kalo POVnya ada 4? baru keliatan di buku kedua?

  37. 37
    dian k Says:

    di buku kedua 4 POV ini muncul lagi. pas buku pertama memang muncul sih, tapi gak merhatiin. males duluan sama plotnya yg lambat.

    yg kedua rada lumayan. ada masalah yg genting, nyawa terancam, tapi efeknya belum sedahsyat yg ditulis rowling, yg bikin aq deg2an beneran.

  38. 38
    Villam Says:

    soal deg-degan, aku kepikiran, apa karena bertambah umur membuat kita jadi lebih sulit deg-degan saat membaca cerita ya? mestinya sih begitu, sekarang kita udah banyak membaca cerita semacam, jadi otomatis saraf ketegangan kita juga udah terpengaruh… hahahah…

  39. 39
    dian k Says:

    nggak, villam.

    aq masih bisa deg2an dgn baca novel karya penulis lain.
    masalahnya ada di gaya penulisan. banyak emosi, tapi nggak ngalir sampe ke pembaca (which is me).

  40. 40
    Villam Says:

    hehehe… daripada tanggung, apa mendingan sebaliknya aja ya?
    kurangi emosi, dan fokus pada cerita saja.
    bisa bandingkan dengan karya neil gaiman misalnya?

  41. 41
    dian k Says:

    setuju.

    Neil memukau dengan plotnya, dan itu cukup berhasil, i think.

  42. 42
    Villam Says:

    minus emosi, dan tetap berhasil…

Leave a Reply