Archive for October, 2008
[tab:Hal 1]Sesi XI (12 Mei 2008 – 19 Mei 2008)
- Model stereotip novel fantasi
- Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh clickdian
- Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin
[tab:Hal 2]________________________________________
Post by: BloodSin on May 12, 2008, 12:47:30 am
________________________________________
@villam,
BTW ide ente buat novel fantasi terbaik tahunan asik juga, idealnya sih dikategoriin dua kelompok, fantasi indo & fantasi luar. 
Tapi payahnya ane selaku TS tret lebih intens beli fantasi2 lokal, fantasi luar mah jarang (tapi clickdian kayaknya sering ;D), lagian yg mau jadi juri siapa? Paling disini yg lumayan sering baca buku fantasi lokal secara rutin cuman ane ma om pur, masih kurang 1 mahkluk lg tuh buat bikin kelompok penjurian..
ada yg minat mendaptar?
@clickdian,
asik review-nya, sip dah. 
pertama ane suka namingnya, seperti biasa pengarang luar selalu punya nilai plus buat urusan naming.
kedua, buat idenya, sekilas kalo diliat dari gambaran ente, IMO sih yak masuk lajur klise ahh.. stereotip fantasi kan gak cuma seputar kisah heroik dunia peri-centaur-elf, tapi masuk juga yg model magic2an ala harpot (dengan spell2 yg kedengeran aneh n complicated, tentu)
Septimus masih berkutat di dunia per-magic-an (walo udah disamarin istilahnya jadi ‘magyc’ ), dan rasanya masih termasuk klise..
Tapi keklisean itu pun sama sekali bukan masalah, ane rasa cukup mustahil buat bikin fantasi yg idenya pure original buat hari gini mah.
Kalo diliat2 buat ukuran fantasi hari gini, keklisean itu bisa dikelompokkan jadi 6 stereoptipe IMHO:
-model fantasi epik petualangan
-model fantasi dunia sihir
-model fantasi kolosal
-model fantasi fabel
-model fantasi futuristik
-model fantasi RPN
ada tambahan? dan… yg mana tipe fantasi yg kita masing2 anut yak?
________________________________________
Post by: fr3d on May 14, 2008, 03:33:48 pm
________________________________________
Alow, salam kenal semuanya! ;D
Di sini banyak rekan2 yang novel fantasinya udah diterbitin ya? Wah2, ok deh! Siapa aja ya & karyanya apa?
Fiksi fantasi dalam negeri? Hmm… lebih sering baca luar negeri…
Yang pernah kubaca cuma yang keluaran tahun 2005/2006: ledgard, pinissi, phoenix, dan corruption. Yang setelah itu, blom pernah lagi deh. Kalau liat di toko buku sih pengen beli, tapi takut kecewa karena kebanyakan harganya cukup mahal kan… :-\
Tapi, aku seneng di negeri kita tercinta ini ;D, perkembangan fiksi fantasi udah ke arah jalan yang bener. Mudah2an makin banyak aja terbitannya dan makin berkualitas seiring berjalannya waktu. [bigwink]
________________________________________
Post by: BloodSin on May 16, 2008, 01:08:56 am
________________________________________
buat fr3d, welcome dude, udah baca 4 judul novel fantasi itu? gimana komen ente? puas tak sama fantasi2 karya penulis lokal itu? boleh donk gw minta review ente buat 4 novel itu 
(wakakakak, baru nongol udah langsung gw palak nih orang ;D)
________________________________________
Post by: fr3d on May 16, 2008, 09:55:38 am
________________________________________
@rey (ini bloodsin kan ya?),
Empat novel fantasi lokal itu mengecewakan semua buat gw… (eh, gak ada para penulisnya kan ya? Kalo ada, maap, lho. Ini kan pendapat pribadi )
Hmm… review ya… gak sanggup kayak om pur sampe ke masalah teknis deh… 
Lagian udah rada-rada lupa juga sih. Jadi, komentar sebagai seorang pembaca aja ya. Seinget gw begini…
Ledgard
Kayaknya udah di-review banyak orang. Kecuali soal novel itu bagus banget, umumnya sih pendapat gw sama aja sama para reviewer itu, misalnya soal cover yang gak relevan sama isinya (meskipun bagus), tokoh antagonis yang muncul terlalu di akhir, dll. Kalaupun ada tambahan:
1. Sihir-sihirnya terlalu semaunya! Maksudnya, gak ada aturan jelasnya. Gw lupa kelompok apaan tuh yang dikunjungin para tokoh utama pas pertengahan cerita. Nah, kelompok itu (yang seolah-olah kumpulan para ahli sihir) kayaknya terlalu jago deh. Sama kaum ceweknya nash (siapa sih namanya? lupa juga!) kemampuannya juga hebat banget. Seharusnya dengan kemampuan yang mereka kuasai, mereka udah bisa menguasai seluruh dunia di ledgard tuh! Gak perlu takut sama serangan orang-orang asing. Gak masuk akal aja, apalagi sampe kewalahan pas perang terakhir…
2. Centaur yang cuma punya satu jenis kelamin? Awalnya sih menarik, tapi setelah ada penjelasan bagaimana cara reproduksinya… [rolleyes] Rasanya salah banget… Satu-satunya kaum yang sukses merebut hati ya memang cuma kaum felis itu.
3. Petanya! Aduh, bukannya membantu malah bikin puyeng… 
4. Gambar karakternya oke dan keputusan untuk memasukkan list karakter di bagian awal itu juga oke! Karena jujur aja, waktu pertama kali ngeliat ledgard, gw tertarik beli karena liat list karakter itu. Jadi penasaran, kumpulan orang ini mengalami petualangan apa sih di dalam buku?
5. Gaya penulisan adegan/percakapan romance-nya juga terlalu… gak cocok . Kalimat-kalimatnya berasa sinetron/telenovela gitu.
Pinissi
Jujur dari keempat novel yg sudah gw baca itu, pinissi adalah yang idenya paling bagus 8). Tapi, cuma sampe ide itu aja, karena ternyata perwujudannya gak sesuai yang gw harapkan.
1. Boros kertas banget tuh novel. Ada banyak pembahasan/adegan yang diulang-ulang melulu penjelasannya. Kalau diulang sebagai penyebutan satu dua kalimat sih ok aja, tapi ini satu adegan penuh. Serasa di-copy-paste…
Banyak juga kalimat-kalimat yang kurang efektif dan terlalu berputar-putar. Jadi curiga, jangan-jangan sengaja biar halamannya banyak ya, trus harga jualnya jadi naik, lalu otomatis hasil royalti juga… (eh, bener kan ya analoginya begitu? ???)
2. Endingnya gak jelas. Apa tujuannya juga pembaca diajak muter-muter sepanjang buku kalau akhirnya cuma begitu aja?
3. Artwork-nya lumayan. Tapi knapa yang dipilih jadi cover malah yang itu? Padahal banyak gambar di dalam buku yang lebih bagus…
4. Penyelesaian permasalahannya terlalu di-simplified.
Phoenix
1. Selain telah mengundang seluruh makhluk jejadian lokal ke dalam buku itu (yang merupakan keputusan yang kurang bijak, berhubung setting-nya sendiri masih ngambil-ngambil dunia barat), penulisnya juga tampaknya kurang memahami konsep ruang dan waktu di dalam ceritanya sendiri.
2. Trus si phoenix (manusia) lahirnya dari phoenix (burung) beneran, bukan? Melanggar aturan biologi banget! Kecuali ada penjelasan yang memuaskan, tapi ternyata gak ada tuh… [yawn]
3. Ide jam burung yang burungnya bisa dipanggil keluar itu sebenernya bagus, tapi sayang ketutup sama hal-hal aneh laennya.
4. Yang paling parah adalah filosofi di akhir bukunya ternyata kontradiksi sama seluruh filosofi yang udah dibangun di sepanjang cerita! Walah…
Corruption
1. Mungkin karena diterbitin sama keluarga sendiri kali ya, jadi kayaknya buku itu gak di-edit editor sama sekali. Berasa banget itu cuma suatu proyek yang dibuat si penulis buat tugas sekolahnya. Ya itu dia, karena gak di-edit, akhirnya cuma cocok buat dikumpulin ke gurunya aja. [bigwink]
2. Dari segi tema, dunia rekaan, karakter, dan plot, sebenernya corruption punya potensi besar untuk jadi sebuah series yang bagus, tapi penulisnya butuh critic group. Butuh banget, om dan tante! Jangan dimanja gitu dong anaknya! [annoyed]
3. Udah nerbitin sendiri, harganya mahal banget lagi! Memang niatnya laris atau cuma iseng doang sih?! [tickedoff]
4. Covernya jelek. Dan tulisan judul “The Corruption” model begitu niatnya apaan lagi?
Urutan penilaian gw terhadap keempat novel itu:
(Terbaik) 1. Ledgard; 2. Pinissi; 3. Corruption; 4. Phoenix (Terburuk)
Hmm… pasti pada ngerasa kesel kali ya kenapa gw dari tadi kerjanya protes melulu aja? [rolleyes]
Maap ya, kalo para penulisnya baca. Sebenernya itu karena gw punya ekspektasi besar buat penulis-penulis fantasi lokal. Gw percaya, Indonesia mampu juga koq melahirkan penulis sekaliber Tolkien, Rowling, Dahl, Pullman, Goodkind, Jordan, bahkan Frank Herbert!
Trus mana juga peran editornya? Yang jadi editor itu selama ini baca buku fantasi atau enggak sih? [ranting]
Peran penerbit buat publikasi/promosi juga kurang banget. Tapi, ini mungkin juga karena penerbit menilai kualitas bukunya kurang kali ya, jadi gak terlalu niat. Nah tuh jadi balik lagi kan, kalau memang rasanya kurang, kenapa gak ditahan dulu penerbitannya? Jadinya si penulis disuruh perbaikin novelnya sampe jadi bagus. Sekali lagi, editornya gimana sih?!
Satu hal yang membuat gw bertanya-tanya, keempat novel itu kan disebut-sebut baru buku pertama tuh, lalu mana lanjutannya sampe sekarang? Apa karena kurang laku, trus penerbit gak bersedia nerbitin lagi? Kasian dong… Berarti penerbit juga udah mengkhianati pembaca yang mungkin udah jadi fans karya-karya itu (tapi gw gak termasuk, lho [biggrin]). Kalau bener, model penerbit gitu yang gak konsisten tuh!
Jadi, itulah, kawan-kawan, alasannya kenapa gw gak belanja fantasi lokal lagi, karena takut kecewa… :’(
Kesimpulan uneg-uneg panjang lebar ini:
“Ayo, semangat memajukan fiksi fantasi dalam negeri!!!” (Lho?! [rolleyes] ;D)
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 12:01:38 am
________________________________________
@fr3d,
asik reviewnya, ternyata emang banyak yg mengeluhkan gaya dialog metropop dalam ledgard, kesannya pan tokoh2nya jadi kayak ‘bule celup’ gitu, wakakakak…
Kalo Pinissi, emang kurang ada gregetnya dan gaya berceritanya muter2, gw juga gak suka sama kovernya (padahal ilustrasi di dalam bukunya cakep2 banged), ironis emang. Tapi mungkin karena emang sasaran pembacanya anak kecil, gaya berceritanya jadi diulang2 gitu yak 
Kalo Phoenix emang cukup banyak pembaca yg udah komen negatif dimana2, gw sih belom baca.. Penasaran juga sih segimana parahnya 
Kalo corruption, penasaran nih gw, ada yg bilang bagus, ada yg kagak kayak ente..
Tapi mungkin dia mahal karena kualitas kertas HVS, dan lagi kualitas kover-nya bagus banged pan?
BTW jangan salah, sebetulnya ada juga lho fantasi2 penulis lokal yg dahsyat, cobain deh baca Goran, Sang Penandai, ato Hozzo, 3 novel lokal itu masuk kategori the best dari semua yg pernah gw baca. Lagian fantasi indo semenjak era Ledgard-Pinissi-Phoenix itu, udah gak tebel2 n mahal2 amat lg kok, sekarang mah kisarannya 30-40rban.. tapi yak emang masih pada bersekuel sih ;D
________________________________________
Post by: fr3d on May 17, 2008, 12:45:17 am
________________________________________
Corruption idenya gak jelek, beneran deh. Tapi, ya sayang itu, kurang digali aja. (sotoy mode: on)
Jadinya, kayak cuma laporin resep masak-memasak gitu (analogi yang aneh nih… ;D). Itu kisah cuma dilaporin aja. Bet, bet, bet, eh… tamat… Gak ada perasaan apa-apa setelah ngebaca itu…
Karena banyak yang muji (mengapresiasi penulisnya yang masih muda), mungkin itu yang jadi sebabnya juga kenapa penulisnya begitu pede menerbitkan karyanya begitu aja (tanpa mengedit ulang kedalaman plot, unsur greget, deskripsi setting, dll. –> kalau gak salah di wawancaranya, dia pernah bilang cuma perbaikin grammar dan nambahin beberapa adegan ke proyek sekolahnya itu).
Hozzo masih di atas 50rb, bukan? (Kalo kualitasnya ok, gak pa-pa sih, hege )
Kalau Sang Penandai emang waktu itu pernah tertarik beli karena baca gaya bahasanya. Hmm… ntar deh gw liat lagi di toko buku. Kalau Goran, pas baca sinopsis di cover bagian belakangnya, rasanya agak aneh gitu sama ceritanya, jadinya waktu itu udah megang, langsung dipulangin lagi ke rak…
________________________________________
Post by: BloodSin on May 17, 2008, 06:38:42 pm
________________________________________
@fred,
sebetulnya balik ke masalah selera ente dulu sih, ane pan baru aja nyebut stereotipe2 fantasi di halaman belakang, selera fantasi ente cenderung ke tipe yg mana?
Kalo Hozzo, mendingan authornya aja dah yg ngomong, gw udah gak berkepentingan lg disini 
Kalo sang Penandai, cukup mengingatkan The Alchemist-nya Paulo Coelho, cuman yak kalo tema alkemis lebih oriented ke ‘kehidupan’, penandai lebih ke urusan ‘broken heart’ gitu lha, tapi kedua novel ini sama2 membahas penemuan jati diri, dan Sang Penandai alih2 disebut novel spiritual, dia malah lebih condong ke fantasi epik adventure (dan ada kolosal2nya dikid).
Sinopsis belakang kover Goran emang berkesan cupu (gw juga waktu pertama kali baca langsung jatuh ilpil pun, bayangin masa ada Pasukan Jas Hujan segala ;D), tapi serius novel ini tertolong oleh penyajian setting yg ciamik, karakter2 yg hidup, dan jokes yg gilak, gw gak pernah bosen bilang ini: Goran novel fantasi indo terbaik dari semua yg pernah gw baca (udah belasan judul), mungkin mengikuti ide Villam, nih novel bakal kunobatkan jadi best fantasy 2008 di tret ini.. [biggrin]
(dengan harapan pengarangnya kepancing masuk ke tret inih :-[)
________________________________________
Post by: clickdian on May 18, 2008, 05:07:58 pm
________________________________________
Mas Pur, ini janjiku.
Maaf makan waktu lama..
First of all, I gotta tell you that I’m not a prologue lover. Kebanyakan prolog yang aq temuin di novel2 biasanya aq skip, kecuali prolog yang cukup pendek untuk dibaca dalam waktu 10 menit, itu pun skimming. T_T sorry if I dissapoint you, but that’s me. Dari semua novelku, yang ada prolognya cuma Segara Wulan, itu pun cuma terdiri dari 100 kata.
Jadi, dengan kebiasaan jelek di atas, to find a prologue which has two sequels (all three), to be honest, aq harus baca dua kali karena yang pertama aq loncatin terus. Dan setelah kubaca aq tetep penasaran kenapa gak dibuat bab 1-3 aja? Atau kalo kisah Pendekar Garuda mau dibuat prolog, sebetulnya bisa dibuat singkat padat aja, mungkin satu sampai tiga halaman. Bukankah prolog berfungsi sebagai pengantar atau pengenalan cerita sebelum pembaca masuk ke cerita tersebut?
Ada opsi lain untuk prolognya. Kasih judul di depan, ‘PROLOG’, baru di baliknya, ‘Bagian 1, Pakulangit’, lalu kemudian, ‘Bagian 2’, dst. Kalo kuinget-inget salah satu novel seri Samurai modelnya kyk begini, prolog panjang banget sampe sepertiga novel, terus sepertiganya baru isi cerita, dan sepertiga lain epilog (novel tipe begini bikin aq mau gak mau baca prolognya, kalo nggak isinya sampe tujuh turunan gak bakal aq ngerti).
Muncul pertanyaan, “Bo, terus apa bedanya konsep prolog yang lo bilang dengan dengan konsep prolog Pendekar Garuda (PG) yang sekarang?”
Lebih rapi dan enak diliat yang jelas, dan mengurangi jumlah orang iseng semodel aq dan Rey yang melontarkan pertanyaan gak penting, ‘Prolognya kok panjang banget sih?’
Ato gini deh.. skip aja prolognya. Cerita para pendekar itu bisa dimasukkan ke mimpi Jaka, sekalian biar jadi ‘proses pembelajaran’ jaka menjadi seorang pendekar, biar dia gak langsung bleg aja jadi jagoan. (>.< duh, aq malah kegatelan ngubah2 novel orang. Punten, punten).
Okeh, gini aja. Daripada mengundang debat kusir gak jelas soal ini, mending loncat ke topik berikutnya yang jauh lebih penting. Forget whatever it was named, gak usah pikirin bab2 awal itu disebut prolog ato ngga. Kita jalan ke masalah teknis aja deh kalo gitu. Oh iya, FYI, aq lebih suka bikin review per bagian, karena dengan begitu bisa lebih menyeluruh. Mudah2an gak keberatan.
Prolog 1
Dari awal baca bagian ini, aq jadi ngerasa kangen sama buku2 yang aq baca waktu kecil. Rada laen dengan selera cewek kebanyakan, aq dulu gak cuma baca Lima Sekawan dan Malory Towers aja, tapi juga komik2 silat (kayak serial Gina-nya Gerdi WK), cerita pewayangan (bikinan Kosasih itu lho) dan Wiro Sableng (gara2 taman bacaan deket rumah buku2nya udah abis kulalap dan akhirnya serial WS ini ikut kupinjem juga, hehe). Gak cuma sekedar suka, lama2 jadi sengaja nyari, dan sempet beli beberapa, terutama komik2 wayang
PG punya gaya penuturan yang mirip dengan cerita2 lawas itu. Dari penggunaan bahasa sampe isilah2 baheula, kerasa banget. Dan mengingat udah jarang penulis sekarang yang menulis dengan gaya ini, kukasih jempol deh. Segara Wulan, walopun settingnya sama, gak berhasil kubuat dengan gaya ini. Selain emang gak bisa, gak pengen juga, hehehe..
Cuman... ada beberapa hal yang masih ngeganjel, yang sebenernya bisa dipertimbangkan lagi (kalo mau).
Yang pertama, karakterisasi yang kurang kegali. Aq lumayan sering koar-koar soal ini di banyak review yang aq buat, termasuk Rey dan Villam pernah jadi korban, hihihi. Hege aman, karena dia emang oke untuk hal yang satu ini.
Contoh simpel, aq masih belum bisa ngebayangin dengan jelas wujud fisik Sentika dkk itu kyk gimana. Cuma bisa kebayang samar2. Satu lagi, sifat-sifat karakter itu lebih kena kalau digambarkan dalam bahasa tubuh dan cara bicara, lho, bukan deskripsi panjang lebar dalam kalimat.
Hal lain yang lumayan ngeganggu adalah masalah tanda baca. Please tell me why did you have to put comma, dot, question mark and shout mark, all four in a row? Dan kadang-kadang tidak hanya masing-masing satu, tapi banyak.
Ada maksud tertentukah?
Next, kalimat-kalimat yang muncul dalam benak si tokoh, bercampur dengan kalimat deskripsi biasa dalam alinea. Ini harus dibedakan karena memusingkan pembaca. Kalo aq, biasanya membuat ‘suara hati’ dengan huruf miring. Di prolog 1 ini banyak sekali deskripsi, kalau bisa sebar informasi2 ini dalam percakapan singkat padat aja, jgn ditumpuk di alinea.
Hal berikutnya, alinea yang terlalu padat. Ini maksudnya bukan cuma font huruf yang besar atau halaman novel yang terlalu kecil, tapi kalimat-kalimat yang seharusnya terbagi dalam dua bagian disatukan dalam satu alinea. Jujur, aq sering pusing dengan huruf-huruf yang terlalu rapat dan kalimat2 deskripsi yang ‘berat’, akibatnya banyak bagian yang terpaksa aq skip (btw, ini bahkan aq temuin di Laskar Pelangi, dan novel sekaliber itu pun terpaksa ngalemin aq skip hiks.. maaph Bang Andrea..).
Efeknya, banyak informasi yang terlewat dan aq harus balik lagi untuk lebih memahami jalan cerita. Wasting time walopun salah sendiri. Masalah skip-skipan ini sebenernya tanggung jawab penulis. Mestinya dia bisa pake penuturan yang mengikat pembaca untuk keep reading sampe ke akhir (ini teori yang implementasinya susah bukan main >.<).
Kemudian, masalah flashback Sentika. Di awal lamunan dijelasin si kakek udah dalam kondisi sekarat dan nafasnya tinggal satu2, tapi aq heran dia masih bisa bicara sebanyak itu. Kalau dibuat kalimatnya pendek2 dan terputus2, efek misi misterius akan muncul, lho. Dan karena si kakek cuman cerita sepotong, ini akan memancing keingintahuan, ‘emang sebenernya ada apa dgn si Utusan Iblis?’. Kalo pembaca udah keiket kayak gini, dia akan terus membaca bagian berikutnya
Satu lagi. Bagian flashback ini seharusnya bisa dibuat mencekam. Tapi sori, ini aq gak dapet sama sekali. Coba sisipkan deskripsi setting dan bahasa tubuh di bagian ini, dijamin kalo tau caranya, hasilnya bakal beda banget. Walopun jujur, if i were you, i will cut banyak adegan flashback yang sebetulnya gak perlu diceritakan terlalu detil, apalagi kalo ada repetisi. Or, may be I would cut them all, sorry.
Terus terang di bagian flashback ini aq rada bingung. Terlalu panjang. Tapi kalo nggak ada, sejarah terbentuknya kelompok pendekar ini bakal kegusur. Sori, aq gak punya ide gimana cara bikin bagian ini jadi lebih menarik T_T. Mungkin trik lama—menyebar info via dialog bisa membantu?
Berikutnya, masalah point of view. Di prolog jelas ada banyak pov; para tokoh plus sudut pandang si penulis itu sendiri. Untuk masalah pov ini, Villam jauh lebih baik dari aq, better ask him (#Villam, could you gimme a hand on this one?).
Bagian sajak, Cahayanya menerangi seisi limbah, gak salah? Limbah artinya sampah, kotoran, hasil pembuangan dari suatu proses. Sori, aq gak paham makna kalimat ini, baik konotasi atau denotasi.
Last, adegan akhir prolog 1 kurang menggigit. Rasanya lebih smooth kalo mereka melihat paku langit, tercengang, lalu Sentika teringat pada lontar, dan kembali ke percakapan antar pendekar garuda.
Prolog 2
You need footnote untuk kata ageman. Makna kata ini jangan simpan di alinea, it broke my continuity of reading, to be honest.
Tentang Ki Sangeti, deskripsi sifatnya udah kerasa, tapi fisiknya buatku masih blur. Hampir semua tokoh di dalam prolog, kecuali tokoh2 wanita dan gambaran Widura yang tambun, masih belum jelas buatku. Sepele banget kan? Tapi toh berperan besar dalam imajinasi pembaca.
Alinea yang terlalu panjang, sampai setengah halaman, mestinya masih bisa dibagi-bagi. Dan masalah kasta... gimana ya? Sejak awal aq dapet asumsi kalau latar dunia Sentika itu Islam, tapi tiba2 unsur kasta muncul—which is gak dikenal di Islam—dan ini bikin cerita jadi gak match. Memang hal ini dilontarkan oleh Ki Sangeti yang agamanya wallahu alam apa, tapi mestinya mereka hidup di dalam lingkungan budaya yang sama, kan? Kecuali, kalau Sentika dan isterinya awalnya Hindu, misalnya, kemudian memeluk Islam. Kalau begini, masih wajar. Mereka berdua awalnya punya kasta, tapi terhapus setelah memeluk Islam.
Prolog 3
Oke, now the battle.
Jujur aq kurang puas sama adegan battle ini. Kayak baru setengah, atau mungkin permasalahannya di penuturannya? Misal, bagian Sentika memberi isyarat teman2nya untuk menggempur si ratu lelembut, lebih bagus dimasukkan sebagai adegan dan bukannya deskripsi di alinea, karena ini membuat adegan lebih hidup.
Kemudian, tempo pertempuran, sangat cepat. Untuk ukuran Sentika (yang katanya pendekar kelas wahid masa itu) dan Ki Sangeti (yang katanya tokoh hitam yang lumayan punya pamor), cuma butuh tiga alinea sebelum jurus pamungkas Sentika keluar? Ini pun satu alinea hanya deskripsi kondisi kedua belah pihak, bukan gambaran pertempuran mereka berdua. Dan maksud kalimat ‘Tak banyak yang dapat diingat lagi setelah itu’—diingat sama siapa? Sebenarnya ini sudut pandang siapa?
Satu lagi, ‘Yang masih tergambar jelas adalah adegan terakhir saat matinya Ki Sangeti di tangan Sentika’. Kata ‘adegan’ di dalam paragraf make it sounds like watching movie or something, seperti di luar kisah. Kalau aq, kalimat ini nggak perlu. Langsung aja ceritain bagian matinya Ki Sangeti, tidak perlu repot-repot buat kalimat pengumuman seperti ini.
Toya Batara Guru, yang ada di bayanganku pedangnya Anakin di Star Wars, betul kayak gitu? Oke, permasalahan yang sebenarnya buatku ada di bagian penjelasan panjang lebar tentang senjata ini.
Belok bentar ya, soal kebiasaanku baca atau nonton Naruto (don’t get me wrong, di dalam Naruto banyak ilmu yang bisa kuambil untuk menulis. Makanya aq lumayan intens ngikutin serial ini). Kubilang secara plot, karakterisasi, battle story, Naruto bagus. Tapi ada kebiasaan OOT di saat battle, dan itu ngeganggu. Misal pas Sasuke lagi tempur seru ngelawan Orochimaru dan Orochimaru tiba2 nyebut soal Itachi (kakaknya Sasuke), adegan tiba2 aja flashback ke bagian Itachi dan Sasuke belajar ngelempar shuriken, terus Sasuke digendong pulang, terus keadaan makan pagi di rumah Sasuke kecil, terus Itachi diciduk petugas keamanan setempat, terus satu klan keluarga Sasuke dibunuh Itachi, terus kehidupan Sasuke kecil yang jadi sebatang kara, barulah setelah itu adegan kembali ke Sasuke yang berdiri terengah-engah kelelahan menatap Orochimaru yang sedang merapal jurus pamungkas. T__T
Dan ini aq dapetin di Toya Batara Guru. Mungkin penjelasannya nggak perlu panjang lebar dengan ‘versi sejarah’, akan lebih mencekam kalau langsung aja dipraktekkan oleh Sentika yang menebas sebatang pohon yang tumbuh di dekat mereka. Kan keliatan tuh dahsyatnya si toya. Kalo gini kan tinggal disebut Ki Sangeti jadi rada jiper juga tuh ngeliat kesaktiannya.
And btw, tentang Sentika yang mencari Ki Sangeti yang asli (dari klonnya yang bejibun itu), terus terang aq pengen tau gmn caranya. Kalo di Naruto ilmu membelah diri ini ada, dan cara mencari yang asli juga diceritain gimana, jadinya cerita absurd itu sounds make sense. Bukan maksudnya bandingin, hanya saja kalau kesaktian Sentika ini diceritakan lebih detil akan .?lebih meyakinkan, dan pembaca lebih respek sama dia
Muncul pertanyaan: “Hei, ini kan fiksi fantasi, terserah dong mau tulis apa aja!”
Masalahnya, fiksi fantasi sebenarnya bukan melogiskan yang tidak logis, tapi membuat hal yang tidak logis jadi terasa logis. Jadi hal-hal yang tidak penting dan sepintas nggak perlu kayak detil di atas, tetap dibutuhin dalam pembuatan novel fikfan. Siapa bilang bikin novel fikfan itu gampang? Ngayal aja gak cukup T_T
Terakhir, ending prolog 3. Kurang crunchy. Rasanya kayak ‘This is the end and that’s it’. Sebenarnya ini justru bagian yang paling penting, karena harus menghubungkan pembaca dengan isi novel yang sepintas kuliat udah pindah waktu. Ikatlah pembaca di bagian ini, sehingga dia penasaran untuk pindah dari prolog ke isi. Bukannya gak bagus, cuma kurang greget.
Inilah kenapa kubilang masukin aja bagian2 Sentika ini langsung ke bagian Jaka. Bakal lebih menarik, pinter2 aja raciknya.
Isi
Wadoh, Sentika dkk ternyata cuma mimpi Jaka, toh?
Di bab satu ini sejak awal udah keliatan ‘pindah dunia’ dengan pengubahan cara bertutur dari yang ala Wiro Sableng ke teenlit. Kalo boleh share pengalaman, sebetulnya ‘menulis ala teenlit’ cukup di bagian dialognya saja. Narasinya tetap pake bahasa EYD. Karena aq liat jadi nggak konsisten, ada narasi yang ala teenlit, dan ada yang ala EYD.
Masalah kedua, ini jadi bikin aq pengen tau, sebenernya Pendekar Garuda ini target pasarnya siapa, ya? Pembaca teenlit, atau pembaca dewasa? Karena dua gaya penuturan dalam satu novel membuat rancu mengenai segmentasi pasar.
Oke balik ke review. Di sini masih banyak alinea2 yang terlalu panjang dan masih bisa dipotong supaya lebih singkat dengan maksud yang sama. Deskripsi karakter lebih bagus jangan ditumpuk di awal, kecuali terpaksa. aq liat masih bisa diselip2kan di tengah cerita.
Satu hal yang aq liat agak aneh. Aq pernah ngalemin beberapa kali berada di tengah tawuran, dan setauku cewek gak pernah ikutan tawuran, walaupun dia yang jadi penyebabnya. Cewek secara naluriah akan menyingkir, gak peduli siapa dia dan apa jabatannya. Jadi ngeliat Rani, Ratih dan Siska tetep ada di ‘medan pertempuran’, jujur aq heran. Kalaupun terpaksa harus ada di sana (seperti yang pernah aq alamin), cowok2 di sekitarnya nggak nantangin dia. Tapi ya sudahlah, pengalaman tiap orang bisa beda.
Kemudian, masih banyak kalimat2 yang tidak efektif, spt 'Topo dilarikan ke UKS (sambil berlari sendiri)'. Kalau dia bisa berlari sendiri, kenapa dilarikan? Gimana kalo kalimatnya, ‘Mereka berlari membawa Topo ke UKS, yang untungnya masih bisa menggunakan kakinya’?
Lalu huruf italic di tengah tanda petik-->apa bedanya dengan yg di luar tanda petik?
Soal ‘alam lain’ yang dimasuki Jaka cs saat bertarung dengan lelembut, masih belum jelas di bab ini. Tapi satu hal, fact bahwa mereka adalah keturunan Pendekar Garuda terlalu mudah terungkap. Lebih pas kalau mereka tahu hal ini setelah ketemu Sentika dan dijelaskan olehnya—ini dengan mengabaikan kebetulan2 yang ada ya, bahwa tiga dari lima keturunan Pendekar Garuda ada di lingkungan yang sama dan bahkan Kitab Lontar tahu2 ada di tangan ibu Jaka.
Oke, overall, sebetulnya ceritanya sudah mengalir, hanya masih perlu ramuan yang tepat untuk menyajikannya. Masalahnya di cara penuturan. Oh satu lagi, sepele banget tapi menghambat proses membaca, EYD dan tanda baca. Walaupun ini sebenarnya akan dibantu editor, nggak ada salahnya kita penulis tahu, kan?
Mudah2an bermanfaat, dan mengeluarkan omong kosong panjang lebar ini nggak berarti tulisanku sendiri sempurna.
Btw, gandrik itu siapa ya?
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 18, 2008, 06:25:46 pm
________________________________________
Thankyou, thankyou, thankyou (sambil membungkuk bersoja tiga kali)
Kumplit, dan thorough. Akan butuh waktu untuk menyimak (pelan-pelan) dan mempelajari saran-saran kamu serta membandingkan dengan part yg sedang dibicarakan. Tapi, wow. Sungguh beruntung saya bisa dapat masukan ini. terima kasih.
Dalam rangka prolog, saya mulai paham maksud Dian, walau memang tak mudah untuk begitu saja merubah apa yg sudah ditorehkan bertahun-tahun, yg udah kubaca (kuedit) berkali-kali. Tapi seriously gue pertimbangkan untuk merubah angle Prolog ini semaksimal mungkin, mengingat komentar senada cukup signifikan. Great challenge, sih, aku tahu (merinding, bisa gak ya?). BTW, sudah baca versi alternate dimana Prolog dan bab diselang-seling? bagaimana komentar Dian? (eh kalo belum gue kirim by PM dah, sekaligus yg lengkap sampai the End).
EYD? :-[ hehehe malu deh. Harus kuperbaiki lagi. Hayuuk!!
LIMBAH? Typo kali ye,… maksudnya pasti LEMBAH. Emang, sewaktu diketik ulang oleh beberapa siswa SMK, cukup banyak typo terjadi di banding versi hardcopy. Tapi bisa mendigitalisasinya aja gw dah bersyukur banget. Sampai sekarang saya masih menyisiri seteliti mungkin, tetep aja masih ketemu 1-2 typo atau hilang kata.
Hmm,… Siska jelas akan berada di sana, sebab dialah Ketua geng keamanan, dan dia akan dengan senang hati berkelahi dengan siapapun yang menantangnya.
Rani, memang sifatnya berangasan dan gelap mata,… hehehe.
Ratih, kalo dia memang jauh lebih suka menyingkir,… cuma gimana dia lari kalau dua sahabatnya terlibat di sana?
Kenapa seperti kebetulan? Mestinya sih semuanya terungkap di akhir cerita. He he he,.. tapi point kamu clear. Mana ada yg bakal sampai ke akhir cerita kalau di bagian awalnya aja udah ngga engaging?
OK, time to rework.
Terima kasih Suci Dian telah berkenan memberi beberapa petunjuk kepada Teecu.
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: BloodSin on May 19, 2008, 02:43:31 pm
________________________________________
@om pur.
Akhirnya beres juga ane baca PG full version pagi ini.. hehehe semalem begadang gak sanggup beresin :-[
Oke, ane gak bakal ngomongin masalah prolog, bilangan 666, dan gaya bahasa lagi dah. Kita concern ke hal2 yg belom dibahas aja yak (bahasan yg di review ane sebelomnya, tentu).
Dan tentu karena ini review, bakal ada bbrp poin yg jadi SPOILER.. so bagi pembaca lain, skip aja tambahan review ini kalo ada yg belom beres baca PG dan ada niat ngelanjutin baca.
1. Masalah tanda baca
Khusus yg ini ada dua macam yg mau ane komen:
*)Pengulangan tanda baca
Seperti yg pernah dibilang clikdian entah di mana, misal untuk kalimat pertanyaan, mau pake tanda tanya sekali (contoh: apa?) atau tiga kali (contoh: apa???), maknanya bakal sama aja. Kalo ente ingin menggambarkan betapa terkejut atau penasarannya si tokoh yg bertanya itu, kurasa akan lebih bagus kalo dibikin dia mengajukan pertanyaan beruntun/repetitif aja. (contoh: Apa? Kau yakin?)
Ini juga berlaku buat kalimat perintah/seruan (!).
**)overdosis tanda baca
“Eh,… makasih ya Bun,…”
PLAAAAAAAKK,…!!!
Jangan pernah bikin kalimat dengan dua/lebih tanda baca sekaligus kayak begini>_<
Yang paling sering itu orang bikin kalimat berakhiran ‘?!’ untuk pertanyaan dalam keadaan emosi tertentu, dan yg satu itu masih bisa diwajarkan karena emang udah jamak dipake.
Tapi untuk variasi-variasi dua/lebih penggunaan tanda baca dalam PG, kurasa itu cukup nyeleneh, at least clickdian juga protes beginian, heheheh.
2. Ketidakkonsistenan kata panggil
“Gue mau tidur dulu sekarang. Eh kamu mau keluar kan? Aku boleh pesen beli sesuatu ke elu gak?”
Kalimat di atas gak ada di PG, tapi ada bbrp kalimat semacam itu di PG, banyak malah, heheheh..
Orang yg mengatasnamakan dirinya ‘Gue’, idealnya manggil temennya ‘lu’, dan orang yg mengatasnamakan dirinya ‘aku’, idealnya nyebut temennya ‘kamu/kau’. Jangan diputer2 yak, kurasa akhirnya ketemu juga letak kejanggalan gaya bahasa anak jakarta di setting Jaka, ya itulah menurutku 
terus ada juga yg dikali pertama seorang tokoh pake ‘aku’, di lain kalimat pake ‘gw’.. ada juga yg nyebut ‘elo’, di lain kesempatan pake ‘kamu’, padahal masih ditujukan ke orang yg sama.. menurutku ketidakkonsistenan gw-elu-aku-kamu ini bakal cukup mengganggu pembaca.
3. Scene cutting
Kayaknya kita menganut aliran yg berbeda nih om, heheheh.. Kalo yg gw liat di PG, setiap scene2 peristiwa ‘seru’ yg berhubungan pasti terus dirangkai jadi satu kesatuan, sambung menyambung sampe pembaca terpuaskan pada satu titik jawaban. hmm.. sebetulnya ini prerogatif pengarang sih, tapi menurutku betapa asiknya kalo kita sebagai penulis, bisa ‘menyiksa’ pembaca dengan menyisipkan scene2 lain yg tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasan scene ‘seru’ sebelomnya. Jadi scene-nya dipotong2 ala genre suspense/thriller gitu lho. Kan asik aja bisa bikin pembaca gregetan, hehehehe
Tapi emang pilihan teknik memotong cerita ini gak gitu vital2 amat sih, cuman yak bagi pembaca yg udah terbiasa baca novel2 Dan Brown, pasti bakal ngerasa agak gimanaaa gitu sama gaya penceritaan yg ‘lempeng’ kayak begini..
5. Pemilihan kata
Mahisa Ganurawang segera melompat tinggi, dan dengan keren ia melayang bagaikan terbang menuju ke arah gelaran pasukan kerajaan lelembut.
‘Keren’-nya itu lho!
Entah di dialog, deskripsi, atau narasi, suka muncul kata2 ‘ajaib’ semacam itu. Dan ada juga beberapa judul bab nyeleneh semacam ‘Naik Kereta Api Tut Tut Tut’, ‘T.O.P. B.G.T’, dan beberapa lainnya yg ngebikin gimanaaa gitu.
Tidak begitu vital sih untuk keseluruhan bangunan cerita, tapi cukup mempengaruhi konsistensi bahasa dalam novel ini.
oke, cukuplah masalah teknik penulisan/EYD/tanda bacanya, hehehehe..
6. Sekarang kita masuk ke plot,
-)Plot bikinan ente mengingatkan ane ke plot Naruto, terutama pas konflik Penyerbuan Orochimaru ke Desa Konoha. Dan sejujurnya, walopun gw kagak berselera sama sekali sama settingnya, dan cukup tersiksa malah sama gaya teenlit-nya di awal-awal, hueheheh (ini subjektif sekali, tentu), akhirnya gw mesti mengakui, plot yg ente bikin cukup asik (dan kurasa, ‘keasyikan’ novel ini lebih cocok ditargetkan ke anak smp-sma). Terus terang setelah melewati gaya bahasa teenlit yg ‘parah’ di bab2 awal, gw mulai bisa mengikuti aliran ceritanya, dan bahkan sampe pada tahap menikmati karena ‘terikat’ pada plotnya. Yah karena itu tadi, mungkin karena sedikit banyak genre PG ini mirip2 genre Naruto, salah satu judul anime favorit ane.. :-[
sedikit OOT:
hehehe, gak usah malu sama umur om (istri dan anak pula ;D), tapi ane (dan ane percaya clickdian juga) mau suggest: ente coba simak anime/manga Naruto deh, serius, untuk genre silat yg ente usung ini, banyak ilmu yg bisa dipetik dari Naruto. Mumpung besok libur panjang… buruan cari dvd-nya di glodok gih! ;D
BTW, sedikit intepretasi iseng antara PG dengan Naruto:
(sengaja ngebandingin pake moyangnya biar gak spoiler)
Sentika – Sasuke/Naruto
Widura – Akimichi Chouji
Rangga – Hyugaa Neji
Anggraini – Tenten
Pramesti – Sakura
Ki Sangeti – Orochimaru banged (kepala copot-nya itu lho! )
Robbi – Garra
Okee, okee, cukup OOT-nya, lanjut ke PG.
-)Ane berharap, ada penjelasan logis kenapa kelima keturunan Pendekar Garuda itu bisa tinggal dalam satu lingkungan yang sama (SMA Raya). Selang setting Jaka – Sentika itu 600 tahunan, betapa mestinya keturunan kelima pendekar itu udah terpencar2 IMO sih.
-)Tokoh abu2 juga sebetulnya gw harapkan muncul dalam cerita, entah dia itu adalah tokoh penjilat licik yg kadang ada di pihak putih atau hitam, atau malah netral. Dan lebih seru lagi kalo ente bikin tokoh abu2 itu ada di setting jaman Sentika, dan muncul keturunannya juga.
-)Tokoh Johannes Domingus Pasaribu yang NOTABENE berdarah Batak, gimana urusannya bisa nyambung ke silsilah Rangga yang orang Jawa? Tentu kalo yg dipake konsep titisan, hal ini gak bakalan jadi masalah.
(BTW, yg bikin ane tertarik (dan cukup menikmati) untuk terus lanjut baca Pendekar Garuda adalah aroma ‘detektip2an’–memprediksi siapa gerangan yg jadi keturunan tokoh2 masa lampau itu–itu bagus, walaupun sebetulnya semua tokoh bisa dengan gampang ane tebak keturunan2nya dari siapa aja, kecuali si Jo gara2 atribut bataknya ;D)
BTW, orang gak tidur selama seminggu aja dijamin koit om, 1000 jam? Yeah, walopun Jo keturunan pendekar sakti, at least ente jabarin fact itu supaya reasonable bagi pembaca.. Misal hal ini terungkap waktu si Jo (entah gimana caranya) kebetulan baca artikel dari internet yg nyebut daya tahan orang begadang sewajarnya adalah cuma beberapa hari, dan betapa ia tidak mengerti menemukan dirinya sanggup begadang jauh lebih lama dari yg sewajarnya: Kok gw bisa gak matik, dan masih seger sampe sekarang?
-) Kebalikan dari komen Clickdian, menurutku adegan2 battle di PG malah kepanjangan, terlalu detil (gileee bener adegan battle final-nya: dari Bun Vs Monster ijo, disambung Robby Vs Jo, Ratih Vs Ki Sangeti, terus yg paling panjang, Kelima pendekar garuda vs Ki Sangeti-Suromenjani-Utusan Iblis. What a long journey! )
Tapi emang sebetulnya ini wajar juga sih, secara tipe fantasi yg diusung silat.
-) Suka OOT
Ada penjelasan ttg bahaya merokok, masyallah, keluar banged itu dari bangunan plot! Mendingan dicut aja IMO sih. Terus masa abis Jo nyikat Robbi, malah ngomongin tawuran?
OKeh.. i’ve finished for all of these inputs & critics, now lets talk about the positives. (yg ente tunggu2 nih ;D)
-)Sekali lagi, bangunan plotnya emang cukup kuat. Gw jadi ngerti kenapa ente mencak2 banged nanggepin plot Hozzo, hueheheheh. Perencanaan plot emang cukup matang, walaupun sebetulnya ini mengakibatkan beberapa adegan di depan jadi cukup mudah ketebak.
-)Begitupun karakterisasinya. Yahh, cukuplah. Jaka yang kadang bijak kadang dongo (ini istilah dari Rani, hahah gw suka!), Rani yang ceplas-ceplos dan beringas, Jo yang berandal tapi cool, Ratih yang lemah lembut dan cerdik, Bun yang kalem dan humoris (walo humor2nya cenderung garing bagiku): kelima tokoh itu emang udah keliatan perbedaan dasar sifat2nya. Cool, & good job.
-)DAN walaupun disini gw dapet kesan betapa Jaka begitu naif dan tolol (gampang banged dirayu Prasti), gw salut ente bisa menciptakan karakter2 yang ‘manusiawi’, maksudnya jauh dari titel sempurna gitu (Tapi ini cuma berlaku untuk keturunan2 kelima PG itu–Sentika malah keliatan too perfect). Gw selalu eneg baca novel dengan tokoh protagonis yang terlampau sempurna, untungnya PG gak ikut2an pakem itu.
-)Muncul juga tokoh2 baru semacam Mahisa Ganurawang untuk mengecoh pembaca memprediksi keturunan Rangga, dan Gagak Prabaketu untuk menjadi penolong pihak putih secara tak terduga-duga, itu bagus.
-Namingnya (baik untuk tokoh2, jurus2, tempat2), walaupun bukan selera gw, patut gw acungi dua jempol. Emang pas banged sama bangunan Setting Jawa Kuno-nya.
-)Adegan cinta monyet Siska-Jo, Tongpes-Olga, dan percekcokan geng Seksi Keamanan terhadap Olga juga lumayan asik diikuti.
-)Walaupun gw dapet kesan over-dramatis, adegan-adegan emosional kayak: Prasti ngecelein Jaka, Jaka ngusir Ratih, Olga ngusir Jo, persidangan Jo, cukup membangun aspek emosi pembaca dalam novel ini. Good job.
-)Beberapa Ide & Background, seperti teknik Mawar Kematian & Dewi Kebajikan itu boleh juga, cool. Ide Formasi Garuda-nya juga keren. Terus bagian di mana Bun menghadapi monster yang sengaja dirancang untuk menangkal kemampuan dirinya, dan betapa Rani kemudian dapat membinasakannya dengan mudah, itu juga keren. I like it.
-)Walaupun awal2 PG pake background Islam, gw menemukan content PG ini cukup universal, layak dibaca semua umat lha. Ada tokoh Johannes Pasaribu yang notabene Kristen, dan gimana ente dengan kocaknya mengungkapkan itu pas keadaan genting di mana kelima PG ingin mencoba merapal ayat Quran untuk mencegah Utusan Iblis turun ke bumi, itu menarik.
Dan tentu, gw seneng di sini ente kagak terjebak ego pengarang2 fanatik geblek dengan tidak mengkonvert agama yang dianut Jo di akhir cerita. Sip dah. Salut berat dari seorang pembaca Nasrani!
n.b:
OOT dikid, eh kalo ane liat2 keknya ente cukup tahu istilah2 perkempingan, sleeping bag, parafin, tenda peleton.. kurasa cuman orang yg pernah kemping aja yg tauk istilah2 itu, huheheheh.. emang ente pernah kemping dmn aja?
Desember 2007 kmrn ane kemping di kandang badak, tapi gak nyampe puncak gunung gede gara2 tepar duluan, kena ujan, becek, gada ojek… :-[
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi X (18 Apr 2008 – 11 Mei 2008
- Heart of Desperado karya BloodSin
- Tentang Para Penunggang Petir
- Lagi, tentang novel fantasi lokal dan peran editor
- Review draft Pendekar Garuda karya FA Purawan oleh BloodSin
- Review Septimus Heap: Flyte oleh clickdian
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 18, 2008, 02:23:57 pm
________________________________________
Heart of Desperado: Prolog
Siang itu, sewaktu matahari mengintip dari awan tebal di langit barat El Banderas, orang-orang berkuda hitam menuruni bukit di sebelah utara desaku. Mereka memacu tunggangannya sambil mengacung-acungkan Colt hitam yang digenggam tangan kanan mereka, menarik pelatuk dan meletuskan tembakan berulangkali ke udara.
Selama sesaat aku mengira iring-iringan ribut itu adalah Cicero bersaudara yang baru pulang dari perantauan—mereka memang eksentrik dan biang ribut—yang ingin mengejutkan kampungnya seolah tengah diserbu penjarah-penjarah dari gurun Sierra Nevada.
Tapi aku segera menyadari kekeliruanku: para pendatang ini mengenakan segala sesuatunya serba hitam, tidak seperti Cicero bersaudara yang selalu berpenampilan mencolok dan agak norak. Mereka bukanlah orang-orang dari desa kami, El Banderas, yang memiliki sepuluh keluarga petani dan limapuluh hewan ternak yang digembalakan di balik bukit selatan El Banderas.
Mereka adalah iring-iringan asing yang menunggangi sepuluh kuda hitam, bercadar hitam, dan ber hitam-hitam. Aku dan Piedro tidak mengenali mereka.
Aku terhenyak tatkala iring-iringan sepuluh orang itu melompati pagar kawat berduri yang menghalangi jalur mereka dengan lentingan sempurna; menerjang jalanan utama desa dengan penampilan dan sikap yang mengintimidasi. Detik berikutnya aku melihat gigil gelisah dari bibir Piedro yang mengintip di sampingku; ia menggumamkan sesuatu, tapi perhatianku teralih pada pemandangan yang ada di luar istal kuda, tempat kami membenamkan diri dalam ilalang kering.
Aku menyadari bahwa mereka seutuhnya adalah para perompak yang menyerbu desa kami, sewaktu pemimpin mereka meletuskan tembakan ke dada Eduardo tua yang malang. Para lelaki desa kami melakukan perlawanan dengan mengambil revolver-revolver berkarat yang sudah bertahun-tahun tak digunakan, bersembunyi untuk membidik para penyerbu dari balik drum-drum anggur di gudang suatu bar kumuh.
Tapi iring-iringan itu bergerak lebih cepat dari mata, lebih lihai dari tembakan, dan lebih tajam dari bidikan. Para pelawan dari desa kami tak pernah dapat menumbangkan bahkan hanya seorang dalam iring-iringan itu. Peluru-peluru selalu meleset seperti ditiup setan yang bersekutu dengan mereka.
Tampaknya mereka bukan perompak sembarangan.
“Mereka adalah Las Mephisto,” Piedro mendesis gentar dekat telingaku. “Perompak legendaris yang tak bisa mati oleh peluru,”
………………………………..
………………………………..
http://kemudian.com/node/117151
________________________________________
Post by: BloodSin on April 28, 2008, 12:54:10 pm
________________________________________
@om pur,
poin pertama (yg ini murni cuman cuap2 selera pribadi gw aja–boleh langsung di-skip masuk poin kedua kok, heheheh), gw kagak demen novel fantasi anak2 ‘tertentu’.
makanya dari hexalogi(eh apa oktalogi yak?) chronicle of narnia, gw cuman tamat baca buku pertamanya doank (padahal dulu gw dipinjemin komplit semua seri-nya ma temen lho). ini berlaku juga buat harpot–buku satunya bahkan tak tamat kubaca pun>_<
tak peduli mau dalam bentuk buku/film, ane kurang excited sama narnia/harpot/golden compass, somehow. (padahal waktu jaman sd-smp dulu ane freak sama seri goosebump n bahkan langganan majalah bobo jg lho!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif))
umur memang menentukan selera bacaan.
tapi emang ada juga sih fantasi anak2 tertentu laennya yg gw demen, kayak bridge to terabhytia & hozzo contohnya. yg ini gw gak tau knp, barangkali ada faktor x tertentu dalam cerita yg bersinggungan sama selera gw, makanya gw bisa takluk(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?
ketiga, emang yg namanya ‘kerjaan’ editor buat novel2 fantasi lokal tertentu dari bbrp yg pernah gw baca, suka bikin gw gregetan.
Gak usah musingin sampe tahap isi & logika dalam cerita dah, untuk urusan EYD, tanda baca, struktur kalimat baku, & ‘ketelitian mata’ aja masih sering kebablasan tuh. suer, ini pengalaman gw untuk belasan fantasi lokal yg pernah gw lumat sampe tamat(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.
yaahh.. begitulah kira2 yg terjadi IMO.
note:
eh gw ngomong begini bukannya mau ngejepret penulis & editor teenlit/chicklit sini lho…jangan sampe salah paham yak, demi sejuta jemuran kolor.
*ngikutin gaya ngomong si hegenyet(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif)*
Tapi ini kenyataan: umumnya, orang yg telah terbiasa berkecimpung dalam dunia teenlit gak bakal pernah bisa memahami dunia fantasi seutuhnya, dan begitupun sebaliknya.
dan gw selalu suka pake analogi ini: orang yg udah terbiasa & demen musik dangdut sampe mengakar di otaknya gak bakalan bisa memahami sepenuhnya konsep musik jazz, dan begitupun sebaliknya…kecuali mungkin kalo musikalitas orang itu tinggi banged & emang fleksibel (si orakarik pernah gw jelasin panjang lebar beginian(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))
jadi… sekedar masukan dari gw (seorang penulis fantasi mahacupu gak tauk diri yg sotoy akut dan doyan mencela karya orang(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)), ditujukan buat penerbit2 yg ada niat nerbitin naskah fantasi: rekrutlah editor2 yg berkapasitas menguasai betul tata bahasa & EYD indonesia (secara naskah bergenre fantasi umumnya menggunakan bahasa baku) dan benar2 berwawasan sebagaimana sejatinya editor fantasi–maksudnya, minimal familiar sama berbagai mitologi & literatur fantasi dunia lha (secara mayoritas naskah fantasi indo bertendensi mengambil setting luar).
Segitu aja sih, cuap2 TS thread inih di hari senen yg suntuk & membosankan, yg barangkali malah menambah suntuk pikiran semua yg baca tulisan ini skrg.. hehehe 
Salam Dangdut,
Rey L
[tab:Hal 3]________________________________________
Post by: cheppy70 on April 29, 2008, 12:07:44 pm
________________________________________
Quote
kedua, yg namanya novel fantasi kudu bisa berdiri sendiri lha, masa harus pake template novel2 tertentu.. kalo iya begitu, cupu amat >_<
kalo masih terinspirasi, masih amat wajar.
tapi kalo udah ter’asosiasi’ sama novel dari pengarang laen(bener gak gini istilahnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/7.gif)), bakal jadi kecacatan kalo bagi gw sih.
Kasusnya untuk novel Penunggang Petir, gimana nasib pembacanya kalo gak pernah baca/nonton/tahu cerita narnia?
Memang, itulah kelemahan apabila pengarang kurang mengestablish universe secara komplit. Kalo ‘males’ bikin universe yg lengkap, jatuh-jatuhnya jadi mirip Fan-Fic.
Quote
Tapi emang mau gak mau gw mesti bisa memaklumi, biar gimanapun, novel lokal bergenre fantasi belum terlalu lama (& banyak) muncul di indo, jadi gw rasa sebetulnya mereka adalah editor2 fantasi dadakan–yg sebelumnya terbiasa dengan naskah2 teenlit/chicklit yg bertendensi menggunakan gaya bahasa tak baku & ber-plot tak serumit fantasi.
Bisa setuju dengan sinyalemen lo, bro. Tapi kalo menurut gue sih, perhatian terhadap ‘universe’ harusnya merupakan sesuatu yang sudah standar ada dalam pemikiran seorang editor. Biarpun ‘hanya’ untuk cerita Chiklit sekalipun, sebuah dunia rekaan yang lengkap dan masuk akal seyogyanya tetap menjadi perhatian.
Makanya yg gue sorot mungkin bukan sekadar ilmunya. Tapi ‘attention’ terhadap kebutuhan pengarang. Kalo editornya gak menguasai medan cerita, dia kan masih bisa belajar. Tapi kalo editornya gak peka terhadap kebutuhan pengarang, dia dapat ‘menjerumuskan’ pengarang sebab yg punya otoritas ke hasil akhir adalah sang editor.
Tapi emang menurut gue sih, terkait kompleksitasnya, nggak pernah ada salahnya bila editor/ pengarang mau menshare tulisannya (terutama sehubungan dengan pembangunan universe cerita) ke dalam suatu forum diskusi para antusias. Soalnya universe itu memang harus berkali-kali mengalami pengujian dan perbaikan, sampai bener-bener didapatkan universe yang solid dan kokoh sebagai fondasi dimana cerita akan dihidupkan.
Kalo ‘dibenturkan’ pada komunitas, kan nantinya akan ada kritik dan perbaikan. Soalnya kepala banyak orang kan beda-beda, masing-masing bisa memberikan wawasan fresh yang bisa melengkapi pembentukan suatu universe.
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
Salam,
FA PUrawan
________________________________________
Post by: BloodSin on May 01, 2008, 12:27:06 pm
________________________________________
@om pur lagih,
(belakangan ini gw lg demen posting panjang gak kira2 buat musingin orang yg buka tret ini ;D)
Quote
Itu sebabnya gue juga bikin milis buat ngediskusiin universe cerita yg gue bikin. Hanya sayangnya gak terlalu banyak diskusi di situ,… heheheh,….
sebetulnya ane udah join milis enthe dari lama, email kukumerah_id (dulu gara2 penasaran setengah koid pengen tahu mahakarya penulis yg berani mencela Hozzo abis2an, hehehehe ;D), cuman yak senasip sama si hege, selera ane kebentur sama selera ente yg ibarat langit dan bumi ;D
but at least let me tell you panjang x lebar apa yg ngebikinku tak kuasa bacak sampe abis, rasanya tak adil juga kalau ane yg udah ‘minta’ novel ente gak ‘bayar’ apa2, heheheh 
(eniwei serius ini penilaian yg subjektif banged, karena emang udah masuk urusan selera pribadi sih, jadi kalo terasa nyelekit harusnya gak jadi pikiran kan?)
pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya. Ane entah kenapa kurang bisa tahan sama gaya bahasa anak jakarte, tapi sebetulnya ini gak gitu masalah juga kalo emang dalam gaya bahasa itu betul2 mengandung selera humor yg bisa mengocok perut ane (novel Jomblo-nya aditya mulya sukses bikin ane ngakak gilak n baca tiada henti)
tapi di luar itu, gaya bahasa dialog anak jakarte dalam Pendekar Garuda tetap terasa gimanaaa gitu, kayak kurang natural. tapi yg satu ini mungkin karena novel ente ditulis taun 90an, makanya waktu dibaca ane taon skrg, jadi ada sedikit pergeseran gaya dialog, heheheh, bukan salah ente juga sih.
Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka. Kalau sebelumnya pas prolog adegan Sentika pake gaya bahasa yg aduhai, agak nyastra, dan cenderung bermetafora (istilahnya, ‘bahasa rapih’ gitu lha), ehh pas masuk dunia jakarte langsung berubah drastis ke bahasa Teenlit, baik dari segi bahasa deskripsi, narasi, sampe dialognya. (yg dua pertama gak terlalu teenlit sih, malah cenderung berbahasa baku–tp bbrp segmen digambarkan secara ‘teenlit’ nian, dan itu bener2 ngebikin gw terlempar keluar dari bangunan plot)
Gw tauk kok maksud ente gimana, biar terkesan lebih natural kan? Gak mungkin banged donk gaya bahasa dialog si jaka sama kayak gaya dialog Sentika, heheheh.. Tapi sebagai pembaca, gw mau pengarang setidaknya menunjukkan daya upaya untuk menjadikan keseluruhan universe novelnya selaras & tampak konsisten, daripada ‘berpasrah’ mendeskripsikan dua universe yg emang bener2 berbeda itu secara kontras.
(btw sebagai penulis, konsistensi gaya bahasa gw sendiri acakadul nian, Villam know it well )
ambil contoh novel goran yg menyajikan 3 dunia, tapi gw ngerasa gaya bahasanya konsisten, dan ajaibnya seperti yg udah ente sebut dalam review ente, pembangunan setting ketiga dunianya cukup believable.
menurutku gaya bahasa dialog Jaka masih boleh pake teenlit-style, tapi deskripsi & narasi yg sebelomnya terkesan rapi banged, jangan ikut2an jadi teenlit donk.. at least kalo tak dimungkinkan pake gaya bahasa yg rapih itu, tampilkan saja bahasa baku yg lugas. Paragraf2 awal bab satu udah good di mataku, masih acceptable, tapi makin ke dalem cenderung ber-teenlit ria–apalagi kalo udah narasi ttg ‘kekonyolan’ anak2 sma seputar si jaka.. dan sebetulnya itu yg ngebuatku merasa kurang nyaman untuk terus ngelahap tulisan ente.
Terus kalo ane boleh memberi sedikit pendapat lain ttg idenya (yg tentunya sotoy akut padahal gak tahu apa2–seperti biasa bukan gw namanya kalo gak sotoy ),
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh
tapi sebetulnya ane juga rada bingung membedakan arti titisan sama reinkarnasi, sama tak? kalo beda, berarti pendapat di atas totally absurd(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))
terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.
ambil contoh lagi novel goran, heheheh… pas aniki pelan2 menguasai bakatnya, pertama kan dia suka ga sengaja ledakin benda2, sampe akhirnya bakatnya itu bisa dikuasai sepenuhnya, ato pernah nonton kungfu hustle? disitu tokoh utamanya nemuin bakatnya pas akhir2 cerita sih, sebelomnya dia malah digambarin cupu banged, namun di balik kecupuannya itu ada tanda2 ‘sepele’ yg menunjukkan kalo dia sebetulnya berbakat atas sesuatu (kalo formula ini diterapin di plot Pendekar Garuda rasanya gak mungkin juga sih, nanti satu buku malah abis cuman buat begituan doank ;D)
itu saja sih sedikit pendapat mahakonyol dari penerawangan serampangan ane, tak adil? iya banged! hahahah, harap dimaklumi yak.. TS sinih emang suka geblek, semua orang disini udah tauk, bahkan ekek pun suka gregetan sendiri(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))
Salam Dangdut
[tab:Hal 4]________________________________________
Post by: cheppy70 on May 02, 2008, 11:07:38 am
________________________________________
Halagh!!,….. SATU komentar aja, gue tunggu-tunggu,… lama banget. Hehehehe,.. inget kan di milis cuma 1 member yang berkenan kasih input. Padahal yg join udah 40-an, hehehe.
So,… apapun yang akan elo katakan, gue hargai banget! Santai aja, bro. Setiap masukan adalah buah pikiran orang, dan setiap buah pikiran adalah permata buat gue. Kadang justru kritik lah yg membuat gue tahu ke arah mana gue harus melangkah. Pujian emang asik, tapi gue gak pernah tahu bagian mana yg harus gue perbaiki kalo dasarnya adalah pujian.
Komen ente aku tanggapin, bukan buat ngebela diri, ya? Aku sekedar ingin share latar belakang pilihan yg aku lakukan aja. Bagaimanapun, bikin karya tulis memang nggak terlepas dari menentukan pilihan-pilihan, hehehe,…
BTW, berkenan memposting komentar ente di milis? Silakan lho,…. (tapi gue hanya akan diskusiin di sini aja, soalnya di forum ini kan kita bisa jadikan pembelajaran)
Quote
pertama, prolognya kepanjangan–terlampau panjang (pake prolog i-iii pulak) T_T
OK, noted. Gue memang pernah bimbang apakah akan bikin prolog ini dalam satu BAB aja (jujur, awalnya satu bab. Tapi kemudian dengan pengembangan detail dst, tiba-tiba satu bab jadi terasa awkwardly kebanyakan halaman.) Makanya terus gue bagi tiga bab aja. Tapi missi gue adalah membabar konflik utama di awal, supaya pembaca udah punya bekal cukup untuk melanjutkan cerita ke belakang.
Di milis kemarin pernah ada saran untuk menyelang-nyeling prolog dengan Bab. Nah, itu yg sekarang lagi aku coba lakukan, apakah flownya masih enak
Quote
kedua, salah satu faktor yg ngebikin ane lebih prefer baca novel bergenre horor/thriller/fantasi dibanding teenlit/chicklit, adalah gaya bahasa dialognya.
Masih gak natural ya? Hmm,… rasanya gue udah cukup mentok di sini :-\ Naskah 1991 jauh lebih jayus dari yg ini,.. hehehe,…. waktu 2005 ditulis ulang, aku sempetin minta pendapat anak-anak SMA, kebetulan mereka gak komplain. Tapi saya coba perbaikin lagi sebisanya sesuai gaya mutakhir mereka.
Tapi gaya itu memang saya pilih untuk mengkontraskan perbedaan jaman, harapannya agar konflik batin Jaka bisa lebih muncul, bahwa masalah yg dia hadapi itu bener-bener diluar ‘dunia’ anak-anak itu, gitu seh. Ceritanya gue pengen bikin pembaca ‘mikir’ bahwa, giiila anak SMA dihadapkan pada masalah seperti itu,….
Quote
Terus rasanya (sekali lagi, ‘rasanya’–ini murni perasaan ane doank lho ) ada inkonsistensi gaya bahasa antara setting dunia Sentika & dunia Jakarte si Jaka.
Gue juga ‘dapet’ concern elo. Bener juga sih. Elo belum baca Part 3, ya? Sebenernya dua kontras itu akhirnya memang akan ‘menyatu’, terutama di Part 3. Di Part 1 (di luar prolog) Dunianya masih Dunia Jaka (SMA Masa Kini), Part 2 mulai masuk ada pengaruh-pengaruh dari Dunia Mistik ke Dunia Jaka (aku buat suasana perkemahan kacau balau, dan peserta mulai ngalamin keanehan-keanehan secara di depan mata, tapi belum 100% realized), dan di Part 3, anak-anak SMA itu bener-bener masuk dalam dunia mistik. Pada saat itu, gaya bahasanya udah lebih kurang kembali ke warna gaya bahasa Sentika.
Terus terang rancangan proses ini membuat gue excited juga, cuma untuk eksekusinya, ya masih perlu dikritik oleh temen-temen,…
Quote
rasanya ide ‘titisan’ (reinkarnasi) tak cocok dengan ajaran Islam yg menjadi background Pendekar Garuda, karena setahu ane kayaknya ajaran agama2 rumpun abraham tak mempercayai konsep reinkarnasi. Jadi yak, disitu agak2 terasa tidak konsisten dgn background Islam-nya IMO, heheheh
Well, sebenernya novel ini pun gak menggunakan ajaran Islam sebagai landasan, koq. Islam hanya sekedar menjadi dudukan setting aja, terkait sama perkiraan jaman saat konflik pertama berlangsung (enam ratus tahun yg lalu, kerajaan yg dominan di Jawa kan kerajaan islam, hehehe).
Terus konsep gue bukan titisan, melainkan ‘keturunan’. Yg menurun juga ilmu-ilmu silat dari para pendekar itu. Ceritanya diilhami dari temuan ilmiah yang ga ilmiah-ilmiah juga bahwa ilmu pun dapat imprint di DNA. Tapi sengaja gue bikin kabur hal-hal ilmiah, soalnya mau lebih pake pendekatan mistik,.. hehehe,…
Jadi kalo pun novel ini mau dibilang punya spirit ajaran Islam, kayaknya sih lebih ke konsep islam jawa, yang masih sinkretis dengan Hinduisme, sebagaimana kondisi setting di Jaman Sentika seharusnya.
Quote
dan kalo tak salah ada nyebut angka ’666′ juga yak? kayaknya setahu ane angka ’666′ itu origin literaturnya dari alkitab, disebut sebagai bilangan anak manusia.. nah kan lagi2 kepentok sama background Islam-nya..
tapi (lagi2 oh lagi2) secara ane bukan Muslim, sebetulnya ane juga kurang yakin, apakah Al-Quran ada nyebutin bilangan 666 itu juga? kalo di dalam Quran juga ada, berarti pendapat ane di atas sekali lagi absurd (makan tempe pake sayur lodeh, capeee deh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif))
hehehe,… bener banget, bro. di Islam konsep ini ga ada. kenapa gue pilih? Soalnya ide 666 udah sangat populer sebagai sesuai yang ‘evil’. Terutama sejak muncul film Damien Omen, Nah ceritanya gue mau memanfaatkan ‘pemahaman bawah sadar’ pembaca tentang suatu ‘evil’ yang sangat ‘tradisional’, ya konsep 666 itu.
Tapi emang gue gak berani memunculkan konsep ini terlalu sering, takut jadi benturan. Makanya gue lebih banyak ngomong “enam ratus tahun yg lalu etc”.
Quote
terus waktu jaka beraksi dengan mengeluarkan jurus kanuragannya pas diserbu anak2 stm, rasanya kok tiba2 banged, cuman bermodalkan mimpi berulang2 sbg seorang pendekar tangguh & titel ‘titisan’ itu, ujug2 dia digambarin berubah menjadi tokoh yg ‘sakti mandraguna’ dalam tawuran itu (bisa mecahin batu ), dari sebelumnya anak sma biasa. kalau menurut gw, biar kesannya lebih natural & believable, ada baiknya diceritakan dulu tahap2an sepele di mana jaka perlahan menggali bakatnya yg terpendam.. mungkin dari hal2 kecil kayak di sekolah dia sering mecahin kapur pas nulis di papan tanpa sebab (ceritanya pan gara2 luapan energi kanuragannya itu, heheheh), ato hal2 sepele laennya, sampe akhirnya, adegan tawuran itu jadi klimaks di mana dia bisa menunjukkan bakatnya secara utuh.
Hmm,.. agak susah. Soalnya konsep gue memang ilmu itu udah ‘ada’ di dalam diri Jaka sejak lahir, tapi baru keluar hanya di saat keadaan amat berbahaya. Kondisi-kondisi berbahaya kan dialami oleh dua tokoh, Jaka dan Rani, dua-duanya sempat sekelebat ‘muncul’ ilmunya. Ini juga alasannya karena mereka memang ‘dilindungi’ oleh Sentika, terutama dari ancaman musuh2 Sentika di jaman ini.
Kalo konsepnya semacam ‘pertumbuhan’ ilmu, berarti ada akumulasi, makin lama makin jago, gitu. Susahnya, gue harus mempertahankan kondisi Jaka sebagai orang yg ngga ngerti ada apa dengan dirinya, makanya ilmunya ngedadak muncul, tapi ngedadak juga hilang lagi. Buat gue Jaka tetep jadi orang biasa adalah penting, sebab gue mau bikin misteri itu tersingkap di depan mata Jaka satu persatu, sampe bikin dia ngeri sendiri hehehe.
Baru saat akhir Part 1, melalui sebuah proses ‘klimaks’ kecil, akhirnya Jaka bener-bener mewarisi ilmu itu, diajar langsung oleh Sentika (part ini udah baca, belum?)
Quote
(mampus dah gw, berani komentar nyelekit ginih ke mahakarya seorang reviewer kelas biawak, bener2 cari matik(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif))
;D ;D ;D mahakarya! ;D ;D ;D
Seriously, yg pengen gue anggep sebagai mahakarya adalah sekuelnya! Cuma belum start bikin! hwkakakak
This time, I’ll let you live,…!!!
Beribu thanks,……
FA Purawan
[tab:Hal 5]________________________________________
Post by: rd_Villam on May 05, 2008, 01:20:47 pm
________________________________________
halo semuanya…
rey, dian, hege, fapur, vadis, kokon, arik, clara, cil, lich, eniyorda, dan semuanya dan semuanya (<–ciri khas penulis malas yang enggan berdeskripsi ria… hehe…)
apa kabar?
gimana proyek novel kalian semua?
udah berapa persen? dah pada dikirim lagi ke penerbit belon? tetap semangat ya…
lama gak masuk ternyata banyak pembahasan menarik, terutama pembahasan om fapur dan rey.
hmm… jika melihat review2 ente, aku kok optimis suatu hari nanti bakalan ada FFDN Award, buat novel fantasi terbaik Indonesia setiap tahunnya. hehehe… siapa tau jadi ajang yang ngetop nanti. coba aja bikin mulai tahun 2008 ini.
buat om fapur, aku belum baca draft novelmu, tapi aku penasaran dengan konsep 666 tahun itu. bukan soal arti angka itu, tapi soal penanggalannya. itu berarti pake penanggalan jawa, hindu atau islam ya? yang jelas jaman dulu belon ada penanggalan masehi ya. (berhubung 666 tahun yang lalu di tanah jawa masih jaman majapahit, budaya islam belum masuk. pelaut belanda juga baru dateng 400-an tahun yang lalu)
hmm… menarik juga neh… coba deh ntar kubaca… (belon baca udah cerewet duluan. hihihi… sori…)
ciao.
________________________________________
Post by: cheppy70 on May 05, 2008, 03:14:24 pm
________________________________________
Ya pakai penanggalan masehi aja, lah biar gak usah pusing-pusing, hehehe,…. Kan sekedar sebagai referensi waktu aja, enam ratus tahun sebelum jaman sekarang.
Dengan setting 1990-an (ngga tahu deh apakah tetep aplicable dengan setting 2000-an), maka peristiwa dalam prolog novelku akan berada di sekitar tahun 1300-an.
Di tahun-tahun segitu, Islam sudah masuk Indonesia, misalnya kerajaan Samudra Pasai aja udah ada sejak tahun 1000-an. Di Jawa sendiri masih sekitar menjelang akhir dinasti majapahit (Dinasti Mataram baru ada tahun 1500-an). Aku merekonstruksikan kondisi masyarakat waktu itu sebagai peralihan antara budaya Hindu dengan budaya Islam. Maka konflik yg terjadi di dalam prolog, mungkin bisa juga diinterpretasikan sebagai pertentangan pandangan antara pandangan lama vs pandangan baru di jaman itu. Oh iya, ini juga untuk mengoreksi statemen gue di posting sebeumnya, ternyata memang di tahun-tahun itu kerajaan islam belum dominan,… hehehe,… :-[
Monggo dibaca.
[tab:Hal 6]________________________________________
Post by: clickdian on May 11, 2008, 04:56:26 pm
________________________________________
Oke guys, ini review buku kedua Septimus Heap, Flyte.
To be honest, yang pertama kali narik aq untuk baca buku pertamanya adalah endorsement dari Kirkus Review, “Awas Harry… Ada penyihir muda baru yang sedang naik daun.” Secara gak langsung review ini menyejajarkan karya Angie Sage ini dengan Harry Potter, dan aq pengen tau kenapa.
Buku pertamanya, Magyk, nggak terlalu menarik buatku karena pengaruh endorsement tadi, yang bikin aq bandingin kisah Septimus Heap dengan Harry Potter (hey, don’t blame me, that’s what you’ll get with endorsement like that!). Rowling lebih sukses menghidupkan tokoh2nya dengan dunia yang lebih mendekati natural, deskripsi khayalan yang lebih nyata, joke yang lebih kena, dan emosi yang lebih menyentuh. Angie lebih dingin, dunianya lebih asing dan tanpa pengenalan di awal, joke2nya datar—please, deh, masa setelah halaman tiga ratus sekian aq baru nyengir, sih?—dan langka, lebih banyak kerut di kening karena belum menangkap isi cerita, dan spell2 yang membingungkan. Di akhir cerita barulah aq ngerasa ada something di buku karya Angie ini, dan aq baca ulang dari awal sekali lagi untuk nemuin apa yang hilang. Yang aq temuin, dia punya originalitas, terutama di sisi spell words, dan plot yang beda dengan tipikal kingdom-fantasy stories yang biasanya. But still, aq kurang puas.
Baru di buku kedua aq nemu apa yang salah. Si endorsement itu tadi! Mestinya gak usah ada, karena bikin sugesti Harry Potter syndrom duluan, dan sejak awal karena aq udah mikirin Harry, udah sebel duluan karena mengira Septimus salah satu buku peniru Harry Potter, duh! Penilaiannya jadi subyektif. Pas buku kedua, aq skip sinopsis di belakang bukunya dan langsung baca, and I feel comfortable with the story. Pertama tentu saja karena udah tau gimana cara magyc spells bekerja di dunia Septimus—puluhan spell berserakan di setiap lembarnya dan awalnya mengganggu karena ditulis dengan huruf2 bold, kedua karena segunung tokoh2 di dalamnya udah kukenal sebelumnya, dan ketiga karena aq gak keingetan soal ‘membandingkan serial ini dgn Harry Potter’—sehubungan dengan endorsement tadi.
Oke, OOT-nya udah kelewat jauh, back to the topic.
Oh, btw, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas dan Sarah Heap. Anak2 yang lain tinggal di hutan karena merasa kehidupan hutan lebih fun: Sam, Edd, Erik, dan Jo-Jo. Nicko, yang menggemari kapal dan dunia perairan, lebih suka berada di pelabuhan. Simon sendiri sudah setahun menghilang, sejak pengangkatan Septimus menjadi Murid. Jenna, sang Puteri, sejak bayi sudah tinggal sebagai anak di keluarga Heap yang menemukannya ditelantarkan di tengah salju dan tidak mengetahui fakta kalau ia seorang Puteri sampai ulang tahunnya yang kesepuluh.
Yang jadi pokok permasalahan adalah, Septimus adalah anak ketujuh dari Silas—yang juga anak ketujuh dari Benji Heap (kakek Sep telah berubah menjadi pohon dan membaur di hutan bersama pohon2 lain). Nah, putra ketujuh dari putra ketujuh diyakini memiliki kekuatan Magyc yang luar biasa, karena itulah Marcia mengangkat Sep menjadi Muridnya padahal waktu itu Sep baru sepuluh tahun.
Beda dengan buku pertama, buku kedua lumayan enak diikuti. Cerita berawal dari kehidupan Septimus setelah jadi Murid dari Marcia Overstrand, Penyihir Luar Biasa—orang yang sangat dihormati di dunia Septimus—dan tinggal di apartemen Marcia di Menara Penyihir. Tiba-tiba Jenna, calon Ratu, diculik oleh Simon Heap, kakak sulung Septimus yang iri setengah mati pada Septimus yang diangkat menjadi Murid Marcia.
Sep yang menjadi saksi penculikan menceritakan pada orang2 kalau Simon telah membawa Jenna, tapi tak seorang pun yang percaya kecuali Nicko, dan mereka berdua pergi mencari Jenna. Agak aneh, memang dari banyak sekali orang di sekitar mereka tak satu pun orang dewasa yang cukup wise untuk mengkonfirmasi berita ini, dan sebagai akibatnya dua anak di bawah umur harus menyelamatkan adik angkat mereka.
Jenna sendiri akhirnya bisa menyelamatkan diri dengan usaha yang bisa dibilang terlalu mudah, mengingat ia tidak mengenal Magyc sebaik Heap bersaudara, dan Simon telah lekat dengan Magyc Gelap. Duh, seharusnya Simon lebih kuat dari yang diceritakan. Kok bisa anak perempuan lolos dari pengawasannya begitu mudah T_T. Sep dan Nicko menemukan Jenna di pelabuhan (Jenna pergi ke sana naik kuda yang dicurinya dari Simon)—which is too coincidental, dan agak aneh karena lumayan hebat juga Jenna bisa pergi ke pelabuhan dari tempat tinggal Simon nun jauh di utara (kalo dilihat di peta). Ada Stanley si tikus dari Dinas Rahasia Tikus memang, tapi tanpa makanan yang cukup dan peta sama sekali, dua jempol buat Jenna deh, bisa sampe di pelabuhan tanpa mengalami pingsan di jalan.
Dan Marcia sendiri, sebagai petinggi di kerajaan ini, tidak cocok dengan tipe orang-kepercayaan-rakyat yang biasanya. Dia pemarah, kadang egois, sedikit ceroboh, sering tidak mau kalah walaupun sebenarnya salah, agak mudah tertipu dan yang tadi itu—kurang wise. Pertimbangan2 Marcia masih kalah dari Alther, hantu gurunya yang masih keluyuran di dunia, bahkan untuk urusan penjagaan Istana pun Alther yang bertanggungjawab (karena ibu Jenna sudah meninggal, ayahnya entah ke mana dan Jenna masih terlalu muda untuk jadi Ratu). Walaupun demikian, dia sakti, penyayang (tapi jaim), dan bisa diandalkan. Tapi terus terang, dalam banyak hal, Sep yang baru sebelas tahun lebih baik darinya (semoga Septimus cepat dewasa dan menggantikan Marcia sebagai Penyihir Luar Biasa, amin). Dan di buku kedua ini bahkan Nicko jauh lebih berguna dari Marcia.
Flyte sendiri adalah sebuah jimat kuno yang bisa menerbangkan orang, yang telah lama hilang, dan terdiri dari dua bagian. Ternyata bagian pertama ada di dalam buku yang dipegang oleh Marcia, dan bagian yang satu lagi juga dimiliki Marcia, tapi diberikan pada Sep setahun lalu. Sampai sini aq mikir, KOK BISA Marcia nggak nyadar dua potongan jimat itu ada di tangannya selama ini, sih? Yang satu malah sampai jatuh ke tangan musuh segala. >:(
Masih ada kebetulan-kebetulan dan aturan2 lain yang sebenernya agak mengganggu, seperti garis matrilineal yang mengangkat anak perempuan jadi Ratu tapi suaminya bisa bebas keluyuran sebagai pengelana tanpa terikat dengan urusan kerajaan (jadi, tokoh raja di cerita ini murni hanya untuk urusan reproduksi). Tapi aq putusin udahlah, mending nikmatin aja ceritanya, dan ternyata not bad. Aq suka originalitas Angie dalam serial ini, dia gak kejebak sama stereotype fiksi fantasi yang kalo nggak seputar kisah heroik ya dunia peri-centaur-elf dan mitos2 lainnya. Di dunia Septimus Heap bener2 banyak hal baru.
Dan akhirnya, setelah baca dua buku pertama, I finally admit that Septimus Heap series is worth to read .
Note:
Reading Instruction
1.Singkirkan hal-hal yang berbau Harry Potter, LOTR, Artemis Fowl, dan Zauri
(hehehe ;D) out of your mind before reading Septimus Heap. It’s a brand new
thing.
2.Disarankan baca buku pertama, di situlah semua masalah berawal. Kalo
nekat juga skip dan ngerasa bego pas baca buku kedua, resiko ditanggung sendiri,
ya! ;D
3.Baca pelan-pelan kalo ketemu huruf tebal atau italic, kata-kata yang diperlakukan
dengan bentuk huruf demikian bisa sangat mempengaruhi jalan cerita—yang bold
adalah spell yang dikeluarkan para tokoh, dan yang italic biasanya hint atau clue
atau nama sesuatu. Dan, spell yang berbeda bisa menghasilkan efek magyc yang
sama. Selamat pusing, hihihi. 
4.Ukuran novelnya nggak enak buat dipegang T_T, nanggung. Cari posisi yang enak
aja deh kalo baca, mudah2an nggak ngalemin pegel2. 
5. Buat yang pusing liat postingan ini, sori dori mori yah
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi IX (5 Apr 2008 – 16 Apr 2008)
- Bagaimana sebaiknya novel fantasi kita?
- Tentang Candi Murca karya LKH
- Lagi, tentang Prolog
- Sedikit cuplikan Lemures karya BloodSin
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 05, 2008, 08:18:57 pm
________________________________________
@Bloodsin, for the reviews,
Right on, bro. Thanks atas kadonya 
I see our POV gak selalu sama, tapi kita kan bisa saling melengkapi (apa sih).
Untuk Ledgard, rasanya gue sangat setuju. “Bule Celup”,… hehehe,.. kena banget. Itu sebenernya mark yg sudah lama ingin ku-ekspresikan tapi lama gak nemu istilah yg pas,.. Novel Ledgard sebenernya promising, tapi dia punya suatu kekurangan yang menyebabkan ceritanya menjadi nggak terasa ‘ngek’, gitu. Untuk yg satu ini, gue bahkan berhenti baca di pertengahan buku dan ngga ada hasrat ngelanjutin lagi.
(Makanya Ledgard ga ada reviewnya di gue,.. heheheh. Tapi pikir-pikir jadi pengen buka lagi tuh buku)
Zauri, pengen baca, tapi koq rasanya ga pernah liat judul ini di toko buku ya? Sama kayak Cardan,.. ga pernah liat juga.
Untuk Cardan setelah liat covernya, tumben keren,…. ??? Sub judul Hinkal Core, juga menjanjikan sesuatu. Tapi review kamu udah obyektif bilang bahwa penamaan tokohnya kacau. Dan gua akan setuju banget kalau itu bakal menjadi letdown factor.
Lemuria,…?? Bisa dibeli dimana dong?
OK, happy writing, semuanya.
FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 06, 2008, 07:48:20 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am
-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)
Sedikit koreksi mengenai Skinheald.
Sebagaimana udah kutulis juga di blog review gue, Skinheald 1 hardly called Buku 1, soalnya itu bener-bener hanya semacam prolog yang dicetak terpisah. Inget buku-buku Sapta Siaga? Nah, Skinhelad 1 cuma setebel itu aja, dengan konsep penceritaan yang juga belum utuh.
Tapi salutation tetap berhak disampaikan pada Ataka, sebab kalau buku 1 dan buku 2 digabung pun, akhirnya menjadi satu kesatuan cerita yang merupakan sebuah buku tebaaal,.. yang diselesaikan oleh seorang anak usia sebelas tahun. Gue yakin di antara kita aja yang nota bene udah lewat dari usia 11 tahun (bener gak?), pada usia yg sama belum ada yg mampu membuat sebuah cerita utuh dengan kualitas menyamai Ataka punya,… hehehe,….
Persoalan sekarang tinggal masalah produktivitas. Konon akan ada sekuelnya lagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar (Ataka seperti tenggelam. Lagi sibuk ujian, kali?).
Tapi mungkin juga tema Fantasi panjang (tebal) merupakan tema berat buat ditulis oleh pengarang remaja (gak usah pengarang remaja, yg tua aja ngos-ngosan,.. ). Contoh seri Eragon, sampai sekarang buku 3 setelah the Eldest masih belum muncul. Padahal kalo bicara bisnis, terlalu lama jeda antara serial akan menyebabkan penerbit kehilangan momentum, dan pembaca keburu kehilangan excitement.
Kalo dipikir-pikir begitu, berarti emak JK Rowling emang bener-bener top ya? Bisa menyelesaikan 7 bukunya dalam rentang waktu yang cukup berdisiplin (setahun sekali), sementara seluruh dunia menunggu. (Kalo udah gitu, God,… gue bener-bener pengen bercita-cita serius jadi penulis sejak muda, hehehe).
FA Purawan
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
________________________________________
@villam,
haduh diposting disini lg review-nya kan malu bang, ada om FA Pur(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
But eniwei TQ banged dah buat segala masukannya–terutama untuk adegan2 kemunculan Esther yg terpisah terlalu jauh–i’ll fix it.. 
sekali lagi, TQ, ente udah mau ngebacak versi lemuria yg masih superamburadul ituh (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Gak usah dibaca ulang lg deh bang, secara, versi yang ente baca ama versi yg sekarang ada di kompie ane dah lumayan berubah n dipermak di mana2.. (hehe..contohnya, karakter Guillarde udah gw pecah jadi dua orang )
Judulnya aja udah bukan Lemuria lg 
eniwei, ga ada komen buat review keji Cardan gw? ayo donk bantah satu-dua statement gw.. biar nih tret bermutu dikid
@clickdian,
ada yang nyari Zauri tuhh
@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om.. 
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. ;D ;D
________________________________________
Post by: hege on April 06, 2008, 05:18:42 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 06, 2008, 08:11:14 am
Quote from: hege on April 05, 2008, 02:59:16 pm
temen-temen, (promosi) portfolio untuk artwork-artwork terbaru hege bisa dilihat di sini http://hege.cgsociety.org
Gambar-gambar Hege itu selalu dahsyat, Fantasy banget.
Heg, gue belum bisa angkat topi buat penulisan novel Sci Fi (whatever istilahnya, deh, hehehe) ente, improvement on the way, I believe, dan gue anxious to see them . Dalam hal ini gue berseberangan sama BloodSin, rupanya :p
Tapi gue takluk dan nyembah-nyembah untuk seni illustrasi elo, terutama yang baru-baru. :-*
Cocok banget buat ilustrasi Fantasy. Soalnya gambarnya gak sekedar gambar. Selalu ada aura kisah di dalamnya, sehingga bahkan dari ngeliat satu gambar aja udah bisa ‘keluar’ sebuku novel, atau setidaknya satu bab novel,… hehehe.
BTW, elo gambar pake Photoshop, berarti pakai tablet PC gitu dong? Kalau pake mouse,…. sakti banget, dah.
Salam,
FA Purawan
yeah begitulah, masih di bawah umur hege belum mentok lah tulisannya, masih mencari gaya tulisan yang pas, juga genre yg cocok, jadi improvement selalu akan dan sedang berlangsung, dan jelas hozzo bukan masterpiece-ku, tapi belum yakin juga akan menulis buku-buku keren di masa akan datang.
Mengenai ilustrasi, yak, itu salah satu kesibukan hege belakangan ini, sampai-sampai beberapa tulisan terlantar menyedihkan. Masih menunggu wahyu agung dari alam semesta raya yang bisa membuat semangat menulis membara lagi, heheheh. Btw, iyak hege make photoshop CS2, dan bermodal mouse kecil yang menyenangkan, jadi ga berharap bisa banyak brushing detil dengan aneka warna, dengan mouse hege hanya bisa memakai beberapa warna dengan setuhan-sentuhan brush ala kadarnya. Hasilnya tak begitu jelek kan? (jadi pengen pc tablet atau Wacom)
Oh ya mas, hege tak berhasil membaca ceritamu yang Pendekar Garuda, hege baca sedikit sih yang di group, tapi tak bisa melanjutkan baca karena beda selera jauh banget yak. sorry 
Tapi sekarang masih nulis kan, mas? umur toh bukan masalah, kapanpun kita bisa menulis cerita, setidaknya sampai kita kehilangan akal sehat, heheheh.
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: cheppy70 on April 07, 2008, 08:44:13 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on April 06, 2008, 03:41:19 pm
@om cepi,
Cardan-nya dibeli ajah om.. serius gw penasaran banged bakal kayak gmn komen resentator sekaliber ente..
lgian tuh buku gak mahal2 amat kok om..
Done! PM aja berapa duit aku mesti tebus. Termasuk dengan ongkos kirim ke area Pancoran Jakarta Selatan dengan TIKI ONS (yg satu malem itu. Kalo yakin bisa sampai satu hari dengan TIKI biasa sih oke juga). Aku bisa transfer pakai BCA atau Mandiri. Kasih tahu no rek mu aja.
Tapi bukannya masih sampeyan baca?
Quote
lagian lagih secara selera kita terkadang beda (untuk novel Hozzo contohnya ), siapa tau ajah Cardan keren abis di mata ente.. ;D
Hmm,… let’s see, my friend, let’s see,…..
Quote
Novelnya Ataka terus terang gw cukup penasaran, soalnya banyak yg komen positif, tapi harganya yg cepekceng ngebikin gw mikir jutaan kali buat belik.. :-\
Hmm.. menurut ente, Skinheald ama Ledgard bagusan mana (diukur dari segi gaya penceritaan & plot)?
Secara gue belum menyelesaikan Ledgard, maka komentar gue tentang Ledgard masih belum finish (kayaknya gue akan bikinin reviewnya aja deh sekalian). Tapi so far yang bisa aku katakan adalah kenapa gue baca Ledgard sampai segitu lama gak selesai-selesai.
(Biasanya gue termasuk gigih baca buku. Kalaupun dari sisi gaya atau cerita kurang cocok, tetep gue usahakan diselesaikan walaupun harus makan waktu berbulan-bulan. Makanya khusus Ledgard ini termasuk langka buat aku).
Sebenernya Ledgard itu, seperti gue sempat bilang, cukup menjanjikan. Perjalanan Plotnya so far sebenernya bagus dan terencana dengan baik. Beberapa konsep universe-nya sekali lagi cukup menjanjikan. Misalnya kapal kapal yang melayang (Kayak Final Fantasy series), Sihir 5 unsur, dll, sebenernya cukup membangun universe yang solid, lah. Detail juga patut dipuji. Kekurangan, seperti yg elo udah bilang, adalah unsur bule Celup-nya itu. Tapi kalo gue mau jujur, dalam naming convention Ledgard ini malah udah lebih baik dari Skinheald, atau mungkin juga Cardan. Aspek ilustrasi, standar lah, nggak terlalu mengesankan gue.
Satu kelemahan Ledgard buat gue adalah dalam manajemen tempo. Membaca novelnya adalah seperti mengayuh sepeda dari Cibubur sampai Ancol :’( Alias panjang, santai, dan mendatar. FLATLINER! (eh, asyik nih, kayaknya statemen ini bagus buat review,…hehe). Bukannya nggak ada action scenes, sih, tapi gimana ya? Kayaknya pengarang menganut falsafah seperti orang Jogja, alias jalan pelan-pelan dan biarkan problem datang ke saya bukan saya datang ke problem. Malah gue sebagai pembaca jadi gak sabar! hehehe,… (yg orang Jogja maap yak ;D)
Nah, kalao mau dibandingkan, maka Ataka justru lebih mahir mempertahankan tempo dan ritme. Dia bisa menciptakan ketegangan-ketegangan kecil dan klimaks-klimaks yang membuat pembaca betah membaca novelnya. Sebagai informasi, gue baca novel Ataka kira-kira dalam waktu seminggu. Baca Ledgard? Udah berapa tahun, yaks? Hehehe,……
Lain-lain mengenai Skinheald, aku rasa udah cukup terwakili dalam review gue:)
Quote
Novel gw? Belom terbit om.. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Reviewer2 berdarah dingin kelas biawak semodel2 ente yg ngebikin gw lama submit naskah ke penerbit.. ;D ;D
Ha ha ha,.. ;D ;D ;D, Masa ente takut sama biawak?? lagian komentar gue mah gak perlu dipusingin. Komentar editor/ penerbit, kan bisa lain dan justru lebih ‘mematikan’, hehehe.
Satu filosofi biawak: Biawak cuma bisa makan nyamuk. Kalau ente memang Macan, maka biar biawak berkoak-koak kayak apa, juga, ente sejatinya tetap Macan. So, keep your faith with you (and ur writings!).
Moga-moga sukses!
FA Purawan
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on April 08, 2008, 12:30:32 pm
________________________________________
Ledgard emang sip aturan tata namingnya, tapi kalo buat selera naming dalam Ledgard, ane kurang suka.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Hmurrdar Jaar, Nraam, Himraur Darru
C’mon, seharusnya penulis fantasi bisa lebih baik dari itu bikin nama. Kebanyakan penulis fantasi indo (kayak penulis Cardan juga), bikin/milih nama lebih mengandalkan aroma ‘aneh bin ajaib’ daripada keindahan/’ketepatan’nya. Sejauh ini, dari semua fantasi lokal yang pernah ada, gw paling salut sama NAREND buat tata namingnya.. (yg ini ente juga udah baca tah, om? kok tak ada komen/review?)
Alur Ledgard emang lambat, gw juga sempet berhenti baca saking bosennya (baru tamat ampe berbulan2). Ini cukup aneh, secara tipe Ledgard itu RPN–genre fantasi yang amat bertendensi buat ngebut.
BTW gw baru tauk Ledgard ini edar lagi taon 2007 kemaren lho, keren juga eksis dari taon 2006…2 taun euy. BTW lagih kayaknya dari semua fantasi lokal, Ledgard ini yg paling populer.. mungkin karena cetakan pertamanya yang 5000 eks–CMIIMW. Ini ada bbrp link yg ngomongin ledgard,
http://www.goodreads.com/book/show/1396766.Ledgard_Musuh_Dari_Balik_Kabut
http://perca.blogdrive.com/archive/cm-12_cy-2005_m-12_d-30_y-2005_o-0.html
http://groups.yahoo.com/group/dunialedgard/
(yg ini saingan sama yahoogroupsnya si om FA Pur )
@om FA Pur lagih,
oom, ane yg notabene sejiwa sama ente (dalam bidang ‘pemburu’ & komentator novel2 fantasi lokal ), udah baca semua review2 maut ente–khususnya review novel2 fantasinya. 
Hampir semua dibabat abis ma ente yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
untuk beberapa poin, ane bisa sepakat ama komen2 ente…hehehe.. 
tapi novel goran yg ane puji abis2an aja, kayaknya masi belum berhasil menaklukkan selera & standar fantasi ente yak…
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 08, 2008, 03:22:15 pm
________________________________________
Yaaah, kalo ada ditoko buku sih udah gue beli. So far belum nemu tuh? Udah ada budget khusus buat beli buku tiap bulan. Tapi berhubung novel Fantasy lokal jarang, ya yg kebeli kebanyakan novel2 terjemahan 
Ya gue akan keep looking aja dah.
Somehow, nama2 dalam Ledgard (contohnya buat bangsa Felis-nya) terkesan dibikin asal jadi, walo emang aromanya masing2 senada dalam satu wadah bangsa.
Memang gue juga kurang suka dengan hasil akhir (nama)nya. Terutama justru NASH, hehehe,.. gak mengesankan karakter apapun. Tapi di titik ini gue memuji prosesnya, bahwa pengarang menyadari perlu suatu konsistensi dalam penamaan tokoh dan tempat.
NAREND udah baca, agak lama sih berlalu, makanya gak kubikin review. Tapi Gue setuju juga bahwa tata naming Narend yang paling bagus, setidaknya paling natural. Tapi hal itu mungkin lebih disebabkan setting yang masih semi Fantasy, alias masih ada paralelnya dengan dunia nyata.
Satu hal di Narend yg gue nggak sreg, plot bagian depannya udah cukup memikat dan realistis, tapi endingnya jadi ngga terlalu believable. Udah gitu ngegantung, kan? Seinget gue para tokoh balik dari kuil harta itu, tapi perjalanan belum finish tapi cerita udah di finish-kan oleh pengarang. Jadinya seperti ending tidak pada tempatnya,… hehehe,…
Quote
serius nih, ane jadi penasaran banged, sebetulnya novel fantasi kayak gimana yang om FA Pur harapkan untuk lahir di tangan penulis fantasi indonesia?
Apakah fantasi yang kuat di plot? Atau yang bersetting mitos lokal? Atau yang memiliki filosopi kuat? Atau yang beride orisinil? ???
Wah gimana yah? Kalo ditanya gitu gue malah bingung. Secara gue lahir sebagai tukang cela sehingga apa-apa jauh lebih mudah mencela (ya toh?), daripada menyebutkan saran terbaik. Wong bikin (dengan tangan) sendiri aja hasilnya belum tentu seperti idealisme (di kepala) sendiri, ya gak?
Tapi yang gue ‘tuntut’ dari sebuah Novel (terutama Fantasy) sebenernye ‘sederhana’. “Jadikanlah aku larut dalam Duniamu!”. Jangan jadikan aku bertanya-tanya (karena ada yg nggak jelas atau nggak logis), mengerenyitkan kening (karena sesuatu yg terasa janggal), jangan ‘tarik’ aku keluar dari Duniamu karena justru untuk ‘hidup’ di dalamnya lah aku memilih buku Fantasy, bukannya Chiklit .
Dengan requirement sesederhana itu, mestinya sih beberapa sendi-sendi bangunan novel harus kuat, ya? Kalo plotnya ngga genah, gue akan sulit menikmati alasan-alasan tindakan maupun pikiran para tokoh. Kalau setting-nya nggak solid, gue akan sulit bertahan di dalam dunia yang diciptakan pengarang. Kalau tempo-nya ga ‘engaging’, mungkin gue akan sibuk bikin lagu sendiri . Kalo tata bahasanya ngga konsisten, bisa jadi gue akan terlempar dari alam fantasy ke dunia lain >:( Even becandaan (humor) yang ngga pada tempatnya pun akan mengalihkan mood dari seharusnya. Gue sendiri nggak akan memaksa pengarang untuk punya pikiran yang searah dengan gue. Kalo gitu berarti gue nggak akan bisa masuk ke dunia ciptaan pengarang ??? Tapi sebuah karangan yang baik tentunya punya satu kekuatan yang menyebabkan orang bersedia ‘masuk’ di dalamnya dengan sedikit atau tanpa resistensi sama sekali.
Kenapa dunia Harry Potter bisa dicintai orang banyak? Menurut gue ya kemampuan melarutkan pembaca itulah. Kenapa Laskar Pelangi bisa digandrungi orang banyak? (bukan novel Fantasy, sich. Tapi sekedar contoh mengenai novel yg booming, aja) karena orang bisa larut, terpesona, tertawa atau menangis bersamanya (Gue sangat ‘terbawa’ di bab Mahar mementaskan tarian Afrika dengan bubuk gatal itu,… dahsyat, man).
Kadang gue ‘mikir,…. apakah mungkin dunia kepengarangan kita masih eforia dengan genre fantasy, sehingga menyangka bahwa untuk bikin Fantasy cukup dengan mengarang nama-nama aneh? Sejatinya untuk bikin pembaca bener-bener percaya dan larut, itu gak mudah. Kuharap,… kita bisa sama-sama meraih keterlarutan ini (busyet jelimet) dalam karya-karya yang kita hasilkan!
Salam,
FA Purawan
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
________________________________________
@All,
Allow semuanya, selamat pagi 
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan
Pertanyaan saya adalah mengenai genre Novel ini, apakah bisa dimasukkan dalam genre Fantasy. Pertimbangannya, dia menggunakan setting era Singasari yang dimodifikasi, istilahnya di rekonstruksi kembali , sehingga menghasilkan universe yang berbeda dengan kondisi obyektif singasari yang dikenal melalui studi sejarah.
Seperti yg saya tahu, ciri khusus genre fantasy adalah pengarang menempatkan cerita novelnya dalam sebuah setting yang berbeda (setting imajinatif) dari Dunia yang kita kenal. Dalam praktik, dunia yg bukan dunia kita itu bisa saja berlandas pada planet atau negeri yang bener-bener antah berantah, atau bisa juga masih punya koneksi dengan dunia kita saat ini (seperti di Harry Potter, Stardust, Neverwhere, His Dark Materials dll). Koneksinya bisa temporal, ataupun spatial.
Candi Murca menggunakan setting tahun 2011 M serta delapan ratus tahun sebelumnya secara berganti-ganti. Plotnya bercampur antara kisa misteri dan kisah persilatan, seolah dua buku dijadikan satu jilid.
Apakah dengan kondisi-kondisi ini, Candi Murca layak dimasukkan genre Fantasy?
(Kalo iya, aku masukin di antrian review, nich,… hehehe)
FA Purawan
[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
________________________________________
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Btw, kamu dah edit lagi lemurianya? That’s great. Tapi ati-ati ya, editing bisa jadi neverending process. Yeah… kamu tau lah… Kalo ntar butuh komen lagi, aku masih tetap bersedia.
Sip deh. Semoga sukses.
@fapur,
Kehadiranmu di ffdn benar-benar bermanfaat nih… hehe… terutama buatku yang masih perlu banyak belajar lagi dalam menulis. Salut.
Kapan-kapan review cerita-cerita amburadulku juga ya? Tapi jangan pingsan kalo nanti ngeliat banyak banget jeleknya. Hehehe…
Tentang candi murca, aku akan menyebutnya fantasi, yang menyodorkan dunia alternatif.
Kalo gak salah, salah satu nominator Hugo Award 2007 yaitu His Majesty Dragon karya Naomi Novik (huh, bener gak ya namanya?) juga bikin dunia alternatif untuk jaman Napoleon dulu.
Kalo gak salah ya… seperti biasa aku kan sok tau…
________________________________________
Post by: alk on April 09, 2008, 09:50:53 pm
________________________________________
Quote from: cheppy70 on April 09, 2008, 09:27:48 am
Ada yg mo saya tanyain, nih buat rekan-rekan, yaitu mengenai Novel CANDI MURCA karangan Langit KH. Ini proyek ambisiusnya LKH untuk menerbitkan novelnya sendiri melalui LKH productions, dengan komitmen menulis 10 halaman per hari, sehingga 1 buku 800 halaman bisa diselesaikan dalam waktu 3 bulanan
800 halaman 3 bulan? wew… pengen bisa gitu, 80 halaman 3 bulan aja ga pernah kesampaian gw. ;D
pengen punya, tapi… kalo tebelnya segitu, harga berapa tuh?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 09, 2008, 10:01:45 pm
________________________________________
liat tuh LKH bikin 10 halaman per hari…
aku butuh 10 jam per hari buat dapet 10 halaman… gila ajah… kayak gak ada kerjaan laen…
dapet 2 halaman per hari udah alhamdulillah…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 10, 2008, 04:15:45 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on April 09, 2008, 12:04:17 pm
Hai…
@rey, my good friend,
Aku rasa kamu terlalu kejam menilai cardan (walau tetap tak sekeji reviewmu dulu atas cerita ancurku. Hehe…). Masak cuma bintang satu. Apa cuma gara-gara naming? Aku rasa sih masih selevel deh sama numeric uno. Hehe… Cuma pendapatku sih…
Numeric Uno masih mendingan daripada Cardan, somehow.
But sabar lha, gw kan masi belom beres baca (sampe sekarang, setiap malem, gw masih nyicil baca entah satu paragraf-satu halaman), kalo nanti bagian setengah buku terakhir udah beres gw baca dan gw menemukan ada poin2 yg positif, ratingnya pasti gw naekin dah(walo emang gak bakalan kejadian ratingnya berubah jadi 3 ato 4 bintang, heheheh)
Tapi ya itu, untuk perbandingan ajah, Numeric Uno, walaupun novel ini plotnya cukup blakatak n ide cahaya Zeta-nya mirip banged sama cahaya Zarta MIB 2, gaya bahasanya masih jauh lebih gampang gw cerna daripada Cardan.
Seperti yg udah gw bilang, cardan punya 3 faktor yg ngebikin gw lama ngeberesinnya. And seriously, naming yg amburadul nian itu sebetulnya masih bisa tertolong kalo plotnya masih didukung tata bahasa yang j_e_l_a_s dan alur yang proporsional. Deskripsi-deskripsi dalam Cardan bagi gw burem banged, dialog2nya aneh, dan udah gitu miskin greget–yg berujung alurnya terasa lambat, itu semua faktor yg bikin dia cuman berating 1 di mata gw..
________________________________________
Post by: Yu-shiki on April 11, 2008, 06:59:27 pm
________________________________________
Eh maap keluar jalur bentar.. prolog itu maksudnya apa sih?
Apa setiap cerita novel harus disertakan prolog?
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 11, 2008, 10:28:02 pm
________________________________________
Prolog,…
Gue sih paling demen menggunakan prolog, secara prolog membuka kemungkinan pengarang menjelaskan suatu latar belakang lebih dulu. Umumnya suatu peristiwa yang kelak akan mempengaruhi jalannya cerita. It gives some ‘suspense’ (dalam artian apapun, tidak harus bermakna ketegangan) kepada pembaca, supaya baca novel itu sampe selesei 
Selain itu prolog memberi keleluasaan bercerita tentang sesuatu yang tak langsung berhubungan dengan tokoh protagonis. DI mana tokoh protagonis biasanya akan muncul di Bab I sebagai titik awal cerita.
Tapi emang ga setiap cerita akan efektif menggunakan prolog. Semua itu tergantung sama strategi penyusunan plot yang diinginkan oleh pengarang.
FA Purawan
[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 12, 2008, 07:55:39 am
________________________________________
mengabaikan definisinya, prolog adalah bonus alias senjata sampingan buat penulis supaya ia bisa memulai cerita dari dua arah yang berbeda (satu di prolog, satu lagi di bab satu).
arah yang berbeda itu bisa berupa lokasi yang berbeda, waktu yang berbeda, tokoh yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja plot yang berbeda.
tidak semua cerita perlu prolog, apalagi kalau ceritanya sederhana. mau langsung masuk ke cerita/plot utama lewat bab satu juga oke-oke aja kok. tapi yang jelas, prolog adalah ‘advantage’ buat penulis, makanya aku bilangnya bonus.
pembahasan tentang prolog kayaknya udah banyak deh di halaman-halaman tret ini sebelumnya, termasuk jenis-jenis prolog yang biasa dipakai, dsb.
tapi yang penting sebenarnya memahami aja dulu apa sebenarnya fungsi prolog, yang kalo menurut pendapat bodohku adalah seperti ini:
- menarik pembaca dengan adegan2 yang memikat.
- memperkenalkan tokoh protagonis (di masa lalu, masa datang, atau masa kini)
- atau memperkenalkan tokoh lain (antagonis, korban)
- memperkenalkan setting (latar cerita: dunia, tempat, kasus)
- memperkenalkan suasana/nada cerita, apakah ini cerita ceria atau cerita gelap misalnya. pembaca tak ingin merasa ditipu nanti, mengira ini cerita aksi padahal isinya nanti bukan aksi, misalnya.
- memperkenalkan tema, inti cerita, masalah ‘hidup mati’ yang akan dijumpai dalam cerita, supaya pembaca merasa ‘ada pentingnya’ buat membaca terus.
- apa lagi ya? wkwkwkwkwk… halah… udahlah, aku ngasih teori-teori lagi…
________________________________________
Post by: clickdian on April 12, 2008, 10:28:55 am
________________________________________
Tambahan tentang prolog, be careful with this one, karena prolog yg ‘salah buat’ akan jadi seperti penyanyi yang salah milih lagu; bikin ilfil. Dan jangan salah, bikin prolog gak gampang, karena harus bisa ‘mengundang’ pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, tapi juga tidak keluar dari ‘tone’ cerita keseluruhan.
Personally, aq kurang suka pake prolog. Dari semua cerita yg aq buat, rasanya baru Segara Wulan yang pake prolog, itu pun belon kelar, hehe..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 11:56:11 am
________________________________________
ini nih gw post sedikit cuplikannya..
Kain membuat beberapa obor dari kayu-kayu bakar—sisa bakaran unggun semalam, dan segera memimpin penjelajahan menembus kegelapan. Lorong gua itu cukup luas pada beberapa langkah awal mereka masuk ke dalamnya, dan kemudian mulai menyempit pada beberapa titik sehingga orang-orang harus berjalan dengan merapat ke dinding.
Ketika mereka telah memasuki lorong gua cukup dalam, mereka menemukan semacam lambung luas. Obor yang dibawa sang marquis menerangi permukaan dinding yang ada di situ, dan segera saja Guillarde berdecak karena terpukau.
“C’est intéressant,” ia berkata takjub. “Tempat ini memiliki banyak hieroglif!”
Semua orang menerangi permukaan dinding yang dilihat Guillarde, dan kemudian menemukan gambar-gambar primitif yang terukir di atas dinding. Mereka menjadi takjub karena menemukan hampir di seluruh sudut lambung luas itu memiliki ukiran-ukiran. Ada banyak gambar yang dilihat mereka di situ: kebanyakan adalah gambar hewan, manusia primitif, dan benda langit.
Langkah Larke terhenti pada suatu ukiran yang menampilkan gambar dari sekelompok mahkluk cebol yang berlari kocar-kacir dari sesuatu yang menukik di atas mereka—seekor burung besar, dan ia melihat pula ukiran bulan sabit dan matahari yang ada berdampingan dalam gambar itu; sebuah lukisan dinding yang amat menarik perhatiannya. Merasa mengenali bentuk burung itu, ia memanggil Fly untuk memastikan.
“Kurasa itu seekor enkidu,” Fly berkata. “Ukiran burung itu memiliki sepucuk bulu lancip di belakang kepalanya serupa jambul, mirip seperti enkidu jantan yang kita lihat di Israd.”
Lama memandang gambar itu, kedua bocah segera mengenali mahkluk-mahkluk cebol yang tampak seperti primata-primata kerdil itu. Mereka segera memanggil semua orang. Dan Guillarde adalah orang yang paling tertarik pada hieroglif temuan mereka.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 15, 2008, 12:01:27 pm
________________________________________
@villam,
u bener, gw kayaknya terlalu keji ngasi Cardan poin satu, heheheh.. 
Gw udah tamat baca (fiuhh akhirnya!), n ratingnya gw naekin jadi 2 bintang (sejajar Ledgard, Pinissi, Nightfall, n Numeric Uno), heheheheh..
Sepuluh bab terakhirnya lumayan kok, gak ‘separah’ bab2 awal sampe pertengahan buku–walopun emang masih tetep gw temukan bbrp hal negatif(contohnya si pengarang acapkali mabok nyebut Tolan sebagai ‘Kota’, padahal Kerajaan, ato mungkin adanya ‘kebetulan2 yang gak alamiah’–hehehe yg ini gw maklum deh, gw sendiri tipe penulis yg cukup berpegang sama pakem kebetulan ) .
Endingnya ya gituu deh, payah dah.
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 15, 2008, 12:59:15 pm
________________________________________
endingnya ga ‘ending’, hehehe…
dan gak ada penjelasan kapan bakal muncul lanjutannya. jadi wajar jika muncul perasaan pembaca seperti ini : ‘aku terjebak!’
salah satu problem utama novel fantasi yang baru muncul, kurasa…
kalo mau bikin cerita yang bagus, otomatis seharusnya detil dan plotnya diperkaya dan diperhalus, yang berarti ceritanya bakal panjang banget.
masalahnya penerbit gak mau nerima / mengambil resiko cerita2 yang terlampau panjang. yeah… kita tau lah semua alasannya…
dan langkah penulis untuk menyiasatinya adalah dengan memotong ceritanya jadi dua atau berapapun. yang berarti sekuelnya tentu saja –> ‘ya udah nanti aja dipikirin kalo emang bukunya laku’.
jalan itu memang masih panjang…
tapi jalanin aja deh…
________________________________________
Post by: BloodSin on April 16, 2008, 10:54:44 am
________________________________________
bukan knp2 sih villam, masalahnya di Cardan itu, jelas2 udah dikasi label TAMAT gitu sama penulisnya, sama kaya novel Narend…(which means elu tungguin sampe matik juga ga bakalan terbit sekuelnya) sementara perkara2 dalam plot Cardan masi jauh dari beres, payah dah. ini bener2 menjebak (dan amat mengesalkan) pembaca, i agree with u. :’(
Novel gw juga termasuk novel yg sarat perkara (elu tauk sendiri kan ), but at least, kalo satu perkara yg jadi perkara utama dalam novel gw udah diselesain di akhir cerita, masi bisa ditolerirkah? :-\
ato jangan2 naskah gw itu jenis yg ‘menjebak pembaca’ juga? :-[
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi VIII (3 Apr 2008 – 5 Apr 2008)
- Menulis fantasi berbahasa Inggris
- Resensi novel-novel fantasi lokal oleh BloodSin
- Review Cardan oleh BloodSin
- Review draft Lemuria karya BloodSin oleh rd_Villam
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: Lich on April 03, 2008, 01:20:55 am
________________________________________
wah tambah rame aja nich thread. salut. ;D
lam kenal, Lich
sedih banget sinopsis karya penulisanku baru ditolak penerbit fantasy. katanya bhs inggrisnya masih harus diperbaiki. beda sich inggris sastra dan inggris biasa. Payah nich, masih harus banyak belajar. >.<.
^^ emang referensi fantasy yang mengarah ke sastra apa maksudnya ke tipe high fantasy ? ( wee, itu sebenarnya istilah buat ilustrator/komikus yang bikin cover novel fantasy ). kalo refensi tipe novel kayal gitu, harusnya gue baca karangan siapa yach ? mungkin ntar gue bisa curi2 baca gratis di kinokuniya atau toko buku impor.
atau gue hrs ambil kuliah sastra inggris kalau mau belajar bhs inggris sastra ? wakakakakakak.
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 03, 2008, 09:02:34 am
________________________________________
Hi, Lich,…
Sorry sebelumnya kalau udah pernah sharing hal ini somewhere di belakang (ini thread udah skala mega, nyisirin satu-satu capek juga, hehehe). Tapi aku jadi curious, kamu bikin novel berbahasa Inggris? Hebat bener euy,.. tapi mo ditujukan ke pembaca mana? Lokal atau luar?
Kalau lokal,…. mungkin penerbit ngerasa ngga bakalan laku?
Kalau luar,…. gue ga tahu sih. Tapi mungkin memang bikin novel berbahasa inggris jauh lebih sulit dari sekedar menulis dalam bahasa inggris, kali ya,..?
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 03, 2008, 01:38:45 pm
________________________________________
lich,
wuih… kamu bikin cerita basa inggris?
keren…
trus emang nulisnya kudu pake inggris sastra?
kayaknya gak mesti deh…
ada yang bilang inggris biasa justru lebih mudah diterima mayoritas pembaca.
tentang reference high fantasy, ini link wikinya:
http://en.wikipedia.org/wiki/High_fantasy
dan ini daftar buku2 ngetopnya, kalo mau cari di kinokuniya.
kalo mau yang model ada karakter2 berbagai macam ras, bisa baca LOTR, David Edding’s Belgariad, atau Robert Jordan’s Wheel of Time (yang salah satu bukunya pernah kubaca). buku2 pengarang lain belon pernah baca, walau pengen… huhu…
kalo mau yang model intrik2 dan perang antar kerajaan, bisa baca George RR Martin’s A Song of Ice and Fire.
atau baca bukunya Lois McMaster Bujold dan Ursula Le Guin yang langganan dapet Hugo Award.
* Jim Butcher’s “The Dresden Files
* Lloyd Alexander’s The Chronicles of Prydain
* Poul Anderson’s Three Hearts and Three Lions
* R. Scott Bakker’s Prince of Nothing series
* Peter S. Beagle’s The Last Unicorn
* Martin Bertram’s Vanity of Vanities
* Gillian Bradshaw’s Arthurian trilogy (Hawk of May, Kingdom of Summer, In Winter’s Shadow)
* Marie Brennan’s Doppelganger
* Terry Brooks’s Shannara series
* Lois McMaster Bujold’s Chalion series
* C. J. Cherryh’s Ealdwood and Fortress series
* Susan Cooper’s The Dark Is Rising
* Stephen R. Donaldson’s The Chronicles of Thomas Covenant series
* Sara Douglass’s The Wayfarer Redemption series
* Lord Dunsany’s The King of Elfland’s Daughter
* David Eddings’ Belgariad/Malloreon and Elenium/Tamuli/The Dreamers
* Eric Rücker Eddison’s The Worm Ouroboros and Zimiamvian Trilogy
* Kate Elliott’s The Crown of Stars series
* Michael Ende’s The Neverending Story
* Steven Erikson’s Malazan Book of the Fallen saga
* David Farland’s The Runelords saga
* Raymond E. Feist’s Riftwar Saga and other Midkemian sagas
* Lynn Flewelling’s Nightrunner series
* David Gemmell’s Legend saga
* Terry Goodkind’s Sword of Truth saga
* L. B. Graham’s The Binding of the Blade series
* Frank Grave’s The Ancestral Trail series
* Jim Grimsley’s Kirith Kirin
* Robin Hobb’s Farseer, Liveship and Tawny Man trilogies
* P. C. Hodgell’s Jame of the Kencyrath series
* Ian Irvine’s The Three Worlds Cycle series
* Robert Jordan’s The Wheel of Time saga
* Katharine Kerr’s Deverry series
* Stephen King’s The Dark Tower saga
* Mercedes Lackey’s Valdemar series
* Mercedes Lackey’s and James Mallory’s Obsidian Trilogy
* Mercedes Lackey’s and Andre Norton’s The Halfblood Chronicles
* Stephen R. Lawhead’s Song of Albion Trilogy
* Tanith Lee’s Birthgrave series
* Ursula Le Guin’s Earthsea series
* C.S. Lewis’s Chronicles of Narnia series
* George R. R. Martin’s A Song of Ice and Fire series
* Dennis L. McKiernan’s The Iron Tower trilogy
* Patricia A. McKillip’s The Riddle-Master of Hed trilogy
* Robin McKinley’s The Hero and the Crown
* Hope Mirrlees’s Lud-in-the-Mist
* L. E. Modesitt, Jr.’s The Saga of Recluce and Spellsong Cycle
* Elizabeth Moon’s The Deed of Paksenarrion series
* Michael Moorcock’s Eternal Champion series
* Leslie Ann Moore’s Griffin’s Daughter series
* William Morris’ The Well at the World’s End
* Garth Nix’ Abhorsen Trilogy
* Andre Norton’s Witch World series
* Margaret Ogden’s The Realm of the Elderlings series under the name Robin Hobb
* Mervyn Peake’s Gormenghast books
* Meredith Ann Pierce’s The Darkangel Trilogy
* Terry Pratchett’s Discworld series
* Phillip Pullman’s His Dark Materials trilogy
* Jennifer Roberson’s Chronicles of the Cheysuli and The Sword-Dancer Saga
* Fred Saberhagen’s Earth End sequence
* R. A. Salvatore’s Forgotten Realms and Demon Wars series
* Jonathan Stroud’s The Bartimaeus Trilogy
* Eldon Thompson’s The Legend of Asahiel series
* J. R. R. Tolkien’s The Lord of the Rings, The Hobbit, Silmarillion, Unfinished Tales, Children of Húrin and The History of Middle-Earth
* Jack Vance’s Lyonesse Trilogy
* David Weber’s Oath of Swords saga/War God series
* Margaret Weis’s and Tracy Hickman’s Dragonlance series
* Tad Williams’s Memory, Sorrow, and Thorn trilogy
* Gene Wolfe’s Wizard Knight series and The Book of the New Sun
* Roger Zelazny’s Amber series
* Jennifer Fallon’s The Demon Child Trilogy, The Hythrun Chronicles and Second Sons Trilogy
* Paul Edwin Zimmer’s Dark Border series: “A Gathering of Heroes and Ingulf the Mad
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: hege on April 03, 2008, 02:21:19 pm
________________________________________
I am currently reading Ursula Le Guin’s Earthsea (English)… dan nyastra banget, kereeeennn (bacanya mesti ulang-ulang dan banyak unfamiliar words) selain baru aja menyelesaikan baca The Alchemist versi Gramedia (terjemahannya lumayan baik, tapi si penerjemah tampaknya penggemar berat istilah ‘sekonyong-konyong’ (ada puluhan ‘sekonyong-konyong’ yg kutemukan sepanjang cerita) dan sekonyong-konyong hege ilfil pun jadinya. Buku alchemist menginspirasi orang-orang untuk mengejar mimpi, selain itu, rasa-rasanya banyak pengetahuan filsafat udah pernah kubaca di buku lain sebelumnya.
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 12:10:38 pm
________________________________________
Vil : aduh mati gue bacanya gimana ;D pokoknya gue embat yang plastiknya dibuka aja wakakakak dasar nggak punya modal. ;D ;D ;D
Horeeee dapet editor baru ! ;D ;D ;D wakakakak mudah2an nggak seaneh editor sebelumnya yang nolak gue wakakakakak ;D
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 04, 2008, 01:37:03 pm
________________________________________
@lich,
aduh… kamu sampe mati bacanya? heheheh…
emang tuh, modal juga yang bikin aku sangat selektif buat memilih buku… hihi…
tapi selamat ya dapet editor barunya…
emang di penerbit mana? share dikit dong tentang novelmu…
________________________________________
Post by: Lich on April 04, 2008, 02:57:56 pm
________________________________________
Vil : lagi nyoba yang penerbit kecil alternatif di Kanada, namanya rahasia dapur hehehe. baru mulai, sih. Tapi aku cuma coba di Graphic Novelnya, itu tuch yang setengah novel setengah byk gambar2nya. ;D berarti bukan pure novel tulisan. Trus karena pendatang baru, jadinya aku ndak di jatah novel yang tebel2, paling cuma kayak novel ecek2 yang tipis, murah, dan kelas teri lach. begitchu. hehehe.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:18:58 am
________________________________________
Oke, sekedar resensi/review singkat (yang mengikuti standar & selera baca gw) buat novel-novel fantasi lokal yg udah pernah gw baca (dan menjadi korban gw )
Penilaian gw berdasarkan dari segi gaya bahasa, plot, humor, orisinalitas ide, sampai penggarapan untuk hardcopy bukunya.
So…. here we go,
Ket:
*) Novel tak layak baca
**) Novel kelas pemula, alias standar
***) Lumayan, novel pada level ini sudah memiliki tata bahasa yang baik, cuma masih kurang sedikit (entah di logika yg kedodoran, ending yang maksa, atau keklisean di beberapa bagian)
****) Bagus, novel pada level ini boleh disejajarkan dengan karya-karya luar negeri.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/ledgard.jpg)
Judul: Ledgard–Musuh dari Balik Kabut
Penulis: WD Yoga
Penerbit: C|Publishing
Rating: **
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Berdasarkan riset iseng2 gw searching di dunia maya, cukup banyak pembaca dalam negeri yang menempatkan novel ini di posisi teratas untuk kategori fantasi lokal (alias the best dari novel2 sejenis), dan gw rasa gw bisa mengerti opini mereka.
Novel ini digarap cukup matang: punya plot yang lumayan, penokohan yang lumayan, setting yang cukup orisinil, aturan naming yang cukup konsisten, alur cerita yang pas. Novel ini juga punya filosopi2 karakteristik yang mengadopsi elemen-elemen bumi: air, api, tanah, udara.
Ide itu akan amat menarik, bagi beberapa orang.
Sayangnya, bagi gw yg ex-RPGer, ide itu cenderung klise. (Ada banyak game rpg yg mengadopsi ide serupa)
Gaya bahasanya cukup membosankan, kurang berhasil untuk mengikat pembaca. Humor garing. Dan lagi… Ledgard ini adalah contoh untuk novel fantasi lokal yg kena sindrom ‘bule celup’. Ambil contoh tokoh Nash dalam cerita, yang deskripsinya mengambil gambaran seorang bule, tapi cara berpikirnya + gaya omongannya (dalam dialog) selugu orang indonesia. Terus setting dunia ledgard yg terkesan kebarat-baratan (ada ras Centaur yg notabene dari yunani) terasa tidak sinkron dengan kebudayaan timur yang berlaku di setiap bangsa-bangsanya.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/pinissi.jpg)
Judul: Pinissi–Kisah orang-orang Setinggi Lutut
Penulis: Mama Piyo
Penerbit: Liliput
Rating: **
Tipe: Dongeng
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Novel ini satu-satunya fantasi dalam negeri yang mengangkat setting dari kebudayaan dalam negeri (setting Makassar, tah?). Tentu dari sini udah ada nilai plusnya. Settingnya yang orisinil didukung pula dengan ras2 rekaan & naming (atau emang berasal dari literatur orang makassar tah?) yang unik, pas, dan gak pasaran. Ilustrator Ermambang Bendung dalam novel ini amat berhasil menyajikan ilustrasi-ilustrasi beraroma ‘etnikal’, cukup membantu pembaca dalam berimajinasi terhadap isi buku.
Sayangnya, plotnya ditulis tanpa greget, dan dengan gaya bahasa yang terkesan buat anak kecil A.K.A pas2an. Ada banyak struktur kalimat tak baku dalam novel ini, yang bakal mengganggu ‘pembaca teliti’ kaya gw. Miskin humor pula.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/hozzoh.jpg)
Judul: Hozzo–Feres yang Hilang
Penulis: ?? (siapa yah gw lupa tuh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Penerbit: Liliput
Rating: ****
Tipe: sci-fi, detektif
Sekuel: Ya, dan belum terbit sampai hari ini pun
Novel tentang petualangan kelompok detektif manusia + alien + robot di luar angkasa. Ditulis dengan gaya bahasa yang friendly dan adaptable*, pengarang novel fantasi ini menguasai teknik karakterisasi yang sungguh luar biasa baik, yang didukung pula humor2 segar, pembangunan setting yang kuat (terutama untuk ras2 alien dan kebudayaannya), dan penyajian ‘pelajaran-pelajaran (baik secara materiil–khususnya biologi–dan spiritual–konsep reinkarnasi)’ yang tidak membosankan untuk disimak.
Terasa lemah di plot, namun teratasi karena unsur ‘tidak membosankan untuk dibaca’ itu.
*mudah mengikat pembaca
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/narend.jpg)
Judul: Narend–Petualangan ke Tanah Kutukan
Penulis: Linuwih Nata permana
Penerbit: Liliput
Rating: ***
Tipe: Petualangan
Sekuel: No
Narend adalah satu satu fantasi yang memiliki setting ciamik, tata naming yang tak bercacat & plot yang cukup solid. Gaya bahasa cukup dapat mengikat pembaca, namun kurang berhasil menciptakan greget.
Ada sedikit logika kedodoran di beberapa adegan, terlebih endingnya yang super duper maksa kebetulannya. Bahasa dalam dialog yang terasa kaku juga menjadi penyebab novel ini hanya masuk kategori lumayan.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/zauri.jpg)
Judul: Zauri–Legenda Sang Amigdalus
Penulis: yang ini juga gw lupa namanya siapa(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Penerbit: Grasindo
Rating: ***
Tipe: RPN, Romance
Sekuel: Antara ya dan tidak, tergantung mood si pengarang kali yak(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
Nilai plus yang paling keliatan dari novel ini adalah gaya bahasanya yang mudah ditangkap (karena cukup fleksibel) dan karakterisasi yang dibangun cukup baik. Setting dunia rekaan pengarang cukup orisinil–walau terasa dipengaruhi RPG2 jepang. Penyajian plot dan humor dieksekusi dengan cukup baik. Gw rasa cukup wajar novel ini menerima penghargaan untuk kategori novel remaja terbaik di peringkat kedua ajang IKAPI Award tahun 2007. (banyak amat yak gw ngomong cukup(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
Sayangnya, beberapa deskripsi yang dipaparkan penulis masih terkesan buram, monster-monster dalam buku ini mengingatkan monster-monster rekaan Squaresoft dalam seri Final Fantasy (Bubaglop itu contohnya!), dan gaya romance yang terlalu picis–yg mungkin karena imbas dari buku teenlit yang sebelumnya diterbitkan si pengarang.
(sori ga nemu gambar kovernya T_T)
Judul: Janos–Legend of Arctic Empire
Penulis: Hadiyanto (lulusan Teknik Informatika Bina Nusantara!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif))
Penerbit: Agromedia Pustaka
Rating: *
Tipe: Diari, Romance, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Lebih kelihatan sebagai diari seseorang bernama Janos daripada sebuah novel fantasi. Satu-satunya novel fantasi lokal (yang pernah gw baca) yang bersudut pandang ‘aku’–ini cukup unik dan berani.
Karena berbentuk diari, novel ini nyaris tak punya konflik, yang akhirnya berujung novel ini terasa tak memiliki plot. Gaya bahasa yang pas2an, humor yang superduper jayus, setting dunia sci-fi yang kurang kreatif dan imajinatif, naming yang bikin ilpil, romance yang terlampau picis, dan ketiadaan dari konflik penting dalam plotnya, menyebabkan novel bikinan senior gw ini masuk kategori tak layak baca.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/nightfall.jpg)
Judul: Nightfall–The Element Location
Penulis: Rizky YS (lulusan Teknik Informatika Trisakti!)
Penerbit: Gagasmedia
Rating: **
Tipe: RPN
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Salah satu fantasi bertipe RPN dengan sindrom bule celup. Yang paling positif dari novel ini adalah jalinan plotnya yang cukup kompleks, dan setting dunia Medarda yang dibangun cukup orisinil (terutama ide kiamat Nightfall-nya).
yang negatif dari Nightfall, adalah gaya bahasanya yang kurang dapat mengikat, ketiadaan humor dalam novel (padahal materinya cukup enteng), karakterisasi yang buram, dan alur yang terlalu buru-buru (yg menyebabkan pendeskripsian menjadi kedodoran di beberapa bagian).
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/sangpenandai.jpg)
Judul: Sang Penandai
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Spiritual, Petualangan, Kolosal
Sekuel: No
Sang Penandai adalah satu-satunya novel fantasi tanpa humor yang bener-bener layak dibaca oleh semua umat. Novel ini menyajikan filosopi yang universal–sebuah renungan mendalam dari kekuatan cinta, gaya bahasa yang aduhai, jalinan plot yang solid, dan petualangan yang seru.
Yang unik (dan keren bagi gw), novel ini juga terang-terangan berani mencela kisah roman yang paling terkenal sedunia: Romeo dan Juliet, namun disertai dengan renungan mendalam sang pengarang sebagai landasan argumentasi.
Sang Penandai merupakan satu-satunya fantasi yang kelihatan tak bercacat di mata gw, walau tokoh ‘sang Penandai’ dalam buku ini terlampau mirip dengan tokoh Melkizedek dalam Sang Alkemis-nya Paulo Coelho.
Untuk endingnya, mungkin sebagian pembaca akan merasa kecewa. Tapi ending Sang Penandai jelas tidak picis dan klise; ending seperti itu jauh lebih indah dibanding happy ending beberapa fantasi yang digambarkan terlampau kebetulan/gombal/picis.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/numeric.jpg)
Judul: Numeric Uno–Legenda Sang Labrarus
Penulis: DewiS
Penerbit: Puspaswara
Rating: **
Tipe: ?
Sekuel: No
Membaca novel ini, gw jadi inget Hozzo, karena menyajikan setting dan ide plot yang hampir sama. Plotnya cukup solid, dan itu yang paling menolong dalam novel ini.
Sayangnya, novel ini disajikan dengan gaya bahasa dialog yang kaku, penokohan yang kurang kuat, pendeskripsian yang buram, setting luar angkasa yang cetek, ending dan penyelesaian konflik yang payah (ada tokoh yang terkesan dipaksakan mati padahal sebetulnya gak perlu mati), dan materi romance yang picis.
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/goran.jpg)
Judul: Goran–Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Rating: ****
Tipe: Petualangan, Sci-Fi
Sekuel: Ya, dan belum terbit
Goran adalah novel fantasi komplit, dan itulah yang menjadikannya sebagai the best indonesian fantasy book dari semua yang pernah gw baca (walau dari segi tata bahasa, novel ini punya sedikit cacat–gak kayak Sang Penadai yang terkesan rapih jalih).
Terkesan ‘paket lengkap’, karena novel ini menyajikan 3 setting dunia (yang terbagi dalam: dunia jaman baheula, present, dan futuristik), selera humor yang gila2an (yang seharusnya bisa diterima oleh segala lapisan pembaca), gaya bahasa yang mengalir dan mengikat, plot yang solid, karakterisasi yang dapet banged (walau gak sedahsyat Hozzo), imajinasi & riset yang lumayan mendalam untuk pembangunan ketiga settingnya (kehidupan remaja jepang hari ini, dunia persilatan–dan pejodohan –Cina Kuno, dan planet Vida yang futuristik).
Ada beberapa struktur kalimat yang berkesan ‘semau gue’ si pengarang, but overall, that’s no such a big deal for me.
Goran is the best dah.
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 09:51:02 am
________________________________________
The last one(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/cardan.jpg)
Judul: Cardan–Inside & Outside The Hinkal Core
Penulis: Chandra Adhitya Winarno
Penerbit: Gagasmedia
Rate: *
Tipe: RPN, Kolosal
Sekuel: ?
Oke.. yang satu ini, berhubung novel fantasi terakhir yang gw baca, pembahasannya bakal gw bikin lumayan panjang 
Salah satu dari beberapa novel fantasi yang males buat gw baca sampe abis! (selain karena hurufnya yang kecil2 dan bukunya yang lumayan tebel pulak @_@)
Secara gw baru baca setengah isi buku, gw gak bakal ngomongin plotnya.
Yang mau gw review panjang lebar adalah 3 hal yang menyebabkan gw lebih memilih bengong sewaktu mencoba melumat Cardan sampai tamat:
-Naming
Sebetulnya dari paragraf pertama buku, sudah kelihatan bagaimana kacaunya si pengarang memilih nama. Beliau menyebut tiga nama bintang dengan aroma yang berbeda satu sama lainnya: Joan, Sanggu, Colt. Ini sedikit gamang, dan terasa seenak jidat.
Selama membaca Cardan, gw menemukan dengan kreatifnya si pengarang mencomot nama beraroma dari berbagai belahan dunia, untuk diletakkan dalam sebuah setting. Bayangkan, dalam sebuah negara, kita menemukan nama beraroma Indonesia/Jawa (Palawa, Pradnya, Boma, Anya, Aras), Eropa (Monique, Clark, Sam, Heinze, Zavier de Voco, Drake), Israel (Saul, Sonia), Jepang (Furita, Izo, Kei, Shi), sampai nama2 ‘antah berantah’ (Divin, Links, Dupku, Garinka, Fordit)
Ini bener2 kacau, tak berseni, seenak jidat, dan mengganggu setting.
Terus ada lagi yang patut ditertawakan, ada karakter bernama lengkap Zavier de Voco, yang kalau menuruti aturan tata nama Perancis (Thanks to mademoiselle Midnite Sun) berarti: ‘Zavier dari Voco’–’Voco’nya ini merupakan nama tempat asal, biasanya. Akan lumrah dan tak bermasalah, kalau yang jadi ‘nickname’ orang itu Zavier.
Tapi si pengarang Cardan ini, sepanjang buku malah mnggunakan ‘Voco’ buat nama pendek orang itu.
Jadi buat perbandingan… misal ada seseorang yang dilahirkan dengan nama: ‘Budi dari Cikotok’ (karena dia dilahirkan di Cikotok), maka tuh orang kalau ketemu pengarang Cardan bakal dipanggil: Cikotok, bukan Budi. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Aneh kan? Ironisnya, waktu gw liat di halaman sampul belakang.. disebutkan kalau si penulis ini mahasiswa bahasa Perancis!
-Gaya Bahasa
Kurang berhasil mengikat pembaca, dan deskripsi-deskripsi (baik untuk kejadian, tempat, ataupun tokoh) terkesan absurd bagi gw.. Somehow, gw sering menemukan diri gw malah larut ke dalam alam bengong pikiran gw daripada menyimak isi paragraf-paragraf dalam Cardan (well, hal serupa terjadi waktu gw baca Ledgard, Pinissi, & Janos). Mungkin istilahnya, Cardan gagal meracuni pikiran pembacanya untuk larut dalam cerita.
Cardan juga terlalu banyak membahas peristiwa-peristiwa sepele (yang menyebabkan RPN ini terasa bertele-tele).
Miskinnya wawasan si pengarang juga terasa, ada kalimat yang berbunyi kira-kira begini:
Di kamp latihan itu Aras melihat hewan-hewan tempur dengan berbagai wujud, yaitu Griffin, dan lain-lain.
(Udah pada tau kan kenapa gw sedih baca kalimat kayak begini?)
-greget
Yang gw dapet selama baca ampe setengah buku, Cardan kurang berhasil menciptakan puncak-puncak klimaks kecil.. ibarat sebuah kardiogram, Cardan adalah sebuah garis lurus dari detak jantung orang sekarat yang menunjukkan detak lemah setiap sekian menit.. Tak ada denyut klimaks yang kelihatan berarti, dan gw pikir inilah faktor yang paling fatal.
Adegan terpilihnya Aras sebagai cardan murni, pertarungan Aras dengan Fordit, kasus pembunuhan Max, sebetulnya cukup berpotensi untuk menjadi klimaks-klimaks kecil, tapi sayangnya dideskripsikan kurang menggigit (dengan gaya bahasa yang buram pulak), dan konsekuensinya adalah novel ini terasa hambar.
Well, Cardan adalah sebuah ironi bagi gw; novel ini adalah novel yang memiliki kover paling keren dari semua buku fantasi lokal yang gw punya (menyajikan gambar dari siluet api burung phoenix dengan posisi garuda pancasila, dipadu latar belakang hitam pekat–keren, artistik, dan gak murahan), tapi masuk ke jajaran novel fantasi terburuk menurut standar dan selera baca gw..
________________________________________
Post by: BloodSin on April 05, 2008, 10:01:28 am
________________________________________
well, selain semua novel di atas, masih ada novel2 fantasi lain yang ditulis anak bangsa (yang belom gw baca):
-Phoenix dan Mahkota di Negeri Azura
-The Corruption (fantasi berbahasa inggris)
-Catatan Harian Alien (fantasi liliput yang paling laku, tah?)
-Misteri Pedang Skinheald (satu2nya novel fantasi bersekuel yang udah terbit sekuelnya–salut!)
-Reinhart
-Ratu Calissta
-Cincin Odeoleo
-Magical Seira (yang ini fantasi mixed teenlit(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif))
-apalagi yak?
Kalau mau dirata2 untuk review2 gw di atas, gw kira genre Fiksi Fantasi Dalam Negeri ini cukup punya prospek di masa depan, tapi kita tetap masih kekurangan penulis-penulis fantasi spektakuler nih..
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: rd_Villam on April 05, 2008, 03:04:32 pm
________________________________________
My good friend Rey,
salut atas review-reviewmu!
Setelah sekian lama tertunda akibat banyak hal, akhirnya aku bisa membaca kisah Lemuria-mu. Maaf beribu maaf karena lama banget ya. Hehe…
Jadi begini, aku udah baca kemaren satu kali, dan kupikir harus kubaca lagi nanti sekali lagi biar aku bisa ngasih reviewnya secara lebih lengkap. Jadi beri aku waktu sekitar satu dua minggu lagi.
Nah untuk sementara, ini adalah komentar awal aja.
Secara keseluruhan, aku suka ceritamu. Dengan model cerita fantasi petualangan dimana ada satu kelompok yang menempuh perjalanan buat menyelesaikan suatu misi, model kayak Fellowship of The Ring, sebenarnya jalan cerita model begitu udah terlalu biasa, namun ada kelebihanmu seperti yang dari dulu udah sering kubilang, yaitu gaya bahasamu.
Aku jamin, gaya bahasa sastramu ini pasti akan menarik pembaca lainnya—dan mungkin juga editor—sejak awal. Memang kerasa bahwa gaya bahasa ini tidak terlalu kaku sastra dari awal sampai akhir. Kalau dibilang agak kurang konsisten, mungkin iya—dan aku gak tau apakah kekonsistenan ini penting atau tidak buat para editor—tapi kupikir kamu udah cukup berhasil menemukan formula yang pas kapan harus bersastra ria dan kapan harus bergaya bahasa biasa.
Kalau menurutku, gaya bahasa sastra akan terdengar indah dan menghanyutkan, namun kurang cocok jika kita hendak membuat pembaca tegang, dimana kalimat-kalimat yang lebih lugas lebih cocok. Jadi itulah yang terasa saat aku membaca ceritamu. Aku terpesona dengan alunan kalimat dalam ceritanya, tapi keinginan hatiku yang ingin dikejut-kejutkan seperti saat membaca cerita-cerita bernuansa thriller tidak terpenuhi.
Intinya akibat gaya bercerita ini aku memang merasa sedang membaca cerita yang indah, tapi tidak membuatku merasa masuk ke dalam ‘menjadi tokoh-tokohnya’. Yeah, dalam hal ini sepertinya kita bicara lagi soal 3rd person Limited POV. Dan… walaupun ini mungkin tidak terlalu bermasalah buatmu, tapi bisa jadi bahan pemikiranmu nanti.
Kelebihan lain, aku suka dialog-dialognya. Ada yang mendayu-dayu, ada yang kocak. Imajinasimu tentang makhluk-makhluk aneh yang muncul di sini juga mengasyikkan—walau di beberapa tempat informasi-informasinya kebanyakan hingga membuatku terlempar terlalu jauh dari plot yang ingin dibangun di adegan tersebut. Sebaliknya, walaupun deskripsi-deskripsi panjangmu menarik di beberapa tempat, tapi ada adegan yang seharusnya membutuhkan deskripsi supaya pembaca bisa lebih merasakan suasananya, malah kurang deskripsinya.
Lalu satu lagi komentar awalku, supaya nanti tidak terlupa, kurasa banyak adegan-adegan pendek yang menggantung dan tanggung (nanti aku jabarin secara lebih detil), yang membuatku berpikir sebenarnya adegan2 itu bisa dieksplor lebih jauh, atau justru sebaiknya dihilangkan sama sekali.
Contoh adegan pendek yang tanggung tersebut adalah adegan pengenalan tokoh Esther (aku suka karakter ini; aku selalu suka karakter cewek jagoan) di awal, yang … duh pendek banget, dan butuh berpuluh-puluh halaman lagi untuk sampai ke lanjutan adegan dimana dia ada lagi. Membuatku berpikir buat apa Esther dimunculkan seawal itu? Buat perkenalan? Tapi keburu lupa karena adegan dia berikutnya jauh banget, aku harus mundur lagi bacanya, untuk tahu apa tadi yang dia lakukan di awal.
Kemudian soal plot dan karakter. Yeah… seperti biasanya model cerita fantasi petualangan perjalanan, plotnya terasa lurus tunggal dan lancar-lancar saja. Konfliknya hanya berupa outer conflict, dimana rombongan harus berhadapan dengan rintangan-rintangan yang muncul dan terselesaikan selama perjalanan. Inner conflict yang terbangun hanyalah kekhawatiran Larke saat dia kehilangan Lyn, yang sayangnya tidak diimbangi dengan cerita yang menggambarkan penderitaan Lyn selama dia diculik, sehingga pembaca tidak bisa ikut banyak bersimpati.
Juga awalnya aku berharap akan ada inner conflict dalam diri tokoh Kain maupun Seth, berhubung seharusnya mereka adalah tokoh terpenting dalam cerita ini, KARENA kamu memunculkan mereka berdua dalam prolog cerita. Tapi ini pun tak dibangun. Kemudian tokoh Guilarde mestinya juga bisa lebih dieksplor, berhubung kamu sudah terlanjur memperkenalkan dia di awal sebagai tokoh yang punya misi tersembunyi.
Kemudian mungkin bisa lebih menarik pula jika di sela-sela cerita perjalanan rombongan, diselingi dengan adegan-adegan lain di tempat lain supaya cerita tidak terlalu terasa lurus dan agak membosankan. Kamu sudah memunculkan adegan pertemuan para gipsi, itu bagus, lalu ada adegan pengejaran para Luminar, itu juga bagus. Tapi aku berharap lebih banyak adegan selingan ini, supaya jantungku bisa berdebar lebih cepat.
Hahaha… dan tentu saja sebagai penulis aku tahu keberatanmu jika harus menambah adegan. Cerita bakalan lebih panjang, buku jadi lebih tebal, terus siapa nanti siapa penerbit yang mau nerima cerita kita? Hihihi… yeah… ini sekadar bahan pertimbangan. Dengan cerita yang berplot lebih kaya, pasti akan terasa lebih mengasyikkan, walau tentu konsekuensinya cerita jadi lebih panjang.
Oke, sementara ini dulu komentarku. Mudah-mudahan aku bisa segera memberimu review yang lebih detil dari tiap babnya.
Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk membaca ceritamu, Rey.
Mari kita semua terus berjuang menjadi lebih baik.
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi VII (14 Mar 2008 – 2 Apr 2008)
- Fantasi identik dengan hiperbolis?
- Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing? karya hege
- Khael dan Marina oleh alk
- Tentang macam-macam Prolog
- Membuat greget cerita
- Blog khusus mengulas novel-novel Fiksi Fantasi Indonesia
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
________________________________________
@Rey
Thanx buat reply-mu yang gondrong abis! ;D
Anyway, aku pikir ada beberapa hal yang emang bener dr apa yg kmu tulis.
Dari situ aku mikir2, ternyata emang bikin novel susah banget ya?
Selama ini aku slalu kesusahan dlm merangkai/mengolah kata.
Jadinya aku pake majas2 utk deskripsi suasana, dst.
Penggambaran tokoh juga pake majas2, kebanyakan majas hiperbolis sih! ;D
Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?
Coz, dulu aku pernah minta saran ke temanku yg udah pernah baca cuplikan critaku, dia bilang critaku kurang hiperbolis utk ukuran sebuah novel fantasy.
Aku ga tau apa maksudnya?
Mgkn yang dia maksudkan tuh semacem mengolah kata2 dgn imajinasi tinggi gitu ya?
Misal : di Narnia, ada Aslan, singa yang bisa ngomong.
Ato mungkin, ada mobil terbang di crita Harry Potter.
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini… 
________________________________________
Post by: alk on March 14, 2008, 11:49:58 pm
________________________________________
Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Btw, aku mau nanya, apakah novel fantasy identik dengan yg namanya sesuatu yg dilebih-lebihkan?
Alias hiperbolis?
nggak.
Quote from: Euthalia Calisto on March 14, 2008, 04:23:53 pm
Trus, apakah novel fantasy emang menuntut suatu imajinasi yang buat setinggi-tingginya?
Mohon dijawab pertanyaan penulis pemula ini…
nggak juga.
;D wkwkwkw… kependekan ya kalo dijawab gitu. oke deh, penjelasannya:
menurut gw…
novel fantasy bisa hiperbolis, tapi nggak selalu harus begitu. fantasy identik dengan imajinasi. kasarnya identik dengan membuat-buat bukannya melebih-lebihkan.
fantasy butuh imajinasi, memang. imajinasi yang tinggi memang bisa jadi potensi bagus, tapi bukan berarti itu cukup bagi sebuah novel fantasy. merangkai imajinasi menjadi suatu gambaran yang bisa diterima, dipahami dan dinikmati adalah hal yang dituntut seorang pembaca dari penulis novel fantasy, atau seorang penonton dari sutradara film fantasy. 
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 15, 2008, 12:02:24 am
________________________________________
Masalahnya gimana caranya agar imajinasi kita bisa diterima and dipahami ama pembaca tanpa mereka mikir kalo ni imajinasinya ketinggian?
Pernah lho ada kasus kaya gitu.
Kesannya jadi aneh and konyol. ???
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: hege on March 17, 2008, 09:56:19 am
________________________________________
Korban Penculikan Alien Pertama di Indonesia Adalah Seekor Kucing?
Situbondo, 7 Januari 1996, seorang wanita setengah baya bernama Ningsih Prasetia (56) melaporkan penculikan atas kucingnya ‘Mayang’ ke kantor polisi. Dia mengaku dengan bersungguh-sungguh bahwa kucingnya telah diculik alien pada suatu sore yang terik di halaman belakang rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17.
“Wanita itu menerobos masuk tanpa menggedor pintu,” kata seorang petugas kepolisian yang—tampak dari wajahnya—merasa bahwa ini adalah lelucon yang menggelikan. “ Saya pikir dia orang gila karena berteriak-teriak histeris kepada kolega saya di divisi penculikan.”
Jelas sekali para polisi tak menanggapi kasus ini dengan cukup serius, sehingga kami berusaha mewawancarai Ny. Ningsih secara eksklusif di rumahnya di Jl. Gunung Merbabu no. 17. Wanita itu tampak pasrah dan menerima nasibnya yang malang.
“Saya sedang mengambil beberapa potong cucian yang telah kering sambil bersenandung,” narasumber mengaku dengan mata bengkak penuh air mata. “Mayang-ku (kucingnya-red) sedang makan biskuit di teras. Segalanya terasa normal dan menyenangkan.”
“Lalu apa yang anda lihat?” saya bertanya.
“Ini betul-betul terjadi dan saya tak peduli apa kata orang mengenai ini,” ia berkata, sepertinya bukan untuk pertanyaan saya. “Demi Tuhan, saya tidak gila, demi leluhur saya di atas sana, saya tidak mengarang atau bermaksud mencari sensasi.”
“Ya, saya tahu. Bisa anda ceritakan detil kejadiannya?” tanya saya tak sabar.
“Tentu,” ia berkata. “Tapi anda jangan berpikir saya sinting ya!”
“Saya tidak akan berpikir seperti itu,” saya berjanji. “Anda dan saya sama warasnya.”
“Segalanya berlangsung sangat cepat,” ia berkata, mengumpulkan segenap tenaga untuk menuturkan pengalamannya. “Mendadak muncul cahaya biru dari langit, lebih terang dari matahari. Saya pikir ada helikopter jatuh atau semacamnya, tapi suasana sangat hening, sungguh tidak wajar, seluruh tubuh saya terasa kaku dan dingin.
“Selama saya meringkuk di tanah, benda yang mirip loyang perak mendarat persis di samping saya, diameternya tak lebih dari enam meter. Tiga mahluk pendek kurus meluncur keluar perlahan-lahan dari dalam benda itu, memakai pakaian ketat sewarna aluminium. Kepala mereka bulat seperti buah pir, dengan lengan-lengan panjang mengerikan. Berikutnya, saya hanya bisa menyaksikan tanpa daya ketika mereka mencengkeram Mayang dan membawanya pergi.”
“Ada lagi yang mereka lakukan?” saya kembali bertanya.
“Sejauh ingatan saya hanya itu,” kata Ny. Ningsih serius. “Tapi saya yakin salah satu mahluk aneh itu menyicipi biskuit-nya sebelum masuk ke dalam pesawat.”
“Bagian itu sangat aneh,” komentar saya berjengit. Wanita itu mengangguk setuju.
“Dan anda tak mendengar kabar kucing itu lagi sampai sekarang?”
“Mayang-ku sayang,” ia bergumam, berlinang air mata. “Aku sangat mencemaskan dia. Anda takkan percaya apa yang biasa dilakukan alien pada korban-korban penculikannya. Mereka dikuliti dan diperkosa.”
Setelah cukup informasi yang kami perolah dari narasumber, kami pun mewancarai para tetangga Ny. Ningsih di sekitar jalan Gunung Merbabu—dan kami mendapat fakta yang cukup mengejutkan.
“Otaknya tidak beres, Ny. Ningsih itu,” kata pak Widodo (66) seorang lelaki dengan perut buncit kepada kami. Pria ini tinggal persis di samping rumah Ny. Ningsih. “Kalian tahu betul apa yang bisa dilakukan orang-orang untuk mendapatkan publisitas dan keuntungan. Ningsih jelas sekali pembual besar dengan otak miring. Tak ada sesuatu yg aneh di langit, percaya padaku. Satu-satunya cahaya yang saya lihat sore itu berasal dari matahari.”
Saat mewawancarai pria aneh ini kami mendapat kesan bahwa dia sangat membenci Ny. Ningsih bahkan sebelum kasus penculikan ini terjadi. Ada nada sentimen berlebihan setiap kali ia membicarakan tetangganya itu.
“Terimakasih atas waktu anda,” potong saya buru-buru ketika Pak Widodo mulai menjelaskan perselisihan turun-temurun antara nenek moyangnya dengan nenek moyang Ny. Ningsih puluhan tahun silam.
Namun kami menjumpai saksi mata yang jauh lebih menyenangkan, ia seorang pemuda yang kos di belakang rumah Ny. Ningsih ( tempat itu hanya dibatasi pagar kayu pendek) Ia bernama Rudi Sanjaya (20)
“Iya. Saya melihat cahaya biru,” katanya semangat. “Saya sedang mandi saat itu. Ketika mata saya terkena busa sampo, meram dan meraba-raba untuk mencari gayung mandi, cahaya biru itu menyorot dari jendela, begitu terang sampai saya lupa kalau mata saya perih. Lalu saya mendengar seseorang wanita berteriak keras di suatu tempat, tapi saya tak repot-repot keluar untuk memeriksa karena saya sedang telanjang dan berlumur sabun.”
“Saya selalu percaya ada mahluk-mahluk cerdas di luar sana sedang mengawasi Bumi,” ia melanjutkan. “Anda tak percaya kan kalau kita satu-satunya mahluk berakal yang menghuni galaksi yang sangat luas ini? Alien dan UFO bukan hanya fiksi yang ada di film-film, anda boleh memegang kata-kata saya. Tunggu lima belas atau dua puluh tahun lagi akan ada kapal induk raksasa yang mendarat secara resmi di bumi. Mereka datang dengan misi perdamaian.”
Pada saat yang sama saya melihat poster film Star Wars dan Men in Black yang besar sekali di tembok kamar kos pria itu, sehingga antusiasme saya akan ceritanya sedikit ternoda.
baca lanjutannya di sini http://kemudian.com/node/101942
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 17, 2008, 12:33:31 pm
________________________________________
payah banged nih.. gw nyambit banyak orang di postingan gw sebelomnya gak ada yg protes/ngomel2, padahal gw amat mengharapkan hal itu.. 
beneran nih, gak ada yg mau berargumen? ya sudah, berarti eike menang ngelawan ente semua.. ;D
@euthalia,
gw sebagai pembaca novel2 fantasi lokal gak menuntut gaya bahasa yg hiperbolis/bermetafora indah, yg gw harapkan adalah gaya penceritaan yg ‘cerdas’ dan mengalir. Cerdas disini maksudnya gak bertele-tele, konsisten, dan cocok dengan tema yang diusungnya. Kalo yg ditulis tipe fantasi sadis yg mengumbar adegan2 berdarah, gunakanlah gaya bahasa yg ‘dingin’ dan suram. Kalo yg ditulis fantasi ringan, gunakanlah gaya bahasa yang dapat memancing tawa pembaca.
Sementara, gaya bahasa yg mengalir adalah gaya bahasa yang dapat menciptakan mood si pembaca untuk terus membaca sampai akhir. Disini keahlian penulis untuk memilih dan menyusun kata2 mutlak dibutuhkan.
Hmmm.. Gw ngomong begini bukan berarti gw bisa memenuhi dan melakukan hal-hal kayak begini, ini murni opini dan kemauan gw sebagai pembaca..
sebagai penulis, kita menghadapi tantangan yg sama.
________________________________________
Post by: alk on March 19, 2008, 11:30:19 pm
________________________________________
halo2 semua…
:-[ masukin sepotong cerita lagi yah, sekedar meramaikan thread ini. gw jarang bikin cerita romantis nih (ga ahli :'() tolong commentnya...
KHAEL DAN MARINA
Marina, sang putri duyung
Senja menjelang. Ufuk barat dihiasi semburat merah tatkala sang surya mulai turun dari singgasananya, hendak bersemayam kembali dalam peraduannya. Cahaya sore yang hangat memancar menerangi pantai sunyi itu, memperindah warna karang dan debur ombak, memikat hati sepasang insan yang dimabuk cinta.
Marina memandang sosok di depannya dengan pandangan memuja yang tak puas-puasnya. Hatinya dipenuhi dengan suasana indah yang berbunga-bunga. Selalu begitu jika mereka berdua bertemu. Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa ia sedang jatuh cinta. Cinta yang mustahil untuk tergapai. Namun baginya juga mustahil untuk ditolak atau dienyahkan dari dalam sanubarinya.
“Bisakah kau nyanyikan lagi sepotong lagu untukku, Marina. Suara merdumu... tak pernah jemu aku mendengarnya.” Sosok memukau di depan gadis itu berucap. Suaranya yang tenang dan dalam menggetarkan hati Marina. Permintaannya tak pernah bisa ditolak putri duyung jelita ini.
Marina tersenyum dan mulai bersenandung, lagu merdu tentang kisah penantian Diane akan kembalinya sang kekasih hati Leandor, dua manusia duyung yang menjadi legenda karena cinta abadi mereka.
“Dalam samudra harapan selalu kunantikan,
kehadiranmu Leandor kekasihku.
Kau kan lindungi aku dalam dekapan lembutmu,
dan biarkan malam lewat denganku di pelukmu,
hingga esok waktu cahaya baru menjelang...”
Khael, sang malaikat bersayap hitam
Khael menatap sosok di depannya dengan rasa kasih sayang yang tak tersembunyikan. Ia jatuh cinta, itu tak hendak dipungkirinya. Meskipun mereka begitu berbeda, nada-nada asmara tak mampu diusirnya dari dasar sanubari. Seiring lantunan merdu lagu yang dibawakan sosok jelita di depannya itu, benih-benih cinta yang sudah kuat berakar dalam hatinya mulai tumbuh dan berkembang, tak bisa lagi dihentikan.
“...dan ketika langit semakin terang,
ku takkan jemu bertanya pada sang awan,
kapan Leandorku kan kembali pulang...”
Suara merdu sosok nan indah memukau di depan matanya itu seakan membawa Khael, sang pria bersayap hitam, terbang tinggi di awang-awang, membumbung bersama awan dan elang, menari dibawah sinar mentari.
Tak puas-puasnya mata pemuda perkasa ini memandangi sang pujaan hati. Memandangi rambut keemasannya yang berkilau jelita tanpa noda, mata birunya yang jernih laksana langit cerah di musim panas, hidung mancungnya yang mungil mempesona, bibir indahnya yang merah merona menyejukkan sanubari, kulit langsatnya yang indah tak bercela, dengan jalinan rumput laut sebagai pakaian yang kian memikat hati, dan bahkan sisik mengkilap kebiruan di bagian bawah tubuhnya yang demikian sempurna. Marina, dengan kelembutan hati dan ketulusannya, adalah wujud sempurna yang selalu diimpikannya.
Marina, sang putri duyung
Senandung Marina belum berhenti. Segenap isi sanubari putri duyung jelita ini tertumpah keluar lewat senandung merdu itu. Dan, dengan sosok pujaan hati berada tepat di depannya, hal itu mengalir secara sangat alami, seolah untuk hari inilah lagu yang dinyanyikannya tercipta.
“Kekasihku, pujaan hati...
senandungku kan slalu mengiringi jalanmu,
membawakan kasih sayang yang tertumpah dalam impian,
tentang hidup bahagia, bersama selamanya...”
Bahkan setelah senandungnya memudar habis, Marina tak berhenti menatap sang pujaan hati. Menikmati keindahan sosoknya; wajah yang demikian eloknya, dengan tatapan lembut mata hitamnya yang menenangkan sanubari, hidung kokoh yang tiada duanya, senyum tulus yang penuh kasih sayang, rambut gelap yang indah alami dimainkan angin lalu, tubuh tegap gagah sempurna, dan sayap hitam yang memukau... lembut sekaligus kokoh. Khael, dengan kasih sayang dan keberaniannya, adalah sosok sempurna yang tak pernah lekang dari benak Marina.
[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 12:28:34 pm
________________________________________
@alk,
gw udah baca potongan cerita u.. hmm.. gmn yak. it doesnt work on me, actually. nice try buat kata-kata indahnya, tapi sejujurnya, it’s rather lame to me…
Begini Alk. Ada perbedaan antara gaya bahasa yang ‘dibuat-buat’ dengan gaya bahasa yang mengalir apa adanya… Dalam cuplikan naskah romance lu ini, terasa banged ‘dibuat-buat’nya.. gw sebagai pembaca ngerasa u menulis.. tidak dengan hati yang jujur..(halah )
sebagai penulis, kita punya masalah yg sama: mencoba bereksperimen dengan sastra dan hasilnya malah aneh… tapi lebih parah lagi, lu mencoba mengintegrasikan sastra dengan romance.. menurut pengalaman gw, mixing sastra x romance jauh lebih sulit daripada sastra x deskripsi umum/setting, sastra x humor, ato sastra x action..
kalo mau tahu gaya bahasa romance yg jujur (terasa alamiah/gak dibuat-buat), coba baca/tonton karya-karya yg melibatkan literatur shakespeare.. keren banged tuh romance-nya.
tapi dont worry lha, mungkin dalam kasus ini emang gw aja yg gak mengenal konsep romantisme…
oya, sekali lagi, gw mengatasnamakan komen gw sebagai seorang pembaca ya.. secara, sebagai penulis, gw ga yakin bisa nulis secakep ini. 
yg jelas kalo menurut gw sih, nulis romance jauh lebih sulit dari bikin humor. jadi, berhati-hatilah… kita gak mau kan usaha keras kita malah ngebikin cacat naskah kita? 
________________________________________
Post by: BloodSin on March 21, 2008, 01:04:50 pm
________________________________________
@all,
new topic! new topic! (seperti biasa, orang bijak selalu muncul belakangan untuk menyelamatkan dunia(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif))
caranya sama kaya kemaren.. gw selaku pembuka topik mau mengemis pendapat ke setiap dari elu orang semua.. kali ini kita bakal ngomongin tentang kemungkinan opening/prolog dalam novel fantasi. (soalnya gw emang lg ngurusin beginian di proyek terbaru gw skrg )
ada banyak penulis fantasi yg mengawali kisahnya dengan memperkenalkan dunia rekaannya secara detail, tapi ada juga yg langsung masuk ke pokok permasalahan/action.
yang mau gw minta ke u orang buat dijawab, bukan prolog macam mana yg paling bagus, tapi tambahan opsi bagaimana kemungkinan2 untuk sebuah prolog:
ok, i’l go first.
Versi Prolog #1:
Penggambaran setting secara mendetail dari dunia rekaan/adopsi dalam novel, mencakup latar belakang sejarah, keadaan geografis, ras-ras yang ada, struktur masyarakat, dll..
Akan ada dua kemungkinan reaksi pembaca: terbosan-bosan dengan deskripsi yang menumpuk dalam dunia khayal kita, atau malah cenderung excited.
Contoh prolog semacam ini(sekalian mau pamer ke anak2 baru juga sih(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)):
http://kemudian.com/node/41181
Versi Prolog #2:
Penggambaran sisi dan sejarah kelam dari villain(tokoh/pihak antagonis) yang meneror dunia rekaan/adopsi kita. Keuntungan dari prolog semacam ini, pembaca akan langsung dapat melihat pokok permasalahan yang ada, dan what as master villam said, pembaca akan langsung terikat secara emosi terhadap naskah kita. Terlebih jika dalam prolog itu digambarkan kekejaman si antagonis.. denyut ‘hidup-mati’ dalam novel kita akan langsung terasa.. yah..kira-kira begitulah yg gw pelajari dari mr. villam pada jaman dahulu kala, barangkali yg bersangkutan mau menambahkan.. 
Contoh prolog ini:
?? (ada yg mau memberi contoh?)
Versi Prolog #3:
Langsung masuk ke action! Penggambaran action bisa macam2: penggambaran sebuah duel sengit, jalannya sebuah perang, prosedur pembunuhan, penyerbuan, dll.
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):
http://kemudian.com/node/47324
Versi Prolog #4:
Prolog yang paling pasaran dan klise: penggambaran orang bangun tidur!
Contohnya(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif):
http://kemudian.com/node/41217
Versi Prolog #5, #6, #7, dst:
Silakan ditambahkan..
n.b:
perlu gw tekankan, bbrp contoh prolog yg gw kasi di atas adalah bukan berarti jenis tulisan prolog yg benar/sempurna (mungkin yang ada malah cacat di sana-sini(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)), dari prolog2 itu gw cuma mau memberikan sedikit pendekatan dari teori2 yg sudah gw paparkan (sekalian sebagai ajang pamer juga sih (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)).. gitchu deh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)
________________________________________
Post by: hege on March 21, 2008, 02:28:34 pm
________________________________________
Rey, topikmu kali ini agak membosankan. Prolog sudah dibahas jutaan kali sebelumnya. But, intinya, pikirkan baik-baik saja kalimat pertama yg akan kau tulis untuk memulai sebuah kisah. hal-hal klise, basi, kuno dan menyebalkan tak bisa ditolerir baik oleh editor penerbitan dan pembaca.
[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 21, 2008, 03:39:29 pm
________________________________________
@rey,
aku belum punya pemikiran baru soal prolog, jadi kukutip saja dulu tulisan dari blogku. mudah-mudahan bisa sedikit menyegarkan kita, baik yang sudah pernah baca maupun yang belum sempat.
————————
Tentang Opening
Apakah kalimat pembuka novel sudah cukup menarik perhatian? Belum?
Kalo gitu apakah paragraf pertama sudah? Belum juga?
Halaman pertama? Belum juga?
Lima halaman pertama? Belum juga?
Prolog ataw bab pertama? Belum juga?
Heheh… berarti bencana ya… mesti dibongkar lagi dari awal.
Katanya sih prolog ataw bab pembuka yang bagus mengandung hal-hal sbb:
§ Menjadi pintu pembuka cerita, alias memberi gambaran pada pembaca jenis cerita macam apa yang bakal dibaca, dan sedikit petunjuk apa yang kira-kira bakal terjadi di akhir cerita. Jangan ngebohongin pembaca nih, misalnya ceritanya cinta-cintaan tapi bukanya kok pake model misteri atau action. Heheh… tone-nya beda kan?
§ Memperkenalkan karakter atau protagonis utama (ataw paling lambat di bab 3 harus sudah muncul. Di halaman berapa tuh? 20, 30 atau 50?). Tentu saja beserta problem (eksternal/internal) yang dihadapinya, jadi ya jangan cuma kenalan basa-basi doank. Lumayan buat bikin pembaca simpati sama protagonis sejak awal.
§ Memperkenalkan setting. Penting juga, tapi emang bakal banyak narasi deskriptif sih, makanya mesti diimbangin sama dialog dan action yang lebih banyak di awal. Heheh… ngomong sih gampang.
Pertanyaan lanjutan:
Apakah ceritanya memakai prolog sebagai opening?
Apakah ceritanya memang benar-benar butuh prolog? Atau cukup bab pertama ajah?
Buat ngejawab, tes ajah dua hal ini:
§ Kalo misalnya prolog itu dihapus, pengaruhnya signifikan gak terhadap plot?
§ Kalo misalnya prolog itu diubah namanya jadi bab pertama, kerasa bedanya gak di plot ataw suasana cerita?
Kalo kedua jawabannya ya, berarti prolognya emang udah berfungsi dengan benar.
Emang sih, keliatannya keren kalo cerita kita pake prolog (trus ada epilog juga di belakang), tapi jangan sampe prolog itu cuma jadi pemanis yang gak perlu. Maksudnya pemanis tuh cuma buat memperkenalkan suasana atau action buat memikat pembaca, tapi ternyata gak terlalu berkontribusi membuka plot utama cerita. Padahal yang terakhir itulah yang jadi tugas utama doi.
Hmm, pusing ya?
Heheh… yang jelas sih bikin prolog gak bisa sembarangan, dan sebagai seorang spesialis, doi emang punya tugas yang berbeda dibanding bab pertama, sesuai dengan empat buah tipenya, yaitu:
§ Memperkenalkan protagonis di masa datang. Ini model seorang anak yang udah jadi orang tua sekarang, trus menceritakan petualangan dia waktu kecil bersama teman-temannya, misalnya. Biasanya suasananya jadi kerasa reflektif, karena tentu saja si anak udah jadi orang bijak sekarang.
§ Memperkenalkan protagonis di masa lalu. Ini model cerita Batman yang membuka cerita dengan masuknya doi ke gua kelelawar di waktu kecil, buat memberi petunjuk pada pembaca mengenai asal mula karakternya, sebelon masuk ke cerita utama.
§ Memperkenalkan POV yang berbeda. Ini model korban penculikan yang bercerita gimana dia diculik, buat pengantar cerita utama dimana POVnya adalah sang detektif, yang nantinya pada tengah atau akhir cerita akan bertemu dengan korban penculikan tersebut.
§ Memperkenalkan background atau setting cerita. Sering ditemukan di cerita Scince Fiction ataw Fantasy, yang menceritakan sebuah kota atau negeri di bagian prolog. Biasanya sih paling susah, karena emang susah buat ngebikin narasi deskriptif yang panjang di awal tanpa membuat pembaca bosan.
Ya gitu deh, sementara… corat-coretnya.
[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 22, 2008, 10:01:53 am
________________________________________
Versi prolog #5:
Cerita diawali dengan pertanda-pertanda/mimpi janggal/kejadian penting/peristiwa aneh.. Keunggulan prolog semacam ini, pembaca akan langsung dibuat penasaran dan terikat pada awal cerita.
Contoh:
Prolog Hozzo: Ferres yang Hilang
Versi prolog #6:
Cerita dibuka dengan pendekatan filosofi yang nantinya filosopi tersebut sinkron dengan keseluruhan isi buku.
Contoh:
Prolog The Forgotten Heroes
Versi prolog #7:
Cerita dibuka dengan sebuah dongeng kecil yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan isi cerita secara keseluruhan. Prolog semacam ini cukup langka, dan jarang ditemui.
Contoh:
Prolog The Alchemist
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 24, 2008, 03:11:24 pm
________________________________________
@Kak Dian…
Kangen banget ni (Cielah…pura2 manja ni ;D)
Aku mau nanya boleh ga?
Cara bikin crita kita ada ‘greget’ itu gimana?
Ada kiat2nya ga?
Trus gimana cara menyelami emosi tokoh2 crita kita?
________________________________________
Post by: clickdian on March 24, 2008, 05:22:34 pm
________________________________________
Lia
Kangen? hehe.. jadi malu
Cerita greget? hmm.. ini relatif, ya. sangat tergantung dari keinginan dan keahlian (if you see what i mean) si penulis. intinya sih usahakan meninggalkan sesuatu yang akan berkesan bagi pembaca. entah membuat penasaran, atau yang mengaduk-aduk emosi, atau bisa aja detail dari kejadian sehari-hari biasa tapi karena si penulisnya jago merangkai kata-kata jadi terasa luar biasa.
maaf, lia, untuk yang satu ini aq ga bisa banyak bantu. ini tergantung jam terbang setiap orang, dan yang paling penting, aq juga masih tahap belajar, belum jago bikin greget. practice makes perfect (duh, klise banget, tapi bener).
Kalo menyelami emosi.. ini lebih gampang menurutku..
bayangin aja kalo kamu itu dia.
tapi jangan lupa, kamu harus punya personality sesuai dengan si tokoh yang kamu ceritakan itu; karena beda personality, tindakan yg diambil setiap tokoh akan beda. ini mirip akting, hanya diekspresikan dalam bentuk kata2, bukan visual. kalau kamu udah nguasain ini, karakter kamu akan lebih hidup 
________________________________________
Post by: cheppy70 on April 02, 2008, 03:27:58 pm
________________________________________
Rekans semuanya, salam kenal.
Sekaligus memperkenalkan blog pribadi saya yang khusus mengulas buku-buku Fiksi (ilmiah) dan Fantasi karya pengarang Indonesia.
http://fikfanindo.blogspot.com
monggo mampir,…
BTW, ada boss Hege di sini, toh. Buku ente ada di reviewku juga lho,.. iya yang dulu itu.
Salam,
Cheppy
aka: FA Purawan
No Comments »
[tab:Hal 1]Sesi VI (3 Mar 2008 – 14 Mar 2008)
- Down ditolak penerbit?
- Hal apa yang paling penting dalam novel fantasi?
- Gaya Bahasa vs Plot
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: alk on March 03, 2008, 09:40:36 pm
________________________________________
@ didie-sy
sekedar comment…
gw juga udah baca GORAN, reviewnya om blood dah mantep kok,
plot bagus, gaya cerita menarik, karakterisasi hebat, ending… mengenaskan… :’(
yg ga puas sama GORAN gara2 endingnya kali, tapi…
judulnya GORAN – Sembilan Bintang Biru, bintang biru yang keluar di cerita baru 3,
logikanya… pasti ada kelanjutannya ntar 
mungkin jadi trilogi, atau tetralogi, atau pentalogi.
liat aja nanti. ;D ;D ;D ;D
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:14:48 pm
________________________________________
Quote from: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?
halo didie-sy, salam kenal juga :-* (lagi2 ketemu ama yg batangan(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif), tp gpp deh, eke tetep welcome yey :-*)
gw udah baca review versi dia… yg ini kan:
http://www.kutubuku.com/review/kobo-chan/goran—sembilan-bintang-biru.html
?
kalo yg gw liat, dia protes (ane lg menggebu2 ngikutin eniyorda pas ngebelain hozzo ceritanya nih ):
1. knp tokohnya bukan orang indo?
2. terus… knp dalem planet vida, ada istilah2 bahasa inggris?
poin 1 bener2 subjektif sifatnya… dia menilai itu murni pake selera dia… payah banged dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. kalo dia terus pake standar ini buat menilai fantasy2 indo, gw jamin dia kagak bakalan ada puasnya, secara hampir semua fantasi lokal yg udah terbit bersetting non-indo. (cuman 1-2 doank setau gw yg settingnya indo, itupun cuman depan2nya aja, kayak hozzo/numeric uno )
yg poin 2, dia bener2 blunder tuh, gak ada orang/istilah vida yg pake bahasa Inggris!
justru disini gw salut sama pengarang bisa kepikiran bikin ‘bahasa ajaib’ dari bahasa inggris yg dibolak-balik.. 
serius gw ngakak pas baca dialog2 ajaib Soil..
kalo gw bilang sih, review nih orang bahkan lebih nyebelin dari review si ‘FP’ (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/6.gif)
hmmm.. gw gak bisa nentuin ente bakal demen apa kaga sama novel ini, tapi kalo mengukur dari segi plot, setting, gaya bahasa, jokes, GORAN ini yg paling ‘fleksibel’ buat diterima semua kalangan dibanding novel2 fantasi lokal laennya..
maksud gw, ga peduli tuh orang dari aliran RPN/LOTR/HarPot, harusnya bisa dapet mood kalo baca GORAN.. novel ini gak seserius novel fantasi kebanyakan, tapi juga gak seenteng novel2 tenlit.. pokoknya ‘seimbang’ dah. jadi harusnya target pembacanya cukup luas.. makanya gw sebut dia ‘the best novel fantasy indo’ dari semua yg pernah gw baca..
tapi tergantung selera juga sih
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 03:37:31 pm
________________________________________
btw, rey, penjelasan lanjutan lu tentang goran cukup obyektif nih. salut.
tapi memang, namanya pembaca pasti akan menilai berdasarkan selera masing-masing. dan pasti akan ada yang positif dan negatif. bahkan seorang kritikus yang katanya mumpuni pun sebenarnya menilai berdasarkan seleranya pula.
jadi jika ada yang berbeda pendapat, ya nikmati sajalah… heheheheh…
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 03:48:53 pm
________________________________________
bukannya gw gak mau menerima beda pendapat bang.. 
gw paling sebel kalo ada orang yg nge-review novel udah kaya pemain sepakbola ngomentarin pemain basket..
dia protes kenapa pemaen basket boleh megang bola, jumlah pemainnya cuman lima, ga ada kiper, dll..
kalo menurut gw sih kurang bisa berpikir luas tuh orang 
________________________________________
Post by: BloodSin on March 05, 2008, 04:01:25 pm
________________________________________
tapi ya.. sebetulnya wajar juga sih ada juga orang-orang yg protes kalo ada penulis indo yg nulis pake setting asing..
sebetulnya sih, ini tergantung dulu.
kita liat dulu gmn si penulis mendeskripsikan setting asing dalam ceritanya, ‘berhasil’ apa kagak?
kalo yg gw liat di GORAN, penulis udah cukup berhasil ngebawain setting jepang sama tiongkok dengan kebudayaan2nya.
buat contoh, di GORAN tokoh aniki dikejar2 ama cewe..
secara statistik ini valid, di jepang emang lebih banyak cowo yg ditembak cewe daripada sebaliknya.
gw justru ilpill kalo ada penulis yg berani bikin setting barat, tapi gaya idup/kebudayaan yg berlaku di settingnya itu malah mirip ama gaya anak jakarta.. kalo nemuin yg kayak begitu, gw jadi ngerasa kayak nyaksiin adegan2 yg diperanin ama ‘bule celup’ 
ada beberapa novel fantasy indo yg kayak begitu. dan emang justru setting luar-nya itu malah jadi kecacatan..
tapi ada juga novel2 fantasi indo bersetting luar yg sukses nampilin setting luar-nya, dan mestinya, yg kayak begini udah ga bisa dihujat lg dari segi settingnya..
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 05, 2008, 04:15:52 pm
________________________________________
yeah…
elu bener lagi…
apalagi kalo liat cerita bersetting barat tapi dengan gaya bahasa ‘elu-gue’. duh duh duh…
mbok ya gaya bahasa itu disesuaikan dengan setting dan karakternya…
btw, kalo aku pribadi sih, bagus kalo kita bisa bikin fantasy yang bersetting lokal. tapi kalo emang kita merasa lebih cocok membuat setting barat, timur, utara, selatan atau bahkan antah berantah, dan ini lebih nyaman buat kita, ini lebih bagus. apalagi jika riset kita soal setting ini juga bagus, hasilnya tentu dijamin bagus pula dah.
________________________________________
Post by: clickdian on March 06, 2008, 12:43:00 pm
________________________________________
# Lia
What’s on you?
Bener down karena ditolak penerbit?
Hmm.. itu mah biasa.. ga perlu malu, ga usah mundur, apalagi sampe kehilangan kepercayaan diri.
Gini lho.. naskah ditolak bukan berarti naskah jelek atau penulisnya tidak berbakat. Seringkali karena rule dan kondisi dari penerbitnya.
Misal… penerbit hanya mau menerbitkan genre tertentu, smntara kita ga tau itu dan mreka ga publish mngenai rule ini.. maka karya di luar genre tsb otomatis dieliminasi.
atau, naskah bagus tapi setelah dipertimbangkan ternyata diprediksi tidak sesuai/ tidak akan banyak permintaan pasar. ini mah ilmu ekonomi ikut bicara, aq ga banyak tau soal ini.
atau…. selera editor, seperti yg kita ketahui setiap org kan seleranya beda2 (contoh nyata deh, Rey bilang Goran bagus, tapi aq–walopun emang ngejogrok di genre fiksi fantasi–ampe sekarang belum punya keinginan untuk baca sama sekali). editor penerbit A bisa jadi akan mengatakan hal yang sebaliknya dengan editor penerbit B untuk naskah yang sama.
kalau naskah kamu ditolak, bisa jadi karena ketiga hal ini, atau hal lain yg aq belum mention di atas.
but anyway, mundur bukan jalan terbaik, menurut aq, ya. kamu cuma belum dapet jalannya aja. tunggulah, semua akan indah pada waktunya…
ngomong2 soal ditolak.. aq pernah tuh, masukin naskah ke gramed, dan ditolak dengan sukses ;D
naskah itu terus aq masukin ke penerbit lain, yang editornya bilang sebenernya bagus, cuman dia bingung mau masukin ke genre mana, walhasil tu naskah setaun lebih nangkring di meja dia detik reply ini diposting! T_T
digantung, tuh, bageuuussss…
mending ditolak, kan, ada kepastian iya ato nggaknya ;D
tinggal kirim ke penerbit lain, berdoa, menunggu, beres.
So, kembalilah.. *duh, telenovela banget yah? *
Kita discuss lagi, poles lagi, dan jadi lebih baik. Dan someday, kalo kamu inget pernah ditolak, kesuksesan kamu akan lebih terasa nikmatnya
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 10, 2008, 07:39:37 am
________________________________________
belakangan ini gw suka bingung kalo masuk sini mau posting apaan 
lagi keabisan topik diskusi yak.. 
hmm.. gw selaku TS bikin bahasan baru dech.. :-*
menurut kalian para penulis fantasi, mana yg lebih penting antara:
-plot
-karakterisasi
-gaya bahasa
-setting
-jokes
dalem sebuah novel fantasi?
hmm.. gw mau liat proporsi selera lu orang berdasarkan prioritas (urut dari prioritas 1 sampe 4)..
kalo gw pribadi sih:
1. plot
2. setting
3. karakterisasi
4. gaya bahasa
5. jokes (gw gak pinter bikin jokes )
hmm.. ato mungkin yg laen mau nambah elemen2 lainnya? ???
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 10, 2008, 08:42:34 am
________________________________________
refrensi rey..
itu penting banget.
sekalian deh,
buat penulis Hozzo
sebelumnya, makasih udah memberikan pinjaman bersyarat atas buku anda. selain itu, saya sebagai pembaca berterimakasih atas “KERAMAHAN” anda atas komplain saya beberapa waktu lalu atas betapa jeleknya sebenarnya sosok hege yang sebenarnya .
nah memasuki hal inti, sebelumnya mohon maaf karena ini adalah tanggapan pribadi atas apa yang saya baca. jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafin
buku itu beneran deh, kek perpustakaan berjalan. bikin pala pusing kala dibaca malam2, tapi akan sangat menyenangkan jika dibaca pagi-pagi buta. perjalanan yang aneh, butuh konsentrasi untuk ikut serta dalam perjalanannya. nah berhubung bacanya tak selalu konsen jadi bagian perjalanan ke Tudag ga bisa ngebayangin jenis pulaunya begimana. tapi saat berkendara dengan pla-veos, hee… keren oe..
nah, terlalu banyak hal baru yang ada di buku ini, jadinya semua hal-hal fantasinya terasa datar. mungkin karena diceritakannya secara umum kali ya, tapi ada beberapa detail yang tak bisa aku bayangkan penggambarannya, seperti semangka bergerigi ataupun pintu yang membuka dengan gerakan silang (saat di ruang inkubasi)
yang menarik juga yaitu, tentang kehidupan para alien di planet huminiz. ternyata, biarpun penulisnya mau membuat setting tempat yang berbeda, tapi kesan bumi masih melekat. tentang sebutan rumah sakit, dokter dan tukang kebun. kenapa tak dibuatkan sebutan yang lain, untuk menghilangkan kesan kalau mereka masih di bumi?
selain itu, ALIEN, merupakan sebutan orang-ornag bumi pada makhluk luar angkasa, tapi kenapa sih para makhluk luar angkasa masih juga menyebut sesama mereka dengan sebutan alien.sekali lagi, kenapa mereka tak punya merk untuk jenis mereka,
untuk tokoh utamanya, entah karena aku yang kurang konsen atau emang tak disebut, aku tak tahu umur Alan berapa ya? hee… maaf kalau di buku udha disebut ya
tapi pembicaraan dan pola pikir mereka sedikit terllau dewasa untuk anak remaja seumuran mereka.
pemakaian sebuah istilah yang tak konsisten.
WANITA ALIEN dan ALIEN WANITA timbul bergantian.
Nah kepada bang Villam, master bahasa, coba mana sih diantara istilah itu yang tepat untuk menunjukkan alien yang berjenis kelamin wanita?
secara umum, buku ini hebat. refrensinya komplit dan benar-benar mendukung. tak salah plotnya disusun dalam dua tahun (plotna aja mbo.. apalagi bukunya coba ;D). aku maish nungguin buku lanjutannya yang entah kapan nyusul terbit (tentunya minjem gratisan lagi yak. hee ;D)
dan mungkin seperti seseornag yang disebu penulis, buku ini ngebuat aku minder sendiri. huu… :’(
________________________________________
Post by: hege on March 10, 2008, 10:24:42 am
________________________________________
Terimakasih untuk TS kita tercinta untuk bahasan barunya, mari tingkatkan kualitas thread tersayang ini. Post seperlunya dengan topik bermutu dan memang pantas didiskusikan.
Semua itu penting, semua mendukung kualitas cerita, tapi kadang kala beberapa lebih menonjol dari yang lainnya.
Menurut hege Gaya Bahasa atau bentuk tulisan menduduki peringkat pertama, karena itu love-at-the-first-sight, apalagi untuk editor, paragraf2 pertama novel adalah harga mati, gak peduli sekeren apa ceritanya di dalam, atau seganteng apa karakternya di dalam. Bentuk tulisan sangat menentukan betah-tidaknya pembaca untuk melanjutkan.
berikutnya dengan porsi baik, pas dan seimbang: plot, setting, karakterisasi dan humor sense (hege tak menyebutnya jokes, karena kadang kala humor sense itu ga mesti jokes yg bikin ngakak, tapi kalimat-kalimat yang membuat pembaca antusias, takjub dan terbius)
—
@arik
terimakasih atas reviewnya. Sangat kuhargai. Mengenai istilah dan sebutan di planet Huminiz, oh tentu hege sudah menterjemahkannya ke dalam bahasa bumi, dan itu penting untuk pemahaman dalam membaca (well tentu saja kan?). Jika arik penasaran, zooke adalah sebutan tukang kebun dalam bahasa Humin, Var adalah sebutan dokter, dan banyak lagi yg lain. Tapi itu akan semakin memusingkan pembaca bukan? (ada ratusan istilah baru yg telah kuciptakan di novel ini ;D)
mengenai sebutan alien, oh pls rik, penggunaannya hanya untuk pemahaman pembaca saja, sekali lagi, terlalu banyak ras yang ada di planet luar sana untuk hege ciptakan sebutan, hehehe. Lagipula Wet dalam bahasa bumi menerjemahkannya seperti itu.
Tentang semangka bergerigi dan pintu terbuka dengan gerakan menyilang. Come on, anak SD pun bisa membayangkan itu ;D
but once again thanks so much for your review, rik (ini review pertamamu bukan?) semua review pembaca (lewat buku pinjaman atau beli) sangat berharga untuk saya.
—-
[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on March 10, 2008, 01:44:17 pm
________________________________________
1. Klo aku setuju ama Hege, gaya bahasa tuh paling penting dlm sebuah karya.
Coz gaya bahasa nunjukin keunikan and ciri khas dr seorang penulis itu.
Mgkn bisa dibilang seperti identitas gitu dech!
2. Truz Setting, membangun suasana negeri fantasy tuh sulit, jd penting banget klo ini diprioritasin.
Semakin oke setting, bakal lebih mudah membuat pembaca seakan bisa ikut ‘tersedot’ di dlm dunia fantasy itu.
3.Plot.
4. Karakterisasi, semakin baik penggambaran karakternya maka pembaca bisa kenal lebih deket ama para tokoh.
Asyik banget kalo pembaca bisa menyelami kepribadian tokoh2 kita and seakan2 pembaca kenal baik ama para tokoh.
5. Jokes? wah, selera humorku ga bagus. jadi kayanya ni kelemahanku.
Ada solusi?
Btw, ni smua pendapatku lho!
Gimana pendapat yg laennya?
________________________________________
Post by: alk on March 10, 2008, 08:55:37 pm
________________________________________
bagiku:
1. plot (gaya bahasa penting buat first impression, tapi tetep aja kalo plotnya nggak mengesankan, sebentar juga dah lupa ceritanya)
2. gaya bahasa + jokes (menurutku sih, jokes masuk dalam gaya bahasa juga)
3. karakterisasi (nggak seru kalo karakternya nggak bisa dibayangin ;D)
4. setting (biarpun urutannya bawah gini, ga berarti ga penting nih >:()
5. referensi (kalo ada bagus banget, kalo ga ada… ya diadain lah ;D)
________________________________________
Title: Re: Fiksi Fantasi Dalam Negeri III
Post by: hege on March 12, 2008, 11:19:10 am
________________________________________
Quote from: BloodSin on March 11, 2008, 07:53:20 am
>Quote from: hege on March 10, 2008, 02:16:56 pm
>baca novel2 dengan selera humor layak akan membantu
>Rowling, RL Stine, Roald Dahl, Tolkien’s Hobbit
RL Stine gada lucu2 om, serem mah iya 
Hmm.. setelah gw pertimbangkan secara mendalam, selera humor sama sekali gak bisa diukur.
Penulis fantasi ga bakal bisa ngerti/ngakak baca humor2 ala teenlit, dan begitupun sebaliknya. Jadi, sebetulnya kita gak bisa menjudge suatu bacaan kocak mampus/jayus kronis tanpa mengatasnamakan “menurut gw/aku/ane/eike”.
kalaupun ada pengecualian di mana ada pembaca yg ngakak baca teenlit maupun fantasy maupun jenis2 bacaan lainnya, berarti sang pembaca itu emang memiliki selera humor yang fleksibel.
Jadi yang susah adalah, bagaimana menciptakan humor yang diselerai masyarakat luas (dari berbagai kalangan pembaca)?
Selera humornya RL Stine agak-agak miring dan mengerikan, but I really really liked it… oh hege itu penggemar berat RL Stine. Phil itu karakter yg dipengaruhi banyak karakter di Goosebumps (buku-buku karangan Stine terjual lebih dari 300 juta eksemplar ke seluruh dunia dan terjemahkan ke dalam 28 bahasa)
Once again rey, hege menyebutnya Humor sense, bukan sekedar isi jokes atau lelucon atau hal-hal gokil lain yang bikin ngakak. Humor sense itu terkandung dalam tulisan, dan itu sangat mempengaruhi betah tidaknya pembaca. Hege membaca beberapa teenlit-nya Meg cabot, serius keren kok (meski beberapa penerjemah gramed mengacaukan beberapa novel beliau) dan hege impress akan humorsense-nya doi. dari banyak buku2 best seller lain yg hege baca, kuambil kesimpulan, humor sense yg baik akan menarik lebih banyak pembaca.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
________________________________________
halo semuanya…
apa kabar?
proyek menulisnya masih berjalan semua kan?
bagus-bagus nih pembahasan di beberapa halaman terakhir, tentang mana yang paling penting dalam sebuah novel fantasi. aku bisa banyak belajar.
tentang gaya bahasa, hege benar, itu penting buat menumbuhkan ‘cinta pertama’. serius, ini memang sangat penting. walau sebenarnya, istilah ‘gaya bahasa’ ini terlalu sempit, yang lebih luas dan cocok sebenarnya adalah ‘cara menyampaikan cerita lewat jalinan kata dan kalimat’ (halah…).
tapi, menurutku pribadi sebagai pembaca, bukan gaya bahasa yang bisa bikin aku bertahan baca novel sampai akhir, melainkan ceritanya, yang berisi plot n karakter.
udah banyak kasusnya, cerita dan novel yang kututup di tengah jalan atau bahkan di dua halaman pertama, yang walaupun bergaya bahasa bagus dan mengalir, tapi karena aku gak sreg sama plot dan karakternya, ya udah gak kubaca lagi. apa boleh buat. yeah… tentu saja ini hanya menurutku…
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk
sementara untuk setting, itu bagus untuk menambah suasana dan masuk ke dalam cerita. yeah… penting juga, terutama untuk menegaskan bahwa cerita kita adalah cerita fantasi. tapi di urutan berikutnya deh…
sedangkan jokes, menurutku bisa disetarakan dengan romance, action, atau sex scene. semuanya adalah bumbu untuk menarik perhatian pembaca. umumnya hal-hal ini disukai pembaca, dan berarti penting juga. tapi aku pribadi menempatkannya di bawah faktor-faktor lainnya yang telah disebutkan.
yeah… hanya pendapat bodohku saja…
mari menulis lagi.
________________________________________
Post by: kokonoka on March 12, 2008, 03:32:39 pm
________________________________________
Quote from: rd_Villam on March 12, 2008, 01:30:58 pm
mendingan mana tuh?
cepet jatuh cintanya tapi cepet patah hati juga?
atau lambat jatuh cintanya, tapi langgeng sampai akhir?
wkwkwkwk
Point yang bagus buat dipikirkan!
mau nanya kecepatan menulis orang kan beda2. Dari sudut pandang pembaca, mending “my pace” tapi jadinya puas atau rilis berkala yang cepet tapi kurang puas?
Abisnya kadang mood dateng pas lagi sibuk2nya.. eh pas lagi senggang idenya belum keluar..
Selain itu gimana mengakali supaya pembaca ga bosen? terutama kalo Act yang kita tulis panjang sampe beberapa bab (dengan perubahan setting yang minim dan karakter yang itu2 aja)
[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: hege on March 12, 2008, 04:10:16 pm
________________________________________
Koko,
biar ga bosen? gimana bisa bosen sih? kalau ga ada greget di dalam tulisan/ceritanya sih mau sependek apa juga pembaca bisa jadi bosen. Artinya, setelah rangkaian karakter,plot, penulisan, setting dengan kadar dan posisi pas, apik, rapi dan jali, ceritanya takkan pernah mengebosenin, trust me! ::)
—
All,
beberapa tips memancing minat pembaca untuk membaca tulisan kita sampai selesai dan takjub.
1. Twist di akhir bab, ini sangat menyenangkan, it works for me, actually, hehehe..
2. pakai atau selipkan tokoh2 yg ekstraordinari dalam cerita, ini pasti berhasil, pasti! (masalahnya, karakter2 ekstraordinari sulit sekali dibuat, bahkan oleh penulis yg jam terbangnya tinggi)
3. stop cliche things, oh please guys! buatlah sesuatu yg gak sering dibuat orang, dengan begini ceritamu lebih cepat melejit.
4. Terakhir, (ini bukan untuk mematahkan semangat siapa2 yak, heheheh) kalau ceritamu terus-menerus jelek dan tidak enak dibaca, segimanapun usahamu, bahkan setelah menulis jutaan kali dengan usaha sekeras-kerasnya, bahkan sampai berguru dan belajar nulis ke mana-mana. menyerah saja, mungkin hoki dan bakatmu tidak disitu.
nb. kalau belum nyerah juga, teruslah berusaha dan berdoa, cita-cita dan mimpi itu milik semua insan.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 12, 2008, 05:23:34 pm
________________________________________
1. bagus, kokon. silakan dipikirkan ya… heheheh…
2. saranku, buat dirimu lebih puas lebih dulu, baru puaskan orang lain. (dalam konteks ini ya… dalam soal lain, lebih indah memuaskan orang lain terlebih dulu. hehe…)
3. hmm… mungkin harus ada kejutan di setiap 5 halaman. sesuatu yang baru dan bikin orang penasaran. jadi kepikir juga cerita Robinson Crusoe atau film Cast Away-nya Tom Hanks, kok gak bosen ya walaupun tokohnya cuma satu, dan di satu pulau lagi…
@all,
ada yang sudi menyerah sekarang?
hihihihi…
oya tambahan…
di halaman berapa tuh arik pernah nanya mana yang bener:
‘Wanita Alien’ atau ‘Alien Wanita’.
kalo dianalogikan dengan : ‘Wanita Indonesia’, ‘Wanita Jawa’ ataw ‘Wanita Jepang’,
mungkin ‘Wanita Alien’ benar.
tapi kalo dibandingkan dengan : ‘Manusia Wanita’, ‘Jin Perempuan’ ataw ‘Singa Betina’,
mungkin ‘Alien Wanita’ juga benar.
jadi… bingung juga sih… hehehe…
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 13, 2008, 08:07:01 am
________________________________________
Villam, setelah kupikir, jika ditinjau dari segi Menerangkan Diterangkan,
Wanita Alien ==> lebih menekankan pada wanita, dengan alien sebagai unsur menerangkan spesifikasi jenis wanitanya.
Alien Wanita ==> lebih menekankan pada alien, dengan wanita menjelaskan jenis kelaminnya.
tapi dari buku hozzo, istilah alien wanita cuma seklai muncul (ini penulisnya rasanya ge-er deh aku ngebahas istilahnya dia). yah jika disesuaikan dnegan telinga, kekna aku lebih menarik jika memakai alien wanita. karena kedengarannya wanita hantu itu agak aneh… ;D
but, sudahlah, toh juga revisi udah dikirim dan menunggu penolakan enam bulan lagi. wkwkwk .. peace… ;D
gus, aku ga ngerti poin2na, jangan pke bahasa inggris atu….
yah, tapi jadi penikmat juga kadang menyenangkan. 
________________________________________
Post by: hege on March 13, 2008, 10:01:36 am
________________________________________
minimal 3 bulan untuk keputusannya, jangan libatkan pengalaman pribadi yak ;D. hege pasrah saja pun jika ditolak. masih ada penerbit-penerbit cadangan ::)
btw, hege lebih suka menggunakan istilah Wanita alien (contoh: wanita alien Hezezoic), and its NOT a big deal, demi langit dan bumi. Banyak hal yg bisa dikritik dan didiskusikan selain hal-hal sepele gini.
Rik, poin-poin mana yg tak berhasil dicerna otakmu? Tips itu? I dont explain thing twice, thank you.
[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: BloodSin on March 14, 2008, 11:48:43 am
________________________________________
hayah gw tinggal dua hari nih tret udah cukup banyak postingan berbobotnya (walo ada jg dua orang yg keliatan banged mesra2annya ), elu orang emang keren semua dah(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
Udah gw duga, berdasarkan tulisan2 elu orang yg pernah gw baca, jawaban dari setiap orang disini bakalan beda2 buat pertanyaan priority itu.
Bisa gw ambil konklusinya, ada dua pendapat dominan disini:
Gaya Bahasa VS Plot
Sepakat sama Villam, terus terang gw pribadi lebih condong ke plot, karena bagaimanapun juga, yg kita bikin itu novel, bukan katalog lelucon/kuliner/wisata jalan2(i poin no finger, i name no name , tapi kalo ada yg ngerasa kesambit, (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif) aja deh). Harus ada suatu ide dasar yang kuat untuk plot yg ditulis, yg syukur2 plot itu bisa dibikin secerdas mungkin, gak bertele2, dan gak klise.
Cerdas disini maksudnya adalah menciptakan rangkaian logika dalam plot.
Kalo ada tokoh antagonis setengah dewa yang kekuatannya tak terkira (yg udah digembar-gemborin dari awal sampe akhir cerita), ya konsistenlah thp karakter itu. Jangan nantinya ada tokoh protagonis yg mendadak dengan kekuatan bulannya, malah bisa ngebabat tuh si antagonis… ini gak asik sama sekali. Harus ada solusi yg logis untuk setiap permasalahan yang dihadapi.
Di lain sisi, karena yg dibikin itu novel, dan bukanlah film/komik/anime/lagu/karya seni lainnya, keahlian merangkai kata-kata juga gak kalah penting. Dalam hal ini gw sepakat sama Hege. Ketika kita beli sebuah buku, apa yang kita dapat? Cuma lembaran-lembaran kertas dan hamparan kata-kata..(halah..–ngikutin gaya bang villam )
Film, komik, novel, semuanya sama2 menampilkan cerita. Tapi novel hanya berisi kata-kata, gak ada sound, gambar, atau video untuk mendukung cerita yg ditampilkan. Satu-satunya yang akan ditemui pembaca cuma kata-kata, dan mau gak mau kita mesti menyajikan kata-kata itu sespesial mungkin buat menggantikan sound, gambar, video yang gak ada itu.
Menurut gw, menulis novel dengan gaya bahasa (dan dialog) datar* sama aja kaya mencoba menyajikan nasi goreng tanpa bumbu. Nasi goreng itu emang bisa diabisin, sesendok demi sesendok, tapi itu akan menyiksa si pelahap nasi goreng itu.
Dengarlah kawan, yang kita tulis itu novel, bukan berita surat kabar ato daftar belanjaan!
*)’Bahasa datar’ yg gw maksud disini gaya bahasa orang tamatan SD.
Jadi, thanks to hege and villam, dimensi plot dan gaya bahasa sama2 vital, dan gak boleh keteteran satupun dari keduanya.
Selain dua hal itu, ada hal lain yg mau gw sorot, karena cukup banyak fantasi lokal yg udah pernah gw baca miskin atau bahkan gak memiliki satu hal ini: greget–thanks to hege.
Betapapun orisinil/apik/keren sebuah jalinan plot, kalo ga ada greget, pembaca akan mudah sekali bosan. Kecakapan menulis dialog, mendeskripsikan kronologi antar peristiwa, menyusun dan memotong scene2, amat diperlukan disini… ga peduli mau novel genre apa, yg namanya greget itu penting, novel tanpa greget ibarat orang ga ada semangat.
Udah ah, gw bukan senior apalagi master, tapi udah ngebacot panjang kek begini… jadi malu(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
Salam Dangdut
(Aiih gw emang TS yg ganteng dan bijak..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif) eh kalo kek gini gw netral ato menikam semua orang yak?)
________________________________________
Post by: mocca_chi on March 14, 2008, 12:46:10 pm
________________________________________
jadi kesimpulannya, menulis itu memerlukan seni dnegan beragamn faktor yang mempengaruhi. bukankah itu artinya semuanya penting rey, cuma tergantung kemampuan kita untuk menambal faktor mana yang kita bolong dengan meninggikan faktor lain yang dimana kita ahli.
1 Comment »
[tab:Hal 1]Di forum Pulau Penulis Fiksi Fantasi Dalam Negeri, saya sempat bicara tentang audio novel, yaitu sebuah novel yang disampaikan melalui media audio seperti kaset, CD, atau MP3, dibacakan oleh seorang pencerita, atau bisa juga dalam bentuk seperti sandiwara radio jaman dulu, dan bisa dinikmati kala kita bengong di dalam mobil saat jalanan macet, naik bis, atau bahkan saat berkebun di rumah. Hahahah…
Kemudian saya teringat, bahwa sebenarnya saya dulu pernah membuat audio novel, saat masih SD, walau bukan berasal dari cerita saya sendiri. [tab:Hal 2](sambil tertegun sejenak, betapa masa dua puluh tahun yang lampau itu sepertinya masa-masa yang lebih kreatif buat saya dibanding sekarang—saya bikin cerita audio, komik, majalah, cerita panjang, cerita pendek, bahkan kartun, dan lain-lain).
Korban saya dulu adalah novel-novel Trio Detektif, karya Robert Arthur Jr. Buat anak-anak jaman sekarang yang gak kenal, ini dulu adalah serial yang sangat sangat populer, sebanding dengan Lima Sekawan karya Enid Blyton. Bercerita tentang tiga detektif remaja bernama Jupiter Jones, Pete Crenshaw dan Bob Andrews, yang berasal dari kota kecil Rocky Beach di California. (kembali saya tertegun, betapa dulu anak-anak santapannya adalah buku-buku novel, bukan manga apalagi komputer dan playstation seperti sekarang).
Melalui serial ini, anak-anak diajak berpetualang memecahkan berbagai misteri, berhadapan dengan para penjahat, tinggal di markas ketiga detektif berupa bis trailer bekas dan penuh dengan jalan keluar masuk rahasia, menaiki mobil mewah Rolls Royce dengan sopir Inggris bernama Worthington, dan bertemu sutradara thriller terkenal Alfred Hitchcock. Yang menarik juga adalah karakter tokoh-tokohnya. Jupiter yang gendut, cerdas, tapi suka ngomong tinggi. Pete yang kuat, rada lemot, tapi ahli mematai-matai. Bob yang berkacamata, tekun, tapi agak lemah dan pincang. Menarik. Dan bagi saya pribadi, saat itu adalah masa-masa membaca dan berpetualang yang menyenangkan.
[tab:Hal 3]Nah kembali ke topik awal, memang sih, yang saya buat dulu mungkin tidak terlalu pas disebut sebagai audio novel, melainkan cerita bermedia audio yang diangkat dari sebuah novel. Dan dulu juga gak kepikiran soal hak cipta. Hehe… Bersama kakak dan adik, saya mengadaptasi novel-novelnya menjadi kaset. Tiga judul yang kita buat adaptasinya adalah Misteri Mata Berapi, Misteri Nuri Gagap dan Misteri Rumah Yang Mengkerut. (uh… saya bisa cerita panjang lebar tentang kisah-kisahnya, sebenarnya, saking semangatnya, tapi mungkin tidak saat ini. Hehe…).
Masing-masing buku dibuat menjadi tiga buah kaset, alias berdurasi sekitar tiga jam. Dan sungguh, seluruh prosesnya sangat menyenangkan. Mulai dari mengedit novelnya (karena jika tidak, satu buku mestinya bakal lebih dari enam jam), kemudian memilih peran, siapa yang akan mengisi suara siapa. Contohnya di Misteri Mata Berapi, kakak saya berperan sebagai Jupiter dan Bob, sementara saya menjadi Pete dan August. Bahkan Mama juga kita ajak berperan menjadi Bibi Mathilda, bibinya si Jupiter. Hahahah…
Asyiknya adalah mengubah-ubah warna suara dan cara bicara disesuaikan dengan tokohnya (walau tetap, sejauh mana sih suara anak-anak bisa berbeda?). Kemudian proses berikutnya adalah merekam di kaset, dan tidak lupa memberi tambahan efek suara sederhana, seperti suara mobil dan piring pecah misalnya, hehe… Setiap selesai potongan adegan, lalu diedit, jika misalnya kepanjangan. Terakhir, setelah semua proses rekaman beres, lalu kita melukis buat covernya. Menyenangkan. Semuanya.
[tab:Hal 4]Tapi sayang memang, karena dulu hanya bisa dibuat dalam media kaset yang gak tahan lama, sekarang sudah gak bisa dinikmati lagi. Udah hampir dua puluh tahun, gila. Tapi saya masih sempat denger lagi beberapa tahun yang lalu, dan ketawa-ketawa sendiri, mendengar suara-suara saya pas masih kecil. Hmm… bisa gak ya direvitalisasi lagi? Urusannya adalah urusan kenangan nih, soalnya.
Lalu apakah nanti saya berminat untuk membuat audio novel semacam ini lagi?
Oh, yes, absolutely! Jika ada waktu dan kesempatan (yang semakin tua kayaknya semakin sedikit). Dan kali ini harus cerita karya saya sendiri. Bahkan biar lebih serius, memakai studio khusus. Hahaha…
It’s just like the old time.
[tab:tambahan]Catatan tambahan:
Saat ini audio novel sudah cukup populer di Amrik. Termasuk sudah banyak pula novel-novel fantasi yang kemudian diubah menjadi audio. Durasinya? Untuk buku setebal 600 halaman biasanya menjadi 600 menit, alias 10 jam. Sebagian dijual dalam bentuk CD, tapi ada juga yang bisa didownload gratis. Tinggal ketik saja ‘audio novel’ di search engine untuk mencari tahu. Sementara kalau di Indonesia memang belum populer, dan jika ada kebanyakan adalah buku-buku bertema agama (ceramah).
38 Comments »
[tab:Hal 1]Setelah menang atas West Ham 2-0 di akhir pekan, semalam, 29 Oktober 2008, Arsenal ditahan imbang oleh Tottenham Hotspur 4-4, dalam sebuah partai yang konon adalah salah satu yang paling dramatik dalam sejarah Premier League.
[tab:Hal 2]Spurs mencetak gol lebih dulu melalui David Bentley (mantan pemain Arsenal), tapi dibalas oleh tiga gol Mikael Silvestre, William Gallas, dan Emanuel Adebayor. Darren Bent lalu mencetak gol untuk Spurs, sebelum Robin van Persie membuat skor menjadi 4-2. Nah, di sinilah, sepertinya Arsenal terlena, yang membuat pelatih Arsene Wenger kesal. Di dua menit terakhir Jermaine Jenas dan Aaron Lennon membuat skor menjadi imbang, 4-4.
Arsenal shock. Walaupun posisinya naik ke peringkat ketiga dengan 20 poin, tapi kini mereka tertinggal 6 poin dari pimpinan klasemen, Liverpool. Tapi jalan masih panjang, baru 10 pertandingan terlewati, Arsenal masih bisa menyusul, walaupun bisa juga malah turun lagi.
No Comments »
Setiap malam aku menulis, selalu ditemani dua orang.
Orang pertama, wanita cantik bergaun putih, selalu berdiri rapat di sampingku. Ia berbisik, ”Menulislah tentang cinta.”
Orang kedua, lelaki berjas kelabu yang selalu duduk di sofa, menukas, ”Mana mungkin? Dia tak tahu apa itu cinta.”
”Akan kuajarkan,” balas sang wanita.
Sang lelaki mendengus. ”Menyerahlah, Sayang. Dia selamanya dingin, pemurung, egois. Seperti aku. Karenanya, aku selalu lebih lama berada di sini dibanding kau.”
”Diam!” Aku tak tahan. ”Aku punya teman baru sekarang.”
Dari sudut ruangan muncul pria berjubah hitam dengan tatapan tajam menusuk.
Aku menyeringai. ”Teman-teman, malam ini aku akan menulis tentang… KEMATIAN.”
6 Comments »
[tab:Hal 1]Sesi V (8 Feb 2008 – 3 Mar 2008)
- Review Goran oleh BloodSin
- Frogs karya hege
- Fantasi tetap harus logis
- Tentang science fiction
- Cahaya Bulan karya clickdian
- Konferensi Hantu Sedunia karya alk
- Tanggapan atas review Goran
[tab:Hal 2]
________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:43:50 pm
________________________________________
Gw udah beres baca GORAN, dalam hitungan 4-5 hari.
Dan inilah repiu yg udah gw janjikan (Karena buku ini ‘berkesan’ banged buat gw, gw bikin repiu-nya rada beda ama yg kemaren2 ):
Judul buku: GORAN-Sembilan Bintang Biru
Penulis: Imelda A. Sanjaya
Penerbit: Serambi
Genre: Fiksi Fantasi
Tebal: 335 halaman
Secara general, GORAN adalah sebuah novel dengan plot kompleks yang dieksekusi dengan gaya bahasa sederhana namun cerdas (paragraf antar paragraf gampang dimengerti, plus disisipi lelucon2 ringan yang menghibur). Mengambil setting 3 dunia, dengan 3 tokoh utama, Goran rasanya punya 3 anak plot, yang baru dipertengahan buku melebur jadi 1 plot raksasa.
Nah, sekarang kita masuk ke elemen2 detailnya:
Opening, dibuka dengan plot Aniki Kodama, tokoh utama pertama dengan sifat-sifat ajaibnya. Opening ini lumayan manis, walau di sini pengarang belum terlalu kelihatan gilanya.
Plot. Ide utamanya adalah tentang perpindahan portal waktu dan dimensi ala Chrono Trigger dan Chrono Cross, dengan medium orang sakti. Makin masuk ke dalam cerita, makin gila si pengarang bercerita. Beberapa scene terasa kacau nian, tapi tetap saja kreatif dan masih masuk jalur logika. Pokoknya seru dah.
Setting. Inilah kelebihan utama novel ini: settingnya ada 3 dunia. Setting dunia hari ini, dunia ‘futuristik’, dan dunia masa lalu. Gw terutama salut sama pengetahuan dan kreatifitas pengarang yang notabene cewek tentang dunia persilatan Cina Kuno, yang digambarkan cukup detail dan realistik.
Satu2nya setting karangan dia mungkin adalah setting ‘futuristik’ planet Vida. Kehidupan barbar para Theft Ryder digambarkan dengan baik sekali, ide advanced technology-nya keren dan unik, plus penggambaran yang matang untuk kesenjangan sosial antara Theft Ryder dan kaum borguic yang jadi ide utama settingnya.
Karakterisasi. Ada 3 tokoh utama (dan beberapa tokoh pendukung favorit gw):
-Aniki Kodama, si tukang tidur yang cuek abis, disini gw rasa pengarangnya kepengaruh berat dari manga2 jepang. Dia mewakili setting dunia hari ini, dieksekusi dalam kehidupan remaja jepang. (mirip cerita2 si kokonoka)
-Orphann, theft ryder barbar yang punya pemikiran-pemikiran aneh. Dia mewakili setting dunia ‘futuristik’, planet vida.
-Xin Ai, cewek gendut manja yang jago silat dan strategi. Dia mewakili setting masa lampau di Cina, yang masih terkondisi sebagai dunia persilatan dan perjodohan .
-Panglima Sam, ini karakter favorit gw! Karakter antagonis yang selalu bernasib malang.. gw selalu ngakak kalo baca scene2 dia..
-Guru Besar, yang ini kebagian porsi kecil di plot, tapi emang berkesan banged bagi gw. Salut berat buat pengarang yang udah ngebikin tokoh seantik begini. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
-Soil, cewek botak (yang semula gw kira cowok) temennya Orphann yang cerdas.
-Onatsu, emaknya Aniki yang punya karakter keibuan banged…
-dan sebetulnya masih banyak lagi karakter pendukung, yang emang diperlukan dalam cerita..(maksudnya keberadaannya bukan asal tempel)
P.O.V (kalau gak tau ini apaan, belajar dulu sana sama bang Villam!)
Tereksekusi dengan sempurna! Villam, i think u’ll love this book, karena emang ‘ente banged’.
Endingnya, parah. Tega nian, padahal di sepanjang jalan cerita, sama sekali gak ketebak endingnya bakal begitu..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif)
Apakah Serambi mensyaratkan ending model begitu untuk naskah2 yang masuk ke meja redaksi? (Endingnya sama persis sama ending Sang Penandai(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/q11.gif) )
Tapi gw salut banged, emang mendingan ending kaya begitu daripada ‘ending bagus’ tapi tidak berkesan sama sekali. Makna endingnya lumayan dalam, dan ngebikin gw berpikir ngejelimet di akhir kalimat ending.
Kekurangan novel ini mungkin terletak pada masalah editing; ada banyak struktur kalimat rancu n ‘semau gue’ si pengarang. Tapi gaya bahasanya emang kreatif, gokil, dan simple. Ada beberapa ‘kalimat berbahasa gaul’ yang tau2 muncul di tengah2 kalimat formal, mungkin pengarangnya lagi mabok pas ngetik di situ. Tapi berhubung plotnya sendiri udah gila dan mengalir banged, rasanya kerancuan-kerancuan yang ada bisa ditolerir..
Menuruti standar gw, GORAN dapet poin 5 dari 5, dan menjadi yang terbagus dari lebih dari 10 judul fantasi lokal yang pernah gw baca. Highly recomended buat semua anak sini, yang mau belajar bahwa sebetulnya genre fantasi bisa dieksekusi segokil mungkin tanpa harus keluar dari kekuatan fantasi itu sendiri. Salut berat buat pengarangnya*!(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)
*)Setelah baca Goran gw jadi naksir berat sama pengarangnya** nihh(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif) (serius, pengarangnya gokil mampus (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/47.gif)), tapi apa daya yang bersangkutan tidak meninggalkan jejak apapun di buku selain namanya..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif) Mau donk kenalan..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/07.gif)
**)Pengarangnya cewek***, entah udah tante2 ato masih ABG.. yang jelas gaya bahasa novelnya mengingatkan gw sama gaya bahasa satu member sini (dulu)..
***)Namanya Imelda A. Sanjaya…. dari namanya kayanya cewek cakep nihh****(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/1.gif)
*****) Oke deh, kayaknya gw kudu berhenti sampe sini, sebelom ngelantur terlalu jauh..(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/005.gif)
[tab:Hal 3]
________________________________________
Post by: BloodSin on February 08, 2008, 02:45:19 pm
________________________________________
Guys n Gals, selain GORAN, kemaren gw ngebaca satu judul fantasi lokal laennya di kemudian.. yg kayaknya masih ditulis oleh penulis pemula sama kaya kita. Judulnya The Rohriant (id penulisnya: codenameKEY), yg ngebikin gw kecele mampus karena skill menulis gw gak ada apa2nya dibanding skill dia.. The same case terjadi waktu gw baca CO** (M.S), Sang Penandai(Tere Liye) n Goran (Imelda Sanjaya).. gw merasa begitu kerdil, tulisan gw cupu nian, dangkal, gak berbobot.. kalo dibandingkan sama karya2 mereka. (http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/06.gif)
Sial, ada banyak penulis fantasi lokal berbakat di luar sana, yg bahkan mungkin sekaliber Rowling/Tolkien. Personally, gw frustasi berat karena gw nyadar seorang diri gw ibarat kecebong di tengah2 samudera yang berisi ikan2 predator gede (gw selalu demen pake metafora ini, walaupun pada faktanya gak ada kecebong yang idup di laut(http://i164.photobucket.com/albums/u33/kuku_merah/14.gif))
But secara nasionalis (dalam dunia fantasi lokal maksudnya ), gw seneng karena genre fantasi mulai berkembang di sini.. Hmmm.. gw percaya genre fantasi punya masa depan cerah di indonesia berkat penulis2 berbakat kayak mereka.. Apa daya kalaupun gw gak bisa berdiri sejajar di antara mereka, at least naskah gw bisa terbit buat berpartisipasi aja di dalam wadah yang sama… itulah tekad gw sebagai penulis fantasi lokal nan cupu.. how about u, friends? 
________________________________________
Post by: hege on February 27, 2008, 10:39:01 am
________________________________________
F.R.O.G.S.
Tiga ekor kodok sehat dengan pipi merona merah sedang bersantai selonjoran di pinggir kolam. Mereka adalah kodok-kodok yang luar biasa beruntung, kalian pasti tahu kenapa—ada banyak sekali saudara-saudara, kawan, bekas tetangga, buyut, kerabat atau sepupu jauh mereka sedang dibedah dan dikuliti di luar sana.
Mereka adalah sahabat karib, masing-masing bernama Rodi, Joni dan Sam. Rodi dan Joni bersaudara beda ayah (ibu mereka punya banyak sekali suami sehingga tak ada yang tahu persis yang mana ayah untuk anak-anaknya). Sementara Sam dulunya tinggal di rawa-rawa di selatan Inggris sebelum angin topan atlantik mengangkatnya tinggi-tinggi ke atmosfir dan melontarkannya ke Asia.
“Kalian lihatlah ke langit!” seru Rodi, dialah kodok yang paling gemuk dan paling berotot di antara ketiganya, di depan mereka tersedia seloyang besar lalat dan nyamuk goreng balado. Joni menjulurkan lidahnya dan menyambar seekor lalat yang kaki-kakinya mencuat kaku ke udara.
“What in the world I must look at the sky!” protes Sam, meski dia sudah belajar bahasa Indonesia selama dua tahun dari para sahabatnya, dia masih sangat bangga menjadi warga negara Inggris dan sedang mencari-cari cara untuk kembali ke negerinya.
“Ada awan berbentuk donat!” seru Rodi berbinar-binar. “Kalian pasti terpesona.”
“Itu tidak mungkin!” koak Joni, lalu ia mendongak ke langit, matanya melebar. “Tidak pernah ada awan berbentuk donat sebelumnya. Awan itu bentuknya selalu tidak karuan. Tapi yang satu ini merupakan keajaiban alam.”
“Menakjubkan!” kata Rodi.
“Fantastic! Terrifically marvelous,” gumam Sam, yang akhirnya mendongak.
“Bentuknya mulai berubah, wahai saudaraku!” jerit Joni beberapa saat kemudian. “Menurutmu kenapa awan donat sempurna tadi berubah bentuk? Sekarang mulai tak begitu seperti donat.”
“Itu karena ada raksasa yang memakannya,” ujar Rodi yakin. “Kita tak bisa melihat raksasa yang kumaksud, kata ibu, raksasa yang tak nampak ini memakan awan-awan dan memuntahkannya kembali menjadi hujan dan petir.”
“Oh that’s full of nonsense!” kata Sam menggeleng. “Itu karena angin yang membuatnya berubah bentuk, it always be that way. Angin di langit sangat kencang, lebih kencang dari apa yang kalian bayangkan. You knew exactly what the hell happened with me, didn’t you? Angin serupa membuatku melayang-layang di stratosfer!”
“Aku heran kenapa kau tidak mati saja saat itu,” kata Rodi, “kau mulai meracau lagi!”
“Otaknya tidak beres,” sahut Joni, mendukung saudaranya.
“Whatever!” gumam Sam kalem.
Read the rest of the story here http://kemudian.com/node/94838
[tab:Hal 4]
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 28, 2008, 09:11:18 am
________________________________________
Kalo di fantasy, makin ga logis makin bagus. Tapi yang susah tuh daya khayalnya kudu kemana-mana.
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 28, 2008, 09:18:56 am
________________________________________
hehe…
biarpun fantasi tetap harus logis dunk…
maksudnya, harus ada alasan atas setiap kejadian, juga harus ada alasan untuk setiap tingkah laku karakternya, betapapun anehnya itu.
alasan2 itulah yang dimaksud logis, yang kudu dibedakan dengan imajinatif/tidak imajinatif.
setiap cerita, apakah itu teenlit ataupun fantasi, tetap harus logis dan sekaligus juga imajinatif (membuat pembaca terbayang-bayang… halah).
________________________________________
Post by: Euthalia Calisto on February 29, 2008, 11:31:52 am
________________________________________
Ngomong2, aku masi agak bingung ama definisi scie-fi ama fiksi fantasy.
Aku udah baca reply yang di depan tapi aku butuh contoh konkritnya.
Kebetulan crita baruku ini agak mirip city of angel gitu dech (udah pada nonton kan? )
Jadi ntar ada sosok tokoh yang bukan manusia tapi diturunkan di dunia untuk nolong dua orang tokoh utamaku. Ntar mereka bakal mengarungi alam pikiran manusia and cari tahu problem psikis apa yang diderita ama dua tokoh utamaku ini.
Btw, ni termasuk apa ya?
________________________________________
Post by: rd_Villam on February 29, 2008, 02:02:41 pm
________________________________________
thalia,
ceritamu itu bisa dimasukkan ke dalam genre fantasi. fantasi tentang dunia alternatif yang kita diami sekarang.
sementara kalo science fiction, menurutku adalah merupakan bagian juga dari genre fantasi, yang menitikberatkan pada spekulasi penulisnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi di masa kini atau masa datang.
Nah untuk membuat ceritanya dapat dipercaya maka penulis itu melakukan riset mendalam terhadap ilmu pengetahuan / teknologi tersebut (misal : genetika, komputer, kendaraan, persenjataan, ruang angkasa, bawah laut, dsb), dan hasil spekulasinya dipamerkan pada pembaca, entah berupa science fiction murni, atau bisa juga digabungkan dengan jenis fantasi lainnya, seperti fantasi dunia alternatif ceritamu, atau fantasi dunia lain yang penuh dengan makhluk-makhluk menakjubkan dan lain-lain.
kalo buatku, penulis science fiction yang paling kusuka tetaplah Jules Verne (1828-1905), yang menulis : Journey to the Center of the Earth, From the Earth to the Moon, 20000 Leagues Under the Sea, Around the World in 80 Days, Mysterious Island.
dan film science fiction yang paling kusuka adalah trilogi Back to the Future.
hehehe…
[tab:Hal 5]
________________________________________
Post by: clickdian on March 01, 2008, 03:47:31 pm
________________________________________
Guys…
Aq post sebagian dari cerpenku ya.. tolong komennya, kalau berkenan, dan mohon dimaklum kekurangannya karena penulisnya masih belajar. 
Buat yang udah baca Zauri, pasti familiar dengan scene ini, walau dari point of view yang berbeda. Dan oh, maaf cuma sebagian. Kalo terlalu banyak kasian yang nggak minat baca, liat postingan yg kepanjangan ;D
Cahaya Bulan
Rasanya baru saja kurebahkan tubuhku ketika tiba-tiba saja aku terbangun lagi. Langit-langit kamar hampir tidak terlihat karena kristal cahaya dimatikan, tetapi sinar bulan masuk lewat jendela sehingga di sekitar lantai—terutama di tempat tidur Regia—masih terlihat walaupun remang. Aku sendiri bercahaya, tetapi tidak seberapa.
Aku memutar tubuhku di atas bantal yang kugunakan sebagai alas tidur. Dari tempatku sekarang—di atas bupet kayu di tepi ruangan. Kulihat Regia tertidur menghadap ke jendela, dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya di sana, tertimpa temaram sinar rembulan.
Setelah sekian lama menjadi temannya, sejak dari kami masih di istana sampai sekarang kami berkelana, baru kusadari kalau Regia benar-benar cantik. Di luar dugaan, kristal mungil yang menempel di keningnya membuatnya bertambah cantik, terutama sekarang. Kristal berwarna ungu muda transparan itu berkilauan. Aku bangkit dengan susah payah dan duduk. Debu-debu cahayaku bertaburan di atas bantal seiring gerakanku, lalu jatuh dan menghilang.
Tubuhku masih sakit sekali rasanya, sejak pertempuran kami dengan Mario. Awalnya seluruh tubuhku terasa sakit karena hangus terkena api Mario, dan tak bisa digerakkan untuk waktu yang sangat lama. Setelah beberapa minggu, pada malam hari, aku bisa duduk seperti ini, walaupun masih terasa nyeri dan kaku. Entah mengapa aku lebih nyaman bergerak setelah matahari terbenam. Apakah itu karena aku peri, aku tidak tahu. Aku belum lama jadi peri, jadi tak punya jawaban untuk ini.
Hmm.. sayapku agak terlipat di tepinya. Aku memutar badanku untuk membetulkan ujung sayapku. Tidak terlalu sulit, ini sering terjadi dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. Tiba-tiba aku mendengar suara lirih dari arah tempat tidur.
“Dios…”
Aku menoleh ke arah Regia. Lagi-lagi ia mengigau. Sudah berapa lama sejak kepergian pemuda itu, ya? Satu bulan? Atau lebih? Aku sering sekali melihat Regia melamun sejak Dios pergi—yah, kami semua seperti itu, tapi ialah yang paling sering melamun. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu ke mana ia pergi.
Sebutir air mata meluncur di pipi Regia.
next…. on http://www.kemudian.com/node/96104
[tab:Hal 6]
________________________________________
Post by: alk on March 02, 2008, 02:42:24 pm
________________________________________
ehem… satu tambahan post lagi dari cerita Ghost vs Aliensku…
buat yang ga ada kerjaan, silakan menebak hantu-hantu apa sih yang deskrispinya aku kasih ‘italic’…
;D ;D ;D
KONFERENSI HANTU SEDUNIA
Zephyr melayang, menembus dinding, memasuki bangunan tua itu tanpa semangat. Ia hantu, itu jelas terlihat dari ektoplasma keperakan yang merupakan wujud tubuhnya. Sosoknya yang berwujud anak-anak membuat banyak hantu lain melecehkan atau tak mempedulikannya. Namun, satu dua hantu yang mengenalnya tampak mengangguk hormat kepadanya. Ia membalas anggukan hormat itu dengan lambaian tangan acuh.
Zephyr hidup jauh lebih lama dari kebanyakan hantu di bangunan itu. Ia sudah hidup lebih dari delapan ratus tahun, hampir sembilan ratus tahun malah.
Betapapun, ada beberapa hal yang tak pernah berubah tentang Zephyr. Ia masih tetap berwujud roh bocah kecil, sama seperti delapan ratus tahun yang lalu. Ia juga masih tak bisa mengingat bagaimana ia menjadi hantu, atau bagaimana ia hidup sebelum menjadi hantu.
Nama Zephyr sendiri adalah pemberian dari seorang hantu kuno yang ditemuinya di Athena. Nama itu berarti angin dari barat. Tapi Zephyr sendiri tidak tahu apakah ia sebenarnya berasal dari barat, atau dari timur, atau malah dari selatan. Ia tak pernah bisa mengingatnya.
Zephyr terus melayang perlahan, melewati beberapa kelompok hantu, menembus dinding, menjelajahi bangunan itu tanpa arah.
Bangunan itu adalah sebuah bangunan kuno di Transylvania, tempat yang memunculkan kisah Count Dracula, sang vampir penghisap darah. Malam ini, bangunan itu adalah bangunan paling berhantu di seluruh penjuru dunia. Ribuan hantu berada di sekitar bangunan itu, sebagian kecil di dalam, sebagian besar di luar.
Malam ini adalah sebuah peristiwa luar biasa bagi para hantu. Selama sebulan lebih, energi aneh menarik mereka dari segenap penjuru dunia untuk datang ke tempat itu. Para hantu yang sudah berusia lebih dari limaratus tahun, termasuk Zephyr, tahu apa artinya itu, undangan untuk Konferensi Hantu. Hantu-hantu yang berusia di bawah itu kebanyakan datang mengikuti nalurinya saja. Tentu saja ada juga banyak hantu yang tegas-tegas tidak mengindahkan hal itu, entah karena ragu, terlalu angkuh, atau karena takut akan jebakan.
Zephyr sendiri datang, jauh-jauh dari pedalaman hutan di Zaire, meninggalkan penelitiannya tentang suku Afrika disana, karena tertarik pada aura yang dikeluarkan untuk memanggil mereka. Jelas sekali baginya bahwa yang mengeluarkan undangan itu memiliki energi hantu yang sangat kuat, jauh lebih kuat darinya, dan juga mungkin jauh lebih tua darinya. Ia melayang-layang mencari sumber energi ini tapi belum juga berhasil menemukannya.
Menjelang tengah malam…
“Saudara-saudariku, para hantu dari seluruh pelosok dunia.” Tiba-tiba terdengar suara bergetar aneh. Bahasa hantu. Bahasa yang secara alami langsung dipahami oleh semua hantu di dunia.
“Selamat datang di Konferensi Hantu Dunia yang ke tujuh. Akulah, Asmodeus, yang mengundang kalian semua kemari.” Suara itu kembali terdengar. Kali ini para hantu yang berada di luar bisa dengan mudah menemukan sumbernya. Asmodeus, sang pembicara, berada di puncak kastil kuno itu, menjulang tinggi, tegap dan berpendar keemasan.
Nama Asmodeus yang disebutkan sosok itu menimbulkan bisik-bisik riuh dari para hantu yang berada di situ. Ratusan hantu yang berada di dalam bangunan segera melesat keluar dan bergabung dengan mereka yang sudah di luar.
“Asmodeus, harusnya aku sudah menduganya,” Zephyr menggumam. Ia mengenal nama itu. Nama sesosok hantu yang berusia sudah lebih dari dua ribu tahun. Hantu yang lebih sering dikenal dengan sebutan Lord. Hantu terkuat yang posisinya disejajarkan dengan Mephisto, sang Raja Iblis.
“Malam ini, ditempat ini akan diadakan Konferensi Ketujuh Hantu Sedunia. Adapun hal yang akan dibicarakan disini adalah situasi kita yang semakin memburuk akibat ulah manusia,” Asmodeus berseru lantang.
Zephyr langsung mendengus sinis. Tak punya kreatifitas para hantu ini, begitu pikirnya. Hal yang dibicarakan dalam Rapat Besar malam ini dan Rapat Besar limaratus tahun yang lalu sama saja. Limaratus tahun tanpa perkembangan sama sekali.
“Benar. Ulah manusia membuat situasi hidup kita jadi semakin sulit!” Sesosok hantu berucap. Ia sangat jelek. Bulu panjang tebal menutupi sekujur tubuhnya dan mulutnya tebal dipenuhi gigi-gigi besar.
“Sekarang ini sulit sekali bagi kita untuk menunjukkan kebanggaan diri kita sebagai hantu. Kita harus terus menerus menyembunyikan diri. Kalau tidak, segerombolan pendeta sialan pasti akan datang dan langsung mengeksorsis kita,” ucap hantu itu.
Zephyr menyeringai. Sejak dulu, eksorsisme atau pemusnahan hantu adalah hal yang paling menjadi momok bagi para hantu. Bangsa manusia dalam hal satu ini sama tidak kreatifnya dengan para hantu ini. Sejak dulu cara eksorsisme yang mereka lakukan ya itu-itu saja, tak ada perkembangannya.
“Juga pabrik-pabrik sialan bangsa manusia itu,” sambung sesosok hantu cantik berjubah kelabu yang suaranya melengking, menyayat menyeramkan. “Asap dan limbah pabrik sialan itu mengacaukan fungsi rohku ini. Polusi yang mereka ciptakan tak baik bagi kesehatan kita, bangsa hantu.”
Zephyr mendengus meremehkan. Kesehatan? Hantu mengeluhkan kesehatan? Mereka itu sudah mati, apanya yang punya kesehatan.
“Sejak dulu sudah ditentukan kalau terangnya siang adalah bagian manusia sementara kegelapan malam adalah bagian kita. Tapi sekarang, cahaya memenuhi segenap penjuru kota sekalipun sudah tengah malam. Bangsa manusia yang kemaruk itu telah menjajah hak kita,” tambah sesosok hantu kuno Mesir yang entah kenapa sepertinya terjebak dalam balutan panjang kain kafan.
Kembali Zephyr mendengus meremehkan. Siang buat manusia, malam buat hantu? Sejak kapan hal itu diputuskan. Ia tahu bahwa banyak hantu yang karena begitu tololnya telah mengikuti jejak para iblis, sangat takut dengan cahaya matahari dan selalu menyembunyikan diri waktu siang. Hal yang sangat bodoh. Sinar matahari sama tidak berbahayanya dengan sinar bintang bagi para hantu.
“Kita harus bertindak untuk mengatasi hal ini saudara-saudara!” Sesosok hantu kecil berkepala botak plontos dan cuma memakai cawat berkata. “Kita lawan bangsa manusia! Kita rebut hak kita!” serunya bersemangat.
“Dan bagaimana caramu untuk melawan manusia?” Suara tenang sesosok hantu dari Jepang yang berjubah pendeta dan berhidung sangat panjang menanggapi, mendinginkan semangat mereka yang mendengarnya.
“Manusia sudah berkembang biak terlalu banyak. Mungkin berjuta-juta kali lebih banyak dari jumlah kita semua dikumpulkan. Tidak sedikit dari mereka yang mengenal cara-cara eksorsisme. Melawan mereka adalah bunuh diri yang sia-sia belaka,” ucap hantu itu dengan lagak bijak.
Zephyr menyeringai setengah setuju. Ia menyetujui seluruh perkataan pria tua itu kecuali bagian ‘bunuh diri’nya. Hantu sudah mati, mana bisa bunuh diri. Melenyapkan diri mungkin lebih tepat.
“Kita bisa mulai dengan bersatu lalu menyerang, merasuki dan menghantui satu kota. Merubah kota itu menjadi milik kita.” Si hantu botak tak mau menyerah begitu saja. “Kita bisa merebut satu kota dalam satu malam.”
“Ya. Dan malam berikutnya kita semua musnah karena bangsa manusia pasti akan langsung mengirim pasukan pendeta pemburu hantunya untuk menghancurkan kita,” cemooh sesosok hantu penunggang kuda yang menjinjing kepalanya sendiri.
Dan satu jam berikutnya dipenuhi debat yang tak beraturan dan tak berkesudahan tentang hal itu. Tempat itu dipenuhi riuh suara para hantu, semuanya berbicara bersamaan. Zephyr merengut sebal. Ia sudah berniat untuk beranjak pergi saja dari tempat itu. Sama saja dengan limaratus tahun lalu, pikirnya kesal. Pasti akan berakhir mengambang lagi.
Tapi tebakan Zephyr itu ternyata salah besar. Tepat sebelum ia beranjak pergi, Asmodeus yang dari tadi diam saja mendadak membuka suara…
“Perhatian saudara-saudariku kaum hantu…!!” Suara menggelegar ini langsung membungkam suara semua hantu di situ.
“Aku mengusulkan suatu pemecahan masalah bagi kita,” Asmodeus berkata lagi, tegas dan angkuh. “Ada sebuah dunia lain yang tidak dihuni satu hantupun. Dunia itu jauh lebih nyaman dari dunia kita sekarang ini. Usulku, kita semua berpindah masuk ke dunia itu.”
Sesaat suasana hening…
“Anda tidak sedang membicarakan dunia akhirat kan?” Sesosok hantu wanita dari pulau Jawa memberanikan diri bertanya. Ia berambut riap-riap, perutnya berlubang dan baju putihnya dipenuhi bercak darah.
“Bukan, bukan akhirat,” Asmodeus langsung menjawab tegas. “Dunia yang kusebut itu nyata dan benar ada. Aku sudah melihatnya sendiri. Ada yang tidak mempercayaiku?”
Semua hantu terdiam. Meragukan Asmodeus tak pernah terlintas di pikiran sebagian besar dari mereka. Bagi sebagian kecil yang ragu, mereka tahu bahwa tidak bijaksana mengemukakan hal itu terang-terangan pada hantu sekaliber dia.
“Di dunia itu ada manusia?” Sesosok hantu bertanya, memecah kesunyian. Sosoknya yang mengenakan topeng ice-hockey dan memegang gergaji mesin, tampak sangat menyeramkan.
“Tidak ada manusia dan tidak ada hantu,” Asmodeus menjawab tegas.
“Tapi ada makhluk lain?” Zephyr akhirnya membuka suara, menyimpulkan.
Asmodeus menatap Zephyr dengan tajam selama beberapa saat. “Ya,” akhirnya ia menjawab. “Ada makhluk-makhluk aneh yang di dunia ini dianggap dongeng di dunia itu. Tapi mereka sama sekali bukan masalah bagi kita.”
“Jadi kau berpikir kita bisa kesana, menginvasi dunia itu dan merebutnya untuk kita kaum hantu?” Zephyr berkata lagi.
“Itu memang tujuanku,” Asmodeus menjawab tegas. Kharisma yang dipancarkan hantu ini bisa membuat ciut nyali semua hantu lain, tapi tampak tak berpengaruh sedikitpun pada Zephyr.
“Kaubilang disana tak ada hantu kan? Apakah kau yakin bahwa itu tidak disebabkan karena semua hantu disana telah dieksorsis?” Zephyr dengan kalem bertanya lagi.
“Aku yakin,” Asmodeus berkata. “Sudah dua bulan aku meneliti disana. Aku sudah memperlihatkan wujud di depan banyak makhluk. Tak ada satupun yang mengenaliku sebagai hantu. Aku sudah menangkap, menyiksa dan memaksa seorang peri untuk menceritakan sejarah dunia itu. Tak ada satupun legenda yang menyebutkan tentang eksorsisme hantu.”
Zephyr mengerutkan kening. Ia tahu bahwa hantu itu tak berbohong. Beberapa hantu yang sudah cukup tua, termasuk dia sendiri, bisa memadatkan ektoplasmanya dan memegang benda benda. Tentu saja itu juga berarti mereka bisa memukul dan menyakiti makhluk lain. Walaupun begitu, Zephyr tak menyukai kekerasan. Siksaan jelas-jelas bertentangan dengan sifatnya. Namun ia menahan diri dari keinginan untuk berkomentar sinis. Ia malah terus bertanya, “Kalau begitu, apa rencanamu dengan makhluk-makhluk yang tinggal disana?”
“Sudah jelas kan? Kita akan mengusir mereka,” Asmodeus menjawab sinis. “Kalau perlu kita akan memusnahkan mereka. Kita tak bisa mengambil resiko mereka berkembak biak seperti manusia dan menghancurkan kita dengan eksorsisme.”
Terdengar suara riuh menyambut ucapan itu. Sebagian setuju, sebagian lagi menentang.
“Diam semua…!!” Asmodeus membentak. Wajahnya berubah jadi beringas dan menakutkan.
“Aku mengajak kalian ke sana demi kepentingan kita juga. Yang setuju denganku dan bersedia mengikuti keinginanku silahkan tetap disini. Yang tidak setuju, silahkan menyingkir dari sini dan membusuk di dunia ini.” Asmodeus berkata dengan ketegasan tak terbantahkan.
Zephyr mendesah sedih. Ia sangat ingin melihat dunia yang disebutkan Asmodeus itu. Tapi, ia benar-benar anti kekerasan. Merampas dunia lain dan mengusir atau memusnahkan penghuninya sama sekali tidak sesuai dengan gayanya.
Dengan muram Zephyr melayang meninggalkan tempat itu diikuti sejumlah hantu lainnya. Tapi mereka yang masih tinggal ada banyak, sangat sangat banyak.
[tab:Hal 7]
________________________________________
Post by: didie-sy on March 03, 2008, 03:04:04 pm
________________________________________
aloooo semua :-*
aloo blood sin,aku didie n jarang maen-maen ke pulau penulis
tadi aku udah posting siy tp ga tau masuk ga?aku dikasi tau tentang goran sama temenku tapi masi ragu.
review lo tentang goran kok beda banget sama review kobo chan di kutu buku.com?dia negatif gitu.kynya kalian baca buku yang beda ya?yang bener yang mana?
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 03:51:38 pm
________________________________________
@didie sy, teman baruku…
kok malah mempertanyakan apakah om blood membaca buku GORAN ataw tidak? hehehe…
aku sendiri belum baca, tapi menurutku wajar jika ada pembaca yang pendapatnya berseberangan, satu positif, satu negatif.
gak mungkin semua suka, atau sebaliknya semua gak suka. harry potter aja ada yang gak suka dan yang gak suka, apalagi buku yang lain.
________________________________________
Post by: rd_Villam on March 03, 2008, 04:09:02 pm
________________________________________
Quote from: yuzuriha on March 03, 2008, 02:58:02 pm
lia……………
gak tau kanapa tiba2 aku jadi capek banget nulis dan berpikir………
padahal semua masih terangkum rapi di otakku padahal deadline novellet nyata tgl 29 maret……. :’(
aku gak bakat kali yah?????
hehe…
yuzu, jika masalahmu adalah capek, ya beristirahatlah.
jika masalahmu karena tiba2 gak bisa nulis padahal semua udah ada di otak, mungkin coba dengan lebih fokus, jangan mikirin hal lainnya.
tapi jangan sampai menyalahkan si ‘bakat’ ya… hehehe…
Tuhan sudah menganugerahkan ‘bakat’, pasti ada tujuannya. tapi sebenernya ada yang lebih penting daripada bakat, yaitu ‘usaha’.
barangkali ‘usaha’ kita buat belajar dan menulis belum terlalu kuat. masalah yang sama selalu dihadapi setiap penulis kok, tapi sebenarnya kita udah tau jawabannya. cuma melakukannya yang sulit.
No Comments »
Goujian, dari Masa Musim Semi dan Musim Gugur di Cina (510 SM – 334 SM). Material: perunggu. Panjang: 55,6 cm (termasuk gagangnya) dan lebar: 5 cm. Ditemukan di Sungai Zhang setelah terendam lebih dari 2000 tahun, tapi tidak ada bekas karat, dan tetap mampu memotong setumpuk kertas dengan mudah.
Zulfiqar, pedang legendaris Ali ibn Abu Thalib. Dikisahkan, pada Perang Uhud (625 M) Rasul Muhammad SAW menghadiahi Zulfiqar kepada Ali, menantunya, dan dengan pedang itu Ali menaklukkan musuh terberatnya, menghancurkan sekaligus helm dan perisainya. Gambar di samping adalah adegan film Mohammad, Messenger of God, dengan Zulfiqar di gambar depan. Zulfiqar kemudian digunakan Husayn ibn Ali, cucu Rasul, yang gugur dalam Perang Karbala.
Honjo Masamune, adalah pedang simbol Shogunat Tokugawa yang dibuat oleh Masamune, pembuat pedang terkenal di Jepang di awal abad 14. Pedang buatan Masamune sering dibandingkan dengan pedang buatan Muramasa, yang konon adalah bekas muridnya. Pedang Masamune melambangkan kedamaian sedangkan pedang Muramasa melambangkan haus darah.
Dan masih banyak lagi. Nanti diterusin… hehehe…
26 Comments »
[tab:Hal 1]Arsenal menghajar tuan rumah Fenerbahce 5-2 untuk memantapkan posisi di puncak klasemen Grup G Champions League. Gol-gol Arsenal dicetak oleh Emmanuel Adebayor, Theo Walcott, Abou Diaby, Alex Song dan Aaron Ramsey, sementara dua gol balasan Fenerbahce dibuat oleh Dani Guiza.
[tab:Hal 2]Seringkali memang lebih mudah bertanding di kancah Eropa, dan melawan tim-tim yang juga lebih berani menyerang seperti Fenerbahce, dibanding melawan tim-tim papan bawah dan medioker di Liga Primer yang cenderung bertahan saat melawan Arsenal.
Namun, terlepas dari penampilan duet Silvestre dan Song di belakang yang masih kurang meyakinkan (beruntung kiper Almunia bermain cemerlang), kemenangan ini adalah modal penting buat menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya yang lebih berat.
11 Comments »
[tab:Hal 1]Rekan saya dian k baru saja menulis review Magician’s Guild, novel fantasi karya Trudi Canavan, penulis asal Australia, terbitan Mizan Fantasi, 2008, di blog Kastil Fantasi. Silakan dinikmati.
Komentar saya singkat saja: baguslah kalau semakin banyak penerbit lokal yang menerbitkan novel-novel fantasi. Tapi saya akan lebih senang lagi jika yang diterbitkan adalah karya-karya penulis fantasi lokal juga.
[tab:Hal 2]Tentu saja penerbit beralasan, tidak ada karya lokal yang benar-benar bagus buat diterbitkan. Dan pangsa pasarnya pun masih sangat kecil. Topik semacam ini sudah sering dibahas di forum, dan para penulis sebenarnya punya argumen untuk melawan pendapat tersebut, bahwa karya yang bagus itu bukannya tidak ada, tapi memang tidak diberikan kesempatan untuk muncul dan berkembang.
Yeah, jalan memang masih panjang buat membuktikan kalau penulis fantasi lokal pun bisa eksis di Indonesia. Kita tidak akan menjadi peminta-minta; kita akan berusaha keras untuk bisa tampil, jangan khawatir.
42 Comments »
Hari ini saya baru saja memberi usulan di forum diskusi Pulau Penulis Fiksi Fantasi Dalam Negeri, bagaimana kalau kita membuat komitmen bersama: di akhir tahun 2008 ini minimal harus ada satu naskah kita yang selesai, kemudian direview bersama-sama di bulan Januari 2009, editing pada Februari 2009, dan kirim ke penerbit paling lambat Maret 2009.
Masih ada dua bulan; mungkin sulit tapi bukan berarti tidak bisa. Yang penting adalah kita bisa bergerak bersama-sama, saling memberi semangat dan masukan, dan semoga, nanti komunitas penulis fantasi bisa menjadi semakin kuat.
4 Comments »
Kemarin saya baru saja nonton Stardust (ya ya ya, ini film udah lewat setahun lebih dan saya baru sempet nonton sekarang), yang diangkat dari novel fantasi laris karya Neil Gaiman. Saya gak akan review soal film atau novelnya, karena sudah banyak dibahas di tempat lain sebelumnya. Di sini saya hanya akan mengupas sedikit soal adaptasinya dari novel ke film, betapa banyak perubahan yang harus dilakukan, demi mencapai tujuan berfilm, tanpa harus kehilangan inti ceritanya.
Ceritanya, setelah novelnya terbit tahun 1998 di Amrik, dan Miramax membeli haknya untuk dijadikan film, Neil Gaiman kemudian mencoba membuat audiobooknya, dan ternyata kemudian terlihat bahwa panjangnya (jika dibuat film) bisa mencapai 10-12 jam. Artinya, jika memang hendak dibuat film berdurasi 2 jam, harus ada banyak sekali adegan yang dipotong.
Masalah berikutnya adalah bagaimana mengubah ‘tone’ gelap dan dewasa (alias ada adegan seks di bukunya), menjadi film yang lebih ringan dan bisa dinikmati keluarga dan anak-anak, tanpa harus mengurangi daya tariknya. Jadilah kemudian film tersebut dipenuhi dengan banyak adegan humor, yang, terus terang memang cukup menghibur. Saya terutama suka dengan rentetan adegan 7 pangeran hantu (sebagian sebelumnya belum menjadi hantu).
[tab:Hal 3]Dengan perubahan-perubahan tersebut saya rasa Gaiman berhasil meluaskan pangsa pasarnya. Sama seperti di banyak kasus sebelumnya, ada penggemar novel yang kemudian senang dengan adaptasi filmnya (seperti di kasus Lord of The Rings–walau ada juga yang sebaliknya: kecewa), dan ada pula yang lalu terpancing untuk membaca bukunya setelah menonton. filmnya.
Apapun, inilah bagian dari industri hiburan. Aji mumpung. Dan selama itu menghibur, kita sebagai penonton dan pembaca yang senang-senang saja.
4 Comments »
[tab:Hal 1]Arsenal akhirnya menaklukkan Everton 3-1, pada lanjutan Premier League di stadion Emirates, 18 Oktober 2008. Sempet kesel berat tuh pas nonton babak pertama, apalagi pas 15 menit pertama, yang bener-bener Arsenal maennya kurang darah kayak gak punyak semangat idup!
[tab:Hal 2]Untungnya penggantian kapten Kolo Toure yg cedera pas istirahat jadi blessing in disguise. Theo Walcott masuk jadi sayap kanan, Emanuel Eboue mundur jadi bek kanan (posisi natural dia), dan Alex Song (yg bermain jelek abis di bek kanan, berakibat gol Everton) jadi centerback (walau di sini sempet bikin blunder juga, yang untungnya gak jadi gol lagi buat Everton).
Acungan jempol buat Samir Nasri yang berani nembak jarak jauh hingga menjadi gol pertama. Gol kedua, untung Van Persie berada di posisi yang tepat. Kredit buat Fabregas yang membuat tembakan terlebih dulu. Dan gol ketiga, menunjukkan Walcott yang sudah semakin confident di usia mudanya.
Gue cuma berharap, jika Arsenal memang mau bersaing dengan tim-tim besar lainnya, gak bakal menampilkan permainan sekacau 15 menit pertama itu.
No Comments »
Namaku Satryo, seorang polisi—sementara ini sebut saja begitu—dan aku harus menginterogasi seorang bocah pagi ini. Seorang gadis berusia tiga belas tahun bernama Tiara. Penyebabnya: ia tiba-tiba meracau di kelasnya kemarin sore. Gadis itu berteriak, “Pak Presiden akan mati ditembak besok malam!”
Terkejut, sudah pasti itulah reaksi pertama guru dan teman-temannya, karena saat itu suasana kelas tengah hening; seluruh siswa sedang sibuk mengerjakan tugas mereka: esai sepanjang satu halaman dengan topik ‘Indonesia 2045: 100 Tahun Setelah Kemerdekaan’. Rencananya, esai yang terbagus nantinya akan dikirim ke Istana Kepresidenan, dan bakal dibacakan langsung oleh Pak Presiden, pada acara khusus malam hari tanggal 16 Agustus 2045.
Malam nanti.
Kalau bocah itu benar, Pak Presiden akan mati malam nanti.
Read the rest of this entry »
7 Comments »
Dunia itu seperti mangkok kayu yang biasa kita pakai untuk makan dan minum. Mereka yang tinggal di lembah seperti hidup di dasarnya, dan deretan pegunungan batu yang mengelilingi lembah adalah dindingnya.”
Itulah pelajaran pertama dari Kakek hari ini, dan anak-anak langsung terpana, sebelum kemudian berebutan bertanya, berteriak-teriak seperti biasa. Tapi bukannya menjawab, Kakek malah tertawa. Ia memang selalu lebih suka melihat mereka bertingkah penuh semangat daripada hanya berdiam diri tanpa kata.
Jadi ia membiarkan mereka, sebelum berkata, “Akan Kakek jelaskan sedikit, Anak-anak, dan setelah itu kalian boleh bertanya.”
Read the rest of this entry »
12 Comments »

kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi
- Biarkan penulis tahu jika memang ceritanya bukanlah jenis favorit kita. Hal ini akan membuat mereka lebih memahami sudut pandang kita. Hal-hal yang tidak kita sukai di ceritanya bisa jadi justru hal yang menarik buat para pembaca di genrenya, yang pastinya akan menjadi pasar utamanya nanti. Read the rest of this entry »
No Comments »
kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi
A. Pembukaan
- Apakah kalimat dan paragraf pertama cerita bisa membuat kita tertarik, untuk terus membaca ke bagian berikutnya? Apakah sudah menggambarkan masalah utama sang protagonis, ataukah hanya sekadar pemanis untuk memikat pembaca dengan kata-kata indah atau adegan-adegan seru?
No Comments »
|