Perlunya Grup Kritik
Posted by: Villam in About Critics, tags: grup kritik, kritik cerita, Tips Menulis
kembali ke Mengkritik Naskah Fiksi
Dari sekian banyak tips mengenai tips tulis-menulis yang dapat dibaca melalui internet, tips yang satu ini jarang disebut, padahal sebenarnya penting sekali, terlebih bagi para penulis novel pemula (ya seperti saya ini). Biasanya para penulis pemula setelah menyelesaikan naskah novelnya, dengan bangganya (mungkin juga malu-malu) akan meminta keluarga atau teman-teman dekatnya untuk membaca. Bahkan ada yang langsung nekat mengirim ke penerbit.
Kasus yang kedua biasanya langsung bisa ditebak hasilnya. Pasti ditolak (ya yang biasanya saya alami itu). Sementara kasus yang pertama, biasanya tanggapan mereka ya sebatas : “Oh, ya. Bagus nih ceritanya. Saya suka.” Ya cuma itu (ini juga sering saya alami sendiri). Sayangnya dengan tanggapan semacam itu kita tetap tidak tahu dan tidak yakin apakah naskah kita memang sudah bagus, atau sebenarnya masih banyak cacatnya.
Di sinilah pentingnya ada semacam Grup Penulis dan Grup Kritik, tempat untuk berdiskusi, bertukar pendapat, saling mengkritik secara terbuka (but nothing personal).
Di dalam Grup Penulis biasanya dibahas tatacara bagaimana menulis yang baik, dan juga pembahasan mengenai tips-tipsnya. Sementara Grup Kritik levelnya lebih berat, karena di sini kita meminta anggota grup yang lain untuk menilai naskah kita, mengkritisi, dan mencari-cari celah, yang tujuan akhirnya adalah membuat naskah kita menjadi lebih baik alias mendekati sempurna (ck ck ck). Prinsipnya adalah lebih baik diacak-acak sekarang, daripada nanti dilempar sama editor.
Grup Penulis sudah ada cukup banyak di Indonesia, melalui forum-forum penulis yang ada di internet. Sedangkan Grup Kritik memang lebih sulit dicari, selain karena memang masih sedikit (karena kebanyakan dari kita memang takut untuk dikritik), juga biasanya kalaupun ada sifatnya eksklusif, tertutup di antara para penulis yang sudah saling mengenal satu sama lain. Sayang ya, padahal para penulis pemula mestinya sangat membutuhkannya, tapi mereka (‘kita’ karena termasuk saya) tidak tahu kemana harus mencari.
Jadi apakah para penulis pemula harus membuat Grup Kritik sendiri? Bisa saja, cuma nanti masalahnya jika semua anggotanya pemula ya hasil kritiknya juga kurang tajam alias aneh, dan mungkin tidak kena sasaran sebenarnya. Grup Kritik yang bagus harus terdiri dari level penulis, pembaca atau kritikus yang beragam, dari level pemula sampai yang berpengalaman. Ya itu idealnya. Mestinya banyak kan penulis berpengalaman yang mau berbaik hati membuat Grup Kritik dan membagi ilmunya. He he he…
Trus satu lagi yang penting dari Grup Kritik, akan lebih bagus jika genrenya juga khusus, misalnya Grup Kritik khusus cerita fantasi, atau khusus teenlit misalnya. Selain minatnya juga sama sehingga bisa lebih bersemangat dalam menilai, juga karena nanti pasarnya juga berbeda kan. Nantinya kan kita tidak bisa memaksa pembaca teenlit untuk membaca fantasi misalnya. Hanya penggemar fantasi yang mau membaca fantasi, dan hanya mereka yang paling tahu apa yang mereka mau baca. Susah dong kalau penggemar teenlit disuruh memahami apa yang diinginkan oleh penggemar fantasi. (Ya ini sih ekstrimnya, ada banyak juga kok pembaca yang all around).
Ya jadi begitu deh kira-kira tips yang satu ini.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
November 8th, 2008 at 11:41 am
forum kritik yang isinya pemula semua emang mengerikan. Setelah bolak-balik ‘mengganyang’ tulisan dengan waktu yang lumayan lama ternyata setelah diberikan ke pro masalahnya yang ditemukan ternyata sangat sederhana dan tidak membutuhkan waktu yang lama menjelaskan dan memperbaiki kejanggalan yang ada. he.he.
Hanya masalahnya penulis pro kadang waktunya juga sangat sempit untuk dibagi dengan para pemula
ada juga setelah grup kritik terbentuk dengan penulis pro nya tulus ikhlas memberikan waktunya, para pemulanya yang mabur. Glekh! :p
—————————————————–
FFDN itu grup pengkritik fantasi?
November 8th, 2008 at 1:04 pm
terkadang terlalu ngikut kritikan professional jg kurang bagus. Pembaca buku kita kan ga semuanya professional? Kalau hanya nanggapin kritik pro dan cuekin kritik pemula/awam, alhasil buku kita jg cuma bisa dinikmati segelintir orang yg pro.
Gw lebih senang memuaskan ribuan pembaca awam ketimbang menang penghargaan sastra, dipuji2 pro, tp bukunya ga bisa dinikmati org awam.
November 10th, 2008 at 11:18 am
@elbintang,
di FFDN kita diskusi macem-macem kok, gak cuma kritik. tapi emang kalo soal kritik mengenai genre fantasi, saya sangat percaya buat bilang bahwa teman-teman di sana sangat kompeten. dan pantas jadi referensi buat semua pihak yang berkecimpung di fiksi fantasi, baik penerbit, editor, penulis maupun pembaca. heheheh…
taun lalu kita sempet coba bikin grup kritik, anggotanya saya, dian, hege, dan rey. kita tuker-tukeran naskah, dan dibahas melalui email. tapi emang gak tahan lama. nah awal taun 2009 nanti mungkin saya mau coba bikin lagi, dan mungkin mungkin bikin satu bulan khusus untuk kritik naskah kita.
@serpentwitch,
yang bagus adalah minta masukan dari banyak pihak, pro maupun pemula, penggemar fantasi maupun yang bukan. jadi kita bisa dapet masukan dari banyak sudut.
February 23rd, 2009 at 6:19 am
klo menurutku pribadi sih memang dibutuhkan kritik dan saran orang yang non-penulis juga, sebab jika terlalu mengikuti yg pro juga bisa – bisa hanya bisa dinikmati oleh para segelintir pembaca yang lebih memahami penulisan.
Lagian kita juga menulis kan untuk dibaca dan dinikmati orang lain, okelah banyak yang membaca karya kita, tapi apakah banyak yang menikmati?
pengalamanku saat membaca beberapa cerita(terutama dalam negeri) awal mulanya memikatku dengan sinopsis dan tampilan cover serta judul. Tapi pas dibaca (?????????), apaan nih? koq ceritanya gini? dan itu aq menempatkan diriku sebagai penikmat, bukan penulis(malah bisa dibilang non-penulis hehehehhehe, wong aq ga punya basic menulis). Semakin aq baca, semakin alisku kutinggikan, dan hingga aq paksakan sampe akhir… dan aq berpendapat, wah ga jelas isinya… ckckckckkckckckc
Ada juga yang saking sempurnanya tuh buku, dari cara penulisan, deskripsi, alur dll, bahkan sampe sekarang aq blum selesein baca tuh buku. Dan mungkin buku itu kalian juga tahu, LOTR yang the Fellowship of the ring.
Mungkin banyak yang mengagumi tuh buku, tapi kalau aq sih ga sampe segitunya, karena aq sebagai pembaca yang hanya bisa menikmati tak begitu suka sama LOTR seri itu.(klo yg the Hobbit aq suka hehehhehehe)
(kini buku – buku itu aq simpan di paling ujung lemari bukuku, bahkan ada beberapa yang aq simpan seenaknya, toh aq kapok membacanya)
nah, inti dari omongan ga jelasku itu adalah selain mengambil masukan dari pro, kita juga harus meminta pendapat dari para pembaca non-penulis hehhehehe
(intinya cuma itu koq)
oia
tentang belajar mengkritiki karya seseorang, memang aq sangat setuju sekali. tapi mungkin kita bisa lihat dulu siapa yang mau kita kritiki itu, apakah sudah pro, amatir, atau newbie.
ga bijak rasanya memberikan kritikan sangat pedas, tanpa basa – basi, tanpa diperhalus, ataupun memasukan idealisme kta sendiri(meskipun biasanya pada akhir komentar diselipkan kata ‘jangan berhenti bekarya’) kita pada penulis newbie. Karena belum tentu mental mereka siap dengan hal – hal itu dan terkadang banyak drop atau bahkan berhenti menulis sama sekali
ckckckckkccckckckckkckckckckc
duh jadi banyak ngelantur gitu ya
=))
February 23rd, 2009 at 8:12 am
betul, ndyw,
di dalam memilih orang2 buat mengritik karya kita, selain faktor pro atau pemula, yang lebih penting juga apakah orang-orang tsb memang paham dengan genre cerita kita. ada beberapa penulis bagus yang bisa mengritik banyak genre secara obyektif, tapi sebagian besar, katakanlah mereka tidak terlalu suka fantasi, maka penilaian mereka pun bisa menjadi bias. sementara pembaca pemula yang kita mintai pendapat, karena mereka adalah orang2 yang dekat, mereka seringkali juga gak berani mengritik terlalu keras, dan hasilnya pun bias.
tentang bagaimana mengritik karya orang lain, prinsip utama yang dipakai, menurut gue, tetaplah ‘jujur’. tapi memang kemudian harus disampaikan secara sopan. jika kita tidak bisa jujur, lebih baik tidak mengritik sama sekali. dan setelah itu barulah ‘lengkap’, ‘seimbang’, dan ‘encouraging / memberi semangat’. dan di awal, sebelum mengritik, sebaiknya memang kita bertanya dulu pada sang penulis, kritikan macam apa yang dia inginkan. apakah dia tidak keberatan jika dikritik secara pedas, misalnya.
yeah, intinya, mengritik emang butuh skill tersendiri. tapi tidak sulit kok, asal terus dilatih seperti halnya kita terus berlatih untuk menulis.
February 23rd, 2009 at 8:32 am
hoooooooo
sip klo gt mah
February 23rd, 2009 at 9:00 am
okay.
selamat menulis, mengritik, dan mengedit.
heheh…
February 23rd, 2009 at 11:05 am
wah2… setelah menyerang kerajaan kemudian, skrg ndyw menyerang kastil Villam. wekeekke…
sebenarnya yg berbeda dr pro atau tidak pro nya itu adalah sudah sbrp banyaknya seseorang membaca, dan juga mengolah ide. baca: pengalaman.
Sebuah buku dgn standar nilai 70 saja misalnya.
Dibaca oleh penulis pro yg kebetulan sudah sering mengolah ide dalam buku tersebut. Ia menemukan bahwa buku itu tidak meriset dgn baik, plot kurang di olah, banyak pula klisenya. standar nilai itu akan drop jadi 40 di mata dia, dan di cap tidak layak edar. Standar dia meningkat jauh, krn yg diusung buku itu adalah tema keahliannya. buku itu tidak lebih baik dr dirinya, mk di dinilai di bawah standar.
kemudian dibaca oleh seorang pembaca pro, yg sudah begitu seringnya membaca buku bagus. Hingga2 ketika membaca buku itu, jelas dia membandingkan dengan yg sudah dia pernah baca sebelumnya. Maka penilaian dia akan seperti ini, ‘jika buku ini tidak lebih baik dr SEMUA YG PERNAH IA BACA, mk buku ini standar’. Jelaslah standar dia sudah demikian tingginya. dan nilai buku ini pun drop jd 40. Kebanyakan dr pihak ini adalah EDITOR.
Tapi kemudian di baca lagi oleh seorang awam yg jarang membaca, atau mungkin malah pembaca baru, generasi baru yg br pertama kali menghampiri toko buku dan mencoba membaca novel. Apa yg terjadi? buku yg sama akan dapat nilai 100, tanpa paksaan, tanpa dibuat2, bukan krn teman ataupun merendah. Semata2 krn dia br mulai membaca. pengalaman membaca dia nol. Dan walau begitu bnyaknya klise dalam buku itu, toh dia pembaca baru, jelaslah dia tidak perduli. Jadinya standar penilaiannya turun sangat jauh.
Skrg, di Indonesia ini, kira2 brp persen pembaca genre fantasy yg masuk ke masing2 kategori di atas ya? Belum lagi setiap tahunnya lahir generasi baru yg masih fresh, polos, yg otaknya belum dicekoki ide ‘buku bagus’ dan ‘buku jelek’. Penilaian mrk masih NETRAL.
Walau begitu memang sih, dan sedihnya, sayangnya, kita generasi selanjutnya harus selalu lebih maju dr generasi sebelumnya. Ah… seandainya kau lahir sebelum Tolkien, mungkinkah TFH yg jd legenda saat ini, Villam? Kita ini rasanya korban zaman. Lahir belakangan sich…
February 23rd, 2009 at 11:21 am
hahahah…
you really have a good point here, jeff…
everybody has their own standards…
dan kenapa kita lahir belakangan? yeah, kenapa?
hahahahah…
suatu hari nanti, waktu kita udah tua, melihat darah-darah muda yang penuh bakat dan semangat itu, dalam dunia fiksi fantasi indonesia yang lebih bergairah, kita mungkin bakal bertanya, ‘kenapa kita lahir duluan?’
heheheh…
tapi pertanyaan lu beneran bikin penasaran,
seperti apa sebenarnya pasar genre fantasi di indonesia.
berapa persen tipe pembaca lama yg kritis, dan berapa persen tipe pembaca baru yang potensial?
mungkin perlu dibikin polling, misalnya ajukan sebuah buku fantasi populer, macam LOTR, atau Harpot, dan minta mereka menilai, apakah buku tsb sebenarnya bagus sekali, bagus tapi banyak kekurangan, atau jelek. jika bagus kenapa, jika jelek kenapa. hah.
February 23rd, 2009 at 11:47 am
“suatu hari nanti, waktu kita udah tua, melihat darah-darah muda yang penuh bakat dan semangat itu, dalam dunia fiksi fantasi indonesia yang lebih bergairah, kita mungkin bakal bertanya, ‘kenapa kita lahir duluan?’
heheheh…”
Ahahahaah! bener juga ya! XD Asli gw ga mikir ke situ wakakak XD
Soal polling, gw jg penasaran, sayangnya kl polling di pulpen atau komunitas penulis lainnya, tentu saja lebih banyak pro nya, atau para pro wannabe yg mindset nya sudah sejenis. Harus di tempat yg lebih general.
Gw sendiri krn novel pertama yg gw pernah baca itu Harpot, mk itu yg jadi patokan standar gw. Ketika sebuah cerita gw baca gak ngalir ky Harpot, gw anggap di bawah standar. Pembaca lain yg lahir dgn buku LOTR disampingnya, jelas berbeda lagi. Ketika sebuah cerita miskin deskripsi dan riset asal2an, akan dianggap di bawah standar.
Hmm… tapi jenis pembaca yg seperti apa yg mayoritas disini? Mengingat kita negara penulis teenlit, dan penulis fantasy wannabe kebanyakan bermunculan setelah membaca Harpot. Twilight pun bahkan memberi efek yg cukup besar pada komunitas pembaca kita. Hmm… rasanya cukup sulit didobrak dengan gaya perang dan penuh deskripsi… Mereka senang roman.
February 23rd, 2009 at 12:09 pm
ugh…
sulit ya didobrak dengan gaya perang ?
hahahahah… bakal menyedihkan dong nasib TFH?
uh… gue harus berdoa sebaliknya. heheh…
tapi bener tuh, standar kita adalah apa yang kita baca, kita makan sehari-hari. gak mesti yang pertama, tapinya. kan bisa aja akhirnya kita menemukan buku-buku lain berikutnya yang lebih pas dan lebih bagus menurut kita.
kalo standar gue adalah buku novel fantasi karya JV Jones (http://www.jvj.com) yang gue baca sepuluh tahun yang lalu. Trilogi A Book of Words. bukan cerita fantasi terbaik dan terpopuler, tapi terasa paling pas buat gue. jadilah itulah buku yang paling membentuk gaya gue sekarang.
ah… kalimat terakhir ini terlalu berlebihan. tepatnya, gue berharap, dan masih terus belajar, supaya tulisan gue bisa kayak buku itu…
February 23rd, 2009 at 1:31 pm
hehe menyedihkan belum tentu. Itu baru hipotesa gw aja, dan bisa sangat salah pada kenyataannya. Yah, tp tetap saja, berdoa lah hehe
Mari teliti selera orang Indonesia. Bacaannya teenlit, atau singkatnya LOVE. Nontonnya sinetron, yg ga pernah tidak mengangkat unsur LOVE. Film bioskop nya kebanyakan horror, roman cinta, atau mengangkat kesulitan hidup. Atau sering jg hal2 berbau religi.
Hmm… I have no idea how to please this kind of maket.
Market disini jg cenderung ‘ikut – ikutan’ sih. Mana yg lagi trend, semua kesana. Susah mendobrak masyarakat yg ky gini, walau bukan tidak mungkin. Kebanyakan akal gw semuanya d bidang marketing dan advertisingnya aja, krn gw sedikit banyak ngerti mindset dan pola konsumerisnya org sini. Tapi dalam hal gaya menulis, genre atau plot cerita, I have no idea deh gimana mindset org sini.
February 23rd, 2009 at 2:13 pm
beuh…
then we should not think about ‘how to please this kind of market’ …
but ‘how to please ourself’, ‘how to write a good story (in our standard)’, ‘how to give an alternative fantasy story for them to choose’,
and finally, ‘how to deal with the frustration.’ hahahahah…
as a fantasy writer, especially in indonesia, we already knew the difficulties.
live with that, enjoy, do and hope for the best.
have faith in our story. have faith in ourself.
find our way.
you believe the self-publishing is the only way? then do it.
soal bagaimana selera market di sini terhadap gaya menulis, genre atau plot cerita, gue belon bisa terlalu menilai. tapi gue percaya pasar pembaca fantasi di sini sebenarnya cukup tinggi, untuk jenis sub-genre yang seperti apa pun, di segmen anak-anak, remaja, dewasa muda, ataupun dewasa.
hanya saja, semakin ke atas segmennya, mereka memang semakin selektif, dan belon bisa terlalu percaya pada kualitas lokal. makanya fantasi anak-anak selalu lebih mudah jalannya. dan semakin berat dan dewasa isinya, semakin susah juga jalannya.
February 23rd, 2009 at 3:31 pm
Gue percaya pasar fantasy indonesia itu sedikit, tapi loyal banget. Cuma nyari di toko buku kok susah banget, ya. Padahal kayaknya ada beberapa, deh. *frustrasi*
Kalau harus milih grup pembaca, gue bakal milih yang pro. Gimana juga masukan dari mereka yang paling konstruktif. Walaupun dari grup orang awam, kita juga jadi tahu apa yang mereka sukai dari naskah kita.
Orang Indonesia seringkali masih segan ngasih kritik pedas. Apalagi kalau kita minta dibacain atas nama pertemanan. Terkadang, ini juga yang terjadi ma gue. Bikin critic group, tapi rada bingung gimana cara ngomong ke temen yang menurut kita jauh di bawah standar
February 23rd, 2009 at 3:55 pm
hahahah…
masalahnya, para kritikus yang ahli dan sekaligus penggemar fantasi itu memang lumayan susah di indonesia. kalopun kenal satu dua, bisa jadi mereka juga gak punya waktu.
jadinya, langkah yang paling mungkin buat kita-kita saat ini adalah, membangun grup kritik fantasi kita sendiri, mengasah keterampilan mengritik kita sendiri. belajar, lakukan, belajar, lakukan. dengan cara itu, suatu hari nanti ya semoga kitalah yang menjadi ahli-ahli tersebut. gak perlu lagi cari ke mana-mana. hahahahah…
soal cara ngomong ke teman… yeah… caranya bisa beda-beda, gak bisa disamain begitu saja. well, i still learn too…
February 23rd, 2009 at 5:26 pm
Biasanya sih ke temen ku wanti2 dulu sampe mrk yakin seyakin2nya :
“Komenlah sejujur2nya, pedes gak papa, kl memang teman, kritiklah sekejam2nya demi kebaikan temanmu ini XD”
Yah walau begitu, gw tetep ga puas dgn komentarnya sih. Soalnya kebanyakan cuma bilang,
“lumayan…” (dgn wajah sedikit terkesan)
kurasa lumayan itu datangnya krn standar dia rendah, atau lebih tepatnya dia sudah bersiap menerima naskah yg lebih ancur dr itu wkwkwwkkw. Tak percaya temannya ini bisa menulis novel ya ahuahaua XD
Btw berarti, tulis demi memuaskan diri kita sendiri. Jangan terlalu memperdulikan selera pasar. Masalah menjual atau tidak, itu sudah ‘fase’ marketing dan advertising. Gitu ya? ^^;
February 23rd, 2009 at 5:37 pm
oh iya. gue juga selalu minta gitu, jeff.
“mohon dikasih cabe yang pedas.”
dua tahun yang lalu, gue minta cabe dari dian, rey dan hege buat TFH, dan gue bersyukur dapet yang pedes-pedes dari mereka. i believe it makes me better, it makes me stronger.
gue revisi abis TFH terus gue kirim lagi taun kemaren ke elu, jeff, mas pur dan rey, dan gue dapet lagi cabe pedas, walau gak sepedas yang dulu, and it makes me much better and stronger again.
tinggal pertanyaannya, apakah sekarang, kalo gue balik ngasih kritik pedas, efeknya akan sama baiknya dengan gue? buat penulis lama yang udah jungkir balik kenyang dikritik, pasti gak masalah. tapi buat para penulis baru, memang, bisa jadi dia bakal down paling nggak satu sampe tiga bulan. kalo dia emang niat jadi penulis, dia bangkit. kalo nggak, ya langsung pensiun.
iya juga jeff, keliatannya akhirnya ujungnya adalah soal marketing, advertising dan distributing. tapi memuaskan diri sendiri di sini juga harus ditegaskan, bahwa kita telah menetapkan standar yang tinggi buat karya kita sendiri. jangan dg kualitas abal-abal kita tetap nekat lempar ke pasar.
February 24th, 2009 at 6:08 am
hoohohohoohoo
kalian semua kejam ya
berani komentar pedas begitu
klo aq sih cuma bilang ” ga menarik, ga usah di lanjut!”)
hehehhehehehehhehehehhehe
canda cing(bagian atas juga becanda)
buthewe klo kataku sih pasar di indonesia tergantung apa yang pertama kali bisa menggebarknya dan menarik pembaca/penikmat di indo.
contoh :
—————————–
jaman jelangkung muncul => genre horor semua
jaman AAC (ayat2 cinta) => genre religi bermunculan
jaman AADC => genre drama percintaan semua
jaman kawin kontrak => genre komedi dewasa bermunculan(sebenarnya genre ini aq ga tau siapa pelopornya…)
nah begitu juga dengan buku….
jaman kambing jantan => genre PELIT(personal litelatur) booming
jaman eiffel im in love => genre teenlit bermunculan
nah bagaimana dengan cerita fantasy???? Ada yang bisa menggebraknya kah???
dan parahnya lagi, nasib cerita fantasy di novel sama parahnya dengan cerita fantasy di sebuah komik buatan negeri(tp klo soal komik perasaan semua genre buatan indonesia sama semua sih, soalnya paling jarang yang bertahan di bangunan utama Gramed Bandung, n kebanyakan da di bangunan tuk di diskon) dan jujur ajah sih aq juga ga begitu suka komik fantasy buatan indo, entah mengapa merasa gambarnya tidak hidup dan kebanyakan ceritanya berat semua. hohohohohohoohohoohohoho, but its me(ga tau pendapat yang lainnya mah).
(pas selesei nulis panjang lebar, aq liad judul artikel ini….
ternyata yang aq utarakan dr td itu ga nyambung ma tema artikel toh…. sutralah(ga mw repot :p)… lagian cuma mo ikutan percakapan terakhir)
February 24th, 2009 at 6:11 am
oia lupa….
soal menyerang kastil villam yang dibicarakan jeff
hohoohooho
)
soalnya area invasiku terus bertambah kan(sebagai manusia tak akan pernah merasa cukup mamen)
February 24th, 2009 at 8:32 am
Ndyw, itu soalnya ada budaya latah di Indonesia. kalau ada saru yang booming, yang lainnya pasti ngikut-ngikut.
February 24th, 2009 at 8:51 am
betul, emang itu budaya di indonesia. ikut-ikutan…
nah kalo soal fantasi, ini luas sebenarnya segmennya.
ada fantasi anak, remaja, dewasa muda, dewasa.
trus sub-genrenya juga macem-macem.
nah pas dulu harpot booming, muncullah karya2 fantasi lokal sejenis. jadi sebenarnya sempat dilirik pasar juga. sayangnya kualitas2 fantasi lokal yang muncul kurang bagus, dan penjualannya jeblok, sehingga beberapa penerbit akhirnya kapok nerbitin fantasi. akibat lanjutannya, booming mereda, sampai nanti terbuka lagi entah kapan.
dan ya… pembahasannya gak nyambung dg judul.
tapi ya sutralah… hahahah…