Kemarin saya baru saja nonton Stardust (ya ya ya, ini film udah lewat setahun lebih dan saya baru sempet nonton sekarang), yang diangkat dari novel fantasi laris karya Neil Gaiman. Saya gak akan review soal film atau novelnya, karena sudah banyak dibahas di tempat lain sebelumnya. Di sini saya hanya akan mengupas sedikit soal adaptasinya dari novel ke film, betapa banyak perubahan yang harus dilakukan, demi mencapai tujuan berfilm, tanpa harus kehilangan inti ceritanya.

Ceritanya, setelah novelnya terbit tahun 1998 di Amrik, dan Miramax membeli haknya untuk dijadikan film, Neil Gaiman kemudian mencoba membuat audiobooknya, dan ternyata kemudian terlihat bahwa panjangnya (jika dibuat film) bisa mencapai 10-12 jam. Artinya, jika memang hendak dibuat film berdurasi 2 jam, harus ada banyak sekali adegan yang dipotong.

Masalah berikutnya adalah bagaimana mengubah ‘tone’ gelap dan dewasa (alias ada adegan seks di bukunya), menjadi film yang lebih ringan dan bisa dinikmati keluarga dan anak-anak, tanpa harus mengurangi daya tariknya. Jadilah kemudian film tersebut dipenuhi dengan banyak adegan humor, yang, terus terang memang cukup menghibur. Saya terutama suka dengan rentetan adegan 7 pangeran hantu (sebagian sebelumnya belum menjadi hantu).

[tab:Hal 3]Dengan perubahan-perubahan tersebut saya rasa Gaiman berhasil meluaskan pangsa pasarnya. Sama seperti di banyak kasus sebelumnya, ada penggemar novel yang kemudian senang dengan adaptasi filmnya (seperti di kasus Lord of The Rings–walau ada juga yang sebaliknya: kecewa), dan ada pula yang lalu terpancing untuk membaca  bukunya setelah menonton. filmnya.

Apapun, inilah bagian dari industri hiburan. Aji mumpung. Dan selama itu menghibur, kita sebagai penonton dan pembaca yang senang-senang saja.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

4 Responses to “Stardust & Tentang Adaptasi Novel ke Film”

  1. 1
    ubr Says:

    Tokoh favorit saya pak tua penjaga tembok :)

    Aku terperangah ketika melihat gaya berpedang mayat pangeran terakhir yang dikendalikan oleh musuh, sangat orisinil.

  2. 2
    Villam Says:

    haha… iya mengejutkan juga tuh si tua. pertama keliahatan lamban, tapi kemudian jadi jago maen tongkat pas menghalangi tristan.

    yg gaya pedang mayat pangeran terakhir itu, lucu juga sih. tapi malah sempet kebayang adegan film-film vampir mandarin. hahahah…

  3. 3
    zetamari Says:

    bener banget.. mirip vampir mandarin.. adegan yang paling lucu buat gw waktu kapal penangkap petir di serang trus kaptennya kepergok lagi nari-nari pake gaun n kipas… konyol banget tuh…

  4. 4
    Villam Says:

    ah kalo yang kapten nari-nari pake kipas, gue malah jadi kebayang lawakan-lawakan di tivi kita… hahahah…

Leave a Reply

CommentLuv Enabled