Belenir (draft)
Posted by: Villam in Cerita, tags: belenir, cerita fantasi, pasar budak, villam's story
Aku tak akan bercerita tentang tiga belas tahun pertama kehidupanku yang indah di Belen, atau tiga tahun berikutnya yang gelap—dalam arti kiasan maupun sebenarnya—di tambang batu mulia Narttal. Ceritaku dimulai sepuluh hari setelah aku dipajang di pasar budak Ainthala, kota kecil di perbatasan negeri Madhirian. Ketika aku mendapatkan namaku yang baru.
…
…
…
“Bangun, Bisu!” Sebuah benda keras tumpul menghentak rusukku.
Aku meringis. Sudah lama aku berhenti mengeluh, sayangnya selama nyawa masih senang bermukim di tubuhku, aku tak akan pernah kehilangan rasa sakit. Inilah insiden kecil biasa, di mana aku tak tahu kenapa aku harus bersyukur bahwa aku masih hidup. Mataku terbuka perlahan; aku tak ingin gulungan debu tebal kembali menyiksaku seperti kemarin, sekaligus bersiap menghadapi satu lagi tusukan cahaya matahari yang biasa kudapatkan saat sore menjelang.
Tapi saat ini justru kegelapan dan kesejukan sesaatlah yang terasa, berkat sosok lelaki botak dan tambun berbaju kuning yang berdiri tepat di hadapanku. Ia benar-benar menutupi matahari! Menghalangiku dari segala kesibukan orang-orang berduit yang tengah-tengah berteriak-teriak itu.
Dan demi Tuhan—oh, ternyata aku masih mengingat-Mu—bau tubuh lelaki ini benar-benar menyengat. Minyak wangi bercampur keringat telah menghasilkan kombinasi yang mungkin terasa menggairahkan buat kalangan pedagang pasar, tapi jelas tidak untukku. Kalau boleh memilih, aku memilih bau keringat saja. Itu cukup. Alami. Manusiawi. Pilihan seorang budak; satu dari sedikit hal yang bisa dipilih seorang budak.
Sang lelaki tambun tampak sedang mengunyah sesuatu sambil mengacungkan tongkat kayunya. Begitu melihatku telah sadar sepenuhnya ia pun meludah ke samping, meninggalkan lendir berwarna hitam berkilat kemerahan di tanah di bawah panggung. Seringai lebar menghiasi wajah liciknya, tak kalah menjijikkan dibanding ludahnya.
“Ada pembeli,” katanya. “Akhirnya, laku juga dirimu, bocah sialan.”
Pembeli? Seseorang mau membeli diriku?
“Ini hari terakhir.” Terek—si tambun botak itu—membungkuk dan mencengkeram bajuku, memaksaku berdiri. Ia seolah tak sabar lagi untuk melihatku pergi. “Aku harus pergi besok, dan jika kau tidak laku juga hari ini, terpaksa aku menjualmu ke arena untuk dijadikan santapan singa. Sebagai daging segar! Aku jual rugi, tapi masih lebih baik daripada membawa-bawa makhluk tak berguna seperti dirimu ke Karnabur.”
“Sial,” katanya lagi sambil menggeleng-geleng kesal. “Entah setan mana yang dulu membuatku mau mengambilmu. Barang jelek. Bahkan anjing dan kadal gunung pun bisa kujual lebih mahal, dan tetap lebih laku dibanding dirimu. Jalan!”
Sudah jelas, dia bukan tipe pedagang yang lembut dalam memperlakukan barang dagangannya. Bahkan di saat-saat terbahagianya ini, ketika akhirnya semua jualannya terjual tuntas dan ia bisa pergi ke ibukota dengan uang banyak, ia tetap tak mau bersikap sedikit lebih murah hati. Tak tahu diuntung.
Terek melepaskan rantai yang mengikat kakiku ke tiang kayu di atas panggung, ajangku berpajang saat siang—saat malam tentu saja aku bersemayam di kandang. Posisi tiangku ada di pojok paling utara, sementara belasan tiang lainnya berjejer lurus sampai ke pojok selatan, semuanya sudah kosong ditinggalkan penghuni sementaranya. Mereka, rekan sesama budak yang tak ada gunanya lagi dikenang bahwa mereka pernah hidup di dunia ini—seperti halnya aku. Tapi tetap saja aku tak bisa melupakan mereka sepenuhnya.
Aku masih ingat gadis kecil yang dijual tepat di sampingku—umurnya mungkin belum sampai sepuluh tahun. Ia berambut hitam dan berkulit kuning; aku yakin dia sebenarnya adalah orang Madhirian asli, bukan berasal dari negeri-negeri jajahan seperti Belen, Nubin, Tartis atau Duinar. Keberadaannya di sini adalah bukti bahwa ada sisi gelap di balik gemerlapnya negeri Madhirian. Di negeri ini tetap ada orang-orang sangat miskin yang tak punya pilihan lain selain menjual anak-anak mereka jika masih ingin tetap hidup.
Bagaimanapun gadis itu beruntung, kelihatannya, karena ia diambil oleh keluarga terpandang dari Karnabur. Ia akan belajar menjadi pelayan yang baik di dalam kastil, dan suatu hari nanti mungkin bisa memperbaiki nasibnya. Ia tidak sesial dua wanita cantik berambut merah yang dirampas dari desanya di Tartis. Di hari pertama penjualan, mereka sudah dibawa oleh pemilik rumah bordil, juga dari Karnabur. Orang lain bilang mereka beruntung karena nanti bisa mendapat uang banyak, tapi aku bilang—hanya dalam hati tentu saja—sial.
Nasib kurang beruntung lainnya juga dialami lelaki kekar berkulit gelap yang dipajang tiga tiang dari tempatku. Ia berasal dari Nubin, dan aku yakin di sana dia adalah seorang prajurit yang baik. Negeri itu baru saja kalah perang, dan para prajurit Madhirian membawanya kemari. Kemarin seorang bangsawan—mengakunya begitu, walau mungkin dia hanya seorang penjudi—membelinya untuk diadu melawan singa di arena. Si orang Nubin bilang dia beruntung karena akhirnya bisa mati dalam sebuah pertarungan. Tapi aku bilang, sial.
Aneh, mengingat mereka semua membuatku seperti merasa sedikit kehilangan begitu aku berjalan menuruni panggung. Gila.
Untunglah aku tak sampai terhanyut. Ada sesuatu yang lain, yang membuat jantungku berdebar begitu aku sampai ke tenda pembeli. Aku punya masalah sendiri sekarang.
Di tempat itu telah berdiri sesosok tubuh langsing, yang tampak gelap karena memunggungi cahaya matahari. Ia satu kepala lebih tinggi dariku, dan mengenakan penutup kepala yang tersambung dengan jubah panjang yang menutupi tubuhnya hingga ke lutut. Seluruhnya berwarna coklat gelap. Wajahnya tidak tampak, tapi aku dapat merasakan sorot matanya yang tajam ke arahku.
“Tuanku.” Terek membungkuk hormat ke sosok misterius tersebut. Ia melirik sejenak ke arahku lalu melanjutkan, “Bagaimana, anda memang ingin mengambilnya? Harganya tujuh ratus sazet. Setuju?”
“Terlalu mahal,” jawab si jubah coklat. Suaranya serak. “Jangan membodohiku. Tiga ratus sazet, tidak lebih.”
“Bocah ini berasal dari Belen. Memang agak kurus, tapi dia sehat dan kuat.” Tak disangka, Terek bisa juga memujiku. Tentu saja, itu demi keuntungannya belaka. “Perlu kutunjukkan giginya?” Tanpa menunggu jawaban ia langsung mencengkeram rahangku, memaksaku membuka mulut. “Lihat. Bersih, bukan? Tak ada yang bolong.”
“Tubuhnya?”
Terek meggedikkan kepala ke arahku. “Buka bajumu.”
Aku terpaku sesaat mendengar perintahnya itu, namun akhirnya aku pun melepaskan pakaian. Setiap helainya, tanpa kecuali.
Aku menatap kosong ke depan, mematikan perasaan maluku, dan membiarkan calon pembeliku memperhatikan setiap sudut tubuhku. Ia berkeliling, dari depan ke belakang dan kembali ke depan.
“Kulihat ada bekas cambukan di punggungnya,” katanya kemudian.
Terek mengangkat bahu. “Bukankah itu sudah biasa? Setiap budak yang pernah bekerja di tambang pasti pernah dicambuk minimal sekali sehari.”
“Kalau yang ini …” Si jubah coklat menunjuk tiga lingkaran berwarna hitam yang tegambar tepat di tengah dadaku. Tiga lingkaran itu saling beririsan membentuk segitiga yang mengarah ke bawah. “… kau bisa menjelaskan?”
“Itu …” Terek kembali mengangkat bahu. “… mungkin cap yang diberikan untuk setiap budak di sana. Anda tahu kan, para peternak juga biasa memberi cap sapi atau kerbau mereka?”
“Cap?” Tamunya mendengus. “Bodoh.”
“Eh?” Alis Terek terangkat. “Maksud Tuan?”
“Cap semacam itu biasanya dipasang di dahi atau pipi,” jawab si jubah coklat datar. “Tapi … tak usah kau pikirkan.”
“Oh … baik.” Terek menggaruk kepala botak dan perut gendutnya bersamaan. Ia mengayunkan tongkat menyuruhku kembali mengenakan pakaianku. “Begini, Tuan. Yang paling penting, dia adalah seorang Belen. Kuyakinkan anda, walaupun tidak sekekar orang-orang Nubin, orang-orang Belen banyak guna—“
“Aku tahu soal Belen. Tak perlu mengajariku,” tukas jubah coklat. “Dengar, Tuan. Jujur saja, aku punya lima ratus sazet di kantungku. Tapi jelas, aku tak berniat membuang semuanya untuk bocah ini. Jadi terimalah tawaranku, jika kau seorang yang bijak.”
Ada kewibawaan yang terasa dari nada suara orang tersebut, dan mestinya itu bukan perasaanku saja. Terek juga merasakannya. Sang pedagang itu menatap lawan bicaranya beberapa saat, dan akhirnya mengangguk, menjawab dengan nada sedikit memelas. “Tuanku, aku membeli bocah ini dari para prajurit dengan harga empat ratus sazet, dan setelah itu aku juga telah memberinya makan enak sebanyak paling tidak lima puluh sazet. Bagaimana mungkin aku menjualnya di bawah itu?”
Makan enak? Pembohong besar. Dia berbohong dua kali dalam sekali tarikan napas. Yang pertama, dia sebenarnya hanya membeliku seharga dua ratus sazet.
“Para prajurit yang membawanya?” Tamunya itu punya pikiran lain.
“Pasukan Jubah Merah.”
“Kapten Tabber dan anak buahnya?” Si jubah coklat mendengus. “Kau yang tolol karena mau berdagang dengan cacing-cacing pengecut seperti mereka. Kalau mereka ada di sini, akan kutendang pantat mereka satu per satu, dengan senang hati. Tapi salahmu sendirilah. Sekarang, dengar tawaran terakhirku. Tiga ratus lima puluh sazet. Ambil atau tidak sama sekali.”
Terek terdiam, lalu menghela napas panjang. “Setuju.”
“Bagus. Kalau begitu buka rantai di tangan dan kakinya.”
“Kau yakin?” Terek menatapnya kurang yakin. “Dia bisa lari, atau mencelakaimu.”
“Tidak. Dia tidak akan melakukannya, jika dia pandai.” Si jubah coklat memandangiku lekat-lekat.
Apa ini? Apa dia mengancamku?
“Bagaimana jika dia memang tidak pandai?” tanya Terek lagi. “Lihat saja wajahnya. Sangat meyakinkan bodohnya, bukan?”
“Itu bukan urusanmu lagi. Lepaskan dia.” Jubah sosok misterius itu tersingkap sedikit. Rupanya sedari tadi kedua tangannya terlipat di depan dada, sambil memeluk sebuah pedang panjang bersarung warna hijau penuh ukiran warna emas, yang telah kehilangan kilaunya. Tangan kirinya masih memegang pangkal pedang tersebut, sementara tangan kanannya turun merogoh kantung kain yang tergantung di pinggangnya. Ia meraup kepingan uangnya, dan meletakkannya satu per satu di telapak tangan Terek. Tujuh keping—tiga ratus lima puluh sazet.
Itulah hargaku. Naik seratus sazet berarti. Apakah berarti juga hargaku akan semakin naik semakin lama aku menjadi budak?
“Baik, kalau itu maumu.” Terek tersenyum lebar. Wajahnya begitu cerah saat ia melepaskan rantai yang mengikat kedua kakiku, dan juga tanganku. Ia lalu menepuk-nepuk pipiku. “Nah, jadi anak baik ya? Turuti semua keinginan tuan barumu ini. Oh ya, satu lagi …” Ia menoleh ke arah pembelinya. “… dia bisu.” Senyum licik penuh kemenangan tersungging di wajah besarnya.
Tapi tanpa diduganya, si jubah coklat ternyata tak terpengaruh. “Tidak masalah.”
“Huh? Kau sudah tahu?”
“Aku bilang, tidak masalah buatku,” jawab orang misterius itu dingin. Benar-benar aku ingin melihat seperti apa ekspresinya saat ia memandangiku sekarang. Sayang wajahnya masih terus tertutup oleh tudungnya. “Tapi dia punya nama kan?”
Terek mengangkat bahu. “Aku memanggilnya Bisu saja.”
Tuanku—orang misterius ini sekarang tuanku, dan aku harus mulai membiasakan diri menyebutnya begitu—memandangiku lagi. “Kau punya nama?”
Nama? Namaku hanya untuk masa laluku. Aku sudah belajar untuk melupakannya sejak bertahun-tahun yang lampau.
Aku menggeleng.
“Kau tidak keberatan kupanggil Bisu?”
Aku menggeleng lagi. Tak masalah buatku. Sudah terlalu banyak orang yang memanggilku seperti itu; aku sudah terbiasa.
Ia diam sejenak, lalu berkata, “Tidak. Aku tidak akan memanggilmu seperti itu. Lebih baik kupanggil kau Belenir. Bagaimana?”
Belenir berarti ‘bocah laki-laki Belen’. Dengan umurku saat ini, sebenarnya aku sudah tak pantas lagi dipanggil begitu; itu adalah panggilan untuk anak kecil. Tapi memang, panggilan itu terasa lebih enak didengar dibanding ‘Bisu’.
Aku kini mengangguk.
“Bagus. Itu namamu sekarang. Belenir.”
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
January 17th, 2010 at 10:15 pm
Another good work.
Hm, sepertinya bahan bacaan sudah habis deh.
January 17th, 2010 at 11:37 pm
heheheh…
)
yang lain masih disimpen dong.
atau yg udah jadi dalam bentuk buku tuh.
January 18th, 2010 at 7:49 am
Tapi bukunya belum nongol juga tuh.
Jadi aja gua berkelana di sinih.
Rencananya setelah akkadia, apa lagi nih?
Somniterra?
Sepertinya aku paling tertarik ama Ordelahr.
January 18th, 2010 at 8:29 am
somniterra sedang dijajaki.
hmm… ordelahr ya? hmm… *menimbang-nimbang*
June 27th, 2010 at 8:09 am
Masih tetap menarik. Padahal udah berulang-ulang bacanya. ^_^
June 27th, 2010 at 10:24 am
hmm… kapan mau diterusin ya nulis cerita yang ini…
June 27th, 2010 at 11:32 am
Perasaan semua cerita Kakak bersambung dan gak pernah dilanjutin. (kecuali beberapa cerita)
June 27th, 2010 at 2:10 pm
oh iya itu salah satu penyakit kronis yang sebaiknya tidak ditiru. kalo udah mulai, sebaiknya memang harus diselesaikan. hehe…
yg jadi masalah kemudian adalah jika banyak ide yang keluar, lalu ditulis. akhirnya ya itu, mana yg mesti diselesaikan terlebih dulu.
June 27th, 2010 at 2:39 pm
Kayaknya sedang menasehati diri sendiri.
Kenapa gak diselesaikan dulu baru di-publish?
June 27th, 2010 at 7:21 pm
ah… keinginan mengekspresikan diri. itu ajah… heheheh…
June 27th, 2010 at 7:45 pm
Buat cerpen aja. Lebih pendek.
June 27th, 2010 at 7:58 pm
udah bikin tuh cerpen2 100 kata.
apa itu kurang pendek?
heheheheh…
June 27th, 2010 at 8:09 pm
Bukan kurang pendek, tapi kurang panjang. Setidaknya 1000 kata.
June 28th, 2010 at 9:40 am
pengen juga sih…
nanti deh dibikin-bikin…