”Naik sekarang?” sang sopir bertanya.

”Nanti,” jawabku. Aku masih tetap berdiri di sampingmu yang terus termenung di kursi taman.

Sudah terlalu lama, Sayang.

Lihatlah lelaki yang kini menghampirimu, menyentuh lembut bahumu sambil berkata, ”Menikahlah denganku.”

Ya, menikahlah dengannya.

Tapi dalam gelisah kau tak mengangguk ataupun menggeleng.

Apa harus kuucapkan?

Aku coba berbisik, ”Sayang, menikahlah dengannya. Aku ikhlas.”

Kau pun menangis. ”Ya.”

Ah, kau bisa mendengarku, bahkan menjawabku.

Terima kasih, Tuhan.

Ketika sang sopir bertanya lagi, ”Naik sekarang?”, kini aku bisa tersenyum.

”Ayo! Urusanku sudah selesai.”

Selamat tinggal, Sayang. Semoga Tuhan mempertemukan kita di surga; sopir bajaj putihku sudah menunggu.

Trungtungtungtungtung.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled