Bisakah kita melindungi setiap karya tulis yang kita buat, secara hukum? Apa yang dimaksud dengan Hak Cipta? Dan bagaimana mendapatkannya? Ini ada sedikit pengetahuan yang semoga bermanfaat.

Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu. Pencipta bisa satu orang atau beberapa orang, namun jika suatu ciptaan diciptakan dua orang atau lebih maka yang dianggap sebagai pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan itu, atau jika tidak ada orang itu, yang dianggap sebagai pencipta ialah orang yang menghimpunnya, dengan tidak mengurangi hak cipta masing-masing atas bagian ciptaannya.

Perlindungan suatu ciptaan timbul secara otomatis sejak ciptaan itu diwujudkan dalam bentuk yang nyata. (Artinya kita sudah langsung menjadi pemegang hak cipta atas setiap karya yang kita buat, dalam media apapun, asal bentuknya nyata). Pendaftaran ciptaan tidak merupakan suatu kewajiban untuk mendapatkan hak cipta. Namun demikian, pencipta maupun pemegang hak cipta yang mendaftarkan ciptaannya akan mendapatkan surat pendaftaran ciptaan yang dapat dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan tersebut.

Pemegang hak cipta dapat memberikan Lisensi atau izin kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu. Hak terkait di sini adalah hak eksklusif yang berkaitan dengan hak cipta yaitu hak eksklusif bagi pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukkannya; bagi produser rekaman suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi lembaga penyiaran untuk membuat, memperbanyak atau menyiarkan karya siarannya.

Perlindungan atas suatu ciptaan (dalam hal ini adalah karya tulis) berlaku selama hidup pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah pencipta meninggal dunia. Jika dimiliki 2 (dua) orang atau lebih, hak cipta berlaku selama hidup pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun sesudahnya.

Lalu bagaimana mengajukan permohonan pendaftaran ciptaan?

  • Mengisi formulir pendaftaran ciptaan rangkap dua (formulir dapat diminta secara cuma-cuma pada kantor Ditjen Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia), lembar pertama dari formulir tersebut ditandatangani di atas meterai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah);
  • Surat permohonan pendaftaran ciptaan mencantumkan:
    • Nama, kewarganegaraan dan alamat pencipta;
    • Nama, kewarganegaraan dan alamat pemegang hak cipta;
    • Nama, kewarganegaraan dan alamat kuasa;
    • Jenis dan judul ciptaan;
    • Tanggal dan tempat ciptaan diumumkan untuk pertama kali;
    • Uraian ciptaan rangkap 3;
  • Melampirkan bukti kewarganegaraan pencipta dan pemegang hak cipta berupa fotocopy KTP atau paspor;
  • Melampirkan surat kuasa, bilamana permohonan tersebut diajukan oleh seorang kuasa, beserta bukti kewarganegaraan kuasa tersebut;
  • Apabila permohonan pendaftaran ciptaan diajukan atas nama lebih dari seorang dan atau suatu badan hukum, maka nama-nama pemohon harus ditulis semuanya, dengan menetapkan satu alamat pemohon;
  • Melampirkan contoh ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya atau penggantinya;
  • Membayar biaya permohonan pendaftaran ciptaan sebesar Rp. 75.000;
  • Surat permohonan pendaftaran ciptaan hanya dapat diajukan untuk satu ciptaan.

Saran buat para penulis yang telah menerbitkan bukunya—walaupun katanya semua ini sudah diurus oleh pihak penerbit—ada baiknya mengkonfirmasi lagi secara langsung ke penerbit, apakah benar mereka telah mendaftarkan karya anda ke Ditjen HKI. Bisa dicek secara online melalui situsnya di sini: http://www.dgip.go.id/ebscript/publicportal.cgi.

Dan buat kita yang berniat menerbitkan buku, walaupun sudah disebutkan di atas bahwa hak cipta otomatis timbul begitu kita mencetaknya dalam bentuk buku atau bahkan dalam bentuk tulisan di internet, ada baiknya kita mendaftarkannya dan mencetak bukti bahwa karya kita terdaftar. Jika karya kita tercatat, kita akan punya posisi kuat di pengadilan jika nanti ada kasus (btw, di sini saya tidak ingin OOT bahwa di negeri kita mungkin yang paling kuat adalah yang paling berduit. heheheh…).

Ditjen HKI akan memproses pendaftaran sekitar  tiga bulan (mestinya),  dicek dan dievaluasi. Setelah disetujui nanti mereka akan memberikan Surat Pendaftaran Ciptaan. Nah, surat inilah yang seharusnya dipegang oleh setiap penulis.

Anda sudah punya?

Formulir Pendaftaran Ciptaan

UU no 19 tahun 2002

UU no 19 tahun 2002 – Penjelasan

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

18 Responses to “Bagaimana Mendapatkan Hak Cipta”

  1. 1
    Serpentwitch Says:

    hmm jd cm materai 6000 sama bayar 75000 doang? kynya waktu gw baca di web yg HKI itu harganya ratusan ribu…

    btw, sekalian cari tau tentang ISBN dan barcode dunk hehe. Ktnya sih untuk self publishing, kita cm perlu hak cipta, ISBN, dan kemudian barcode. Oh iya, halaman di awal buku yg tentang copyright itu kita dapet atau ngetik sendiri yah?

  2. 2
    Villam Says:

    iya, jeff. 75.000 doang, dan semoga gak ada pungli di sana. hahahah…
    tapi kalo software komputer 150.000 (kalo gak salah).

    oke, ntar gue cari tau tentang gimana ngedapetin ISBN dan barcode.

    nah kalo copyright yang di awal buku itu, seperti gue bilang sebelonnya, itu bisa langsung kita tuliskan sendiri, karena bentuk apapun yang kita buat, apakah sudah berupa buku atau masih tulisan di internet, sebenarnya kita udah dapet hak ciptanya. tapi secara hukum itu belum kuat, sebelum kita memegang langsung di tangan kita Surat Pendaftaran Ciptaan yang dikeluarkan negara. itulah nanti yang jadi bukti awal di pengadilan jika ada kasus di kemudian hari.

  3. 3
    Serpentwitch Says:

    hee… ketik sendiri tuh? jd tinggel ambil buku lain yg udah ada, nyontoh format dr halaman copyright yg mereka tulis buat buku kita sendiri? Termasuk yg tentang pasal dan denda itu?

    Gw takutnya sembarangan nulis lembar hukum ky gt tiba2 gw dituntut :P

    Dan yah, melihat administrasi di Indo sangat korup, kita bakal dioper2 ke berbagai instansi dan dipersulit ampe keluar duidnya ratusan ribu. -__-

  4. 4
    Villam Says:

    hayyah… nulis copyright itu memang hak kita kok, siapa yang mau menuntut?

    yang jadi soal kemudian adalah, jangan sampe tulisan copyright itu cuman jadi macan ompong doang kalo nanti ada sengketa, gara-gara kita gak punya bukti yang diakui secara hukum (negara) bahwa kita adalah sang pemegang hak cipta.

    makanya, ntar gue juga mau coba-coba daftar, bener kagak tuh biayanya cuman segitu. semua harus dicoba sendiri biar paham. jangan mau dikadalin terus. hehe…

  5. 5
    baw Says:

    hm… kayanya serius coba mandiri nih..
    bagus tuh gw dukung. mencoba ‘jalan baru’
    eh udah coba kirim ke majalah? biasanya kan ada sayembara begitu
    sapa tau nyantol..
    tapi kalo melihat cerita lo yang banyakan perang, gw jadi mikir kira2 majalah apa ya.. majalah militer kali yak.. hehehe..

    btw, belakangan agak susah masuk kemari, gak tau masalah dimana
    mungkin inet kantor gw lagi lemot..

  6. 6
    Villam Says:

    prioritas pertama gue tetap, baw, yaitu menulis dan membuat karya yang terbaik yang gue bisa. baru kemudian setelah punya minimal 3 (tiga) karya yang siap diluncurkan, masuk ke prioritas berikut, yaitu coba menerbitkan, lewat penerbit atau self-publishing. mudah-mudahan bisa dijalanin semua prosesnya tahun depan.

    kalo ke majalah, hmm… kagak kepikiran sama sekali. kalo jaman gue dulu gue mungkin bakal nekat kirim ke majalah HAI misalnya. tapi kalo sekarang sih enggak. udah gak tau dunia persilatannya… hehe…

    internet kantor lagi lemot? hahahah… nasib…

  7. 7
    baw Says:

    iya sih yak..
    menurut gw majalah punya ‘faktor kali’ yang gede banget sebagaimana media lain semisal radio/tv.
    bagus untuk membangun brand diri, sekali kirim (kalo diterima) karya kita bisa dinikmati banyak orang, yang mungkin lebih banyak dari penerbitan yang rata2 ‘cuma’ 3000 eks.
    well, its just an alternate way..

    soal komitmen akhir taon lo, kayanya efeknya positif juga tuh ke gw
    setelah hampir setaunan gak nulis2 gara2 kompi gw njebluk dan sukses memusnahkan semua draft cerita gw, sekarang jadi betah lagi nongkrongin kompi malem2.. hehehe..
    semoga lekas selesai..

  8. 8
    Villam Says:

    betul tuh. membangun brand.
    gue inget banget dulu penulis macam arswendo, gola gong, hilman dan lain-lain mulai ngetop gara-gara masuk HAI. banyak cerita fantasi juga dulu di sana.
    sayang kalo jaman sekarang, gue dah bener-bener buta dunia permajalahan. sekarang apa sih majalah yang prospektif buat dikasih cerita fantasi remaja? kayaknya gak ada. atau beneran gue gak tau.

    nah, emang kalo soal komitmen, lebih asik kalo bareng-bareng kan? jadi bisa saling mengingatkan dan menyemangati. kalo komitmen sendirian–walaupun sebenarnya ini bentuk komitmen yang paling bagus–seringkali gagal, kecuali kita bener-bener pribadi yang kuat. hahah…

  9. 9
    Serpentwitch Says:

    majalah ya… buat iklan buku gw kl udah terbit aja de hehe. wa jg dah ga tau perkembangan majalah sekarang. Taunya palingan ada cerita macem RPN di majalah2 game.

    Soal komitmen. yah, how far will you go for your dreams? (Gah jd inget kata2 di thread MLM Tianshi yg lg gw perangi XD)

    Komitmen gw sih, harus bisa terbitin Felgirth, dan harus melalui self publishing XD

    Soalnya gw benci kl success rate project gw berada di tangan orang lain dan berbagai macam faktor X yg ga bisa gw kendalikan. :P I only go to war when I know I can win. hehe.

  10. 10
    Villam Says:

    huh… iya tuh kalo RPN malah udah punya tempat di majalah ya?

    kalo soal nerbitin, ya yang pernah dibilang dulu, menerbitkan buku itu sebenarnya gak susah-susah amat kok. tinggal cetak sebagus2nya, daftar hak cipta dan ISBN. udah deh jadi.

    yang repot kemudian adalah gimana memasarkannya. nah perjuangan lebih berat ada di sana. kudu dicari link-link buat jualannya, dan siap-siap keluar duit banyak buat prosesnya.

  11. 11
    Serpentwitch Says:

    satu yg pasti gw samperin kl selfpublish itu web http://www.bukukita.com

    disitu bisa order online pesan antar, bukunya selalu lebih murah dr toko buku. Dan yg paling penting sistem bayarnya, disitu bisa sistem cash on delivery. buku dianter ampe depan pintu baru dibayar langsung. Ini nilai plus yg sangat baik menurut gw.

    Gw sendiri juga pengen buka web dan delivery semacam itu untuk bukuku nanti. Tapi gw malah mikir ke nasib kurirnya hehe. satu orang kurir bisa nganter brp buku? gmn kl yg satu di JakUt dan satu lagi di JakSel? Bensinya brp? Trus gaji yg manusiawinya brp? Wkkkwkwkw pusing deh gw.

    Takutnya kl self publishing saking sibuk ngurus pemasarannya sampai ga sempet nulis sekuel bukunya :D

  12. 12
    Villam Says:

    nah itu dia. emang dijamin pasti bakal sibuk, sehingga mengurangi waktu buat menulis. tapi, gue selalu percaya bahwa di jaman sekarang, yang makin maju, segala sesuatu menjadi lebih dipermudah. dan pasti jalan buat sukses juga makin banyak, kalo emang niat kita udah bulat.

    btw coba masuk juga ke http://www.bookoopedia.com
    di bawahnya ada link yg menawarkan kalo ada writer dan publisher yg mau menerbitkan bukunya lewat sana.

  13. 13
    panah hujan Says:

    jadi kepingin mempatenkan semua cerpen-cerpenku, nih.. hahahahaha.. ngga ikutan anti-copast di k.com, langsung ikutan paten-patenan di pemerintahan.. hahaha.. :)

    panah hujan’s last blog post..* Cerpen – Cinta yang Sia-Sia

  14. 14
    Villam Says:

    kalo emang serius, coba aja diprint dan dijilid rapi dalam bentuk buku, dan kirim ke negara. hehehe… sekalian aja self publish…

  15. 15
    Kazegalewind Says:

    Hmm… bukannya dipasang di website juga udah berarti kita yang punya ya patennya? Ga perlu repot2 njilid buku kan?

    Kazegalewind’s last blog post..Nation Watch: Valkan

  16. 16
    Villam Says:

    betul, danny. begitu dipasang di website sebenarnya secara otomatis kita sudah memiliki hak ciptanya. itu disebut dalam undang-undang. tapi seperti sudah dibahas di atas, jika nanti ada kasus/dispute di pengadilan, secara hukum itu belum kuat, sebelum kita memiliki surat pendaftaran ciptaan yang dikeluarkan oleh negara atas materi yang kita kirimkan pada mereka. terlebih karena isi/content di website bisa berubah-ubah, sehingga pembuktiannya nanti bakal lebih sulit, tidak seperti hardcopy.

  17. 17
    panah hujan Says:

    I’ll try next decade .. hahaha.. atau bagusan next century aja, yah? :D

    panah hujan’s last blog post..* Cerpen – Cinta yang Sia-Sia

  18. 18
    Villam Says:

    next century?
    I’ll meet you there… hehe…

Leave a Reply

CommentLuv Enabled