Penulis Yang Membuat Peti Matinya Sendiri (Tapi Semoga Tidak…)
Posted by: Villam in About Writing, tags: kritik cerita, Tips Menulis
Barusan saya berkunjung ke blog seorang penulis fantasi, yang novel pertamanya baru saja masuk dalam nominasi ajang penghargaan literatur di Indonesia. Terlepas dari apakah kualitasnya memang baik atau tidak, tetap saja keberhasilan tersebut patut diapresiasi. Dengan ini, diharapkan genre fiksi fantasi bakal tetap eksis, diakui keberadaannya.
Namun yang kemudian membuat saya terkejut, adalah kalimat terakhir yang diucapkan sang penulis tersebut di postingan blognya itu. Dia bilang, buat siapapun yang telah mengkritik karyanya dengan tidak sopan, you all can EAT my sh*t.
Saya hanya bisa mengelus dada. Buat saya, alih-alih mendapatkan respek dari banyak orang, dia justru telah membuat sendiri peti matinya. Kalimat tersebut, walaupun hanya ditulis di blog, telah menghancurkan sendiri reputasinya, dan juga karirnya sebagai penulis. Dia pikir orang-orang bakal mau membaca karya dia berikutnya (seandainya berhasil diterbitkan) setelah mereka membaca pernyataan dia yang tidak sopan semacam ini?
Padahal penulis itu bukan hanya penulis. Mereka juga pemasar. Dan pemasar yang baik dan berhasil adalah mereka yang bisa berbaik-baik dengan lingkungannya (di dalamnya termasuk pembaca, rekan penulis, penerbit dan lain-lain), yang bisa menerima kritikan sekeras apapun dengan baik, tidak emosional, karena paham bahwa kritikan yang paling keraslah yang bakal membuat mereka menjadi penulis yang lebih baik.
Jadi pesan saya, buat siapapun writer wannabe, jangan membuat blunder semacam ini. Silakan kalau mau ngedumel dan memaki, tapi di kamar mandi saja, jangan di ruang publik.
Ingat juga pepatah: berbaik-baiklah pada orang yang kita temui saat kita berjalan naik, karena merekalah yang akan kita temui saat kita berjalan turun.
Di sini aku belajar.
Perkembangan terakhir:
Saya senang bahwa ternyata sang penulis yang bersangkutan telah mengubah postingan blognya, yang akhirnya ditutup dengan kalimat yang indah dan manis.
Untukmu, kawan:
Anda telah kembali mendapatkan respect dari saya. Dan semoga sukses dengan karya anda yang sekarang, dan juga karya anda berikutnya nanti. Jalan masih panjang, semua ini baru awal.
Salam.





Entries (RSS)
November 10th, 2008 at 4:55 pm
too shame..
thnx man, artikel yg sangat bagus
November 10th, 2008 at 5:03 pm
iya. menyedihkan juga.
tapi untungnya dia menulis itu di blog dia sendiri, jadi kalo dia kemudian sadar (agak meragukan sih… hehe…), mungkin dia bisa menghapus kalimat tidak sopan tersebut.
November 10th, 2008 at 6:39 pm
villam alamat blog itu penulis dimana?
November 10th, 2008 at 7:25 pm
gampang mak,
kan lo udah tauk siapa penulisnya,
langkah pertama, masuk ke fikfanindo-nya si om pur,
langkah kedua, masuk ke komentar dari repiu buku si bersangkutan,
langkah ketiga, klik nama si bersangkutan selagi dia reply komen di blog-nya om pur,
dan bingo, ente sudah berada di blog si bersangkutan dink.
November 10th, 2008 at 8:49 pm
Strategi pemasaran yang ‘bagus’
, meniru sensasi para artis…
Perasaan dengan adanya kritik (kalau aku) malah senang karena bisa tahu kekurangan karyanya dan bisa jadi bahan revisi di masa mendatang.
Lagipula komentar om Pur biar pedas tapi membangun, dan yang penting, karya yang dikomentarin diiklankan ke penikmat fantasi dengan gratis.
November 10th, 2008 at 10:20 pm
jadi penasaran… siapa ya? siapa ya?
November 10th, 2008 at 10:24 pm
aha… ic… *senyum2 sendiri*
November 11th, 2008 at 12:58 am
wah ada toh penulis seperti itu? saya heran, justru saya sangat senang kalau novel saya dikritik, walau menang dan dinominasikan buat kla juga… saya selalu menyarankan teman2 saya yang sesama penulis untuk menelan kritik, walau pahit, tapi kita harus menelannya agar bisa membuat cerita yang selalu bagus dan segar.
November 11th, 2008 at 8:22 am
gue yakin semua penulis, termasuk dia, aku dan kau (halah…), semuanya senang dikritik kok. tapi batas antara yang pedas dan tidak pedas, antara yang membangun dan yang tidak membangun, kadang sangatlah tipis, dan wajar jika lalu ada emosi yang timbul. toh penulis juga manusia.
gue pribadi dalam hal kritik-mengkritik juga selalu mencoba untuk sopan, dan jujur kesopanan macam itu pula yang ingin gue terima dari orang2 yang mengkritik karya gue. tapi perlu kita sadari bahwa, kita gak bisa mengontrol semuanya dalam hidup, termasuk di dalamnya kritik. adalah wajar muncul puja-puji yang memabukkan, dan wajar pula muncul hinaan-hinaan yang menyakitkan. dan semua itu HARUS BISA kita terima.
hinaan tidak akan membuat kita mati, tapi justru membuat kita menjalani hidup dan karir sebagai penulis jadi lebih kuat.
November 11th, 2008 at 9:26 am
Ini Calvin, yg juara 3 DKJ?
Waa, kucari2 bukumu, Jukstaposisi, ternyata nggak ketemu T_T
Temenku sangat merekomendasikan itu, aq jadi penasaran
November 11th, 2008 at 9:39 am
iya ini emang Calvin, pengarang Jukstaposisi. barusan aku mampir juga ke blognya. kalo mau cari bukunya dan gak ada di toko buku, beli online juga bisa. Gagasmedia banyak jalur onlinenya. Gak kayak … (hehe… gak jadi ah).
November 11th, 2008 at 9:39 am
eh dian! saya udah baca zauri, lumayan suka loh, ide ceritamu menyegarkan (apa karena kita sama2 penggemar FF ya?)
. Cerita kamu sangat mengalir dan imajinatif, aku sekali baca langsung beres karena. salut!
novel berikutnya kapan keluar ni? aku demen novel2 fantasi, sayang penulis genre ini dikit banget di Indonesia.
November 11th, 2008 at 9:41 am
^eh aduh, ngetiknya kecepetan, maksudku
“aku sekali baca langsung beres karena sangat enjoy”
November 11th, 2008 at 9:44 am
hahaha… gimana kalo novelmu berikutnya juga bergenre fantasi, calvin?
btw, emang jukstaposisi bergenre apaan?
November 11th, 2008 at 9:54 am
pas saya nulis dulu, surealisme, novel kedua saya scifi, udah beres, tapi karena ada sesuatu, belum bisa saya kirim ke publisher, mudah2an tahun depan.
tapi saya juga sedang berencana membuat novel fantasi kok, cuma sedang memikirkan cara supaya “ga norak”, maklum, saya juga suka baca anime, manga, dan video game, dan mau tak mau terpengaruh dari sana. Tapi entah kenapa kalau novel fantasi yang bergaya terlalu manga rasanya kurang tepat, agak mengurangi nilai estetikanya. (tapi ini menurut pendapat saya, mungkin yang lain baik2 saja mengenai ini)
yang paling menganggu sih kalau ada adu kekuatan yang pakai sihir2an atau skill tertentu, lalu nama skillnya disebut, aduh ngebayanginnya gimana gitu, -_-
November 11th, 2008 at 10:09 am
hoho… surealisme… istilahnya aja udah cukup abstrak, dan oleh beberapa orang sering dikategorikan sebagai fantasi jugak. apakah di dalamnya ada kaitan dg mimpi? hmm… jadi pengen baca, soalnya gue juga lagi bikin novel tentang mimpi. hahahah…
yeah, kita pasti akan selalu terpengaruh dengan apa yang kita tonton dan baca. mungkin bukan kurang tepat, tapi lebih ke soal selera. penggemar epik fantasi mungkin gak bakal terlalu sreg dengan gaya manga, tapi penggemar manga ya pasti suka-suka aja.
November 11th, 2008 at 10:17 am
iya, pas saya nulis saya agak terobsesi dengan psikologi jungian dan simbol2 mitologi. Sedikit banyak juga terpengaruh komik klasik Nero in the slumberland.
tapi kembali lagi ke kemampuan sang penulis mengelaborasikan adegan-adegan tersebut. Ada penulis yang memakai konsep seperti itu, seperti ledgard, tapi yang saya hargai adalah dia membuat nama2 sihir dan serangannya dalam bahasa Indonesia. Novel fantasi lain juga menggunakan plot device seperti ini, tapi sayang, dia memakai dalam campur2 bahasa inggris, yang membuat nuansa jadi terasa aneh.
November 11th, 2008 at 10:28 am
ah beneran nih. gue emang mesti cari nih novel elu! hahahah…
dan iya, pada akhirnya yang penting adalah bagaimana kemampuan eksekusi sang penulis. gue pribadi lebih suka pake basa indonesia, atau construction language (basa bikinan sendiri) buat istilah-istilahnya. tapi mungkin sah-sah juga sih mau pake basa inggris, tapi syaratnya, settingnya memang di inggris atau amerika. kalo settingnya bukan di tempat itu, ya jadi kedengeran aneh dan gak logis.
November 11th, 2008 at 10:51 am
calvin, makasih dah baca zauri ^_^
prekuelnya lagi ngambang di otak, tapi kutunda dulu karena mau finishing satu novel fantasi lagi. bab satu prekuel zauri kuposting di k.com.
penggemar ff juga? suka seri yg mana?
dah nonton advent children? *ngelirik villam sambil cengengesan karena OOT di websitenya*
November 11th, 2008 at 11:04 am
wah asik, ada prekuel/sekuel zauri? mudah2an lancar ya, menurut saya universe di zauri sudah sangat bagus, mungkin berikutnya mau jadi epic fantasy?
gw sendiri main FF seri 6-10 (walau yang X belom tamat sih). Advent children pasti udah nonton donk, hahaha.
ngomong2 dian ada blog pribadi ngga?
November 11th, 2008 at 11:33 am
iya. pembahasannya udah semakin OOT nih. hahahah…
November 11th, 2008 at 6:44 pm
Barusan ke blog si “tersangka utama”, kayanya kalimat itu udah dia hapus deh. Diganti sama kalimat yang lebih sopan. Bagus deh.
November 12th, 2008 at 8:39 am
iya, memang sudah diganti.
dan tentu saja gue juga senang.
November 13th, 2008 at 5:06 pm
Calvin, try http://www.dian.kemudian.com. ato http://www.clickdian.multiply.com.
kita terusin ajah di backstage ngobrolnya :p
Villam,
soriiiii.. abis dah dicari tapi gak dapet cara buat PM Calvin. Udah dicoba ke websitenya sih. punten yah bos, nebeng sedikit lagih. luv ya!
November 13th, 2008 at 5:18 pm
heheh… kayak aku gak pernah OOT ajah…
December 7th, 2008 at 9:46 am
emm..
aku dah beli novelnya dari lama..
tapi entar minta mocca_chi baca dulu
biasanya, dia “pintar” menilai, nanti saya ikut2an komentarnya dia aja.. hehehe.
but IMHO, sih.. em.. u’re better than him, bro.. (ah u must be know)
jadiii.. semangat selalu!
December 9th, 2008 at 9:45 am
hmm…
mungkin karena aku memang kurang berdoa, michel…
thank you for your support.
btw, menyemangati orang lain sama saja menyemangati diri sendiri.
that’s good.
(halah… kayak aku bilang dulu, michel. basa inggris-indonesia campur2 gak jelas… heheh…)
December 13th, 2008 at 10:00 pm
aku yang campur-campur, nih, kak
hahahah!
ooh gitu? baiklah, saya akan menyemangati banyak orang, kalau begitu
panah hujan’s last blog post..* Coretan – Tentang Kehidupan – dan Seseorang
December 14th, 2008 at 3:15 pm
ayo saling menyemangati.
semangat itu menular.
December 24th, 2008 at 11:20 pm
anggap aja kritik sebagai pujian.. dan pujian sebagai kritik..
jalaindra’s last blog post..The New Life – Orhan Pamuk
December 24th, 2008 at 11:32 pm
hehe… kurang tajam, jalaindra…
gimana kalo anggap celaan sebagai pujian, dan pujian sebagai celaan?
December 26th, 2008 at 3:26 pm
marii saling mencela
, kalau begitu..
panah hujan’s last blog post..* Coretan – Tentang Kehidupan – dan Seseorang
December 26th, 2008 at 3:48 pm
tahu beda celaan ama kritik?
kurasa kritik lebih banyak hawa plusnya daripada celaan yang dominan minus.
kekekeke
mocca_chi’s last blog post..Termanggu…
December 27th, 2008 at 7:55 am
celaan adalah bagian dari hidup.
banyak atau sedikit, cepat atau lambat, pada akhirnya kita semua, tanpa terkecuali, toh bakal dapet.
jadi ya nikmati saja…