thumb_knightf33Pemilihan sudut pandang (Point of View / POV) adalah langkah paling strategis sebelum memulai bercerita. Sudut pandang yang berbeda dapat membuat sebuah cerita terasa berbeda juga efeknya pada pembaca, walaupun dengan plot yang sebenarnya sama.

Ada banyak jenis sudut pandang (tergantung bagaimana cara melihatnya, ada First Person/Third Person, ada Limited/Omniscient, ada Intrusive/Unobtrusive, ada Single/Multiple), dan pembahasan mengenai hal itu semua bisa sangat panjang, melebar dan argumentatif. Jadi di sini–anggap saja ini sebagai awal–saya hanya akan membahas sedikit mengenai mengapa kita menggunakan Sudut Pandang Orang Pertama (First Person Point of View / FP POV), dan apa saja jenisnya.

Pertanyaan pertama: mengapa?

Jawabnya adalah karena dengan FP POV kita membuat pembaca merasa dekat dengan tokoh POVnya / sang narator; karena seluruh dunia dilihat dari sisi tokoh tersebut. Karena dekat, kita bisa ikut merasa gembira, sedih, takut, marah dsb, dan ingin tahu apa yang terjadi pada sang tokoh sampai dengan akhir. Dan karena pembaca tidak tahu apa yang tidak bisa dilihat, didengar dan dirasakan oleh sang tokoh, maka ketegangan bisa dibangun dari ketidaktahuan tersebut. Efek hampir serupa bisa juga diperoleh melalui Third Person Limited POV.

Pertanyaan kedua: apa saja jenisnya?

Jawabnya (sejauh yang umum diketahui selama ini) ada 4 (empat), yaitu:

Pertama, First Person Central, dimana sang narator / tokoh POV bercerita mengenai kisah dirinya sendiri dari awal sampai akhir. Ini adalah sudut pandang yang paling banyak dipakai–hampir setiap penulis selalu mulai belajar bercerita melalui sudut pandang ini melalui diary masing-masing–dan relatif lebih mudah dikuasai dibanding jenis lainnya. Banyak contohnya, silakan cari dan lihat di dekat anda. hehe…

Kedua, First Person Peripheral, dimana sang narator / tokoh POV bercerita mengenai kisah orang lain yang ada di dekatnya, yang sebenarnya adalah tokoh sentral dalam cerita tersebut. Ini biasa dilakukan jika sang tokoh sentral tersebut terlalu pandai dan tahu segala hal (cerita Sherlock Holmes diceritakan melalui POV Watson, atau Poirot oleh Hastings), atau sang tokoh sentral tersebut sinting, atau unreliable (tidak bisa dipegang kata-katanya alias terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dari pembaca), sehingga tidak mungkin menjadi narator, sehingga kemudian diciptakanlah tokoh pendukung di sampingnya. Tapi ada juga pengecualian, yaitu beberapa penggunaan unreliable character sebagai narator yang berhasil, contohnya adalah pada The Murder of Roger Ackroyd karya Agatha Christie.

Ketiga, First Person Peripheral Plural, yang sangat jarang dipakai tapi ada juga yang berhasil menjadi karya bagus, dimana naratornya adalah sekelompok orang yang bercerita bersama-sama mengenai sekelompok orang lainnya, dimana yang terakhir ini adalah tokoh sentralnya. Menggunakan kata ganti ‘kami’ atau ‘kita’, bukannya ‘aku’ atau ‘saya’. Contohnya? Saya jadikan kuis saja deh, tolong carikan. hehehe…

Keempat, First Person Serial (baik tokoh Central maupun Peripheral / pendukungnya), dimana cerita berpindah-pindah disampaikan melalui satu narator ke narator lainnya. Seringkali masing-masing pemikirin narator tersebut kontradiktif. Teknik ini dipakai jika kita ingin menggali pemikiran/konflik setiap tokoh dan tidak ingin dibatasi pada satu tokoh saja. Contohnya? Silakan dicari juga. Tapi sebagai contoh, teman baik yang saya komentari di Multi POV, Multi Plot, Multi Halaman menggunakan teknik ini.

Oke, ini sedikit sharing dari saya. Semoga bermanfaat.

50 Responses to “Empat Jenis Sudut Pandang Orang Pertama”

  1. 1
    dian k Says:

    *terpana*

    where did you get this? haha.. villam, you always surprise me with your knowledge!

    First person peripheral plural, terus terang, belum pernah nemu.
    tapi apa bedanya first person serial dengan limited? kalo contohnya forever wicked, tadinya kupikir itu limited, lho.

  2. 2
    Villam Says:

    first person peripheral plural, makanya dijadiin tebak-tebakan di sini… hahahah…

    semua 4 jenis first person POV di atas memang otomatis menjadi limited kok. begitu pula forever wicked, itu first person serial, dan itu juga limited.

  3. 3
    dian k Says:

    terus kenapa dibedakan jadi first person dan limited?

    hehe.. keukeuh.. udah dibilang argumentatif..
    sori ya villam, abis penasaran.

  4. 4
    Villam Says:

    yeee… itu kan sama aja ngebedain rumah ini gede dan rumah itu kecil, lalu rumah ini berwarna merah dan rumah itu berwarna putih.
    terus kenapa dibedain jadi gede dan merah? hahahah…

    maksudnya, seperti ditulis di atas juga, tergantung bagaimana cara melihatnya, POV bisa dibedakan menjadi first person dan third person–sederhananya, dilihat dari penggunaan kata ganti orangnya: ‘aku’ dan ‘villam’, misalnya.
    dan bisa juga dibedakan menjadi limited (terbatas) dan omniscient (serba tahu)–dilihat dari sejauh mana kondisi di sekitar tokoh POV dapat diketahui oleh narator dan juga pembaca.

  5. 5
    Feline Says:

    Weleh! Kok dijadiin kuis sih? Ada hadiahnya gak nih^^? Buku Middlesex karangan Jeffrey Eugenides bukan? Tidak semua sudut pandanganya kami tapi beberapa bagian menggunakan sudut itu.

  6. 6
    MaxMax Says:

    Bukannya Sherlock Holmes itu 2nd person view, Vil?
    Dilihat dari sudut pandang Watson yang mengikuti aksi Sang Detektif.

  7. 7
    Villam Says:

    @feline, berkenankah dirimu mencuplik satu atau dua paragraf narasi cerita yang kamu sebutkan itu di sini? supaya kita bisa lihat bersama-sama benar atau tidak. tapi kalo bener, hadiahnya apa ya? hahahah…

    @maxmax, yakin itu 2nd person POV? menggunakan kata ganti ‘kau’ atau ‘kamu’ dalam narasinya?
    seperti feline, barangkali elu berkenan mencuplik satu atau dua paragraf narasinya di sini? biar bisa kita lihat benar atau tidak. heheheh…

    mengenai 2nd person POV, ini adalah teknik yang tricky. bisa bagus, tapi bisa juga gagal total akibatnya. waktu kecil dulu pernah baca cerita2 ‘Pilih Sendiri Petualanganmu’. dan belakangan kayaknya lebih banyak dipake di game-game petualangan, yang pake kata ganti ‘You’.
    You do this. You do that. What do you choose?
    semacam itu.

  8. 8
    Feline Says:

    Satu paragraf saja, itu juga masih sengaja kupotong. Soalnya paragrafnya panjang.
    Kutipan dari Midlesex(Jeffrey Eugenides):

    Dan sekarang, pada siang hari bulan Oktober yang sejuk, sekitar seminggu kemudian. Dari bagian rumah bercat kuning, dua orang gadis muncul, berpura-pura menjadi geisha. Kami menggulung rambut dan menusuknya dengan sumpit masakan Cina. Kami mengenakan sandal dan syal sutra. Kami juga memakai payung, menganggapnya sebagai payung kertas yang cantik. Aku menyanyikan lagu The Flower Drum yang tak begitu kuhafal, untuk mengiringi kami berjalan dari rumah dan menaiki tangga rumah pemandian.
    dst…

  9. 9
    Villam Says:

    ha? bener paragrafnya isinya begini? yang dimaksud ‘kami’ di sini itu dua orang gadis itu atau ada sosok yang lain?

    heheheh… kayaknya aku butuh lebih banyak baca bagian-bagian lainnya. supaya bisa jelas dulu siapa yang dimaksud dengan ‘kami’ di sini, apakah ‘aku’ dan seorang yang lainnya?

    jika ternyata kemudian lingkungan sekitar dilihat semata-mata dari sudut pandang ‘aku’ saja dan tidak dijabarkan juga dari sudut pandang seorang yang lain tersebut, maka aku akan menyebut ini sebagai First Person Central, atau First Person Peripheral jika ternyata tokoh ‘aku’ bukan tokoh utama cerita.

  10. 10
    Feline Says:

    Coba kamu baca di sini:

    http://books.google.co.id/books?id=vetypiN2T3gC&pg=RA7-PA152&dq=kami

    Kutipan itu aku ambil dari Halaman 117

  11. 11
    Villam Says:

    oke, feline…
    aku meluncur ke TKP…
    nanti dilaporkan hasil penyidikannya… heheh…

  12. 12
    Villam Says:

    ah, feline, dah kubaca bab satu Middlesex-nya, and it’s a very unique story indeed. tapi sejauh yang kulihat (bisa saja aku salah nantinya setelah kubaca lebih lanjut), itu masih tergolong ke dalam First Person Central.

    Pengarangnya, Eugenides, menggunakan kata ganti ‘kami’ dalam narasinya untuk menjelaskan keinginan sang ‘aku’ yang berusaha mendekatkan dirinya pada keluarganya. tapi dari cara dunia sekelilingnya dipandang, semua dijabarkan melalui perspektif ‘aku’ sebagai tokoh utama tunggal, bukan dari perspektif ‘kami’. Itulah kenapa aku menganggapnya sebagai First Person Central, bukan First Person Plural.

  13. 13
    MaxMax Says:

    wah, Sherlock Holmes-ku ta tinggal di Klaten. ada yang ta bawa ke Jakarta ga ya?

  14. 14
    Villam Says:

    heheheh… gue tunggu dah…

  15. 15
    dian k Says:

    contoh paragraf di atas, bener, ngebingungin buat dicari POV-nya >.<

    btw, ngeliat gambar cewek di atas langsung bikin aq bayangin angelina jolie versi lara croft di tomb raider. heheheh

  16. 16
    Villam Says:

    lara croft?
    hmm… ada kok gambar yang lebih seksi…

    cut! cut! cut!

    tentang potongan paragraf itu, bisa juga terjemahannya yang mungkin kurang cocok. dalam bahasa aslinya mungkin bisa lebih dimengerti.
    huh… repetisi ‘mungkin’…

  17. 17
    dian k Says:

    -lara croft?
    hmm… ada kok gambar yang lebih seksi…

    cut! cut! cut!-

    hahaha!
    terlambat! udah terlanjur kesebut!
    wkwkwk

  18. 18
    Villam Says:

    idih ngebahas lara croft…

    gini deh, biar nyangkut ke topik, coba perhatikan game tomb raider itu, itu jenis sudut pandangnya apa?
    hahahahah…

  19. 19
    dian k Says:

    yg mana dulu? banyak soalnya..

    aq pernah maen tapi jaman PS1, gak ampe tamat karena jenisnya FPS (First Person Shoot). lebih suka RPG.

    kalo diliat dari sisi POV, termasuk POV first person central.

  20. 20
    Villam Says:

    sebenernya bukan pas tembak2an atau adventurenya, secara kalo itu memang biasanya udah pasti first person POV. tapi biasanya kalo di game2 macam gini kan ada semacam narasi cerita di awal atau di sela-sela level. nah, di dalam narasi tersebut, kita sebagai pemain/pembaca dipanggil dengan kata ganti apa? apakah ‘I’ atau ‘You’?

    dari sini kita bisa tau apakah narasinya menggunakan first person POV atau second person POV.

  21. 21
    dian k Says:

    dulu sih ‘I’.
    jd kyk nyeritain perjalanan kita sendiri.

    kebanyakan game yg aq maenin pake second person POV.

  22. 22
    Villam Says:

    Final Fantasy pake 2nd person POV?

  23. 23
    dian k Says:

    FF 8, 9, 10, iya.

    FF 12 kyknya iya, tapi nggak sejelas serial FF sebelumnya.

    ngomong2 soal game, yg paliiing keren itu sebenernya Metal Gear. manteppp!
    dia POV-nya .. nah. binun. kadang first, tapi bbrp adegan jadi second.

  24. 24
    Villam Says:

    hoho… pergantian POV ya? menarik…

    hahahah… jadi inget masa-masa maen game…

  25. 25
    MaxMax Says:

    Pergantian POV ato inkonsistensi POV?
    klo inkonsistensi POV itu salah satu penyakitku. kadang aku bikin POV si A, trus kepleset jadi si B

  26. 26
    Villam Says:

    pertama sebelum menulis harus ditetapkan dulu, max, jenis POVnya mau seperti apa?
    - apakah First Person (menggunakan kata ganti ‘aku’ dalam narasi), Second Person (menggunakan kata ganti ‘kau’) atau Third Person (menggunakan nama tokoh POVnya)?
    - apakah Limited (penglihatan, pendengaran, perasaan terbatas sang tokoh POV) atau Omniscient (tahu segalanya yang ada di benak semua tokoh)?
    - apakah Intrusive (memasukkan pendapat pribadi sang narator) atau Unobtrusive (narasi berisi murni aksi/tindakan tanpa adanya pendapat pribadi)?
    - apakah Single (POV tunggal sepanjang cerita) atau Multiple (POV ada lebih dari satu sepanjang cerita, namun tetap harus satu di satu adegan)?

    setelah ini semua dipilih dan dipahami, barulah menulis. kesalahan-kesalahan adalah wajar terjadi, tapi jika kita udah tahu rulenya, akan lebih mudah mengoreksinya.

  27. 27
    MaxMax Says:

    ho oh…
    trima kasih pak guru villam sensei-san, ^_^

    masalahnya aku baru tahu klo penyakitku kambuh setelah ceritaku dibaca ma orang lain. biasanya aku minta tolong kakakku, baru setelah itu aku koreksi.

  28. 28
    Villam Says:

    max, sekarang elu tinggal berharap semoga kakak lu adalah orang yang paham dan kejam dalam menilai karya lu. karena penilaian dari orang semacam itulah yang paling dibutuhkan oleh penulis. heheheh…

  29. 29
    mocca_chi Says:

    wkwkwk ak lebih milih aman, pake pov 3 limited.
    pemakaian First Person Central, klo tidak dibarengin dengan kreatifitas bisa nyebabin monolog panjang yang menjemukan, sebagai mana yang bisa ditemui am orang yang baru belajar nulis *ups aku juga baru belajar

    nah, ada tips ut menghindari monolog panjang yang monoton it?

    mocca_chi’s last blog post..Antara Datang dan Pergi itu…

  30. 30
    Villam Says:

    benar, pake 3rd person memang bisa lebih netral daripada 1st person, walau sebenarnya bisa dibikin emosional juga.

    tapi soal panjang atau tidak, aku gak bisa ngasih jawaban eksak, rik, karena lebih baik dilihat kasus per kasus. ada adegan yang mungkin memang butuh monolog panjang, ada juga yang tidak. dan masalah tambah rumit, karena ada tipe pembaca yang suka monolog panjang, dan ada juga yang tidak. jadi larinya kemudian lebih ke soal selera.

    bagaimanapun memang, apapun yang berlebihan itu selalu bikin enek. aku pribadi, juga sering membatasi diri, jangan sampe bermonolog lebih dari dua paragraf, untuk menghindari kemonotonan itu.

    tapi, ada baiknya lebih baik kita sesuaikan dengan diri kita sendiri ajah. yang penting sejauh mana kamu merasa nyaman dengan tulisan kamu, panjang atau pendek, itulah yang kamu pilih. kalo menurut kamu berlebihan, ya kurangi. kalo tidak, ya lanjut saja. buat apa kita terus menulis kalo tidak nyaman dengan tulisan kita sendiri?

    heheheh… jawabannya melantur ya… seperti biasa. :-)

  31. 31
    Serpentwitch Says:

    masalahnya first person memang sering kebanyakan monologue sih, karakter utamanya ngucapin perasaannya sendiri kaya nonton sinetron gt >.< Mknya gw rada males baca first POV.

    Btw kl mau game yg 2nd person POV, mainin Persona 3/4. Nah itu jelas pake ‘you’. Dan gw blum pernah ketemu game Final Fantasy yg 2nd POV, semuanya kl menurut gw masuk ke 3rd person Omniscient (karena kita melihat dari atas dunia di sekitar tokoh utama) atau 1st person(karena kita hanya bisa membaca apa yg dipikirkan tokoh utamanya).

  32. 32
    Villam Says:

    menjadi malas membacanya? hmm… ada baiknya kita juga tidak menjudge sesuatu terlalu cepat. bisa jadi ntar elu nemuin cerita fantasi first POV yang mengesankan.

  33. 33
    MaxMax Says:

    aku mah dah biasa baca first POV. soalnya sering main visnov. menurutku ga ada masalah dengan 1st POV, bukanya trilogi Barty itu juga pake 1st POV?

    emang ga semua sih, kadang pake 1st POV-nya Bartimeaus, kadang pake 3rd POV-nya Nataniel, kadang dari Kitty

  34. 34
    Villam Says:

    iya, bartimaeus adalah contohnya.
    pada akhirnya, yang bikin membosankan atau tidak, adalah isi dan cara penyajiannya. jika yang diungkapkan adalah sesuatu yang unik dan mengalir, apapun POVnya, mestinya sih tidak membosankan.
    belum yakin? mari kita bereksperimen… heheh…

  35. 35
    mocca_chi Says:

    secara umum sih, membosankan atau kagaknya, tergantung bagaimana penulis menceirtakan. ada nopel yang judulnya “kagak disebut deh”, pake pov satu, tetapi tetep aja enak dibaca.

    eksperimen? hooh, lebih sennag berekspresimen dnegan pov ini di cerpen, cerita singkat dan padat, jadi yakin ga akan ngelantur…. (atau aku yang ngelantur yak?”

    mocca_chi’s last blog post..Untuk Dua Puluh Tiga Tahun Ini….

  36. 36
    Villam Says:

    yeah… eksperimenku juga belon beres kok, jadi belon bisa dibilang berhasil atau tidak juga. tapi paling gak udah bisa ngerasain bedanya.

  37. 37
    mocca_chi Says:

    iyak di cerpen, tapi no way di draft naskah panjang. huehuehuehue

    mocca_chi’s last blog post..Untuk Dua Puluh Tiga Tahun Ini….

  38. 38
    Villam Says:

    hehe… iya iya … kayaknya aku paham maksudmu …

  39. 39
    heinz Says:

    Lagi puter-puter nyari bahan….
    Ijin copas!
    Btw ada yang versi third person gag bos?

  40. 40
    Villam Says:

    artikel ttg 3rd person pov. dulu sih pengen bikin juga… heheh…

  41. 41
    anggra Says:

    mas villam, ada usul nih. gimana kalau semua tips2 ini kamu bukukan? jadi semacam buku tips menulis fiksi fantasi. kujamin, aku pasti beli :D

  42. 42
    Villam Says:

    hmm… mungkin nanti, kalo udah bener-bener sejago stephen king. sekarang masih terlalu cupu. :-P

  43. 43
    anggra Says:

    sekarang juga udah jago. :)

  44. 44
    Villam Says:

    baru bisa disebut jago kalo udah bikin 30 buku. heheh…

  45. 45
    anggra Says:

    ngomong2, mas villam. boleh kucopas ga? mau kubikin ebook buat konsumsi sendiri. janji deh, ga akan disebarkan.. :)

  46. 46
    Villam Says:

    mohon jg disebarluaskan ya.
    seluruh cerita tetap merupakan hak milik setiap penulis.

  47. 47
    anggra Says:

    eh? disebarluaskan? oke. thx, vil. :D

  48. 48
    Villam Says:

    eh salah.
    hahahahah… saya kira kamu lagi ngomongin cerpen2 fantasi fiesta. kalo yg itu jangan disebarluaskan.
    kalo yang ini ya boleh saja dicopas.

  49. 49
    anggra Says:

    ya ampun! sepertinya sudah pusing ngurusin 74 cerpen yang masuk ya? :D :D
    oke, tentu saja.
    dan good luck buat penjuriannya ya :)

  50. 50
    Villam Says:

    iyah… lumayan pusing… hahah…

Leave a Reply