Hanya Kuat Mengedit Cermat di Bab-bab Awal
Posted by: Villam in About Writing, tags: fantasy story, menulis novel, novel editing, revisi cerita, storytelling
Satu lagi penyakit kronis saya yang belum tersembuhkan dengan baik sampai sekarang adalah: hanya kuat mengedit cermat di bab-bab awal doang.
Jadi maksudnya, begitu sebuah draft cerita selesai dibikin, dan saya beralih dari ‘writing mode’ ke ‘sleeping mode’ lalu ke ‘editing mode’, energi buat ‘membabat rumput’nya ternyata hanya kuat di awal.
Di bab-bab awal saya berani dan bengis memotong dan memermak kalimat dan paragraf supaya jadi seefisien mungkin (harapannya sih begitu), tapi begitu sampai di bab pertengahan, yang muncul adalah keinginan untuk buru-buru menyelesaikannya secepat mungkin. Melewatkan banyak yang seharusnya bisa diperbaiki. Tidak sabar.
Memang idealnya adalah saya bisa menjaga semangat mengedit tersebut agar tetap konstan dari awal sampai akhir. Masing-masing penulis pasti punya cara masing-masing, tapi secara sederhana, yang penting–mestinya–adalah saya fokus pada hal-hal tertentu yang memang ingin saya revisi.
Dimulai dari proses membaca ulang, dan mencatat dulu di buku catatan tentang semua hal yang patut diperbaiki atau dipertimbangkan (atau yang telah dikritik oleh para reviewer–lebih banyak lebih baik), lalu memilah-milah mana yang memang patut direvisi atau tidak.
Pada intinya ada dua hal yang harus diedit: yaitu mengenai cerita atau story (struktur, plot, karakterisasi, setting, logika dll), dan cara bercerita atau storytelling (gaya bahasa, teknik penulisan, opening, scene cutting, diksi, kesesuaian EYD, kenyamanan tulisan untuk dibaca dll). Setelah semua dicatat, barulah proses revisi dimulai dengan menggunakan skala prioritas, satu per satu, sehingga waktu dan energi bisa dibagi merata dari awal sampai dengan akhir.
Tapi memang, cara ini belum tentu cocok untuk setiap penulis. Karena ada juga penulis yang memang punya waktu dan energi besar buat mengerjakan proses editingnya sesempurna mungkin, dari awal hingga akhir. Atau bisa jadi karena memang sifat sang penulis yang ingin melihat segala sesuatu sempurna sejak awal.
Dan terus terang saja, seringkali saya mencoba cara ini, dan harus diakui pada akhirnya sindrom yang terjadi adalah seperti yang disebut di awal tadi, yaitu: cermat di awal, dan melemah menjelang garis finish.
Pemecahannya, kalau tetap mau menggunakan cara kedua, tidak bisa tidak, kesabaran dan daya tahannya kudu diperbaiki. Menjaga kecermatan. Menjaga kebengisan. Sampai akhir. Sulit, tapi ya harus bisa.
Oh ya… btw, seringkali kita mencoba meminta orang lain untuk menilai naskah kita, dengan cara mengirimkan bab-bab awal untuk dinilai, lewat forum atau kita kirim langsung melalui email. Selain membuat proses editing kita kemudian terlalu terpaku pada bab-bab awal tersebut, masalah lain yang lebih penting adalah, dengan bab-bab awal saja, kita tidak bisa mendapatkan kritik yang benar-benar kita butuhkan mengenai ceritanya (plot, karakter dsb seperti yang disebutkan di atas). Penilaian tentang itu malah bisa jadi salah seratus persen. Yang bisa dinilai dari bab-bab awal dengan baik hanyalah dalam hal cara berceritanya (storytelling).
Yeah, ini hanyalah sedikit renungan juga. Yang mungkin bisa saja salah seratus persen juga. Hahahah…





Entries (RSS)
December 13th, 2008 at 9:10 am
Hmmm… Let I comment. Tentunya kau sudah mengendapkan naskahmu dulu kan? Ok begini kalau mau meminta bantuan pembaca kau bisa meminta kritiknya perparagraf kalau mau detail. Aku juga sering meminta langsung kritik ceritaku perparagraf^^ Jadi semua kesalahan atau sesuatu yang aneh dari paragraf itu langsung diungkap jelas. Kalau percerita itu kubilang kritiknya banyak yang kurang detail. Jadinya susah menentukan ceritanya sudah ok atau belum. Lagipula tak jarang orang yang kasih komentar itu belum membaca ceritanya.
December 13th, 2008 at 1:33 pm
Feline,
seems you don’t know villam that much.
he does exactly what you do. komen per paragraf–kadang per kalimat.
villam adalah tipe reviewer yang detil, untuk cerita2 yang cukup menarik baginya, tapi bisa mereview secara global kalau dia mau, tergantung sikon.
permasalahannya, kalau dia bisa detail dengan karya orang, belum tentu dia bisa detail dengan karyanya sendiri. itu yang sedang dia coba untuk di-share ke kita.
villam, CMIIW.
December 13th, 2008 at 2:48 pm
hai, feline, selamat datang…
tentu saja menyenangkan sekali bila kita bisa mendapatkan dua jenis kritikan sekaligus, yaitu: kritik detil per paragraf (biasanya tentang cara bercerita atau storytelling), dan kritik secara keseluruhan (tentang storytelling dan story sekaligus).
benar2 menyenangkan jika bisa mendapatkan kritikan per paragraf dari bab pertama sampai bab tiga puluh; sang kritikus pastilah seseorang yang sangat berdedikasi penuh. tapi biasanya kita sulit mendapatkan kritikus rajin seperti itu. yang ada biasanya mereka hanya mau menilai secara keseluruhan, atau hanya mau menilai detil di bab2 awal doang. begitulah.
@dian, kamu mengenalku terlalu baik. heheheh…
December 13th, 2008 at 3:28 pm
pernah jadi “korban” soalnya.
weuhuheuhuue
December 13th, 2008 at 4:48 pm
^^ Hmmmmmm, kalian berdua itu teman sejak lama ya?
Ohh maksudnya itu. Diriku salah tangkap kalau gitu. Yang ketangkap di otakku malah tentang detail kritikkan. Aneh-aneh saja^^
December 13th, 2008 at 10:12 pm
biar gak bertiga aja, saya nimbrung deh
*hehehe*
sepertinya saya sudah pernah baca tentang topik yang bernuansa sama? di blog MP kakak? atau di mana, ya?
biasanya : orang-orang selalu lebih suka saat dia memulai dibanding saat dia mengakhiri.. ada tipikal orang yang cenderung akan heboh ketika dia ; mulai mengedit, misalnya?
dan di tengah tiba-tiba, dia merasa bosan?
-
bukannya mau membenarkan hal itu (hanya karena saya juga sering begitu), tapi kayaknya kakak udah menemukan poin menulis, kan? banyak sekali pelajaran yang kakak bagi.. ini proses?
no pain no gain?
untuk sekedar dirasakan?
dan pada akhirnya, membuat terbiasa karena kemudian bisa menemukan pemecahan masalahnya..?
-
masalah meminta komentar sama pembaca, xixixi.. jadi keinget cerbernya arik
hahaha!
panah hujan’s last blog post..* Coretan – Tentang Kehidupan – dan Seseorang
December 13th, 2008 at 11:37 pm
hmm kalau saya editingnya agak berbeda.
behaviour saya pas menulis adalah begini:
-menulis cerita secara linear (kalau ceritanya memang memiliki waktu yang linear)
-biasanya stuck untuk meneruskan ke adegan dan plot berikutnya, kalau sudah begini biasanya berhenti, disini biasanya udah kena writer’s block
-tutup, lihat lagi mungkin 5-6, atau entah kapan, terus review bab-bab sebelumnya, edit, terus maksain diri dengan asumsi chapter berikutnya adalah sampah (dari titik yang stuck tadi)
-setelah chapter “sampah” ini beres, dilihat lagi, terus disesuaikan logika berceritanya dengan bab2 sebelumnya.
-kalau ada adegan2 ngga nyambung atau tidak bisa dipake karena plot sudah berubah jalur, adegan tersebut dicut, terus dikasih label adegan apa biar bisa dipake lagi sewaktu2
-biasanya yang saya edit adalah pengulangan kata seperti kata “itu”, atau “nya” yang kurang tepat.
-kalau sudah beres, biasanya saya print, atau sebarin pdfnya pada pembaca biasa untuk minta masukan
yah itulah proses yang saya lakukan selama ini, tapi karena perasaan self-edit terkadang membuat tidak produktif, saya menganggap diri saya sedang membuat draft, bukan novel, agar perasaan perfesionis hilang.
December 14th, 2008 at 3:00 pm
thanks udah mau sharing pengalaman, calvin.
kalo gue gak salah tangkep, berarti saat stuck setelah menulis beberapa bab lalu berhenti dulu dan merevisi ulang ya? baru setelah yang awal ini beres, dilanjutkan menulis ke bab-bab berikutnya.
oke, kayaknya gue juga sering (atau malah selalu) pake pendekatan seperti ini. heheheh… masalahnya ya itu, jadinya gue kemudian malah terlalu lama berkutat di bagian awal. padahal–mestinya–seluruh ide-ide awal dari awal sampe akhir dikeluarkan dulu.
oh ya… btw, sebenarnya ada satu lagi masalah dalam proses editing. yaitu, yang awalnya sebenarnya kita berniat memotong adegan supaya ceritanya jadi pendek (supaya bukunya gak ketebelan), jadinya kemudian malah membengkak karena kita mendapatkan ide-ide baru.
btw juga, nyebarin naskah lewat pdf sebenarnya juga gak ada bedanya nyebarin lewat microsoft word, karena toh contentnya sama-sama bisa dicopy juga (asal kita punya software adobe writer, misalnya). akan lebih baik sebenarnya, memang, kalo naskah itu diprint aja (lebih bagus lagi udah dijilid dalam format buku), biar dibaca dan direviewnya juga lebih enak.
December 15th, 2008 at 10:54 am
meminta pertimbangan dan editing orang juga kadang ngeliat orannya yak.
karena seringkali, orang malas jika kita minta mengedit naskah kita, jangankan ngedit, baca aja malas.
wkwkwkw….
kalau aku sih,seirngkali cuma ngedit tatanan kata dan kalimat, karena untuk urusan plot, biasnaya udah fix ampe akhir. jadi seperti kata villam, tentang penggelembungan halaman, syukur bisa diatasi karena plotnya udah fix (dan biasanya sebelum diedit aj udah menggelembung
)
mocca_chi’s last blog post..Semangat Hidup Dari Tunas Daun Hijau
December 15th, 2008 at 11:35 am
pertama kudu dibedain dulu, rik, antara meminta orang buat mengedit, dan meminta orang buat mereview. mengedit dan mereview itu dua hal yang berbeda. mengedit itu proses yang harus dilakukan sendiri oleh setiap penulis (makanya setiap penulis kudu belajar tekun soal cara menulis yang baik dan benar), sedangkan kalo review memang sebaiknya harus dilakukan oleh orang lain, karena merekalah yang bisa mengkritik kita dengan obyektif.
itulah kenapa, kalo menurut aku, penulis sebenarnya lebih butuh reviewer, bukan editor. dengan asumsi, setiap penulis harus udah bisa jadi editor yang baik.
soal malas baca, yeah memang sih sering terjadi. wajar saja, karena membaca dan mereview memang butuh waktu dan energi. bisa terlaksana asal penulis dan reviewer punya hubungan pertemanan kuat, atau sekalian saja, penugasan itu dilakukan secara profesional (dibayar).
dan soal menggelembung, bukan hanya plot yang bikin cerita jadi menggelembung. tapi juga karakterisasi dan setting. apalagi kalo di cerita fantasi, setting sangat penting buat membangun dunia fantasi yang terasa logis, yang di awal terasa bolong-bolong, dan akhirnya harus ditambahin aspek-aspeknya.
December 15th, 2008 at 12:12 pm
WOI..
makin rame..
hehehe..
December 15th, 2008 at 2:06 pm
ah iye, mungkin penyampaianku sedikit aneh n meleset, tpi intinya, yah you know whatlah. wkwkwk
pikir-pikir, eydku berantakan ni, dari dua komentator yang huebad soal eyd, aku banyak dapat koreksi. hehehe *lirik-lirik orang-orang diatas :p
mocca_chi’s last blog post..No Mood For Today
December 15th, 2008 at 3:05 pm
and you know that aku suka ngocol menggurui orang…
begicu… hahahah…
December 17th, 2008 at 2:06 pm
yay. aku mengalami hal yang sama berkali-kali [sibuk di bab-bab awal]. kerna itu, sekarang bikin strategi yang lain, aku memaksa diri menulis sampai akhir, nyambung atau tidak jalan critanya, nalar atau tidak logikanya, setting dan plotnya sebangun atau tidak, semua-semuanya tidak kuhiraukan. Kalau target tulisannya 500-an halaman, aku memenuhi target itu dulu. baru kemudian mulai dengan editing.
tapi ya…akhirnya saat editing banyak yang jadi sampah dan banyak yang harus ditulis ulang untuk menjadikannya sebuah cerita
ah melelahkan. tapi itu yang membuat pekerjaan menulis menjadi lebih menyenangkan
tengkiyu Villam, sharingnya
December 17th, 2008 at 4:05 pm
hanya kuat mengedit cermat di bab-bab awal…
…
……
………
………… mengingatkanku pada diriku sendiri T_T
December 17th, 2008 at 4:49 pm
thank you juga sharingnya, elbintang.
dan mestinya strateginya memang seperti itu: menulislah dan menulislah sampai selesai. keluarkan dulu semuanya dari dalam kepala sebelum spirit kita melemah. tidak mudah, tapi harus dicoba.
@maxmax, sepertinya mengingatkan semua orang. hehehe…
January 21st, 2009 at 10:18 am
Gue sambung deh, biar diskusinya jalan terus
Dalam project PG aku sudah melakukan apa yang dilakukan Villam, dan kemudian mencoba melakukan kiat-kiat lain. Untuk saat ini, yang saya rasakan paling efektif adalah moda pengeditan berikut ini:
Pertama, penulisan novel sudah sampai tamat.
Kedua, aku bikin e-booknya dengan menggunakan microsoft reader, supaya bisa dibaca di PDA. Satu alasan aku melakukan ini karena daya kritis saya baru keluar jika saya membaca format buku yang sudah rapih, di lokasi yang enak buat baca (tempat tidur, toilet etc).
Ketiga, mulai baca dari awal, dan siap-siap memberikan komen untuk perubahan-perubahan yang diperlukan, menggunakan tools yang ada di MS reader. Mirip seperti corat-coret naskah, sebetulnya, tapi ini berlangsung secara elektronik.
Setelah selesai, atau bila ada kesempatan (mana yg lebih dulu), saya akan melakukan perbaikan pada naskah word berdasarkan catatan tersebut. Dalam hal ini saya berusaha tidak buang-buang waktu, saya hanya merubah pada tempat yang sudah saya beri catatan perubahan, dan baru memberi penambahan radikal bila benar-benar diperlukan saja. Menurut saya ini efektif buat membatasi supaya kita nggak berlarat-larat pada satu titik.
Keuntungan menggunakan cara elektronik adalah saya bisa membookmark lokasi perubahan yang mudah disearch kembali. Kalo kita menandai halaman kertas, biasanya kita gampang lupa lokasi dan bisa juga lupa perubahan apa yang harus kita lakukan
Kalau perubahan sudah finish, create kembali file MS readernya, upload lagi ke PDA, dan baca ulang lagi. Demikian berulang-ulang, terserah mau berhenti sampai trial ke berapa, itu tergantung kemantapan hati pengarang.
So dalam kasus saya, ternyata PDA merupakan tools yang sangat membantu. Saya bahkan bela-belain berburu PDA stand alone (yg ga ada phone-nya) biar dapet murah dan bener-bener efisien buat ngedit. Kalo alat perangkat e-book semacam Kindle udah dijual di sini, saya rasa saya juga akan jadi orang pertama yang ngantri beli (kalo harganya masuk akal, hehehe).
Demikian sekedar sharing,
FA Pur
January 21st, 2009 at 10:49 am
heheheheh…
jadi bikin gue pengen beli PDA juga…
emang betul sih, seharusnya yang paling benar, supaya proses majunya berjalan cepat, adalah menulis dulu semuanya sampai selesai, baru kemudian direview dan diberi catatan dari depan. dalam format buku hardcopy adalah yang paling nyaman dibaca, atau paling gak ya pake PDA itu melalui corat-coret elektronik. sementara kalo pake microsoft word biasa, biasanya proses reviewnya jadi gak fokus, karena pasti selalu tergelitik buat melakukan editing langsung.
thanks atas sharingnya, mas pur.
January 21st, 2009 at 11:02 am
Yup, satu kelemahan hardcopy, kalo pake metode gue, berarti kita harus mencetak berkali-kali yang pastinya nggak efisien
OK, happy editing!
January 21st, 2009 at 11:44 am
heheheh… iya sih, pastinya boros kertas dan tinta. gak efisien.
yup, happy editing juga!
btw, PG belon selesai diedit?
February 20th, 2009 at 3:58 pm
Gue selalu ngedit setelah di print out. Entah kenapa energi ngedit lebih besar keluarnya kalau di print out. Untuk itu biasanya gue atur print outnya supaya banyak space yang tersedia biar bisa corat-coret. Kadang-kadang yang ditulis bukan cuma kalimat perbaikannya, tapi juga perasaan gue seperti, “Bleh! Kalimat apaan, ini! Norak banget!”
Dulu gue tipe orang yang kalau bikin satu bab, misalnya, bener-bener mengolah bab itu sampai sempurna. Akhirnya gue suka kehabisan energi dan malas meneruskan ke bab berikutnya. Buntutnya, novel gak selesai. Sekarang, gue memaksakan diri untuk nulis terus sampai tamat, baru mulai ngedit. Kadang-kadang masih susah mendisiplinkan diri untuk begini.
February 20th, 2009 at 5:41 pm
iya. susah mendisiplinkan diri seperti itu.
tapi dyah, seringkali mengedit itu adalah sebuah proses yang tidak pernah selesai. hari ini kita merasa sudah mengedit semua secara benar. tapi sebulan lagi sering kita merasa bahwa hasilnya masih jauh dari benar. maka diedit lagi. tentunya gak setiap bulan kita bisa bikin print out. bisa tekor…
February 21st, 2009 at 10:35 am
Yup, krn gw tipe org yg tiap mau menulis lanjutan selalu baca ulang lagi dr awal, sambil mengedit2 disana sini, mending gw lgsg ngedit di kompie aja de drpd ngabisin tinta printer. wkwkwk
Tapi belakangan gw dah begitu bosannya baca ulang ceritaku sendiri, jdnya ga gw liat2 lagi bab2 awalnya
Tapi menilai cerita sendiri itu emang susah ya. Kl waktu br awal2 menulis pasti rasanya dah ‘wah’ tulisan gw. (walau bagi org lain ancur) Tapi kl udah yg kebrp puluh kalinya baca cerita sendiri, rasanya udah ga ada bagusnya lagi dan datar banget. (walau bagi org lain yg br baca belum tentu begitu)
Eww pusing~
February 21st, 2009 at 9:38 pm
heheheh… gue juga sering ngerasa begitu, jeff.
TFH tuh entah udah berapa puluh putaran gue edit-edit terus. dan seiring bertambahnya pengetahuan dan skill kita, selalu saja kita menemukan hal-hal yang bisa direvisi. editing is a never ending process. baru bisa berhenti kalo kita memutuskan untuk berhenti. enough is enough.
February 22nd, 2009 at 12:52 pm
lalu apakah Villam yakin bahwa perjalanan bertahun2 mengedit itu selalu membawa ke arah yg lebih baik?
Kadang, selalu, gw mengedit setelah dikritik dan dapet saran. Di kritik A, edit, dikritik B, wah beda lagi editnya, dikritik C, wah rasanya perlu diugrade keseluruhan. Sampai suatu poin dimana gw mulai bertanya, ‘What have I been doing?”
apa dengan mengaplikasikan semua saran dan kritik dr brbagai pihak dan selera itu akan bikin ceritaku lebih baik? atau gw saat ini sedang menuangkan berbagai macam bumbu pada ceritaku sampai jadi gado2 Indonesia yg terkenal itu? Wah… rasanya kl udah stuck di 2 kemungkinan itu, otak jd mumet sekali. Feeling of secure untuk meneruskan cerita jauh ke depan jd hilang dan alhasil jadi takut menulis.
February 23rd, 2009 at 7:56 am
gue jawab berdasarkan pengalaman gue ya.
gue yakin editing selalu membuat cerita menjadi lebih baik. itu pasti.
asalkan, pada saat mengedit itu, kita sudah berada pada level pengetahuan dan keterampilan menulis yang lebih baik daripada sebelumnya. jadinya gue bisa memilah-milah, mana kritikan dari orang-orang yang benar, dan mana yang salah. mana yang bisa dipakai, mana yang justru jangan, karena jika dipakai justru bakal merusak semangat dan tujuan gue saat pertama kali menulis.
tentu saja, apakah cerita jadi lebih baik atau tidak, pada akhirnya tetap jadi asumsi kita saja. tapi dalam hal ini gue harus punya keyakinan teguh. pada saat mengedit gue melakukan itu dengan keyakinan bahwa hasilnya akan jadi lebih baik. kalo gue gak punya keyakinan itu, mendingan gak gue lakuin.
February 23rd, 2009 at 9:46 am
Kalau mau sempurna, sampai kapanpun gak bakal akan sempurna. Orang buku2 penulis terkenal aja suka masih ada salahnya.
Coba aja googling untuk melihat betapa banyaknya error yang dilakukan penulis terkenal. Bukan berarti it’s ok to make mistakes, sebagai penulis kita harus berbuat yang terbaik, akan tetapi semuanya juga punya batas.
IMHO, penulis juga kudu ngasih batas sampai di mana dilakukan editing. Selama sudah sesuai dengan premis, plot en karakter udah mendukung en nggak ada kesalahan yang fatal, hentikan saja. Kalau gak gitu, kita akan akan pindah ke proyek buku berikutnya. Kita akan stuck di situ aja.
Dan terkadang, terlalu banyak editing justru akan mengacaukan bangunan yang kita buat. Apalagi kalau sifat dasar si penulis itu perfeksionis.
February 23rd, 2009 at 10:23 am
adalah wajar juga sih, jika kita selalu gatal untuk membuat perbaikan-perbaikan. gue rasa itu natural. tapi betul, dyah. pada akhirnya di suatu titik kita harus bisa memutuskan untuk berhenti, enough is enough, dan maju untuk membuat karya yang lain.
February 23rd, 2009 at 10:32 am
‘Apalagi kalau sifat dasar si penulis itu perfeksionis.’
nyaaaa >.< itulah… aku terlalu perfeksionis sejak lahir dan tidak bisa diubah XD
*menjedotkan kepala ke monitor*
“Oh noo!! my LCD is bleeding!!! Hm? it’s my head!!”
ehm2…
btw, ‘sempurna’ memang ga mungkin dalam konteks menulis. Scr ky gw bilang ada begitu banyaknya selera dan genre tulisan di dunia ini. Gw ga ngejer sempurna yg seperti itu, lebih ke kepuasan diri sendiri aja, sampai bisa membaca karya sendiri dan kemudian dgn puas mengatakan, ‘perfect!’
Gw harap suatu hari bisa mengatakan itu ke Felgirthku. ^^
Memilah2 kritik, yea kurasa memang harus. Uhh. sifat true neutral ku membuat susah memilah krn semuanya ‘grey’, tak pernah ‘black or white’
Umm thanks all
February 23rd, 2009 at 10:41 am
heheheheh…
masih mending prefeksionis sejak lahir, daripada jenggotan sejak lahir…
dan gue ragu, someday, elu bakal bisa mengatakan ‘perfect’ pada felgirth lu.
bukan karena perfeksionis lu, tapi karena semakin lama wawasan lu semakin luas, pengetahuan dan skill semakin bagus. dan sampai kapan pun lu bakal melihat sesuatu yang rasanya masih bisa elu perbaiki. hahahahah…
maksud gue, pada akhirnya mungkin lebih baik elu mengatakan, “enough!”, daripada “perfect!” heheh…
February 23rd, 2009 at 11:24 am
Hmmm…
‘Eternal battle against ourself’, ya? Kedengerannya keren… dan melelahkan.
How long can you go ~
Bagaimana mrk yg melegenda itu mengatakan ‘enough’ ketika masih ada yg lebih hebat dr mereka? Dan pada akhirnya menjadi legenda yg baru?
Dulu gw pikir mengatakan ‘enough’ itu artinya saat dimana kita nyerah. ‘Cukuplah segini aja batas kemampuanku.’
Tapi kayaknya belakangan gw mulai ngerti. (atau br hari ini gw ngerti) Baru 1-2 tahun lalu gw mengatakan ‘enough’ pada kemampuan menggambarku. Kemudian kerjain komik sampai stress dan merasa skillku semakin menurun saja. Tapi skrg ini setelah selesai ngomik satu tahun lebih, gw nyoba gbr lagi hal yg gw suka, gw terkejut. Skill gw ternyata sudah di level yg berbeda. Berbeda dr ketika ngomik, karena itu adalah pekerjaan yg ngasi beban stress dan deadline. Berbeda dr 2 tahun lalu, karena gw sedang terbebani harus menjadi yg lebih baik. Skill gw dah jauh meningkat skrg. ketika gw ga peduli untuk meningkatkan skill gw, ternyata skill gw malah meningkat tanpa disadari.
Jadi untuk jadi penulis yg lebih baik, kita hanya perlu terus menulis ya? Tanpa membebani diri utk jd lebih baik. Kosongkan pikiran, dan menulis. hmm… I thik I’ll try that.
Sepertinya gw selalu mendapat pencerahan ketika berdebat lol.
February 23rd, 2009 at 11:58 am
hahahah…
bukan ‘how low can you go’ ya?
para legenda itu, seperti tolkien atau grr martin contohnya,
apakah mereka menulis karena mereka ingin lebih baik daripada para pendahulunya?
ataukah mereka melakukannya karena ingin menjadi lebih baik daripada apa yang bisa mereka tuliskan sebelumnya?
ataukah semata-mata karena ingin menulis, yang berarti jika mereka sudah merasa cukup menulis, mereka berhenti?
hmm… pertanyaan spekulatif dengan jawaban yang juga bisa spekulatif…
heheheh… tapi gue seneng kalo ternyata elu akhirnya bisa mempelajari sesuatu di sini…
berarti kastil gue ini emang ada manfaatnya… heheh…
—
oh iya, dan ini gue selipin di sini, kalimat gue yang sempet tertulis di forum, dan gue pindahkan ke sini saja supaya gue bisa bertanggungjawab kalo gue pernah menulis ini.
kunci dari good creative writing adalah continuous learning, researching, benchmarking, brainstorming, dan yang paling penting dari semuanya: practicing.
apakah kalimat ini nyambung dengan diskusi?
kayaknya sih enggak…
tapi whatever lah…
February 23rd, 2009 at 5:10 pm
Bener2 pertanyaan yg spekulatif…
Tp kl dipikir2, mungkin para legenda itu tidak pernah menargetkan diri atau karyanya untuk melegenda. I wonder what their mind were set at when they were writing. Untuk menjadi lebih baik kah? Untuk menjadi yg terbaik kah? hanya corat coret hobi kah? hmm… I’m curious. Katanya kan untuk menjadi sesukses seseorang, kita perlu memiliki mindset yg sama dgn org itu, hehe.
Btw, benchmarking itu apa ya?
Practice makes better, off course. If only I have all the time in this world
Sayangnya tidak, waktu kita singkat sekali. Tanpa terasa waktu terus berjalan tanpa nunggu kita. Hmm brp tahun yg perlu ku ‘anggarkan’ untuk berlatih ya?
February 23rd, 2009 at 5:24 pm
ahahahah…
kayaknya ini bisa jadi salah satu ide menarik buat dibikin ceritanya.
kita terlempar masa lalu, masuk ke dalam tubuh tolkien. dengan kegagapan kita dan kegilaan dia di sisi yang lain, apa yang kita lakukan, saat pertama kali menggoreskan pena untuk menulis LOTR?
atau sebaliknya, di masa kini kita kerasukan roh tolkien, kegelisahan kita bercampur dengan ketidaksabaran tolkien (yang dulunya sabar. kekekekek…), bagaimana kita mencoba membuat kisah yang bisa menandingi LOTR?
I wonder, which one is more difficult…
benchmarking itu bahasa kantoran kayaknya. jadi, untuk membuat sesuatu yang lebih baik, dari kita dulu dan dari saingan kita, kita mempelajari apa yang telah mereka lakukan dan apa yang mereka hasilkan. saat kita membaca sebuah novel, misalnya, kita membaca sekaligus menganalisis, mengapa ini berhasil menarik perhatian kita, dan mengapa ini tidak.
sasaran utama kita membaca bukan untuk menikmatinya sampai selesai, tapi mempelajari metode2 yang dipakainya, dan karena itu, bisa jadi, kita tidak membacanya sampai selesai. hahahah…
and yeah, berhubung waktu yg kita punya terbatas. maka practicing is writing itself. berusaha terus menulis, menyelesaikannya, dan membuat lagi yang baru. terus, terus dan terus. tidak terpaku pada karya-karya lama kita, dan mencoba terus menghasilkan yang lebih baik.
February 23rd, 2009 at 5:44 pm
ehehehe… lebih keren kl kita terlempar ke masa lalu Tolkien muda, dan secara lgsg atau tidak langsung ternyata kita yg memberi inspirasi menulis dan memberi dorongan ketika dia stress dan frustasi (seperti kita skrg ini). Krn toh, kita sudah tau dia akan melegenda nantinya. Sayangnya Tolkien yg kita temui saat itu ternyata bahkan tidak jauh berbeda dr kita saat ini. Bagaimana bisa orang yg dihadapanku ini adalah the legendary Tolkien??! Simaklah terus kelanjutannya eheheh… deng deng deng~
udah jd trailer movie tuh wkwkwkwk.
Soal membaca sekaligus menganalisis. Kl menganalisis buku jelek itu mudah. kalau menganalisis buku bagus, selalu tanpa sadar terhanyut dalam ceritanya >.< Dan pas sadar br inget, lah tdnya mau belajar, malah keasikan baca! XD
February 23rd, 2009 at 5:54 pm
hohohohoh…
kayaknya itu bakal jadi cerita yang asik tuh.
jadi, kita terlempar ke masa tolkien muda, di mana si tolkien ini sebenarnya seorang yang baru belajar menulis, gampang putus asa, dan gak punya imajinasi. kita lalu terlempar lagi, bersama tolkien, ke dunia imajinatif, katakanlah di tanah finlandia kuno, tempat dia mulai belajar bikin bahasa elf, yang akhirnya mengubah diri kita dan juga tolkien. tolkien justru mendapat inspirasi dari petualangan-petualangan kita. hahahahahah…
uh, kalo baca buku jelek, menyelesaikan sampe selesai adalah sebuah siksaan. kasusnya, biasanya bacanya diskip-skip, dan bahkan gak selesai sama sekali.
February 24th, 2009 at 6:21 am
hoooooooo
aq tau gimana caranya supaya bisa tetap bertahan dalam pengeditan dari bab awal mpe akhir.
hohohohohooh
caranya…
jadilah seorang penulis pro…
kenapa?
karena menulis itu menajdi pekerjaan kita, dan mendapatkan tanggung jawab(dari penerbit) untuk selalu mengeceknya(agar terlihat sempurna). klo kitanya males, otomatis dompet kita juga tipis(karyanya ga lulus penerbitan)
hehehhehehehehehehehhehehehehhehe
begitulah
February 24th, 2009 at 8:43 am
bisa juga, ndyw…
dengan menyadari bahwa apa yang kita tulis itu bernilai duit.
heheh…
February 24th, 2009 at 8:44 am
heeee….
aku ini penulis pro loh, tapi Technical Writer, bukan novel
qeqeqeqe
February 24th, 2009 at 8:55 am
eh technical writer maksudnya apa, mak?
penerjemah?
February 24th, 2009 at 9:04 am
bukan penerjemah.
jadi kerjaanku bikin user guide, manual, sama modul training, baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia.
February 24th, 2009 at 11:33 am
oh lu kerja di bidang Training/HRD ya?
kantoran atau konsultan?
btw, berdasarkan pengalaman dengan somniterra, biasanya dalam proses editing gue bisa motong sampe 10%. jadi katakanlah jumlah halaman semula ada 660 halaman, setelah diedit jadi 600 halaman. atau bisa juga disebut, dari 10 halaman awal, sebenarnya gue bisa edit jadi 9 halaman (potong satu).
gimana kalo pengalaman Teman-teman?
February 24th, 2009 at 11:38 am
aku kerja di bidang IT.
kan biasanya programmer cuma mau bikin program doang, klo disuruh bikin technical documentation-nya males. jadi aku yang bikinin techical documentationnya.
jadi harus terus belajar operasional program baru, trus membuat tech doc sama user guide. klo program laku dijual, aku bikin modul training buat klien.
klo editing, aku malah kadang kepingin masukin beberapa hal baru. jadinya malah membengkak jumlah halamannya T_T
February 24th, 2009 at 11:57 am
ah I see…
that’s technical writer.
it looks very interesting.
tentang editing yang membengkak, gue juga sering begitu.
tapi gue menyebut itu sebagai tahap revisi sih, kalo bongkar pasangnya besar.
sementara kalo editing yang gue maksud tadi adalah tahap merampingkan sebuah cerita, adegan, bab sampai kalimat. supaya ceritanya tampak lebih langsing, dan seksi. heheheh… buang semua lemak-lemak kecil yang gak perlu. sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit.
February 24th, 2009 at 2:51 pm
aq juga berkutat di bidang IT
jangankan bagian editing
bikin program ajah males
>..<
February 24th, 2009 at 3:33 pm
hahahahah…
bagian hardware, ndyw? atau networking?
btw, gue lagi menikmati proses editing nih… (sekali lagi dan sekali lagi…)
menyenangkan… heheh…
February 24th, 2009 at 4:26 pm
bikin iri ajah nih si om
aq bagian programing
>.<
February 24th, 2009 at 4:55 pm
hahahahah…
code is poetry…