Saya baru saja membaca sebuah cerita karya rekan penulis, dan saya kagum, karena dia berani menulis dengan menggunakan delapan tokoh sebagai pencerita /sudut pandang. Menggunakan Multiple Point of View (POV), yang semuanya berporsi seimbang. (Benar-benar salut untuk anda, Kawan)

Yang saya kagumi adalah keberaniannya; sang penulis berani ‘bersimbah darah’, meluangkan banyak sekali waktu dan energinya, karena sudah jelas, semakin banyak POV berarti semakin banyak plot dan subplot, dan otomatis semakin banyak pula halaman yang harus ditulis.

Apalagi jika kita–jika misalnya kita berminat–berambisi membuat seluruh tokoh itu mempunyai porsi seimbang dalam cerita. Bayangkan saja, untuk setiap POV, berarti kita harus menyiapkan 1 set perkembangan karakter (character development), 1 set konflik internal (ketidaksesuaian antara keinginan dan keadaan tokoh tersebut), dan 1 set penyelesaian konfliknya . Jika kita punya 2 POV berarti kita harus bikin 2 set, 4 POV 4 set, 8 POV 8 set, dan seterusnya dan seterusnya.

Dan itu juga baru separuh jalan, karena setelah itu kita harus menjalin plot-plot mereka itu menjadi satu kesatuan plot utama, membuat pembaca paham apa sebenarnya inti utama ceritanya, sekaligus bisa memahami setiap pergolakan batin karakter POVnya.

Maka, adalah pencapaian hebat jika seorang penulis mampu menuliskannya, dan akhirnya berhasil menyelesaikannya. Benar-benar sampai selesai, tidak putus di tengah jalan. Karena dari hitungan kasar, cerita berPOV 1 biasanya akan menghabiskan minimal 100 halaman (jika plotnya tunggal dan sederhana), cerita berPOV 2 minimal 200 halaman, cerita berPOV 4 minimal 400 halaman, dan mestinya cerita berPOV 8 minimal 800 halaman!  Sekali lagi, minimal. Hahahahah…

Tapi tentu saja, ini hanya hitung-hitungan semata. Bisa saja cerita kemudian menjadi jauh lebih tipis, alias ditipiskan (demi bisa menembus penerbit yang alergi melihat naskah tebal. hahahah…). Namun dengan konsekuensi, cerita yang awalnya terasa menghentak dan menarik di awal berkurang intensitasnya di tengah dan akhir. Cirinya adalah ending yang mengambang, atau solusi yang terlalu sederhana untuk masalah rumit yang telanjur dijabarkan di depan.

Makanya, daripada cerita kita memiliki ending mengecewakan seperti itu, selalu disarankan agar kita tetap fokus pada satu atau dua karakter POV. Beri masing-masing dari mereka 30% porsi bercerita. Sisa 40% bisa dibagi ke tokoh-tokoh POV lainnya yang lebih kecil. Tujuannya adalah agar ceritanya juga bisa lebih fokus dan tidak melebar kemana-mana.

Namun sekali lagi, itu jika kita memang berniat membatasi jumlah halaman. Jika memang kita tidak punya kendala untuk menulis dan menyelesaikan cerita sebanyak apapun yang kita mau, dengan kualitas spektakuler, serta kita memang punya ambisi besar, dan punya bargaining power kuat di depan penerbit, ya pembatasan-pembatasan macam ini tidak diperlukan. Terserah kita untuk menulis sebanyak apapun yang kita mau, kalau kita memang yakin seratus persen bahwa kita akan berhasil. Toh kita sudah paham, dan siap dengan konsekuensi-konsekuensinya.

Kadang-kadang–atau mungkin malah seharusnya–penulis memang harus berani kok. Dan juga keras kepala mempertahankan sesuatu. Asalkan ya itu, kita siap dengan segala resikonya, dan tak perlu menyalahkan orang lain jika kita gagal (kata motivator: ‘belum berhasil’).

Yeah, ini semua hanyalah renungan.

Pada akhirnya, semua kembali pada tujuan awal kita menulis.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

22 Responses to “Multi POV, Multi Plot, Multi Halaman”

  1. 1
    mocca_chi Says:

    apa orang itu? wkwkwk kurasa aku sempat mendengar ia bercerita akan membuat tulisan seperti itu. tapi kurasa. wakakakak, baru sekedar draft

    klo ak si cenderung jadi orang yang mencari aman, spesifik pada maksimal tiga karakter utama saja. wkwkwk
    biar kaga pusing :P

  2. 2
    Villam Says:

    mungkin orang yang berbeda, rik. :-)

    dan iya, semakin banyak karakter utama memang jadi lebih pusing. dan ya itu, resikonya cerita jadi tambah panjang supaya gak mengambang.
    makanya, bermain aman memang pilihan yang sehat kok. heheheh…

    btw, aku nulis begini soalnya udah ngerasain sendiri menulis dengan mencoba berbagai jenis POV (sudut pandang). dan tau capeknya.

    sebagai contoh, Gerbang Sungai Tigris (dan juga draft satu lagi) punya POV 4 orang yang semua seimbang. GST sejauh ini udah 300 halaman, dan mungkin baru 75 persen. sementara yg draft satu lagi itu malah udah nyampe 600 halaman lebih. menakutkan ya? tapi ya apa boleh buat. kalo dipotong-potong malah jadi ancur juga nanti ceritanya.

    kalo The Forgotten Heroes, lebih banyak lagi POVnya karena ceritanya emang luas, tapi biar gak melebar kemana-mana ceritanya, porsi bercerita diberikan lebih banyak ke maksimal empat tokoh juga. sementara kalo Batu Delima Terakhir, bertahan dengan 1 POV saja, jadi bisa lebih tipis nanti.

  3. 3
    mocca_chi Says:

    iye nih, trauma ama naskah tebal tebal.
    udah shocking time duluan waktu mau ngirim :P

  4. 4
    Villam Says:

    hahahah…
    gak usah trauma ah… anggap aja itu semua pengalaman berharga.
    nanti pasti ada gunanya. dapet balasannya dalam bentuk yang gak kita sangka.
    disayang aja naskah tebel2nya. simpen baik-baik di kulkas. heheh…

  5. 5
    alfare Says:

    Betul sekali. Aku pernah mencobanya lewat KAKEA.
    Tantangan utamanya adalah gimana cara membuat semuanya nyambung tanpa kesan maksa. Mungkin intinya adalah gimana cara kita dipaksa mikir secara sebab-akibat.

    (Aku jadi penasaran enggak tahan pengen nyoba make multi POV semenjak baca Pendekar2 Negeri Tayli. Pengalaman menyakitkan! *-*)

  6. 6
    Villam Says:

    heheheh… pengalaman menyakitkan…
    tapi kata orang, no pain no gain.
    kalo udah biasa sakit, nantinya jadi lebih kuat (atau jadi lebih sering sakit justru? hahahah…).

    tapi betul itu, mikir sebab akibat, dan berusaha memakai banyak topeng saat menulis. karena yang bagus adalah, dengan POV berbeda, pola pikir juga seharusnya berbeda, dan itu bisa berpengaruh ke gaya bahasa yang berbeda di setiap adegan.

    dan memang dg dipaksanya berpikir pola sebab akibat, ada kecenderungan cerita akan melebar di tengah. karena konsep menulisnya menjadi: ‘let the characters lead the story’. butuh plot yang kuat sejak awal supaya perkembangan tiap karakter tidak justru merusak cerita.

    btw, pendekar negeri tayli tuh cerita Demi Gods and Semi Devils bukan? dulu waktu kecil pernah nonton serial videonya. heheh…

  7. 7
    panah hujan Says:

    maksud arik..

    apa orang itu? => itu aku?

    hahahahaah!

    aku bahkan belom memulai -_-

    (oot, deh, jadinya)

    iya, kak.. no pain no gain.. tapi sekarang keknya udah zamannya low risk high income?

    gimana? ;;)

    panah hujan’s last blog post..* Coretan – Tentang Kehidupan – dan Seseorang

  8. 8
    Villam Says:

    ooohhh… jadi itu kamu, michel?!
    heheheh…
    ayo mulai… yang semangat! hehe…

    low risk high income?
    low satisfaction ah jadinya… hehe…

  9. 9
    mocca_chi Says:

    jadi inged perkataan mario teguh, tentang jangan mau mengambil sesuatu yang kecil yang tidak berwujud besar di suatu saat nanti. wkwkwkwk

    mocca_chi’s last blog post..Semangat Hidup Dari Tunas Daun Hijau

  10. 10
    Villam Says:

    aku rada gak mudeng maksudnya pak mario itu, rik…
    bisa tolong dijelaskan lebih lanjut? heheheh…

  11. 11
    mocca_chi Says:

    yg kutangkep,jangan mau melakukan hal yang sia-sia, yang tidak punya peluang untuk menjadi besar atau sukses di kemudian hari. intinya, lakukan sesuatu yang kita yakin bisa menjadi sesuatu yang bisa memberikan kita manfaat besar. gitu kali, atau aku yang salah mencontek ya tadi wkwkwk

    mocca_chi’s last blog post..No Mood For Today

  12. 12
    Villam Says:

    yang lebih penting: memberi manfaat besar buat orang lain.

    dan lakukan dengan ikhlas… :-)

  13. 13
    panah hujan Says:

    setujuuu sedelapaaa sesembilaaa, Villam!!

    bahasaku, sih, naifnya : hidup untuk orang lain :)

    eniwei, Kak…

    Happy New Year, yah :)
    aku mengharapkan semua yang terbaik bisa kauperoleh di tahun ini.

    semangat semangat ^^

  14. 14
    Villam Says:

    same same, michel…
    i wish the best for you too… :-)

  15. 15
    elbintang Says:

    oot : aku penasaran dengan commentluv.com nya (apa bisa milih sendiri judul blog yg diselip?)

    ttg multi POV…kalau kedudukannya sama tapi porsi ceritanya beda lebih memudahkan. 3-4 POV sih masih dimaklumi tapi lebih dari itu…wew

    kenapa multi POV kalau orang ke tiga omniscient bisa?

  16. 16
    dian k Says:

    multi POV kalau orang ketiga omniscient maksudnya gmn, elbintang?

  17. 17
    ubr Says:

    Mungkin kalau dibandingin dengan POV orang pertama. Kan kalau POV orang ketiga bisa pindah-pindah POV dengan enak sedangkan POV orang pertama pindah2 ? Apa ada?… Aaargh! jadi bingung sendiri…

  18. 18
    Serpentwitch Says:

    maksudnya,

    Kl POV org ketiga omniscient kan artinya kita bebas menceritakan APAPUN dari isi kepala siapapun, hal2 yg bahkan tidak diketahui para karakternya sekali pun.

    Nah kl udah bisa nulis dgn ky gt kan, ga perlu repot2 pake multi POV org pertama dan scr konstan pindah2 karakter terus utk jelasin isi hatinya.

    Jawabnya, ya itulah selera PENULIS. Kalau bagi pembaca sih ga terlalu ngaruh, tp bagi penulis, itu pilihan yg dia anggap terbaik dan dia suka.

  19. 19
    elbintang Says:

    mbak dian K : iyah maksudku seperti yg dibilang serpentwitch

    kalau ada yg bilang POV 1st, pembaca lebih cepat masuk ke dalam emosi pembaca…itu sih relatif.

    anyhow semuanya emang terserah sang penulis sih *kalau sudah begini kan, mentok diskusinya ha.ha*

  20. 20
    dian k Says:

    oww, ternyata aq salah mengerti kalimat el.
    kalo ada sisipan spt ini:

    ‘kenapa pakai multi POV kalau orang ke tiga omniscient bisa?’, baru deh aq ngeh. hehehe

    yups, thanks to villam, sekarang aq udah bisa bedain POV :D

  21. 21
    Serpentwitch Says:

    ahahaha, sori2, gw jd nutup diskusinya yah huehue. Keceplosan :P

  22. 22
    Villam Says:

    elbintang, milih multi 3rd person limited POV dibanding 3rd person omniscient POV, karena dengan yang pertama kita bisa membangun suasana dan misteri layaknya 1st POV. pembaca bisa sedikit dibawa untuk masuk ke dalam/belakang kepala sang tokoh POV dan menikmati perasaan dan petualangan dari sudut pandang orang pertama (walau tidak sedekat dan seemosional 1st POV). kayak di film horor, misalnya, kamera diletakkan di belakang sosok sang tokoh.

    selain itu juga untuk menegaskan siapa-siapa saja yang menjadi tokoh utama dalam cerita. karena bisa jadi ada puluhan atau bahkan ratusan karakter dalam cerita, dan tentu kita harus fokus pada beberapa karakter saja sebagai tokoh pembawa cerita. dengan pemilihan mereka sebagai POV, pembaca paham bahwa ini adalah cerita tentang siapa.

    dan karena cerita terdiri dari banyak adegan yang berlangsung di banyak tempat, dan adegan2 itu perlu diceritakan walaupun tidak ada sang tokoh paling utama di sana, maka dipilihlah tokoh-tokoh lain sebagai tokoh POV pendukung. dan jadilah multi POV.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled