Resep Menjadi Penulis Sukses
Posted by: Villam in About Writing, tags: motivasi, penulis sukses, Tips Menulis
Barusan iseng-iseng berkunjung ke situs-situs yang menawarkan resep atau kiat untuk menjadi penulis sukses (atau apapun namanya), yang ujung-ujungnya adalah menawarkan e-book seharga ratusan ribu, yang menjamin kita bakal sukses dan kaya raya dari menulis dalam sekejap, dan tiba-tiba saya tertawa, sambil berurai air mata (halah…).
Memangnya apa sih resep jitu untuk menjadi penulis sukses? Dimana saya bisa mendapat peti harta karun itu, atau lampu jin itu, atau buku silat pusaka itu, yang dalam sekejap mata bisa membuat saya jadi penulis sukses? Kalau memang ada, saya–seperti juga semua writer wannabe–pasti juga mau. Tidak perlulah saya kerja keras macam-macam.
Mungkin manusiawi, sebagai manusia kita selalu mencari langkah mudah, the easy way. Seperti pepatah entah dari mana: ‘kalau bisa dipermudah, kenapa mesti dipersulit?’. Pepatah favorit di dunia KKN. Itulah kenapa buku berjudul ‘Menulis Itu Gampang’ bakal lebih mudah dijual di Indonesia daripada ‘Menulis Itu Kerja Keras’.
Ya, menulis adalah soal kerja keras. Soal meluangkan waktu sekian jam dalam sehari secara konsisten buat menulis, belajar menulis, dan juga riset. Soal berkorban untuk waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk kehidupan kita yang lain. Soal duduk di depan komputer, dan mulai menulis, benar-benar untuk menulis, bukan bermain game, chatting atau melakukan yang lain.
Soal menyiapkan diri, bahwa betapapun kerasnya kita melakukan itu, tetap saja kita harus siap mental menghadapi penolakan demi penolakan.
It’s not an easy way.
Jadi lebih baik kita sadar sejak sekarang, tidak gampang menjadi seorang penulis, dan lebih tidak gampang lagi menjadi penulis yang sukses. Ya tentu saja, ada beberapa orang yang diberikan berkah menjadi penulis sukses dalam sekejap, tapi mari kita camkan baik-baik: itu bukan kita, dan kita tidak akan seperti itu. Lebih baik kita tetapkan hati dari sekarang–kalau memang kita masih mau menjadi penulis–kita bisa jadi penulis sukses, tapi bukan dengan cara cepat seperti itu, melainkan dengan kerja keras, dan disiplin. Butuh waktu–dan ini bukan waktu berleha-leha, kesabaran dan konsistensi.
So, friends, just put our butt in chair, and start writing, now.
Start with one word, do not let our paper blank for the whole day.
Keep the spirit, and that’s all. Thank you.
***
Saya menulis ini lebih demi memotivasi diri saya pribadi, dan saya bersyukur jika ini juga bermanfaat bagi anda semua yang telah berkenan membaca. Terima kasih.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
February 27th, 2009 at 8:15 pm
oM, sAbtu kemariN nOveLkUw baru di tOlAk gRAmeD…
kaTanYa belUm memeNuhI standAr penerbiTan,
taPi gA dijelAsIn aPa aJa ??
kUw mo kiRim nOveLkuW ke Om,
gImanA caRanYa ??
biAr oM biSa kasIh komen n NilAi abOuT nOveLkUw,
terUtaMa kekUraNgan2nYa ?
tHx b4 yAh…
February 28th, 2009 at 7:24 am
gigi, coba kirim ke:
rdvillam@yahoo.com
nanti gue sempetin baca, tapi masuk dalam daftar antrian ya, soalnya ada beberapa novel lain yang udah minta direview duluan.
gue tunggu.
March 8th, 2009 at 8:36 am
standar penerbitan itu seperti apa aja seh??
faktor apa yang membuat novel kita diterima atau ditolak??
wah musti cari tahu neh sebelum ngerahin novel ke penerbit..
March 10th, 2009 at 7:48 am
@zeta,
Kalo buat ukuran gramedia, yg namanya ‘standar penerbitan’ itu tidak lain tidak bukan adalah tolak ukur apakah suatu novel marketable (gampang laku) ato enggak. Apa saja aspek dalam novel yg mempengaruhi penilaian ini? Banyak, mungkin saja bisa mencakup tebel naskah, orisinalitas ide, gaya tulis, segmen pembaca, tema, genre, dll
‘Untung’nya, gak semua penerbit punya standar macam standar gramedia gini
March 10th, 2009 at 11:46 am
gue rasa, gak ada salahnya bermimpi untuk menjadi penulis bestseller. lagipula, IMHO, manusia tanpa mimpi seperti burung tanpa sayap.
Ada banyak jalan menuju bestseller. mulai dari marketing yang bagus, nama penulis yang udah jadi jaminan, sampai emang lagi trendnya buku itu (jadi banyak yang cari)
tapi pada akhirnya inti bestseller (atau paling gak calon bestseller) adalah tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati. tulisan yang dibuat karena kamu percaya tulisan itu harus diceritakan ke seluruh dunia. dan kalaupun pada akhirnya gak jadi bestseller, ada kepuasan tersendiri menyelesaikannya. Sesial-sialnya, paling gak kalau udah tua nanti, bisa pamer ke cucu ^_^
March 10th, 2009 at 12:37 pm
heheheh…
pendapat dyah sangat mirip dengan pemikiran gue saat pertama kali memutuskan untuk serius menjadi penulis.
menciptakan warisan yang bisa dibanggakan oleh anak cucu. heheh…
@zetamari, pendapat bloodsin sangat membantu tuh. dan yang gue yakini adalah, standar itu fleksibel, tidak kaku. karena dalam soal marketing atau trend, misalnya, trend tahun ini, tahun depan, atau tahun-tahun yang telah lewat, selalu berubah-ubah. dulu fantasi lagi booming, misalnya, sekarang tidak. dan jika kita mau terus mencoba mengikuti gelombang trend itu, bisa jadi kita bakal kelelahan sendiri.
gue lebih percaya jika lebih baik kita menulis sesuai keinginan hati kita, dengan standar kualitas yang kita ciptakan sendiri. jika kita memang serius, dan hasilnya bagus, jalan penerbitan dan best-seller juga akan datang. I believe.
March 19th, 2009 at 8:08 am
Ooo gitu.. Tapi emang iya seh.. Yang penting kita menulis dengan hati.. Kayak pencipta lagu aja, biasanya kalo nyiptainnya dari hati bisa jadi hits and banyak di request di radio-radio, trus jadi nomer satu deh di tangga lagu..
Lagian penerbit kan bukan cuma Gramedia doang.. Tul gak?? Tinggal milih aja mana yang berkualitas tetapi sejalan dengan keinginan kita..
Gw setuju.. Jika kita memang serius, hasilnya bagus, karya kita sendirilah yang akan menuntun kita menuju penerbit dan best-seller.. Jadi daripada mikirin ntar bakal diterima gak sama penerbit, bakal jadi best-seller apa gak, mending bikin yang buagusss dulu.. (menyemangati sekaligus menghibur diri sendiri
)..
zetamari’s last blog post..SHOPAHOLIC Hobi Yang Jadi Bencana
March 19th, 2009 at 12:48 pm
setuju.
lebih baik sekarang fokus dulu bikin yang bagus. gak usah pikirin soal penerbitan. itu urusan belakangan.
August 26th, 2009 at 1:18 am
menyinggung masalah e-book yang ditawarkan oleh oknum yang mengiming-imingi kesuksesan menjadi seorang penulis di atas memang sangat kita sayangkan. ini nyata, bahkan beberapa oknum lagi membuat rantai MLM untuk usaha serupa: e-book dan impian sukses.
yang jelas seperti yang telah disampaikan bung villam, ‘menulis adalah soal kerja keras.’ kemudahan apapun yang bisa membantu anda untuk sukses itu hanyalah stimulan agar menulis terasa gampang. bahkan menyinggung juga tentang jurus ‘menulis itu gampang,’ menurut saya hal tersebut hanya semata dorongan agar tidak menganggap menulis adalah sebuah usaha memindahkan gunung. meskipun kita harus sadar isi di dalam ‘menulis itu gampang’ adalah kerja keras juga.
saya membaca kisah peraih nobel, juga penulis yang sukses (maaf) menjual hasil karyanya. ternyata kerja keras adalah kunci utama mereka untuk meraih kesuksesan tersebut. tengoklah hary poter yang laris manis itu, siapa sangka penulisnya ditolak empat penerbit terlebih dahulu sebelum sukses seperti sekarang ini. tentunya banyak lagi contoh yang bisa kita jadikan landasan bahwa menulis itu membutuhkan kerja keras.
namun seperti yang telah digembar-gemborkan oleh penulis ‘menulis itu gampang,’ jangan sampai kecintaan kita terhadap kepenulisan terhalangi gambaran sulitnya bekerja keras sebelum sampai kepada kesuksesan yang kita impikan. artinya maju terus, tulis terus, yang lebih penting lagi ayo diskusi terus.
sukses buat bung villam.
August 26th, 2009 at 12:31 pm
setuju.
sukses juga buat kajitow.
August 26th, 2009 at 5:43 pm
dalem ey om kajitow
ndyw´s last blog ..Raisin Buttermilk with Coffe Ala Ndyw
August 27th, 2009 at 12:08 pm
sukses juga buat dirimu, ndyw.