thumb_knightm166Barusan iseng-iseng berkunjung ke situs-situs yang menawarkan resep atau kiat untuk menjadi penulis sukses (atau apapun namanya), yang ujung-ujungnya adalah menawarkan e-book seharga ratusan ribu, yang menjamin kita bakal sukses dan kaya raya dari menulis dalam sekejap, dan tiba-tiba saya tertawa, sambil berurai air mata (halah…).

Memangnya apa sih resep jitu untuk menjadi penulis sukses? Dimana saya bisa mendapat peti harta karun itu, atau lampu jin itu, atau buku silat pusaka itu, yang dalam sekejap mata bisa membuat saya jadi penulis sukses? Kalau memang ada, saya–seperti juga semua writer wannabe–pasti juga mau.  Tidak perlulah saya kerja keras macam-macam.

Mungkin manusiawi, sebagai manusia kita selalu mencari langkah mudah, the easy way. Seperti pepatah entah dari mana: ‘kalau bisa dipermudah, kenapa mesti dipersulit?’. Pepatah favorit di dunia KKN. Itulah kenapa buku berjudul ‘Menulis Itu Gampang’ bakal lebih mudah dijual di Indonesia daripada ‘Menulis Itu Kerja Keras’.

Ya, menulis adalah soal kerja keras. Soal meluangkan waktu sekian jam dalam sehari secara konsisten buat menulis, belajar menulis, dan juga riset. Soal berkorban untuk waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk kehidupan kita yang lain. Soal duduk di depan komputer, dan mulai menulis, benar-benar untuk menulis, bukan bermain game, chatting atau melakukan yang lain.

Soal menyiapkan diri, bahwa betapapun kerasnya kita melakukan itu, tetap saja kita harus siap mental menghadapi penolakan demi penolakan.

It’s not an easy way.

Jadi lebih baik kita sadar sejak sekarang, tidak gampang menjadi seorang penulis, dan lebih tidak gampang lagi menjadi penulis yang sukses. Ya tentu saja, ada beberapa orang yang diberikan berkah menjadi penulis sukses dalam sekejap, tapi mari kita camkan baik-baik: itu bukan kita, dan kita tidak akan seperti itu. Lebih baik kita tetapkan hati dari sekarang–kalau memang kita masih mau menjadi penulis–kita bisa jadi penulis sukses, tapi bukan dengan cara cepat seperti itu, melainkan dengan kerja keras, dan disiplin. Butuh waktu–dan ini bukan waktu berleha-leha, kesabaran dan konsistensi.

So, friends, just put our butt in chair, and start writing, now.

Start with one word, do not let our paper blank for the whole day.

Keep the spirit, and that’s all. Thank you.

***

Saya menulis ini lebih demi memotivasi diri saya pribadi, dan saya bersyukur jika ini juga bermanfaat bagi anda semua yang telah berkenan membaca. Terima kasih.

67 Responses to “Resep Menjadi Penulis Sukses”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 51
    gigi Says:

    oM, sAbtu kemariN nOveLkUw baru di tOlAk gRAmeD…
    kaTanYa belUm memeNuhI standAr penerbiTan,
    taPi gA dijelAsIn aPa aJa ??

    kUw mo kiRim nOveLkuW ke Om,
    gImanA caRanYa ??
    biAr oM biSa kasIh komen n NilAi abOuT nOveLkUw,
    terUtaMa kekUraNgan2nYa ?
    tHx b4 yAh…

  2. 52
    Villam Says:

    gigi, coba kirim ke:
    rdvillam@yahoo.com

    nanti gue sempetin baca, tapi masuk dalam daftar antrian ya, soalnya ada beberapa novel lain yang udah minta direview duluan.
    gue tunggu. :-)

  3. 53
    zetamari Says:

    standar penerbitan itu seperti apa aja seh??

    faktor apa yang membuat novel kita diterima atau ditolak??

    wah musti cari tahu neh sebelum ngerahin novel ke penerbit..

  4. 54
    Bloodsin Says:

    @zeta,

    Kalo buat ukuran gramedia, yg namanya ‘standar penerbitan’ itu tidak lain tidak bukan adalah tolak ukur apakah suatu novel marketable (gampang laku) ato enggak. Apa saja aspek dalam novel yg mempengaruhi penilaian ini? Banyak, mungkin saja bisa mencakup tebel naskah, orisinalitas ide, gaya tulis, segmen pembaca, tema, genre, dll

    ‘Untung’nya, gak semua penerbit punya standar macam standar gramedia gini :P

  5. 55
    dyah p.rinni Says:

    gue rasa, gak ada salahnya bermimpi untuk menjadi penulis bestseller. lagipula, IMHO, manusia tanpa mimpi seperti burung tanpa sayap.

    Ada banyak jalan menuju bestseller. mulai dari marketing yang bagus, nama penulis yang udah jadi jaminan, sampai emang lagi trendnya buku itu (jadi banyak yang cari)

    tapi pada akhirnya inti bestseller (atau paling gak calon bestseller) adalah tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati. tulisan yang dibuat karena kamu percaya tulisan itu harus diceritakan ke seluruh dunia. dan kalaupun pada akhirnya gak jadi bestseller, ada kepuasan tersendiri menyelesaikannya. Sesial-sialnya, paling gak kalau udah tua nanti, bisa pamer ke cucu ^_^

  6. 56
    Villam Says:

    heheheh…
    pendapat dyah sangat mirip dengan pemikiran gue saat pertama kali memutuskan untuk serius menjadi penulis.
    menciptakan warisan yang bisa dibanggakan oleh anak cucu. heheh…

    @zetamari, pendapat bloodsin sangat membantu tuh. dan yang gue yakini adalah, standar itu fleksibel, tidak kaku. karena dalam soal marketing atau trend, misalnya, trend tahun ini, tahun depan, atau tahun-tahun yang telah lewat, selalu berubah-ubah. dulu fantasi lagi booming, misalnya, sekarang tidak. dan jika kita mau terus mencoba mengikuti gelombang trend itu, bisa jadi kita bakal kelelahan sendiri.

    gue lebih percaya jika lebih baik kita menulis sesuai keinginan hati kita, dengan standar kualitas yang kita ciptakan sendiri. jika kita memang serius, dan hasilnya bagus, jalan penerbitan dan best-seller juga akan datang. I believe. :-)

  7. 57
    zetamari Says:

    Ooo gitu.. Tapi emang iya seh.. Yang penting kita menulis dengan hati.. Kayak pencipta lagu aja, biasanya kalo nyiptainnya dari hati bisa jadi hits and banyak di request di radio-radio, trus jadi nomer satu deh di tangga lagu..

    Lagian penerbit kan bukan cuma Gramedia doang.. Tul gak?? Tinggal milih aja mana yang berkualitas tetapi sejalan dengan keinginan kita..

    Gw setuju.. Jika kita memang serius, hasilnya bagus, karya kita sendirilah yang akan menuntun kita menuju penerbit dan best-seller.. Jadi daripada mikirin ntar bakal diterima gak sama penerbit, bakal jadi best-seller apa gak, mending bikin yang buagusss dulu.. (menyemangati sekaligus menghibur diri sendiri :D )..

    zetamari’s last blog post..SHOPAHOLIC Hobi Yang Jadi Bencana

  8. 58
    Villam Says:

    setuju.
    lebih baik sekarang fokus dulu bikin yang bagus. gak usah pikirin soal penerbitan. itu urusan belakangan.

  9. 59
    kajitow Says:

    menyinggung masalah e-book yang ditawarkan oleh oknum yang mengiming-imingi kesuksesan menjadi seorang penulis di atas memang sangat kita sayangkan. ini nyata, bahkan beberapa oknum lagi membuat rantai MLM untuk usaha serupa: e-book dan impian sukses.

    yang jelas seperti yang telah disampaikan bung villam, ‘menulis adalah soal kerja keras.’ kemudahan apapun yang bisa membantu anda untuk sukses itu hanyalah stimulan agar menulis terasa gampang. bahkan menyinggung juga tentang jurus ‘menulis itu gampang,’ menurut saya hal tersebut hanya semata dorongan agar tidak menganggap menulis adalah sebuah usaha memindahkan gunung. meskipun kita harus sadar isi di dalam ‘menulis itu gampang’ adalah kerja keras juga.

    saya membaca kisah peraih nobel, juga penulis yang sukses (maaf) menjual hasil karyanya. ternyata kerja keras adalah kunci utama mereka untuk meraih kesuksesan tersebut. tengoklah hary poter yang laris manis itu, siapa sangka penulisnya ditolak empat penerbit terlebih dahulu sebelum sukses seperti sekarang ini. tentunya banyak lagi contoh yang bisa kita jadikan landasan bahwa menulis itu membutuhkan kerja keras.

    namun seperti yang telah digembar-gemborkan oleh penulis ‘menulis itu gampang,’ jangan sampai kecintaan kita terhadap kepenulisan terhalangi gambaran sulitnya bekerja keras sebelum sampai kepada kesuksesan yang kita impikan. artinya maju terus, tulis terus, yang lebih penting lagi ayo diskusi terus.

    sukses buat bung villam.

  10. 60
    Villam Says:

    setuju.

    sukses juga buat kajitow. :-)

  11. 61
    ndyw Says:

    dalem ey om kajitow
    .-= ndyw´s last blog ..Raisin Buttermilk with Coffe Ala Ndyw =-.

  12. 62
    Villam Says:

    sukses juga buat dirimu, ndyw. :-)

  13. 63
    pipit Says:

    artikelmu bagus aku setuju, aku punya ide naskah trilogi, dimana idenya muncul sejak umur 10 tahun, dan satu tahun (2010 – 2011 )baru selesai nulis naskah 1, sudah kucoba kukirim ke 3 penerbit Alhamdullilah di tolak, tapi aku tetap semangat nyelesaikan naskah 2 dan 3. Karena aku sudah cinta dengan cerita dan tokoh hayalanku ini.seorang penulis harus dengan hati, sekarang yg aku bingungkan penerbit mana yang mau menerbitkan tema scifi, romance dan fantasi

  14. 64
    Villam Says:

    pipit,
    gak perlu bingung. nemu penerbit itu ibarat dapetin jodoh. hehehe… jika memang naskahmu bagus, dan waktunya tepat, cepat atau lambat pasti akan ketemu. yang penting kita jalan terus jangan sampe berenti, baik menulis maupun coba ngirim ke banyak penerbit, karena dengan semakin banyak usaha, semakin besar pula kemungkinan buat berhasil.
    good luck. :-)

  15. 65
    daff Says:

    Setuju. Lagipula aneh bagaimana bisa menulis itu segampang yang digembar-gemborkan kalo teori dibukunya aja sampai ratusan lembar? kalo iya gampang harusnya ngga lebih dari sepuluh lembar. :p

  16. 66
    Putra.perdana Says:

    Hai Villam,
    Lama ga ketemu sejak kita kenal di Festival Pembaca di PasFes. Dan gue baru sempet baca buku lo, apa lo dah sempet baca Biru Indigo?
    Anyway jadi basa-basi nih. Langsung aja deh, setelah Gerbang Sungai Tigris, materi untuk sekuel-sekuelnya udah jadi belom? Lo ngerasa gak sih kalo jebolin naskah sekuel itu lebih susah? Gue belom berhasil tembusin naskah sekuel Biru Indigo nih, malahan sibuk proyek nulis yang lain.
    Pengen ngobrol banyak deh seputaran tulis-menulis. Forum yang enak apa ya?

  17. 67
    Villam Says:

    Hai Putra,
    iya nih, kemana aja ente gak keliatan dimana-mana? hehe…

    Akkadia: GST awalnya ditulis dulu sebenernya sih gak diniatkan buat bersekuel2. Jadi ya begitu ceritanya selesai, gue kemudian lebih banyak nulis cerita-cerita lainnya. Di cerita lain itu malah udah jadi beberapa sekuel. Baru belakangan ya kemudian ada ide, mungkin Akkadia juga bisa dibikin lanjutannya. Tapi ya belum bisa diseriusin, karna gue juga masih sibuk nulis yang lain itu.

    nah yang Biru Indigo, gue belum ngerti, belum bisa nembus itu maksudnya belum selesai ditulis, atau udah ditulis tapi penerbitnya belum mau nerbitin?

    kalo problemnya di penerbitan, gue rasa sih gak susah ya. itu mestinya bisa diusahakan. tapi kalo problemnya di penulisan, ya itu memang berat. yang gue percayai sih menulis itu sangat butuh momentum. jadi mestinya begitu dulu buku pertama itu selesai, harusnya langsung dikebut nulis ke buku berikutnya, sampe ceritanya bener2 selesai. itu bakal lebih mudah.

    nah sekarang, kalo emang mau nulis sekuel, ya mau gak mau momentum itu mesti didapetin lagi, entah gimana caranya. baca ulang lagi buku satu, supaya kita jatuh cinta lagi sama tokoh-tokoh yang dulu. setelah itu fokus, jangan lagi ke-distract sama yang lain.

    tapi saran gue juga sih, kalo sekarang misalnya elu juga punya proyek menulis cerita lainnya, ya berarti yang ini aja yang dikelarin dulu. setelah ini beres, baru balik lagi ke Biru Indigo. mumpung yang baru ini lagi ada momentumnya. kalo pindah2 terus ya nanti gak bakal ada yang jadi. :-)

    kalo mau ngobrol, di sini bisa, di web gue yang satu lagi: http://www.kastilfantasi.com (Kastil Fantasi) juga bisa, di forum macam di goodreads atau yang lain juga bisa (linknya ada di pojok kanan bawah Kastil Fantasi). dan kalo nanti mau ketemuan langsung di acara FPI 2011 tanggal 4 Desember juga bisa, ketemuan dengan banyak penulis fantasi lainnya. :-)

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply