Resep Menjadi Penulis Sukses
Posted by: Villam in About Writing, tags: motivasi, penulis sukses, Tips Menulis
Barusan iseng-iseng berkunjung ke situs-situs yang menawarkan resep atau kiat untuk menjadi penulis sukses (atau apapun namanya), yang ujung-ujungnya adalah menawarkan e-book seharga ratusan ribu, yang menjamin kita bakal sukses dan kaya raya dari menulis dalam sekejap, dan tiba-tiba saya tertawa, sambil berurai air mata (halah…).
Memangnya apa sih resep jitu untuk menjadi penulis sukses? Dimana saya bisa mendapat peti harta karun itu, atau lampu jin itu, atau buku silat pusaka itu, yang dalam sekejap mata bisa membuat saya jadi penulis sukses? Kalau memang ada, saya–seperti juga semua writer wannabe–pasti juga mau. Tidak perlulah saya kerja keras macam-macam.
Mungkin manusiawi, sebagai manusia kita selalu mencari langkah mudah, the easy way. Seperti pepatah entah dari mana: ‘kalau bisa dipermudah, kenapa mesti dipersulit?’. Pepatah favorit di dunia KKN. Itulah kenapa buku berjudul ‘Menulis Itu Gampang’ bakal lebih mudah dijual di Indonesia daripada ‘Menulis Itu Kerja Keras’.
Ya, menulis adalah soal kerja keras. Soal meluangkan waktu sekian jam dalam sehari secara konsisten buat menulis, belajar menulis, dan juga riset. Soal berkorban untuk waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk kehidupan kita yang lain. Soal duduk di depan komputer, dan mulai menulis, benar-benar untuk menulis, bukan bermain game, chatting atau melakukan yang lain.
Soal menyiapkan diri, bahwa betapapun kerasnya kita melakukan itu, tetap saja kita harus siap mental menghadapi penolakan demi penolakan.
It’s not an easy way.
Jadi lebih baik kita sadar sejak sekarang, tidak gampang menjadi seorang penulis, dan lebih tidak gampang lagi menjadi penulis yang sukses. Ya tentu saja, ada beberapa orang yang diberikan berkah menjadi penulis sukses dalam sekejap, tapi mari kita camkan baik-baik: itu bukan kita, dan kita tidak akan seperti itu. Lebih baik kita tetapkan hati dari sekarang–kalau memang kita masih mau menjadi penulis–kita bisa jadi penulis sukses, tapi bukan dengan cara cepat seperti itu, melainkan dengan kerja keras, dan disiplin. Butuh waktu–dan ini bukan waktu berleha-leha, kesabaran dan konsistensi.
So, friends, just put our butt in chair, and start writing, now.
Start with one word, do not let our paper blank for the whole day.
Keep the spirit, and that’s all. Thank you.
***
Saya menulis ini lebih demi memotivasi diri saya pribadi, dan saya bersyukur jika ini juga bermanfaat bagi anda semua yang telah berkenan membaca. Terima kasih.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
December 23rd, 2008 at 10:20 am
I have to admit that I agree with this.
Betul memang, rasanya menyebalkan pada prosesnya–duduk sampai pantat sakit, mencari inspirasi, membuat kalimat yang paling tepat, edit dan review ulang, pendalaman karakterisasi, belum kehadiran writer’s block dan hambatan2 lain mulai dari mati lampu sampai file hilang–tapi ketika naskah selesai, nothing can replace the feeling. Senang, lega, campur jadi satu. Plus, selesainya naskah berarti one step ahead, ketemu tantangan baru yaitu bagaimana caranya naskah bisa tembus penerbit, yang kalaupun telah ditembus, muncul tantangan baru lagi: bagaimana memasarkan naskah tersebut–yang ini kombinasi antara promosi, distribusi dan kredibilitas.
Kalau sudah begini, royalti tidak bisa mengganti kepuasan melihat novel kita dipajang di display toko buku.
I don’t wanna be a ‘one shot wonder’-writer, yang ngetop dengan novel pertama terus orang wonder aq ke mana. I want to last longer. And there’s no shortcut to achieve this.
December 23rd, 2008 at 10:22 am
Ooops.. lupa..
Menulis tidak sama dengan memasak.
Hehhee..
December 23rd, 2008 at 11:41 am
ya, tanpa mengabaikan orang-orang yang memang mencari uang dari kegiatan tulis-menulis, bagiku pribadi juga, kepuasan diri lebih penting.
dan memang, supaya terasa indah hasilnya, seluruh prosesnya mestinya dilakukan tahap demi tahap, jangan terburu-buru. jangan karena tidak sabar ingin cepat-cepat sukses, sudah berpikir terlalu jauh sampai ke soal bisa atau tidak jadi best-seller, atau bagaimana mengirim ke penerbit, misalnya, padahal bukunya sendiri belum selesai ditulis, atau bahkan belum mulai ditulis. karena kebanyakan mikir apakah nanti tulisannya bisa diterima orang atau tidak, kemudian malah jadi ragu, atau takut, atau malas, untuk menulis.
jadi nasihat lanjutan dari si kakek bijak, lakukan semua proses dengan baik, batu demi batu, darah demi darah. mulailah dengan menulis dan menulis dengan baik sampai selesai, meminta kritik dan merevisi, barulah berpikir soal mengirim ke penerbit. konsentrasi ke hal-hal yang penting lebih dulu.
soal ‘one shot wonder’, udah banyak contoh seperti itu. dan mudah-mudahan kita gak jadi seperti itu. mindsetnya harus diubah. gak penting sekedar menerbitkan novel doang. itu bukan pencapaian hebat. yang bagus adalah jika kemudian kita bisa terus menerbitkan novel-novel berikutnya.
and it’s still long way to go…
but we have to believe, it’s achievable.
btw, kegiatan menulis memang tidak sama dengan memasak. yang sering dianalogikan sebagai memasak adalah kegiatan membuat novelnya.
December 23rd, 2008 at 11:43 am
dan buku resep menulis tidak sama berhasilnya dengan buku resep memasak.^ ^
December 23rd, 2008 at 11:49 am
kalo buat penulisnya mungkin berhasil, lha wong dia bisa jual banyak kok. heheh…
December 23rd, 2008 at 1:58 pm
Menulis tanpa proses=menulis instan
Menulis instan=mi instan
Mi instan: tak baik untuk kesehatan, mengandung banyak zat kimia berbahaya, hanya mengandung karbohidrat sedikit vitamin.
Tapi di iklan bilangnya: mi blalala seddaaappp, bergizi dengan tambahan vitamin.
Menulis instan: tak baik untuk perkembangan mental, hanya mengandung sedikit pengalaman
Di iklannya: seperti yang ditulis di artkel ini
Kesimpulan:
Ternyata efek menulis instan dan mi instan mirip
Jadi:
mi instan + menulis instan= mengancam kesehatan
Mi instan: tak baik untuk kesehatan fisik
menulis instan: tak baik untuk perkembangan mental
Maka bisa dirumuskan efek sampingnya:
mi instan=menulis instan
Nah… Tolong para ahli mengoreksi rumus yang baru saya temukan ini^_^
(kebanyakan belajar fisika sama mat, tolong dimaklumi)
December 23rd, 2008 at 2:17 pm
hueheheheh…
selamat, feline, atas penemuan rumus barunya.
tapi, btw, pertama kudu dilihat dulu mana yang lebih cocok dianalogikan dengan mi instan, apakah penulis instan, menulis instan, atau tulisan instan.
dan, instan, tergantung konteksnya, bisa berkonotasi positif maupun negatif.
jika menulis instan diartikan sebagai menulis cepat (secara cepat itu adalah prosesnya), maka bisa saja itu menjadi bagus. karena cepat berarti bagus. menulis tanpa beban, kata-kata keluar begitu saja dengan cepat dan mudah. dengan mengabaikan kualitas isinya, yang penting semua kata-kata itu bisa keluar lebih dulu, itu adalah langkah awal yang bagus.
heheh… puyeng?
December 23rd, 2008 at 2:28 pm
ke ke ke ke ke kek…
ngakak aku baca comment feline
December 23rd, 2008 at 2:52 pm
Oh iya lupa, lupa negatifnya. Tambahin dehh
Diketahui:
-instan(negatif instan)
December 23rd, 2008 at 2:56 pm
heheh… iya…
kita minta feline bikin rumus-rumus laen aja kali ya? hubungan antara massa, momentum, usaha, dan hasil, mungkin? hehe…
December 23rd, 2008 at 3:03 pm
aku suka makan mie instan, yang rasa ayam bawang kekekekekek
mocca_chi’s last blog post..Untuk Dua Puluh Tiga Tahun Ini….
December 23rd, 2008 at 3:10 pm
aku juga suka sih…
heheh… OOT lagi nih… wkwkwwkk…
December 23rd, 2008 at 3:11 pm
katanya kebanyakan mi instan bisa bikin rambut kriting ya?
(kok obrolannya jadi ngalor-ngidul ga karuan gini?)
December 23rd, 2008 at 3:29 pm
makanya… kembali ke laptop ah! heheheh…
gue kasih pertanyaan baru aja deh.
jika kita memang sudah tahu bahwa untuk menjadi penulis yang sukses adalah merupakan jalan panjang, berapa lama waktu yang bersedia kita korbankan di sana? sampai kapan kita bersedia berada di jalan itu? karena, bukankah ada kemungkinan kita akan gagal total?
heheheh… ada yang mau menjawab?
December 23rd, 2008 at 3:41 pm
tolok ukur dikatakan sukses itu apa dulu?
berhasil nerbitin buku? best seller?
December 23rd, 2008 at 3:46 pm
gimana kalo pertanyaan ini villam aja yang jawab, secara beliau udah makan asam garam pengajuan naskah ke penerbit?
masih relakah membuang waktu lebih banyak lagi untuk bisa punya novel sendiri?
December 23rd, 2008 at 4:01 pm
@max,
karena ukuran sukses bagi tiap orang bisa beda-beda. kalo buat gue, ukurannya lebih dari dua hal yang elu sebutkan itu, menyangkut eksternal ke lingkungan dunia fiksi fantasi indonesia, dan juga internal ke diri gue sendiri. tapi tujuan itu kan gak mungkin dipaksakan untuk sama juga ke orang lain.
yang ingin ditanyakan di sini adalah, sampai berapa lama kita bersedia berkubang menyisihkan waktu dan energi di dalam kebelum berhasilan ini?
@dian,
huuu… masak mesti dijawab sendiri sih? heheh…
December 24th, 2008 at 6:28 pm
sebelum menanyakan sesuatu, tanyakan terlebih dahulu pada ornag lain kekeke…
hmm.. sampai kapan? kita ga akan tahu kondisi dan sutiasu besok kan! nah klo aku, lihat besok saja
mocca_chi’s last blog post..Termanggu…
December 24th, 2008 at 10:14 pm
semoga tetap ada hari esok…
December 26th, 2008 at 4:05 pm
semoga
panah hujan’s last blog post..* Coretan – Tentang Kehidupan – dan Seseorang
December 27th, 2008 at 7:59 am
senyum berarti optimis ya…
December 27th, 2008 at 12:59 pm
sangat optimis
December 27th, 2008 at 8:49 pm
Kesuksesan itu berawal dari mimpi, dan mimpi itu adalah target kita, yg harusnya setinggi langit.
Set a target, list the things you need to do in order to get to the target, and then do it without ever looking back. You’ll get there eventually.
Make a wish, not to God, nor to anyone else,but to yourself, and it shall be granted, by your own two hands.
Sisanya yg membedakan kesuksesan tiap orang tinggal seberapa tinggi target yg dipasang, dan seberapa besar pengabdiannya dalam mengejar target itu. Think big, and you’ll become big, itu yg selalu gw pegang dalam hidup gw, dan juga dalam menulis. Ketika gw melakukan sesuatu gw ga pernah menargetkan hanya sekedar berhasil ataupun jadi nomor 2 sekalipun. Everything is meaningless if I’m not the best, itu yg selalu gw tekankan dalam hidup ^^.
Dengan begitu kita bisa lebih keras dalam berusaha krn tanpa usaha dan strategi yg matang ga mungkin bisa jd yg terbaik. Tp jeleknya mindset seperti itu adalah stress rate yg cenderung tinggi krn toh kemampuan kita memang kadang ada batasnya, bisa ditembus, tp pastinya melelahkan sekali.
Oh iya, bos Villam, laporan! Ini gw nyoba pake browser ‘google chrome’ dan webmu ini bisa berjalan dgn baik layaknya di firefox
December 28th, 2008 at 7:07 am
terkatakan dengan baik, serpentwitch. salut.
di sini gue cuman nambahin aja: setiap kesuksesan, selain membutuhkan usaha yang besar, juga membutuhkan pengorbanan yang besar pula. saat memulai sekarang, kita sudah harus tahu dan siap dengan segala konsekuensinya.
yeah, itu yang membuatnya menarik.
December 28th, 2008 at 11:27 am
Well, life is a gamble after all.
Bet a little and you’ll win a puny
Bet a lot and you’ll win a fortune
Ah, aku terlalu banyak berjudi… tapi, hidup itu kan hambar kalau ga ada taruhannya? Feeling yg didapat ketika berhasil melakukan hal yg success ratenya mungkin mendekati nol, and we did it, that’s the most golden feeling I’m craving for.
Apa kenikmatannya melakukan yg semua orang bisa? Lakukan yg tidak bisa dilakukan orang lain, baru nikmat
Lebih berasa, berasa lebih… wkwkkwk
December 29th, 2008 at 7:53 am
haha… iya, itu betul sekali.
btw, menulis adalah kegiatan yang bisa dilakukan semua orang. cuma butuh kertas dan pulpen, atau komputer dan keyboard.
tapi menulis cerita yang bagus tidak bisa dilakukan banyak orang. dan lebih sedikit lagi yang kemudian bisa dibaca banyak orang dan mendatangkan sukses bagi penulisnya.
December 31st, 2008 at 9:38 am
Tapi sebenarnya bimbang juga sih, secara gw hidup di tengah orang2 yg menganggap menulis itu hanya bisa dijadikansebagai hobi semata, yg menganggap menulis untuk mendapat uang banyak dan jadi best seller itu jelas absurd, dan merupakan impian anak2 yg belum dewasa (Baca : belum melihat kejamnya dunia) seperti yg si Rey ada bilang di ffdn.
Keluarga gw sendiri jg lebih senang gw berada di jalur yg aman2 aja, jgn melakukan hal absurd seperti selfpublishing, dan hanya menulis kalau ada waktu aja, intinya can’t be more than a hobby. Sayangnya gw bukan org yg bisa multitasking, dan gw jelas iri dgn mrk yg bisa bekerja dan melakukan hobby scr bersamaan namun bisa tetep fokus.
So, kl menurut Villam sendiri, apa beresolusi melakukan self publishing dan berniat hidup dari itu, serta mencapai best seller itu, semuanya hal bodoh yg biasa diimpikan anak kecil? Seperti memang di peter pan (loh?) that says, to be an adult means to stop believing in dreams?
Kl menurut gw, to be an adult means to stop believing, and start realizing those dreams. Stop dreaming, and start getting to work on those dreams. Tapi sepertinya sedikit sekali org yg seperti itu… melelahkan ya? bermimpi sendirian… -__-
December 31st, 2008 at 11:17 am
bermimpi itu setengah dari cita-cita, cita-cita itu setengah dari rencana, rencana itu setengah dari usaha, usaha itu setengah dari keberhasilan. keberhasilan itu memang diawali dari mimpi kok, hanya saja memang banyak tahap yang harus dilalui, dan gak bisa semuanya didapat dalam waktu singkat.
dan seperti yang elu bilang, itulah yang membedakan orang dewasa dan anak kecil. anak kecil hanya sebatas bermimpi dan bercita-cita, sedangkan orang dewasa bergerak membuat rencana dan berusaha. tapi bukan berarti stop believing, karena apa dasarnya dia berusaha kalo dia gak percaya dia bisa? orang bisa termotivasi kalau dia percaya pada sesuatu.
gue sebenarnya sama juga kok, orang yang pragmatis dan realistis. gue tau betul bahwa sangat sulit menjadi penulis sukses dan hidup makmur dari itu di negeri ini. hanya satu dua orang yang diberkati yang bisa mencapai itu semua dalam waktu singkat. tapi toh sejauh ini gue masih menulis, masih bisa membagi waktu, mencicil sedikit demi sedikit, karena gue percaya bahwa suatu hari nanti gue pasti bakal mencapai sesuatu.
tapi memang betul, gue juga punya kehidupan lain di luar menulis. dan itu gak bisa ditinggalin. gue gak mau mengorbankan itu. maka apa boleh buat, gue harus mengubah diri gue dengan cara yang lebih keras dan lebih cerdik, dengan cara membagi waktu dan konsentrasi, tanpa merugikan yang lain. that’s not easy, but that’s the art of life.
maka itu, jeff, sekarang tidak bermanfaat menyebut diri kita bukan jenis orang yang bisa multitasking. karena multitasking itu adalah keharusan. belajar untuk multitasking adalah belajar untuk menjadi dewasa. multitasking adalah satu-satunya cara untuk mengubah diri kita dari pemimpi bocah menjadi pemimpi dewasa.
just do it, bro. dan tenang, elu gak bermimpi sendirian.
karena sebenarnya, semua orang itu bermimpi kok. hanya saja sebagian adalah anak-anak dan sebagian adalah orang dewasa.
December 31st, 2008 at 1:50 pm
Oalah… multi tasking…
haruskah? >…< Biaya maintenance kesehatan yg membengkak etc…
Huahua… mikirnya jadi makin jauh melenceng. Yg pasti multitasking bagi gw masih terlihat sangat menyeramkan -__- Gw prefer melakukan satu persatu scr berurutan. Seperti yg sekarang ini gw lakukan: ngumpulin modal self publishing dan modal biaya hidup ke depannya dgn bekerja abis2an sekarang, tp sbg gantinya setelah project ini selesai, gw mau fokus 100% ke menulis, dan ga kan kerja nyari duit sampai novel itu selesai. Entah gimana realisasinya nanti lancar pa kaga hauhua…
December 31st, 2008 at 1:56 pm
Hm? kok ada yg missing text dr postingan gw? wew… apa ga sengaja ke delete.
repost :
————————————————————————-
Oalah… multi tasking…
haruskah? >….< Biaya maintenance kesehatan yg membengkak etc… Ibaratnya ngejer 2 hal sekaligus, berakhir ga dapat keduanya.
Huahua… mikirnya jadi makin jauh melenceng.
Yg pasti multitasking bagi gw masih terlihat sangat menyeramkan -__- Gw prefer melakukan satu persatu scr berurutan. Seperti yg sekarang ini gw lakukan: ngumpulin modal self publishing dan modal biaya hidup ke depannya dgn bekerja abis2an sekarang, tp sbg gantinya setelah project ini selesai, gw mau fokus 100% ke menulis, dan ga kan kerja nyari duit sampai novel itu selesai. Entah gimana realisasinya nanti lancar pa kaga hauhua…
December 31st, 2008 at 1:58 pm
lohhh???? Ilang lagi di bagian yg sama??
Sepertinya lagi dikutuk hari ini -__-
ya sudahlah, u get what I mean.
December 31st, 2008 at 2:10 pm
ada yang ilang? emang lu nulis apaan?
jangan-jangan kena sensor otomatis. hahahah…
yang jelas, gak setiap orang bisa disamain jalan yang harus dilewatinya. pengalaman adalah guru terbaik. jalan apapun yang kita pilih bisa membuat kita sampai ke tujuan, asal kita memang benar-benar bisa mengambil manfaat darinya. batasannya kemudian hanya satu: waktu.
apakah kita cukup punya/diberikan waktu untuk sampai ke sana.
halah… omongan gue terlalu berat nih…
December 31st, 2008 at 2:54 pm
ga tau, kynya ga ada hal yg perlu disensor deh. Lagian yg ilang satu paragraf, bukan nya 1 kata/ kalimat
huahau
And you’re right…
So many things, So little time…
sigh, but that is what living is all about,
to make the most of your time in this world. hehe
December 31st, 2008 at 3:17 pm
so let’s do it.
let’s write. hahahah…
and finish the story first, as good as possible.
do not think about publishing matters right now.
January 2nd, 2009 at 8:21 am
haha, pikiranku tak bisa dikontrol. Tiap malem kalau ga bisa tidur, bayanginnya lagi jualan buku wkwkwk, selalu di masa depan. Kalau dapet ide cerita juga biasanya buat bbrp chapter ke depan dan masih jauh. Ga pernah dapet ide buat esok hari >.< Memang tipe orang yg ga bisa fokus dgn yg udah ada di depan mata wkwkwk.
Ditambah lagi skrg lagi keranjingan main Persona 4. Damn too addictive. Kynya gw bakal jd tipe org yg ampe tua tetep maen game huahua.
January 3rd, 2009 at 5:26 pm
heheheh…
yang jadi masalah adalah kalo ide-ide itu datang dan tidak langsung ditulis karena masih jauh di depan. jadinya nanti akhirnya pudar sebelum waktunya. yeah, gue juga sering begitu kok. makanya gue nulis ini:
http://www.rdvillam.com/2008/12/ide-ide-datang-lebih-cepat-dibandingkan-kemampuan-menulis/
soal game, emang berbahaya. untung gue udah bisa lepas dari keadiktifannya. hahahah…
January 5th, 2009 at 11:59 am
berat. benar-benar berat.
tapi belakangan aku belajar bahwa daripada aku ngeluh panjang2, lebih mending aku nulis dulu sekalipun dikit2.
fuih. post yang sangat membangkitkan semangat bung villam.
January 5th, 2009 at 12:18 pm
iya mengeluh tak ada gunanya.
lebih baik lakukan apa yang terbaik bisa kita lakukan sekarang.
dan juga lakukan dengan ikhlas.
January 7th, 2009 at 8:15 am
Villam, guess what?
ini artikel paling bagus bikinan u dari semua yang pernah gw baca, cool. artikel ini ‘kena’ banged di gw, dan gw sepakat mati dengan 3 baris kalimat english terakhir.
January 7th, 2009 at 8:46 am
thank you, rey.
ayo, Butt In Chair.
itu satu-satunya solusi sejauh ini, dan mungkin selamanya. hahahahah…
January 7th, 2009 at 11:26 am
satu2nya utk selamanya?
hah! i doesn’t sound like you, villam.
heheh
January 7th, 2009 at 11:39 am
yeah, kalau saja proses menulis bisa dilakukan saat tertidur–kita bermimpi menulis dan ternyata saat bangun tulisannya sudah jadi–betapa menyenangkan sekali.
tapi mungkin di masa depan itu bisa; dan BIC bukan lagi satu-satunya cara.
January 8th, 2009 at 6:56 pm
Di indonesia apa ada agen penulis mas? Kan enak penulis tinggal menulis dan menyetor saja (walau keuntungan dikurangi gaji agen btw) sementar masalah administrasi, kontrak dan segala tetek bengek diurus si agen.
January 9th, 2009 at 8:52 am
nah itu dia yang sebenarnya menarik juga dibahas, dan mungkin nanti mau gue bikin topik tersendiri.
kalo di amrik, karena industri literaturnya memang sudah besar dan kompleks, ada dua agen, yaitu personal agent (manager) dan literary agent. nah yang lu sebut di atas itu adalah personal agent.
yang lebih menarik adalah literary agent. jadi kalo di amrik sono, para editor penerbit gak mau menerima naskah langsung dari penulis, mereka hanya mau menerima naskah yang sudah direkomendasikan oleh literary agent. para agen ini adalah mereka2 yang punya kualitas mumpuni buat menilai sebuah naskah, dan rata-rata memang mengkhususkan diri pada genre tertentu, misalnya literary agent khusus fantasi. penulis yang gak bisa menembus mereka, gak bisa menembus editor penerbit.
January 9th, 2009 at 11:42 am
jd… apa keuntungannya bagi penulis kl ada agent2 itu?
January 9th, 2009 at 1:02 pm
keuntungannya, penulis bisa mendapat jawaban lebih cepat jika dia terlebih dulu ngirim ke literary agent: apakah ditolak atau direkomendasikan ke penerbit. selain itu, penjelasan kenapa ditolak bisa lebih mengena dan komprehensif.
misalnya begini: jika langsung ke penerbit, jawaban ditolak atau tidak baru bisa datang dalam waktu satu tahun, atau yang terburuk, hilang begitu saja. sementara jika lewat agent, jawaban dari agent cukup beberapa bulan setelah dikirim. jika direkomendasikan, penerbit bakal memproses lebih cepat dengan membandingkan dengan naskah2 lain yang juga direkomendasikan.
January 13th, 2009 at 5:25 pm
villam,
peluang bisnis nih kyknya.
bibit unggul reviewer fikfan udah kita punya kan?
January 19th, 2009 at 11:01 am
iya, bisa jadi peluang bisnis yang bagus.
mau coba? heheheh…
January 20th, 2009 at 1:58 am
Kalau Mas jadi agen kan berarti dapat mengontrol kualitas novel Fantasi Indonesia walau nggak secara langsung banget sih. Dan lagi, siapa tahu mas bisa mendorong/mengenali sebuah karya bagus buat fans fantasi tapi dipandang sebelah mata oleh para penerbit.
January 20th, 2009 at 8:44 am
hmm…
yang jelas, seperti jualan bakso atau martabak, ada sebuah kredibilitas yang harus dibangun, supaya bisa mendapat kepercayaan dari semua pihak yang terkait. heheheh…