The Forgotten Heroes – The Map
Posted by: Villam in Cerita, tags: peta fantasi, The Forgotten Heroes, villam's story
Di samping ini adalah gambar (sebagian) peta dunia kisah The Forgotten Heroes, yang baru saja selesai digores langsung di komputer melalui software Corel Draw 11. Memang masih sangat sederhana, tapi sementara ini cukuplah untuk disisipkan ke hardcopy Buku Satu yang akan coba saya lempar lagi ke penerbit awal tahun depan.
Dengan peta ini semoga para pembaca bisa lebih membayangkan dimana Elniri, negeri asal sang penakluk. Lalu negeri Terran, Melbrond, Haston, dan Maltan. Juga tempat Fabien membangun desanya di utara, letak Kuil Ksatria di Gunung Hohn, dan tanah para penyihir di Lembah Heiszl.
Tapi memang, peta ini belum mencakup lebih jauh lagi ke utara (tempat asal muasal Vilnar dan William), dan jauh ke barat, ke tanah mistis tempat berkeliaran hewan-hewan mitologi, dan juga tempat perang dunia yang sesungguhnya, yang nanti bakal diceritakan di buku-buku selanjutnya.
Related posts:
- Akkadia: Gerbang Sungai Tigris Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, novel fantasi pertama saya, akan segera...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
December 9th, 2008 at 12:42 pm
aduh kecil amat gbrnya >.< Liat stroke tebel tipisnya sih asik, tp itu bentuk pulaunya curvy banget, harusnya bentuk pulau kan lebih geradakan dan kasar. Gw pengen nyoba bikin map yg lebih mirip dilihat dr ketinggian tertentu secara realis. Umm kaya ngeliat Simcity 4 dr jauh gt hehe… kynya keren kl bisa di lukiskan. Bayanginnya sih asik, tp kynya susah bikinnya ahuhauahua
December 9th, 2008 at 1:40 pm
cukup gede kok sebenernya gambarnya, keliatan jelas nanti nama-namanya kalo udah diprint bersama ceritanya. dan bener, bentuk pulaunya emang masih terlalu curvy. ntar gue coba bikin lebih detil.
kalo mau liat contoh map yang kayak elu maksud itu, coba liat novel fantasi ‘Abarat’. mungkin bisa dapet inspirasi dari sono.
December 11th, 2008 at 11:42 am
Enggak curvy juga gapapa kok. Itu bisa buat menegaskan keterbatasan ilmu pengetahuan dsb pada masa itu.
Tapi kalo mau dibikin berskala, um, entah mengapa kurasa jarak daratan Elniri masih terkesan agak terlalu dekat ke utara. Soalnya dalam cerita2 Bung, Elniri terkesan berada jauuuh sekali dari dunia lain dengan budaya dan masyarakat yang berbeda.
Tapi mungkin juga aku mikir gini karena petanya belum kebaca jelas.
December 11th, 2008 at 11:46 am
kalau saya sih biasanya gambar pake software autorealm, tapi coreldraw juga bisa ya ternyata
December 11th, 2008 at 1:02 pm
iya, alfare, aku juga mikir jarak antara elniri dan benua utara agak terlalu dekat gambarnya. seharusnya lebih jauh. masalahnya kemudian gambarnya akan terlalu kosong di tengah, yang isinya lautan doang. mungkin memang lebih realistis jika dibuat dua peta aja: benua utara dan benua selatan.
calvin, iya nih aku baru masuk websitenya autorealm. baru tau ternyata ada software bikin map gratisan gini. tapi masih bingung gimana cara ngedownloadnya.
December 11th, 2008 at 1:16 pm
software apa pula itu >.< Buat ku software gambar hanyalah Photoshop seorang. wkwkwwk. Tp bener juga sih kt Alfare, tergantung kemampuan dan teknologi sang pembuat peta, bisa aja petanya lebih sederhana dan curvy.
novel fantasy Abarat? ntar gw coba cari de. Blom pernah denger sih gw. hehe.
December 11th, 2008 at 2:49 pm
ini situsnya, jeff: http://autorealm.sourceforge.net/
dan ini kalo mau download: http://downloads.sourceforge.net/autorealm/AR221Setup.exe?modtime=1142502091&big_mirror=0
dan bicara soal teknologi pembuatan peta di masa lampau, ada satu lagi yang selalu menjadi ciri-ciri peta di dunia fantasi, yaitu: dunianya berbentuk datar seperti meja, tidak bulat. hahahah…
kalo abarat, mestinya ada deh di toko buku. karya clive barker, terbitan gramedia kok. 2008 atau 2007 ya?
December 18th, 2008 at 5:34 pm
umm.. belum bisa komentar.. petanya terlalu kecil.
..
..
… ato minusku nambah ya? hihihi
December 18th, 2008 at 5:43 pm
minus nambah… hmm… kayaknya resiko penulis…
duh…
ntar aku kasih petanya bareng jilidan draft TFH yang terakhir deh. versi yang entar mau dikirim ke penerbit jugak. heheh…
December 31st, 2008 at 12:48 pm
Kurang! Kurang! Kurang besar!
Dunianya kecil bgt, cm sebesar jakarta..
Mana benuanya? Gimana bentuk planetnya?
Sbg referensi ada peta Verduria, bagian dari dunia Almea yg ada di http://www.zompist.com/virtuver yg keren bgt!
December 31st, 2008 at 1:04 pm
cuman sebesar jakarta? hahahah…
kenapa gak sekalian aja, cuman sebesar ungaran? heheh…
soal benua dan planet, sudah disebut di atas, bahwa peta ini memang baru menggambarkan sebagian kecil, hanya sebatas ‘known world’ yang diketahui orang-orang pada masa di buku pertama.
selain itu, bentuk planet tidak penting buat orang-orang pada masa itu. jika itu dianggap datar seperti meja oleh mereka, so be it.
January 1st, 2009 at 12:02 am
Setuju! Jangan langsung bikin peta satu dunia! Apalagi kalau masih buku pertama dari rangkaian buku-berbuku. Paling nggak satu benua dan pulau-pulau disekitarnya diulas habis, plus beberapa sentilan mengenai daratan benua lain. Baru kalau sudah mentok, hwehehe, pindah benua. Dengan begini kawasan-kawasan yang ada penuh dengan tempat-tempat penting, daripada sebuah dunia (yang luas!) dengan bentuk geografi elok, yang sayangnya banyak memiliki bagian kosong…
January 1st, 2009 at 8:14 am
betul.
dan seharusnya gambar peta memang tergantung dari perspektif/sudut pandang yang kita pakai dalam bercerita. jika kita bercerita dari sudut pandang seorang bocah awam di jaman tersebut, ya seharusnya petanya adalah sesuai dengan pengetahuan dia.
lain halnya jika kita menggunakan sudut pandang Omniscient/Tuhan Yang Maha Tahu, ya kita bikin gambar peta satu planet secara lengkap.
January 1st, 2009 at 1:21 pm
Tapi kita kan setidaknya sudah tahu bagaimana gambaran peta secara keseluruhan (whole world).. meski setting cerita cuma di terra cognita (known land) doank
January 1st, 2009 at 4:52 pm
memang betul, sebagai penulis kita harus tahu semua hal tentang dunia kita seratus persen (peta, sejarah, bahasa, bangsa, budaya, misteri dll dsb). tapi material yang perlu disharing ke pembaca kan gak perlu semuanya (justru jangan sampe semuanya dibagi). sepuluh persen cukuplah. hehehehe…
dan peta di atas adalah material untuk pembaca.
January 2nd, 2009 at 7:17 am
Kenapa gak pake software cartographer aja? Lebih bagus tarikan garisnya. Katanya sih
Kalo aku selama ini gambar tangan dgn pensil di atas kertas milimeter.
Jadi aku gambar whole worldnya dulu, terus dibagi 4 sektor, msg2 sektor digambar lg (diperbesar skalanya) trs dibagi 4 lagi. Sektor tempat setting cerita berlangsung diperbesar lagi skalanya, dst
Lumayan ribet sih tapi asik kok!
January 2nd, 2009 at 8:52 am
waduh Dejong, detil banget. tapi itu nanti semua disampakan ke pembaca ato tidak?
January 2nd, 2009 at 8:51 pm
ya gak semua, cuma yg setting yg diperlukan aja (yg diperbesar sampe 1000 kali) dan negeri2 tetangga…
tapi kalo tar butuh setting baru, misalnya si tokoh mengadakan perjalanan jauh ke negeri asing, mungkin akan diperlukan, jadi kita gak perlu susah2 bikin setting baru (selama ini aku belum kepikiran mau di bawa kemana ceritaku nanti)
aku dapat ide membagi sektor dan memperbesar skalanya dari peta2 di LOTR
January 3rd, 2009 at 5:40 pm
itu langkah yang bagus kok, dejong. walau tetap saja, nantinya yang paling penting adalah bagaimana cerita kita dan bagaimana kita menuliskannya. peta ini hanya alat pendukung.
kalo pengalaman gue, biasanya ide cerita selalu muncul lebih dulu, semua setting kemudian tergambar di kepala. dan lalu, memang gak semuanya akhirnya gue tuliskan; hanya sebagian kecil saja. yang paling penting adalah ceritanya itu bisa keluar dulu, baru nanti soal petanya diberesin.
February 5th, 2009 at 11:42 am
Sori kalo aku ngungkit topik lama. Tapi apa Bung Villam bisa ngsih sedikit penjelasan tentang gimana kita ngeletakin latar2 di peta?
Maksudku, kadang aku kepikiran kalo mau bikin kota air kayak Vienna mesti di mana… Syarat2 geografis gitu deh/
February 5th, 2009 at 1:38 pm
hoho… pertanyaan yang menggugah dan bikin semangat nih.
jawabannya bisa sangat luas nih.
pada dasarnya, karena cerita yang kita bikin adalah fantasi, kita diperbolehkan untuk membuat sesuatu yang unik, ajaib, dan melawan hukum alam. asalkan kita menyertakan alasan sebab-akibat kenapa yang aneh-aneh itu bisa terjadi. jadi kalo misalnya kita hendak membuat latar dunia yang ekstrim misalnya, seperti dunia itu berbentuk datar seperti meja, dan bukannya bulat seperti planet biasa, itu pun diperbolehkan, asal kita jelaskan pula alasannya.
dalam kasus cerita TFH seperti artikel di atas, saya mencoba membuat dunia yang mirip dengan hukum alam di dunia kita sendiri. dunia berbentuk bulat, di daerah khatulistiwa beriklim tropis dan berbudaya tropis, semakin ke utara dan ke selatan beriklim sub tropis, lalu beriklim kutub. lalu letak gunung, pegunungan, sungai atau danau dibuat sewajar mungkin. demikian juga sabana, steppa, hutan tropis dan hutan bukan tropis juga diletakkan pada tempatnya.
untuk letak kota, berhubung jamannya adalah pra modern, maka kota besar dengan populasi manusia terbanyak akan terbentuk di tepi sungai, karena itulah sumber air yang paling mungkin di jaman itu.
nah yang kamu maksud sebagai kota air adalah Venesia/Venice mestinya, bukan Vienna (walau di Vienna dibelah oleh sungai danube). kalo mau cari tempat yang cocok, ya berarti pilih di suatu tempat yang berteluk dengan banyak barrier pulau2 kecil atau karang di lepas pantainya, untuk menahan gempuran ombak, supaya air di dalam kota tetap mengalir tenang. seperti halnya Venice sekarang yang kotanya mencakup seratus lebih pulau di bagian luarnya, dan berada di sebuah teluk/ceruk.
May 12th, 2010 at 4:23 pm
waoo kecilnya petanya….
skalanya berapa ya?
betul juga katanya yg di atas2, bentuk pulaunya terlalu lengkung gimana gitu
soalnya setau saya meskipun peta penjelajahan jadul tetep kelihatan detail garis pantainya
kecuali klo mw bikin T-O map ala medieval gitu heheheh
*** aduh, anak ingusan ngasih komen aneh2
novel2nya keren kk
May 17th, 2010 at 3:49 pm
wah skalanya berapa banding berapa ya?
diitung dulu deh.