dancingMana yang lebih bagus: cerita bertempo cepat atau lambat?

Lepas dari masalah selera terhadap genre tertentu (roman dan thriller  punya tempo berbeda), jawabannya bisa beragam dan penuh perdebatan.

Sebagian besar pembaca suka cerita bertempo cepat karena seru, adrenalin terpacu, dan tanpa sadar mereka sudah membaca sampai 500 halaman. Tapi ada juga pembaca yang ingin mendapatkan pengalaman  fantastis dan pemenuhan kebutuhan emosional dari prosesnya membaca; dia senang merenung dan membaca lambat-lambat.

Sekarang bagaimana jadinya jika cerita dari awal sampai akhir terasa cepat? Kesan yang tertangkap adalah terburu-buru. Pembaca terus diberi aksi dan tidak diberi kesempatan memahami apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan penulis. Awalnya ketegangan tersebut terasa menarik, tapi lama kelamaan membosankan karena aksinya terasa kosong tanpa isi.

Sebaliknya, bagaimana jadinya jika cerita dari awal sampai akhir terasa lambat? Yang didapat adalah kebosanan, datar, memancing pembaca untuk melewati paragraf demi paragraf tanpa membaca karena ingin cepat sampai ke tujuan yang lebih menarik.

Kedua hal tersebut–cepat selalu atau lambat selalu–akibatnya bisa sama: kemonotonan. Tidak ada yang berbeda antara satu kalimat dengan kalimat lain, antara satu paragraf dengan paragraf lain, antara satu adegan dengan adegan lain. Tidak ada pembeda, tidak ada penekanan. Fatal.

Jadi jawaban yang–sejauh ini masih saya yakini–benar adalah cerita yang di dalamnya ada keduanya: ada cepat, ada lambat; ada puncak, ada lembah. Kita bisa merasakan enaknya berada di puncak, karena kita pernah merasakan berada di lembah.

Maka demi menghindari kemonotonan, adalah tugas penulis untuk mengendalikan, mengatur kapan cerita harus cepat dan kapan harus lambat. Mengatur puncak dan lembah di setiap bagian, bab, bahkan adegan, supaya pesan kita bisa diterima baik oleh pembaca, dengan nyaman namun tidak membosankan.

Tentu saja, gampang secara teori, tapi selalu susah saat dipraktekkan. Saya sendiri masih sering sulit menerapkannya dalam cerita-cerita saya. Bahkan, bisa jadi, jangan-jangan artikel ini pun terasa membosankan.

Tapi  bagaimanapun, di bawah ini ada sedikit teknik bagaimana mempercepat dan memperlambat tempo. Walau patut diingat, satu adegan bisa dibuat dengan dua cara, cepat atau lambat, dan kedua-duanya bisa berhasil, asalkan berada pada tempat yang pas dalam keseluruhan naskah kita.

Menulis adalah seni, dan tulisan adalah seni. Tidak ada aturan yang benar-benar pasti, jadi anggaplah saja ini sebagai referensi. Bisa berhasil seratus persen, bisa juga gagal total sama sekali. Semoga bermanfaat.

—–

Untuk mempercepat tempo

Gunakan alur maju.

Buat cerita berjalan maju, mulai dari adegan saat sang tokoh berada sekarang dan teruslah sampai ke adegan di masa depan. Jangan gunakan flashback.

Batasi deskripsi, dan fokus pada tokoh POV.

Kurangi deskripsi tentang suasana kota atau pedesaan, cuaca, pakaian yang dikenakan orang-orang. Konsentrasi pada apa yang benar-benar penting dilihat, didengar dan dirasakan oleh si tokoh utama atau tokoh sudut pandang, dan apa yang dilakukan olehnya.

Ceritakan sedekat mungkin. Close up. Buat pembaca merasakan darah yang mengalir di bibir, lebam yang terasa di sekujur tubuh, suara pedang yang mendekati leher, dan tajamnya belati yang menghunjam jantung. Detil semacam ini membuat adegan terasa cepat.

Sajikan lewat kalimat-kalimat yang pendek, tajam dan jelas.

Menulis sesuatu dengan kalimat yang panjang berbunga-bunga memang menyenangkan. Tapi jelas tidak pas dipakai saat kita hendak memacu adrenalin pembaca. Buat kata sambung dan keterangan yang tidak perlu. Gunakan kalimat yang pendek, tajam, jelas dan mudah dimengerti, supaya pembaca tidak perlu berkerut kening buat memahaminya.

Contoh adegan yang cocok buat cara ini adalah:

* Adegan pertempuran
* Adegan pengejaran
* Adegan-adegan puncak di dalam plot

—–

Untuk memperlambat tempo

Gunakan flashback.

Flashback menghentikan momentum maju sampai ke titik mati. Karena kita menengok masa lalu, maka masa kini berhenti, dan tempo pun melambat. Bahayanya adalah: flashback seringkali terlalu panjang dan terlalu menarik, membuat pembaca terlupa pada plot dan karakter yang seharusnya  lebih penting diingat saat ini.

Berikan deskripsi detil, dan menjauh dari tokoh POV.

Jelaskan segala hal di sekitar sang tokoh–yang unik dan menarik; jalan-jalan yang dilewati, catatan mengenai latar sejarah dan budaya, pakaian, makanan dan bahkan cuaca. Tarik kamera lebih jauh dari sang tokoh utama, sehingga sudut pandangnya berubah menjadi omniscient.

Silakan bermain-main dengan kalimat-kalimat yang lebih panjang.

Jika hendak mencoba membuat kalimat berisi puluhan kata dengan memasukkan sebanyak mungkin kata sambung, kata keterangan atau kata sifat, di sinilah tempatnya. Inilah tempat untuk bermain-main dengan emosi cinta yang menyentuh hati (halah…).

Tentu saja jangan berlebihan; tetaplah sadar bahwa fokus kita adalah bercerita dan membuat cerita berjalan maju. Dalam usaha memperlambat alur, kita harus tetap hati-hati, jangan sekadar menambah-nambah adegan atau deskripsi atau kata-kata. Kalau itu semua benar-benar tidak penting untuk plot, lebih baik jangan gunakan sama sekali.

Contoh adegan yang cocok buat cara ini adalah:

* Adegan di bagian pertengahan cerita
* Adegan romantis
* Adegan-adegan pengembangan karakter atau situasi di dalam plot

—–

Di dalam cerita selalu terdapat dua bagian besar: narasi dan dialog. Narasi itu sendiri bisa dibagi menjadi dua: narasi aksi dan narasi deskriptif. Semakin banyak narasi, terutama narasi deskriptif yang disajikan lewat blok paragraf yang panjang dan melelahkan, cerita akan berjalan lambat, sedangkan semakin banyak dialog–dalam hal ini adalah dialog yang efektif dan efisien–cerita akan berjalan cepat.

Dialog menghadirkan ilusi aksi, menghadirkan ilusi ‘show’ dan bukan ‘tell’ atas suatu kejadian yang sedang dibicarakan, sehingga cerita berjalan lebih cepat. Tapi supaya efektif–artinya temponya sesuai dengan keinginan kita–berikut ini adalah cara mempercepat atau memperlambat adegan dialog.

Untuk mempercepat tempo pada adegan dialog

Langsung ke tujuan.

Hilangkan basa-basi macam say hello, langsunglah masuk ke inti permasalahan; sebisa mungkin kalimat pertama di dalam dialog langsung terkait dengan masalah utama dalam adegan.

Batasi deskripsi di luar dialog.

Jangan terlalu banyak menjelaskan apa yang sedang dilakukan oleh para pembicara saat mereka berbicara. Interaksi fisik dan sedikit penjelasan tentang gaya bicara atau tingkah laku memang perlu, karena jangan sampai kita membuat adegan dialog seolah-olah mereka berada dalam ruang kosong. Tapi sajikan itu seminimal mungkin.

Buat tokoh-tokohnya bersilang pendapat.

Dialog yang sifatnya satu arah cenderung monolog adalah membosankan.  Buat mereka bersilang pendapat dan berargumen, maka informasi bisa tersampaikan pada pembaca tanpa menyadari bahwa mereka sedang ‘diberitahu’.

Selesaikan dialog begitu tujuan tercapai.

Jika tadi hindarkan say hello, sekarang hindarkan say goodbye. Selesaikan dialog, atau bahkan adegan, secepat mungkin begitu informasi atau tujuan dialog tersebut tersampaikan. Lanjutkan langsung ke adegan berikutnya.

—–

Untuk memperlambat tempo pada adegan dialog

Buat tokohnya mengobrol tanpa arah.

Biasanya dipakai pada adegan dialog yang sifatnya mengundang tawa. Tidak banyak informasi penting yang disampaikan, tapi elemen humor itu memang sengaja disisipkan untuk memperlambat alur cerita di antara dua adegan penting.

Tambahkan deskripsi.

Tambahkan deskripsi tentang apa saja yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan sang tokoh pada saat berbicara atau di sela pembicaraan.

Jadikan karakter kita menjadi pendengar yang baik.

Biarkan satu orang menjelaskan panjang lebar, dan yang lain mendengarkan. Tentu saja, hati-hati. Walaupun ini sering terjadi di ruang kelas, kuliah, atau rapat, tapi kita semua sudah tahu kalau ini bisa sangat membosankan.

Buat penutup yang berbelok ke arah lain.

Bukannya langsung menutup, tapi giring pembaca untuk mengikuti dialog yang membahas hal-hal lain di luar informasi terpenting. Ini adalah salah satu trik untuk membuat misteri dan mengejutkan pembaca di akhir cerita gara-gara melewatkan informasi penting tersebut.

—–

Akhir cerita (halah…), tempo cerita bisa kita manipulasi. Dan sebagai penulis kita harus bisa menemukan ritme yang terbaik untuk cerita kita.

Kita harus bisa membuat pembaca mengalami pengalaman menjelajahi pegunungan yang mengasyikkan. Di bagian awal kita bawa mereka mendaki bukit kecil, lalu kita ajak turun lagi ke lembah, kemudian kita giring lagi ke bukit yang lebih tinggi, dan di sana kita dorong mereka hingga jatuh ke jurang yang terdalam. Begitu gembiranya mereka hingga akhirnya mereka lalu mau memanjat sendiri ke puncak yang tertinggi, dan menemukan kepuasan di sana.

Menarik? Iya. Sulit? Memang. Bisakah? Harus bisa.

Mari, kita buat deretan puncak dan lembah. Hahah…

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

22 Responses to “Bagaimana Mempercepat dan Memperlambat Tempo Cerita”

  1. 1
    dian k Says:

    Menulis adalah seni, dan tulisan adalah seni.

    agreed:))

  2. 2
    Villam Says:

    menjadi penulis juga seni. :-P

  3. 3
    MaxMax Says:

    seniman maksudmu, vil?

  4. 4
    Villam Says:

    maksud gue, proses untuk menjadi seorang penulis–melalui strategi, taktik, dan lika-likunya (halah…)–bisa disebut seni juga. :-P

  5. 5
    Serpentwitch Says:

    Art is a splash of blood and blood is a splash of art. that’s my motto, tp ga ada hubungannya ama menulis yak wkwkwkwkw… :D

    ahhh alur cerita memang ribet sekali.

  6. 6
    Villam Says:

    yeah, kalo menulisnya pake berdarah-darah sih berarti ada hubungannya jugak. hahahah…

    btw, kalo alur cerita sih gak ribet kok. alur kan cuman alur maju, atau alur mundur, atau alur maju-mundur-maju/campuran.
    yang ribet itu plot, alias kaitan antara kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh di dalam suatu cerita.
    heheheh… jangan disamakan alur dengan plot.

  7. 7
    Serpentwitch Says:

    yg ribet itu, ketika mau dialog alur cepat, dengan menyajikan perdebatan/silang pendapat ky yg disarankan diatas. Sambil berdebat, pastinya keluar segala macam istilah atau hal2 yg hanya diketahui 2 org itu. Pada akhirnya semua yg udah disebut itu mau ga mau harus dijelasin juga scr naratif, kl ga pembacanya bahkan ga tau apa yg sedang diperdebatkan. Gw banyak kesulitan di bagian seperti itu. Pada akhirnya biasanya gw nyerah dan ngambil jalur percakapan lurus, tanpa perdebatan.

  8. 8
    Villam Says:

    betul. pada akhirnya beberapa hal perlu dijelaskan secara naratif–terutama hal yang sudah diketahui bersama-sama oleh para tokoh-tokohnya, alias sudah tahu sama tahu. menurut gue, itu masih lebih baik daripada dimasukin semuanya jadi monolog panjang, yang terkesan lebih menggurui dan tidak wajar.

    tapi eniwei, bisa aja pendapat gue ini salah. harus liat barangnya dulu sebelum bisa menilai dengan baik.

  9. 9
    Serpentwitch Says:

    ah itulah. Belum ada resep yg pasti buat menulis. Coba cara A, beberapa suka, brbrp mengkritik. Coba cara B, juga sama, ada yg bilang bagus banget, ada yg bilang jelek banget. Selera pembaca terlalu beragam, mustahil bisa memuaskan semuanya >.<

  10. 10
    Feline Says:

    Yang paling susah itu nentuin porsinya kalau kubilang.
    Harus pas~
    Dan menentukan saat yang tepat untuk alur cepat dan lambat
    Mungkin juga sesuai genre
    Ditambah terlalu banyak selera pembaca seperti kata Serpenwitch
    Ada pembaca yang sabar, tak suka buru-buru
    Tapi ada juga yang inginnya yang serba cepat
    Ada yang netral
    Tak akan ada habisnya

    Mungkinkah karena perbedaan selera tempo ini bisa digolongkan dengan genre(aliran, gaya) ya?
    Misalnya:
    Petualangan: biasanya alurnya cepat, alur lambatnya cenderung lebih dikit
    Romantis: Biasanya alurnya kebanyakan lambat.

    Mungkin itu membuat orang yang suka genre apa nggak cocok dengan genre itu.

    Ah tapi kadang ada juga pembaca yang sukanya tempo cepat, tapi suka baca genre yang alurnya kebanyakan lambat. Otak manusia memang ruwet.

  11. 11
    Serpentwitch Says:

    masalahnya tiap genre aja pembacanya beragam. Petualangan: ada yg demen banget kl ceritanya ala anime jepang atau ke RPG an gt… (penggemar novel Jepang) ada yg demen ala barat… ada yg malah ga suka kl ngebaca muatannya dr luar negeri, maunya yg budaya lokal.

    Ada yg menganggap petualangan itu harus 100% serius dan darkish. Ada yg maunya selalu ada bumbu humor, love, etc… Ada yg suka berlogika dan misteri, ada yg sukanya baca yg ringan ga pake otak, asal keren2an…

    Agghh pusssiiiiiiinngg

  12. 12
    alfare Says:

    aku selalu kesulitan melakukan ini dengan cerita bersambung ala di k.com. tapi aku merasa terkadang udah berhasil melakukannya. yang paling penting emang adalah latihan.

    dari pengalamanku sih, bergantung dari sejauh apa kita bisa membawa diri kita sendiri ke dalam cerita, pengaturan tempo ini bakal muncul secara alami. euh, aku juga setuju kalo genre yang kita pilh juga berpengaruh.

  13. 13
    elbintang Says:

    ha. poin-poinnya bisa aku pake buat neropong tulisanku.

    bagian tempo ini mengingatkan aku bagaimana menyakitkannya adegan buang bab saat revisi…hiks…

    eh, menurutku tempo cepat atau lambat tidak terkait dengan genre tulisan. kerna setiap genre kudu ada lambat dan cepatnya. Kalau porsinya aku setuju, tergantung genre…

  14. 14
    baw Says:

    Halo villam,
    Jonathan Strange & Mr Norrell wis kelar blon?
    reviewnya yak jangan lupa..
    :)

  15. 15
    mocca_chi Says:

    hmm.. dasarnya uda pernah praktek, tapi ternyata teorinya begini kekekeke
    *hanya memandang dengan mata terbelalak postingan orang-orang di atas.

  16. 16
    Villam Says:

    betul, di setiap genre harus selalu ada cepat lambatnya, tapi porsinya memang harus berbeda. tapi tetap saja, kita gak bakal bisa memuaskan semua orang di pasar yang kita tuju itu. pasti ada yang suka, ada juga yang gak suka. ada resiko, ada pengorbanan, ada pujian, ada celaan.

    dan betul juga, sebenarnya artikel dan pembahasan di sini lebih bersifat teoretikal. pada prakteknya, semua tergantung dari keterampilan dan jam terbang penulis dalam menghadirkan sesuatu yang unik, tajam, romantis dan tidak monoton. tapi semoga, hal-hal ini bisa dijadikan bahan referensi. :-)

    @baw, belum. bacanya belum selesai sampe sekarang. hahahahah…

  17. 17
    baw Says:

    tebel yak..
    alon-alon asal kelakon..:)

  18. 18
    Villam Says:

    betul, baw…
    baca pun kayaknya perlu juga diatur temponya. hahah…

  19. 19
    panah hujan Says:

    wah, matur nuhun pisan atas tips2nya, Kak ^^

    panah hujan’s last blog post..* Cerpen – She’s a Butterfly

  20. 20
    Villam Says:

    same same, michel… same same … :-)

  21. 21
    Brahm Says:

    Aku sih prefer cerita2 bertempo cepat (maklum, penulis thriller). Tp konyol jg kalau terus2an ngebut. Bisa2 nabrak2 nggak karuan, hehehe. Selalu ada ritme. Btw, tulisan ini guide yg lengkap! Inspiring jg. Salut.

  22. 22
    Villam Says:

    thans for the comment, brahm.
    sebenarnya yang membuat artikel ini bermanfaat adalah diskusi-diskusi yang lalu muncul di dalamnya. pencerahan2 lebih banyak muncul dari kepala banyak orang. :-)

Leave a Reply

CommentLuv Enabled