Bagaimana Menghidupkan Karakter
Posted by: Villam in Tips Menulis, tags: karakter tokoh, karakterisasi cerita, Tips Menulis
Ya, bagaimana membuat karakter-karakter ciptaan kita menjadi lebih hidup? Apakah dengan membuat detil penampilan fisik tokoh-tokohnya? Wajahnya, tubuhnya, pakaiannya, pedangnya?
Ternyata bukan hal-hal itu yang paling penting.
Nah, berikut ada 40 pertanyaan yang mudah-mudahan bisa membantu. Jawablah, dan tampilkan melalui tindakan, ucapan, dan pikiran mereka. Niscaya tokoh-tokoh kita akan menjadi lebih hidup. Apakah semuanya perlu dijawab? Hahahah… mungkin tidak. Tapi selamat mencoba.
- Apa yang dia inginkan lebih dari apapun di dunia?
- Benda apakah yang pertama kali diambilnya saat rumahnya mulai terbakar?
- Rahasia dirinya apakah yang ia harapkan tak akan pernah terbuka? Apakah ada orang lain yang tahu?
- Apa yang paling ia takutkan di dunia? Sejauh mana ia berusaha menghindarinya?
- Jika ia punya kesempatan mendapatkan kembali sebuah benda dari masa kecilnya, benda apakah itu?
- Saat berhadapan dengan musuh utamanya, apa yang akan ia lakukan?
- Jika ia bisa punya foto dari masa kecilnya, foto apa yang paling ia inginkan?
- Jika ia pulang dan menemukan darah berceceran di lantai, reaksi apa yang pertama kali dilakukannya?
- Hobi atau hal apa yang paling menarik baginya?
- Benda apa yang selalu dibawa-bawanya?
- Seperti apa tempat tidurnya?
- Jika ia mendapat hari libur, apa yang akan dilakukannya?
- Jika ia diberitahu waktu hidupnya tinggal sebulan, apa yang akan dilakukannya?
- Buat daftar tentang semua hal yang penting baginya: prinsip, orang, benda, dan lain-lain. Lingkari hal-hal yang membuatnya bersedia mati mempertahankannya.
- Apa mimpi buruk terakhirnya? Apa mimpinya yang menyenangkan?
- Pengampunan dari siapa yang paling ia cari, dan mengapa?
- Apa hal yang selalu diimpikannya?
- Siapa yang menolak berbicara padanya, dan mengapa?
- Jika ia diberitahu bahwa ia ditakdirkan untuk melakukan suatu hal besar dalam sebuah ramalan, bagaimana reaksinya?
- Bagaimana reaksinya saat ditinggal seseorang yang dicintainya?
- Apakah ia percaya pada takdir?
- Apakah ia mempunyai luka di tubuhnya? Bagaimana ia mendapatkannya?
- Siapa teman terbaiknya?
- Siapa musuh terbesarnya?
- Jika ia hanya punya kesempatan terakhir memberikan hadiah, kepada siapa ia melakukannya? Dan apa hadiah itu?
- Hadiah terbaik apa yang pernah didapatkannya? Apa itu?
- Apakah dia punya hewan piaraan? Apa?
- Apa yang dia lakukan saat stress memuncak?
- Dimana tempat favoritnya untuk menyepi?
- Apakah ia merasa punya tanggung jawab lebih besar daripada yang bisa ia tanggung? Apa itu?
- Apa yang diinginkannya saat ia dewasa?
- Apa yang ingin ia lakukan tapi tidak bisa?
- Apa ucapan orang tuanya yang tidak mungkin dilupakannya?
- Apa kelemahan utamanya menurutmu? Dan apa kelemahan utamanya menurut dia sendiri?
- Apa kelebihan utamanya menurutmu? Dan apa kelebihan utamanya menurut dia sendiri?
- Apa penyesalannya yang terbesar? Apakah ia berniat melakukan sesuatu untuk memperbaikinya?
- Apa yang ia rasakan saat menjadi tua?
- Apakah ia punya piala penghargaan? Apa itu? Dan apakah ia merasa pantas mendapatkannya?
- Apakah ia pernah membuat seseorang marah besar? Apakah ia menyesal?
- Apa yang paling membuatnya malu?
Oke… sementara ini dulu…





Entries (RSS)
January 23rd, 2009 at 4:21 pm
klo membuat tokoh yang menarik, beberapa yang kupegang adalah masa lalu si tokoh, keabnormalan si tokoh, ato pandangan masyarakat (sekitar) terhadap perilaku atau pun keberadaan si tokoh.
January 23rd, 2009 at 5:01 pm
… dan bagaimana pandangan si tokoh terhadap masyarakat sekitar dan juga terhadap dirinya sendiri. apa keinginan, kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kemarahan, dan kekecewaannya.
ya, kira-kira memang itu intinya.
January 23rd, 2009 at 5:16 pm
ah iya…
itu juga……
January 23rd, 2009 at 5:29 pm
yang sulit kemudian adalah, bagaimana membuat seluruh informasi background sebanyak itu bisa terasa masuk ke dalam cerita, tanpa harus dituliskan semuanya. jangan sampai kita membuat sesak cerita dengan kebanyakan infodump alias sampah informasi.
January 23rd, 2009 at 5:34 pm
@.@
setelah tuing tuing baca deretan daftar di atas, aq nyerah, deh, vil.
so far aq ambil ciri2 fisik dan sifat serta background karakter yg memang relevan aja sama cerita, dan metode ini oke-oke aja..
January 23rd, 2009 at 5:40 pm
memang betul, gak semua poin di atas perlu. ambil yang relevan aja.
intinya sebenarnya adalah bagaimana membuat seluruh tindakan, ucapan, dan pikiran tokoh pada saat ini bisa diterima oleh pembaca–logis dan beralasan. terutama untuk tokoh-tokoh utamanya.
January 23rd, 2009 at 7:53 pm
hee~
Thx untuk artikel ini.
Gw coba2 menjawab ini dgn sudut pandang tokohku, dan ternyata bisa mengorek banyak info yg menarik untuk ditulis.
January 24th, 2009 at 1:07 am
Emm…. apa emang harus sedetail itu?
Aku kalo bikin karakter biasanya cukup bikin hubungan karakter itu dengan karakter lainnya, tambah sedikit sikap dan kebiasaan. Masa lalu dan detail2 lainnya itu bisa nambah sendiri nanti waktu cerita dikembangin.
Danny’s last blog post..The Old Man and The Sea
January 24th, 2009 at 10:23 am
yang jelas, tidak semua detail harus dikeluarkan dalam cerita.
jadi ini sebenarnya sama saja dengan riset. ada riset sejarah, geografi, budaya, dan lain-lain, dan yang di sini adalah riset karakter. untuk membangun itu semua, sebelum menulis kita bekerja keras mengumpulkannya, tapi memang pada akhirnya dari hasil semua kerja keras itu, bisa jadi hanya sekitar 10% yang kemudian disebutkan dalam cerita.
jadi inget contoh film Ada Apa Dengan Cinta (heheheh…), dimana setiap pemeran tokohnya diberi satu buku khusus yang isinya bercerita khusus tentang masing-masing tokoh tersebut. tidak semua informasi tersebut akhirnya muncul dalam film, tapi paling tidak karakternya bisa lebih dipahami aktor/aktrisnya dan jadi lebih hidup. ini adalah kasus yang sama.
terasa terlalu ideal? memang. tapi paling tidak kita bisa belajar dari yang ideal. heheheh…
January 26th, 2009 at 6:16 pm
jiaaa…other tips yang bermanfaat lagi, Villam
tengkiyu perimach
sebagian besar sudah ada dalam profil karakter utama dicritaku
jadi lumayan asik menjawab 40 pertanyaan ini dan membuat karakternya lebih kliatan jelas lagi. kecuali 2, 5, 7, 13, 14, 16, 37 pertanyaan ini bikin aku menggali dan menggali lagi.
tengkiyuh…
tambah lagi dong, Villam *nyandu* he.he
January 27th, 2009 at 8:48 am
hahah… justru dari galian-galian tambahan itu kadang kita mendapatkan suatu pengembangan karakter yang tidak kita duga sebelumnya.
iya ntar aku tambahin. heheheh…
February 19th, 2009 at 1:03 pm
Hore, aku dapat banyak untuk karakter utama Ancient, kecuali:
11
12
27
31
37
38
39
Segini cukup ga?
February 19th, 2009 at 1:22 pm
itu bagus, kuro. kalo kamu udah bisa bikin jawaban untuk semua pertanyaan ini untuk tokoh utamamu. masih banyak hal lain yang bisa dikorek sebenarnya, di luar pertanyaan2 ini, tapi sebanyak ini pun cukup untuk sementara.
March 19th, 2009 at 7:36 am
Hmm.. Gw emang gak terlalu mengekspos karakter melalui ciri-ciri fisiknya.. Gw cuma kasih gambaran aja seperti apa rupa si tokoh.. Untuk menghidupkannya gw lebih fokuskan pada tindakan, perkataan, sikap, cara pandang terhadap masalah yang terjadi, hubungannya dengan karakter lain. Beberapa pertanyaan lu di atas ngasih gw ide untuk lebih menghidupkan lagi karakter-karakter gw. Gpp ya kalo gw copy-paste ke file gw buat bahan analisi.. Thanx 4 da info, Villam.
Tambah lagi dunk pertanyaannya…
zetamari’s last blog post..SHOPAHOLIC Hobi Yang Jadi Bencana
March 19th, 2009 at 12:46 pm
monggo kalo mau di-copy, zeta.
gimana kalo sekalian lu tambahin di sini daftar pertanyaannya? heheh…
March 19th, 2009 at 6:13 pm
oia


villam
ajarin bikin deskripsi fisik karakter donk
terutama untuk karakter fantasy
di tunggu ya
March 19th, 2009 at 10:18 pm
lha? maksudnya gimana, ndyw?
mendingan aku liat dulu deh gimana kamu mendeskripsikan satu karaktermu, ntar kita liat mana yang kurang mana yang berlebihan.
March 23rd, 2009 at 8:47 pm
duh…


bukannya dah penah melihat deskripsi memalukan dariku dari cerita yang ku kirim?
—————————————–
aq paling lemah soal mendeskripsikan fisik karakter soalnya
mungkin karena kosa kataku kurang kali ya??
March 24th, 2009 at 12:12 pm
terus terang aku juga jelek kok kalo soal deskripsi fisik karakter. tapi saranku, jika mau bikin deskripsi karakter, fokuslah pada ciri-ciri unik tokoh tersebut. dan satu lagi, jangan pernah sekali-sekali menggunakan kata-kata superlatif ‘sangat’, ‘sekali’ atau semacamnya (misal: cantik sekali, tampan sekali), karena bukannya memperkuat, hal itu justru memperlemah kalimat.
March 24th, 2009 at 4:25 pm
siap komandan
March 24th, 2009 at 5:08 pm
kembali ke barisan!
heheheh…
March 25th, 2009 at 12:12 pm
Saran ekstrim: Kalo ga bisa bikin deskripsi fisik, jangan dibikin!
Deskripsiin fisik pake sifat n kepribadian chara aja. Ntar pembaca biarin mbayangin sendiri fisiknya kaya gimana.
Danny’s last blog post..Nation Watch: Valkan
March 25th, 2009 at 1:05 pm
dan perhatikan sudut pandang bercerita saat berdeskripsi ria. jika kita sedang bercerita melalui sudut pandang A, kemudian membuat deskripsi tentang tokoh A juga, maka kesan yang tertangkap adalah narsis.
March 25th, 2009 at 3:35 pm
hohohohoho
ok dech
thankyu veri muche
March 25th, 2009 at 5:06 pm
sama sama…
March 26th, 2009 at 10:05 pm
Wow.
Kok gw telat nemu ini? Gw butuh buat memperkuat karakteristik karakter gw yg jadi korban diskriminasi karakter dlm benak gw! [>_<]
Ijin copy paste dan mgkn print, Senior Villam!
Hehe.
Mantoel Toeink’s last blog post..Trading Student Game?
March 27th, 2009 at 1:44 pm
diskriminasi karakter?
hwahahahah… apaan tuh, juun?
okay, mangga… silakan dicopy dan diprint…
semoga bermanfaat.
March 27th, 2009 at 9:57 pm
Diskriminasi karakter tu istilah gw buat situasi di mana gw lbh memilih karakter ini (di antara jajaran karakter2 gw) daripada karakter itu, padahal mgkn si karakter ini gak seutama si karakter itu.
Alhasil dah karakter utama gw tenggelam ama karakter sampingan. Diskriminasi karakter membuat gw mikirin karakter tertentu dan mengembangkan lbh byk hal buat suatu karakter.
(sayangnya, bukan karakter utama! [>_<])
Hehe.
Mantoel Toeink’s last blog post..Trading Student Game?
March 27th, 2009 at 10:47 pm
hooo… i see…
kasus klasik, di tengah cerita kita menemukan satu atau dua karakter yang ternyata punya latar lebih menarik buat diceritakan daripada karakter utamanya. kita gak sadar, bahwa mereka membawa cerita latar yang sebenarnya gak terlalu penting buat plot utamanya dibandingkan kisah si karakter utama. begitu?
kuncinya, menurutku, di awal sebaiknya kita udah tentukan siapa-siapa saja yang menjadi tokoh pencerita (sudut pandang/POV) dalam setiap adegan. jadinya cerita bisa tetap fokus, dan karakterisasi juga tetap fokus. kalo memang ada banyak POV (multiple 1st person ataupun 3rd person), dibagi porsinya. karakter utama harus tetap punya lebih banyak porsi bercerita.
March 28th, 2009 at 7:16 pm
Yep, kuncinya sih sbnrnya cuma satu, seperti kata Senior Dian kemarin ini: cara menyajikan ke dalam cerita.
Emang hrs dicoba dan terus diperbaiki, gak ada cara lain buat nyari cara menyajikan yg pas.
Hehe.
Mantoel Toeink’s last blog post..Trading Student Game?
March 29th, 2009 at 3:23 pm
ya tentu saja eksekusi alias penyajian cerita yang paling penting. tapi menyangkut plot dan karakterisasi, buat sedikit panduan, pembaca mau terus membaca dan membaca jika tokoh utamanya punya setumpuk masalah dan bukan hanya jenis tokoh yang normal dan tidak punya masalah.
jika yang punya masalah adalah tokoh2 di sampingnya, kita harus menggali masalah apa yang timbul pada sang karakter utama akibat kehadiran tokoh-tokoh tersebut. dan fokus di sana, bukan melebar ke masalah tokoh-tokoh sampingan tersebut. lihatlah cerita dari sudut pandang si tokoh utama.
August 19th, 2009 at 10:30 am
bung villam,skrg saya mw komen di sini saja hehe…
mengenai tokoh antagonis (yg gembongnya y,bukan yg monster2 suruhan hehe…),pernahkah bung villam membahasnya? krn tokoh antagonis adalah karakter yg paling susah untuk dibentuk (bagi saya) dan selalu membuat saya terhenti dan terdiam ketika adegan cerita sudah sampai pada tokoh itu. walaupun sya suka mengamati tokoh2 antagonis yg menarik (bahkan menyukainya beberapa di antaranya),tapi utk menciptakan tokoh antagonis kita sendiri rasanya susah sekali. rasanya tidak masuk akal kalau saya ingin membuat tokoh jahat yg ‘memang sudah dari sananya’ jahat (kecuali monster yg sifatnya memang seperti anjing penjaga atw memang hanya robot). saya bingung sekali bagaimana caranya membuat seorang tokoh antagonis yg bisa disejajarkan dgn ‘kehebatan’ tokoh utama.
apa bung villam punya tips2 membuat tokoh antagonis jadi menarik dan tidak dipaksakan?
August 19th, 2009 at 12:13 pm
sama kayak waktu kita nyiapin karakter protagonis, kita juga mesti nyiapin set karakter buat tokoh antagonis tsb. misalnya pas kita ngebentuk tokoh protagonis kita bikinnya berdasarkan daftar pertanyaan di atas, maka cara yg sama kita lakukan buat si tokoh antagonis.
intinya kita bisa dapet motif, hasrat, penyebab ketakutan, penyebab kemarahan, latar belakang dll dsb dari si tokoh tsb. jadinya dia punya alasan yang masuk akal dilihat dari perspektif dia, kenapa dia melakukan tindakan yg dianggap jahat oleh orang lain. jadinya kalo dari sisi dia, tindakan jahat tersebut bisa jadi adalah tindakan yang baik dan suci.
yeah, begitu mungkin. heheh…
cerita adalah buah yang dipetik belakangan. mau jadi protagonis atau antagonis itu tergantung bagaimana kita menanam bibit dan memberi pupuknya di depan.
August 19th, 2009 at 10:59 pm
hmm,hmm,begitu,begitu. intinya dibuat kebalikannya ya? mungkin membuat si antagonis sbg orang yg selalu negative-thingking. saya belum coba-akan saya coba membuatnya dulu dgn cara itu (tapi semoga ketika mendalaminya nggak kerasukan sifat jahat tokoh antagonis buatan sya sendiri hehe…)
tx bung villam!
August 20th, 2009 at 12:16 pm
pasti kerasukan…
hahahah…
September 9th, 2011 at 5:01 pm
Walaupun mungkin tidak dimasukkan dalam tulisan, setidaknya kita jadi lebih mengenal karakter yang kita buat. Terima kasih artikelnya.
September 26th, 2011 at 11:51 am
same-same, gari.
October 3rd, 2011 at 7:50 pm
40 pertanyaan ini sangat membantu sekali untuk me-manusiakan karakter fiktif. lanjutgan!