Apa Yang Membuat Anda Membeli Sebuah Novel?
Posted by: Villam in About Writing, tags: membeli novel, memilih novel
Bayangkan, Anda berada di depan sebuah rak buku, yang penuh dengan novel-novel terbitan terbaru. Semua tampak bagus, tapi sayangnya Anda hanya bisa membeli satu. Nah, anggap saja ini sebagai polling atau survey, Teman-teman. Jika Anda hanya punya waktu sebentar untuk memilih dan membeli, faktor apakah yang paling berpengaruh pada pemilihan keputusan Anda?
a. Genre dan tema
b. Judul
c. Pengarang
d. Gambar/desain cover depan
e. Sinopsis di cover belakang
f. Endorsement (komentar puji-pujian yang tercantum di cover depan/belakang)
g. Hasil review di media massa
h. Hasil review di blog/forum kritik
i. Satu sampai tiga paragraf pertama (cari buku yang sampul plastiknya sudah disobek)
j. Satu sampai tiga paragraf di bagian tengah (cari buku yang sampul plastiknya sudah disobek, dan buka secara acak di tengah)
g. Hal-hal lainnya (ada masukan?)
Silakan pilih jawaban Anda, dan urutkan semuanya, mulai dari yang paling penting sampai yang paling tidak penting. Nanti kita bahas hasilnya bersama-sama. Terima kasih.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
February 25th, 2009 at 4:11 pm
1. genre
2. isi buku, both awal ato tengah ato akhir
3. sinopsis cover belakang
4. review (di mana aja, prioritas di blog mas pur hehehe)
5. penulis
yg nggak penting:
6. judul
7. cover
gak butuh:
8. endorsement –> gak ada ini juga bakal beli kalo emang menarik :p
February 25th, 2009 at 4:14 pm
ups, villam, list di atas berlaku utk buku2 orang lain, ya.
utk buku2ku sendiri point 6 dan 7 naik ke prioritas
February 25th, 2009 at 10:58 pm
1. Cover. Jujur aja, kecuali pernah dengar gosipnya di media atau ramai diomongin teman, yang pertama kali bikin gue mengambil satu dari sekian banyak novel adalah cover.
2. Sinopsis di belakangnya. Kalau menarik, baru buka buku. Review media massa bisa jadi menarik atau gak. Kalau yang ngasih pujian -maaf- orang biasa, biasanya gak gue jadiin patokan. Tapi, bakal makin penasaran kalau yang ngasih pujian orang-orang terkenal di bidang sastra (yang kualitas tulisannya emang bagus)
3. Halaman pertama novel. Sebagus apapun ceritanya, kalau halaman pertama gak bisa bikin gue buka halaman kedua, bubyeh aja.
Oh ya. Point di atas berlaku untuk pengarang dan karya yang belum terkenal. Beda kalau misalnya pengarangnya adalah pengarang favorit gue, misalnya. Tapi catatan juga, gue suka beli novel kalau lagi bete. Untuk itu gue biasanya gue beli novel yang gue anggap paling corny, terus gue hajar sendiri. *grin*
February 25th, 2009 at 11:52 pm
Apa Yang Membuat Anda Membeli Sebuah Novel?
1. genre (fantasi : lsg sikat)
2. sinopsis
3. harga (murah : lsg sikat)
4. repiu yg dpt dipercaya
February 26th, 2009 at 8:55 am
oke. udah masuk jawaban dari 3 orang.
ditunggu yang lainnya. sebanyak-banyaknya. heheheh…
ntar gue bikin rekapitulasi hasilnya, trus coba kita analisis bareng-bareng.
February 26th, 2009 at 10:15 am
1. Genre : (ni konteksnya “beli” to?) berhubung dompet tipis, jadi aq cuma milih 1 genre aja bwt koleksi. Sisanya sewa
2. Cover : yap, klo covernya keren, kemungkinan besar aq beli. Makanya sering jadi korban novel
2. Sinopsis : sebenernya cover + sinopsis masuk level yg sama. Cover keren, sinopsis menarik. Langsung ke kasir dah
3. Coba baca isinya di tempat, lyat gaya bahasanya
4. Hasil review ato diskusi orang lain : agak kurang untuk option ini. Cenderung aq nilai sendiri sih
Yang ga penting : Judul + pengarang
sapa aja boleh lah
judul nyeleneh juga ga masalah
yg penting menarik isinya
Harga…
relatif
klo isinya worth dengan harganya, no problemo
February 26th, 2009 at 10:17 am
endorsement juga ga perlu
banyak yg nipu endorsementnya
February 26th, 2009 at 10:28 am
yang kulihat sebelum memutuskan dalam membeli sebuah buku.
1. Cover
2. Judul
3. Genre
4. Pengarang
(setelah lihat-lihat cover depan, balik buku dan lihat cover belakang)
4. Sinopsis
5. Endorsement.
(setelah cover depan dan belakang dilihat, buka dompet)
6. lihat ada duitnya apa kagak
7. klo ga ada duit, balikin buku ke rak, dan belinya bulan depan T_T
February 26th, 2009 at 1:34 pm
1. Genre dan tema
Kl temanya aja udah teenlit, religi, atau yg kesannya childish dan engga serius, tidak akan ku beli. Jadi begitu ke toko buku, lgsg menuju area yg sesuai dgn genre favoritku.
2. Gambar/desain cover depan
People do judge by it’s cover. it’s that simple.
3. Sinopsis di cover belakang
Sbrp kreatif seorang pengarang membuat sinopsis yg menarik, atau juga prolognya, itu menggambarkan kemampuannya menulis scr keseluruhan.
4. harga
February 26th, 2009 at 1:43 pm
Makmak:
6. lihat ada duitnya apa kagak
7. klo ga ada duit, balikin buku ke rak, dan belinya bulan depan T_T
Wkwkwkwk *ketawa guling-guling*
February 26th, 2009 at 4:18 pm
1 genre-fantasi
2 sinopsis
3 harga-nabung kalo perlu
4 penulis harus lokal, soalnya mencintai karya anak bangsa
halah..
February 26th, 2009 at 5:24 pm
oke. udah tujuh.
ayo dong yang lain…
heheh…
February 26th, 2009 at 5:26 pm
klo aq
hem pas beli novel ya…
1. genre
, kapok dah beberapa kali beli buku yg cacad.
2. cover
3. judul
4. sinopsis
5. baca sekilas
6. kualitas buku(bahan kertas, kerapihan buku, kualitas tinta) – meskipun yg ini bukan hal utama tapi aq selalu melakukannya
7. Promosi yang ada di toko buku (gramed)
yg ga penting :
1. review
2. endorsement – toh belum tentu bisa dipake acuan, karena hanya Tuhan yang tahu tuh orang baca atau engga
hohohohohoho
mungkin hanya itu
February 27th, 2009 at 1:37 pm
delapan…
February 28th, 2009 at 2:23 am
Pertama, kover harus menarik perhatian. Paling nggak buat diambil dari rak buku.
Trus, sinopsis di bagian belakang
Habis gitu baru harga. Kalo belum bisa beli ya masuk daftar incaran.
Tapi promosi/ review dari majalah juga berpenmgaruh sih. Paling nggak tau apa buku yang bagus sama yang nggak.
Yang jelas2 ga perlu itu endorsement. Kapok dah ketipu sama endorsement yang bilang bagus padahal bukunya ancur ga karu2an. Makanya kalo ada buku ga ada sinopsis cuman ada endorsement aja udah hampir pasti ga akan dibeli.
Danny’s last blog post..The Girl Who Loved Tom Gordon
February 28th, 2009 at 7:31 am
sembilan…
hayo hayo yang lain yang lain…
heheh…
March 2nd, 2009 at 12:39 am
1. genre
2. Sinopsis cover belakang.
Baca bentar “Oh, kloning lotr. Oh, kloning HP. Oh, kloning…”
3. isi buku, both awal ato tengah ato akhir.
Kalo No.2 lulus, saatnya mengintip isi buku.
4. review di net (kalau ada)
5. judul
Perasaan sulit mengkerenkan judul pake bahasa Indonesia… kenapa ya…
6. cover
7. penulis
8. endorsement
Perasaan gak penting deh… toh itu kan ‘menurut mereka’
March 2nd, 2009 at 1:49 pm
wah… udah sepuluh…
March 22nd, 2009 at 12:27 pm
paling pertama.. sinopsis di bagian belakang buku.
nanti-nantinya (waktu sudah terkumpul 10 buku) kupilah sebuah buku dengan melihat penerbitnya, covernya (kadang bosen juga kalo ngeliat buku dengan cover jelek), penulisnya
tapi ternyata, penerbit juga bukan jaminan. akhir-akhir ini, banyak novel bagus yang diterbitkan oleh penerbit jelek (entah penerbitnya yang pintar merayu atau penulisnya yang ngga mengenal dunia penerbitan)
seperti sejak dulu kala, don’t judge a book from it’s cover. ini juga salah. karena banyak ilustrator yang hebat yang bisa mensiasati novel dengan isi yang jelek berkemasan superduper menarik.
penulisnya, sebaiknya beli karya terakhir atau karya pertama dari penulis yang memang hebat. karena seseorang yang hebat, akan mengupayakan yang terbaik di awal mula memulai debutnya.
dan akan mengakhiri sejarah kepenulisannya dengan indah.. tapi kalau penulisnya emang jelek dari awal, tengah, sampai akhir, mau gimana lagi. hehehe.
hhmm.. judul juga menentukan, sih. tapi aku memilih novel berdasarkan judul ini waktu aku lagi moody aja. misalnya, waktu baru ditinggal mati orang terkasih, aku cari novel-novel yang isi judul “mati, mama, mati, mama, blablabla..” jadi sebenarnya judul sama sekali bukan patokan
yang lebih kusayangkan, kalau judul novelnya membeberkan poin cerita secara terang-terangan (misal: A Father’s Affair”, benar-benar keterlaluan. -_- isi cerita memang bagus, tapi kalau sudah kita peroleh spoiler dengan begitu mudahnya, apakah kita berniat untuk membelinya lagi?
masalah genre, aku termasuk pemakan segala, Villam. Tenang saja
yang penting, cara pembawaannya enak. Kadang aku sobek dulu novel yang disampul plastik, terus liat paragraf awal, liat babnya, lalu menuju ke tengah, lalu akhir. (kritis waktu beli novel itu memang wajar, karena aku hanya menganggarkan satu novel untuk kubeli tiap bulannya.. konsekuensi dari kere-nya anak SMA..)
yah gitulah, hanya komentarku pribadi
panah hujan’s last blog post..* Cerpen – Cinta yang Sia-Sia
March 22nd, 2009 at 1:10 pm
sangat kritis dan jeli ya panah hujan..
berarti dirimu selalu merobek sampul plastik buku di toko buku ya??
Satu novel satu bulan itu lumayan.. Kalo pengangguran kayak gw,, nunggu dapet rejeki lebih dulu baru bisa beli..
kalo gw seh jujur no 1 sampul dulu. paling gampang ditangkap oleh sensor mata. terus judulnya, menarik or bikin penasaran apa gak. abis itu sinopsis di belakangnya. bikin pengen baca lebih lanjut apa gak. yah tiga itu aja cukup, tidak perlu merobek plastiknya. biarkan insting ku yang berbicara.
kalo masalah genre seh emang lebih memilih yang fantasi or peteluangan, tapi kalo tiga unsur di atas membuat gw menarik, ya gw beli juga apapun genrenya.
zetamari’s last blog post..Merancang Novel yang Best Sellers
March 22nd, 2009 at 7:51 pm
btw untuk kalian yang selalu merobek sampul plastik, pas belinya ngambil yang udah kamu robek apa yang masih di bungkus
ckckckkckckckckckkckckck
March 22nd, 2009 at 11:23 pm
thanks, michel dan zeta, buat pendapatnya.
hasil pollingnya bisa dilihat di sini:
http://www.rdvillam.com/2009/03/hasil-polling-apa-yang-membuat-anda-membeli-sebuah-novel/
dan ndyw, aku termasuk golongan perobek sampul. heheheheh… dan kalo kemudian beli, aku beli yang aku robek itu kok.
walau sebenernya aku mikir, justru penulis dan penerbit, jika bukunya memang bagus, mestinya beruntung jika ada calon pembaca yang merobek bukunya, supaya calon pembaca yang lain bisa melihat isinya. mestinya perobekan buku ini termasuk salah satu langkah marketing kok.
March 23rd, 2009 at 1:49 am
Salah satu cara marketing ya? Tapi kalo kebanyakan yang dibaca, dia udah tau poin2 cerita yang penting, trus di spoiler ke temennya kan juga ga asik Villam. Walo mungkin itu temen ada kemungkinan beli sih.
Tapi yang paling parah mungkin kalo orang dateng tiap hari ke toko buku buat nyobek novel yang sama dan dibaca trus sampe habis. Kalo kaya gitu kayanya udah ga perlu beli lagi tuh. (imajinasi erlebihan
)
Kazegalewind’s last blog post..Nation Watch: Valkan
March 23rd, 2009 at 1:04 pm
tapi spoiler kan emang udah resiko yang harus dialami setiap buku atau film yang sudah telanjur dilempar ke publik. itu gak mungkin dihindari kan? sama aja kayak review, yang intinya mendorong orang lain buat beli, atau justru sebaliknya.
March 23rd, 2009 at 1:54 pm
Tentunya dibiarin, dong, udah sobek begitu
Berarti, kita membuat untung calon pembaca yang lain.. ngga udah jadi maniak seperti kita, perlu ngerobek-robekin sampul segala.
Lagipula, seperti kata Villam, kalau novelnya emang bagus, dan sampul plastiknya disobekin, itu berarti akan menjadi keuntungan bagi si penulis ataupun si penerbit itu sendiri
tul ngga, Kakak Villam?
panah hujan’s last blog post..* Cerpen – Cinta yang Sia-Sia
March 23rd, 2009 at 5:10 pm
hahahah…
yeah, mari kita menjadi tim perobek-robek sampul!
gyahahahahah!
March 23rd, 2009 at 8:52 pm
klo aq punya toko buku
kalian semua masuk ke dalam daftar black list ku
hehehhehehehehhehe
tapi emg sih dengan adanya yang seperti kalian(para penyobek sampul plastik) aq yang tidak penah melakukan itu menjadi dapat membaca buku tuk mengintip-intip isi buku yang aq rasa menarik(aq ga berani soalnya
)
March 24th, 2009 at 12:22 pm
lho kalo kemudian jadi banyak yang beli berkat proses intipan2 itu ya mestinya toko buku ikut beruntung dong. heheh…
March 24th, 2009 at 4:25 pm
bisa ajah balesnya ya
hohohohohohohoho
March 24th, 2009 at 5:10 pm
kan jago ngeles…
hehe…
March 24th, 2009 at 7:04 pm
kalu punya toko buku keknya pengen ada bagian khusus yang membolehkan pengunjung membaca buku sebelum di beli.
syaratnya /jam atau kurang dari itu bayar seribu rupiah. non komik
ha.ha dan buku-buku yang dijual di toko itu lebih dari 400 halaman (selain komik). (*surga bagi mahasiswa ya*
)
ck! oot. sorry, Villam
March 24th, 2009 at 11:49 pm
huhu…
ini jadi mengingatkan taman bacaan di jaman dulu itu…
ada gak ya toko buku yang merangkap taman bacaan kayak begini? hahahah…
March 25th, 2009 at 3:41 pm
jaman dulu???
sekarang ajah masih banyak
jadi merasa tua hehehhehe
————————–
klo di bandung ada, villam
depan gramedia di jl. Merdeka
ada toko buku yang merangkap taman bacaan
March 25th, 2009 at 5:13 pm
hmm…
depan gramedia jl. merdeka bukannya bip?
aku dulu taman bacaannya di deket jl. cihapit kalo gak salah…
lumayan buat baca kho ping hoo…
March 25th, 2009 at 5:39 pm
bagian belakang gramedia

di Jl. Purnawarman
tepat di belakangnya
March 26th, 2009 at 9:56 am
oh… i see…