Bagaimana Memulai Menulis Cerita Panjang
Posted by: Villam in Tips Menulis, tags: menulis novel, plot cerita, story plotting
Seringkali begitu kita mendapat ide untuk sebuah cerita panjang (bukan cerita pendek ya…), gairah langsung mencuat, dan segera kita membuka komputer (atau buku) lalu menuliskannya. Satu kalimat, satu paragraf, satu adegan, satu bab selesai. Puas, dengan penuh semangat kita melanjutkan ke bab kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Kita perkenalkan tokoh-tokohnya, kita perkenalkan dunianya, kita hajar mereka dengan berpuluh-puluh masalah. Sampai akhirnya, di suatu titik di tengah cerita, kita berhenti, kebingungan. Sebenarnya hendak dibawa ke mana cerita ini? Hendak diakhiri di mana? Hendak diselesaikan seperti apa masalah-masalahnya?
Pernahkah Teman-teman mengalami hal seperti ini?
Yeah, saya pernah, beberapa kali. Dan sungguh rasanya betul-betul menyebalkan. Sepertinya tiba-tiba ceritanya menjadi terlalu panjang dan terlalu lebar, bahkan terlalu besar untuk bisa saya selesaikan. Di suatu waktu saya mencoba mencari pembenaran, bahwa ini adalah hal yang wajar, karena seringkali saya menulis apa adanya, apa pun yang mengalir di kepala. Biarkan para tokohnya berjalan; let the characters lead the story.
Tapi akhirnya saya menyadari, ungkapan terakhir itu terlalu berlebihan jika dipahami apa adanya. Karena selalu lebih benar, bahwa sebelum kita mulai menulis, sebaiknya kita sudah membuat rencana-rencana. Tentukan plotnya, tentukan karakter-karakternya, tentukan sub-plot masing-masing karakter tersebut, dan tentukan setting dunianya. Berurutan.
Apakah rada membosankan membahas hal semacam ini—bagaimana memulai menulis cerita panjang? Bukankah ini sesuatu yang terlalu dasar untuk dibahas? Yeah, mungkin. Tapi apapun, ini adalah kesalahan-kesalahan yang tetap saja sering saya buat. Tidak dilakukan caranya, seringkali karena malas. Jadi, sambil berharap supaya nanti tidak malas melakukannya, ya saya tulis saja di sini.
Langkah-langkah sederhananya adalah seperti ini:
- Tuliskan plot/tema utama cerita dalam satu atau dua buah kalimat.
- Tuliskan nama-nama karakter2 utamanya, beserta deskripsi singkatnya, dan pilih siapa saja yang akan menjadi tokoh POV (pencerita/sudut pandang).
- Tuliskan sub-plot dari masing-masing karakter utama tersebut dalam satu atau dua buah kalimat.
- Berdasarkan plot utama dan sub-plot, buat sinopsis sepanjang satu atau dua halaman. Di sana sampaikan secara jelas apa yang menjadi bagian pembuka, masalah, konflik, klimaks, dan resolusinya alias bagian penutup.
- Berdasarkan sinopsis tersebut, mulailah susun dan urutkan seluruh adegannya, lengkap mulai dari awal sampai akhir. Misalkan seperti ini:
- Adegan 1
- Sinopsis adegan (dalam satu atau dua buah kalimat): …..
- Jenis adegan: On Stage (adegan diceritakan secara langsung atau real time) atau Off Stage (adegan tidak akan diceritakan secara langsung, hanya dijelaskan secara singkat melalui narasi atau dialog, atau bahkan disembunyikan sama sekali)
- Pembuka adegan: ….. (dalam satu atau dua buah kalimat)
- Puncak adegan: ….. (dalam satu atau dua buah kalimat)
- Penutup adegan: ….. (dalam satu atau dua buah kalimat)
- Waktu kejadian: …..
- Tokoh sudut pandang: ….. (tidak perlu jika adegannya Off Stage)
- Hal-hal penting lainnya: …..
- Adegan 2
- Adegan 3
- Dst dst dst …
- Setelah semua tersusun, dicek ulang apakah seluruh masalah berhasil tersampaikan, dan kemudian terpecahkan? Apakah ada yang janggal? Jika ada yang salah, revisi. Jika ada yang kurang, tambah. Jika ada yang tidak perlu sama sekali adegannya, buang. Apakah adegan yang On Stage sebaiknya cukup Off Stage? Atau justru sebaliknya? Lakukan sekarang, daripada nanti salah di tengah jalan padahal sudah capek-capek menuliskan adegannya.
- Setelah rencana plot ini beres, barulah mulai menulis. Secara runtun, dari pertama.
- Bersamaan dengan itu, lakukanlah beberapa riset awal tentang hal-hal penting dalam cerita. Kemudian coba kembangkan lagi karakter tokoh-tokohnya, dan bentuk detil-detil dunia di sekeliling mereka. Secukupnya dulu, jangan terlalu berlebihan. Ingatlah selalu, bahwa memulai menuliskannya ceritanya, mengeluarkan sang gajah dari dalam kepala, adalah lebih penting, untuk saat ini, dibanding menghabiskan waktu dan energi untuk membuat detil dunia selengkap-lengkapnya. Manfaatkan momentum untuk menulis secepatnya.
- Jadi, menulislah. Berdasarkan plot dan daftar adegan yang telah dibuat, namun tetap sisakan ruang sedikit untuk berimprovisasi. Seringkali saat menulis kita justru mendapat hal-hal penting yang sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali.
- Dan akhirnya … selesai. Selesai? Ya, Selesai. Entah enam bulan, setahun, lima tahun, atau sepuluh tahun kemudian. Hahahahah…
- Begitu selesai, barulah dibaca ulang dari awal, dan tambahkan detil-detil baru untuk memperkuat plot, karakter dan suasana. Silakan jika hendak langsung melakukan proses editingnya secara mendetil, silakan juga jika mau dibuat menjadi beberapa tahap lagi.
Oke. Seharusnya seperti itu. Bagaimana? Apakah proses plottingnya terasa begitu menyebalkan, melelahkan atau membosankan? Bisa ya, bisa tidak. Setiap orang bisa jadi—atau pasti—punya cara masing-masing.
Yeah, tentu saja terserah kita apakah mau melakukan seperti ini atau tidak. Yang penting asal kita bisa menilai kemampuan diri sebelum menulis. Tahu resiko-resikonya jika melakukan atau tidak melakukan. Tahu apakah kita punya kesempatan untuk itu. Dan tahu sejauh apa kita ingin membuat karya kita menjadi lebih baik.
Selamat menulis.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Entries (RSS)
February 26th, 2009 at 5:41 pm
hoooo
, tapi akan segera ditamatkan hahahahahahhahahah, hanya sajah lagi belum sempetin waktunya sih)
jadi inged waktu membuat ceritaku dulu (dan sampe sekarang belom tamat
tapi sekarang aq juga dah mulai melakukan poin2 yang dicantumin om koq
hanya saja
terkadang mod tidak mendukung
bahkan sekarang daripada menulis ceritaku yang baru, aq lebih mod menggambar seluk beluk yang ada di ceritaku(dengan harapan ide akan lebih deras mengalir) begitu…
yang paling buatku sih mod
mod
mod
bagaimana dengan yang lain?
February 26th, 2009 at 10:11 pm
maksudnya mood, ndyw? heheheh…
boleh saja kok, jika dengan menggambar kamu bakal menemukan cara buat bisa menulis lagi.
kalo menurut gue sih, mood sebenarnya hanya soal sugesti.
kita merasa sedang tidak mood, maka kita percaya bahwa kita tidak bakal bisa menulis, dan jadinya otak menuruti sugesti tersebut. akhirnya kita benar-benar tidak menulis.
jadi, gimana kalo sugestinya diubah?
February 27th, 2009 at 3:40 am
hohohooo
i’ll try
February 27th, 2009 at 8:38 am
Setuju, Villam. Emang kudu bikin rencana gitu. Ini juga ngebantu kita buat ngecek logika cerita udah bener atau belum atau ada yang ganjal gak kalau si tokoh begini dan begitu. Bentuk yang gue bikin sih malah kayak’ bagan. Jadi bisa mengecek secara cepat pengaturan ceritanya. Gue juga jadi gampang ngoreksi kalau ada hal-hal yang gak masuk akal or perlu dibuah.
February 27th, 2009 at 8:40 am
dibuah –> diubah. duh! ^_^
February 27th, 2009 at 10:41 am
yup setuju. (walau gw masih sering malas melakukan hal ini ^^;)
membuat perencanaan dan kerangka cerita itu seperti melihat dunia kita dari sudut pandang yg jauh lebih tinggi, Omniscient. Sementara ketika kita membiarkan karakter kita melead cerita itu layaknya sudut pandang yg sangat rendah, POV1.
Ketika kita sendiri sbg penulis posisinya berada di POV1, kita sama buta arahnya dengan tokoh di dalamnya. Kita ga tau mau kemana atau dimana, kita bahkan tidak memiliki peta dunia ini. Bener2 layaknya tokoh utama lemot yg hilang ingatan wkwkwk. Supaya bisa melihat scr jelas kita skrg ini sedang dimana dan menuju kemana baiknya, kita perlu meninggikan view kita ke view Omniscient, melihatlah dr scope luar angkasa kl perlu. ^^
Jd alangkah baiknya, every now and then, kl bisa setiap selesai 1 bab, kita mengubah sudut pandang kita dan melihat garis besar ceritanya, dan melihat apakah sudah di jalur yg benar atau belum.
February 27th, 2009 at 1:42 pm
tambahan yang bagus, jeff!
kita memang harus bisa menempatkan diri secara tepat, pada saat menjadi tokoh di dalam sebuah adegan, dan pada saat menjadi sang penciptanya.
hmm… sharing dong, dyah… seperti apa bagan yang kamu bikin…
February 27th, 2009 at 5:00 pm
bagannya simple kok villam. modelnya cuma alur birokrasi gitu. Dari satu kotak dikasih panah ke kotak yang lain. Atau mungkin kalau ada alternatif cerita ya bikin kotak yang lain di samping terus dikasih anak panah.
Ada juga penulis yang nulis idenya di potongan kartu gitu. Setiap kartu ditulis ide umum dalam satu adegan atau mungkin dalam satu bab. Mungkin bisa jadi ide kalau mo memulai cerita dari tengah-tengah gimana (tapi gak melupakan kronologi cerita itu)
February 27th, 2009 at 5:27 pm
(Nyambung postingan Dyah)
soal metode kartu ini udah kita pake untuk scene2 somniterra, vil
February 27th, 2009 at 5:35 pm
iya, tapi kartunya kayaknya lebih banyak ada di kepala kita… heheheh…
kartu yang nyata adanya di dalem dompet… heheh…
hmmm… kayaknya gue entar juga mau coba bikin bagan-bagan…
February 27th, 2009 at 11:35 pm
Wah, gw sering tuh bikin bagan tp versi yg ngasal corat2 coret. Dan saking ruwet nya Felgirth satu halaman A3 sampai penuh dan bener2 kusut
Alhasil gw pusing sendiri bacanya XD
Gw lebih cocok pakai metode kartu ky gt. Gw ada satu notebook kecil yg tiap halamannya berisi ide2. Jika menyangkut satu karakter, idenya dirangkum di satu hlaman. Kl menyangkut hal lain lagi, di kasi jarak bbrp halaman. Lebih enak untuk dibaca ulang nantinya. ^^.
February 28th, 2009 at 7:36 am
hehehe…
coba gue bikin bagan2 semacam itu nanti…
yang disimpen di notebook bagus tuh. semua ide dikumpulin dan dicatat.
selama ini gue selalu percaya dengan kekuatan daya ingat gue, jadi selalu males menuliskan itu dalam catatan. tapi jelas… otak ada batasnya… dan udah waktunya gue gak sekedar mengandalkan itu… bisa gila entar… hahahah…
March 8th, 2009 at 8:26 am
memulai menulis cerita panjang ala zetamari…
hal pertama yang gw lakuin begitu dapet ide adalah menulis garis besarnya dulu.. semacam sinposis gitulah..
selanjutnya baru mulai gw susun kerangka ceritanya dengan memilah-milah dalam bab-bab besar.. termasuk pembuatan alur,, seting,, tokoh.
dari bab-bab besar itu gw turunin lagi menjadi kerangka cerita yang lebih detail.. pada tahap ini biasanya cerita gw mulai berkembang dan mendapatkan nyawa… halah..
tahap terakhir baru ditulis/diketik… jadi gw harus tahu dulu bagaimana akhir cerita gw baru gw berani nulis… soalnya gw itu kadang suka dapet ide gila yang bikin cerita gw gak kelar2… jadi untuk mengantisipasi ya kudu gw patokin dulu akhirnya gimana…
March 10th, 2009 at 12:18 pm
nah, gue pikir langkah-langkahmu dah benar tuh.
bagaimanapun, itu cuman langkah-langkah persiapan yak… yang penting adalah bagaimana pas saat kita menulis nanti…
March 25th, 2009 at 11:34 pm
Saya menyimak saja deh..Banyak dapet ilmu..
March 26th, 2009 at 9:59 am
iya. saya juga menyimak saja, yosi… hehe…