00028538Di bawah ini adalah tulisan dian k, yang dimuat di salah satu tret Pulau Penulis, mengenai sedikit pengalaman dalam membuat dan menyelesaikan sebuah novel kolaborasi. Semoga bermanfaat.

—–

Tahap pra-penulisan
1. Kenali mitra (skill, gaya tulisan, pribadi, mimpi, motivasinya); kalau bisa sebelum kita memilih seseorang menjadi mitra, kita sudah harus mengenalnya dengan baik. Ini sangat berguna pada saat sharing ide, karena penyampaiannya akan lebih mudah kalau kita sudah mengenal karakter mitra kita.

2. Sepakati tema cerita yang akan dibuat.

3. Bagi ide-ide yang muncul; yang biasa ataupun yang liar, tampung semua. Kumpulkan, kemudian pilah, mana yang akan digunakan dan mana yang akan dibuang.

4. Susun plot, karakter, dan sub-plot dari masing-masing karakter. Bahas sejak awal, jangan ditunda. Tentukan plot utamanya dulu sedangkan detil-detilnya bisa ditambahin di belakang sambil jalan. Yang paling penting adalah plot dan karakternya dulu, itu dipastikan, sesudah itu bisa langsung jalan. Sambil jalan bisa ditentukan setting yang akan diambil—kalo ‘dunia fantasi’, buat dunianya sekalian lengkap dengan semua atributnya: karakter penduduk, kultur, kondisi alam, tipe magic, dll. Tapi jangan sampai kelamaan di pembuatan setting, ya.

5. Buat komitmen, dan kesepakatan-kesepakatan. Apakah tujuan penulisannya serius (untuk penerbitan) atau iseng? Bagaimana kalao proyek terhenti di tengah jalan—apa akan dilanjutkan oleh member yang tersedia/ bersedia, atau harus berhenti sama sekali dan tidak boleh dipakai lagi oleh siapa pun juga? Bagaimana kalau terbit—urusan royaltinya, misalnya?

6. Lakukan riset2 yang dibutuhkan, kalau perlu. Langkah ini bisa dilakukan sambil menulis, atau sebelumnya.

Tahap penulisan

1. Buat urut-urutan adegan. Berbeda dengan novel solo, kerangka novel kolaborasi lebih baik ada sejak awal. Tujuannya agar cerita tetap terfokus dan ada tujuan, mengingat yang mengerjakan proyek lebih dari satu kepala. Tanpa range dan batasan-batasan, cerita akan melebar tak terkendali.

2. Bagi tugas. Siapa mengerjakan scene yang mana, atau bagi per karakter lebih bagus. Sesuaikan dengan kemampuan member kolab, karena tidak semua karakter bisa ‘dimainkan’ semua orang dengan hasil yang persis sama.

3. Tulis.

4. Kirim adegan yang sudah selesai, untuk mendapat masukan-masukan. Di sini pertukaran ide terjadi lagi, dan usahakan scene ‘fix’ sebelum meneruskan menulis. Kalau ditunda akan tertumpuk di belakang dan lebih merepotkan.

5. Perbaiki.

6. Dan seterusnya, sampai novel selesai.

Tahap pasca-penulisan

1. Editing. Pada proses ini barulah ‘pemolesan’ novel dilakukan: buang yang tidak perlu, persingkat kalimat yang tidak efektif dan gunakan tanda baca yang tepat. Jangan berpikiran ini akan diperbaiki editor kelak—lakukan pengeditan sendiri. Pengeditan yang dilakukan editor akan punya sudut pandang berbeda sehubungan dengan tugas dan wewenangnya.

2. Novel selesai. (horeeee!!)

Hal-hal lain yang patut diperhatikan adalah bagaimana berkomunikasi, membagi ide dan memberi masukan yang baik. Yang terpenting dari sebuah kolaborasi adalah saling toleransi satu sama lain, kompromikan keinginan tanpa harus ngotot pada ego masing-masing. Satu hal lagi, pastikan semua member menikmati prosesnya.

Good luck.

16 Responses to “Bikin Novel Rame-rame”

  1. 1
    Ndyw Says:

    hooo
    rumit ya…
    klo aq sekarang mah lagi kolab bikin setingan dunia fantasy
    :D
    jadi kaya tim lah gt
    tp
    klo penulisan ceritanya masing – masing…
    biz bikin dunia fantasy(universe) baru ajah lumayan(klo aq mah bilangnya sangat) susah loh…
    ckckckckkckckckkckc

  2. 2
    Villam Says:

    sebenarnya gak rumit kok, sama saja dengan kayak bikin cerita panjang biasa.
    bedanya di dalam kolaborasi kita harus bisa saling membagi.
    faktor paling penting: kenali rekan, samakan tujuan, pendam ego, komunikasi yang baik.

  3. 3
    MaxMax Says:

    pendam ego. ini yang susah.

    seorang kreator, baik penulis, musisi, penari, pelukis, desainer, pokoknya ‘orang yang membuat sesuatu’, pasti memiliki ideal dan ego yang cukup tinggi.

    soalnya aku juga begitu. tapi aku tetep aja berusaha untuk tidak menjadi egosentris bila kolaborasi.

    tapi kalau menulis sendiri, tentu saja ideal dan ego main disitu. :)

  4. 4
    Villam Says:

    yeah… itulah membedakan menulis sendiri dan kolaborasi.
    ada kelebihan, ada kekurangan. ada keuntungan, kerugian.

    kolaborasi tidak mudah, makanya sebenarnya disarankan, sebelum seseorang membuat kolaborasi, ada baiknya dia sebelumnya sudah pernah membuat sebuah novelnya sendiri sampai selesai. jadi bisa punya pengalaman lebih buat menilai dan memperkirakan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi saat kolab.

  5. 5
    dian k Says:

    Plus satu lagi, Vil: sabar.

    Penting banget untuk penulisan jangka panjang dan menyatukan visi dgn partner …

  6. 6
    Villam Says:

    hoho… yeah…
    kesabaran luar biasa…
    sabar terhadap partner, sabar terhadap diri sendiri…

  7. 7
    mocca_chi Says:

    sepertinya ga minat bikin keroyokan, kaga punya bakat ut sharing ide. wkwkwkw

    tpi ut mengatasi perbedaan gaya menulis bagaimana? biar ga hitam putih gitu?

    mocca_chi’s last blog post..Pertemuan vs Perpisahan

  8. 8
    dian k Says:

    Mengatasi perbedaan gaya nulis?
    gampang. resepnya karakterisasi.

    beda karakter => beda sifat => beda gaya bicara => beda penulisan

    sekali kamu udah ada di dalam suatu karakter dgn baik, ke sananya otomatis, kok :)

  9. 9
    Villam Says:

    he…
    sebenarnya agak bingung, rik… yang kamu maksud itu gaya menulis, gaya tulisan, gaya bahasa, atau gaya bicara dari tokoh-tokohnya?
    ini empat hal yang berbeda…

  10. 10
    mocca_chi Says:

    gaya tulisan, masing-masing orang pasti punya gaya tulisan yang beda-beda, nah, jika dalam nulis kolab gini masing2 dapat bagian, jelasnya kan masing2 bagian beda *menurutku loh, soale dulu pernah hampir bikin wkwkkw

    mocca_chi’s last blog post..Siapa Yang Tahu Kapan Bajaj Akan Berbelok?

  11. 11
    FANNY Says:

    wah, asik juga nih blognya. bisa nambah ilmu nulis. tapi..belum pernah sih kepikiran buat novel rame2.

    FANNY’s last blog post..AWARD DAN PE-ER YANG MENGERIKAN….

  12. 12
    Villam Says:

    kalo gaya tulisan atau gaya bahasa, rik, menurutku pribadi, memang lebih baik berkolab dengan penulis yang gayanya tidak berbeda jauh. contoh sederhana, penulis bergaya bahasa puitis bakal lebih sulit berkolab dengan penulis bergaya bahasa lugas. walaupun bukannya gak bisa.

    @fanny, sering-sering datang yak. dan ikut berdiskusi. :-)

  13. 13
    zetamari Says:

    ngomongin soal bikin novel rame-rame gw jadi waktu jaman kuliah.. dulu gw ma sahabat gw iseng-iseng bikin permainan cerita berantai.. itung-itung ngilangin bete karena macet.. jadi dia dulu yang mulai cerita trus tar gw sambung..trus dia sambung lagi.. begitu terus sampai ada yang gak bisa ngelanjutin lagi alias menyerah.. berarti dia kalah.. dan tentu saja sayalah pemenangnya.. hahahahaha…. hap…

    bikin dunia-duniaan itu emang susah bangettt,,bagus juga kalo bisa bikin setingannya bareng orang lain…biar lebih gampang… jadi tar ada banyak cerita di satu dunia… seru juga tuh…

  14. 14
    Villam Says:

    hehe…
    konsep bikin cerita bareng temenmu itu menarik juga.
    kalo di amrik sono ada yang istilahnya campfire alias api unggun. para pesertanya bikin cerita sambung-menyambung. tapi ya karena tidak ada plot, ceritanya lalu menyebar ke mana-mana.

    sebenarnya yang paling penting (dan susah) itu bukan bikin setting dunianya, melainkan jalinan plotnya. dan ini berlaku juga dalam sebuah kolab.

  15. 15
    ubr Says:

    Jadi ingat nasibnya Pasukan Penyihir yang dimakan naga…(bad ending no.3)

  16. 16
    Villam Says:

    hahahahah…
    pasukan penyihir yang mana nih? yang itu?
    cerita belum selesai jika belum dinyatakan selesai. heheh…

Leave a Reply