jam-terbangSaya orang yang gemar berhitung.

Saya gemar menghitung kata. Menghitung berapa jumlah kata yang biasanya saya tulis dalam satu halaman, dalam satu bab, atau dalam satu novel. Juga, berapa rata-rata jumlah kata yang biasanya saya tulis dalam satu jam, satu hari, atau satu bulan. Seringkali saya bahkan lebih suka menghitung daripada menulis kata.

Saya pun gemar menghitung waktu. Menghitung berapa rata-rata waktu yang biasanya saya pakai untuk menulis setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan.  Bahkan, berapa lama waktu yang telah saya habiskan untuk menulis sepanjang hidup: berapa bulan, berapa tahun, berapa dekade. Kemudian, berapa lama waktu yang mungkin tersedia: berapa tahun lagi? berapa bulan lagi? berapa minggu lagi? berapa hari lagi? berapa jam lagi?

Dan jika ada yang bertanya kenapa saya gemar melakukan itu, saya akan menjawab, karena saya memang gemar menghitung apa yang sudah saya capai, baik itu keberhasilan maupun kegagalan.

Keberhasilan lebih mudah dihitung, tentu saja, karena selalu lebih sedikit dibanding kegagalan. Heheheh … Maka, saya pun menghitung berapa jumlah naskah yang sudah pernah dikirimkan ke penerbit, menghitung berapa jumlah surat penolakan yang masuk, dan menghitung berapa banyak lagi penerbit yang masih tersisa untuk ditembak.

Ujung-ujungnya, akhirnya saya menghitung peluang dan menghitung diri. Apakah saya punya peluang menerbitkan naskah-naskah saya, apakah saya punya peluang untuk menjadi penulis yang sukses, dan apakah saya pantas.

Lalu, mungkin akan ada yang berkata, bahwa menghitung itu semua tidak akan berarti apa-apa. Yang penting bukan menghitung kata, melainkan menuliskannya. Bukan menghitung keberhasilan dan kegagalan, melainkan mencari manfaat dan berkah yang muncul di baliknya. Bukan menghitung waktu yang telah terlewat, melainkan mengisi sisanya dengan yang terbaik yang kita bisa. Bukan menghitung apakah saya pantas atau tidak, melainkan percaya bahwa selain punya kekurangan, saya juga punya kelebihan.

Saya jawab, ya tentu saja betul, memang harus begitu. Tapi kan sudah saya bilang di awal, saya menghitung ya karena saya gemar. Lha itu memang kegemaran saya kok. Heheh …

17 Responses to “Menghitung Kata, Menghitung Waktu, Menghitung Diri”

  1. 1
    mocca_chi Says:

    bersyukurlah diirmu bsa menghitung sebanyak ap yang sudah kamu tulis. sementara ada orang yang bahkan untuk memulai menghitung saja tidak bisa, karena yah…. tidak ada yg bisa diitung wkwkkw

    lama tak mampir :)

    mocca_chi’s last blog post..Saat profil Andien mau diekspos

  2. 2
    Villam Says:

    ah masak sih gak ada yang bisa dihitung?
    lha ini buktinya kamu baru aja menulis 32 kata.
    heheheheh…

  3. 3
    MaxMax Says:

    kenapa harus dihitung sendiri?
    pake word count dong :)

    praktis dan cepat

  4. 4
    Villam Says:

    lha iya pake word count. tapi kalo lagi iseng, setiap ketemu novel gue suka ngitung berapa jumlah baris dalam satu halaman, trus jumlah kata dalam satu baris. terus dikali, dan jadi dah jumlah kata per halaman. trus berarti jumlah kata total satu novel juga bisa dihitung. hehehe…

    setelah itu, langsung ketiduran dah. kayak mr. bean setelah ngitung jumlah domba di foto. hehe…

  5. 5
    MaxMax Says:

    Mr bean dulu ngitungnya pake kalkulator. setelah itu langsung sleeeeeep.

    ngitungin kata dalam sebuah novel, kurang kerjaan juga kau vil?

    qeqeqeqeqe :)

  6. 6
    Villam Says:

    lha ya itu… kurang kerjaan…
    heheh…

    btw, menghitung kata semacam itu bisa jadi penting di area lain. misalnya dalam bisnis penerjemahan, atau editorial. yang dibayar berdasarkan jumlah kata.

  7. 7
    MaxMax Says:

    ngmong-ngomong bisnis penerjemahan, gimana ya, caranya biar bisa jadi penerjemah pro?

  8. 8
    Villam Says:

    gue gak tau banyak soal itu. barangkali ada temen2 di ffdn yang justru lebih tau tentang ini.

    kalo perkiraan gue, pertama mungkin kudu dipilah dulu, mau jadi penerjemah khusus buku novel asing di penerbitan itu, atau penerjemahan lain yang lebih luas di luar. mau bisnis rumahan, atau gabung sama perusahaan yang emang khusus buat itu.

  9. 9
    dian k Says:

    Maxmax,

    untuk memulai, coba cari kontak di bidang akademisi. skripsi, tesis, makalah–semodel begini lah. biasanya mahasiswa S2-S3 udah terlalu sibuk untuk terjemah2 dan cari jasa penterjemah. dari sini bisa melebar. pajang aja di profil friendster/ multiply/ facebook kalo kamu menerima jasa penterjemahan :)

    Good luck ya!

  10. 10
    MaxMax Says:

    oww,…. berarti kembali ke kampus yah?

    Ok, thanks for the suggestion, mbak… ^_^ V

  11. 11
    Villam Says:

    emang serius mau jadi penerjemah pro, mak?

  12. 12
    MaxMax Says:

    baru kepikiran. aku lagi membaca diri, mencari skill apa saja yang aku punya yang berpotensi untuk menjadi duit :)

  13. 13
    Villam Says:

    betul. mari kita membaca diri.
    temukan skill kita. temukan passion kita.
    lalu kita akan menemukan bahwa karir dan pekerjaan ternyata dua hal yang berbeda.

  14. 14
    alfare Says:

    ngitung ya? aku setuju, hobi menghitung berarti bung villam tipe perencana ya?
    hohohoho.

  15. 15
    Villam Says:

    yeah, aku memang tipe perencana.
    dan biasanya rencana-rencana itu selalu lebih bagus daripada aksinya.
    hahahah…

  16. 16
    ubr Says:

    Menghitung kata itu menyenangkan! Duduk, ngetik… ngecek wordcounts. Tadi 5097 sekarang 5184… lumayan, bertambah 87 kata… cukuplah hari ini :) )

  17. 17
    Villam Says:

    yeah, cukuplah satu paragraf.
    heheheheh…

Leave a Reply