Di Tepi Sungai Ordelahr
Posted by: Villam in Cerita, tags: cerita fantasi, Hikayat Orang Utara, villam's story, vilnar dan Ailene
Api masih berkobar membakar reruntuhan setiap rumah yang kini telah menghitam. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di atas rumput, batu dan pasir di tepi Sungai Ordelahr.
Ini adalah desa kedua yang dilewati Vilnar siang ini, dan sama seperti yang pertama, tak ada lagi kehidupan yang tersisa di sana.
Vilnar tak berhenti. Ia terus mendayung menyusuri sungai ke arah hulu di selatan. Kedua lengannya mengayun ke kiri dan ke kanan bergantian seolah tanpa tenaga, begitu efisiennya sehingga perahu dapat meluncur jauh dengan hanya sekali kayuhan.
Ia menarik napas panjang lalu menoleh ke belakang. Setumpuk mantel kulit beruang memenuhi perahu kecilnya; hasil perburuannya selama musim semi, yang pada musim panas ini seharusnya bisa ia jual tuntas di setiap desa yang dilewatinya.
Mengesalkan memang, tapi bukan itu yang paling membuatnya gundah. Penasaran, sedih, khawatir, marah, malu; sederet perasaan itulah yang justru bercampur baur menjadi satu, begitu ia menyadari siapa yang telah melakukan tindakan kejam di desa-desa ini. Orang-orang Hualeg—bangsanya sendiri—yang telah melakukannya. Dan Vilnar, dulu pernah pula menjadi bagian dari kaum penjarah ini.
Hualeg adalah negeri terpencil jauh di utara, berhawa dingin di mana matahari hanya bersinar terang selama tiga bulan dalam satu tahun, dikelilingi lautan es yang hampir selalu membeku di utara, dan dipayungi hutan lebat dengan pohon-pohon jangkung di selatan. Sebuah negeri yang hanya bisa dicapai dengan men¬garungi Sungai Ordelahr sambil menembus kegelapan hutan selama berminggu-minggu.
Di sana, tiga tahun yang lalu, Vilnar masih hidup nyaman layaknya seo-rang anak kepala suku. Ia adalah putra bungsu kepala suku Vallanir. Sejak umur enam belas tahun—dua tahun sebelumnya—ia telah ikut bertempur bersama kakak sulungnya melawan musuh bebuyutan mereka, suku Logenir.
Setelah itu ia diajak pergi oleh kakaknya yang lain menjarah ke desa-desa yang jauh di selatan—tempat yang kemudian membuatnya muak begitu ia melihat darah wanita dan anak-anak tertumpah di depan matanya. Ia pulang ke desanya sendirian.
Tapi ia tahu konsekuensinya. Bangsa Hualeg memiliki aturan keras soal prajurit yang membelot. Walaupun Vilnar anak kepala suku, ia tetap harus mematuhi peraturan tersebut. Pilihannya ada dua. Yang pertama adalah ia harus mengakui kesalahan, lalu melakukan sebuah tugas berat untuk memulihkan kehormatannya: membunuh Rohgar, anak kepala suku Logenir.
Sebenarnya itu bukan tugas yang sulit bagi Vilnar. Tapi sekalipun ia memiliki dendam pada Rohgar, ia menolak karena ia merasa tidak pernah membuat kesalahan. Ia pun mengambil pilihan yang kedua: pergi dari tanah Hualeg, keluar menembus hutan, diasingkan selama tiga tahun.
Berminggu-minggu berperahu ia kelaparan, sebelum akhirnya tiba di tepi hutan jauh di selatan, tempat di mana ia bisa menemukan daging rusa kutub yang lezat untuk dimakan. Di cabang sungai terpencil ia menebang pepohonan dan mendirikan rumah.
Dari sana Vilnar mulai berinteraksi dengan suku-suku asing di selatan, hingga akhirnya ia dikenal sebagai pemburu dan penjual mantel kulit beruang. Dan semakin banyak mengenal mereka semakin ia paham bahwa ada kehidupan lain di luar Hualeg yang ternyata lebih mene¬nangkan hati daripada sekedar memainkan kapak perang.
Sekarang, masihkah ia ingin pulang ke Hualeg?
Vilnar kini berusia dua puluh dua tahun. Tiga tahun masa pengasingannya telah lewat. Sebenarnya ia sudah boleh pulang ke negerinya. Hal itu selalu terpikirkan, namun ternyata ia selalu enggan melakukannya. Ia sudah telanjur mencintai kehidupannya yang baru dan indah, yang sayangnya, tampaknya akan segera berakhir.
Tahun demi tahun semakin banyak orang-orang Hualeg yang berani menjelajah jauh ke selatan. Menyedihkan, karena ternyata mereka tetap membawa perilaku biadab: membunuhi orang hanya demi mengambil sedikit kekayaan dari desa-desa kecil dan miskin ini. Ini jelas tidak adil! Vilnar merasa ia mempunyai segala hak untuk marah dan malu.
Tapi yang kemudian membuatnya penasaran adalah, suku Hualeg mana yang melakukannya? Apakah sukunya sendiri, atau suku yang lain? Saat melewati desa pertama Vilnar berkata dalam hati, sebaiknya ia tidak usah ikut campur. Namun ketika melewati desa kedua ia tak bisa lagi menahan diri. Orang-orang desa ini sudah menjadi teman-temannya, dan ia tidak bisa menerima mereka dibunuh begitu saja, walaupun oleh keluarganya sendiri.
Suara menderu terdengar. Vilnar membawa perahunya mendekat. Air terjun menjulang setinggi pohon tampak di hadapannya. Ia tahu tak jauh di atas terdapat desa lainnya, terjauh yang pernah ia injak di selatan. Sebuah desa yang mestinya menjadi sasaran terakhir para penjarah dari Hualeg. Ia mengenali mereka berkat tiga buah perahu besar yang tertambat di tepi sungai. Bentuknya memanjang dengan dayung terikat di sisi kiri dan kanan, berbeda dengan perahu desa-desa setempat yang lebih kecil dan pendek.
Perlahan Vilnar membawa perahunya ke balik pepohonan dan batu-batu besar, menyembunyikannya di sana. Ia menajamkan pendengaran, berusaha mengenali suara-suara mencurigakan dari arah desa. Tapi tak terdengar apa pun, kecuali deru air terjun. Mungkin desa itu pun sudah menjadi abu.
Amarah Vilnar menggelegak, tapi ia tidak mau gegabah. Tanpa suara ia meletakkan dayung, lalu meraih sesuatu dari kolong tempat duduk. Sebuah pisau panjang yang biasa ia gunakan untuk membabat pepohonan ataupun memotong buruannya. Ia ikatkan pisau itu di pinggang sebelah kiri.
Itu adalah senjata yang cukup menakutkan, tapi belum seberapa diban-dingkan yang muncul selanjutnya. Tangannya meraih lagi ke bawah. Kali ini kapak perang besar tergenggam. Panjang gagangnya sebentangan sebelah tangan, dan matanya yang berkilauan hampir selebar kepala Vilnar. Seluruh-nya terbuat dari baja, genggamannya dilapisi oleh kulit rusa. Dengan kapak ini Vilnar bisa menebang pohon besar hanya dengan tiga kali ayunan, membelah tubuh manusia hanya dengan sekali ayunan.
Vilnar melompati bebatuan naik ke dataran yang lebih tinggi. Ia sengaja menghindari jalan setapak terbuka yang biasa dipakai oleh penduduk desa. Vilnar tidak pernah takut pada apa pun, tapi selalu lebih bijak jika keberadaannya tetap tidak diketahui oleh musuh-musuhnya. Unsur kejutan selalu diperlukan dalam setiap pertempuran. Serang musuh dari depan, jangan menusuk dari belakang, tapi beri mereka kejutan supaya mereka tidak bisa bereaksi menghadapi serangannya.
Ia sampai di atas. Mengendap di balik pepohonan ia menyusuri sungai menuju desa. Matahari hampir terbenam dan langit mulai gelap, cukup mem-bantu gerakan diam-diamnya. Vilnar tiba di desa yang dimaksud, dan sesuai perkiraannya tempat itu memang sudah habis terbakar. Kejadiannya baru saja terjadi. Mayat-mayat bergelimpangan dan darah mereka masih segar.
Tapi di mana para penjarah?
Vilnar menggeram dan menggenggam kencang kapaknya dengan kedua tangan. Perlahan ia berjalan mengelilingi desa, sampai akhirnya tiba di sisi selatan, tepat di pinggir sungai yang mengalir deras. Di sana ada sedikit tanah lapang, dan para penjarah berkumpul di tempat itu.
Mereka duduk mengelilingi api unggun. Beberapa tengah menggerogoti daging rusa bakar, beberapa yang lain sedang menikmati minuman hangat. Pedang dan kapak berlumuran darah tergeletak di samping masing-masing. Vilnar menghitung. Satu, dua, tiga…. se¬muanya ada enam orang. Apakah sudah semuanya?
Ia tidak yakin. Mereka membawa tiga perahu besar, jadi seharusnya paling sedikit ada tiga puluh orang. Lalu mana yang lainnya? Apakah mereka terus ke selatan, mencari desa-desa lain? Kelihatannya begitu. Mungkin mereka pergi dengan menggunakan perahu para penduduk desa yang lebih kecil. Ya, sedari tadi tidak tampak perahu para penduduk.
Ia memperhatikan orang-orang dari bangsanya itu dengan lebih cermat. Apakah mereka dari sukunya sendiri—Vallanir? Tidak. Tidak ada yang dike-nalnya. Mungkinkah dari suku Logenir, musuh lamanya? Atau mungkin suku yang lainnya?
Perlahan Vilnar mendekat di antara semak belukar. Ia harus bisa mendengar pembicaraan mereka supaya ia bisa menemukan jawaban.
Seseorang bertanya masih sambil mengunyah makanannya, ”Hei, Togril, apakah kita pulang ke Hualeg besok, atau harus me¬nunggu Rohgar?”
Rohgar? Vilnar mengenali nama musuhnya itu.
Yang dipanggil Togril tampaknya adalah pemimpin kelompok kecil tersebut. Rambut merah panjangnya diikat di belakang leher. Senjatanya adalah sebuah pedang besar yang tersandar pada pohon di samping kirinya.
Lelaki itu menjawab datar dengan suara rendah, ”Rohgar menyuruh kita menunggu di sini, memperbaiki kerusakan kapal dan mengumpulkan perbekalan untuk pulang. Ia akan kembali paling lama dua minggu. Jika lewat waktu itu ia belum datang, kita boleh pulang dengan satu kapal.”
Seorang lainnya meludah ke samping. ”Ia menyuruh kita di sini karena ia tidak ingin kehilangan barang berharganya. Kalau kita pulang duluan, dia takut seseorang merebutnya.”
”Seseorang di kampung kita, atau salah seorang dari kita?” prajurit lainnya menimpali. Mereka semua terbahak. Hanya Togril yang tetap diam.
Seseorang berkata, ”Rohgar dan teman-teman kita yang lain enak-enakan pergi menyerang ke selatan, sementara kita menunggu dengan bosan di sini selama dua minggu? Menurutku, kita semua di sini memang orang tolol kalau mau melakukan hal seperti itu!”
”Ya! Orang tolol yang membiarkan barang berharga kita tersia-siakan tanpa kita pakai!” seru yang lainnya. ”Semua cuma demi Rohgar?”
”Jangan sentuh dia,” kata Togril. Tidak tegas, karena dari nada suaranya kedengarannya ia pun mulai bimbang.
Dia? Ada orang lain di sini? Tatapan Vilnar menyapu ke segala penjuru, sementara para prajurit berusaha terus menghasut pimpinan mereka.
”Hei, Togril, apa lagi yang Rohgar cari dari wanita ini? Dia sudah dapat banyak di kampung. Kenapa harus kita yang rugi? Kenapa kita tidak bisa bersenang-senang sekarang?”
“Betul,” sahut yang lain. ”Kalau sudah puas, kita tinggal buang dia di sungai. Kalau Rohgar datang, kita bilang saja kalau wanita itu bunuh diri dan hilang di sungai. Beres, kan?”
”He he, idemu boleh juga.” Yang lain terkekeh. ”Bagaimana, Togril?”
Togril tetap diam. Dari raut wajah dan juga tatapan matanya yang meragu, tampaknya ia pun mulai terpengaruh.
”Ah, sudahlah. Kuanggap kau setuju.” Seorang prajurit berdiri sambil menyeringai lebar. ”Biar kuambil dia!”
Rekan-rekannya bersorak dan tertawa-tawa.
“Diam!”
Teriakan Togril membisukan semua orang. Tapi sesaat kemudian seringai lebar penuh nafsu tersungging pula di wajahnya. “Aku yang duluan!”
Mereka semua kembali bersorak, melompat-lompat kegirangan. Dengan santai Togril berjalan ke balik pepohonan, lalu menarik keluar dan melempar ‘barang berharga’ mereka.
Seorang gadis berambut hitam panjang terbaring lemas di rerumputan. Rambutnya acak-acakan menutupi wajah. Gaun panjangnya berwarna biru, masih utuh, tapi sudah kecoklatan kotor terkena tanah. Kedua tangannya terikat di atas kepalanya.
Togril menarik tangan gadis itu dan menyeret tubuhnya sampai ke tengah lapang. Wajah gadis itu kini tepat menghadap ke arah Vilnar. Temaram cahaya api unggun menyinarinya, dan kini Vilnar dapat melihat dengan jelas. Wajah muda yang cukup cantik, namun memiliki tatapan kosong.
Sesuatu berdesir di hati Vilnar. Mengetuk, semakin keras, menggelegak. Ketika ia lalu melihat tangan Togril menyobek gaun gadis itu diiringi sorak-sorai anak buahnya, kemarahan Vilnar tak tertahan. Sedetik itu pula Vilnar melompat keluar dengan kapak besar tergenggam di tangan.
Demi mendengar raungan ganas dan melihat sosok bengisnya, para prajurit berlarian panik meraih senjata masing-masing. Namun Vilnar bergerak lebih cepat. Ia berlari. Sekali ayunan di sebelah kanan langsung menebas leher seorang prajurit. Sebuah ayunan di kiri menjatuhkan prajurit lainnya.
Melihat dua rekannya terbantai begitu mudah, tiga prajurit lainnya bergerak mengurung Vilnar, menyerang secara bersamaan. Vilnar menunduk lalu merentangkan tubuhnya ke belakang, sekuat tenaga memutarkan kapaknya sejauh mungkin. Tubuh tiga prajurit pun tercerai-berai.
Lima orang prajurit telah tewas seketika. Tinggal Togril yang tersisa. Takut bercampur marah ia menarik tangan sang gadis yang bajunya sudah compang-camping dan menyeretnya ke tepi sungai yang deras. Dengan satu tangan ia mengangkat tubuh gadis itu tinggi-tinggi.
”Jangan bergerak!” Togril mengacungkan pedangnya ke arah Vilnar. ”Jatuhkan kapakmu, atau kulempar wanita ini ke sungai!”
Vilnar mematung. Diam sejenak. Kemudian ia memutuskan mengikuti perintah Togril, menjatuhkan kapaknya. Napas Togril memburu. Matanya melirik kesana kemari, ke arah Vilnar, ke arah kapaknya, ke arah sungai. Gugup. Gerakan itu terlalu lambat untuk Vilnar, yang dengan cepat menarik pisau dari pinggang, kemudian melemparkannya lurus ke depan.
”Keparat!” Togril meraung, sesaat sebelum pisau Vilnar menghantam dadanya. Bersama sang gadis mereka jatuh ke sungai yang mengalir deras.
Rintihan sang gadis tertelan oleh deru arus sungai. Tanpa pikir panjang Vilnar ikut melompat. Ia berenang sekuat tenaga mencoba menyusul tubuh sang gadis yang hanyut terbawa arus menuju jeram. Dalam kegelapan malam matanya berusaha mencari, sementara telinganya mendengar deru air terjun yang semakin mendekat. Di mana? Di mana dia?!
Belum sempat berpikir Vilnar merasakan tubuhnya terlempar ke udara, melayang beberapa saat, kemudian meluncur masuk lagi ke dalam sungai, terhisap oleh pusaran arus sungai di bawah air terjun. Vilnar berusaha tetap tenang. Tangannya bergerak kesana kemari di dalam sungai. Ia berhasil meraih sesosok tubuh manusia, tapi segera mendorongnya lagi begitu menyadari bahwa itu adalah mayat Togril.
Baru beberapa detik kemudian ia berhasil menemukan sepasang tangan lain yang lebih mungil, yang masih terikat tali di pergelangannya. Segera Vilnar menariknya, menembus pusaran air dan akhirnya muncul di permukaan sungai. Ia berenang ke tepian sambil menarik tubuh sang gadis, yang kemudian lemas tak sadarkan diri.
Vilnar membaringkan tubuh gadis itu di rerumputan, menghentak perutnya beberapa kali sampai akhirnya dia sadar dan memuntahkan sejumlah air. Vilnar berenang ke arah perahunya, mengambil sebuah mantel untuk mengeringkan tubuh sang gadis yang menggigil, dan menyelimutinya dengan mantel yang lain.
Ia membebat betis kiri gadis itu yang terluka lebar akibat hantaman batu karang, lalu memeluk tubuhnya erat-erat, untuk membuatnya lebih hangat. Tubuh sang gadis awalnya menegang, namun kemudian melemah dan akhirnya dia tertidur pulas dalam pelukan Vilnar.
Gadis itu terlelap melewati malam dan pagi. Sinar matahari yang jatuh tepat di wajahnyalah yang kemudian membangunkannya. Ia menggeliat di balik mantel kulit beruangnya yang tebal; sepertinya rasa sakit masih menusuk di betisnya yang sobek.
Vilnar memperhatikan sambil membakar beberapa potong ikan. Ketika gadis itu melihatnya, wajah gadis itu memerah malu. Vilnar merasa sedikit bersalah, mungkin gadis itu malu karena Vilnar sempat memeluk tubuh telanjangnya kemarin saat di sungai.
”Kau sudah bangun,” kata Vilnar. “Tubuhmu sudah baikan?”
Sang gadis kelihatannya tak mengerti kata-katanya, dan hanya membisu. Vilnar pun menyodorkan sepotong ikan yang baru dibakar. ”Makanlah. Kupikir kau mungkin lebih suka ikan daripada daging rusa. Tapi tentu saja, aku akan mencari rusa kalau itu yang kau mau.”
Si gadis tetap tak bereaksi, tapi melihat Vilnar tetap menyodorkan ikannya akhirnya dia mengulurkan tangan, mengambil ikan tersebut dan me-makannya dengan lahap.
”Bagus.” Vilnar tersenyum, lalu menunjuk dadanya sendiri. ”Namaku Vilnar. Vil—nar. Kau mengerti? Itu namaku. Boleh aku tahu namamu?” Ia menunjuk wajah gadis itu.
Gadis itu memandanginya beberapa lama, lalu mengangguk. Ia menjawab hampir tak terdengar, ”Ailene.”
”Ah—lind.”
Gadis itu menggeleng. ”Ailene.”
”Ailene.” Vilnar tersenyum lebar. ”Kedengarannya indah.”
Gadis itu ikut tersenyum. Vilnar merasakan wajahnya menghangat. Untuk pertama kalinya ia melihat senyuman di wajah cantik itu.
Vilnar memperhatikan gadis itu lebih jauh. Dia jelas bukan berasal dari desa-desa di sekitarnya. Bisa jadi dia berasal dari negeri yang lebih jauh di selatan. Tak hanya gaun biru yang dikenakannya tadi malam yang membuatnya asing, tapi juga tubuhnya yang mungil, bentuk dagunya yang runcing, rambut panjangnya yang hitam lurus sepunggung, dan kulitnya yang kecoklatan. Semua membuat gadis itu kelihatan sangat berbeda dibandingkan semua gadis yang pernah dilihat oleh Vilnar di utara.
Vilnar tidak mengerti bagaimana gadis itu bisa sampai berada di tempat ini, dan sayangnya gadis itu juga tidak bisa memberi penjelasan.
Maka Vilnar berkata—walaupun ia tahu Ailene tak akan paham, ”Hari ini kau beristirahatlah di sini. Aku akan mengangkat perahuku ke desa, dan mencari pakaian untukmu. Kalau kau sudah merasa baikan, besok pagi aku akan membawamu kembali ke selatan. Mungkin kau bisa menemukan kembali keluargamu, atau teman-temanmu di sana. Bagaimana?”
Vilnar menggerakkan tangan dan menunjuk ke arah selatan untuk men-jelaskan maksudnya. Ailene menggeleng. Gadis itu lalu mengucapkan beberapa kalimat sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya pula. Vilnar memperhatikannya baik-baik, tapi ia tak bisa mengerti sedikit pun.
Ia menggeleng. ”Maafkan aku, Ailene. Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi mestinya kau setuju dengan rencanaku tadi. Aku rasa itu yang terbaik.”
Ailene memandang Vilnar beberapa lama, lalu mengangguk.
Apakah itu berarti ya? Ya, mestinya begitu. Ailene memang harus kembali ke selatan, ia tidak mungkin bisa tahan dan aman tinggal di utara. Terlalu berbahaya. Benar, bukan?
Tapi hati kecil Vilnar sebenarnya menginginkan yang sebaliknya. Ia tahu ia telah jatuh hati pada gadis asing ini. Kalau memang Ailene harus pergi, ia berharap tidak terlalu cepat, karena sebenarnya ia masih ingin bersamanya lebih lama. Kalau bisa ia akan mencoba mempelajari bahasa Ailene sehingga bisa berbincang-bincang dengannya.
Vilnar tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. Orang Hualeg akan selalu berkata terus terang, dan seorang lelaki Hualeg—di negerinya—bebas membawa wanita yang ia mau ke mana pun ia ingin pergi, tidak peduli apakah wanita itu setuju atau tidak.
Sudah jelas, ia bukan lagi orang Hualeg.
bersambung
lihat bab selanjutnya di sini.








Entries (RSS)
March 27th, 2009 at 2:16 pm
wah ini pas lu belum lahir ya, villam..
kirain ini lanjutan critanya..
btw.. ini komen pertama ya..?
hahaha..
March 27th, 2009 at 5:03 pm
hahahah…
iya, pas gue belon lahir.
ceritain bokap dan nyokap dulu.
January 16th, 2010 at 2:00 pm
Very good.
Meski tidak ada deskripsi terlalu mendetil, tapi aku membayangkan Hualeg seperti bangsa Viking. Barbar.
Adegan api unggun dan berenang di sungai menegangkan. Sepintas teringat film Dance with Wolves. Entah kenapa. Mungkin gara-gara ada adegan kesulitan komunikasi. Dan, ehm, langsung jatuh cinta. Asyik…
Berbeda dengan dunia mangkok, di sini, kukira gaya bahasanya sesuai dengan genrenya.
Kupikir ini permulaan yang sangat bagus dan langsung memancing untuk membaca lebih dan lebih. Sayang waktu tak mengijinkan, hehe.
January 16th, 2010 at 10:04 pm
bisa dilanjutkan bacanya di lain waktu. hehe…
April 13th, 2010 at 1:54 pm
akhirnya baru sempetin buat baca. apa yang dituturkan dalam adegan ini, rasanya novel fantasi banget ya? tapi penuturannya bagus kok. semua runut dan jelas.
kalo dipikir lagi, mungkin ini narasi paling bagus dari villam yang pernah kubaca sejauh ini.
April 16th, 2010 at 1:23 pm
thank you for the comment, bro.