halo-bossDari polling ‘Apa Yang Membuat Anda Membeli Sebuah Novel’, sejauh ini terkumpul jawaban dari 10 orang responden, yang hasilnya saya simpulkan sebagai berikut (jawaban diurutkan dari yang paling penting sampai yang paling tidak penting):

1. Genre dan tema
Hampir seluruh responden menjawab faktor genre adalah yang paling penting. Ini wajar dan menunjukkan bahwa responden membeli sebuah novel karena memang ingin mencari dan menikmati sesuatu yang memang sesuai dengan seleranya. Dalam kasus lain bisa saja seseorang membeli novel yang tidak sesuai dengan selera, karena beberapa faktor, misalnya: ingin tahu/penasaran buku2 yang sedang ngetop itu sebenarnya isinya seperti apa, koleksi (buat dipajang di lemari, tapi bukan untuk dibaca), belajar (baik isi maupun teknik penulisannya), atau mungkin hadiah (buat saudara, pacar, atau yang lainnya… heheh…). Saya pribadi pun setuju dengan pilihan ini; saya hanya akan membeli buku yang memang sesuai dengan selera saya. Kecuali jika saya punya tujuan lain.

2. Cover / sampul depan
‘Don’t judge the book by its cover’, itu adalah kata pepatah. Tapi apa boleh buat, hasil di sini menunjukkan bahwa seseorang memilih sebuah buku ya karena memang tertarik dengan tampilan gambar/desain covernya. Cover memang alat marketing paling sederhana, yang manfaatnya paling luar biasa. Tentu saja semua orang tahu bahwa tampilan cover bisa sangat menipu, tapi tetap saja ini menjadi salah satu faktor utama. Mungkin karena kita memang suka ditipu dengan sesuatu yang indah… hahah…

3. Sinopsis di sampul belakang
Sinopsis ternyata juga memegang peranan penting, karena dianggap menunjukkan sejauh mana cerita di dalam buku itu menarik atau tidak, dan sesuai selera atau tidak. Bahkan ada yang bilang dari sinopsis bisa diketahui sejauh mana kualitas penulis dalam membuat calon pembaca tertarik. Tapi hati-hati dengan anggapan terakhir ini, karena sangat mungkin bukan sang penulis sendiri yang menulis sinopsis tersebut, bisa jadi hanya editornya.

4. Cuplikan isi (baca halaman pertama dan acak di halaman tengah)
Sejujurnya saya sedikit terkejut karena faktor isi ternyata masih berada di bawah desain sampul dan sinopsisnya. Saya pribadi akan menempatkan faktor ini di nomor dua, jika bukan di nomor satu. Jadi kasusnya begini, misalkan di depan sebuah rak buku terdapat beberapa buah novel (ada yang covernya bagus, ada juga yang jelek), saya lebih mencari novel yang bungkus plastiknya sudah dibuka, lalu halaman pertama saya baca. Jika sang penulis mampu membuat saya tertarik, itu jadi satu poin plus. Kemudian secara acak saya buka halaman tengah. Jika sang penulis mampu membuat saya lebih tertarik lagi, dan langsung paham apa yang terjadi pada adegannya walaupun saya hanya membaca sepintas, poin plus bertambah satu. Dan itu cukup. Tidak perlu mempertimbangkan faktor-faktor lainnya, saya akan memprioritaskan membelinya. Karena sederhana saja, satu-satunya faktor yang bisa membuat saya menilai langsung kualitas isinya, ya hanya dengan cara mengintip seperti ini. Cover, sinopsis, judul, penulis, kualitas cetakan, endorsement itu semua cuma alat marketing. Review di media massa atau blog pun juga tidak terlalu bisa dijadikan sebagai dasar.

Lalu bagaimana jika tidak ada novel yang bungkus plastiknya sudah dibuka? Ya, dengan diam-diam saya akan menyobeknya, demi bisa membaca langsung isinya. Bagaimana jika dilarang disobek, dan ada seorang satpam yang melototin saya terus menerus? Ya, sederhana saja, saya tidak akan membeli. Saya tidak akan membeli novel yang tidak bisa saya nilai secara langsung isinya. Tidak peduli faktor-faktor lainnya.

5. Review di media massa atau blog
Ini juga pilihan yang wajar. Cukup penting tapi bukan yang paling penting. Yang perlu diperhatikan adalah, jika kita ingin mengandalkan sebuah review sebagai faktor penentu, kenali dulu track record sang reviewer dalam mereview. Lihat buku-buku yang sudah pernah dia review sebelumnya, dan bandingkan dengan penilaian kita sendiri terhadap buku-buku tersebut. Jika kita banyak setuju dengan pendapatnya, maka kita bisa percaya pada review dia berikutnya. Walau tetap saja itu bukan jaminan.

6. Harga
Hahaha… saya lupa mencantumkan faktor ini di artikel polling tersebut, dan untungnya banyak responden yang kemudian menyebutkannya. Ya, bagi beberapa orang, faktor harga memang sangat penting. Kalau saya pribadi, kalau memang bukunya benar-benar membuat saya tertarik, ya saya tidak akan bermasalah dengan harganya. Kecuali kalo harganya sudah di atas batas kewajaran ya… Bisa jadi ada kasus, sebuah novel yang dihargai orang terlalu tinggi, walaupun katanya memang bagus tapi jika menurut saya over-valued, hal itu malah bisa membuat saya sebal, dan mungkin saya juga tidak akan membelinya walaupun saya suka.

7. Judul
Ada yang menganggapnya cukup penting, tapi lebih banyak yang tidak terlalu mempermasalahkannya. Saya terus terang agak ragu di sini. Secara pribadi saya tidak akan menganggapnya faktor penting saat membeli, tapi di sisi lain, sebagai penulis, saya tidak akan membuat cerita saya berjudul sembarangan. Jadi mestinya itu cukup penting juga…

8. Penulis
Dari hasil polling, faktor ini kalah penting dibanding faktor-faktor lainnya. Tapi itu mungkin bisa kita asumsikan bahwa ini adalah jika nama-nama penulisnya belum kita kenal. Jika kita menemui nama-nama terkenal seperti Stephen King atau Neil Gaiman, misalnya, tentu saja faktor ini akan naik peringkat.

9. Kualitas cetakan
Ada satu responden yang menekankan pentingnya hal ini, karena dia pernah kapok membeli novel yang ternyata ada cacatnya. Yeah, kejadian begitu mengesalkan. Jadi memang cukup penting juga ya… walau sebenarnya kejadian seperti ini mestinya jarang terjadi.

10. Endorsement
Nah, ini adalah faktor di mana hampir semua responden bilang hal ini tidak penting sama sekali! Dan saya sepenuhnya setuju. Bahkan jika seandainya yang memberikan endorsement itu adalah nama-nama besar sekalipun, saya juga tidak akan terpengaruh. Pertanyaannya adalah: kenapa sampai sekarang para penerbit tetap menganggap endorsement ini penting? Hmm… tidak tahu juga sih… barangkali di luar sana memang banyak calon pembaca yang menganggap ini penting. Jadi ya… biarkan sajalah penerbit bermain-main dengan ini. Hahahah…

Nah, itulah hasil polling, yang ditambah dengan sedikit pendapat dan analisis yang mungkin ngawur dari saya. Secara garis besar pilihan saya juga hampir sama dengan urut-urutan di atas. Tapi untuk lebih jelasnya, biar saya sampaikan, pilihan saya secara berturut-turut adalah sebagai berikut:

1. Genre dan tema, 2. Cuplikan isi, 3. Review di media massa atau blog,
4. Penulis, 5. Sinopsis di sampul belakang, 6. Harga,
7. Gambar/desain cover depan, 8. Judul, 9. Kualitas cetakan,
10. Endorsement.

Lalu pelajaran apa yang bisa kita tarik dari hasil polling ini?

Pertama, kita bisa paham apa yang menjadi faktor penentu seorang pembaca membeli sebuah novel. Dari hasil terlihat bahwa penampilan luar ternyata memang faktor penting. Oke, ini memang soal marketing yang tidak bisa dibantah di bisnis mana pun. Jadi sebaiknya kita, sebagai seorang penulis yang berniat menerbitkan dan menjual karya kita, ya ikuti saja aturan tersebut. Buatlah tampilan yang sebaik-baiknya untuk novel kita.

Tapi apakah kita nanti bakal selamat hanya dengan penampilan luar saja? Tidak. Karena, mari kita lihat pelajaran kedua, yaitu bahwa kita tetap tidak bakal menang, langgeng sebagai seorang penulis, jika kita hanya mengandalkan tipuan mata atau trik marketing semata. Oke, mungkin kita bisa menjual banyak di awal, tapi jika kemudian banyak pembaca yang merasa tertipu, sukses awal itu bakal langsung berubah menjadi kegagalan. Isi, pada akhirnya, tetap lebih penting.

Maka sebelum kita berpusing-pusing memikirkan soal penampilan luar, lebih baik kita sekarang memfokuskan diri dulu pada hal terakhir tersebut, pada bagaimana caranya kita bisa membuat karya yang bagus, yang mampu membuat pembaca puas dan tidak merasa tertipu.

Mari.

Kepada seluruh Teman-teman yang telah berpartisipasi dalam polling ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga buah pikiran kita memberi manfaat bagi banyak orang.

Salam.

11 Responses to “Hasil Polling ‘Apa Yang Membuat Anda Membeli Sebuah Novel’”

  1. 1
    Ndyw Says:

    hohohohohohoho
    akhirnya keliar juga hasilnya
    :D
    ga nyangka poling kemaren hasilnya dalem gini
    heheheheheheh
    salud ih

  2. 2
    Serpentwitch Says:

    kesimpulan yg baik sekali Villam.

    Faktor isi ga gw sebut krn kukira polling ini dgn standar bukunya tidak dalam keadaan terbuka, yg berarti isi baru diketahui setelah buku di beli dan dibaca.

    Tapi sekalipun begitu, yg membuat kita datang ke sebuah section di toko buku, adalah genre. Dan secara lebih spesifik yg memancing keingintahuan kita untuk melirik dan mengetahui isinya, adalah cover.

    Biasanya gw akan menimang2 buku itu sambil menikmati kovernya selama bbrp menit, termasuk pula melihat informasi yg bisa kudapat di kover elakang (sinopsis). Jika kurasa cukup menarik untuk dilanjutkan, barulah gw membaca isinya. Dan setelah itu br gw tentukan beli atau tidak berdasarkan harga dan uang yg ada di dompet :D

    Tp isi memang vital, sekalipun gw urutkan di nomor 4. Kemudian judul pun tak kalah menarik. Karena waktu gw terakhir ke Gramed, gw keliling nyari Alchemyst yg udah terbuka sampulnya itu ga ketemu sama sekali. Dan kemudian gw ngeliat satu buku dgn kover yg menarik di deretan buku laris, sebuah buku marketting, dgn judul ‘Marketting is Bullshit…’

    Dan ternyata buku itu dalam keadaan terbuka. Gw pun mulai membaca dan membaca halaman2 pertama, dan ternyata buku ini sangat bagus! Jadilah pada akhirnya gw lebih rela membayar untuk buku ini ketimbang alchemyst yg walau berdasarkan review teman2 ffdn bagus, kover emnarik, tp ga gw ketahui isinya.

    Tp sebenarnya gw rada menyesal loh, sedikit. Karena sejauh yg ku baca sampai tengah buku, ni buku cuma bagus di bab 1 nya doang!!! Bab 1 buku marketing itu bener2 kena ke gw, tp bab2 selanjutnya mulai membosankan, hal2 yg diusung semakin biasa, dan contoh2 yg diangkat semakin lame. swt de… Mungkin yg seharusnya dilakukan adalah: Baca buku itu sampai habis, kata per kata! (Lah, udah abis dibaca buat ngapain dibeli lagi yak? wkwkkwk)

  3. 3
    Villam Says:

    hahah…
    bisa juga kasusnya seperti itu, jeff.
    kita menemui novel yang bagian pembukanya sangat menarik, dan pada saat kita membaca acak di bagian tengah, kebetulan juga pada saat adegan yang menarik. sialnya, kemudian bagian-bagian lainnya ternyata membosankan.

    yeah, itu memang, apa boleh buat, termasuk resiko kita sebagai pembeli. selalu ada kemungkinan kita merugi. untungnya, pembeli kemudian berhak untuk kecewa dan mencak-mencak. sebuah hak yang sayangnya tidak dimiliki oleh sang penulis… heheh…

  4. 4
    baw Says:

    ‘Mungkin karena kita memang suka ditipu dengan sesuatu yang indah…’
    gw suka kalimat ini..:)
    Memang banyak fan lokal yg cukup oke di cover, tapi isinya dibantai abis oleh mas Pur hehehe..
    Makanya gw lebih ke sinopsis..

  5. 5
    Villam Says:

    sinopsis sebenarnya sama juga, baw…
    sinopsis kelihatan begitu menarik dan indah, tapi bisa jadi isi ceritanya tidak seperti itu…

  6. 6
    baw Says:

    iya..
    mungkin beneran ‘cuplikan isi’ itu ya..
    cuma kalo buku dibungkus syusyah jyuga.. :)

  7. 7
    Villam Says:

    heheheh… iya…
    masak mesti nyogok penjaga tokonya ya? hahah…

  8. 8
    Danny Says:

    Ternyata, Villam punya kebiasaan nyobek plastik buku.
    Hehe.

    Tapi, keren juga hasil polling bisa dibikin jadi kaya gini. Kapan2 bikin polling gini lagi ya, Vill.

    Danny’s last blog post..The Girl Who Loved Tom Gordon

  9. 9
    Villam Says:

    iya, danny, tapi gak sampe melihara kuku panjang buat nyobek sampul plastik kok… hahah…

  10. 10
    yosi Says:

    Saya udah ketinggalan pooling, jadi pendapatnya masukin sini saja. Kalau saya, yang paling sering saya jadikan alasan untuk beli novel adalah sinopsis lalu penulis. Dan satu lagi, feeling ‘keknya bagus nih’. Nggak beralasan memang. Tapi saya sering gitu dan sering bener.

  11. 11
    Villam Says:

    feeling itu salah satu alasan juga kok. hmm… betapa menyenangkan kalo kita tidak pernah ditipu oleh feeling, ya… heheh…

Leave a Reply