thumb_arcf31Banyak pendapat bagus, menarik, lucu dan pasti bermanfaat yang muncul dari Teman-teman yang telah bersedia menjawab pertanyaan: Kritikan apa pada karya tulis / novel Anda, yang pernah Anda terima dan terasa paling menyakitkan?

Pertama, mari kita rangkum dulu pendapat-pendapat yang masuk, dan saya tambahkan sedikit komentar dari saya.

  • “ketika tulisanku dikatai ga hidup, dan tidak menampilkan emosi tokoh. trus disarankan untuk lebih sering menggunakan kata-kata seperti ‘OMG’, ‘Kaleee’, ‘adek’, dll,” kata Makmak. Heheh… yang jelas ada dua hal berbeda di sini, yaitu: tulisan tidak hidup, dan penggunaan gaya bahasa teenlit. Untuk soal yang pertama, kudu minta second opinion, supaya yakin benar atau tidak. Untuk soal yang kedua, tanggapi saja dengan senyum-senyum nyengir. Heheh…
  • “kalau dikatai aku kurang kuat dalam menggambarkan setting dalam ceritaku. menyakitkan, soalnya itu benar T-T (aku berusaha mengatasi kelemahanku yang satu ini, sungguh),” kata Makmak lagi. Yeah, paling tidak kita menjadi tahu, menjadi yakin kalau itu benar. What doesn’t kill you, will make you stronger.
  • “kritik karakterisasi tokoh. entah kenapa aku ga suka kalau karakter buatanku di kritik,” kata Makmak lagi. Saya juga dulu sering begitu, sebal jika karakter bikinan saya dikritik. Lha saya yang paling tahu karakter-karakter itu seperti apa, kok diprotes? Tapi kemudian saya mikir, barangkali para pengritik itu benar; mereka bisa melihat ketidakkonsistenan atau ketidakcocokan perilaku seorang tokoh dalam sebuah situasi, yang mana saya sebagai penulis tidak bisa melihatnya, karena saya terkonsentrasi pada aspek-aspek lain. Dan akhirnya jika saya harus mengubahnya, ya harus saya lakukan.
  • “Paling sebel kalo ada yang memvonis gak berbakat menulis. Ayolah setiap orang pasti melewati proses belajar kan..,” kata baw. Balas saja, “bakat? Apaan tuh? Yang lebih penting dalam menulis itu usaha, bukan bakat. Orang yang cuman ngandalin bakat doang mah mending ke laut ajeee.” Heheheh…
  • “Paling sensi kalo dibilang, kok ceritanya mirip ‘itu’, kok kisahnya seperti ‘anu’..,” kata baw juga. Nah, terus terang ini memang mengesalkan. Lebih bete lagi kalo sang pengritik bilang, “elu plagiat ya?” hahahah… Buat saya, yang terakhir itu adalah kritikan paling menyakitkan yang bisa diterima oleh seorang penulis, jika dia memang benar tidak melakukan plagiarisme. Yeah, ini topik yang bisa memanjang dan melebar jauh sih, jadi sementara ini saya tidak akan berpendapat banyak.
  • “Tapi kritikan paling pedes itu mungkin waktu dibilang aku ga bisa menyampaikan isi cerita dengan baik. Ceritanya jadi dianggep melenceng gitu,” kata Danny. Hmm… ini kritikan yang sepertinya indah, bukan menyakitkan. Heheh…
  • “Selain itu…. mungkin gara2 aku lebih banyak pake cliffhanger ya? Yang baca pada protes semua,” kata Danny lagi. Hooo… cliffhanger ya? membuat ending yang menggantung-gantung? Yeah, sebenarnya teknik itu bagus juga, asal tidak terlalu berlebihan sampai membuat pembaca tertipu, ‘ini apaan sih? ending ceritanya tidak ending!’. Hahahah…
  • “naskah anda tidak memiliki kelebihan daripada naskah sejenis!” kata Mocca chi. Hahahahah… balas saja, “Buku-buku terbitan Anda tidak punya kelebihan daripada buku-buku terbitan penerbit lain.” Heheheh… yeah, dalam hati saja tapi…
  • “Topik kurang up to date,” kata Mocca chi lagi. Lha ya iya, kamu salah penerbit kali, rik? Kamu kirim naskah novel ke majalah Tempo barangkali? Heheheh…
  • “Kalimat kebanyakan koma, padahal bisa dijadiin beberapa kalimat => dari clara. Nyah, wong waktu nulis itu kebayang memang adegannya panjang. dan niru niru terjemahan sih. Wkwkkw,” kata Mocca chi lagi. Hahahah… saya juga sering begitu. Susah memang, kalo sudah telanjur jadi pecinta koma.
  • “bagus, jelek, kurang, dlsb yang kesemuanya dalam satu kata,” kata elbintang. Heheheh… bisa jadi sang pengritik memang hanya hanya membaca satu paragraf pertama, dan satu paragraf terakhir. Yang jelas, ini memancing kita untuk melakukan hal yang sama pada tulisan mereka. Tapi memang, untuk membuatnya menjadi lebih bermanfaat, ada baiknya kita gali kepada sang pengritik apa sebenarnya yang mereka maksudkan. Kata-kata singkat itu ibarat sebuah pintu yang baru terbuka secelah. Tugas kita untuk membukanya jadi lebih lebar. Jika kita memang bisa membukanya, bisa jadi ada hal sangat penting yang bisa kita peroleh di sana. Seringkali kita memang terlalu malas untuk membuka, dan hanya mau menikmati apa-apa yang sudah tersedia di hadapan kita.
  • “kamu hebat, kamu pintar atau tulisan cerdas dan semacamnya,” kata elbintang lagi. Well, it’s a start, anyway. Sama seperti poin sebelumnya. Memang harus digali lebih jauh.
  • “Kritik yang gw gak tahu maksudnya, seperti : ‘Harusnya si penulis gak nulis hal-hal seperti ini. Tidak punya dasar yang kuat, berpotensi merusak dan hayalan saja isinya’,” kata elbintang lagi. Sialnya, begitu sang pengritik ditanyai kenapa, dia tidak mau menjawab. Hahahah… betul… ini memang menyebalkan, jika tiba-tiba saja datang seorang ‘pintar’ dan ‘bijak’ yang kemudian memberikan ceramah. Yang jelas, itu membuat saya pun malas membaca tulisannya—betapapun kata orang bagus, apalagi mengritiknya (karena… emang gue pikirin… toh ente sudah pintar… hahahah…).
  • Heheh… tentang hal ini lalu muncul pendapat balasan dari Dyah dan Mocca chi, bahwa ya ini memang menyebalkan. Tapi kayaknya memang di mana-mana ada guru yang tipenya seperti ini. Ibarat kayak guru silat yang menyuruh muridnya melakukan ini dan itu tanpa menjelaskan maknanya (kayak Chinmi di komik Kungfu Boy, misalnya), nah tapi bagusnya di sana sang guru ini memberikan berbagai macam clue, yang kemudian bisa dipecahkan oleh sang murid, supaya tidak salah jalan. Intinya, kalo sang murid nanti sampe salah jalan, ya berarti itu salah si guru juga, yang jadi membuatnya tidak pantas disebut guru. Btw, bagaimanapun juga banyak kritikus yang lalu menyebut diri mereka memang bukan guru. Mereka bilang, mereka memang tidak ingin mengajar, hanya ingin mencela. Hahahah…
  • “Intinya kl yg dikritik hal yg gw tau cara perbaikinnya, gw akan senang. Tapi kl dikritik hal vital dan tepat nancep ke sasaran di bagian yg menjadi kelemahan gw, sakit deh hehe. Soalnya gw sendiri setuju dgn kritik itu, ga bisa nyangkal, tp gw blank harus ngerubahnya gimana,” kata serpentwitch. Hahahahah… masalahnya, begitu nanti kritikan semacam muncul terus menerus, berarti kita sakit-sakitan terus dong? Atau malah mulai jadi kebal ya? Yeah, diyakini saja, bahwa setiap permasalahan pasti ada jawabannya. Somewhere. You must find it. You must fix it.
  • “Kalo gw sih, yah 1 hal itu deh, yg tentunya tidak lain tidak bukan, ‘gaya bahasa pretensius’.. LOL,” kata Bloodsin. Heheheh… inget ya, gue gak pernah mengritik lu kayak begini. Heheheh… gue malah bilang bahwa gaya bahasa lu adalah kelebihan lu. Yang gue bilang adalah elu harus konsisten dalam pemakaiannya, dan disesuaikan dengan sudut pandang tokoh penceritanya, dan sesuai pula dengan ‘tone’ dan ‘pace’ yang elu inginkan.
  • “Tapi tetap aja, masih ada satu lagi jenis ‘Kritik’ bagi gw yg paling bikin frustasi & males idup, walau yg ini disampaikan oleh sang ‘pembaca’ secara tidak langsung, yaitu penolakan dari penerbit,” kata Bloodsin lagi. Elu belon mati sekarang kan? Hahahah… Sekali lagi, what doesn’t kill you, will make you stronger. Bacaan favorit lu kan The Alchemist-nya Paulo Coelho (favorit gue juga), dan lu pasti paham gimana caranya berusaha mewujudkan mimpi sampai jadi kenyataan di sana, walau akhirnya tahu bisa jadi bukan itu keinginan lu yang sebenarnya.
  • “Waktu ada yang mengkritik tentang setingan duniaku, doi nanya kenapa harus ada ini, itu, dll. pas aq jelasin alasannya doi tetap menekankan idealismenya dan bla.. bla.. bla.. ,” kata Ndyw. Hmm… sementara dirimu juga pasti punya idealisme kan? Lalu idealisme yang mana yang benar? Dan apakah ada yang benar? Hehehe… kuncinya, menurut saya, hanyalah berusaha belajar lagi lebih banyak dan lebih dalam, mencari tahu mana sebenarnya yang paling baik untuk disajikan pada pembaca. Bisa jadi idealisme kita semua di awal itu salah total.
  • “Waktu ceritaku dibanding2kan ma sesuatu… yang terbaru adalah dibilang mirip pokemon atau digimon…,” kata Ndyw lagi. Seperti yang tadi disebut di awal. Yeah, ini adalah resiko dari segala sesuatu yang kita baca dan kita tonton. We are what we eat. Jika kita tidak ingin lepas dari kemiripan tersebut, ya lanjutkan saja. Jika kita ingin lepas, ya harus meluaskan bahan bacaan dan tontonan.
  • “komen yang keliatannya menggurui (bukan berarti ga butuh untuk di bimbing sih, cuma cara penyampaiannya itu yang membuat tersinggung hehehheheh) :p,” kata Ndyw lagi. Hahahah… betul. Yang paling penting dari sebuah kritik sebenarnya bukan hanya isinya, tapi juga cara menyampaikannya. Bagaimana sesuatu yang pedas bisa terasa manis. Tapi kadang, yang pedas tetap yang paling enak. Hahah…
  • Elbintang lalu urun pendapat, bahwa kalu kita minta dikomentari orang lain, kita kudu siap kalu orang-orang itu akan mencari di mana letak tersendat-sendat ato gak enaknya tulisan kita dibaca. Betul, saya sangat setuju. Lha kita memang minta yang pedas, ya berarti kita harus siap dapat yang pedas.

Nah, banyak sekali masukan-masukan yang bagus dari Teman-teman. Tapi kemudian mari kita lihat hal kedua yang juga muncul dari pendapat-pendapat tersebut, yaitu: Kritikan-kritikan tersebut, betapapun menyakitkannya, pastilah selalu ada manfaatnya. Ada beberapa yang bilang bahkan sebenarnya tidak ada itu kritikan yang menyakitkan. Semuanya, walaupun pedas, indah-indah saja kok.

Kalau saya bilang, perasaan sakit akibat dikritik tersebut, walaupun kecil, sebenarnya ada. Hal itu timbul saat pertama kali kita membaca kritikan pedas, apalagi jika disampaikan dengan cara-cara yang biadab dan tidak berperikepenulisan. Heheh… Saya yakin semua orang pernah—dan bagi yang belum, sudah pasti nanti akan—mendapatkannya. Bisa jadi muncul pada saat-saat atau pada titik-titik yang tidak kita duga sebelumnya. Karena ya memang begitu, rasa sakit timbul karena tidak kita duga sebelumnya; kita tidak siap menerimanya. Jadi jangan terlalu yakin bahwa kita tidak akan pernah sakit akibat dikritik. Rasa itu akan datang, percayalah.

Maka yang paling penting bagi kita adalah bagaimana menyikapi kritikan tersebut, karena sebenarnya itu yang lebih penting daripada isi kritikan itu sendiri. Apakah kita hendak langsung bangkit dan memperbaiki diri, atau justru kecewa berat sampai menyesal dan putus asa. Dari sinilah kita bisa menilai kualitas diri kita; kita seorang penulis yang seperti apa.

Seorang penulis adalah seorang pemimpi yang mempunyai mimpi-mimpi besar. Dan melalui reaksi kita terhadap sebuah kritik, kita bisa tahu apakah kita adalah seorang pemimpi kecil, atau pemimpi besar. Pemimpi kecil berhenti saat dikritik, sementara pemimpi besar justru maju dengan semakin kuat. Dan berbahagialah karena kita, melalui pendapat-pendapat kita di tempat ini, paling tidak telah menunjukkan bahwa kita adalah pemimpi besar, yang kuat menghadapi kritik.

Jadi, maju terus, Teman-teman. Jaga terus mimpi-mimpi itu.

Karena dari pemimpi besar, kita bisa jadi penulis besar.

Lakukan apa yang harus kita lakukan. :-)

12 Responses to “Hasil Polling: Kritikan Yang Paling Menyakitkan”

  1. 1
    mocca_chi Says:

    pertamaxx……
    seperti manusia yg punya dua tangan, salah satu tangan untuk memberi, satunya lagi untuk menerima. dan yak, berani memberi seseorang bacaan harus berani menerima balasan, yaitu kritikan.
    hiiiii

    mocca_chi’s last blog post..Reinkarnasi Sehelai Daun Kuning

  2. 2
    ubr Says:

    2. Kritik adalah serpihan batu kecil2 yang dapat menjadi bahan pondasi rumah (tulisan) hwehehehe…

    3. Kritikan soal karakter menurutku dapat membuat si penulis harus lebih niat kenalan dengan karakter buatannya.

    4. Setuju! yang penting itu niat dan usaha!

    5. Oh, termasuk menyebalkan ya kalau membandingkan dengan karya yang lain. Sering ngasih komentar macam itu soalnya.

    7. Bukannya tiap novel berbab itu biasanya bab2nya berakhir dalam cliffhanger?

    10. Jadi ingat seseorang yang nggak pernah pake titik koma di karangannya, dan dikasih tahu malah marah-marah. Ya sudahlah… :)

    * Saya termasuk tersangka komentator yang strict soal seting dulunya :) . Sekarang terserah si penulis saja dan menuding hal2 yang nggak pas (sesuai setingan si penulis tentunya, ya nggak ndyw :) )

    * ‘komen yang keliatannya menggurui’ -> sampai sekarang masih keringetan soal komen yang baru dikirim. “Sotoy, tidak, sotoy, tidak,…”

  3. 3
    Ndyw Says:

    hohohohohoho
    telad nih bukan yang pertama mengkomen artikel ini

    aq setuju ma kesimpulan villam
    hehehheheheh
    jadi pengen malu

  4. 4
    Serpentwitch Says:

    ‘komen yang keliatannya menggurui’ -> sampai sekarang masih keringetan soal komen yang baru dikirim. “Sotoy, tidak, sotoy, tidak,…”

    @ubr : ahahaha sama ky gw XD

  5. 5
    dyah p.rinni Says:

    What doesn’t kill you, will make you stronger.

    Yup. Setuju banget sama yang ini, Villam. Gue jadi ingat. di salah satu dorama pernah dibilangin kalau sebuah keramik yang bagus tuh dihasilkan dari pembakaran berkali-kali. Semakin bagus, katanya, semakin harsh juga pembuatannya.

    Anggap aja kritik itu kaya’ api buat penulis. Semakin seorang penulis ‘dibakar’, bakal semakin bagus hasilnya.

    at least, kalau ntar dihajar ma orang, udah gak kaget lagi.

  6. 6
    Villam Says:

    hehe…
    thank you, teman-teman, atas tanggapannya.

    @mocca chi, analogi yang bagus. tapi kadang kritik dianalogikan melalui hal lain, yaitu kuping kiri dan kuping kanan. masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. vice versa.

    @ubr,iya, kritik bagai batu kecil untuk pondasi, atau bisa juga bagai kerikil yang menusuk-nusuk saat perjalanan, tapi lalu jadi pijatan2 yang mengasyikkan di telapak kaki. hahahah…

    @ndyw, yah… telat mulu… heheh…

    @serpentwitch,kalo gue selalu bilang di awal atau di akhir, bahwa gue emang sotoy dan kritikan gue emang sotoy. beres. paling tidak gue jujur. heheh…

    @dyah, analogi yang bagus juga. dan benar, prinsip gue juga begitu, lebih baik naskah gue dihajar sekarang, daripada nanti dilempar oleh editor di penerbit, atau dijelek-jelekkan di pasar. tapi kalo nanti tetap saja dicela di pasar, ya sudah, berarti yang sekarang memang jelek, dan coba bikin yang lebih bagus nanti.

  7. 7
    Mantoel Toeink Says:

    Dan biasanya kritik yg buat gw plg menohok adalah kritik yg pedesnya nyaris gak ketolerir ama gw …

    sayangnya kritik itu bener.

    Itu yg pertama.

    Yg kedua biasanya kalo berkaitan ama karakter. Entah kenapa gw gak suka kalo ada yg blg nama karakter gw terlalu berlebihan, kepribadiannya terlalu lame, dan semacamnya. Ini cenderung ego penulis gw rasa.

    Hehe.

    Mantoel Toeink’s last blog post..Trading Student Game?

  8. 8
    Villam Says:

    hahah…
    betul juga. soal karakter biasanya menyangkut ke ego penulis. aku juga biasanya paling keras kepala jika soal karakter ini, betapapun banyak yang mengritik.
    tapi ya, mungkin ada baiknya juga ego penulis itu diturunkan, biar tidak terlalu kaku, dan bisa lebih diterima pembaca.

  9. 9
    Mantoel Toeink Says:

    Hmm, memang sih sebaiknya diturunkan. :D Tapi kalo diberlakukan buat karakter …

    Duh, mgkn keberatannya sebanding ama ngijinin anak ce semata wayang nikah ama seorang lelaki yg sgt dia cintai tapi sebagai ortu kita merasa lelaki tsb kurang layak (tapi gak tega nolak permintaan si anak …).

    Hehe.

    Mantoel Toeink’s last blog post..Trading Student Game?

  10. 10
    Villam Says:

    hahahah…
    analogi yang memiriskan…
    tapi jujur sih, berdasarkan pengalaman selama ini gue juga lebih banyak keras kepalanya dalam mempertahankan tetek bengek detil karakter. dan kayaknya kebanyakan penulis juga seperti ini, dengan berlindung pada prinsip: “lho ini kan hak penulis”. hahahah…

  11. 11
    sakurazaki90 Says:

    Pertama2 sori di postingan yg menyinggung soal kritik ini, gw malah ngasih sedikit ‘kritik’…

    Di atas kan poin2nya banyak (opini dari berbagai orang itu). Kok mboh ga dikasih space kosong antar poin >.< Jadinya mepet2 & rada capek bacanya. Sayang kan tulisan bagus ga dibaca karena pembaca udah down duluan bgitu ngeliat tulisan rapet2 itu (tenang, gw baca postingan ini sampai abis kok :D ).

  12. 12
    Villam Says:

    yeah… memang melelahkan…
    heheh…
    thanks atas kritikannya… :-)

Leave a Reply