00032447Membangkitkan impian yang sudah lama terkubur mungkin sama susahnya dengan dulu ketika saya mencoba mewujudkannya pertama kali. Saya berhenti menulis ‘Gerbang Sungai Tigris’ awal tahun lalu pada posisi 85 ribu kata alias 25 bab (mungkin baru separuh jalan) untuk membuat dan menyelesaikan ‘Somniterra’ serta merevisi ‘The Forgotten Heroes – Buku Satu’. Dua yang terakhir ini baru saja selesai, dan sungguh saya menikmati mencetaknya halaman demi halaman, memfotocopy dan menjilidnya hingga jadi buku berukuran A5, rapi dan indah siap untuk dikirim ke mana saja saya mau. Tapi ketika kemudian saya harus berpaling, menyisihkan yang dua itu dan melanjutkan apa yang dulu saya tinggalkan, ternyata rasanya memang cukup berat.

Saya tahu kuncinya ada di passion. Saya harus kembali menemukan gairah yang sama seperti saat dulu mulai menulis cerita itu. Saya menyiasatinya dengan membaca ulang apa yang telah saya tulis, kata demi kata, baris demi baris, paragraf demi paragraf. Berkenalan—dan mencoba jatuh cinta—lagi dengan tokoh-tokohnya, mencari hal-hal apa yang dulu membuat saya bersemangat menulis ini. Saya tidak percaya dengan writer’s block, saya tidak percaya bahwa proses menulis saya ditentukan oleh mood. Tidak. Dua hal itu cuma mitos yang dibuat-buat karena malas. Saya percaya bahwa semuanya adalah soal sugesti. Jika saya merasa saya tidak bisa menulis, maka saya tidak akan bisa menulis. Jika saya merasa bisa menulis, maka saya akan bisa menulis.

Maka inilah saat ketika saya harus menghadapi tantangan berikutnya, untuk membuktikan bahwa apa yang saya percayai itu benar. Ketika saya harus kembali menulis. Ketika saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Ketika saya harus mengembalikan impian-impian lama. Ketika saya harus belajar mencintainya lagi.

Kepada Teman-teman senasib yang tengah berusaha menyelesaikan karyanya pula, mari kita selesaikan apa yang telah kita mulai. Impian kita belum terwujud, tugas kita belum selesai. Jalan memang masih panjang, tapi pasti bisa dilewati.

Saya, dan juga Teman-teman, pasti bisa.

Mari menulis lagi. :-)

23 Responses to “Ketika Saya Harus Kembali Menulis”

  1. 1
    Mantoel Toeink Says:

    Eh???

    Pake kertas A5 dan fotokopi? Apakah itu maksudnya kamu berniat self-publish (gw tahu sih namanya publish gak pake fotokopian yg benernya :D ).

    Hehe.

    Mantoel Toeink’s last blog post..What D&D Character Am I?

  2. 2
    Ndyw Says:

    eh
    sama seperti yang aq curhatkan kemaren ya
    ahay
    duh…
    memang paling susah mengatur yang namanya mood ya
    ckckckckckckkckck…
    mood…mood
    nyusahin ajah tuh orang

  3. 3
    mocca_chi Says:

    kembali berkata pada diri sendiri, mari sama sama bersemangat *yah, yang ini semangatnya kemana entah sudah hiiiii

    mocca_chi’s last blog post..Basa Basi Berbisa

  4. 4
    Villam Says:

    @mantoel, oh iya, soal self-publish itu memang udah ada rencananya di otak. gue udah coba ngitung2 biayanya kalo memang jadi, dan gimana cara jualnya. tapi itu baru rencana kok. sejauh ini masih coba lewat penerbit biasa. tapi siapa tahu… perubahan itu akan terjadi… dan mungkin segera… :-)

    @ndyw, makanya gak usah ditanggapin tuh yang namanya mood… hahah…

    @mocca chi, semangat itu masih ada kok di dalam dirimu, kalau memang kamu masih berniat mencari. :-)

  5. 5
    Serpentwitch Says:

    btw, sekilas info self publish. Toko buku Gramed ga akan mau deal dengan org2 baru, amatir, atau penerbitan kecil termasuk indie/self publish. Dan karena toko buku di Indo sudah bisa dikatakan dimonopoli Gramed, kecuali punya koneksi disana yang bisa membantu, self publishing tidak memungkinkan.

    (Why, he won’t even meet you when you’re a nobody. Let alone making a deal)

    Karena itu partner vital kita disini adalah distributor, dan pastikan distributor yg bernama, yg sudah sering berbisnis dgn Gramed. Gw menemukan 2 nama distributor yg direkomendasikan :

    (Untuk jaringan TB. Gramedia & Gunung Agung selruh Indonesia)

    PT Agromedia Pustaka
    Bintaro Jaya Sektor IX, Jl. Rajawali IV Blok HD X No. 3
    Tangerang
    Telp. (021) 7451644, 74873334
    (Cilegon, Serang, Jakarta, Solo, Yogya, dll)

    Tiga Serangkai
    Jl. Pulo Kambing Raya Kav. 7 No.22
    Kawasan Industri Pulo Gadung – Jakarta Timur 13930
    Telp. 46826985

    sekian sekilas info

  6. 6
    Villam Says:

    betul, gue yakin gramedia memang akan begitu.
    sebenernya kalo dipikir-pikir, konsep self/indie publishing emang gak langsung dimulai dengan langkah besar mencoba menembus toko buku gramedia sih. kalo bicara modal, indie kan maennya kecil-kecilan, menggunakan jalur pemasaran yang berbeda, cara penjualan yang berbeda, dan di awal mungkin nyetaknya juga baru kelas 100 eksemplar. nanti kalo misalnya langkah awal ini sukses, baru deh coba menembus toko besar, ataupun mendekati agen/distributor besar. gue pikir kalo kita nyoba deketin agromedia atau tiga serangkai sekarang, juga bakalan tekor.

    itu pemikiran gue saat ini ya, jeff. bisa saja salah. makanya gue pengen denger lebih jauh pendapat lu, dan juga gimana rencana lu, kalo ada.

    tapi thanks berat atas infonya yak!

    dan menyangkut proses menulis yang baru gue coba lagi sekarang, sebagai info: hari senin gue berhasil menulis sekitar 400 kata, hari selasa 1200 kata, dan hari rabu ini sementara baru 300 kata.
    gyahahahah…

  7. 7
    Serpentwitch Says:

    jujur krn kendala ini, gw sedang matikutu utk selfpublishing. Paling banter nyerah dan serahin semuanya ke distributor. Tapi kl yg dealnya distributor, kita ga bisa deal macem2 seperti rencana gw dulu utk memiliki display rak buku + banner sendiri. Kl lewat distributor dan nasibnya ky novel2 lokal saat ini yg nyasar2 ke pojokan entah dimana ya sama aja boong. Karena dalam hal gw sangat vital memiliki display rak buku pribadi yg mencolok.

    Dengan alasan yg sama, tidak ada gunanya menghamburkan uang membuat display yg menarik jika dijual di luar toko buku Gramed. iya toh?

    Kendala terakhir adalah persenannya. Distributor bakal minta diskon 40-50%. artinya kita udah tekor separoh. Nah selanjutnya gw belum pasti nih, apakah Toko buku Gramednya motong persenan dr si distributornya (dr 50% yg kita kasih) atau malah motong dari kita lagi yg pada akhirnya ga ada beda ama lewat penerbit (sisa 10-25% buat kita)

    Uhhh… pusing bro ~ >.< Well kl tujuannya seperti Villam yg lebih ditujukan supaya bisa sebar ke temen2 dan banyak yg baca sih ga masalah, seratusan copy beres dan nyebarinnya ke temen2 komunitas doang. Tp seperti yg kamu tahu, Villam, self publishingku profit oriented, jdnya jauh lebih banyak kendala :D

  8. 8
    Villam Says:

    ya sebenernya yang kumaksud dengan self publish seratusan copy itu juga baru awal. baru buka pintu doang. kalo memang lancar, bukan gak mungkin nanti ada jalan baru yang terbuka lebar. dan walaupun jumlahnya kecil, itu juga dimaksudkan sebagai profit oriented kok. ya sama aja, kita jualan (bukan sekedar nyebarin gratis), walau jumlahnya kecil, ya tetap harus ada profitnya juga.

  9. 9
    Danny Says:

    You damn right, dude. Perjalanan yang udah dimulai harus diselesein juga. Sampe bukunya udah terbit baru… bikin buku lain. Hehe.

    Danny’s last blog post..Nation Watch: Selena

  10. 10
    Villam Says:

    mari mari…
    tapi kalo menurut gue ya jangan nunggu bukunya terbit baru mulai bikin yang lain. hahahahah…
    kalo udah selesai ditulis dan diedit, ya udah lanjut aja bikin buku yang baru.

  11. 11
    dian k Says:

    *baca ulang tulisan di atas*

    Villam, bicara tentang cinta?
    hehehe ;) )

  12. 12
    Villam Says:

    emang nape?
    ada yang aneh? :-P

  13. 13
    zetamari Says:

    Gw mo ngomentarin gambarnya dulu ah.. Lucu.. Seperti Pangeran Kucing yang dikelilingi empat prajurit garong.. Huahahahaha……

    “Sedikit saja kalian berani menyentuh pangeran”, berkata prajurit garong yang paling depan. “Kami tidak akan ragu untuk menancapkan cakar-cakar kami di bokong kalian.”

    Oiya.. Btw,, udah banyak banget itu yah 25 bab 85 ribu kata.. Pernah terpikir juga tuh selfpublishing,, tapi setelah dipikir-pikir lagi.. Pertama butuh biaya,, kedua ribet.. Ke penerbit sajalah..

    Talking about profit.. Hmmm.. No comment deh.. I’m just a writer.. Gw hanya bisa mencoba untuk menulis yang terbaik agar bisa diterima oleh pembaca..

  14. 14
    Villam Says:

    akan lebih lucu, kalo yang paling garong di antara lima itu justru adalah si kucing yang tampak paling manis… hahahahah…

    zeta, aku sih setuju bahwa kita menulis ya karena kita memang hendak menyajikan sesuatu yang baik kepada pembaca. pemikiran self publish di atas diangkat karena aku sering tersentil oleh alasan yang lain. yaitu bahwa sang penulis, yang telah berdarah-darah membuat karyanya, pada akhirnya kemudian hanya mendapat keuntungan 10% dari harga buku, melalui royalti. 40% s/d 50% justru dimakan oleh pihak lain seperti distributor dan toko buku. jangan dilihat dari duitnya, tapi dari penghargaan yang diberi pada si penulis.

  15. 15
    dyah p.rinni Says:

    What I love about your website is…. kamu selalu naruh gambar kucing :D

    IMHO, emang nyebelin buat penulis ketika cuma dapat 10% sementara distributor malah dapat 40%. Kalau nggak salah dulu pernah dengar rumor bahwa Amazon bakal mengembangkan sistem seperti lulu.com. Jadi bisa publish buku di Amazon. Artinya penulis bisa langsung jualan buku ke Amazon gak lewat penerbit konvensional.

    Di masa depan kalau ini bisa diwujudkan sampai ke Indonesia… hmmm….. para penulis independent bisa punya bargaining power yang lebih tinggi lagi dibanding sekarang.

  16. 16
    Villam Says:

    soal gambar kucing, gue gak tau apakah jiwa kucing atau jiwa garong yang sebenernya gue punya… :-P

    coba lihat ini deh, dyah.
    http://www.bookoopedia.com
    mirip lulu.com. penulis bisa menerbitkan langsung lewat mereka secara online, gak lewat toko buku biasa. tapi royaltinya juga cuman 20% sih, masih belum sebesar yang diharapkan. gak salah kan kalo gue berharap penulis bisa dapet 40%? heheheh…

    mungkin, kalo sistem ini nanti berkembang, dan ada banyak pilihan, bisa lebih bersaing, posisi penulis juga bisa lebih kuat.

  17. 17
    dyah p.rinni Says:

    keknya sih jiwa criminal cat elo yang ada.. :p

    enak sih kalau punya percetakan sendiri, distributor sendiri, toko buku sendiri. nah itu baru 100% dimakan sendiri. he he he….

  18. 18
    dyah p.rinni Says:

    Villam, link di bookoopedia yang ngomongin tentang penerbitan buku tuh mana ya… aku ubek-ubek kok gak ketemu.

    salam kucing garong :D

  19. 19
    Villam Says:

    bukan hal yang mustahil, dyah, kalo emang kita mau nyoba semua prosesnya sendiri. asal duit, waktu dan peralatannya ada. tentu saja dirintis kecil-kecilan dulu, cari jalur pemasaran yang unik, jangan berharap langsung bakalan sukses besar di awal. semua hal besar dimulai dari yang kecil. heheh…

    yang bookoopedia di sini:
    http://www.bisnis2030.com/book-writer-terms-and-conditions.html

    tabik.
    kucing garong.

  20. 20
    dyah p.rinni Says:

    Menarik, villam. Thanks buat linknya.

  21. 21
    Villam Says:

    tapi tetap, perjanjian, pembagian keuntungan, dan prospek kesuksesannya belum benar-benar bisa meyakinkan gue sih…

  22. 22
    yosi Says:

    Mari, Villam..terima kasih postingannya telah menyemangatiku kembali. Writer’s block sama mood memang harus dilawan ^^

  23. 23
    Villam Says:

    mari, yosi.
    hendak kembali menulis novel, atau cerpen lagi?

Leave a Reply