Pesta Darah (Full Version)
Posted by: Villam in Cerita, tags: cerita fantasi, Pesta Darah, villam's writing
Kalian tentu tahu, bulan penuh menjelang akhir tahun adalah saat yang paling ditunggu oleh raja. Inilah saatnya berpesta. Pesta khusus sebagai penghargaan untuk kalian, yang tentu saja harus lebih akbar dibanding pesta untuk para bangsawan pada sebelas purnama sebelumnya, apalagi jika disandingkan dengan pesta keluarga kerajaan yang diselenggarakan setiap awal bulan. Dan jika kalian tetap saja mengira pesta yang aku sebutkan terakhir itu hanyalah sebuah pesta kecil, sehingga pesta yang akan kalian datangi nanti pun hanya pesta biasa, maka biar aku katakan di sini: jumlah mereka yang hadir di pesta keluarga kerajaan terakhir mencapai lima ratus orang!
Melihat angka ini, mungkin kalian akan mengira sebagian dari keluarga kerajaan itu hanyalah kerabat jauh, yang setelah menjilat sana sini lalu berhasil diakui sebagai anggota keluarga oleh raja—oh ya aku tahu betul gosip apa yang biasanya kalian bahas. Tapi jika aku katakan bahwa raja, selain berpermaisuri, juga memiliki gundik sebanyak dua ratus empat puluh orang, dan anak serta menantu sejumlah dua ratus orang, dilengkapi dengan enam puluh cucu, maka kalian mungkin akan mengerti, memang sebesar itulah keluarga kerajaan.
Tentu saja di sini aku tak akan membahas mengenai libido raja—walaupun kadang aku ingin mengejek kalian yang selalu bermimpi menjadi sekuat dia di ranjang—atau bagaimana jadwalnya dalam menyambangi seluruh gundiknya sepanjang tahun. Juga aku tak hendak membicarakan bagaimana seleranya dalam memilih dan merampas gundik-gundik itu dari para orangtua atau suami-suami mereka di kota maupun desa—yang terpaksa dipatuhi karena itu masuk dalam undang-undang. Juga bagaimana ia kemudian memberi mereka perhiasan berlimpah di kamar-kamar yang dibuat khusus untuk mereka, di istana ataupun paviliun yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
Tak ingin pula aku menyinggung bagaimana proses pengambilan gundik itu dilakukan dengan begitu konsisten dan sistematis setiap bulan, seakan-akan aku hanya ingin membuat kalian mengerti dari mana angka dua ratus empat puluh gundik itu berasal. Karena toh jawaban untuk itu sangat sederhana: sang raja sudah berkuasa selama dua puluh tahun.
Tak perlu aku membicarakan itu semua lebih jauh, karena aku tahu, dengan jaringan gosip yang kalian miliki, kalian pasti sudah tahu, bahkan mungkin lebih banyak daripada aku. Kalian juga tak perlu repot-repot menyembunyikan sesuatu dariku karena aku juga takkan bertanya, mengenai berapa banyak gundik yang kalian miliki, dan sejauh mana kalian mencontoh tabiat raja. Percayalah, aku tak peduli dengan itu semua.
Di sini aku hanya ingin menunjukkan bahwa jika pesta keluarga kerajaan bisa sebesar itu, maka pastinya pesta kalian nanti juga jauh lebih besar. Ya ya, tentu saja aku mengerti bahwa pesta kalian nanti hanya untuk orang dewasa, dan juga karena ini pesta resmi maka gundik, anak-anak gundik, dan cucu-cucu gundik tak diperbolehkan ikut, sehingga peserta pesta nanti mestinya tidak lebih besar daripada lima ratus orang. Jika kalian tetap mau berpikir begitu, silakan saja. Tapi, percayalah, kalian akan terkejut nanti. Akan ada banyak kejutan. Aku jamin.
Jadi, kalian tertarik menerima undangan raja? Malam ini?
Tentu saja aku mengerti bahwa datang atau tidak itu adalah hak kalian. Aku hanya ingin bilang bahwa aku sudah menunggu di sini, di balairung emas kerajaan, sedang coba menghitung jumlah orang yang turun dari setiap kereta kuda. Mereka yang melintasi jalan berbatu putih dengan begitu anggun dan gagahnya dengan pakaian terbaik seolah-olah tak ada orang lain yang lebih penting daripada mereka saat ini. Bersama pasangan masing-masing, mereka menyeberangi taman hijau yang benderang oleh deretan lampu kuning bersangga tiang-tiang perak berbentuk bunga tiga helai, yang berderet sepanjang seratus meter dari parkiran kereta kuda hingga ke gerbang luar balairung. Mereka, sebagian dari kalian yang telah memutuskan untuk datang.
Maka kutanyakan lagi: kalian yang belum datang, tentu tak ingin ketinggalan, bukan?
Sekarang, sambil aku menghitung dan menunggu kalian semua melewati koridor utama—yang menghubungkan gerbang luar dan gerbang dalam serta kedua dindingnya berlapis kain sutra berwarna merah menyala—biar aku jelaskan sedikit tentang balairung emas. Tentunya bagi kalian yang belum mengerti.
Oh ya, untuk kalian yang belum sampai ke sini, tentunya kalian tak bakal tersesat atau salah mengenalinya dari jauh, bukan? Karena atap limas raksasanya yang terbuat dari kaca berpatri emas dan benderang oleh kilau lampu kuning di setiap tepiannya tak akan mungkin tak terlihat dari setiap sudut jalan di ibukota. Kalian menganggap aku berlebihan? Aku hanya mengingatkan.
Nah, kembali ke topik, balairung ini memang ruang yang selalu dipakai oleh sang raja untuk menjamu tamu-tamunya, tak peduli apakah tamunya itu hanya satu orang atau mencapai seribu orang. Luasnya hampir sama dengan taman utama di tengah ibukota, dan ukuran panjang dan lebarnya pun demikian, masing-masing dua ratus dan seratus meter. Sedemikian jauhnya jarak dari gerbang dalam balairung di belakang sampai ke kursi raja di panggung depan, sehingga jika tak mendekat kalian nanti tak bakal bisa melihat wajah raja tercinta kalian saat ia berbicara, dan hanya tampak jubah merahnya saja, yang mungkin cuma sebanding dengan besar ujung kuku kelingking kalian.
Untuk lantainya, tentu saja dibuat dari marmer kelabu yang terbaik, dan telah dipel oleh seribu orang pelayan tadi malam sehingga bisa berkilau cemerlang seperti kaca sekarang. Tapi jika kalian mengira lantai marmer itulah yang akan langsung kalian injak, kalian salah, karena ternyata kemudian di atasnya dihamparkan ribuan gulung permadani berwarna biru laut, dari ujung ke ujung. Setelah itu, di antara dua pasang pilar jangkung yang menjulang setinggi lima puluh meter hingga ke puncak atap, tepat di tengah balairung, dihamparkan permadani selebar sepuluh meter dan sepanjang dua ratus meter, menghubungkan gerbang dalam sampai ke panggung depan. Warnanya emas, berkilau seolah bulu-bulunya itu adalah emas betulan.
Tentang seluruh permadani tersebut, jangan tanya padaku kenapa sang raja begitu gila membuatnya sebanyak ini hanya untuk menutupi lantai marmer yang sebenarnya sudah sedemikian indah. Mungkin, itu karena dia begitu senangnya bisa bertemu dengan kalian semua. Berterima kasihlah atas kemurahan raja.
Sedangkan khusus untuk permadani emas, tentu saja, tidak boleh ada yang menginjaknya sebelum raja menginjaknya. Jadi aku ingatkan, begitu kalian memasuki gerbang dalam kalian harus berjalan di samping kiri dan kanan permadani tersebut, dan tentu saja, terus maju ke depan. Akan ada banyak orang di belakang kalian, kalian tak ingin kehabisan tempat di depan, bukan?
Jangan pedulikan dulu barisan meja bertaplak putih bersih tempat makanan mewah berbagai jenis yang berderet di sisi kiri dan kanan ruangan—yang tentu saja semuanya masih tertutup rapat—apalagi sampai terpesona pada empat buah air mancur raksasa dengan masing-masing kolam lingkarannya yang terletak di empat penjuru ruangan itu, betapapun menariknya itu.
Merah warnanya memang. Sangat menarik, bukan? Tentu saja karena itu adalah anggur. Anggur khusus beribu galon yang sengaja dibuka raja khusus untuk kalian malam ini, dialirkan seluruhnya dari bejana raksasa yang ada di belakang balairung. Tapi kalian tak perlu terburu-buru ataupun repot-repot mengambil sekarang, karena para pelayanlah yang nanti akan menuangkannya ke cangkir-cangkir kalian. Dan juga karena ada satu lagi peraturan penting di sini: jangan minum sebelum raja minum.
Soal makanannya, sama juga, jangan makan sebelum raja makan. Dan maaf, sebenarnya bisa saja aku menjelaskan secara detil jenis makanan apa yang nanti akan dihidangkan pada pesta kali ini, bahwa nanti akan ada tujuh ronde acara makan, mulai dari pembuka hingga penutup, yang masing-masing memiliki variasi sangat menggiurkan, dengan daging, sayuran, buah-buahan atau puding yang selama ini hanya bisa ada dalam mimpi kalian. Tapi untuk saat ini aku sarankan lebih baik kalian diam saja dulu. Raja akan datang sebentar lagi, dan mari kita tunggu.
Oh ya, sebelum aku lupa, aku ingatkan sekali lagi, bagi para lelaki yang belum ingin pulang selepas pesta berakhir, sang raja telah mengumpulkan dua ribu gadis dari berbagai penjuru negeri, untuk kalian. Kalian tak perlu bertanya dari mana atau bagaimana tepatnya raja mendapatkannya. Tak perlu. Kalian tinggal menikmati saja. Tapi tentu, kalian belum bisa melihatnya sekarang, mereka semua masih disimpan di suatu tempat di luar balairung. Tak baik mereka terlihat oleh para nyonya sekarang, walaupun aku tak yakin istri-istri kalian itu tidak tahu soal ini. Dan jangan khawatir, gadis-gadis ini semua cantik dan bersih. Kalian tentu percaya dengan pilihan raja, bukan? Nah, akan kalian apakan mereka nanti, itu terserah kalian.
Bagaimana? Kalian semakin tertarik?
Aha, aku melihat beberapa wajah jijik, tapi sepertinya, jauh lebih banyak yang menyorotkan nafsu. Aku bisa melihatnya walaupun kalian berusaha menyembunyikannya. Tapi sekali lagi, aku tak peduli. Itu urusan kalian. Jadi mari kita lanjutkan.
Lihat, saat ini gerbang luar telah ditutup untuk undangan, dan tinggal menunggu kehadiran raja dan keluarganya. Aku baru saja selesai menghitung, tapi akan aku sebutkan angkanya nanti saja, karena aku ingin mengamati dulu kalian satu per satu.
Kalian, para bangsawan dan gubernur dari seluruh penjuru negeri telah hadir. Aku sudah banyak mengenal wajah kalian; sudah sering datang kemari. Dengan jubah merah berbulu tebal berlapis sutra bercorak putih, ditambah rambut palsu bergulung-gulung di atas kepala yang menghiasi wajah angkuh kalian, aku sudah hapal. Kali ini, tentu saja kalian didampingi pula oleh istri-istri yang tak kalah flamboyan dan angkuhnya. Kalian semua adalah tangan kanan raja untuk memungut pajak tinggi dari rakyat, dengan cara legal maupun ilegal yang dilegalkan. Tentu saja kalian memang yang paling pantas berada di sini.
Kalian, para ksatria dan petinggi militer dari seluruh propinsi juga telah hadir, dengan seragam lengkap—biru, hijau, coklat ataupun merah—yang penuh tanda jasa di dada. Di antara kalian, bahkan ada pula yang mengenakan baju perang perak berkilat. Betapa gagah dan berwibawanya. Kalian adalah andalan raja di garis depan dalam menumpas pemberontakan, yang tentu saja biasanya sangat berdarah. Kalian hebat, jadi kalian juga pantas berada di sini.
Kalian, para cendekiawan dan anggota dewan yang terhormat, juga sudah hadir. Kalian umumnya mengenakan jubah kaku berwarna coklat, sesuai dengan seragam kalian kala bersidang di majelis. Jasa kalian jelas, kalian telah membantu raja dalam menciptakan berbagai undang-undang, yang dibuat untuk sebesar-besarnya kepentingan negara. Dalam hal ini negara adalah raja, tentu saja. Jadi kalian pun sangat pantas berada di sini.
Dan terakhir, kalian, para pengusaha dan pedagang terpandang, para majikan pemerah tenaga rakyat, juga telah hadir. Jasa kalian pun tak terkira, kalian adalah mitra kerajaan dalam memperbesar pundi-pundi kekayaannya. Kalian pula yang telah berjasa mengatur tinggi rendahnya harga barang untuk rakyat. Maka dari itu, kalian juga pantas berada di sini.
Sekarang, kalian ingin tahu berapa jumlah semuanya?
Lengkap dua ribu orang.
Hoho, terimalah, itu jumlah yang besar untuk sebuah pesta. Tapi, dasar, tetap saja ada di antara kalian yang meremehkan dan berkata bahwa seharusnya ada tiga ribu atau bahkan empat ribu orang yang datang ke tempat ini. Hei, tak usah pedulikan mereka yang tidak datang. Lebih baik kalian nikmati sajalah pesta untuk kalian ini.
Lihat, seribu pelayan kini telah berbaris dan melingkar di setiap air mancur anggur, menuangkannya ke cangkir lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, membagikannya untuk kalian. Terimalah itu, tapi aku ingatkan sekali lagi, jangan minum sebelum raja minum. Sabarlah, sebentar lagi raja akan datang.
Nah, itu dia.
Dengarlah, merdunya alunan suara terompet yang lalu diakhiri dengan dentuman tambur kala raja datang memasuki balairung. Ia didampingi oleh sang ratu di sebelah kiri, dan kedelapan putra-putri dan menantu mereka di belakangnya. Berjalan sepasang-sepasang. Sang raja tentu saja harus berpakaian yang paling mewah dan mencolok di tempat ini. Selain mahkota emas bertatahkan batu berlian, delima, jamrud dan safir di kepalanya, ia juga mengenakan jubah tebalnya yang berwarna merah menyala, panjang hingga mencapai lima meter. Sang ratu pun demikian pula, ia harus menjadi wanita yang paling menonjol di sini. Selain makhota perak di kepala, gaun ungunya yang berenda dan bertabur butiran perak berkilau juga panjang hingga mencapai lima meter.
Lihatlah, sungguh pasangan yang serasi.
Dalam keheningan yang kalian ciptakan mereka berjalan dari gerbang menyusuri permadani emas menuju panggung depan. Bagi kalian, yang kini berbaris takzim di sebelah kiri dan kanannya, yang belum pernah melihat wajah raja dan keluarganya dengan sebegitu dekatnya, inilah kesempatan terbaik kalian. Tapi jangan lupa, menunduklah dengan penuh hormat saat mereka lewat di depan hidung kalian. Ya betul, seperti itu. Bagus. Lebih baik kalian tak berlaku ceroboh di sini.
Perhatikan baik-baik. Tetaplah berdiri dengan gagah, anggun dan tanpa bersuara kala rombongan kecil itu telah sampai di depan. Putarlah tubuh kalian perlahan menghadap ke arah raja, dan pegang cangkir anggur di tangan kanan seerat dan setenang mungkin hingga tak mungkin berbunyi, kala sang raja mulai naik ke atas panggung dan kini berdiri di depan singgasananya. Kalian yang membawa pedang di pinggang, peganglah dengan tangan kiri agar benda itu tak berdenting. Tetaplah tenang, saat sang raja menerima cangkir anggur dari pelayan pribadinya. Tinggal sebentar lagi dia akan membuka acara, maka diamlah, dan dengarkan setiap kata yang akan diucapkannya. Jangan bertindak bodoh.
Lihatlah, sang raja yang kini berdiri dengan senyum menawan dengan cangkir anggur merah di tangan kanannya. Kalian tak akan melupakan saat-saat ini hingga akhir hidup kalian nanti. Ini bakal jadi pengalaman yang paling langka.
Dengarlah suaranya, saat ia mengangkat cangkirnya. “Untuk kemakmuran hari ini, besok, selamanya.”
Suara yang merdu, bukan? Sebening suara malaikat—kalau kalian ingin tahu. Kalian tak akan mungkin melupakan suara seindah itu.
Dan, hei, itu adalah pembukaan acara pesta. Ia telah meneguk anggur dari gelasnya. Demikian pula ratu dan putra-putri serta menantunya. Maka tentu saja kalian harus mengikutinya. Apakah kalian ingin menantang raja?
Ah, bagus. Kalian pun membalasnya, ikut meneguk anggur dari cangkir kalian. Kalian semua tanpa kecuali. Sungguh para pengikut yang loyal.
Maka, akhirnya, pintu bagiku pun terbuka.
Setelah malam sebelumnya pemilik tubuhku mengucurkan aku habis dari kedua pergelangan tangannya, ke dalam bejana raksasa berisi anggur merah itu, kini aku bisa masuk menyusuri kerongkongan kalian, dan tentu juga kerongkongan raja dan keluarganya.
Kenalilah aku, yang datang menyertai darah. Akulah sang pembawa kematian.
Jangan salah paham, aku datang bukan mewakili rakyat yang tertindas oleh kerakusan dan ketidakpedulian kalian; rakyat yang teraniaya dan terinjak-injak oleh kalian selama dua puluh tahun. Seperti aku selalu bilang tadi, aku tidak peduli pada apa pun yang telah kalian lakukan sebelum ini. Maka aku tidak gembira ataupun sedih saat mulut kalian menyemburkan darah, dan tubuh kalian berkelojotan, menggelepar di atas permadani, dengan mata melotot dan mulut menganga mengeluarkan jerit kesakitan yang membuat balairung emas kini bagaikan pabrik penjagalan yang riuh rendah kala ribuan domba disembelih.
Mengertilah, aku hanya membawa racun dari sang pemilik tubuhku. Dialah yang telah mengorbankan dirinya dengan penuh kesadaran. Dialah yang memiliki dendam itu.
Tapi apakah kalian hendak menyalahkan orang yang sudah mati terlebih dulu?
Sadarlah, salah kalian sendiri ada di sini.
Atau kalau mau, salahkan saja raja. Dia yang mengundang kalian.
Atau lebih baik seperti usulku, tak perlu menyalahkan siapa pun, karena malam ini memang sudah ditakdirkan untuk kalian.
Di sisa waktu kalian, nikmati sajalah pesta darah ini, dan memohon ampun pada Tuhan sebelum ajal menjemput.





Entries (RSS)
March 5th, 2009 at 1:43 pm
wuakakak, pengecoh nomer satu, ketika mengira bahwa yang berbicara adalah raja sendiri.
hii… tahu tahunya.
*ga tau mu koment apaan soalnya, hanya mengikuti.
mocca_chi’s last blog post..Saat Membantu Jadi Masalah
March 5th, 2009 at 3:00 pm
nice
it’s nice
………
cuma bisa komen itu……
March 6th, 2009 at 1:22 pm
heheh…
thanks udah mau baca, rik, mak.
March 22nd, 2009 at 1:09 am
Ruang, glamor… busyet! Aku bisa belajar banyak tentang deskripsi dari karya ini!
March 22nd, 2009 at 10:23 pm
tapi beberapa orang muak dengan dengan deskripsinya, ubr… dan beberapa yang lain muak dengan endingnya. hahahah…
March 23rd, 2009 at 4:32 am
Tiap kalimat menimbulkan pertanyaan yang terjawab oleh kalimat selanjutnya, sementara kalimat itu sendiri juga menimbulkan pertanyaan lain, begitu seterusnya membuat pembaca penasaran. Ini taktik penyajian deskripsi biar tidak membosankan. Apalagi dengan pemilihan kata yang ‘mengundang’ dan narator yang sok :d … Masa’ sih ada yang gak suka. Bicara soal ending, dosis happy ending berlebih tidak baik untuk kesehatan (pengecualian assassin apprentice buatku. Benar2 butuh yang hepi…), yang penting proporsional atau katakanlah sesuai dengan cerita
.
March 23rd, 2009 at 1:06 pm
hooo…
that’s a good point, ubr.
June 27th, 2010 at 11:02 pm
Unik. Saya kira ini sudut pandang pelayan kerajaan, ternyata…. *speechless*
June 28th, 2010 at 9:42 am
wah baca yang ini juga?
hehe…
June 28th, 2010 at 10:35 am
Kalau gak dibaca, gak mungkin saya komen.
June 28th, 2010 at 10:49 am
hehe… betul juga.