stones_ruby”Dum … du dudum dum …”

Senandung merdu itu terdengar lagi.

Kali ini benar-benar membuat Aran menghentikan hantaman martilnya di dinding batu. Senandung seorang gadis merdu mendayu-dayu di telinganya, menggelitik hatinya, membuat jantungnya berdebar kencang. Awalnya pemuda itu merasa takut–ia punya semua alasan untuk takut–begitu mendengar suara yang muncul entah dari mana itu. Namun akhirnya keingintahuan mengalahkan rasa takutnya.

Perlahan Aran meletakkan martil di sebelah kakinya, lalu meraba permukaan dinding batu di hadapannya. Dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, tak ada yang terlewatkan. Bentuknya biasa saja, seperti dinding batu biasa di dalam gua yang telah dikenalnya sejak kecil. Keras dan kasar tak beraturan, dingin, basah, kotor, mengalirkan lumpur di jari-jemarinya. Matanya—yang tajam dan mampu melihat dalam gelap lebih baik daripada semua orang—juga tak melewatkan setiap detil di permukaan dinding batu itu. Tapi tak ada rongga atau celah sedikit pun. Tak ada apa pun di sana.

Kecuali suara itu.

Aran mendekatkan telinganya ke dinding batu, akhirnya tahu bahwa hanya dengan inderanya yang terakhir itulah ia bisa merasakan keberadaan sesuatu yang tak dikenalnya itu. Seorang gadis—atau apa pun itu—ada di tempat ini, entah di mana.

“Aran…” Suara itu memanggil.

Aran terperanjat. Gadis itu, benarkah memanggilnya?

“Aran!”

Ya, memang ada yang memanggilnya. Tapi kali ini sama sekali bukan suara seorang gadis. Aran menoleh ke belakang. Kael, kakaknya yang gagah dan tampan, berdiri sekitar lima meter darinya. Tangan kanan kakaknya itu memegang martil, sedangkan tangan kirinya mengangkat lampu minyaknya tinggi-tinggi, menerangi seisi gua. Aran memejamkan matanya sesaat. Ia selalu merasa lebih nyaman dalam gelap jika sedang berada di dalam gua.

“Hei, Aran,” kata Kael. “Aku sudah mencarimu selama hampir dua hari menyusuri guamu ini. Ternyata kau sudah benar-benar sampai di ujung, ya? Apa tadi yang sedang kau lakukan? Bukan begitu caranya mencari batu delima. Kaupikir gunung akan berbicara kepadamu? Memberitahumu di mana kau bisa menemukan batu delima?”

Aran tidak menanggapi gurauan kakaknya. “Kael, kau tidak mendengarnya?”

“Mendengar apa?”

“Suara itu…” Aran berhenti sejenak, berusaha menajamkan telinganya kembali. Tapi semua sudah hilang, suara itu tak terdengar lagi. Ia mengatur napas perlahan. “Tadi ada suara seorang gadis.”

“Seorang gadis?”

“Ya.”

Kael tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggema memenuhi seisi gua. “Macam-macam saja kau. Ada suara gadis, di mana?”

“Di balik dinding batu ini.” Jawaban Aran tidak begitu jelas terdengar, karena ia sendiri kini mulai ragu. Kakaknya tidak mendengarnya, jadi jangan-jangan ini memang cuma khayalannya belaka, yang kesekian kalinya.

“Aran, kalau kau memang benar-benar mau mendengar suara seorang gadis, keluarlah dari gua ini dan ikut denganku. Akan kutunjukkan caranya, bagaimana kau bisa membuat mereka berbicara padamu tanpa henti.” Kael melanjutkan tawanya.

Aran menjadi sedikit kesal, dan malu. Kakaknya selalu berkata benar, Aran tahu itu. Kakaknya paling tahu cara bergaul dengan semua orang, termasuk dengan para gadis. Sedangkan ia sendiri, tidak pernah berani untuk berbicara, selalu diam dan duduk paling belakang, bersembunyi di balik punggung kakaknya. Ia memang selalu pantas untuk diabaikan, dan ditertawakan oleh semua orang.

Kael meredakan tawanya begitu melihat perubahan di wajah adiknya. Ia menggeleng kecil, kelihatannya menyesal dengan ucapannya, lalu mendekati Aran dan menepuk bahunya. “Maaf, jangan terlalu kaupikirkan kata-kataku.”

“Tidak apa-apa.” Aran mencoba tersenyum.

Kael mengangguk. “Kurasa kau terlalu lelah dan terlalu lama menghabiskan waktu di tempat ini. Sudah berapa lama kau di sini?”

“Lima malam.” Aran mengangkat bahu. “Enam hari.”

“Sudah waktunya keluar, Aran.”

Aran diam saja, tak menjawab.

“Keluarlah bersamaku,” kata Kael. “Ayah akan pergi ke kota dua hari lagi. Aku akan ikut dengannya, menjual beberapa butir batu delimaku. Ikutlah dengan kami.”

Mata Aran membesar. “Ikut paman, ke kota?”

Ya, pamannya. Kael sebenarnya adalah saudara sepupu Aran, empat tahun lebih tua darinya. Ayah Kael adalah kakak dari ayah Aran—yang sudah meninggal sekarang, sebagaimana halnya ibunya.

“Ya, kali ini ke Minardes.” Mata Kael berbinar-binar.

“Minardes?” Aran mulai tertarik.

“Benar. Kota yang besar dan indah. Kau belum pernah ke sana, bukan? Di sana kau bakal melihat segala sesuatu yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Bangunan besar, pasar yang ramai, gadis-gadis cantik …”

“Tapi …” Aran termenung, melirik kantong kulit yang tergantung di pinggangnya. Hanya ada tiga buah butir batu delima kecil di sana; masih kasar, kusam dan tak bercahaya, karena belum dipanaskan. “Aku belum punya apa-apa untuk kujual. Ada beberapa butir, tapi kurasa harganya tidak seberapa.”

“Ah, itu tidak terlalu penting. Kau bisa mendapatkan yang lebih banyak lain waktu. Yang penting jangan kau lewatkan kesempatan ini. Ayolah, mari kita bergembira sedikit!”

“Bergembira?” Aran menggaruk-garuk kepalanya.

“Ya. Bergembira! Berjalan-jalan. Bermain-main. Ayolah! Apa kau tidak bosan tinggal terus di dalam gua?”

Aran masih tetap diam, tapi akhirnya mengangguk. “Baiklah, aku akan ikut.”

“Nah! Begitu baru bagus!” Kael membalikkan badan, mulai berjalan menyusuri lorong sempit. Namun baru beberapa langkah ia berhenti lagi, begitu menyadari bahwa Aran masih tetap diam di belakangnya. Kael menoleh. Kali ini wajahnya menunjukkan ketidaksabarannya. “Ayo, Aran! Apa lagi yang kautunggu?”

“Kupikir … kau keluarlah lebih dulu. Aku akan menyusul.”

“Ya, sudah. Aku sudah mengajakmu.” Kael mengangkat bahunya kesal. “Aku pergi dulu. Tapi yang jelas kalau sampai besok malam kau tidak muncul juga di rumah, aku dan ayah tetap akan pergi.”

“Aku akan datang. Tidak usah khawatir. Aku berjanji.”

“Baik. Kalau begitu aku akan menunggumu.” Kael berjalan pergi meninggalkan Aran. Cahaya lampu minyaknya perlahan-lahan pergi pula bersamanya, menyisakan kegelapan kembali menyelimuti Aran.

Aran berlutut, mengambil korek api dari kantongnya, lalu menyalakan lampu minyaknya sendiri. Ia menarik sumbu sehingga apinya mengecil, menjaga agar suasana tetap remang-remang, tidak seterang lampu minyak Kael. Itu membuatnya lebih nyaman. Ia mengambil pula sepotong roti terakhir dari tasnya, dan menciumnya sejenak. Sudah sedikit berbau, tapi ia tak terlalu mempedulikannya. Sambil mengunyah rotinya, ia menyandarkan punggungnya di dinding batu, menatap api yang bergoyang-goyang di dalam lampu minyak.

Ia sudah berumur enam belas tahun sekarang. Separuh hidupnya diisi dengan kegiatan rutin seperti yang dilakukannya malam ini, menghantamkan martil di dinding-dinding batu, dan makan sendirian di dalam gua sambil menatap api yang bergoyang lemah. Kadang-kadang ia makan bersama paman dan kakak sepupunya. Mereka berdua selalu baik kepadanya. Namun entah kenapa, Aran tak pernah nyaman berada di tengah-tengah mereka. Ia tak pernah nyaman berada di tengah-tengah semua orang. Semua orang suka berada di tempat yang terang, tapi Aran tidak.

Semua itu gara-gara peristiwa menyakitkan yang pernah terjadi di tengah-tengah hidupnya, yang memisahkan delapan tahun kehidupan yang hampa seperti sekarang, dan delapan tahun kehidupan sebelumnya yang indah, bersama ayah dan ibunya. Itulah saat dimana ia mulai berteman dengan kegelapan, merasa aman dan nyaman di dalamnya. Bersembunyi di dalam lemari, bersembunyi di balik bayangan pohon di hutan, bersembunyi di dalam gua, dari para perampok dan pembunuh ayah dan ibunya.

Aran tak ingin mengingatnya lagi sekarang. Ia selalu ingin melupakannya. Tapi kenangan itu sudah tertanam begitu dalam. Kadang ingatan itu menghampirinya dalam mimpi. Begitu nyata, seolah-olah terjadi kembali. Sampai saat ia terbangun ia masih merasa itu terjadi kembali. Ia hampir selalu bingung memikirkan, mana yang nyata, mana yang tidak nyata.

Tidak! Ia harus melupakannya!

Tapi bayangan itu muncul lagi, di dalam api berwarna kuning yang meliuk-liuk di dalam lampu minyak. Wajah ibunya, sangat muda, tersenyum dengan manisnya. Aran memejamkan matanya. Ia tahu kenapa wajah ibunya masih tetap muncul menghantuinya. Itu karena Aran rindu padanya.

”Aran …”

Ibu memanggilku? Aku mencintaimu, Ibu, tapi ini tidak nyata.

”Aran …”

Hei, walau sudah delapan tahun lewat, Aran tak pernah lupa suara ibunya. Dan ini bukan suara ibunya. Itu suara gadis yang tadi!

Ia membuka matanya, dan langsung membalikkan badan. Jantungnya berdebar-debar. Pandangannya menyapu ke seluruh dinding batu di hadapannya. Apakah ini nyata?

”Aran …” Suara itu terdengar lagi.

Benar. Ini nyata.

Jantung Aran berdebar makin kencang. Rasa takutnya timbul kembali. Perlahan ia meraih martil yang tergeletak di tanah dan mengangkat tubuhnya, lalu memberanikan diri untuk menjawab, ”Ya? Kau memanggilku?”

”Hi hi hi.” Gadis itu—sesuatu itu—seperti tertawa geli, kemudian bersuara lagi dengan riangnya. ”Aku sudah memanggilmu lima kali, Aran. Kau baru menjawabku sekarang?”

”Lima kali?” Aran mulai bisa menguasai dirinya. Matanya masih tetap mencari-cari dari mana suara itu berasal. Rasa takutnya berkurang. ”Berarti benar kau yang memanggilku sejak tadi?”

“Hmm, kaupikir suara siapa?” Suara gadis itu menunjukkan kekesalannya.

“Ada gadis lain di kepalamu?”

“Gadis?” Aran menggeleng cepat. “Bukan, bukan itu maksudku.”

“Kau tidak suka aku memanggilmu, Aran?!”

”Bukan, bukan begitu.”

”Kau ingin aku pergi sekarang?!”

”Tidak…”

”Selamat tinggal, Aran …”

”Jangan!” Aran melepaskan martilnya. Dengan cepat telapak tangan kirinya mencengkeram dinding batu di depannya, berharap bahwa tindakannya itu bisa menghambat kepergian gadis itu.

Tapi suara gadis itu sudah menghilang.

Hening. Aran berdiri tanpa bergerak sedikit pun, sambil menajamkan pendengarannya. Ia menunggu sampai beberapa lama. Tapi tak terdengar apa-apa lagi. Penyesalannya mulai timbul. Bodoh, apakah yang ia katakan tadi telah menyinggung perasaan gadis itu? Bodoh!

Aran menghela napas panjang, dan menggeleng. Dengan lesu ia meraih tasnya yang tergeletak di lantai dan menyampirkannya di bahu. Ia menatap dinding batu dengan wajah muram. Aneh juga. Kenapa ia merasa begitu kehilangan? Padahal ia sama sekali tidak mengenal sosok tersebut.

”Kejutan!”

Tiba-tiba terdengar seruan gadis itu, yang disusul oleh suara tawa gelinya.

Seketika senyum lebar Aran kembali terkembang. ”Kau… belum pergi?”

”Pergi? Kenapa aku harus pergi? Aku tinggal di sini!”

”Kau tinggal di … dalam sini?” Aran menunjuk dinding batu di hadapannya ragu-ragu. “Siapa kau ini? Hantu? Peri? Siluman?”

“Aku di sini, dan kau di sana. Aku melompat dengan gembira, dan bernyanyi dengan riang. La la la la …” Gadis itu bersenandung dengan suaranya yang merdu, seperti tak mempedulikan pertanyaan Aran. ”Hei, Aran, bagaimana kalau kau menyanyi bersamaku?”

”Bernyanyi?”

”Ya, bernyanyilah.” Suara gadis itu terdengar begitu riang.

”Baiklah,” jawab Aran hati-hati, takut membuat gadis itu tersinggung lagi.

”Ikuti kata-kataku ini. Melompat ke kiri, hei! melompat ke kanan, ha!”

”Aku tahu lagu itu! Aku sang kelinci, hei! Mencari kawan, ha!”

”Bagus, Aran!” Gadis itu tertawa riang. Terdengar suara tepuk-tangannya.

”Baguskah?”

”Ya.” Suara sang gadis berubah lembut. ”Bagus sekali. Indah sekali. Inilah pertama kalinya aku melihat senyum di wajahmu, yang tulus tanpa dipaksakan.”

”Terima kasih.” Aran menatap dinding batu di hadapannya dengan hati berbunga. Aneh juga, berbicara dengan dinding batu seperti ini. Ah, tapi buat apa dipikirkan?

”Berarti kau sudah tahu siapa aku, Aran.”

”Siapa?”

”Baru saja kaunyanyikan.”

”Kawan?” Aran menebak.

”Ya!” seru gadis itu. ”Dan kau kelincinya!”

Aran tertawa. Gadis itu ikut tertawa bersamanya.

”Apakah hatimu sudah lebih tenang sekarang, Aran?”

”Ya.”Aran mengangguk. Gadis itu benar, entah kenapa ia merasa gembira sekarang.

”Tetaplah tersenyum, Aran.”

”Tersenyum? Baik. Tapi mengapa?”

”Itu syarat kalau kau masih mau aku temani di sini.” Gadis itu tertawa.

”Kalau begitu, aku akan terus tersenyum.” Aran mengangguk. Kalau cuma itu syaratnya, ya tidak akan sulit. Tidak sulit, bukan, untuk selalu tersenyum?

”Kau masih tetap akan tinggal di sini?” tanya gadis itu.

”Menemanimu?”

”Ya.” Gadis itu tertawa lagi. Kali ini seperti suara seorang gadis kecil yang tersipu malu.

“Tergantung.”

“Hmm?” Suara gadis itu meninggi. Kelihatannya ia kaget mendengar tanggapan Aran. “Tergantung apa?”

“Pertama.” Aran menyeringai. “Beri tahu dulu, siapa namamu?”

”Namaku? Hm, siapa ya …” Gadis itu bersenandung. ”Bagaimana kalau Ruby?”

Ruby? Batu delima? Itu nama aslimu?”

”Semacam itulah. Kenapa? Tidak bagus?”

”Bukan, bukan. Itu nama yang bagus,” jawab Aran cepat, takut menyinggung perasaan gadis itu lagi. ”Hanya saja … terlalu cocok dengan tempat ini.”

”Terlalu cocok? Terlalu cocok?! Aku baru tahu ada sesuatu yang seperti itu! Biasanya cuma ada istilah tidak cocok!” Gadis itu merajuk. ”Ya, sudah! Silakan pilih nama yang kau suka! Sylvia, Laila, Maria, atau apa pun! Asal jangan Safira.”

”Safira?”

”Ya, Safira. Nama itu sudah diambil adik kembarku.”

”Oh, Sapphire. Batu biru.” Aran mengangguk. ”Ruby saja. Aku lebih suka nama itu.”

”Kau benar-benar suka, Aran?”

”Tentu saja. Rasanya, itu nama yang paling akrab denganku di separuh hidupku ini.”

”Kalau begitu panggil aku Ruby!”

”Ruby.”

”Aku tidak dengar. Teriakkan namaku sekuat tenaga, Aran.”

”Ruby!” seru Aran, menggetarkan seisi gua.

Sesaat kemudian baru ia sadar bahwa tindakannya itu bisa meruntuhkan batu-batu di atas kepalanya. Cepat-cepat ia menunduk dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

Ruby tertawa terbahak-bahak. ”Tidak usah takut, Aran! Aku yang akan menentukan, apakah gunung itu akan runtuh atau tidak.”

”Kau?! … bisa melakukan itu?”

”Ya.”

Darah Aran berdesir. Bulu kuduknya merinding. Tapi ia mencoba untuk tetap tenang. Pelan-pelan ia berkata, ”Ruby, aku harus jujur padamu.”

”Ya?”

”Kau membuatku takut.”

Hening sesaat. Sepertinya Ruby kaget mendengar ucapan Aran.

Gadis itu lalu menjawab lirih, ”Jangan, Aran. Jangan takut.”

”Bagaimana aku tidak takut?” Aran malah semakin berani. ”Kalau aku salah bicara, kau bisa langsung menimbunku di sini!”

”Aku tidak akan melakukan itu!”

”Benar?”

”Kau percaya aku akan berbuat begitu?!”

”Tidak.” Aran menggeleng. ”Aku percaya kau tidak akan melakukannya.”

”Kalau begitu, jangan bicara seperti itu lagi!”

”Ya. Maaf.” Aran menatap dinding batu dengan perasaan campur aduk.

Ruby tak bersuara. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu.

Tapi tak lama kemudian gadis itu berkata lagi, ”Aran, wajahmu berubah muram lagi. Aku tidak tahan melihatnya! Kenapa kau tidak tersenyum lagi?”

”Aku berusaha. Tapi sulit bagiku melakukannya terus, jika aku tidak tahu apakah kau tersenyum juga atau tidak.”

”Aku sedang tersenyum sekarang.”

”Aku tidak bisa melihatnya.”

Ruby bersenandung. ”Suaraku tidak cukup menjadi temanmu?”

”Tak ada yang seindah suaramu. Tapi pasti wajahmu juga.”

”Hm?” Suara Ruby meninggi. ”Maksudmu?”

”Pasti wajahmu juga cantik.”

”Waaa! Tukang rayu! Tukang rayu!” Ruby tertawa. ”Wah, Aran, bisa juga kau berkata seperti ini. Aku tidak menyangka! Kakakmu pasti kalah! Dasar tukang rayu!”

Aran semakin berani. ”Boleh aku melihatnya?”

Ruby terdiam, sampai beberapa lama. Kemudian ia menjawab singkat. ”Tidak.”

”Kenapa?”

’Rahasia, Aran. Rahasia.” Ruby tertawa lagi.

”Kenapa rahasia?”

”Dum dum dum. Kau terlalu banyak bertanya, Aran.”

Aran mengernyitkan dahi. ”Kau berharap aku tidak bertanya? Setelah kau mendatangiku, membuatku bingung seperti ini, kau berharap aku tidak bertanya apa-apa?”

”Apa … kau benar-benar ingin melihat?”

”Ya.” Walaupun Aran tidak terlalu yakin dengan jawabannya sendiri.

”Tidak boleh, Aran. Berbahaya untukmu.”

”Wajahmu? Berbahaya?” Bulu kuduk Aran berdiri lagi. Mematikan?

Ruby seperti paham apa yang ada di benak Aran. ”Bukan berbahaya seperti yang kau takutkan, tapi berbahaya seperti … pokoknya berbahaya!”

Aran mengangguk. Walaupun tak mengerti maksud Ruby, tapi kelihatannya jawaban gadis itu tegas. Tak ada gunanya ia memaksa.

Akhirnya ia berkata, ”Baiklah.”

”Aran, sebenarnya … bukannya aku tidak ingin. Tapi …” Suara Ruby menunjukkan keraguan. ”Mungkin belum waktunya.”

”Hei, aku mengerti. Jangan terlalu dipikirkan. Semua ini sudah begitu menakjubkan bagiku. Mungkin untuk saat ini, suaramu pun sudah cukup. Masih ada lain waktu, bukan?”

”Ya. Masih ada lain waktu.”

”Benar.” Senyum Aran makin lebar.

Sebenarnya ia hendak membuka mulutnya lagi, untuk mengatakan sesuatu. Tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi di hatinya. Ia tahu ia harus segera pergi menyusul Kael, tapi ia tengah merasakan kegembiraan yang belum pernah dirasakan sebelumnya di sini. Ia masih ingin menikmatinya. Lagipula Ruby kedengarannya juga sedang bergembira. Aran tidak ingin memutus kegembiraannya itu.

”Dum dum dum, aku merasakan sesuatu, Aran. Ada sesuatu di wajahmu,” kata Ruby seperti menyelidik. ”Hei, apa kau sudah mau pergi sekarang?”

”Begitulah.” Aran lega Ruby bisa menebak maksudnya. ”Aku sudah berjanji pada Kael. Kami akan pergi ke Minardes.”

”Mau apa kau ke Minardes?”

”Ah, kau pasti sudah mendengar pembicaraan kami tadi.”

”Mungkin. Tapi aku tetap ingin mendengarnya darimu,” kata Ruby.

”Kami akan menjual beberapa butir delima kami, yang sudah kami panaskan tentu.”

”Memang tidak ada yang membeli di desamu?”

”Saat ini tidak ada. Para pedagang hanya datang sesekali ke desa.”

”Tunggu saja mereka.”

”Ya bisa saja, tapi …” Aran menggaruk-garuk kepalanya.

”Tapi kau tetap mau pergi. Itu maksudmu, kan?” Ruby meneruskan perkataannya, kedengarannya kesal.

”Begitulah. Kael mengajakku bersenang-senang di sana.”

”Kau bersenang-senang di sana, sementara aku sendirian di sini?”

“Hei …” Aran mencoba protes, tapi bingung harus berkata apa.

”Kapan kau akan kemari lagi?” Suara Ruby terdengar memelas.

”Secepatnya. Mungkin dua minggu lagi. Perjalanan ke Minardes cukup jauh.”

”Oh, lama sekali aku harus menunggumu di sini.” Isak tangis gadis itu terdengar.

Darah Aran berdesir. Ruby menangis? Dia bisa menangis?!

Sebenarnya apa maksud gadis itu?!

”Jangan menangis, Ruby. Menurutmu, haruskah aku pergi?”

”Jangan pergi. Hwaaah!” Tangis Ruby terdengar nyaring.

Ya, Tuhan! Aran langsung rontok semangatnya. ”Hei, jangan menangis. Kalau kau mau aku tetap di sini, maka aku akan menemanimu.”

Ruby masih menangis. Aran menjadi semakin iba.

Sampai beberapa lama, ketika tiba-tiba suara gadis itu berubah.

”Kejutan!”

Tangis Ruby tiba-tiba berubah menjadi tawa. ”Wah, mukamu tadi jadi sedih begitu, Aran! Dasar, paling tidak bisa mendengar suara gadis menangis!”

Apa?! Dia cuma berpura-pura?! Aran menggeleng kecil. Ia sedikit kesal, tapi tidak marah. Gadis itu sudah benar-benar mengecohnya tadi. Pasti ia tidak akan terkecoh, jika ia bisa melihat wajahnya! Aran berharap punya kesempatan untuk membalas lain kali.

”Waduh, kau jangan marah, ya,” kata Ruby. ”Tadi aku cuma bercanda.”

”Eh, tidak, aku tidak marah.” Aran menutupi kekesalannya.

”Baguslah. Yang benar begini, aku tidak ingin menghalangimu. Lagipula, kenapa aku harus menahanmu pergi? Kau berhak pergi kemana saja yang kau mau.”

Aran mencoba membaca nada suara Ruby. Perasaannya saja, atau kali ini Ruby benar-benar sedih? Ia berkata, ”Sepulang dari Minardes nanti, aku pasti akan langsung kemari lagi.”

”Janji?”

”Janji.” Aran berdiri tegak dan menempelkan telapak tangan kanan di dadanya.

”Kalau begitu aku akan menunggu di sini, Aran.” Ruby tertawa lagi. ”Lagipula, di mana lagi aku harus menunggu? Cuma di sini, kan?”

Aran ikut tertawa. Ia menyampirkan tasnya di bahu. Tangan kanannya memegang martil, dan tangan kirinya memegang lampu minyak. ”Ya. Cuma di sini. Dan aku akan datang lagi kepadamu.”

”Terima kasih, Aran.” Kali ini suara Ruby terdengar lembut.

”Aku juga, Ruby. Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku, setelah bertahun-tahun. Kau benar-benar sudah membuatku gembira.”

”Aku juga merasa begitu, Aran.”

Aran tersenyum. ”Aku pergi dulu. Dan aku akan kembali.”

”Berhati-hatilah. Aku akan menunggumu.”

Aran mengangguk. Dengan riang ia berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, keluar dari perut gunung. Ia belum tahu siapa Ruby. Ia hanya bisa berharap, sosok itu memang datang untuk memberinya kegembiraan, dan untuk selamanya.

10 Responses to “Batu Delima Terakhir”

  1. 1
    santi Says:

    Cerpen ini terlalu datar menurutku.
    dengan begitu byk dialog dan aku tidak menemukan konflik apapun.
    tapi kamu pintar bercerita. membuat dialog yang begitu panjang.
    sementara aku lebih banyak mendsekripsikan bhkn untuk percakapan sekalipun.
    salam kenal.
    member k.com jg, khan?
    TOP deh….
    .-= santi´s last blog ..BUKU TAMU =-.

  2. 2
    Villam Says:

    salam kenal, santi.
    ini bukan cerpen kok, baru pembuka buat sebuah cerita panjang. versi revisinya juga udah ada, tapi aku simpen. :-)

  3. 3
    heinz Says:

    Banyak dialog memang tapi mengalir. Aran yang pemalu dan suka diolok-olok ternyata begitu pandai bicara ama hantu. Schizofrenia kah?
    Ya, ini jelas bukan cerpen. Jadi wajar sih kalo belum ada konflik. Masih pembukaan. Dan acceptable.

  4. 4
    Villam Says:

    hmm… schizo?
    bisa jadi opsi… :-P

  5. 5
    Bebek Says:

    Iri sama Kak Vill. Padahal cuma banyak dialognya saja, tapi bisa jadi cerita semenarik ini.

  6. 6
    Villam Says:

    masih banyak kekurangan kok.
    thanks udah baca. :-)

  7. 7
    Bebek Says:

    Menurut Kakak sih mungkin memang ada, tapi menurut saya pas. *amatir lagi bicara*

  8. 8
    Villam Says:

    wah gue juga masih amatir… hehe…

  9. 9
    Bebek Says:

    Walaupun bilang begitu, saya gak percaya.

  10. 10
    Villam Says:

    iya deh gue percaya. (lho?)

Leave a Reply