jrrt-logoSeandainya beliau masih hidup…

Oke, jadi begini kasusnya. Dalam fiksi fantasi seringkali kita menemukan sebuah cerita atau novel yang dimulai dengan prolog atau bab pembuka yang isinya menjelaskan panjang lebar tentang dunia-dunia rekaan, hingga sampai belasan halaman. Bahkan Tolkien pun melakukan hal semacam ini di ‘Fellowship of The Rings’, saat bercerita soal dunia Hobbit di prolog.

Apakah itu salah? Berani-beraninya saya menyalahkan Tolkien; memangnya saya ini siapa? Hahahah… Tapi apa boleh buat. Dengan keyakinan bahwa belagu tidak dilarang di sini, maka ya, menurut saya itu cara memulai cerita yang sangat salah, karena walaupun sebagai penulis kita merasa harus menulis itu di depan untuk memberi penjelasan pada pembaca, sebagai pembaca saya menemukan bahwa itu adalah awalan cerita yang membosankan.

Karena, boro-boro saya akan membaca backstory semacam itu, saya lebih memilih untuk melewatkannya dan langsung masuk ke bab satu. Untuk apa? Untuk mencari masalah. Lalu bagaimana jika nanti saya selaku pembaca kebingungan dengan dunia rekaan tokohnya gara-gara saya tidak membaca prolog itu?

Yeah, saya berharap bisa langsung menemukan jawabannya via sang tokoh langsung melalui interaksinya dengan masalah dan dunia di sekitarnya. Jika saya gagal menemukan jawabannya dalam cerita, saya akan menyalahkan sang penulis, karena tidak bisa atau tidak mau membuat itu. Hahahah… Dan sebaliknya, sebagai penulis, jika saya juga gagal menjelaskan dunia rekaan saya langsung melalui jalannya cerita, maka silakan juga pembaca menyalahkan saya. As simple as that.

Btw, tentu saja saya sangat mengagumi Tolkien. Saya mengagumi kisah ‘The Lords of The Rings’ secara keseluruhan, juga mengagumi totalitas beliau dalam membuat dunia rekaannya, dan juga yang paling utama adalah pengaruh karyanya di dunia fiksi fantasi di dunia kita ini. Namun saya bertanya-tanya, jika seandainya beliau hidup di masa sekarang di mana nama ‘Tolkien’ sama sekali belum dikenal, kemudian beliau mengajukan naskah ‘Fellowship of The Rings’ kepada penerbit, apakah sang editor bakal mau menerimanya?

Jika yang dikirim hanya naskah buku pertama tersebut, mungkin tidak.  Karena dengan melihat standar novel-novel fantasi baru yang muncul pada dua dekade terakhir, dan kebencian rata-rata editor di sana saat ini begitu melihat backstory dan deskripsi yang bertele-tele, saya yakin pasti sang editor akan meminta beliau untuk memotong prolognya, bahkan memotong juga separuh dari kisah perjalanan Frodo dan kawan-kawan sebelum dia sampai ke Rivendell, yang memakan lebih dari seratus halaman itu.

Saya berlebihan? Mungkin…

Para fans Tolkien mungkin akan berkata, “Who do you think you are?!”

Tapi sebagai pengagum Tolkien, tidak ada salahnya kan saya mengritik beliau di satu atau dua titik? Jika beliau masih hidup, saya berharap bisa menyampaikan kritik ini langsung padanya, dan saya yakin beliau pasti akan senang. Dan sebaliknya, saya juga berharap, semoga beliau juga bersedia mengritik naskah fiksi fantasi saya, membantainya jika perlu. Heheheh…

Tentu jika beliau bisa berbahasa Indonesia. Gyahahahah…

Sebagai penutup, inilah salah satu ucapan Tolkien di tahun 1939. Maka mungkin kita akan tahu alasan-alasan kenapa beliau menulis kisah-kisah fantasinya seperti itu.

In human art Fantasy is a thing best left to words, to true literature. [...] Drama is naturally hostile to Fantasy. Fantasy, even of the simplest kind, hardly ever succeeds in Drama, when that is presented as it should be, visibly and audibly acted.

39 Responses to “Kritik Buat Tolkien”

  1. 1
    Mantoel Toeink Says:

    Wawawa, bener juga sih poin-poin yg dijabarin di sini. Editor pasti udah mengernyit duluan disuguhin penjelasan dunia di awal buku gitu. Beda masa, beda trend yah.

    Hehe.

    Mantoel Toeink’s last blog post..Syukur deh …

  2. 2
    Safety Stock Says:

    “Who do you think you are?!”

  3. 3
    akina Says:

    Iyes ntu…
    bener banget

    Pas di sodorin buku LOTR dari awal,, bikin kepala senut2
    24 halaman dibaca trz akhirnya dibalikin lagi sama Kina
    hahahahaha~
    sedihnya

    Skrg Kina malah sibuk cari2 lagi T,T

  4. 4
    Feline Says:

    Hahaha, saya setuju tuh buat prolognya. Memang sangat membosankan. Tapi untuk isinya keren. Sayang sekali padahal Tolkien sangat mahir dalam hal… apa ya, kayak yang di The Hobbit itu pas pertemuan Bilbo dan para kurcaci. Bacanya hidup sekali.

    Aku lebih suka yang the Hobbit, lebih ada humornya :D
    Kalau menurutku The Lord of the Ring cuma terlalu lambat saja alurnya. Jadi belang-belang. Di satu part menarik, di lain part membosankan.

  5. 5
    Villam Says:

    @juun, sangat benar. beda masa, beda trend, beda selera.

    @ren, yeah… ‘I’m the pain in the ass’…

    @kina, coba aja baca lagi. pengalaman kedua mungkin lebih menyenangkan. heheh…

    @feline, sebenernya tolkien bagus kok dalam membuat adegannya hidup, keliatan di dialog-dialognya. cuman narasi journeynya yang menurutku terlalu berlebihan, sampe mereka lagi ngapain hari demi hari aja diceritain semua, padahal sama sekali gak ada kejadian yang bener-bener penting buat plot di hari-hari tersebut.

    apa supaya pembaca lelah yak, sehingga efek perjalanan melelahkan yang dirasakan para tokohnya dirasakan juga oleh pembaca? heheh…

  6. 6
    Ndyw Says:

    ternyata perasaan kita sama
    sampe sekarang aq belum kelar baca buku pertama
    dan sama sekali belum berencana membaca lagi…
    (bahkan di simpan di paling sudut rak buku heheh saking ga penah di baca lagi)
    soalnya gara2 itu kayanya ya
    hehehhe
    tapi gara2 beliau aq mengagumi cerita fantasy juga
    hehhehe

  7. 7
    Mantoel Toeink Says:

    Wah, bener juga yah. Gw malah gak pernah kepikiran penulis mungkin dengan sengaja membuat pembacanya bosan supaya mereka benar2 merasakan kelelahan yg dialami oleh karakter cerita pada saat itu.

    Hehe.

    Mantoel Toeink’s last blog post..Syukur deh …

  8. 8
    dejongstebroer Says:

    Meskipun aku tolkienmania, aku juga malez baca LOTR karena terlalu bertele2. Idenya sh bgs tp eksekusinya krg menarik, aku lbh ngeh pas ntn filmnya. Perjalanan frodo dkk terlalu panjang dan lama (katanya sh memakan waktu tahunan) dan hal2 yg krg penting seperti menyanyi yodel2, berkunjung ke rumah Tom Bombadil diceritakan. Sempet2nya frodo dkk bernyanyi2 ditengah kejaran para nazgul ya?
    Kalo aku jd frodo aq lbh sering berdoa meminta kekuatan kpd Eru Iluvatar drp beryodel2 yg gk penting..

  9. 9
    dejongstebroer Says:

    Tolkien jg tampaknya melupakan bbrp konsep Silmarilion di dlm LoTR. Jika silma didesain sbg prekuel LOTR, knp tdk diceritakan konsep belief systemnya. Setidaknya hrs ada satu ato bbrp scene ttg ritual (doa/ibadah) kpd Eru ato Valar, tdk pernah diceritakan ttg keberadaan Valar di LOTR. Jd seolah2 silma dan LOTR krg sinkron..

  10. 10
    Serpentwitch Says:

    Semua yg perlu dikatakan sudah dikatakan ^^.

    Jdnya komentarin gbrnya aja de. Gw baru liat ada kanji Jrr.T gt wkwkwk. Unik aja inisial namanya bisa jd gt hehe.

  11. 11
    Bloodsin Says:

    hahahah, setuju sama jeng peline, the hobbit lebih enak dibaca dibanding LOTR mah

  12. 12
    ubr Says:

    Lotr ak lihat filmnya dulu sih, sedangkan novelnya belakangan tp gak sampai selesai. Ak sepihak dg feline soal pengoloran cerita dan dejong soal nyanyi2. Kapan aksinya? (Pertanyaan yg juga muncul waktu baca api di bukit menoreh).
    Mungkin itu semua gara2 apa yg ak nikmati (game, manga, film dan bacaan tentunya) kebanyakan beralur cepat, tanpa basa-basi dan sedikit2 gabruk2 sana-sini :)

  13. 13
    Villam Says:

    @ndyw, yah kasian tuh buku nganggur di lemari… heheh…

    @mantoel, hahahahah… tapi gilak aja kalo ada penulis yang benar-benar berniat seperti itu.

    @dejong, gue malah lebih antusias jika nantinya ada yang berminat membuat prekuel LOTR, tapi ceritanya bukan tentang batu2 Silmaril, melainkan tentang kisah tenggelamnya negeri Numenor (tanah asal muasal Elendil-Isildur-Aragorn) tiga ribu tahun sebelum kisah LOTR. bakal jadi film yang benar2 menarik, gue yakin.

    @serpent, nah mari kita bikin logo nama kita juga yuk. heheh…

    @blood, nah… gue belon baca the hobbit sih…

    @ubr, intinya peter jackson memang telah berpikir masak2 saat membuat filmnya. memotong adegan2 yang tak perlu, dan menambahkan yg sebelumnya gak ada di buku. itulah yang membuat adaptasinya berhasil.

  14. 14
    dejongstebroer Says:

    @ vilam: bukannya Akkalabeth (kisah tenggelamnya Numenor) udah jadi bagian dari buku Silmarillion?
    Bgs jg sh kalo Akkalabeth dibikinin filmnya. Tp aq lbh pgn liat penampilan para Valar di film: kisah two trees of Valinor, kisah Melkor mecahin lampu, dsb

  15. 15
    dejongstebroer Says:

    Tapi sayang di film LOTR, peran Glorfindel dihilangkan. Padahal keberadaannya penting bgt di cerita, lbh penting drpd raja Celeborn (suami Galadriel) yg malah ditampilin di film – di mana Celeborn tampil tanpa dialog -
    Oops! Kok malah kritik filmnya seh..

  16. 16
    zetamari Says:

    Jangankan baca bukunya.. Waktu nonton filmnya aja gw ketiduran di bioskop.. Hahaha… Saking membosankannya.. Sama sekali gw gak ada niat baca bukunya.. Secara di film itu aja pastikan udah banyak adegan yang dipotong.. Segitu aja udah bikin gw ketiduran gimana gw baca bukunya?? Gw jadiin bantal kali.. Hehe..
    Tapi menurut gw, film LOTR yang paling oke yang ketiga tuh apa judulnya.. The Return of The King.. Kalo itu gw melek dari awal sampe akhir..

  17. 17
    dejongstebroer Says:

    @ zeta: gak juga. Justru film lotr yg pertama seru krn nuansa ketegangannya dapet pas frodo dikejar2 para nazgul. Sekuel kedua malah lbh seru krn ada perang kolosal di Helm’s Deep.. Coba dh tonton lagi yg pertama n kedua, pasti kamu gk ngantuk lg..
    Back to the novel: aq pnya novel Lotr aja cm takbaca bagian appendixnya (di buku ketiga). Disitu ada byk pengetahuan ttg sejarah middle earth, sejarah bangsa elves, raja2 keturunan Isildur, dll.
    Keren deh pokoke..
    Gk perlu baca storinya krn paling gk jauh beda dari filmnya..

  18. 18
    Villam Says:

    kenapa glorfindel dihilangkan? karena nantinya akan ada terlalu banyak elf di film yang space berceritanya lebih kecil daripada novel. peter jackson memilih untuk menonjolkan legolas, dengan tidak terlalu melebarkan plotnya.

    oya, dan menonjolkan arwen. dengan cara menggantikan peran glorfindel dengan gadis ini, saat menenggelamkan ringwraiths di sungai.

    soal seru dan ngantuk, ya tentu saja tergantung selera masing-masing. mau dipaksain gimana juga, ya kalo emang gak selera, ya gak bakalan bisa dinikmati. :-)

  19. 19
    Calvin Says:

    eh gw setuju ama opini loe kok, seingat gw dulu pas baca LOTR, gw skip semua prolog tentang dunia-nya yang jelimet. tapi bagaimanapun juga tidak seorangpun penulis fantasi yang bisa terlepas dari pengaruh tolkien. Dia sudah menjadi archetype semua penulis novel di dunia. Sekarang tinggal kita mengakali semua archetype itu.

  20. 20
    Villam Says:

    setuju, calvin.
    ibarat guru, beliau telah memberi contoh. dan para penulis berikutnya adalah murid (termasuk kita-kita ini… caelah… heheh…) yang harus membuat jalan baru… hmmm… yeah, begitulah… :-D

  21. 21
    dyah p.rinni Says:

    Villam, yang aku dengar sih Tolkien termasuk penulis yang gak bisa (atau nggak mau?) dikritik. Itu karena sebagai penulis, Tolkien termasuk tipe perfeksionis. Lagipula dia nulis LOTR 12 tahun (gile.. itu males atau saking hati-hatinya?)

    Selain itu konon kabarnya editornya dah jiper duluan berhadapan dengan profesor linguistik. that’s what I heard. :D mungkin sih dalam hatinya, si editor berpikiran sama dengan loe. tapi apa boleh buat, profesor, bo!

  22. 22
    dyah p.rinni Says:

    ah… here’s the link ^_^

    While everything that he has touched is considered brilliant (and rightfully so), J.R.R. Tolkien had his editors scared to suggest any changes. The fact that he was a linguistics professor at Oxford had a lot to do with it. Of course, he had less luck with publishers; for instance, he intended Lord of the Rings to be a single volume.

    http://tvtropes.org/pmwiki/pmwiki.php/Main/ProtectionFromEditors

  23. 23
    Villam Says:

    hohoho… i see…
    berarti memang beliau berhasil meyakinkan editor untuk menerbitkan LOTR sesuai dengan keinginannya. bagusnya (dan untungnya) pada jaman itu para pembaca pun tidak bermasalah dengan alur lambat di buku pertamanya, jadinya novel itu akhirnya bisa sukses secara keseluruhan yak.

    btw, mungkin ada sedikit pelajaran yang bisa diambil. barangkali kita mesti jadi profesor yang ditakuti dulu sebelum mencoba menerbitkan naskah kita? heheheheh…

    hmm… adanya sih justru jadi selebriti terkenal dulu supaya ‘marketable’…
    ups… becanda… :-D

  24. 24
    zetamari Says:

    Hehe iya ya.. Kalo yang pertama emang lumayan seru.. Gw ketiduran waktu nonton sekuel yang kedua.. Tuh film kan 3jam.. Nah satu jam melek,, satu jam teler abis boring ngomong mulu,, satu jam terakhir baru berasa serunya,, tapi gw yang bingung gitu kok tiba2 perang?? :D Sep dah ntar gw cari filmnya n nonton lagi.. Terutama pada bagian gw ketiduran itu..

    Lama aja ya nulis 12 tahun.. Gak bosen apa itu??

    Nah itu dia kali ya yg bikin gw bosen,, alurnya lambat.. Kembali pada selera masing-masing..

    Enakan jadi selebriti aja ah gak pake sekolah,, kalo jadi profesor bisa putih duluan rambut gw baru bisa terbitin novel..

    zetamari’s last blog post..Taman Wisata Matahari

  25. 25
    Villam Says:

    hahah… oke… mari menjadi selebriti…
    gemparkan dunia infotainment…

    btw, 12 tahun itu tergolong biasa-biasa saja buat para penulis fantasi. ada banyak penulis fantasi veteran di luar sono yang menghabiskan waktunya lebih dari itu, berhubung cerita2 mereka biasanya juga panjang berjilid-jilid.

  26. 26
    sakurazaki90 Says:

    Setubuh, eh setuju bro :D Prolognya ngebosenin abis, apalagi tulisannya mini2 (kalo soal font mini salah GPU sih ya). Tapi biar font digedein jadi point 15, tetep aja ga merubah kebosenan, malah jadi makin panjang tuh prolog >.< Entah Tolkien aja ato smua penulis jaman itu suka pake prolog semacam itu?

    Ng… Halaman-halaman awal bab 1 juga masih ngebosenin. Penjelasan Bilbo si panjang umur, Shire yang damai-adem-ayem, tanpa something yang ‘menggelitik’. Dan yep, sperti yg Villam bilang, kemungkinan besar bakal ditolak penerbit kalo Tolkien hidup di zaman ini.

    Tapi gw naksir filmnya. Adegan perangnya seru abis :D Apalagi yg di The Return of the King.

  27. 27
    Villam Says:

    atau bisa jadi, pada jaman itu, gaya tolkien yang seperti itu justru unik dan menarik perhatian. gue kudu riset dan baca-baca lebih banyak untuk bisa mengambil kesimpulan lebih.

    kalo soal filmnya sih, gue juga gak ada keluhan. :-D

  28. 28
    dejongstebroer Says:

    Iya tuh scene pesta ultahnya bilbo jg bikin malez, gk penting bgt gtu disebutin nama2 hobbit yg jd tamunya – terlalu detil gtu!
    Aq sempet punya pikiran kalo di bab2 awal penulis boleh menceritakan hal2 yg gk penting, yg krg menunjang plot..
    Tp setelah aq nulis novelku sendiri dgn cara seperti itu: lama2 koq jd bosen ya

  29. 29
    Villam Says:

    mungkin cara membaca ‘fellowship’ yang baik adalah di sebuah desa sepi yang indah di tepi sungai, di mana waktu seolah adalah milik kita. niscaya semua detil tidak penting itu bakal tetap terasa indah.
    reading as a process to feed our hearts. just maybe…

  30. 30
    elbintang Says:

    gw pertama kali baca LOTR juga akhirnya melewatkan bagian prolognya. Dan tidak tercecer mengikuti alur ceritanya. Mungkin di masa Tolkien, prolog semacam itu membuat pembaca lebih tertarik untuk mengikutinya.

    Lebih lagi LOTR ditulis setelah The Hobbit, kesan gw bahwa Tolkien ingin pembaca melihat LOTR lebih menjanjikan ceritanya dibanding The Hobbit lewat prolog.

    yew, walau pertama kali gw baca cukup membosankan, pas baca untuk ke 2x (kerna penasaran) ternyata gw benar-benar menyukai irama tulisannya :D

    ha.ha…

  31. 31
    Villam Says:

    sepertinya harus begitu, el.
    kita mesti menemukan iramanya dulu, baru bisa menikmatinya. membiasakan diri supaya tidak membaca semua buku (dan menyamaratakannya) secara instan. memahami apa tujuan penulis menuliskan bukunya dengan cara seperti itu.

    itu bukan kewajiban pembaca, sebenarnya. tapi jika kita melakukannya mungkin kita bisa belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita pahami.

  32. 32
    yosi Says:

    Tapi kalo pengantar tentang dunia rekaan itu cukupp menarik, diriku sih tidak masalah ^^

    yosi’s last blog post..Potret Keluarga di Kota Terpencil

  33. 33
    Villam Says:

    betul, yosi.
    itu bisa menarik, tapi menurutku hanya jika sang penulis punya skill yang mumpuni untuk menceritakan sebuah eksposisi panjang yang membosankan menjadi tidak membosankan.

  34. 34
    yin Says:

    hmmm…. (komentar dari fan tolkien….)

    LoTR bukan trilogi, juga bukan novel
    katanya itu roman, n dimaksudkan buat jadi satu buku, bukan tiga. yg misah jadi 3 itu penerbitnya, soalnya panjang banget (sebelumnya kan dipisah 6)
    jadi kayaknya waktu naskahnya masuk, editornya baca bagian prolog yg panjang itu, dan juga apendiks yg lebih panjang lagi di bagian akhir buku 3

    klo menurut saya backstory yg dikasih di prolog itu kurang banget malah. waktu sampe bagian Council of Elrond masih banyak penjelasan sejarah ini itu yg baru dijelaskan n rada bikin pusing. tapi disitu kerennya, soalnya zaman sekarang ga ada lagi orang yg bikin fantasi dgn setting dunia segila itu (asli niat)
    malah apendiks yg cukup membantu (itu juga masih kurang)

    sayangnya saya g pernah baca Silmarilion (katanya lebih susah dibaca daripada LoTR), udah masuk indo blom tuh buku?

    btw tolkien kan juga punya serian HoME yg sampe berapa buku itu, isinya sejarah middle-earth semua. sayang g masuk indo…

    tapi emang kayaknya cara penulisan cerita kaya gitu udah g trend ya sekarang…

    saya g gitu ngerti sastra sih
    tapi kata temen yg hobi baca sastra klasik, kebanyakan cerita2 jadul emang alurnya gitu (rada lambat, mungkin)
    cuma sekarang aja alur di awal harus sudah menyentak
    katanya dia (saya orang awam, g ngerti ginian hehehe)

    btw ada yg kerasa ga kalo alur endingnya LoTR juga rada ‘aneh’ klo buat novel zaman sekarang
    biasanya kan sekarang abis klimaks langsung kisah penutup yg pendek
    tapi di LoTR klimaksnya di bagian tengah buku 3 (cincin jatuh ke kawah), trus masih ada bagian pembersihan shire yg panjang banget itu (antiklimaks kah?)

    kalo filmnya mah…. mengecewakan… (soalnya saya baca bukunya baru nonton filmnya)
    terlalu banyak hal yg diganti, banyak hal penting yg ilang, banyak hal g penting yg muncul TT

    ah maaf jadi curhatan penggemar tolkien XD

  35. 35
    Villam Says:

    setuju. tolkien dulu tidak meniatkan lotr sbg trilogi. jadi mestinya dia emang ngasih langsung semua bundel-bundel naskah itu ke penerbit.

    apapun, tolkien sudah membuat standar, dan itu adalah standar yang tinggi dan menakjubkan.
    dan satu hal yang kemudian gue pelajari dalam hal ini adalah: miliki keyakinan pada apapun yang kita lakukan (atau kita tulis). jika kita melakukannya dengan sepenuh hati sepenuh jiwa, benar-benar sungguh-sungguh, dan kita betul-betul mencintai itu, pada akhirnya kita akan mencapai hasil yg tidak terbayangkan sebelumnya.

    have faith, be brave, stop whining and complaining, work hard, and make our own standard.

  36. 36
    syd Says:

    Tolkien is the best…

    hm… membaca LOTR rasanya seperti ngebaca buku sejarah aja. seolah kisah dlm novel itu benar2 terjadi di masa lampau.HEBAT! sampai sekarang aku belum menemukan penulis novel yg benar2 “detail” seperti dia.

    tapi waktu- yg katanya sampai 12 thn itu ya?-yg dia sisihkan u/LOTR memang setimpal dgn hasilnya.

    apalagi mengingat jaman dulu belum ada internet kayak skrg, aku mulai bertanya-tanya darimana ya Tolkien mengumpulkan bahan u/ meramu novelnya?

    krn setahuku kisah LOTR sebagian besar dilatarbelakangi o/ legenda/mitos Nordik. mungkin dia menghabiskan 12 thn itu baca buku2 legenda kali ya? WOOW! emang kalo betul2niat. itulah yg kupelajari dan yang membuatku salut pada Beliau. menjadi penulis kunci terbesarnya ialah harus SABAR.

    “karya tulis yang baik lahir dari tangan penulis yang baik pula”

  37. 37
    Villam Says:

    sebenarnya ada sangat banyak penulis fantasi di luar sana yang juga sangat detil dalam membuat sejarah dan cerita latar dunianya. hanya saja emang belon pada diterjemahkan ke indonesia.

    yang menjadi kelebihan Tolkien adalah bahwa dengan karya2 Legendariumnya itu (gak cuman LOTR), dia kemudian menjadi standar yg diikuti oleh penulis2 fantasi berikutnya.

    soal darimana dia mendapatkan bahan atau referensi, tentu saja dari perpustakaan. dan di sana budaya membaca literatur emang kuat jika dibandingkan dg di sini. apalagi karna basic knowledge yg dimiliki oleh Tolkien juga mendukung (dia profesor bahasa dan literatur kuno). sesuatu yg luar biasa buat orang awam bisa jadi adalah hal yang biasa saja buat dia.

    jadi selain sabar, dia juga udah lebih dulu punya cinta dan gairah pada menulis dan pada apa yg dia tulis. itu juga yg harus dimiliki oleh tiap penulis.

  38. 38
    syd Says:

    the price is right! eh,maksudnya that’s right, mas Villam (manggilnya Mas ya?) hehe

    Oops, aku belum ngenalin diri. Aku fantasyacholic jg, asal kota makassar, yg sedari dulu mencari komunitas yg berkecimpung di genre penulisan yg sama (ceile..). Dan akhirnya setelah sekian lama mengutak-atik Om Google, akhirnya kutemukanlah blog ini. ibarat musafir yg menemukan sebuah oase di tengah gurun, aku seneng bgt,nget,nget! sampai2 cuman blog ini (plus blogx Mas Pur @fikfanindo, itu,tuh, yg hebat bgt dgn masukan-baca: kritik pedasx,bwt penulis fantasi lokal) yg senantiasa kubuka kalo lg online.

    Ehehe,, maap Mas kalo aku cerewet,,

    Jadi… mnta ijin ya Mas buat nongkrong di sini,, mudah-mudahan bisa menambah informasi seputar dunia novel fantasi di negara tercinta ini, sekaligus menambah wawasanku mengenai tata cara penulisan kisah fantasi yang baik dan benar.

    slam kenal,

    @syd

  39. 39
    Villam Says:

    salam kenal juga, syd.
    silakan dibuka kulkasnya, dan cari makanan2 yang cocok yang ada di tempat ini. hehehe…

Leave a Reply