Detail of the Ishtar Gate at Babylon

Detail of the Ishtar Gate

The Fall of Babbulkund

by Lord Dunsany

Kataku, “Aku akan bangun sekarang dan melihat Babbulkund, Kota Keajaiban. Dia yang seumur dengan bumi, dengan bintang-bintang sebagai saudarinya. Pharaoh penakluk dari masa silam datang dari Arabia, melihatnya pertama kali sebagai gunung di tengah gurun, sebelum memotongnya menjadi menara-menara jangkung dan lapangan-lapangan luas. Mereka menghancurkan bukit Tuhan, tapi mereka membuat Babbulkund. Dipahat, bukan dibangun,  istana-istananya menyatu dengan lapangan, tanpa sambungan. Dia adalah kecantikan dunia remaja, yang terletak tepat di pusatnya, dengan empat buah gerbang menghadap ke seluruh penjuru negeri. Di depan gerbang timur berdirilah patung dewa raksasa dari batu. Wajahnya tersiram cahaya fajar. Saat pagi kehangatan sinar itu membuat bibirnya merekah, dan dia berkata “Oon Oom”; ucapan dalam bahasa yang kini tak pernah lagi terdengar dan diketahui maknanya. Banyak orang mengira kata-kata tersebut adalah salamnya kepada matahari, sebagaimana layaknya seorang dewa memberi salam pada dewa lainnya. Ada pula yang beranggapan bahwa ia sedang menjelaskan kedatangan hari, dan ada pula yang bilang bahwa itu justru adalah sebuah peringatan. Dan pada gerbang-gerbang lainnya terdapat pula keajaiban yang tak mampu dijelaskan kecuali jika kita melihatnya sendiri.”

Aku mengunjungi tiga orang kawan dan berkata, “Kita adalah apa yang kita lihat dan kita kenal. Jadi mari kita pergi sekarang dan melihat Babbulkund, hingga pikiran kita diperindah olehnya dan jiwa kita dipersuci.”

Maka kami naik kapal dan mengarungi lautan, tak mengingat lagi apa-apa yang telah terjadi di kota-kota yang kami kenal sebelumnya, menjauhkannya jauh-jauh dari benak kami seperti halnya kain bekas yang tak lagi terpakai oleh tubuh, dan memimpikan Babbulkund.

Ketika kami sampai di daratan, kami menyewa sebuah karavan berunta dengan pemandu-pemandu dari Arab, bergerak ke selatan menembus gurun. Dalam tiga hari kami akan mencapai dinding putih Babbulkund. Terik matahari menyengat ubun-ubun, dan panasnya pasir gurun membakar telapak kaki kami.

Saat matahari terbenam kami berhenti dan mengistirahatkan kuda-kuda, sementara orang-orang Arab menurunkan perbekalan dari unta dan menyalakan api unggun, karena saat petang menjelang, panas di padang gurun akan pergi secara tiba-tiba, bagaikan terbangnya seekor burung.

Lalu kami melihat seorang pengelana mendekat dengan untanya dari selatan. Kami berkata padanya, “Mari bergabung bersama kami, karena di tengah gurun semua orang adalah saudara, dan kami akan memberi daging untuk dimakan dan anggur, atau, jika kau diharamkan meminumnya, kami akan memberi minuman lain yang tak dikutuk oleh sang nabi.”

Sang pengelana duduk di samping kami di atas pasir, menyilangkan kakinya dan menjawab, “Dengarlah, aku akan bercerita tentang Babbulkund, Kota Keajaiban. Babbulkund yang tumbuh di antara pertemuan sungai-sungai, di mana Oonrana, Sungai Legenda, mengalir ke Perairan Fabel, bersama arus kuno Plegathanees. Mereka ini, bersama-sama, menyusup melalui gerbang utara dan bergabung, mengalir dalam gelap menuju bukit di mana Nehemoth, sang Pharaoh pertama, mengukir Kota Keajaiban untuk pertama kali. Bersih dan murni mereka mengalir menembus gurun, membawa dan melahirkan kehidupan di Babbulkund pada taman ungu keramat yang kini dinyanyikan di seluruh negeri. Kunang-kunang datang berziarah tiap malam, dan suatu saat, dari kerajaan temaramnya, di mana ia berkuasa bersama matahari, bulan melihat dan jatuh cinta pada Babbulkund, yang diterangi cahaya taman ungunya, dan bulan pun meratapinya, karena kota itu jauh lebih cantik dibanding saudari-saudarinya, para bintang. Bintang-bintang yang cemburu pun mendatangi tempat tidurnya saat malam. Bahkan para dewa membicarakannya. Perhatikanlah, karena aku bisa melihat dari mata kalian yang belum pernah melihat Babbulkund; ada kegelisahan di antara mereka. Perhatikan. Pada taman yang kusebutkan tadi terdapat danau di mana tak ada bandingannya di dunia. Tepiannya terbuat dari kaca, dan juga dasarnya. Di dalamnya ikan-ikan berwarna-warni emas berenang ke sana-kemari. Di sinilah sejak dulu sampai sekarang kedelapan puluh dua Nehemoth turun-temurun datang, ketika petang menjelang, untuk duduk di tengah danau. Pada sekitar jam ini delapan ratus budak menuruni tangga dari gua, tiba di tepian. Empat ratus dari mereka membawa obor berwarna ungu berbaris dari timur ke barat, dan empat ratus yang lainnya membawa obor berwarna hijau berbaris dari barat ke timur. Dua garis saling menyilang saat para budak berjalan berputar dan berputar, sementara di tengah ikan-ikan yang ketakutan bergerak tak tentu arah.”

Namun sampai di sana sang pengelana berkata malam pun semakin larut, sunyi dan dingin. Kami menutup erat tubuh kami dalam selimut dan berbaring di atas pasir di bawah limpahan cahaya saudari-saudari Babbulkund. Dan sepanjang malam itu sang gurun berkata banyak hal, lembut dalam bisikannya, tapi aku tak tahu apa yang ia ucapkan. Hanya pasir yang tahu dan gelisah dan lalu berbaring lagi; dan angin pun tahu. Kemudian, saat malam berlalu, keduanya menemukan jejak langkah yang sebelumnya telah kami buat dan menutupinya seolah apa yang kami lakukan itu telah mengganggu kesucian gurun. Lalu angin kembali berbaring dan pasir beristirahat. Kemudian angin bangun kembali dan pasir menari. Mereka melakukan ini berulang kali. Dan semua itu dilakukan saat sang gurun berbisik padaku apa-apa yang seharusnya aku tahu.

…..

Dan itu baru permulaan. Sampai di sini kemudian saya lelah; tampaknya saya memang tidak berbakat menjadi penerjemah. Hahahahah… Bagi yang berminat membaca lanjutan kisahnya, silakan membongkar-bongkar langsung saja tulisan-tulisan Lord Dunsany di Project Gutenberg.

4 Responses to “Runtuhnya Babbulkund”

  1. 1
    Calvin Says:

    wah… kayanya mantep nih bacaannya. kebetulan gw lagi nyari bacaan yang berhubungan dengan sumeria-babilonia. thanks villam!

  2. 2
    Villam Says:

    as info, proyek novel terbaru gue, Gerbang Sungai Tigris, adalah novel fantasi yang mengambil latar Sumeria. kalo lancar, mudah-mudahan selesai akhir Juni nanti. :-)

  3. 3
    calvin Says:

    asiiik, mantap nih, gw lagi sangat haus akan bacaan mitologi sumeria-babilonia. kabar2in ya kalau udah terbit :D

    calvin’s last blog post..[Book] Wawancara KLA 2008+Novel Fantasi Indonesia

  4. 4
    Villam Says:

    heheheh…
    okay.

Leave a Reply