Apa Itu ‘Cerita’
Posted by: Villam in Tips Menulis, tags: definisi cerita, karakter cerita, plot cerita, storytelling, Tips Menulis
Oke, menyambung beberapa tulisan sebelumnya—terutama yang terkait dengan karakter dan plot—berikut adalah sedikit catatan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘cerita’. Mungkin ini sudah basi, mungkin juga belum. Heheh… Tapi apapun, semoga ini bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan (terutama yang memang berminat untuk membuat sebuah cerita).
Begini, banyak orang yang menyarankan (termasuk saya—menyarankan dan sering juga melakukan ini), jika muncul sebuah ide cerita di kepala, maka segeralah tuliskan semuanya tanpa ragu-ragu. Biarkan semua ide mengalir, biarkan jemarimu menari (halah…), dan … voila! Jadilah apa yang menurut kita sebuah cerita pendek, atau awal dari suatu cerita panjang.
Tidak ada masalah dengan proses menulis cepat semacam itu, justru ini disarankan, karena memang ide-ide harus dikeluarkan secepatnya sebelum hilang tak berbekas. Tapi selanjutnya, benarkah—betapapun menarik dan indahnya jalinan paragraf demi paragraf yang kita tulis (semoga begitu)—itu pantas disebut sebagai sebuah cerita, dan bukannya sekadar potongan diary, kisah perjalanan, potret seseorang/kejadian, rangkuman peristiwa, atau bahkan curhat belaka?
Dan jika itu bukan sebuah cerita, mengapa kita lalu menjual atau memajangnya di ruang publik sebagai ‘cerita pendek’ atau ‘cerita panjang’ atau ‘cerita apapun’? Mengapa kita meminta orang untuk membacanya sebagai sebuah cerita? Dan mengapa kita meminta orang untuk menilainya sebagai sebuah cerita? Apakah karena jawaban kita adalah: ‘ya suka-suka gue dong’?
Hahahahah… yeah, kadang saya suka jawaban semacam itu (dan dengan keras-kepalanya saya juga sering menjawab begitu, seiring dengan ngototnya pula saya bilang bahwa yang saya tulis adalah sebuah cerita—padahal bukan). Tapi mestinya itu bukan hal yang bagus, karena nantinya pembaca pun bisa memperlakukan cerita kita dengan kata-kata yang sama—‘suka-suka gue’—saat mereka membaca dan menilai. Dan kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena jelas itu dimulai dengan kesalahan kita sendiri.
Oke, jadi lupakan jawaban yang tadi, dan mari kita kembali ke topik utama (siapa yang melantur yak? heheh…). Apa itu ‘cerita’. Untuk mengetahui itu ada baiknya kita melihat dulu apa saja elemen-elemen yang seharusnya ada dalam cerita.
Pertama, di dalam cerita haruslah ada karakter utama, dan bukan sekadar karakter, melainkan karakter yang mempunyai masalah, yang sedang menghadapi kesulitan. Karakter-karakter yang punya kehidupan tenang, tidak punya masalah, dan sudah mencapai tujuan-tujuan mereka, bukanlah bahan baku yang bagus buat dijadikan sebuah cerita. Apa yang mau diceritakan dari orang-orang semacam ini? Ya, mungkin ada, tapi apa menariknya itu buat pembaca—selain memuaskan diri kita sendiri?
Kedua, di dalam cerita haruslah timbul pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan masalah utama (atau masalah-masalah utama). Secepat mungkin pembaca harus dibuat mengerti apa yang menjadi masalah dari karakter-karakternya, sehingga dia terus digiring pada pertanyaan-pertanyaan: ‘apa yang akan terjadi pada sang tokoh (atau para tokoh)?’, ‘seperti apa masalahnya bakal terselesaikan?’, dan lain-lain. Semakin menarik dan sulit untuk ditebak kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka semakin menariklah cerita itu untuk dibaca halaman demi halaman.
Ketiga, cerita haruslah dimulai dengan sebuah krisis. Mau cerita pendek ataupun cerita panjang, sebaiknya itu dimulai dengan situasi di mana seorang karakter berada dalam masalah. Secepat mungkin, pada bab pertama, pada halaman pertama, dan lebih bagus lagi pada paragraf pertama. Tujuannya jelas, membuat pembaca secepat mungkin masuk dan merasakan sendiri kesulitan-kesulitan tokohnya, dan bukan hanya merasa sedang membaca atau dibacakan ceritanya oleh sang penulis—‘begini begitu begini begitu begini begitu dan seterusnya’.
Keempat, cerita haruslah diakhiri dengan sebuah resolusi. Jika masalah-masalah diperkenalkan dalam cerita, ya tentu saja haruslah diselesaikan. Tidaklah enak membaca cerita dengan penutup menggantung yang penuh dengan masalah-masalah yang tidak terselesaikan. Jika memang hendak menggantung sesuatu, menggunakan teknik ‘cliffhanger’ misalnya, maka penulis haruslah melakukannya dengan alasan yang sangat kuat. Jangan sampai kemudian timbul anggapan dari pembaca, bahwa sang penulis sebenarnya kebingungan sendiri dengan masalah-masalah yang dibuatnya.
“Nah, jadi begitu, anak-anak,” Pak Guru berkata. “Cerita itu pada hakikatnya adalah sebuah karya fiksi yang berisi perjuangan/usaha sang tokoh dalam menghadapi masalah-masalahnya, dalam urut-urutan adegan yang dimulai dengan sebuah masalah, dan diakhiri dengan resolusi. Sederhana, bukan? Apakah bisa dimengerti?”
“Ya, Pak Guru!” Sebagian anak-anak setuju.
Tapi sebagian yang lain terdiam, dan mulai saling berbisik. Sudah jelas mereka sama sekali tidak setuju dengan definisi dan penjelasan di atas, yang seolah-olah menyamakan begitu saja cerita pendek dan cerita panjang, seolah-olah semua cerita harus seperti itu, seolah-seolah semua cerita harus memiliki setiap elemen tersebut.
Mereka pun ngedumel, “Ngapain juga kita repot-repot membatasi ini dan itu? Menurut gue ini ya ‘cerita’, apa hak elu mengatakan ini bukanlah ‘cerita?!’ It’s my story, not yours! It’s my kind of story, not your kind! Jangan belagu, dong!”
Diam-diam mereka pun menyusun siasat untuk melakukan pemberontakan.
Bagaimana dengan Anda? Setuju atau tidak?
Diskusi dibuka. Tumpahkan unek-unek Anda. Karena bisa jadi pendapat di atas memang salah seratus persen, dan memang harus dibantah. Heheheh…





Entries (RSS)
May 6th, 2009 at 5:41 pm
setuju dech heu…

soalnya situasi yg aq buat sekrg juga gitu
hehehhehehe
tapi klo semua tahapnya gitu strukturenya jadi sama semua dong
heu…
May 6th, 2009 at 5:46 pm
struktur adalah tulang belakang.
seperti halnya manusia, tulang belakang dalam cerita pun sama. yang membuatnya berbeda adalah pola pikir, cara bertindak, ucapan, dan kecantikan masing-masing… halah…
May 7th, 2009 at 12:21 am
Setuju? ya dan tidak.
Sebuah cerita bisa saja tanpa krisis/konflik. Misalnya cerita ‘aku bangun, aku sarapan lalu berangkat sekolah’ bagiku bisa disebut cerita, walaupun plain, hambar, gak berisi, dan tidak menarik…
-
Terus, bagaimana kalau pembaca tak dapat menangkap/mengerti krisis dan resolusi sebuah cerita (bisa saja kan) yang lalu protes “Ini bukan cerita namanya!!!” ?
May 7th, 2009 at 12:06 pm
kalo menurut argumen di atas, cerita tanpa konflik yang elu contohkan itu ya sebenarnya sama sekali bukan cerita, melainkan hanyalah rangkaian kejadian sehari-hari. heheh…
kalo pembaca tidak dapat mengerti krisis dan resolusinya, maka salahkanlah penulisnya. as simple as that. heheheheh…
May 7th, 2009 at 4:08 pm
kalau cerita untuk dibaca diri sendiri, yup…who care about conflict. it’s mine to read.
tapi selama kita pengen ada orang lain yang ngebaca cerita itu, pengen ngejual cerita itu ke penerbit, ya pikirkanlah segala macam aturan dalam kepenulisan itu. (unless you are stephenie meyer)
gimana juga, gue selalu berpendapat, tujuan cerita adalah to entertain (dengan caranya masing-masing). dan cerita tanpa konflik seperti minum teh tanpa tehnya. (lho?)
May 7th, 2009 at 4:10 pm
anyway, cute cat as always, villam
May 7th, 2009 at 4:44 pm
oia ada yang aq tanyain nih…
kan banyak tuh cerita fantasy yang inti ceritanya
nyari benda keramat… ketemu monster…. nyelamatin dunia…
klise ga yah???
May 7th, 2009 at 5:16 pm
kekekekek…
minum teh tanpa tehnya. ungkapan yang bagus, dyah.
ujung-ujungnya kamu pasti nusuk stephanie meyer dah… hahahah…
ndyw, ya, itu klise.
seperti yang tercantum di daftar ini:
http://www.rdvillam.com/2008/12/daftar-klise-fiksi-fantasi/
tapi bakal tetap menghibur jika di dalamnya ditambahin banyak hal unik dan penuh dengan kejutan. tugas kita adalah mencari yang unik dan mengejutkan ini, bukan mengkhawatirkan klise atau tidaknya. don’t worry.
May 8th, 2009 at 4:40 pm
hehehhe

untunglah
soalnya yg verdant kayak gitu
hehehheheheh
(bisa bernafas lega)
May 8th, 2009 at 5:15 pm
heheheh…
tentu saja kita harus terus bernapas dengan lega, itu adalah rasa syukur kita buat yang telah memberi kita napas.
tapi masalah tidak selesai sampai di sana yak. klise atau tidak klise itu hanya sebagian kecil masalah.
btw, verdant sudah selesai?
May 9th, 2009 at 7:47 am
menurut gw tidak semua cerita harus memiliki konflik.. tergantung dari apa yang diceritakan.. kalo mau menceritakan sebuah kisah ya pastinya harus ada konflik.. tapi kalo hanya menjabarkan sebuah runtutan peristiwa jadinya laporan donk,, kayak wartawan ajah.. hehe.. jadi inget waktu SD dulu dikasih tugas bikin karangan mengenai liburan,, itu cerita tapi gak ada konfliknya..
jadi pendapat gw,, ada atau tidaknya konflik dalam cerita itu tergantung dari tujuan dibuatnya cerita itu.. hanya sekedar curhat dan berbagi,, atau untuk menghibur.. kalo tujuannya untuk bacaan publik ya sebaiknya yang menghibur.. tapi kalo hanya untuk bacaan sendiri dan komunitas ya suka-suka aja..
zetamari’s last blog post..Akhirnya Aku Keluar Juga Dari Labirin Rahasia Meede
May 10th, 2009 at 1:53 pm
Aku setuju. Untuk disebut cerita, menurutku pribadi ada 4 hal yang mutlak ada : karakter, plot, awal dan ending.
yosi’s last blog post..Potret Keluarga di Kota Terpencil
May 10th, 2009 at 9:58 pm
heheheh…
jadi apa yang dimaksud sbg ‘cerita’ untuk diri kita pribadi dan untuk publik akan berbeda ya?
May 11th, 2009 at 6:26 pm
aku setuju sama yang diatas…
setuju sekali
*sigh…
cuma dalam realisasinya,, diriku tidak menerapkan hal itu..
hahaha(ktawa pahit)
May 12th, 2009 at 12:06 pm
realisasi itu proses belajar.
you’ll learn something.