xiaoqiaoAgak memalukan memang, baru semalam saya menonton Red Cliff 2, tiga bulan setelah film itu diluncurkan! Hahahahah… Yeah, saya punya banyak alasan kenapa saya baru menonton (percayalah, saya paling jago membuat-buat alasan). Tapi itu tidak penting, lebih bermanfaat saya ceritakan saja kesan saya setelah menonton ini.

Semalam saya menyetel DVD dengan hati gembira (halah…), tidak merasa bersalah karena tidak menulis, karena toh sampai 12 hari di bulan Mei ini saya sudah berhasil menulis 7200 kata alias 600 kata per hari untuk proyek GST saya, melebihi target di awal bulan. Saya menonton sampai tengah malam, tersenyum, dan kini saya menuliskannya untuk Anda.

Oh ya, sebelumnya, tulisan dan diskusi mengenai film Red Cliff 1 dapat dilihat di sini:

http://www.rdvillam.com/2008/10/red-cliff-the-movie/

Di sana sudah dibahas betapa banyak perbedaan plot yang muncul dalam kedua film Red Cliff dibandingkan dengan novel ‘Romance of Three Kingdoms’ karya Lo Guanzhong. John Woo, sang sutradara, tidak mengambil novel tersebut sebagai dasar adaptasi, melainkan menggunakan catatan sejarah lainnya yang lebih kuno: ‘Chronicles of Three Kingdoms’. Tapi itu alasan dia ya, kalau menurut saya tetap saja ini adalah adaptasi bebas yang ditujukan untuk menghibur masyarakat modern penikmat film. Jadi alih-alih menjadi sebuah karya sejarah yang kaku, yang muncul kemudian adalah sebuah epik yang bersifat personal, atau malah ‘personalisasi perang’, sesuai selera sang pembuat film.

Saya punya kesan mendua begitu menonton film ini, antara puas dan kecewa. Puas karena akhirnya bisa menonton sebuah epik kolosal dari tanah Asia yang dalam beberapa hal bisa disejajarkan dengan film-film serupa dari barat (dan juga puas karena beberapa hal yang akan saya sebutkan di ujung tulisan ini nanti), namun kecewa karena sebagai penggemar cerita Kisah Tiga Negara, saya ternyata punya ekspektasi yang lebih besar. Jadi ya, di sini akan menggerutu lebih dulu.

Pertama, saya berharap mestinya film ini bisa lebih megah. Kita bicara tentang pertempuran yang seharusnya melibatkan lebih dari sejuta prajurit, dan juga ratusan ribuan kuda dan kapal perang. Kenyataannya, adegan kapal-kapal di sungai masih kalah megah dibandingkan kapal-kapal yang berlayar di film Troy, misalnya. Demikian juga adegan pengumpulan prajurit dan pertempurannya, kurang memukau.

Mereduksi perang raksasa tersebut dan menggantikannya dengan adegan pertempuran pribadi para jendral dalam arena medan laga yang sempit, walaupun di satu sisi menarik buat ditonton, terasa tidak masuk akal dan membuat perang jadi terasa kecil dan hambar. Sederhananya, karena saya tidak bisa melihat yang ribuan-ribuan tersebut—hanya ratusan paling banyak—saya tidak puas. Memang sih, pada akhirnya ini adalah film yang hanya punya durasi terbatas; tidak mungkin semua yang besar-besar itu ditampilkan, namun tetap saja, soal kemegahan ini mestinya bisa lebih ditampilkan secara visual.

Kedua, saya berharap ada lebih banyak gagasan-gagasan besar mengenai negara dan rakyat yang ditampilkan, sebagaimana novelnya. Namun alih-alih menjelaskan alasan kenapa Cao Cao menyerang ke selatan, misalnya, yang ditonjolkan kemudian adalah betapa mudahnya ia tergoda oleh wanita. Bahkan pertempuran pun kemudian diselesaikan melalui cara personal terkait wanita tersebut (tapi di bawah nanti akan saya sampaikan kenapa saya tidak terlalu keberatan dengan hal ini. Heheh…).

Lalu alasan-alasan kenapa Zhou Yu, Zhuge Liang, Sun Quan, Liu Bei bertempur, juga hanya muncul dalam fragmen-fragmen kecil. Namun bisa dipahami juga, penjelasan tentang alasan-alasan filosofis tersebut memang bakal membosankan buat kebanyakan penikmat film, tidak terlalu menarik untuk dilihat secara visual. Jadi akhirnya ini bukan masalah besar buat saya.

Ketiga, terkait dengan keinginan sang pembuat film untuk membuat film epik kolosal yang cenderung personal, saya merasa karakterisasinya justru menjadi tanggung. Aslinya Kisah Tiga Negara memang cerita yang berisi beratus karakter, dan jika hendak menampilkan mereka maka filmnya haruslah sangat-sangat panjang. Nah, dalam durasi film yang singkat ini John Woo tetap berusaha menampilkan semua karakter-karakter penting tersebut. Semua diberikan porsi untuk tampil bertarung sendiri-sendiri, yang akibatnya, menurut saya malah menjadi titik lemah. Paling malang menurut saya adalah nasib tiga tokoh besar yang saling bersaudara: Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei. Mereka akhirnya benar-benar cuman jadi tempelan, namun tetap saja mereka kemudian coba dipaksakan masuk lagi pada pertempuran akhir, yang menurut saya, sebenarnya kehadiran mereka tidak perlu sama sekali.

Daripada hanya tampil seremeh itu, mendingan mereka tidak usah tampil sama sekali. Lebih baik fokuskan saja ceritanya di seputar Zhou Yu, Zhuge Liang (keduanya sebagai protagonis), Cao Cao (antagonis), dan tokoh yang satu lagi itu (yang sangat menarik. Heheh…). Di level berikutnya, berikan porsi pada Sun Shangxiang (sebagai penyegar) dan Zhao Yun (sebagai sang jagoan tempur). Tokoh-tokoh lain boleh muncul, tapi sepintas saja. Enam karakter utama mestinya sudah cukup banyak di film sesingkat ini. Masalahnya, plot cerita tentunya akan berbeda jauh dari kisah aslinya nanti. Tapi kepalang basah, John Woo sudah nekat membuat ending cerita yang membuat kening berkerut, kenapa tidak sekalian saja membuat cerita yang berbeda sejak awal? Heheh…

John Woo pun berkata demi mendengar ini, “Who do you think you are?”

Hahahah… take it easy, man, ini kan cuman gerutuan dari saya.

Okay, cukuplah gerutuannya. Waktunya saya menyampaikan apa yang membuat saya terkesan pada film ini. Yang indah-indah.

Pertama, saya suka penampilan Tony Leung dan Takeshi Kaneshiro sebagai Zhou Yu dan Zhuge Liang. Pas. Tapi porsi yang lebih banyak buat mereka saya rasa bakal membuat karakter mereka lebih berkesan lagi buat penonton.

Kedua, saya suka dengan adegan memanah jerami ke kapal, dan juga adegan pembakaran armada. Lha ya memang ini adegan yang ditunggu-tunggu. Cuma seperti saya bilang sebelumnya, saya memang berharap sesuatu yang lebih besar. Api yang lebih BESAR, misalnya. Hahahah…

Ketiga, saya suka dengan adegan-adegan Sun Shangxiang, mulai dari dia menonton permainan sepak bola di awal, melepas burung putih dan bercanda dengan temannya, sampai ke adegan membuka bajunya saat rapat perang (hmm… heheh…). Banyak yang gak logis dari plot yang menyangkut dia, tapi sebagai penyegar cerita, dia bagus.

Keempat, dan yang paling utama, saya suka penampilan Lin Chiling yang berperan sebagai Xiao Qiao, istri Zhou Yu, yang pergi menemui Cao Cao dan mengoyak-ngoyak rencana perangnya. Hahahah… What a lovely lady. Tidak pernah puas saya memandangi wajahnya; saya ingin lebih (halah…). But seriously, dengan sosok angelic seperti itu, ya pantaslah kalau dia mau direbut oleh Cao Cao (betapapun absurdnya itu). Dia pantas, itu saja. Buat yang belum menonton, lihatlah, tatap dia.

Gyahahahahah!

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

14 Responses to “Red Cliff 2”

  1. 1
    akina Says:

    ahhh,, ROmance of the three kingdoms.. >,<
    memang keren,,
    katanya peradaban ini mrpkn peradaban ke 9 yg dicari dari 10 peradaban kuno dunia..
    kerennya XD~

  2. 2
    Villam Says:

    he… aku malah gak ngerti itu, akina.
    emang 10 peradaban kuno yang dimaksud itu apa aja?

  3. 3
    ubr Says:

    Kurang lebih apa yang kurasakan semuanya sudah dijelaskan diatas :D .
    Memang tidak sebagus yang diharapkan tapi paling tidak Asia sudah bisa unjuk gigi lagi setelah dua filmnya Stephen Chow. Semoga akan ada film semi sekuelnya yang menyoroti dua pihak yang tersisa.
    Kalau Indonesia bikin film perang materinya apa ya? Gajah Mada? perang kemerdekaan? … atau malah kisah pertempuran di laut Aru yang rasanya menarik dijadikan film drama…

  4. 4
    Villam Says:

    kok dua pihak yang tersisa? maksudnya pihak yang mana sama yang mana yak? abis kekalahan di red cliff ini kan justru cao cao berkembang jadi lebih kuat lagi di utara, sementara liu bei dan sun quan lalu malah pecah kongsi dan berperang di selatan.

    soal film kemerdekaan, udah banyak ah dulu. ‘janur kuning’, ‘serangan fajar’, dll. atau yang kamu maksud justru perang semacam jaman diponegoro atau sultan agung? menarik juga sih. tapi kalo eksekusinya masih semacam tampilan di sinetron2 laga indosiar, ya rada males juga buat ditonton. :-P

  5. 5
    serpentwitch Says:

    ya maksudnya film2 kampungan itu diremake jd versi epic kolosal yg minimal setara red cliff gitu hehe… Asal jgn pas adegan perangnya jadinya persis ky lagi kerusuhan massal/tawuran aja, Kl yg ky gt dah keseringan nonton di berita, ga perlu dijadiin movie lagi. ahiahiahia XD

  6. 6
    ubr Says:

    @villam:
    Maksudku film spt rf tapi lebih menyoroti pihak liu bei dan cao cao. Biar lengkap gitu. Kalau cuma rf saja nggak adil krn cao2 jadi terkesan antagonis. Ketiga pihak menurutku gak ada yg putih atau hitam, tapi abu2 (ini yg bikin rotk menarik).

    @serpent:
    Setuju! Asal Jangan sampai berlogika ala sinetron (berbadan seksi, bawaannya blackberry, tapi nyuci bajunya di kali).

  7. 7
    akina Says:

    oh,, salah deh… ternyata ancient china itu peradapan yang dicari k8 dari 10 peradaban kuno
    1. Ancient Mu atau Lemuria
    2. Ancient Atlantis
    3. Rama Empire of India
    4. Osirian Civilization of the Mediteranean
    5. Uiger Civilization of the Gobi Desert
    6. Tiahuanaco
    7. The Mayans
    8. Ancient China
    9. Ancient Ethiopia and Israel
    10. The Aroi Sun Kingdom of Pasific

    kira2 itu ^^

  8. 8
    Villam Says:

    @serpent n ubr,
    kayaknya ujung2nya duit. kalo ada duit banyak, bikin film segede apapun kayaknya gampang-gampang aja. duit banyak juga bisa dipake buat membayar peter jackson. hahahahah…

    kalo mau bikin film ttg rtk lagi, mendingan pas masa-masa awal aja. pas para penguasa itu masih muda-muda. masih ada dong zhuo yang lalim, lu bu yang jagoan, atau sun jian yang keren. kayaknya lebih menarik tuh.

    @akina, wah kamu mengajukan materi yang benar-benar menarik. kamu dapet bahan ini dari buku apa?

  9. 9
    akina Says:

    bukan dari buku kanda..
    dari blog seri misteri dunia.. haha,,
    lumayan juga… surfing internet dan bisa dapet itu walaupun masih berasa bolong2 infonya.. tapi gambarannya lumayan bisa ditangkap :)

  10. 10
    Villam Says:

    hahahah… boleh juga.
    dibandingin info dari wiki, cukup lumayan?

  11. 11
    MaxMax Says:

    Tapi yang menurutku kurang dari Red Cliff itu Zhao Yu dan Zhuge Liang diceritakan sebagai teman. Dalam bayanganku, meskipun mereka bersekutu, tapi tetep ada rasa persaingan diantara mereka berdua.

    Zhuge Liang dan Zhao Yu diceritakan saling mendukung, padahal menurutku akan lebih baik kalau dibuat berusaha saling mengungguli.

  12. 12
    Villam Says:

    sebenarnya persaingan itu cukup ditunjukkan kok. contohnya saat keduanya saling bertaruh.

    jika zhuge liang gagal mendapat anak panah sesuai target, maka kepalanya akan dipenggal. sebaliknya jika zhou yu gagal membuat jendral cai mao (panglima laut cao cao) dipenggal karena dianggap berkhianat, maka kepalanya pun akan dipenggal.

    ya cukuplah, walaupun emang gak banyak sih.

  13. 13
    MaxMax Says:

    oh, taruhan itu?
    bukannya itu karena rasa tanggung jawab Zhuge karena Liu Bei memutuskan untuk menghentikan persekutuan secara sepihak? dan dia kemudian memberi jaminan kepala kalau gagal mendapat 40.000 anak panah dalam sekian hari.

    dan sebagai gantinya, Zhao yu juga menjaminkan kepalanya kalau dia tidak bisa membunuh Cai Mao dalam sekian hari

  14. 14
    Villam Says:

    mmm… tanggung jawab?
    sebenernya sih enggak. itu emang siasat.
    tapi ya, setahu gue di novelnya emang masalahnya lebih kompleks. dan baik zhou yu maupun zhuge liang lebih licik. di film mereka terlihat lebih ‘baik’.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled