Fish_-_reverseSelepas gathering dan membagikan draft naskah The Forgotten Heroes (TFH) dan Gerbang Sungai Tigris (GST) kepada rekan-rekan Pulpen (untuk dibantai), saya lalu membawa kedua naskah tersebut ke meja operasi, dan sekali lagi saya berhasil membuang lebih banyak lemak-lemaknya (mengerat lemak di meja operasi; apakah itu sudah cukup mengerikan? Heheh…).

Hasilnya lumayan. TFH sudah selesai dioperasi dan kembali berkurang 15 halaman, sekarang menjadi 329 halaman. Berarti dibandingkan draft pertamanya dulu, TFH sudah berkurang lebih dari 70 halaman. Sementara GST baru masuk revisi Bab 5, dan sejauh ini sudah berkurang 4 halaman, menjadi 451 halaman. Jika mengikuti formula yang biasa saya pakai: draft kedua = 90% dari draft pertama (alias dari 10 halaman, harus bisa berkurang menjadi 9 halaman), maka targetnya nanti adalah meramping hingga menjadi 410 halaman. Kalau bisa, lebih ramping lagi, menjadi di bawah angka psikologis 400 halaman.

Seperti biasa, prinsip-prinsip mengerat yang saya pakai (di antaranya) adalah sebagai berikut:

  • Membuang adegan, subplot, cerita latar, detil dan tokoh yang tidak dibutuhkan dalam cerita. Ini yang biasanya paling berat, apalagi jika kita sudah telanjur sayang pada semua itu.
  • Membuang paragraf, kalimat dan kata-kata yang bertele-tele dan tidak diperlukan.
  • Menggunakan kalimat sederhana yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga pembaca tidak perlu membaca dua atau tiga kali untuk paham apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan.
  • Berusaha konsisten pada prinsip: paragraf—dan bukan kalimat—yang merupakan unit terkecil pada sebuah cerita. Yang paling penting dalam penyampaian pesan adalah keterkaitan kalimat dalam satu paragraf, bukan kalimat-kalimat itu sendiri.
  • Sebisa mungkin menggunakan dialog untuk bercerita dibandingkan dengan narasi, untuk hal-hal yang memang bisa diceritakan melalui dialog (tentunya dialognya pun tidak boleh bertele-tele). Dialog punya efek ilusi yang tidak dimiliki narasi: menghadirkan kekinian atas sesuatu yang sudah terjadi, mempercepat tempo, sekaligus menghidupkan karakter.
  • Menghaluskan narasi dan deskripsi; sebisa mungkin menghilangkan hal-hal yang klise (kelemahan terbesar saya memang di sini: malas menciptakan hal-hal baru yang unik).
  • Menjaga konsistensi latar dan logika cerita. Contoh sederhana: dian k yang menjadi proofreader saya di TFH menemukan bahwa Fabien yang sebelumnya sudah terjatuh pedangnya saat bertarung dengan Anthravai, kenapa kemudian ia menjatuhkan pedangnya tersebut di adegan berikutnya? Hahahah… saya memang tolol.
  • Memperbaiki salah ketik, salah susunan kalimat, salah tanda baca, dan lain-lain yang menyangkut EYD (saya selalu punya target tak boleh ada satu pun kesalahan-kesalahan dasar semacam ini, tapi memang pada kenyataannya selalu saja ada. Menyedihkan…).
  • Dan lain-lain (ini juga salah satu contoh kemalasan saya untuk berpikir. Heheh…)

Tentu saja, untuk beberapa hal prinsip tersebut akan berbeda dengan prinsip penulis lain. Apa yang cocok untuk saya, tidak cocok bagi yang lain. Tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh, karena pada dasarnya setiap penulis punya tujuan, gaya dan pendekatan masing-masing.

Saya berharap proses revisi tersebut bisa selesai paling lambat minggu depan, sehingga di minggu ketiga Juli 2009 saya sudah bisa bersiap untuk mengirimkannya ke penerbit.

Lalu, apa hubungannya itu semua dengan judul artikel ini?

Mungkin tidak ada. Mungkin saya hanya ingin bercerita. Bercerita adalah hal yang saya suka. Hahahah…

Tapi sebenarnya ada juga hubungannya.

Jadi begini, ‘Seperti yang sudah kamu tahu sebelumnya, Villam’ (ya, saya sedang dalam moda menggurui sekarang. Heheh…), bahwa meminta pendapat dan kritik orang lain terhadap karya kita adalah sesuatu yang sebaiknya kita lakukan. Sederhananya, lebih baik kita dibantai sekarang daripada dibantai nanti saat naskah kita sudah berada di tangan penerbit, atau yang lebih buruk lagi: dibantai oleh pembaca saat buku kita sudah terbit. Jika buku sudah terbit, itu seperti batu yang sudah telanjur dilemparkan (ah, kalimat klise ini. Heheh…). Baik atau buruk, itulah adanya, tak bisa diperbaiki lagi.

Namun seseorang memberi saran, ada beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan sebelum kita memberikan draft naskah kita kepada orang lain untuk dikritisi, yaitu:

  • Pastikan orang tersebut adalah orang yang bisa kita percayai. Mereka memiliki kompetensi (dalam hal bahasa, genre terkait, maupun detil-detil spesifik yang ada dalam cerita kita. Semakin kompeten dan luas wawasan orang tersebut, semakin baik), dan juga mereka punya waktu untuk membaca dan mengritisi. Tentang ini sudah banyak dibahas sebelumnya.
  • Pastikan juga bahwa diri kita pun siap untuk dikritik, baik ataupun buruk. Tidak hanyut oleh pujian, atau runtuh oleh celaan (halah…). Ini juga sudah banyak dibahas.
  • Tapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah, yang satu ini. Cobalah menahan diri, untuk tidak mengirim draft naskah atau hanya potongannya saja (Bab 1, Bab 2, Bab 3 atau selanjutnya), jika naskah keseluruhan cerita kita belum selesai. Nah lho. Padahal biasanya inilah yang sering kita lakukan. Kita baru saja mendapat ide sebuah cerita panjang, menuliskannya sampai Bab 3, misalnya, lalu langsung memberikannya pada orang lain (bahkan publik) untuk meminta tanggapan mereka.

Terlepas dari apa motivasi kita melakukan poin terakhir itu (meminta pendapat atas cerita yang belum selesai; kalau memang untuk menumbuhkan semangat, ya baguslah), ada bahaya yang mengancam di baliknya.

  • Pertama, berhubungan dengan mental. Kita tidak siap menerima kritik terhadap bab-bab awal itu. Jika kritik itu berupa pujian setinggi langit, kita mulai lebih banyak berpikir bagaimana menjadi penulis terkenal daripada berpikir bagaimana menyelesaikan cerita kita. Jika kritik itu berupa celaan sepedas cabe, kita mulai lebih banyak berpikir bahwa kita ini tolol dan tidak punya bakat, daripada berpikir bagaimana menyelesaikan cerita tersebut. Tapi tentu saja, ini terjadi jika kita adalah orang-orang yang lemah secara mental. Heheheh… kita tidak, bukan?
  • Kedua, berhubungan dengan momentum. Alih-alih memanfaatkan energi dan semangat yang timbul di awal untuk ngebut menulis sampai akhir cerita, kita justru terjebak dalam proses-proses revisi yang tak kunjung selesai. Ada kritik, ubah, ada kritik, ubah, tulis maju sedikit, ada kritik lagi, ubah lagi, putar lagi, putar lagi. Akhirnya dalam satu bulan saya cuma bisa menulis satu bab, atau bahkan tidak sama sekali.
  • Yeah, sebenarnya itu memang hanya cerita pengalaman saya, heheh… Pada akhirnya saya tahu itu cara yang salah (atau lebih halusnya: tidak cocok dengan tujuan menulis saya), setidaknya saat ini. Pada proses penulisan GST bulan Mei dan Juni kemarin, akhirnya saya kemudian memilih untuk ngebut menulis terlebih dulu sampai selesai, dan baru revisi menyeluruh sekarang (jadi maaf, Teman-teman yang kemarin menerima draft GST saya, kalau terganggu dengan banyaknya cacat di sana. Heheh…). Semoga cara yang sama pun sukses dilakukan pada proses menulis saya berikutnya.

Namun akhir kata (halah…), sekali lagi, setiap penulis punya tujuan, gaya dan pendekatan masing-masing. Pengetahuan terbaik bukan didapat dari ceramah semacam ini, melainkan dari pengalaman yang dirasakan langsung oleh setiap penulis. Rasakan dan nikmati sendiri keberhasilan dan kegagalan tersebut, yakinlah kita justru bisa lebih banyak belajar dari sana.

Jadi, selamat menulis, dan semoga sukses, Teman-teman.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

28 Responses to “Jangan Biarkan Mereka Membaca Naskahku!”

  1. 1
    Mantoel toeink Says:

    Yaap, benar sekali kalo udah menyangkut ntar terjebak di siklus revisi yg biasanya terjadi kalo ngasihnya gak lsg seluruh naskah dari awal sampe akhir.

    Gw gitu soale. :P Skrg gw ngasih yg bab2an cuma ke org2 tertentu yg emang tipe pembaca gak byk ngasih komentar. Kalo buat ke proofreader, yg kemampuannya lbh berat, komentarnya jg lebih detail, gw kasihnya borongan skrg.

    Hehe.
    Mantoel toeink´s last blog ..Bakal Dituntut? My ComLuv Profile

  2. 2
    Villam Says:

    betul.
    intinya, disarankan, jika kita sedang dalam ‘writing mode’, maka ya menulislah sampai selesai. setelah selesai barulah masuk ke ‘editing mode’.
    tapi ya, hanya sekadar saran… :-)

  3. 3
    dian k Says:

    vil, cobalah untuk tidak membuat alinea lebih dari 10 baris, orang akan cenderung men-skip (hayah, sampe ke artikel di’cela’ juga, sayah adalah proofreader yang terlalu rajin rupanyah haha)

  4. 4
    Villam Says:

    heheheh…
    oke. maksimal 10 baris…

  5. 5
    kajitow Says:

    salam kenal, saya heran dengan cara anda mengatur tulisan dengan demikian pas dan enak.

    banyak sekali cerita sampah saya yang berhenti di tengah jalan. kalau boleh tahu bagaimana caranya menyambung ide cerita sehingga bisa hidup dan berjalan mulus seperti cerita anda ini? biasanya setelah beberapa bab, cerita saya berhenti total. saya hanya bisa memulai tanpa bisa mengakhiri, halah :d

    mohon mau menerima proses add pertemanan saya ini. weleh :d v piss ah kabuuuur

  6. 6
    Villam Says:

    salam kenal, kajitow. :-)

    pertama, saya sarankan jangan pernah sekali-kali menyebut cerita kita sampah, kecuali jika itu benar-benar sampah. heheheh… jika kita saja tidak menghargai cerita yang kita tulis, apalagi orang lain. :-)

    kedua, mengenai bagaimana memulai dan menyelesaikan cerita panjang, bisa juga dibaca di sini:
    http://www.rdvillam.com/2009/02/bagaimana-memulai-menulis-cerita-panjang/
    juga di sini:
    http://www.rdvillam.com/2008/12/resep-menjadi-penulis-sukses/

    intinya, terus belajar, berlatih dan menulis, jangan pernah berhenti. menulis itu adalah soal kerja keras.
    kemudian, fokus dan sediakan waktu khusus setiap hari buat menulis. jika kita sudah terbiasa menulis setiap hari, semuanya akan menjadi lebih mudah.

    mengenai bagaimana supaya cerita kita tidak mentok di jalan, stephen king berpendapat, menulislah tanpa menggunakan plot. tulislah cerita berdasarkan situasi yang terjadi, kenali karakter kita, dan biarkan karakter tersebut membawa ceritanya. dia bilang, jika dia sendiri tidak bisa menebak akhir cerita, apalagi pembaca. cerita tidak bisa ditebak dan itulah yang membuatnya menarik.

    tapi saya pikir kita tidak bisa menerapkannya begitu saja. saya punya pengalaman menulis dengan cara seperti itu, dan di tengah jalan saking ruwetnya cerita, saya lalu kebingungan bagaimana harus menyelesaikannya. sepertinya, karena saya memang tidak sejenius stephen king. hahahah…

    jadi pada akhirnya saya menggunakan cara konvensional, saya berusaha membuat plot yang rapi dari awal sampai akhir. memang tidak terlalu detil dan tetap menyediakan ruang untuk perubahan detil-detilnya nanti, namun paling tidak saya punya arah yang harus saya tuju.

    setelah plot semacam itu jadi, barulah saya kembali menulis. tentu saja membuat plot juga tidak boleh lama-lama, atau energi dan semangat saya untuk menulis keburu memupus. setelah itu, begitu saya masuk ‘writing mode’, ya menulislah terus sampai selesai, berusaha fokus, dan tidak terpengaruh atau terganggu oleh hal-hal lain.

    itu, tentu saja juga, baru akan berhasil jika memang kita punya niat yang kuat buat menulis. jika kita punya gairah, dan tujuan dalam menulis.

    yap, begitulah, ceramah saya hari ini.
    hahahah… semoga tidak muntah…

    sekali lagi, salam kenal. :-)

  7. 7
    ndyw Says:

    wah kajitow dah mulai invasi ke sini ya????
    hoooooo….

  8. 8
    Villam Says:

    invasi…
    ada yang bisa dijarah di sini?
    heheh…

  9. 9
    yosi Says:

    Selalau ada hal baru yang bisa dipelajari dari artikel Villam. Jadi semangat mau nerusin cerita lagi.. ^^
    yosi´s last blog ..Sebuah Dunia Remaja My ComLuv Profile

  10. 10
    Villam Says:

    yuk… mari belajar dan tetap semangat. :-)

  11. 11
    panah hujan Says:

    Saya suka dan sangat setuju dengan point keenam, Kak :)
    panah hujan´s last blog ..* Cerpen – Mimpi-mimpiku yang Selalu Jadi Mimpi-mimpimu My ComLuv Profile

  12. 12
    ndyw Says:

    klo soal mendapatkan pembelajaran sih memang slalu ada di site ini :)
    hanya bisa menyimak :P

  13. 13
    dyah p.rinni Says:

    tapi saya pikir kita tidak bisa menerapkannya begitu saja. saya punya pengalaman menulis dengan cara seperti itu, dan di tengah jalan saking ruwetnya cerita, saya lalu kebingungan bagaimana harus menyelesaikannya.

    hahaha….. gue banget, nih. :p

  14. 14
    Villam Says:

    @panah hujan, pemalas kamu. asal jangan sepemalas saya… heheheh…

    @ndyw, pembelajaran paling bagus biasanya kalo ada perbedaan pendapat. dan lebih bagus lagi kalo kita mempraktekkannya secara langsung. :-)

    @dyah, yeah… kita semua memang bermasalah… hahah…

  15. 15
    zetamari Says:

    Ternyata kita punya pengalaman yang sama.. Menulis tanpa plot.. Hasilnya,, gw keder sendiri..

    Akhirnya berdasarkan pengalaman tersebut,, gw mempunyai motto yang bertentangan dengan Stephen King.. Jangan mulai menulis kalau kita belum tahu keseluruhan cerita kita.. Jangan sampai saat kita menulis terus mandek di tengah2 hanya karena kita gak tahu mau dibawa kemana tuh cerita.. Jadi saran Zeta sebagai penulis amatir,, buatlah plot hingga tuntas tas tas.. Baru setelah itu menulis hingga selesai.. Terakhir di edit deh.. :D

  16. 16
    Villam Says:

    tapi jangan juga terlalu lama berkutat dengan plot dan malah gak mulai-mulai nulisnya. hehe…

  17. 17
    ndyw Says:

    ternyata yang penting itu niat ya untuk menulis sebuah karya
    hehheheheh
    akhirnya setelah dari bulan April mandul, skrg dah berhasil menulis lagi, yaitu gara-gara ikutan perlombaan kolaborasi dirimu dan mbak dian, om
    hehehhe
    :P

  18. 18
    Villam Says:

    yup. mari kita semangat menulis lagi!

  19. 19
    ndyw Says:

    okey,,, mari

  20. 20
    Villam Says:

    btw,
    gue lagi nulis cerita baru lagi, dan seperti dulu saat bikin GST pertama kali, pengen coba pake resep stephen king. tanpa plot, hanya sediakan saja situasinya. liat ke mana para tokoh itu berjalan. heheh…

  21. 21
    ndyw Says:

    wah,,,
    targetnya apa tuh?
    publishing atau just for fun?
    atau mencoba-coba?
    ndyw´s last blog ..CREAMY METHOD My ComLuv Profile

  22. 22
    Villam Says:

    semua cerita panjang yang gue tulis pasti targetnya adalah untuk bisa diterbitkan nanti. :-)
    kalo buat coba-coba, ya paling cerpen aja.

  23. 23
    ndyw Says:

    hebat,,,
    aq ada sih tujuan tuk ngirim juga(cerita yg aq kirim ke km)
    tapi jangankan direvisi
    jadi ajah belum
    so targetku adalah menyelesaikannya hehehe
    ndyw´s last blog ..CREAMY METHOD My ComLuv Profile

  24. 24
    Villam Says:

    itu lebih betul.
    target sekarang adalah selesaiin ajah dulu. soal terbit2an mah urusan belakangan. gak usah dipikirin dulu malah.

  25. 25
    ndyw Says:

    siap komandan
    ndyw´s last blog ..Chocolate Sponge Cake 1 My ComLuv Profile

  26. 26
    Villam Says:

    nah berarti aku tunggu hasilnya akhir bulan ini. hahahah…

  27. 27
    ndyw Says:

    whats,,,
    :o
    gag secepat itu om,,,
    masih kerja praktek aq
    hehehhehehhe
    ndyw´s last blog ..Pumpkin Pie Special Ala Ndyw My ComLuv Profile

  28. 28
    Villam Says:

    ah iya…
    okay.
    kalo urusannya udah soal kuliah emang gak bisa dilawan.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled