Fantasy Fiesta 2009 : Ulasan
Posted by: Villam in Fantasy Fiesta, tags: cerita fantasi, Fantasy Fiesta, ulasan villam
Berikut adalah ulasan saya untuk setiap cerpen yang menjadi peserta pada ajang Fantasy Fiesta 2009. Di sini saya hanya membuat ulasan secara garis besar dan tidak mengritisi secara detil (karena saya percaya masing-masing penulis pasti bisa menemukan sendiri masalah-masalah detilnya, tidak perlu terlalu diberitahu), dan banyak dari ulasan tersebut sifatnya pun subyektif alias ‘menurut saya’. Apapun, saya berharap ini bisa memberi manfaat, tidak hanya bagi penulisnya, tapi juga bagi siapapun yang tertarik pada dunia tulis-menulis, termasuk saya sendiri.
Kepada para pemenang (dapat dilihat di forum kners.com) saya mengucapkan selamat. Kepada semua orang, selamat menikmati seluruh cerita pendek dan ulasan di bawah. Teruslah menulis, jangan pernah berhenti. Maju terus dunia fiksi fantasi Indonesia, dan … semoga sumbangan kecil dari kami selaku penyelenggara Fantasy Fiesta 2009 bisa ikut mewarnai perayaan Hari Kemerdekaan republik kita yang tercinta hari ini.
Terima kasih.
Negeri Mimpi, 17 Agustus 2009
Villam
FREEEEEEDOOOOOOM!
—
2012: The Truth of God karya Codenamekey
Sebuah cerita tentang akhir dunia, yang untuk membuatnya menarik kemudian dikaitkan dengan mitos tahun 2012 dan pemahaman tentang ‘kebenaran’ dan ‘Tuhan’ (dalam perspektif tokohnya). Memang terasa sebagai fantasi, tapi sebenarnya tidak juga, karena toh semua hal fantastis yang menjadi inti cerita itu diceritakan dalam bentuk dialog, yang isinya bisa jadi benar bisa juga tidak. Ekstrimnya, bisa jadi itu hanya sekadar omongan atau bualan dari sang tokoh antagonis, yang belum benar-benar bisa membuat saya percaya.
Dari segi penceritaan, buat saya flashbacknya terlalu banyak. Memutus emosi dan membuat bingung. Saya pikir maju-mundur-maju mestinya cukup, tidak perlu maju-mundur-maju-mundur-maju. Lalu penutupnya, walaupun mengejutkan, tapi rasanya alasan sang tokoh untuk membuat keputusan akhir semacam itu belum cukup kuat, sehingga buat saya sulit diterima. Kalau akhirnya mau seperti itu, harus ada penggalian psikologis yang lebih dalam. Kejutan semata tanpa alasan yang benar-benar kuat, buat saya itu terasa sebagai akhir cerita yang buruk.
—
Digital Master karya Ndyw
Sebuah cerita masa depan berlatar London berflubabi bergaya manga. Unsur fantasinya lumayan banyak dan secara potensial menarik, tapi banyak hal yang dibilang canggih atau jenius pada akhirnya kemudian terlalu disederhanakan dan tidak cocok dengan kecanggihan atau kejeniusan itu (contoh: penemuan ‘jenius’ sang tokoh setelah corat-coret, bahwa para korban semuanya ber-IQ tinggi).
Beberapa kejadian, tindakan atau tingkah laku tokoh-tokohnya juga kurang bisa dipercaya (seperti saat para polisi berpenuh hormat pada sang tokoh walaupun baru saja temannya ditembak mati, atau saat andy menyolok si brian), walaupun adegan pertempurannya cukup seru. Untuk penulisan, masih terdapat beberapa kesalahan menyangkut EYD dan efisiensi. Untuk penceritaan, narasi awal tentang latar cerita agak bertele-tele, bisa lebih diringkas, atau diubah formatnya, disesuaikan dengan sudut pandang yang ingin dipakai.
—
Gotterdammerung karya Adrian Achyar
Sebuah cerita dengan tema yang tampaknya cukup populer di antara para peserta Fantasy Fiesta: tentang akhir dunia, dan untuk tema populer seperti itu, yang membuat satu cerita lebih menarik dibanding cerita lainnya adalah kebaruan apa yang ditawarkan oleh penulisnya, yang sebelumnya terasa asing bagi pembaca atau memang tidak ada. Dalam cerita ini, hal itu adalah xenoarcheology, dan buat saya itulah yang menjadi nilai lebih, walaupun memang, pada akhirnya secara logika ada banyak pertanyaan yang kemudian harus muncul sepanjang cerita. Seperti, seharusnya ada kehidupan, lingkungan dan orang-orang yang lebih kompleks di masa itu, tapi kemudian semua terasa lebih sederhana, dan waktu serta jaman berlalu begitu saja.
Penulisannya sendiri cukup rapi, walau masih terdapat beberapa kesalahan kecil di sana-sini, dan penceritaannya yang dominan narasi juga cukup bagus, walaupun terasa terlalu padat di beberapa tempat. Ketegangan yang dibangun menjelang akhir cukup bagus juga. Sementara di bagian penutup, terus terang deskripsi tentang apa yang sebenarnya terjadi, atau lebih tepatnya apa yang dilihat oleh sang tokoh, kurang jelas, walaupun kalimat penutupnya bagus.
—
Grey karya Rey Khazama
Sebuah cerita yang dibuka dengan gaya ringan perkenalan anak baru di kelas—standar cerita-cerita teenlit—dan yang memang dimaksudkan sebagai cerita fantasi remaja. Pada suatu titik akhirnya diketahui bahwa para tokoh-tokohnya ternyata memiliki kekuatan super, dan satu orang adalah penjahatnya, dan bertempurlah mereka. Tentu saja harus ada bumbu cintanya juga. Plot umum yang sedikit banyak sudah bisa ditebak akhirnya ke mana, sehingga kejutannya pun tidak terlalu terasa. Tapi pastinya akan bisa dinikmati oleh para penggemar cerita remaja.
—
Hari Terakhir karya ewingerwin
Sebuah cerita pertempuran dari awal sampai akhir yang ditulis dengan rapi. Tak ada masalah dalam hal teknis penulisan. Masalahnya adalah—menurut saya pribadi—khusus berbicara mengenai cerita pertempuran, karena ini adalah jenis cerita yang sudah sangat jamak ditemui dalam dunia fiksi fantasi, terus terang saya mempunyai ekspektasi yang lebih tinggi untuk menilai apakah cerita ini lebih baik dibanding cerita-cerita pertempuran fantasi yang biasa.
Permasalahan mendasar di cerita ini adalah saya gagal terikat pada tokoh-tokohnya; saya seperti hanya sedang membaca jalannya pertempuran begini dan begitu. Dan penyebabnya ternyata adalah karena saya merasa bahwa yang paling penting dari sebuah cerita pertempuran mestinya bukanlah pertempuran itu sendiri, melainkan bagaimana saya bisa ikut merasakan apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh para tokohnya.
Saya merasa seharusnya ada motif, hasrat, ambisi, ketakutan, keraguan, kemarahan, resiko, konflik, keputusan, atau yang lainnya (tidak perlu semua, tapi paling tidak ada satu dua hal yang digali). Di sini itu tidak ada, atau tidak terlihat jelas. Sehingga di akhir cerita, setelah segala macam aksi-aksi bantai-membantai itu, yang muncul hanyalah kesan war for nothing, lose for nothing, serta kenaifan dan ketakberdayaan sang tokoh berupa ‘ya begitulah, ini memang tak bisa dilawan’.
Jika memang ‘takdir’ semacam itu yang akhirnya menjadi inti cerita, kenapa baru dikatakan sekarang hal prinsipil tentang ‘kidung’ dan ‘dewa’ yang semestinya sudah sama-sama diketahui sejak awal apa itu dan apa resiko-resikonya, oleh para tokohnya? Jika memang begitu adanya, bukankah valia seharusnya berkata pada avera, “Kenapa kau baru bilang soal ini semua sekarang?! Apa kau memang sengaja menjebak kami semua pada kematian?!”
Sebaliknya, jika hal besar itu belum diketahui (mereka tidak punya catatan sejarah atau petunjuk sama sekali tentang ini), lalu atas dasar apa para tokoh itu bertempur? Apakah mereka tahu apa yang mereka perjuangkan? Apakah mereka tahu apa yang mereka korbankan jika kalah, atau apa yang mereka dapatkan jika menang? Dan cukupkah reaksi mereka sebatas ‘ya begitulah’ begitu tahu bahwa pada akhirnya harapan mereka tidak sesuai dengan kenyataan?
Jadi buat saya, ada sesuatu yang hilang di cerita ini, yang justru penting. Alasan-alasan tokohnya bertindak atau bertingkahlaku. Set-up situasi.
Maka saya berandai, jika saja cerita dibuka dengan isu utama yang nantinya akan dimunculkan lagi di belakang (yang membuat opening ‘matahari itu indah’ juga akan terasa menjadi lebih indah dan bernilai), dan sebelum atau di sela-sela pertempuran (tentunya jangan pula ada dramatisasi berlebihan yang tidak wajar) ada konflik yang dibangun dalam diri seorang tokoh untuk menghadapi isu utama tersebut (tergantung dari sudut pandang siapa yang lebih menarik untuk dipakai: valia yang berani tapi naif atau avera yang tahu banyak tapi ternyata tidak bijak), maka akhir ceritanya, walaupun isinya sama—tak peduli apakah tokohnya kemudian hidup ataupun mati—akan menjadi lebih bisa diterima, paling tidak buat saya.
Tapi memang, itu berarti harus ada bagian cerita yang dipotong di satu tempat, untuk mengakomodir sesuatu yang baru. Dan sekali lagi, di atas saya berbicara mengenai ekspektasi saya. Di luar itu semua, saya tetap mengakui bahwa ini adalah cerita pertempuran yang cukup seru, dan termasuk dalam jajaran cerpen terbaik di antara seluruh peserta Fantasy Fiesta.
—
Hell’s Angels karya Onik
Sebuah cerita fantasi remaja lainnya. Pembukaannya menarik, begitu pula kejutan yang ada di akhir cerita, dan jalinan cerita di tengah sebenarnya juga cukup bagus. Yang membuatnya lemah adalah, karena pada akhirnya digunakan narasi untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tentang dark lord dan kawan-kawannya itu. Itu adalah interupsi yang lumayan mengganggu. Ibaratnya saya sedang asyik menonton film di bioskop, tiba-tiba menjelang usai saya dipanggil keluar dan di sana saya diberikan penjelasan begini begitu tentang latar cerita yang belum dimasukkan di dalam film. Keasyikan saya terputus. Jadi saya percaya mestinya ada cara yang lebih baik untuk mengintegrasikan latar tersebut ke dalam cerita.
—
Kerupuk karya Just Hammam
Sebuah cerita yang dimaksudkan sebagai cerita fantasi-komedi. Resikonya sebuah cerita komedi, itu harus membuat tertawa pembacanya; jika tidak, maka menjadi garing. Penulisannya lumayan rapi, walaupun ada inefisiensi di sana sini. Temponya cukup cepat, tapi ceritanya kemudian melenceng kemana-mana alias tidak fokus, sehingga akhirnya tidak jelas ini sebenarnya cerita tentang kerupuk atau si sangar atau yang lain. Tapi oke, sebagai komedi, ini cukup menghibur.
—
Level A karya Nandiari
Sebuah cerita yang, terus terang belum bisa saya temukan apa intinya sampai lebih dari setengah cerita. Baru setelah lewat setengah jalan, apa yang dimaksud dengan Level A seperti yang tercantum pada judul itu (judul yang sebenarnya sangat menarik) mulai kelihatan maknanya dalam cerita. Jadi, sebagai sebuah cerpen, walaupun temanya menarik, tapi ceritanya memang tidak fokus, bertele-tele banyak bercerita tentang ini dan itu yang tidak langsung sampai ke tujuan. Untunglah, di bagian akhir terdapat sedikit kejutan dengan kalimat penutup yang bagus juga.
—
Menangkap Awan karya Ubr
Sebuah cerita inspiratif tentang perwujudan mimpi, dan walaupun jalan ceritanya sederhana dan lurus-lurus saja namun tema itulah yang membedakannya dengan cerita-cerita lain yang menjadi peserta Fantasy Fiesta yang rata-rata punya tema dark, dan itulah yang membuat cerita ini mempunyai nilai lebih, setidaknya buat saya.
Penulisannya sendiri cukup rapi, walau masih ada inefisiensi di beberapa tempat. Sementara penceritaannya, terus terang agak datar; terlalu banyak dan terlalu cair di beberapa adegan dan terlalu sedikit di tempat yang justru penting. Permasalahannya saya rasa karena cerita ini mencoba bercerita di terlalu banyak adegan. Kalau saja jumlah adegannya lebih sedikit (dengan memilih yang penting-penting saja) namun digali lebih dalam dan focus, pesan yang akan disampaikan mungkin bisa lebih tajam.
—
Pahlawan Farfar karya Someonefromthesky
Sebuah cerita tentang seseorang yang ingin menjadi superhero, yang dibuka dengan narasi artikel, yang sebenarnya kurang provokatif jika itu adalah sebuah artikel surat kabar. Penulisan selanjutnya cukup rapi dan temanya sebenarnya cukup menarik, tapi saya rasa ada inkonsistensi penggunaan sudut pandang (POV) di bagian kedua, yang membuat cerita jadi kehilangan misteri. Menurut saya, jika konsisten pada POV urel, dan ceritanya tidak sampai tergelincir masuk ke dalam kepala amel, maka hasilnya akan lebih baik dan misteri bisa lebih terbangun.
Lalu narasi tentang bagaimana urel akhirnya menjadi ahli pun sebaiknya tidak disampaikan di tengah-tengah kisah pertarungan. Saat pertarungan adalah saat pertarungan; cerita tentang lain-lain sebaiknya letakkanlah di tempat lain. Untuk bagian terakhir, lemahnya adalah seluruh penjelasan kemudian hanya dibeberkan melalui narasi yang lebih terasa sebagai penyingkatan cerita. Untungnya ada kejutan menarik di ujung.
—
Pencari Tukagh karya Super X
Sebuah cerita yang, karena nama-namanya, terasa sebagai fantasi nusantara (dengan sedikit gado-gado berbahan baku impor). Unik sebenarnya, temponya cepat, walaupun terasa terburu-buru di beberapa tempat. Yang membuat saya merasa kurang sreg adalah banyaknya sound effect dan penggunaan kata-kata asing di tengah pertempuran yang mungkin dimaksudkan untuk membuat warna fantasi. Jika hanya satu dua tidaklah masalah, tapi di sini jumlahnya sudah sampai di level yang sangat mengganggu.
Untuk flashback, flashback pertama cukup bagus, tapi untuk flashback kedua yang isinya hanya berupa narasi, tidak bagus sama sekali. Mestinya ada cara lebih baik untuk membuat pesan dalam flashback itu tersampaikan dengan lebih menarik dan terintegrasi dalam cerita. Lalu saat ketika sang tokoh utama akhirnya mati, ya itu mengejutkan, tapi terus terang terasa menyebalkan juga. Emosi yang sebelumnya sudah saya pasang di tokoh utama harus dicabut begitu saja, dan akibatnya saya menjauh dari cerita.
—
Pertama Berputarnya Jam Tersembunyi karya Alfare
Sebuah cerita misteri yang intens dari awal sampai akhir, dan ditulis dengan rapi. Informasi-informasi dibuka dengan sabar di awal, tapi menjadi terburu-buru menjelang akhir, di mana perubahannya terasa terjadi terlalu cepat (saat si gordon akhirnya mengaku-ngaku). Cerita lalu ditutup dengan sebuah adegan yang menyisakan banyak sekali pertanyaan bagi pembaca tentang apa, siapa, kenapa dan bagaimana—yang mungkin butuh penjelasan lebih lanjut, tapi mungkin juga tidak. Mungkin, pada akhirnya misteri seharusnya tetap menjadi misteri? Atau mungkin, jawabannya memang sulit dicari atau memang belum ada?
Saya belum tahu mana yang paling baik, tapi untuk memuaskan pembaca, barangkali beberapa alasan bisa dibuka sedikit. Tentang si patung dan si jam, misalnya, beri sedikit petunjuk. Atau yang lebih penting, kenapa sang elvis presley (si tokoh utama) harus berada di rumah itu, apa alasan khususnya. Apakah di ujung cerita tidak bisa dibuka sedikit? Atau mungkin memang mau dibiarkan dia mati penasaran, dan pembaca ikut mati penasaran? Heheheh… Yeah, sekadar usulan dari saya, yang bisa jadi nanti mungkin salah.
Sedikit catatan, sebagai tambahan juga nantinya (seandainya mau ditambah), jika saja ada lebih banyak unsur fantasi yang bisa membuat cerita ini lebih berbeda dibandingkan cerita misteri di dunia nyata (contoh sederhana: cara kematian fantasi. heheh…), saya yakin ini akan benar-benar menjadi cerita fantasi-misteri yang lebih bagus.
—
Shanditera karya Mailindra
Sebuah cerita yang mengambil formula umum tentang seseorang yang kehilangan ingatan, dan kemudian berlatih dan akhirnya teringat siapa dirinya. Dalam hal penulisan, masih terdapat beberapa kesalahan EYD. Penceritaan dan pemotongan adegannya cukup pas, tapi proses sang tokoh untuk teringat dan berubah menjadi dirinya yang semula terasa terlalu mudah dan terjadi begitu saja. Alasan yang mendasari perubahan-perubahan itu terlalu gampang dan belum cukup bisa diterima. Bagusnya, di akhir cerita ada kejutan menarik.
—
The Freum karya Akatsukileader
Sebuah cerita tentang manusia roh. Dalam hal penulisan masih banyak yang perlu diperbaiki. Pembukaannya sebenarnya menarik, tapi kemudian konfliknya kurang tersaji baik, sudut pandangnya tidak pas, adegan pertempuran akhirnya terburu-buru dan penutupnya datar (bisa jadi itu adalah penutup cerita yang salah, atau mungkin cerita seharusnya ditutup lebih cepat dan adegan penutup yang semacam ‘aku bangga padamu’ itu tidak perlu sama sekali). Sisi baiknya, cerita ini punya konsep yang menarik tentang freum dan dunianya.
—
Titanic 2020 karya Addang13
Sebuah cerita yang sayang judulnya membuat akhir cerita tertebak sejak awal. Penulisannya rapi, dan dalam hal penceritaan semuanya bagus dan baik-baik saja, sampai kemudian tiba di bagian bencana di tengah cerita di mana semua terjadi begitu saja. Tentu saja tangan Tuhan bermain di sini, tapi jadinya kesombongan manusia yang diisukan di awal memang lebih terasa sebagai omong kosong mereka belaka, bukan didasarkan pada analisis-analisis resiko ber-Plan A, Plan B, Plan C dst yang semestinya dimiliki oleh para ilmuwan.
Maksud saya, di beberapa tempat sang penulis seperti mengelak untuk menjelaskan kenapa sesuatu yang rumit bisa terjadi. Hal yang bisa diterima jika sang tokoh utama memang seorang awam yang tidak tahu apa-apa, tapi masalahnya di sini dia adalah ilmuwan yang seharusnya tahu paling tidak satu atau dua hal. Simplifikasi dan tak terjelaskan dengan baik di satu sisi, dan dramatisasi yang berlebihan di sisi lainnya, terutama di bagian penutup, yang membuat cerita ini pada akhirnya memang lebih terasa sebagai kisah cinta, yang ya, seperti kisah Jack dan Rose.
—
Wan dan Na – Kerinduan Buku karya elbintang
Sebuah kisah unik dengan unsur fantasi yang berbeda dari cerita fantasi biasa. Kesan pertama yang saya dapat adalah saya harus berhati-hati saat membacanya jika saya tidak ingin keliru dalam mengenali dan memahami karakter-karakter dan pesan-pesannya. Ini adalah cerita padat yang harus dibaca dengan konsentrasi penuh. Dan karena itu mungkin wajar, sebagian pembaca tidak akan langsung mengerti jika baru membacanya satu kali.
Lalu ada beberapa kesalahan penulisan semacam ‘diantara’ yang seharusnya ‘di antara’, atau ‘dari pada’ yang seharusnya ‘daripada’, juga salah penulisan tanda baca titik koma, huruf kapital dan lain sebagainya, yang terus terang cukup mengganggu. Tapi seiring berjalannya cerita, hal-hal bermasalah tersebut saya abaikan, karena saya kemudian lebih terbawa untuk ikut mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun tetap, saya sarankan agar sang penulis menyisir lagi ceritanya dari awal sampai akhir untuk merevisi kesalahan-kesalahan tersebut.
Pada akhirnya, jawaban misteri di akhir cerita yang di luar dugaanlah, yang kemudian membuat saya terkesan. Terlepas dari kesalahan-kesalahan di atas, ini benar-benar cerita yang bagus, dan saya senang membacanya. Tapi dengan sedikit catatan lagi, jika saja cerita ditutup dengan dua atau tiga kalimat tambahan yang lebih tajam, mestinya bakal menjadi lebih bagus lagi. Jika sang penulis berkesempatan, coba buat narasi penutup yang tajam, dan bandingkan dengan sepotong dialog menggantung yang saat ini dipakai sebagai penutup, lihat mana yang lebih baik.
—





Entries (RSS)
August 17th, 2009 at 12:12 am
Iya ya. Kalau saja adegan ‘gali-menggali’ dihilangkan maka yang lain jadi lebih bisa bernapas lega.
August 17th, 2009 at 5:28 am
EYD ya,,, kayaknya memang harus beli buku dech,,,
nanti siang ke Gramed ah,,,
.-= ndyw´s last blog ..Pumpkin with Ginger Cupcake Ala Ndyw =-.
August 17th, 2009 at 9:06 am
Kunjungan perdana.. hmmm cakep-cakep yah ceritanya.. harus disimak satu persatu nih.. thank u yaa…
.-= Joddie´s last blog ..Hanya Indonesia =-.
August 17th, 2009 at 3:44 pm
Bang Villam, kalo ceritanya 145 pada akhirnya ga kekirim e-mailnya ya? Sayang sekali.
August 17th, 2009 at 4:10 pm
ahaha… jadi ngerti deh kekurangannya apa, makasih ya bung ^^
August 17th, 2009 at 5:29 pm
heuheu…Terima kasih ulasannya. Walo jelas-jelas untuk tulisan gue, mbak Dian dan Villam bener2 menahan diri untuk melemparkan telur busuk
)
jujurly, gue merasa bersalah terhadap pembaca, karena baru kali ini menyajikan tulisan tanpa proses baca ulang berkali-kali. Jadi memang patut dilemparkan cabe ke gue kerna kesalahan penulisan yang menjengkelkan ituw
curhat :
huh! saking semangatnya mo ikut sayembara ini gue menulis beberapa cerpen sekaligus dan hasilnya semuanya tidak layak tampil, akhirnya hingga saat-saat terakhir gue belum punya satupun cerpen.
Wan dan Na, dapat ide di kamar mandi dan gue geber dalam kurang lebih enam jam di tanggal 10. Niatnya cuma satu : kudu ikut sayembara fantasy fiesta, nggak boleh nggak
.-= elbintang´s last blog ..Emeth (POV Chiko) =-.
August 17th, 2009 at 5:48 pm
elbintang: selamat ya, hasil godok ide di kamar mandi itu sukses mempesona kami berdua, hehehe.. gak susah ambil kata sepakat untuk karyamu.
August 17th, 2009 at 6:01 pm
uwaaa…
baru liat pengumuman mbak Dian K di kners…
tengkiyuh-tengkiyuh…
jhyaaa *ekspresi gak percaya*
August 17th, 2009 at 7:16 pm
@ubr, adegan2 awal bisa lebih dipadatkan, dan adegan2 terakhir dibuat lebih dalam dan intens, mungkin hasilnya bisa lebih baik.
@ndyw, beli dah. murah ini.
@joddie, silakan dinikmati.
@alfare, iya sayang sekali.
@key, sama-sama, gue juga belajar.
@elbintang, selamat sekali lagi.
August 18th, 2009 at 9:57 am
oia om,,, selain yg di atas, apalagi yg harus dibenahi,,,

klo bs sih smua kekurangannya dikuak smua
hehehheheh
.-= ndyw´s last blog ..Pumpkin with Ginger Cupcake Ala Ndyw =-.
August 18th, 2009 at 10:37 am
Makasih bung buat ulasannya. Iya nih masih perlu banyak berlatih
.-= mailindra´s last blog ..Kritik Draft Facebook, Bango dan Linux =-.
August 18th, 2009 at 11:16 am
Yay! Yay! Selamat buat para pemenang! Kau yang paling menyukai fantasi, maka tak heran jika kau yang menang El! Selamat buat ewingerwin juga! (Tenang, ga ada dendam kok. Lagian aku pake kartu pascabayar. Mwahahaha!)
Omong2, aku juga mau curhat dikit. Waktu bikin ceritaku, aku udah kepepet banget ama deadline pertama. Eh, tapi taunya deadlinenya dipanjangin persis besoknya abis aku ngirim. (makanya aku nyekek). Trus aku ragu apa aku boleh ngedit apa engga, tapi akhirnya aku mutusin buat biarin aja apa adanya karena udah terlanjur males, sibuk, dan ga ada ide. (jadi tamatnya ngegantung juga gapapa, asal berkesan. tamat yang bikin orang teriak “Apa?!” atau “What the f***!??!” juga berkesan kok, makanya kubikin aneh kayak gitu.)
Lagian, aku udah belajar banyak dari pertandingan ini. Jadi trims banget buat bang vil dan mbak d. Sekaligus mbak far, yang udah jadi sponsor ajang.
FREEEEEEEEDDOOOOOOOOMMM!!!
August 18th, 2009 at 12:13 pm
@ndyw, kayaknya kalo untuk ceritamu udah banyak yang kasih komen di kemudian.com, masukan dari gue kayaknya gak bisa lebih banyak lagi. beberapa hal udah pernah gue bilang sebelumnya. tentang EYD, lalu deskripsi (bagaimana caranya supaya sang tokoh POV tidak terlihat narsis saat kamu membuat deskripsi ttg dirinya. heheh…), lalu riset, supaya ceritanya bisa terlihat lebih logis.
@mailindra, kita sama2 sedang belajar.
@alfare, berhubung ini adalah perhelatan pertama, jadi gue sebagai penyelenggara pun masih mencoba2 mana aturan yg paling baik, jadi ya pastinya masih banyak kekurangan. untuk ajang selanjutnya bakal gue coba bikin lebih baik lagi. thx udah ikut meramaikan.
FREEEDOOOOOOM!
August 18th, 2009 at 12:32 pm
biz aq kan seorang narsisme

wkwkwkkwkwkwkkwkwkw
fokus ke EYD ma pengarahan deskripsi PoV dulu kayaknya ya
.-= ndyw´s last blog ..Pumpkin with Ginger Cupcake Ala Ndyw =-.
August 18th, 2009 at 1:00 pm
iya, ndyw.
EYD bisa sambil jalan. kalo POV emang harus udah paham betul apa itu (beda POV limited/terbatas dan omniscient/serba tahu) dan cara aplikasinya sebelum mulai menulis.
August 18th, 2009 at 1:39 pm
siap om
.-= ndyw´s last blog ..Pumpkin with Ginger Cupcake Ala Ndyw =-.
August 19th, 2009 at 12:23 pm
yuk, bersiap.
August 19th, 2009 at 11:22 pm
Semoga Fantasy Fiesta bakal mjd acara tahunan. kalau sekarang yang masuk dua puluhan, tahun depan…. (tak sabar menunggu tahun depan
).
August 20th, 2009 at 12:17 pm
yup.
rencananya memang bakal jadi acara tahunan, dan semoga semakin lama semakin besar, baik pesertanya maupun jumlah hadiahnya. hehe…
August 20th, 2009 at 12:51 pm
tp smoga kedepannya mah gag tergantung sama kemudian.com


soalnya kan lum tw sampe kapan ke eksisan situs itu bertahan
(gag ada maksud ngedo’ain macem” koq)
.-= ndyw´s last blog ..Raisin Buttermilk with Coffe Ala Ndyw =-.
August 20th, 2009 at 1:10 pm
yup juga.
ke depannya mungkin malah aku bikin situs Fantasy Fiesta sendiri. hahah…
August 20th, 2009 at 2:10 pm
amien
.-= ndyw´s last blog ..Raisin Buttermilk with Coffe Ala Ndyw =-.
August 20th, 2009 at 5:22 pm
amin…