hahaha-lulzBeberapa hari yang lalu saya menerima kiriman dari penerbit, yang sebulan sebelumnya memang sudah menjadi sasaran tembak dua buah naskah saya. Saya tidak sempat berpikir kenapa jawaban dari mereka bisa datang begitu cepat. Bertentangan dengan slogan ‘lebih cepat lebih baik’, dalam soal ini—konon—yang cepat berarti buruk.

Di dalam paket itu terdapat sepucuk surat tanpa amplop—seukuran A4 dengan warna kusam seperti naskah teks proklamasi yang sering kita lihat di tivi—yang ya ampun, dalam sepandang mata langsung terlihat berisi tulisan tangan yang teramat jelek; tidak lurus apalagi rapi, besar kecil tak beraturan. Kembali, saya tidak sempat berpikir kenapa sang penerbit mengirimkan tulisan jelek semacam ini. Saya langsung membaca kalimat yang tertulis di bagian atas.

‘Surat Penolakan’.

Oh well, nyesek rasanya.

Segera saya membaca poin pertama, alasan mereka menolak. Sang penerbit berkata, di dalam amplop naskah yang dulu saya kirimkan terselip bon sebuah warung yang lupa saya bayar, sehingga merekalah yang terpaksa harus membayarnya! Jangan tanya kenapa dan bagaimana caranya benda itu ada di sana serta kenapa harus mereka yang membayar; saya bahkan tidak tahu ada bon semacam itu! Tapi yang jelas berkat hal tersebutlah mereka tidak suka pada naskah saya.

Sekali lagi, saya tidak sempat merasa heran mendengar betapa absurdnya alasan mereka. Sekilas saya lihat memang ada secarik kertas lainnya yang berukuran lebih kecil jatuh ke lantai. Saya tidak mengambilnya, saya lanjut membaca ke poin kedua dan ketiga. Tapi kini, sayangnya, saking jelek tulisannya, saya tak mampu membaca sama sekali.

Di titik itulah saya mulai ragu. Ada sesuatu yang aneh di sini.

Saya kembali membaca poin pertama. Yeah, it’s too weird. Lalu saya mencoba membaca lagi poin kedua dan ketiga, yang entah bagaimana tetap tak mampu saya baca betapapun kerasnya saya berusaha. Saya mulai berpikir. Dan ketika itulah saya sadar, saya sedang bermimpi.

Maka dengan sepenuh tenaga sepenuh hati sepenuh pikiran, saya berusaha untuk bangun, mencoba kembali mengendalikan seluruh tubuh dan jiwa saya (halah…). Bodohnya adalah (tentunya saat itu saya menganggap diri saya pintar luar biasa), alasan saya untuk bangun adalah bukan karena ingin lepas dari mimpi. Saya ingin bangun, semata-mata karena saat itu saya percaya, jika sudah bangun nanti tentunya saya akan bisa membaca poin kedua dan ketiga dengan lebih baik, dan tahu kenapa saya ditolak.

Juga, saya bisa tahu bon warung mana yang menjadi gara-gara itu.

Barangkali memang benar saya punya hutang. Heheh…

18 Responses to “Surat Dari Penerbit”

  1. 1
    ndyw Says:

    ini cerita, ato curhat om?
    .-= ndyw´s last blog ..Raisin Buttermilk with Coffe Ala Ndyw =-.

  2. 2
    Villam Says:

    hahahah…
    kira-kira apa hayo…

  3. 3
    Mantoel Toeink Says:

    Gw sempat shock pas ngebaca naskah dibalikin gara2 ada selipan bon!

    Buset dah!

    Hehe.
    .-= Mantoel Toeink´s last blog ..Lintas Spesies =-.

  4. 4
    Villam Says:

    haha… yeah, it’s shocking.
    anyway, it’s the beauty of dream.
    and when you’re dreaming, don’t think, or the dream will stop.

  5. 5
    ndyw Says:

    mungkin cerita dech kayaknya
    .-= ndyw´s last blog ..Raisin Buttermilk with Coffe Ala Ndyw =-.

  6. 6
    Villam Says:

    ilusi… :-D

  7. 7
    dian k Says:

    suka kucingnya!

  8. 8
    Villam Says:

    iya. sama. :-D

  9. 9
    ndyw Says:

    ooo gituw yax,,,
    :P
    .-= ndyw´s last blog ..Raisin Buttermilk with Coffe Ala Ndyw =-.

  10. 10
    Villam Says:

    kalo ini cerita, gue bikin lanjutannya deh…

  11. 11
    Imaginary_Guitarist Says:

    kocak! kena bgt juga hehe…

  12. 12
    Villam Says:

    barangkali doa saya juga kurang. :-)

  13. 13
    panah hujan Says:

    Analogi! Hahaha.
    Slip bon…, karena sudah vakum menulis selama sepuluh tahun. :)
    .-= panah hujan´s last blog ..* Cerpen – Dua Puluh Dua Jam di Suatu Hari =-.

  14. 14
    Villam Says:

    hahahah…
    clever, michel…

  15. 15
    panah hujan Says:

    Trims, Kak :)
    .-= panah hujan´s last blog ..* Cerpen – Dua Puluh Dua Jam di Suatu Hari =-.

  16. 16
    Villam Says:

    same same :-)

  17. 17
    dirgita Says:

    Ih, bikin kaget aja (pas ada bon nyelip dan penerbit terpaksa membayarnya). Memang aneh itu.

    Saran. Artikel ini jadi selipan bonus untuk buku Kakak^^

  18. 18
    Villam Says:

    hueheheheheh…
    jadi selipan di buku?
    boleh juga. hahah…

Leave a Reply